1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Pada saat itu suatu pandangan sesat telah muncul pada seorang bhikkhu bernama Sāti, putra seorang nelayan, sebagai berikut: “Seperti Dhamma yang kupahami yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, adalah kesadaran yang sama ini yang berlanjut dan mengembara di sepanjang lingkaran kelahiran, bukan yang lain.”1

3. Beberapa bhikkhu, setelah mendengar hal ini, mendatangi Bhikkhu Sāti dan bertanya kepadanya: “Teman Sāti, benarkah bahwa suatu pandangan sesat telah muncul padamu?”

“Demikianlah, teman-teman. Seperti Dhamma yang kupahami yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, adalah kesadaran yang sama ini yang berlanjut dan mengembara di sepanjang lingkaran kelahiran, bukan yang lain.”

Kemudian para bhikkhu itu, berniat untuk melepaskannya dari pandangan sesat itu, menekan dan mempertanyakan dan mendebatnya sebagai berikut: “Teman Sati, jangan berkata seperti itu. Jangan salah memahami Sang Bhagavā. Tidaklah baik salah memahami Sang Bhagavā. Sang Bhagavā tidak mengatakan demikian. Karena dalam banyak khotbah Sang Bhagavā telah menjelaskan bahwa kesadaran adalah muncul bergantungan, [257] jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran.”

Namun walaupun ditekan dan dipertanyakan dan didebat oleh para bhikkhu ini, Bhikkhu Sāti, putra seorang nelayan, masih dengan keras kepala melekat pada pandangan sesat itu dan terus mempertahankannya.

4. Karena para bhikkhu tidak mampu melepaskannya dari pandangan sesat itu, mereka menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud, mereka duduk di satu sisi dan memberitahukan semua yang telah terjadi, dan menambahkan: “Yang Mulia, karena kami tidak mampu melepaskan Bhikkhu Sāti, putra seorang nelayan, dari pandangan sesatnya, maka kami melaporkan persoalan ini kepada Sang Bhagavā.”

5. Kemudian Sang Bhagavā memanggil seorang bhikkhu: “Pergilah, [258] bhikkhu, beritahu Bhikkhu Sāti, putra seorang nelayan atas namaKu bahwa Sang Guru memanggilnya.” – “Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia mendatangi Bhikkhu Sāti dan memberitahunya: “Sang Guru memanggilmu, Teman Sāti.”

“Baik, teman,” ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā kemudian bertanya kepadanya: “Sāti, benarkah bahwa suatu pandangan sesat telah muncul padamu: ‘Seperti Dhamma yang kupahami yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, adalah kesadaran yang sama ini yang berlanjut dan mengembara di sepanjang lingkaran kelahiran, bukan yang lain’?”

“Demikianlah, Yang Mulia. Seperti Dhamma yang kupahami yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, adalah kesadaran yang sama ini yang berlanjut dan mengembara di sepanjang lingkaran kelahiran, bukan yang lain.”

“Apakah kesadaran itu, Sāti?”

“Yang Mulia, itu adalah apa yang berbicara dan merasakan dan mengalami di sana-sini akibat dari perbuatan-perbuatan baik dan buruk.”2

“Orang sesat, dari siapakah engkau pernah mengetahui bahwa Aku mengajarkan Dhamma seperti itu? Orang sesat, dalam banyak khotbah bukankah Aku menjelaskan bahwa kesadaran adalah muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran? Tetapi engkau, orang sesat, telah salah memahami Kami dengan pandangan salahmu dan melukai dirimu sendiri dan menimbun banyak keburukan; hal ini akan menuntun menuju bencana dan penderitaanmu untuk waktu yang lama.”

6. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian? Apakah Bhikkhu Sāti, putra seorang nelayan, telah menyalakan bahkan sepercik kebijaksanaan dalam Dhamma dan Disiplin ini?”

“Bagaimana mungkin, Yang Mulia? Tidak, Yang Mulia.”

