Majjhima Nikāya (Pāḷi Majjhima = “Menengah”) merupakan kumpulan khotbah-khotbah menengah (panjangnya) dalam Sutta Piṭaka yang merupakan bagian dari teks Kanon Pāḷi Tipitaka yang digunakan oleh sekte Theravāda. Majjhima Nikāya ini terdiri dari 152 khotbah yang diberikan oleh Sang Buddha dan murid utamanya. Kumpulan ini memiliki paralel dalam teks Sansekerta, Madhyama Āgama.

Deskripsi sutta-sutta ditulis oleh Bhikkhu Bodhi yang diambil dari buku “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha.”


Sang Buddha menganalisis proses kognitif dari empat jenis individu – orang biasa yang tidak terpelajar, siswa dalam latihan yang lebih tinggi, Arahant, dan Sang Tathāgata. Ini adalah salah satu sutta yang paling mendalam dan paling sulit dalam Kanon Pāli, dan oleh karena itu disarankan agar para siswa yang bersungguh-sungguh membacanya hanya sepintas lalu pada pembacaan pertama atas Majjhima Nikāya, kemudian kembali lagi untuk suatu pembelajaran yang lebih mendalam setelah menyelesaikan keseluruhan koleksi.
Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tujuh metode untuk mengendalikan dan meninggalkan noda-noda, kekotoran-kekotoran fundamental yang mempertahankan keterikatan dalam lingkaran kelahiran dan kematian.
Pewaris dalam Dhamma. Sang Buddha menyuruh para bhikkhu agar menjadi pewaris dalam Dhamma, bukan pewaris dalam benda-benda materi. Kemudian Yang Mulia Sāriputta melanjutkan tema yang sama dengan menjelaskan bagaimana para siswa harus berlatih agar menjadi pewaris Buddha dalam Dhamma.
Kekhawatiran dan Ketakutan. Sang Buddha menjelaskan kepada seorang brahmana tentang kualitas-kualitas yang dituntut dari seorang bhikkhu yang ingin hidup sendirian di dalam hutan. Kemudian Beliau menceritakan suatu kisah tentang usahanya dalam menaklukkan ketakutan ketika berjuang untuk mencapai pencerahan.
Yang Mulia Sāriputta memberikan khotbah kepada para bhikkhu tentang makna noda-noda, menjelaskan bahwa seorang bhikkhu menjadi ternoda ketika ia jatuh di bawah guncangan keinginan jahat.
Sang Buddha memulai dengan menekankan pentingnya moralitas sebagai landasan bagi latihan seorang bhikkhu; kemudian Beliau melanjutkan dengan menguraikan manfaat-manfaat yang dapat dipetik seorang bhikkhu yang dengan benar memenuhi latihan.
Dengan sebuah perumpamaan sederhana Sang Buddha mengilustrasikan perbedaan antara pikiran yang kotor dan pikiran yang murni.
Sang Buddha menolak pandangan bahwa hanya pencapaian absorpsi meditasi yang merupakan penghapusan dan menjelaskan bagaimana penghapusan dipraktikkan dengan benar dalam ajaranNya.
Sebuah khotbah panjang yang penting oleh Yang Mulia Sāriputta, dengan bagian terpisah tentang yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, makanan, Empat Kebenaran Mulia, dua belas faktor kemunculan bergantungan.
Ini adalah salah satu dari sutta-sutta yang paling lengkap dan paling penting oleh Sang Buddha yang membahas tentang meditasi, dengan penekanan khusus pada pengembangan pandangan terang. Sang Buddha memulai dengan menyatakan empat landasan perhatian sebagai jalan langsung untuk merealisasikan Nibbāna, kemudian memberikan instruksi terperinci tentang empat landasan: perenungan jasmani, perasaan, pikiran, dan objek-objek pikiran.
Sang Buddha menyatakan bahwa hanya dalam pengajaranNya keempat individu mulia dapat ditemukan, menjelaskan bagaimana ajaranNya dapat dibedakan dari kepercayaan lain melalui penolakannya yang khas pada doktrin diri.
