[298] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kajangalā di hutan pepohonan mukhelu.

2. Kemudian murid brahmana Uttara, siswa dari Brahmana Pārāsariya, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā bertanya kepadanya: “Uttara, apakah Brahmana Pārāsariya mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya?”

“Benar, Guru Gotama.”

“Tetapi, Utara, bagaimanakah ia mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya?”

“Di sini, Guru Gotama, seseorang tidak melihat bentuk-bentuk dengan mata, ia tidak mendengar suara-suara dengan telinga. Demikianlah Brahmana Pārāsariya mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya.”

“Kalau begitu, Uttara, maka orang buta dan orang tuli memiliki indria-indria terkembang, menurut apa yang dikatakan oleh Brahmana Pārāsariya. Karena orang buta tidak melihat bentuk-bentuk dengan mata, dan orang tuli tidak mendengar suara-suara dengan telinga.”

Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Uttara, siswa Pārāsariya, duduk diam, cemas, dengan bahu terkulai dan kepala menunduk, muram, dan tidak menjawab.

3. Kemudian, mengetahui hal ini, Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, Brahmana Pārāsariya mengajarkan pengembangan indria-indria kepada para siswanya dalam satu cara, tetapi dalam Disiplin Yang-Mulia pengembangan indria-indria yang tertinggi adalah bukan seperti itu.”1

“Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā, sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna, bagi Sang Bhagavā [299] untuk mengajarkan Dhamma. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka dengarkanlah, Ānanda, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” ia menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

4. “Sekarang, Ānanda, bagaimanakah pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia? Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat suatu bentuk dengan mata, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.2 Ia memahami sebagai berikut: ‘Di sana telah muncul padaku apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Tetapi hal itu adalah terkondisi, kasar, muncul bergantungan; ini adalah damai, ini adalah luhur, yaitu, keseimbangan.’ Apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dalam dirinya dan keseimbangan ditegakkan.3 Seperti halnya seseorang yang berpenglihatan baik, setelah membuka matanya seketika menutupnya kembali atau setelah menutup matanya seketika membukanya kembali, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata.4

5. “Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mendengar suatu suara dengan telinga, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seorang kuat dapat dengan mudah menjentikkan jarinya, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia sehubungan dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga.

6. “Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mencium suatu bau dengan hidung, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya [300] tetesan air hujan di atas daun seroja yang miring akan bergulir turun dan tidak berdiam di sana, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia sehubungan dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung.

7. “Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seorang kuat dapat dengan mudah meludahkan gumpalan ludah yang terkumpul di ujung lidahnya, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah.

8. “Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seorang kuat dapat dengan mudah merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan.

9. “Kemudian, Ānanda, ketika seorang bhikkhu mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia memahami sebagai berikut … dan keseimbangan ditegakkan. Seperti halnya seseorang menjatuhkan setetes atau dua tetes air ke atas sebuah piringan besi yang telah dipanaskan sepanjang hari, jatuhnya tetesan air mungkin lambat tetapi air itu akan dengan cepat menguap dan lenyap,5 demikian pula sehubungan dengan segala sesuatu, apa yang menyenangkan, apa yang tidak menyenangkan, dan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul menjadi lenyap dengan cepat dan mudah, dan keseimbangan ditegakkan. Ini disebut pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran.

“Itu adalah bagaimana pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia.

10. “Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang adalah seorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, seorang yang telah memasuki sang jalan? Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat suatu bentuk dengan mata … [301] mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan; ia muak, malu, dan jijik dengan apa yang menyenangkan yang muncul, dengan apa yang tidak menyenangkan yang muncul, dan dengan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang muncul.6 Itu adalah bagaimana seseorang adalah seorang siswa dalam latihan yang lebih tinggi, seorang yang telah memasuki sang jalan

11-16. “Dan bagaimanakah, Ānanda, seseorang adalah seorang mulia dengan indria-indria terkembang?7 Di sini, Ānanda, ketika seorang bhikkhu melihat suatu bentuk dengan mata … mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, di sana muncul dalam dirinya apa yang menyenangkan, di sana muncul apa yang tidak menyenangkan, di sana muncul apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.8 Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam kejijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam kejijikan. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam ketidak-jijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam ketidak-jijikan. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam kejijikan dan ketidak-jijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam hal itu. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam ketidak-jijikan dan kejijikan,’ maka ia berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam hal itu. Jika ia berkehendak: ‘Semoga aku, dengan menghindari kejijikan dan ketidak-jijikan, [302] berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan,’ maka ia berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan.9 Itu adalah bagaimana seseorang adalah seorang mulia dengan indria-indria terkembang.

17. “Demikianlah, Ānanda, pengembangan indria-indria yang tertinggi dalam Disiplin Yang-Mulia telah diajarkan olehKu, siswa dalam latihan yang lebih tinggi yang telah memasuki sang jalan telah diajarkan olehKu, dan seorang mulia dengan indria-indria terkembang telah diajarkan olehKu.

18. “Apa yang harus dilakukan untuk para siswaNya demi belas kasih seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan mereka dan memiliki belas kasih pada mereka, telah Aku lakukan untukmu, Ānanda. Ada bawah pohon ini, gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Ānanda, jangan menunda atau engkau akan menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi kami kepadamu.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Ungkapan “pengembangan indria-indria” (indriyabhāvanā) dengan tepat menyiratkan pengembangan pikiran dalam menanggapi objek-objek yang dialami melalui organ-organ indria. Aspek yang lebih rendah dari praktik ini, pengendalian organ-organ indria (indriyasaṁvara), melibatkan pengendalian pikiran sedemikian sehingga seseorang tidak menggenggam “gambaran dan ciri-ciri” dari segala sesuatu, sifat-sifat kemenarikan dan kejijikannya.