Ketika hal ini dikatakan, Bhikkhu Sāti, putra seorang nelayan, duduk diam, cemas, dengan bahu terkulai dan kepala menunduk, muram dan tidak bereaksi. Kemudian, mengetahui hal ini, Sang Bhagavā memberitahunya: “Orang sesat, engkau akan dikenal dengan pandangan salahmu sendiri. Aku akan menanyai para bhikkhu sehubungan dengan hal ini.”

7. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, apakah kalian memahami Dhamma yang Kuajarkan seperti yang dipahami oleh Bhikkhu Sāti ini, [259] putra seorang nelayan, ketika ia salah memahami kita dengan pandangan salahnya dan melukai dirinya sendiri dan menimbun banyak keburukan?”

“Tidak, Yang Mulia. Karena dalam banyak khotbah Sang Bhagavā telah menyebutkan bahwa kesadaran muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran.”

“Bagus, para bhikkhu, bagus sekali bahwa kalian memahami Dhamma yang Kuajarkan seperti demikian. Karena dalam banyak khotbah Aku telah menyebutkan bahwa kesadaran muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran. Tetapi Bhikkhu Sāti ini, putra seorang nelayan, salah memahami kita dengan pandangan salahnya dan melukai dirinya sendiri dan menimbun banyak keburukan; hal ini akan menuntun menuju bencana dan penderitaan orang sesat ini untuk waktu yang lama.

8. “Para bhikkhu, kesadaran dikenali dengan kondisi tertentu yang dengan bergantung padanya maka kesadaran muncul. Ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada mata dan bentuk-bentuk, maka dikenal sebagai kesadaran-mata; ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada telinga dan suara-suara, maka dikenal sebagai kesadaran-telinga; ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada hidung dan bau-bauan, [260] maka dikenal sebagai kesadaran-hidung; ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada lidah dan rasa kecapan, maka dikenal sebagai kesadaran-lidah; ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada badan dan objek-sentuhan, maka dikenal sebagai kesadaran-badan; ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada pikiran dan objek-objek pikiran, maka dikenal sebagai kesadaran-pikiran. Seperti halnya api yang dikenali dengan kondisi tertentu yang dengan bergantung padanya maka api itu membakar – ketika api membakar dengan bergantung pada kayu gelondongan, maka dikenal sebagai api kayu gelondongan; ketika api membakar dengan bergantung pada kayu bakar, maka dikenal sebagai api kayu bakar; ketika api membakar dengan bergantung pada rumput, maka dikenal sebagai api rumput; ketika api membakar dengan bergantung pada kotoran sapi, maka dikenal sebagai api kotoran sapi; ketika api membakar dengan bergantung pada sekam, maka dikenal sebagai api sekam; ketika api membakar dengan bergantung pada sampah, maka dikenal sebagai api sampah – demikian pula, kesadaran dikenali dengan kondisi tertentu yang dengan bergantung padanya maka kesadaran muncul.3 Ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada mata dan bentuk-bentuk, maka dikenal sebagai kesadaran-mata … ketika kesadaran muncul dengan bergantung pada pikiran dan objek-objek pikiran, maka dikenal sebagai kesadaran-pikiran.

9. “Para bhikkhu, apakah kalian melihat: ‘Ini telah muncul’?”4 – “Ya, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, apakah kalian melihat: ‘asal mulanya muncul dengan itu sebagai makanan’?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, apakah kalian melihat: ‘Dengan lenyapnya makanan itu, maka apa yang telah muncul itu juga akan lenyap’?” – “Ya, Yang Mulia.”

10. “Para bhikkhu, apakah keragu-raguan muncul jika seseorang tidak meyakini: ‘Apakah ini telah muncul’?” - “Ya, Yang Mulia.” - “Para bhikkhu, apakah keragu-raguan muncul jika seseorang tidak meyakini: ‘Apakah asal mulanya muncul dengan itu sebagai makanan’?” - “Ya, Yang Mulia.” - “Para bhikkhu, apakah keragu-raguan muncul jika seseorang tidak meyakini: ‘Dengan lenyapnya makanan itu, maka apa yang telah muncul itu juga akan lenyap’?” - “Ya, Yang Mulia.”