Sang Buddha membabarkan sepuluh kekuatan seorang Tathāgatha, empat jenis keberaniannya, dan kualitas-kualitas unggul lainnya, yang karena itu Beliau “mengaumkan auman singaNya di dalam perkumpulan-perkumpulan.
Sang Buddha menjelaskan pemahaman penuh atas kenikmatan indria, bentuk materi, dan perasaan-perasaan; terdapat bagian panjang tentang bahaya dalam kenikmatan indria.
Sebuah variasi dari sutta sebelumnya, yang diakhiri dengan sebuah diskusi dengan para petapa Jain tentang ciri kenikmatan dan kesakitan.
Yang Mulia Mahā Moggallāna menguraikan kualitas-kualitas yang membuat seorang bhikkhu sulit dinasihati dan mengajarkan bagaimana seseorang harus memeriksa diri sendiri untuk melenyapkan cacat dalam karakternya.
Sang Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu tentang lima “belantara dalam pikiran” dan lima “belenggu dalam pikiran.
Sebuah khotbah tentang kondisi-kondisi yang karenanya seorang bhikkhu meditator harus menetap di dalam hutan belantara dan kondisi-kondisi yang karenanya ia harus pergi ke tempat lain.
Sang Buddha mengucapkan pernyataan yang mendalam namun membingungkan tentang “sumber yang karenanya persepsi dan gagasan yang muncul dari proliferasi pikiran menyerang seseorang.” Pernyataan ini dijelaskan oleh Yang Mulia Mahā Kaccāna, yang penjelasannya dipuji oleh Sang Buddha.
Dengan merujuk pada perjuanganNya sendiri dalam berjuang mencapai pencerahan, Sang Buddha menjelaskan cara untuk mengatasi pikiran-pikiran tidak bermanfaat dan menggantikannya dengan pikiran-pikiran bermanfaat.
Sang Buddha mengajarkan lima metode untuk menghadapi pikiran-pikiran tidak bermanfaat yang mungkin muncul dalam perjalanan meditasi.
Sebuah khotbah tentang perlunya mempertahankan kesabaran ketika menerima kata-kata yang tidak menyenangkan.
Seorang bhikkhu bernama Ariṭṭha memunculkan suatu pandangan sesat bahwa perilaku yang dilarang oleh Sang Buddha tidak benar-benar merupakan rintangan. Sang Buddha menegurnya dan, dengan serangkaian perumpamaan yang mengesankan, menekankan bahaya dalam kesalahan memahami Dhamma. Sutta ini memuncak dalam salah satu pembahasan paling mengesankan tentang tanpa-diri yang terdapat dalam Kanon.
Sesosok dewa mengajukan sebuah teka-teki tersamar kepada seorang bhikkhu, yang dijelaskan kepadanya oleh Sang Buddha.
Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta menjelaskan kepada Sāriputta bahwa tujuan kehidupan suci, yaitu Nibbāna akhir, harus dicapai melalui tujuh tingkat pemurnian.
Sang Buddha menggunakan analogi penjebak-rusa untuk memperkenalkan para bhikkhu pada rintangan-rintangan yang melawan mereka dalam usaha mereka untuk membebaskan diri dari kekuasaan Māra.
Sang Buddha menceritakan kepada para bhikkhu suatu kisah panjang tentang pencarianNya akan pencerahan dimulai dari masa kehidupanNya di istana hingga pembabaran Dhamma kepada lima siswa pertamaNya.
Dengan menggunakan analogi pencari kayu yang melacak seekor gajah jantan yang besar, Sang Buddha menjelaskan bagaimana seorang siswa sampai pada kepastian sepenuhnya atas kebenaran ajaranNya. Sutta ini membabarkan secara lengkap latihan langkah-demi-langkah dari seorang bhikkhu Buddhis.
Yang Mulia Sāriputta memulai dengan sebuah pernyataan tentang Empat Kebenaran Mulia, yang kemudian ia babarkan melalui perenungan empat elemen dan kemunculan bergantungan dari kelima kelompok unsur kehidupan.