    Pengembangan indria-indria membawa proses pengendalian ini hingga ke titik di mana, dengan berkehendak, seseorang dapat seketika menegakkan pandangan terang bahkan dalam tahap persepsi indria. Pada tingkat tertinggi seseorang memperoleh kemampuan untuk secara drastis mengubah makna subjektif dari objek yang dipersepsikan itu sendiri, membuatnya tampak berlawanan dengan apa yang biasanya dipahami.

  2. MA menjelaskan bahwa ketika suatu bentuk yang menyenangkan memasuki jangkauan mata, maka suatu kondisi yang menyenangkan (manāpa) muncul; ketika suatu bentuk yang tidak menyenangkan memasuki jangkauan mata, maka suatu kondisi yang tidak menyenangkan (amanāpa) muncul; dan ketika suatu bentuk yang netral memasuki jangkauan mata, maka suatu kondisi yang baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan muncul. Harus dipahami bahwa walaupun istilah-istilah ini biasanya digunakan untuk menilai objek indria, namun di sini tampaknya juga menyiratkan kondisi-kondisi halus suka, tidak suka, dan kebodohan yang tidak membeda-bedakan yang muncul karena pengaruh kecenderungan tersembunyi. MṬ mengartikan “menyenangkan” sebagai kondisi pikiran yang bermanfaat dan tidak bermanfaat yang berhubungan dengan kegembiraan, “tidak menyenangkan” sebagai kondisi-kondisi pikiran tidak bermanfaat yang berhubungan dengan kesedihan (ketidak-senangan), dan “menyenangkan dan tidak menyenangkan” sebagai kondisi pikiran yang berhubungan dengan perasaan netral.
  3. MA: Keseimbangan ini adalah keseimbangan pandangan terang (vipassan’upekkhā). Bhikkhu itu tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh nafsu, kebencian, atau delusi, melainkan memahami objek dan menegakkan pandangan terang dalam kondisi netral. MṬ menjelaskan hal ini sebagai bermakna bahwa ia memasuki keseimbangan sehubungan dengan bentukan-bentukan (sankhār’upekkhā), suatu tingkatan tertentu dalam pengetahuan pandangan terang (baca Vsm XXI, 61-66).
  4. MṬ: Pengembangan indria-indria yang mulia adalah menekan nafsu, dan seterusnya yang muncul melalui mata, dan menegakkan keseimbangan pandangan terang.
  5. Perumpamaan yang sama terdapat pada MN 66.16.
  6. Walaupun sekha telah memasuki jalan menuju kebebasan akhir, namun ia masih rentan terhadap kondisi-kondisi suka, tidak suka, dan kebodohan yang tidak membeda-bedakan sehubungan dengan objek-objek indria. Akan tetapi ia mengalami hal-hal ini sebagai rintangan bagi kemajuannya, dan dengan demikian menjadi muak, malu, dan jijik karenanya.
  7. Ariya bhāvitindriya: maksudnya adalah Arahant.
  8. Karena Arahant telah melenyapkan seluruh kekotoran bersama dengan kecenderungan tersembunyinya, dalam paragraf ini ketiga istilah – menyenangkan, dan seterusnya – harus dipahami hanya sebagai perasaan yang muncul melalui kontak dengan objek-objek indria, dan bukan sebagai jejak halus suka, tidak suka, dan netral yang berhubungan dengan paragraf sebelumnya.
  9. Paṭisambhidāmagga menyebut praktik ini sebagai “kekuatan batin mulia” (ariya iddhi) dan menjelaskannya sebagai berikut (ii.212): Untuk berdiam dengan mempersepsikan ketidak-jijikan dalam kejijikan, seseorang meliputi suatu objek menjijikkan dengan cinta kasih, atau ia memperhatikan suatu objek menjijikkan (apakah makhluk hidup atau benda mati) sebagai hanya sekadar kumpulan unsur-unsur tanpa pribadi. Untuk berdiam dengan mempersepsikan kejijikan dalam ketidak-jijikan, seseorang meliputi seseorang yang menarik (secara indria) dengan gagasan kebusukan jasmani, atau ia memperhatikan suatu objek yang menarik (apakah makhluk hidup atau benda mati) sebagai tidak kekal. Metode ke tiga dan ke empat melibatkan penerapan perenungan pertama dan ke dua pada objek-objek yang menjijikkan dan tidak-menjijikkan, tanpa membeda-bedakan. Metode ke lima adalah menghindari kegembiraan dan kesedihan sebagai reaksi atas keenam objek indria, dengan demikian memungkinkan seseorang berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan.

    Walaupun lima perenungan ini hanya dimiliki oleh Arahant sebagai suatu kekuatan yang sepenuhnya dikendalikan olehnya, namun di tempat lain Sang Buddha mengajarkannya kepada para bhikkhu yang masih berlatih sebagai cara untuk mengatasi tiga akar tidak bermanfaat. Baca AN 5:144/iii.169-70; dan untuk komentar mendalam tentang sutta ini, baca Nyanaponika Thera, The Roots of Good and Evil, pp.73-78.