11. “Para bhikkhu, apakah keragu-raguan ditinggalkan pada seseorang yang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar: ‘Ini telah muncul’?” - “Ya, Yang Mulia.” - “Para bhikkhu, apakah keragu-raguan ditinggalkan pada seseorang yang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar: ‘asal mulanya muncul dengan itu sebagai makanan’?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, apakah keragu-raguan ditinggalkan pada seseorang yang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar: ‘Dengan lenyapnya makanan itu, maka yang telah muncul itu juga akan lenyap’?” – “Ya, Yang Mulia.”

12. “Para bhikkhu, apakah kalian bebas dari keragu-raguan di sini: ‘Ini telah muncul’?” - “Ya, Yang Mulia.” - “Para bhikkhu, apakah kalian bebas dari keragu-raguan di sini: ‘asal mulanya muncul dengan itu sebagai makanan’?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, apakah kalian bebas dari keragu-raguan di sini: ‘Dengan lenyapnya makanan itu, maka apa yang telah muncul itu juga akan lenyap’?” – “Ya, Yang Mulia.”

13. “Para bhikkhu, apakah telah terlihat jelas sebagaimana adanya oleh kalian dengan kebijaksanaan benar bahwa: ‘Ini telah muncul’?” - “Ya, Yang Mulia.” - “Para bhikkhu, apakah telah terlihat jelas sebagaimana adanya oleh kalian dengan kebijaksanaan benar bahwa: ‘asal mulanya muncul dengan itu sebagai makanan’?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, apakah telah terlihat jelas sebagaimana adanya oleh kalian dengan kebijaksanaan benar bahwa: ‘Dengan lenyapnya makanan itu, maka apa yang telah muncul itu juga akan lenyap’?” – “Ya, Yang Mulia.”

14. “Para bhikkhu, sungguh murni dan cerah pandangan ini, jika kalian melekat padanya, memujanya, sangat menghargainya, dan memperlakukannya sebagai harta, maka apakah kalian dapat memahami Dhamma yang telah Kuajarkan dalam perumpamaan rakit, sebagai bertujuan untuk menyeberang, bukan bertujuan untuk digenggam?”5 – “Tidak, Yang Mulia.” - “Para bhikkhu, sungguh murni dan cerah pandangan ini, [261] jika kalian tidak melekat padanya, tidak memujanya, tidak sangat menghargainya, dan tidak memperlakukannya sebagai harta, maka apakah kalian dapat memahami Dhamma yang telah Kuajarkan dalam perumpamaan rakit, sebagai bertujuan untuk menyeberang, bukan bertujuan untuk digenggam?” – “Ya, Yang Mulia.”

15. “Para bhikkhu, terdapat empat jenis makanan ini untuk memelihara makhluk-makhluk yang telah muncul dan untuk menyokong mereka yang akan muncul. Apakah empat ini? Yaitu: makanan fisik sebagai makanan, kasar atau halus; kontak sebagai yang ke dua; kehendak pikiran sebagai yang ke tiga; dan kesadaran sebagai yang ke empat.6

16. “Sekarang, para bhikkhu, keempat jenis makanan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, dari apakah dimunculkan dan dihasilkan? Keempat jenis makanan ini memiliki ketagihan sebagai sumbernya, ketagihan sebagai asal-mulanya; muncul dan dihasilkan dari ketagihan. Dan ketagihan ini memiliki apakah sebagai sumbernya …? Ketagihan memiliki perasaan sebagai sumbernya … Dan perasaan ini memiliki apakah sebagai sumbernya …? Perasaan memiliki kontak sebagai sumbernya … Dan kontak ini memiliki apakah sebagai sumbernya …? Kontak memiliki enam landasan sebagai sumbernya … Dan enam landasan ini memiliki apakah sebagai sumbernya …? Enam landasan memiliki batin-jasmani sebagai sumbernya … Dan batin-jasmani memiliki apakah sebagai sumbernya …? Batin-jasmani memiliki kesadaran sebagai sumbernya … Dan kesadaran ini memiliki apakah sebagai sumbernya …? Kesadaran memiliki bentukan-bentukan sebagai sumbernya … Dan bentukan-bentukan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, dari apakah munculnya and dihasilkan? Bentukan-bentukan memiliki ketidak-tahuan sebagai sumbernya, ketidak-tahuan sebagai asal-mulanya; muncul dan dihasilkan dari ketidak-tahuan.