Kedua khotbah ini menekankan bahwa tujuan yang benar dari kehidupan suci adalah kebebasan pikiran yang tidak tergoyahkan, sedangkan semua tujuan lainnya adalah tujuan tambahan.
Khotbah ini menekankan bahwa tujuan yang benar dari kehidupan suci adalah kebebasan pikiran yang tidak tergoyahkan, sedangkan semua tujuan lainnya adalah tujuan tambahan.
Sang Buddha menjumpai tiga bhikkhu yang hidup dengan rukun, “bercampur bagaikan susu dan air,” dan bertanya bagaimana mereka berhasil dalam hidup bersama dengan begitu harmonis.
Pada malam purnama yang indah sejumlah siswa senior berkumpul di hutan pohon-sāla dan mendiskusikan bhikkhu jenis apakah yang dapat menerangi hutan. Setelah masing-masing dari mereka menjawab menurut idealisme pribadi mereka, kemudian mereka menghadap Sang Buddha, yang memberikan jawabanNya sendiri.
Sang Buddha mengajarkan tentang sebelas kualitas yang menghalangi kemajuan seorang bhikkhu dalam Dhamma dan sebelas kualitas yang mendukung kemajuannya.
Sang Buddha menjelakan jenis-jenis bhikkhu yang “mengarungi arus Māra” dan selamat sampai di pantai seberang.
Pendebat Saccaka membual bahwa dalam perdebatan ia akan mengguncang Sang Buddha ke atas dan ke bawah dan menekanNya, tetapi ketika ia akhirnya bertemu dengan Sang Buddha diskusi mereka menghasilkan kebalikan yang tidak diharapkan.
Sang Buddha bertemu kembali dengan Saccaka dan dalam perjalanan suatu diskusi tentang “pengembangan jasmani” dan “pengembangan batin” Beliau menceritakan narasi terperinci tentang pencarian spiritualNya.
Yang Mulia Mahā Moggallāna mendengar sekilas ketika Sang Buddha membabarkan suatu penjelasan ringkas kepada Sakka, penguasa para dewa, sehubungan dengan bagaimana seorang bhikkhu terbebaskan melalui hancurnya ketagihan. Karena ingin mengetahui apakah Sakka memahami maknanya, ia pergi ke alam surga Tiga Puluh Tiga untuk mengetahuinya.
Seorang bhikkhu bernama Sāti menyebarkan pandangan sesat bahwa kesadaran yang sama berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Sang Buddha menegurnya dengan khotbah panjang tentang kemunculan bergantungan, menunjukkan bagaimana segala fenomena kehidupan muncul dan lenyap melalui kondisi-kondisi.
Sang Buddha menjelaskan “hal-hal yang membuat seseorang menjadi seorang petapa” dengan sebuah khotbah yang mencakup banyak aspek latihan kebhikkhuan.
Sang Buddha menjelaskan “cara selayaknya bagi petapa” bukan hanya sekedar praktik pertapaan keras dari luar melainkan pemurnian dalam batin dari kekotoran-kekotoran.
Dalam kedua sutta yang hampir identik ini (dengan MN 42) Sang Buddha menjelaskan kepada kelompok-kelompok para brahmana perumah tangga tentang perilaku yang mengarah pada kelahiran kembali di alam rendah dan perilaku yang mengarah pada kelahiran kembali yang lebih tinggi dan pada kebebasan.
Dalam kedua sutta yang hampir identik ini (dengan MN 41) Sang Buddha menjelaskan kepada kelompok-kelompok para brahmana perumah tangga tentang perilaku yang mengarah pada kelahiran kembali di alam rendah dan perilaku yang mengarah pada kelahiran kembali yang lebih tinggi dan pada kebebasan.
Kedua khotbah ini (bersama dengan MN 44) berbentuk diskusi tentang berbagai hal yang halus dari Dhamma, yang pertama antara Yang Mulia Mahā Koṭṭhita dan Yang Mulia Sāriputta, dan yang ke dua antara Bhikkhunī Dhammadinā dan umat awam Visākha.