17, “Maka, para bhikkhu, dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan [muncul]; dengan bentukan-bentukan sebagai kondisi, maka kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, maka batin-jasmani; dengan batin-jasmani sebagai kondisi, maka enam landasan; dengan enam landasan sebagai kondisi, maka kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan; dengan ketagihan sebagai kondisi, maka kemelekatan; dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka penjelmaan; dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan, kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

18. “‘Dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan kematian’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah penuaan dan kematian memiliki kelahiran sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Penuaan dan kematian memiliki kelahiran sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan kematian.’”

“‘Dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah kelahiran memiliki penjelmaan sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Kelahiran memiliki penjelmaan sebagai kondisi, [262] Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran.’”

“‘Dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka penjelmaan’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah penjelmaan memiliki kemelekatan sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Penjelmaan memiliki kemelekatan sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka penjelmaan.’”

“‘Dengan ketagihan sebagai kondisi, maka kemelekatan’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah kemelekatan memiliki ketagihan sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Kemelekatan memiliki ketagihan sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan ketagihan sebagai kondisi, maka kemelekatan.’”

“‘Dengan perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah ketagihan memiliki perasaan sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Ketagihan memiliki perasaan sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan.’”

“‘Dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah perasaan memiliki kontak sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Perasaan memiliki kontak sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan.’”

“‘Dengan enam landasan sebagai kondisi, maka kontak’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah kontak memiliki enam landasan sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Kontak memiliki enam landasan sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan enam landasan sebagai kondisi, maka kontak.’”

“‘Dengan batin-jasmani sebagai kondisi, maka enam landasan’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah enam landasan memiliki batin-jasmani sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Enam landasan memiliki batin-jasmani sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan batin-jasmani sebagai kondisi, maka enam landasan.’”

“‘Dengan kesadaran sebagai kondisi, maka batin-jasmani’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah batin-jasmani memiliki kesadaran sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Batin-jasmani memiliki kesadaran sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan kesadaran sebagai kondisi, maka batin-jasmani.’”

“‘Dengan bentukan-bentukan sebagai kondisi, maka kesadaran’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah kesadaran memiliki bentukan-bentukan sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Kesadaran memiliki bentukan-bentukan sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan bentukan-bentukan sebagai kondisi, maka kesadaran.’”

“‘Dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah bentukan-bentukan memiliki ketidak-tahuan sebagai kondisi atau tidak, atau bagaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Bentukan-bentukan memiliki ketidak-tahuan sebagai kondisi, Yang Mulia. Demikianlah kami memahami kasus ini: ‘Dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan.’”

19. “Bagus, para bhikkhu, kalian mengatakan demikian, dan Aku juga mengatakan demikian: ‘Dengan adanya ini, maka itu ada; [263] dengan munculnya ini, maka muncul pula itu.’7 Yaitu, dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan [muncul]; dengan bentukan-bentukan sebagai kondisi, maka kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, maka batin-jasmani; dengan batin-jasmani sebagai kondisi, maka enam landasan; dengan enam landasan sebagai kondisi, maka kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan; dengan ketagihan sebagai kondisi, maka kemelekatan; dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka penjelmaan; dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

20. “Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan, maka lenyap pula bentukan-bentukan; dengan lenyapnya bentukan-bentukan, lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, lenyap pula batin-jasmani; dengan lenyapnya batin-jasmani, lenyap pula enam landasan; dengan lenyapnya enam landasan, lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

21. “‘Dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah penuaan dan kematian lenyap dengan lenyapnya kelahiran atau tidak, atau begaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Penuaan dan kematian lenyap dengan lenyapnya kelahiran, Yang Mulia. Demikianlah kami memahaminya dalam kasus ini: ‘Dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian.’”

“‘Dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran’ … ‘Dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan’ … ‘Dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan’ … Dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan… ‘Dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan’ [264] … ‘Dengan lenyapnya enam landasan, maka lenyap pula kontak’ … ‘Dengan lenyapnya batin-jasmani, maka lenyap pula enam landasan’ … ‘Dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula batin-jasmani’ … ‘Dengan lenyapnya bentukan-bentukan, maka lenyap pula kesadaran’ … ’Dengan lenyapnya ketidak-tahuan, maka lenyap pula bentukan-bentukan’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah bentukan-bentukan lenyap dengan lenyapnya ketidak-tahuan atau tidak, atau begaimanakah kalian memahaminya dalam kasus ini?”

“Bentukan-bentukan lenyap dengan lenyapnya ketidak-tahuan, Yang Mulia. Demikianlah kami memahaminya dalam kasus ini: ‘Dengan lenyapnya ketidak-tahuan, maka lenyap pula bentukan-bentukan.’”

22. “Bagus, para bhikkhu, kalian mengatakan demikian, dan Aku juga mengatakan demikian: ‘Dengan tidak adanya ini, maka itu tidak ada; dengan lenyapnya ini, maka lenyap pula itu.’ Yaitu, dengan lenyapnya ketidak-tahuan, maka lenyap pula bentukan-bentukan; dengan lenyapnya bentukan-bentukan, maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula batin-jasmani; dengan lenyapnya batin-jasmani, maka lenyap pula enam landasan; dengan lenyapnya enam landasan, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

23. “Para bhikkhu, dengan mengetahui dan melihat dengan cara seperti ini, [265] akankah kalian kembali ke masa lampau sebagai berikut: ‘Apakah kami ada di masa lampau? Apakah kami tidak ada di masa lampau? Apakah kami di masa lampau? Bagaimanakah kami di masa lampau? Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah kami di masa lampau?’?” – “Tidak, Yang Mulia.” - “Dengan mengetahui dan melihat dengan cara seperti ini, akankah kalian pergi ke masa depan sebagai berikut: ‘Apakah kami akan ada di masa depan? Apakah kami akan tidak ada di masa depan? Apakah kami di masa depan? Bagaimanakah kami di masa depan? Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah kami di masa depan?’?” – “Tidak, Yang Mulia.” - “Dengan mengetahui dan melihat dengan cara seperti ini, akankah kalian kebingungan dalam batin mengenai masa sekarang sebagai berikut: ‘Adakah aku? Tidak adakah aku? Apakah aku? Bagaimanakah aku? Dari manakah makhluk ini datang? Ke manakah makhluk ini akan pergi?’?” – “Tidak, Yang Mulia.”

24. “Para bhikkhu, dengan mengetahui dan melihat dengan cara seperti ini, akankah kalian mengatakan sebagai berikut: ‘Kami menghormati Sang Guru. Kami berbicara sesuai apa yang kami lakukan demi hormat kami kepada Sang Guru’?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Dengan mengetahui dan melihat dengan cara seperti ini, akankah kalian mengatakan sebagai berikut: ‘Petapa itu mengatakan hal ini, dan kami mengatakan demikian sesuai perintah petapa itu’?”8 – “Tidak, Yang Mulia.” – “Dengan mengetahui dan melihat dengan cara seperti ini, akankah kalian kembali pada pelaksanaan, perdebatan, dan tanda-tanda keberuntungan dari para petapa dan brahmana biasa, menganggapnya sebagai inti [dari kehidupan suci]?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Apakah kalian mengatakan hanya apa yang kalian telah ketahui, telah lihat, dan telah pahami bagi diri kalian sendiri?” – “Ya, Yang Mulia.”