Kedua khotbah ini (bersama dengan MN 43) berbentuk diskusi tentang berbagai hal yang halus dari Dhamma, yang pertama antara Yang Mulia Mahā Koṭṭhita dan Yang Mulia Sāriputta, dan yang ke dua antara Bhikkhunī Dhammadinā dan umat awam Visākha.
Sang Buddha menjelaskan, secara berbeda dalam masing-masing dari kedua sutta ini (bersama dengan MN 46), tentang empat cara untuk melaksanakan segala sesuatu, yang dibedakan menurut apakah menyakitkan atau menyenangkan saat ini dan apakah matang dalam kesakitan atau kenikmatan di masa depan.
Sang Buddha menjelaskan, secara berbeda dalam masing-masing dari kedua sutta ini (bersama dengan MN 45), tentang empat cara untuk melaksanakan segala sesuatu, yang dibedakan menurut apakah menyakitkan atau menyenangkan saat ini dan apakah matang dalam kesakitan atau kenikmatan di masa depan.
Sang Buddha mengundang para bhikkhu untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas diriNya untuk membuktikan apakah Beliau dapat diterima sebagai telah tercerahkan sempurna.
Selama periode ketika para bhikkhu di Kosambi terpecah oleh suatu perselisihan, Sang Buddha mengajarkan kepada mereka enam kualitas yang menciptakan cinta dan hormat dan mendukung persatuan. Kemudian Beliau menjelaskan tujuh pengetahuan luar biasa yang dimiliki oleh seorang siswa mulia yang telah merealisasi buah memasuki-arus.
Brahmā Baka, sesosok brahma tinggi, menganut pandangan sesat bahwa alam surga di mana ia menetap adalah abadi dan bahwa tidak ada kondisi yang lebih tinggi lagi di atasnya. Sang Buddha mengunjunginya untuk membujuknya agar meninggalkan pandangan salah itu dan melibatkan diri dalam suatu kontes dimensi Agung.
Māra mencoba mengganggu Yang Mulia Mahā Moggallāna, tetapi Yang Mulia Mahā Moggallāna menceritakan suatu kisah masa lampau yang sangat lama untuk memperingatkan Māra akan bahaya dalam mengganggu seorang siswa Buddha.
Sang Buddha mendiskusikan empat jenis orang yang terdapat di dunia – satu yang menyiksa dirinya sendiri, satu yang menyiksa orang lain, satu yang menyiksa dirinya sendiri dan menyiksa orang lain, dan satu yang tidak menyiksa dirinya sendiri dan tidak menyiksa orang lain.
Yang Mulia Ānanda mengajarkan sebelas “pintu menuju Tanpa-Kematian” yang dengannya seorang bhikkhu dapat mencapai keamanan tertinggi dari keterikatan.
Atas permintaan Sang Buddha Yang Mulia Ānanda membabarkan khotbah tentang praktik yang dijalani oleh seorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi.
Sang Buddha mengajarkan seorang lawan bicara yang pongah tentang makna dari “memotong urusan-urusan” dalam disiplinNya. Sutta ini memberikan serangkaian perumpamaan yang mengesankan akan bahaya dalam kenikmatan indria.
Sang Buddha menjelaskan aturan yang Beliau tetapkan sehubungan dengan makan daging dan membela para siswaNya terhadap tuduhan tidak benar.
Perumah-tangga Upāli yang kaya dan berpengaruh, seorang penyokong utama bagi kaum Jain, menawarkan diri untuk menghadap Sang Buddha dan membantah doktrinNya. Sebaliknya, ia malah terkonversi oleh “sihir pengalih-keyakinan” dari Sang Buddha.
Sang Buddha bertemu dengan dua petapa, seorang yang meniru perilaku anjing, dan yang lain meniru perilaku sapi. Beliau mengungkapkan kepada mereka tentang kesia-siaan praktik mereka dan membabarkan khotbah tentang kamma dan buahnya kepada mereka.