25. “Bagus, para bhikkhu. Maka kalian telah dituntun olehKu dengan Dhamma, yang terlihat di sini dan saat ini, efektif segera, mengundang untuk diselidiki, mengarah menuju kemajuan, untuk dialami oleh para bijaksana untuk diri mereka sendiri. Karena sehubungan dengan hal ini telah dikatakan: ‘Para bhikkhu, Dhamma ini terlihat di sini dan saat ini, efektif segera, mengundang untuk diselidiki, mengarah menuju kemajuan, untuk dialami oleh para bijaksana untuk diri mereka sendiri.’

26. “Para bhikkhu, kehamilan janin dalam rahim terjadi melalui perpaduan tiga hal.9 Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi saat itu bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba10 - dalam kasus ini tidak ada [266] kehamilan janin dalam rahim. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini juga tidak ada kehamilan janin dalam rahim. Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ketiga hal ini maka kehamilan janin dalam rahim terjadi.

27. “Sang ibu kemudian memelihara janin dalam rahimnya selama sembilan atau sepuluh bulan dengan banyak kesusahan, sebagai beban berat. Kemudian, di akhir sembilan atau sepuluh bulan, sang ibu melahirkan dengan banyak kesusahan, sebagai beban berat. Kemudian, ketika si anak lahir, sang ibu memberinya makan dengan darahnya sendiri; karena susu ibu disebut darah dalam Disiplin Yang-Mulia.

28. “Ketika anak itu tumbuh dan indrianya matang, anak itu memainkan permainan-permainan seperti alat membajak mainan, melempar kayu, berjungkir-balik, kincir angin mainan, alat ukur mainan, kereta mainan, dan busur dan anak panah mainan.

29. “Ketika anak itu tumbuh dan indrianya matang [lebih jauh lagi], pemuda itu menikmati lima utas kenikmatan indria, dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga … bau-bauan yang dikenali oleh hidung … rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu.

30. “Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia menginginkannya jika bentuk itu menyenangkan; ia tidak menginginkannya jika bentuk itu tidak menyenangkan. Ia berdiam dengan perhatian pada jasmani tidak ditegakkan, dengan pikiran terbatas, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan di mana kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa. Masuk ke dalam apa yang disukai maupun tidak disukai, apapun perasaan yang ia rasakan – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – ia bergembira dalam perasaan itu, menyambutnya, dan terus-menerus menggenggamnya.11 Sewaktu ia melakukan hal itu, kegembiraan muncul dalam dirinya. Sekarang kegembiraan dalam perasaan adalah kemelekatan. Dengan kemelekatannya sebagai kondisi, maka penjelmaan [muncul]; dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

“Ketika mendengar suatu suara dengan telinga … Ketika mencium suatu bau dengan hidung … Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … Ketika menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … Ketika mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, [267] ia menginginkannya jika objek pikiran itu menyenangkan; ia tidak menginginkannya jika objek pikiran itu tidak menyenangkan … Sekarang kegembiraan dalam perasaan adalah kemelekatan. Dengan kemelekatannya sebagai kondisi, maka penjelmaan [muncul]; dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

31-38. “Di sini, para bhikkhu, seorang Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna … (seperti Sutta 27, §§11-18) [268-69] … ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan. [270]

39. “Setelah meninggalkan kelima rintangan ini demikian, ketidak-sempurnaan pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Dengan meluruhnya sukacita … ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga … Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan … ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat … yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.