Pemimpin Jain, Nigaṇṭha Nātaputta, mengajarkan Pangeran Abhaya suatu “pertanyaan bertanduk ganda” yang dengan pertanyaan itu ia dapat membantah doktrin Sang Buddha. Sang Buddha lolos dari dilema ini dan menjelaskan jenis ucapan apa yang akan dan tidak akan Beliau ucapkan.
Setelah memecahkan ketidak-sepakatan tentang pembagian perasaan, Sang Buddha menguraikan jenis-jenis kenikmatan dan kegembiraan yang berbeda yang dapat dialami oleh makhluk-makhluk.
Sang Buddha membabarkan suatu “ajaran yang tidak dapat dibantah” kepada sekelompok brahmana perumah tangga yang akan membantu mereka menghindari kekusutan pandangan-pandangan yang diperdebatkan.
Sang Buddha menasihati puteraNya, samaṇera Rāhula, tentang bahaya dalam berbohong dan menekankan pentingnya merefleksikan secara terus-menerus pada motifnya.
Sang Buddha mengajarkan kepada Rāhula meditasi pada elemen-elemen, perhatian pada pernafasan, dan topik-topik lainnya.
Seorang bhikkhu mengancam akan meninggalkan Sangha jika Sang Buddha tidak menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang metafisika. Dengan perumpamaan tentang orang yang tertembak panah beracun, Sang Buddha menjelaskan tentang apa yang Beliau ajarkan dan apa yang Beliau tidak ajarkan.
Sang Buddha mengajarkan jalan menuju ditinggalkannya kelima belenggu yang lebih rendah.
Sang Buddha menasihati seorang bhikkhu yang melawan dan menjelaskan kerugian dalam menolak menjalankan latihan.
Sang Buddha menekankan kembali pentingnya meninggalkan semua belenggu, tidak peduli betapa tidak berbahaya dan remehnya belenggu itu tampaknya.
Sang Buddha mengajarkan kepada sekelompok bhikkhu yang baru ditahbiskan tentang empat bahaya yang harus diatasi oleh mereka yang telah meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah.
Sang Buddha menjelaskan mengapa, ketika para siswaNya meninggal dunia, Beliau menyatakan tingkat pencapaiannya dan alam kelahiran kembalinya.
Yang Mulia Sāriputta membabarkan sebuah khotbah tentang latihan selayaknya dari seorang bhikkhu penghuni-hutan.
Sang Buddha menasihati sekelompok bhikkhu tidak patuh, dan dalam khotbahNya Beliau menjelaskan tujuh pengelompokan penting siswa mulia.
Sang Buddha membantah memiliki pengetahuan lengkap atas segala sesuatu pada setiap saat dan mendefinisikan tiga pengetahuan yang Beliau miliki.
Sang Buddha menjelaskan kepada seorang pengembara mengapa Beliau tidak menganut pandangan spekulatif apa pun. Dengan perumpamaan apa yang padam Beliau mencoba untuk menunjukkan takdir dari makhluk yang telah terbebaskan.
Kisah lengkap tentang pengalihan keyakinan pengembara Vacchagotta kepada Dhamma, pelepasan keduniawiannya, dan pencapaian Kearahattaannya.
Sang Buddha mendebat penolakan seorang skeptik dan mengajarkan kepadanya jalan menuju kebebasan melalui perenungan perasaan.
Sang Buddha bertemu dengan filsuf hedonis Māgandiya dan menunjukkan kepadanya bahaya dalam kenikmatan indria, manfaat meninggalkan keduniawian, dan makna Nibbāna.
Yang Mulia Ānanda mengajarkan kepada sekelompok pengembara tentang empat cara yang meniadakan pelaksanaan kehidupan suci dan empat jenis kehidupan suci tanpa penghiburan. Kemudian ia menjelaskan kehidupan suci yang sungguh-sungguh berbuah.
Sang Buddha mengajarkan kepada sekelompok pengembara alasan mengapa para siswaNya menghormatiNya dan mengharapkan bimbinganNya.