40. “Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menginginkannya jika bentuk itu menyenangkan; ia tidak menolaknya jika bentuk itu tidak menyenangkan. Ia berdiam dengan perhatian pada jasmani ditegakkan, dengan pikiran tanpa batas, dan ia memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan di mana kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa.12 Setelah meninggalkan apa yang disukai maupun tidak disukai, apapun perasaan yang ia rasakan – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – ia tidak bergembira dalam perasaan itu, tidak menyambutnya, dan tidak terus-menerus menggenggamnya.13 Karena ia tidak melakukan hal itu, kegembiraan dalam perasaan lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya kegembiraan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

“Ketika mendengar suatu suara dengan telinga … Ketika mencium suatu bau dengan hidung … Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … Ketika menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … Ketika mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, ia tidak menginginkannya jika objek pikiran itu menyenangkan; ia tidak menolaknya jika objek-pikiran itu tidak menyenangkan … Dengan lenyapnya kegembiraan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

41. “Para bhikkhu, ingatlah [khotbah] dariKu ini sebagai kebebasan dalam hancurnya ketagihan ini. Tetapi [ingatlah] Bhikkhu Sāti ini, [271] putra seorang nelayan, terjebak dalam jaring besar ketagihan, jala ketagihan.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Menurut MA, melalui logika keliru berdasarkan fakta kelahiran, Sāti menyimpulkan bahwa kesadaran yang ada yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain adalah perlu untuk menjelaskan tentang kelahiran kembali. Bagian pertama dari sutta ini (hingga §8) mengulangi pembukaan MN 22, perbedaannya hanya pada pandangan yang menyertai.
  2. Ini adalah yang terakhir dari enam pandangan yang digambarkan pada MN 2.8. Baca n.40.
  3. MA: tujuan dari perumpamaan ini adalah untuk menunjukkan bahwa tidak ada perpindahan kesadaran pada pintu-pintu indria. Seperti halnya api kayu gelondongan yang membakar dengan bergantung pada kayu gelondongan dan padam ketika bahan bakarnya habis, tanpa berpindah ke kayu ranting dan dikenal sebagai api kayu ranting, demikian pula, kesadaran yang muncul pada pintu mata yang bergantung pada mata dan bentuk menjadi lenyap ketika kondisinya lenyap, tanpa berpindah ke telinga, dan seterusnya, dan menjadi dikenal sebagai kesadaran-telinga, dan seterusnya. Demikianlah Sang Buddha mengatakan yang intinya: “Dalam peristiwa kesadaran bahkan tidak ada perpindahan dari satu pintu ke pintu lain, jadi bagaimana mungkin Sāti sesat ini mengatakan perpindahan dari satu kehidupan ke kehidupan lain?”
  4. Bhūtam idan ti. MA: “Ini” merujuk pada kelima kelompok unsur kehidupan. Setelah menunjukkan kondisionalitas kesadaran, Sang Buddha mengatakan paragraf ini untuk menunjukkan kondisionalitas seluruh lima kelompok unsur kehidupan, yang muncul karena kondisi, “makanan”nya, dan berlalu dengan lenyapnya kondisi tersebut. Dalam tadāhārasambhavaṁ berikutnya, MA menganggap tad sebagai suatu bentuk nominatif yang mewakili subjek (= taṁ khandhapañcakaṁ), tetapi sepertinya lebih mungkin bahwa ini berarti āhāra dan keduanya harus dianggap sebagai bentuk ablatif, subjek idaṁ dipahami. Interpretasi ini sepertinya ditegaskan oleh pernyataan ke tiga. Terjemahan Horner “Ini adalah asal-mula makanan” jelas salah.
  5. Ini dikatakan untuk menunjukkan kepada para bhikkhu bahwa mereka tidak boleh melekat pada bahkan pandangan benar dari meditasi pandangan terang. Perumpamaan rakit merujuk pada MN 22.13.