Sang Buddha menjelaskan bagaimana seseorang adalah “seorang yang telah mencapai pencapaian tertinggi.”
Sang Buddha memeriksa doktrin seorang pengembara, dengan menggunakan perumpamaan “gadis yang paling cantik di seluruh negeri” untuk mengungkapkan kebodohan pernyataannya.
Sebuah khotbah yang mirip dengan sutta sebelumnya, dengan bagian tambahan tentang kenikmatan indria.
Sang Buddha menceritakan kisah tentang siswa awam penyokong utama Buddha Kassapa di masa lampau.
Kisah seorang pemuda yang meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah yang bertentangan dengan kehendak orang tuanya dan kelak kembali untuk mengunjungi orang tuanya.
Kisah silsilah raja-raja masa lampau dan bagaimana tradisi luhur mereka menjadi terputus karena kelalaian.
Yang Mulia Mahā Kaccāna memeriksa klaim brahmana bahwa kaum brahmana adalah kasta tertinggi.
Sang Buddha mendebat klaim bahwa kenikmatan harus diperoleh melalui kesakitan dengan menceritakan kisah pencarian pencerahanNya.
Kisah bagaimana Sang Buddha menaklukkan penjahat kejam Angulimāla dan membimbingnya hingga pencapaian Kearahattaan.
Mengapa Sang Buddha mengajarkan bahwa dukacita dan kesedihan muncul dari mereka yang disayangi.
Yang Mulia Ānanda menjawab pertanyaan-pertanyaan Raja Pasenadi tentang perilaku Sang Buddha.
Raja Pasenadi memberikan sepuluh alasan mengapa ia menunjukkan penghormatan yang begitu mendalam kepada Sang Buddha.
Raja Pasenadi bertanya kepada Sang Buddha tentang kemaha-tahuan, tentang perbedaan kasta, dan tentang dewa-dewa.
Seorang brahmana tua yang terpelajar mendengar tentang Sang Buddha, pergi menghadap Beliau, dan menjadi siswa Beliau.
Seorang brahmana tua yang terpelajar mendengar tentang Sang Buddha, pergi menghadap Beliau, dan menjadi siswa Beliau.
Seorang brahmana muda mendatangi Sang Buddha untuk memperdebatkan tesis bahwa kaum brahmana adalah kasta tertinggi.
Diskusi antara seorang brahmana dan seorang bhikkhu tentang apakah kehidupan meninggalkan keduniawian adalah sesuai Dhamma.
Sang Buddha mengajarkan seorang brahmana muda tentang pelestarian kebenaran, penemuan kebenaran, dan kedatangan akhir pada kebenaran.
Sang Buddha dan seorang brahmana mendiskusikan klaim dari kaum brahmana sebagai yang paling unggul di antara semua kasta lainnya.
Yang Mulia Sāriputta menasihati seorang brahmana yang mencoba mencari alasan pembenaran atas kelalaiannya dengan alasan banyaknya tugas-tugasnya. Belakangan, ketika ia menjelang kematian, Sāriputta membimbingnya pada kelahiran kembali di alam-Brahma tetapi ditegur oleh Sang Buddha karena melakukan hal itu.
Sang Buddha memecahkan perselisihan antara dua brahmana muda tentang kualitas-kualitas brahmana sejati.
Sang Buddha menjawab pertanyaan seorang brahmana muda dan mengajarkan kepadanya jalan menuju kelahiran kembali di alam-Brahma.
Seorang murid brahmana bertanya kepada Sang Buddha tentang landasan yang dengannya Sang Buddha mengajarkan fundamental kehidupan suci.
Sang Buddha memeriksa tesis Jain bahwa kebebasan harus dicapai melalui penyiksaan-diri, mengusulkan penjelasan berbeda tentang bagaimana usaha menjadi berbuah.
Sebuah tinjauan pada berbagai pandangan spekulatif tentang masa depan dan masa lampau dan kekeliruan tentang Nibbāna.
Sang Buddha menjelaskan bagaimana para bhikkhu dapat memecahkan ketidak-sepakatan tentang Dhamma.