  6. Tentang empat makanan, baca n.120. MA: Sang Buddha mengatakan paragraf ini dan paragraf berikutnya menghubungkan makanan dengan kemunculan bergantungan untuk menunjukkan bahwa Beliau mengetahui bukan hanya kelima kelompok unsur kehidupan tetapi juga keseluruhan rangkaian kondisi yang bertanggung jawab atas penjelmaan.
  7. Ini adalah pernyataan prinsip abstrak dari kemunculan bergantungan yang ditunjukkan oleh dua belas formula. Prinsip abstrak tentang lenyapnya tercantum pada §22. Ñm menerjemahkan munculnya sebagai berikut: “Itu ada jika ini ada; itu muncul dengan munculnya ini.” Dan prinsip lenyapnya: “Itu tidak ada jika ini tidak ada; itu lenyap dengan lenyapnya ini.”
  8. Tulisan terbaik adalah dari SBJ: samaṇavacanena ca mayaṁ. Ñm jelas menerjemahkan dari PTS samaṇā ca na ca mayaṁ dan dengan demikian menerjemahkannya menjadi, “dan demikian pula dengan para bhikkhu [lainnya], tetapi kami tidak mengatakan demikian.” “Petapa itu” adalah Sang Buddha.
  9. Bagian berikutnya dari khotbah ini dapat dipahami sebagi penerapan konkret dari kemunculan bergantungan – sejauh ini hanya diungkapkan sebagai formula doktrin – pada perjalanan kehidupan individu. Paragraf §§26-29 dapat dipahami sebagai untuk menunjukkan faktor-faktor dari kesadaran hingga perasaan yang dihasilkan dari ketidak-tahuan dan bentukan-bentukan masa lampau, §40 menunjukkan faktor sebab-akibat dari ketagihan dan kemelekatan ketika membangun keberlangsungan lingkaran saṁsāra. Bagian berikutnya (§§31-40), menghubungkan kemunculan bergantungan dengan munculnya Sang Buddha dan ajaran Dhamma, menunjukkan praktik Dhamma sebagai alat untuk mengakhiri lingkaran.
  10. MA: gandhabba adalah makhluk yang dimaksudkan di sana. Ini bukan seseorang (yaitu, makhluk tanpa jasmani) yang berdiri di dekat sana melihat calon orangtuanya melakukan hubungan seksual, melainkan makhluk yang didorong oleh mekanisme kamma, yang terlahir kembali pada saat itu. Arti yang tepat dari kata gandhabba sehubungan dengan proses kelahiran kembali tidak dijelaskan dalam Nikāya, dan kata dalam makna ini hanya muncul di sini dan dalam 93.18. DN 15/ii.63 menjelaskan tentang kesadaran sebagai “masuk ke dalam rahim ibu,” ini menjadi kondisi bagi terjadinya kelahiran kembali. Demikianlah kita dapat mengidentifikasikan gandhabba di sini sebagai arus kesadaran, yang dianggap secara lebih animistik sebagai datang dari kehidupan sebelumnya dan membawa akumulasi total dan kecenderungan kamma dan ciri pribadi. Pembahasan lengkap atas konsep gandhabba ini terdapat pada Wijesekera, “Vedic Gandharva and Pali Gandhabba,” dalam Buddhist and Vedic Studies, hal.191-202.
  11. MA menjelaskan bahwa ia bersenang dalam perasaan menyakitkan dengan melekatinya dengan pikiran “aku” dan “milikku.” Dalam mengonfirmasi pernyataan bahwa kaum duniawi mungkin bersenang dalam perasaan menyakitkan, seseorang berpikir bukan hanya suatu sifat menyenangi siksaan, tetapi juga kecenderungan umum dari orang-orang untuk menempatkan diri mereka dalam situasi menderita untuk memperkuat ego mereka.
  12. MA: suatu pikiran yang tanpa batas (appamāṇacetaso) adalah pikiran lokuttara; ini berarti bahwa ia memiliki sang jalan.
  13. Pernyataan ini mengungkapkan bahwa rantai kemunculan bergantungan putus pada mata rantai antara perasaan dan ketagihan. Perasaan muncul karena jasmani yang diperoleh melalui ketagihan masa lampau tunduk pada kematangan kamma lampau. Akan tetapi, jika seseorang tidak bersenang dalam perasaan, maka ketagihan tidak akan berkesempatan untuk muncul dan memicu reaksi senang dan tidak senang yang menghasilkan bahan bakar lebih banyak bagi lingkaran, dan dengan demikian lingkaran akan berakhir.