Sang Buddha menetapkan prosedur disiplin sebagai tuntunan bagi Sangha untuk memastikan fungsi keharmonisan setelah Beliau wafat.
Sang Buddha mendiskusikan persoalan individu yang menilai diri sendiri terlalu tinggi dalam hal kemajuannya dalam meditasi.
Sang Buddha menjelaskan pendekatan-pendekatan pada berbagai tingkat kondisi meditatif yang lebih tinggi yang memuncak dalam Nibbāna.
Sang Buddha membabarkan latihan bertahap bagi bhikkhu Buddhis dan menggambarkan diriNya sebagai “Penunjuk jalan.”
Yang Mulia Ānanda menjelaskan bagaimana Sangha memelihara persatuan dan disiplin internal setelah wafatnya Sang Buddha.
Seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha tentang kelompok-kelompok unsur kehidupan, kemelekatan, pandangan personalitas, dan realisasi tanpa-diri.
Sang Buddha menjelaskan perbedaan antara seorang “bukan manusia sejati” dan seorang “manusia sejati.”
Sang Buddha menggambarkan perkembangan pandangan terang dari Yang Mulia Sāriputta ketika ia masih berlatih untuk mencapai Kearahattaan.
Sang Buddha menjelaskan bagaimana seorang bhikkhu harus ditanyai ketika ia mengaku telah mencapai pengetahuan akhir dan bagaimana ia harus menjawab jika klaimnya adalah benar.
Sang Buddha membedakan karakter seorang manusia sejati dari karakter seorang bukan manusia sejati.
Sang Buddha menyatakan kerangka ringkas dari hal-hal yang harus dilatih dan tidak boleh dilatih, dan Yang Mulia Sāriputta melengkapinya dengan penjelasan rincinya.
Sang Buddha menjelaskan secara terperinci tentang unsur-unsur, landasan-landasan indria, kemunculan bergantungan, dan jenis-jenis situasi yang mungkin dan tidak mungkin di dunia.
Sang Buddha menggambarkan perkembangan pandangan terang dari Yang Mulia Sāriputta ketika ia masih berlatih untuk mencapai Kearahattaan.
Sang Buddha mendefinisikan faktor-faktor Jalan Mulia Berunsur Delapan dan menjelaskan hubungannya satu sama lain.
Suatu pembabaran atas enam belas langkah dalam perhatian pada pernafasan dan hubungan antara meditasi ini dengan empat landasan perhatian dan tujuh faktor pencerahan.
Sang Buddha menjelaskan bagaimana perhatian pada jasmani harus dikembangkan dan dilatih dan manfaat-manfaat yang dihasilkan.
Sang Buddha mengajarkan bagaimana seseorang dapat terlahir kembali sesuai keinginannya.
Sang Buddha mengajarkan kepada Ānanda tentang jalan masuk ke dalam kekosongan, yang asli, tidak menyimpang, dan murni.
Melihat bahwa para bhikkhu mulai menyukai pergaulan sosial, Sang Buddha menekankan perlunya keterasingan untuk berdiam di dalam kekosongan.
Dalam suatu pertemuan para bhikkhu Yang Mulia Ānanda menceritakan peristiwa-peristiwa mengagumkan dan menakjubkan menjelang dan pada saat kelahiran Sang Buddha.
Siswa senior Bakkula menguraikan praktik kerasnya selama delapan puluh tahun dalam Sangha dan memperlihatkan wafat yang luar biasa.
Melalui analogi menjinakkan gajah, Sang Buddha menjelaskan bagaimana Beliau menjinakkan para siswaNya.
Sang Buddha menguraikan serangkaian perumpamaan untuk mengilustrasikan buah alami dari Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Yang Mulia Anuruddha menjelaskan perbedaan antara kebebasan pikiran yang tanpa batas dan kebebasan pikiran yang luhur.
Sang Buddha membahas berbagai rintangan pada kemajuan meditatif yang Beliau alami selama pencarian pencerahanNya, dengan referensi khusus pada mata dewa.
Penderitaan neraka dan alam binatang di mana si dungu terlahir kembali karena perbuatan-perbuatan jahatnya, dan kenikmatan surgawi yang dipetik oleh orang bijaksana karena perbuatan-perbuatan baiknya.
Sang Buddha menjelaskan penderitaan-penderitaan neraka yang menanti para pelaku kejahatan setelah kematian mereka.
Sutta ini berkembang di sekitar syair yang diucapkan oleh Sang Buddha yang menekankan perlunya usaha saat ini dalam mengembangkan pandangan terang ke dalam segala sesuatu sebagaimana adanya.
Sutta ini berkembang di sekitar syair yang diucapkan oleh Sang Buddha yang menekankan perlunya usaha saat ini dalam mengembangkan pandangan terang ke dalam segala sesuatu sebagaimana adanya.
Sutta ini berkembang di sekitar syair yang diucapkan oleh Sang Buddha yang menekankan perlunya usaha saat ini dalam mengembangkan pandangan terang ke dalam segala sesuatu sebagaimana adanya.
Sutta ini berkembang di sekitar syair yang diucapkan oleh Sang Buddha yang menekankan perlunya usaha saat ini dalam mengembangkan pandangan terang ke dalam segala sesuatu sebagaimana adanya.
Sang Buddha menjelaskan bagaimana kamma mempengaruhi keberuntungan dan ketidak-beruntungan makhluk-makhluk.adanya.
Sang Buddha mengungkapkan kompleksitas halus dalam bekerjanya kamma yang membalikkan dogma sederhana dan generalisasi luas.
Sang Buddha menjelaskan enam landasan indria internal dan eksternal dan topik-topik lainnya yang berhubungan.
Yang Mulia Mahā Kaccāna membabarkan ucapan singkat Sang Buddha tentang latihan kesadaran dan penanggulangan gejolak.
Sang Buddha membabarkan khotbah terperinci tentang hal- hal yang mengarah pada konflik dan yang menghindari konflik.
Mampir di rumah kerja seorang pengrajin tembikar untuk bermalam, Sang Buddha bertemu dengan seorang bhikkhu bernama Pukkusāti dan membabarkan khotbah mendalam tentang unsur-unsur yang memuncak dalam empat landasan Kearahattaan.
Yang Mulia Sāriputta membabarkan analisis terperinci tentang Empat Kebenaran Mulia.
Sang Buddha membabarkan empat belas jenis persembahan kepada pribadi dan tujuh jenis persembahan kepada Sangha.
Yang Mulia Sāriputta diminta untuk mendatangi ranjang kematian Anāthapiṇḍika dan membabarkan khotbah yang mengguncang tentang ketidak-melekatan.
Yang Mulia Channa, yang sedang sakit keras, membunuh diri walaupun kedua bhikkhu bersaudara menghalanginya.
Bhikkhu Puṇṇa menerima nasihat singkat dari Sang Buddha dan memutuskan untuk pergi menetap di antara orang-orang kejam di wilayah jauh.
Yang Mulia Nandaka membabarkan khotbah kepada para bhikkhunī tentang ketidak-kekalan.
Sang Buddha membabarkan khotbah kepada Rāhula yang mengarahkannya pada pencapaian Kearahattaan.
Suatu khotbah yang sangat mendalam dan menembus tentang perenungan semua faktor-faktor pengalaman indria sebagai tanpa-diri.
Bagaimana pandangan salah tentang enam jenis pengalaman indria dapat mengarah pada keterikatan di masa depan, sedangkan pandangan benar tentangnya akan mengarahkan menuju kebebasan.
Sang Buddha menjelaskan kepada sekelompok brahmana perumah-tangga tentang jenis petapa dan brahmana yang harus dihormati.
Sang Buddha mengajarkan Sāriputta tentang bagaimana seorang bhikkhu melihat dirinya sendiri agar menjadikan dirinya layak menerima dana makanan.
Sang Buddha menjelaskan pengembangan pengendalian tertinggi atas organ-organ indria dan penguasaan Arahant atas persepsi-persepsi.