[332] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang menetap di negeri Bhagga di Suṁsumāragira di Hutan Bhesakaḷā, Taman Rusa.

2. Pada saat itu Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Dan pada saat itu Māra si Jahat masuk ke dalam perut Yang Mulia Mahā Moggallāna dan memasuki ususnya. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna mempertimbangkan: “Mengapa perutku menjadi sangat berat? Seseorang akan berpikir bahwa perutku penuh kacang.” Demikianlah ia meninggalkan jalan setapak itu dan memasuki kediamannya, di mana ia duduk di tempat yang telah tersedia.

3. Ketika ia telah duduk, ia mengerahkan pengamatan penuh pada dirinya, dan melihat bahwa Māra si Jahat telah memasuki perutnya dan masuk ke dalam ususnya. Ketika ia melihat ini, ia berkata: “Keluarlah, Yang Jahat! Jangan mengganggu Sang Tathāgata, jangan menganggu siswa Sang Tathāgata, atau hal ini akan membawamu ke dalam bencana dan penderitaan untuk waktu yang lama.”

4. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini tidak mengenali aku, ia tidak melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan mengenaliku begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?”

5. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata: “Meskipun demikian, aku mengenalimu, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak mengenaliku.’ Engkau adalah Māra, si Jahat, engkau berpikir: ‘Petapa ini tidak mengenali aku, ia tidak melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan mengenaliku begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?’”

6. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini mengenali aku, ia melihat aku ketika ia mengatakan itu,” kemudian ia [333] keluar dari mulut Yang Mulia Mahā Moggallāna dan berdiri dengan bersandar pada palang pintu.

7. Yang Mulia Mahā Moggallāna melihatnya berdiri di sana dan berkata: “Aku melihat engkau di sana juga, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak melihatku.’ Engkau sedang berdiri bersandar pada palang pintu, Yang Jahat.

8. “Pernah terjadi suatu ketika, Yang Jahat, aku adalah Māra bernama Dūsi,1 dan aku memiliki saudara perempuan bernama Kāli. Engkau adalah putranya, maka engkau adalah keponakanku,

9. “Pada saat itu Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, telah muncul di dunia.2 Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, memiliki sepasang siswa utama yang mulia bernama Vidhura dan Sañjiva. Di antara para siswa Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, tidak ada yang menandingi Yang Mulia Vidhura dalam hal mengajarkan Dhamma. Itulah sebabnya Yang Mulia Vidhura memperoleh nama ‘Vidhura.’3 Tetapi Yang Mulia Sañjiva, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, tanpa kesulitan masuk ke dalam lenyapnya persepsi dan perasaan.

10. “Pernah terjadi pada suatu ketika, Yang Mulia Sañjiva telah duduk di bawah sebatang pohon dan memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan. Beberapa orang penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara melihat Yang Mulia Sañjiva sedang duduk di bawah pohon setelah memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, tuan-tuan, sungguh menakjubkan! Petapa ini mati sambil duduk. Mari kita mengkremasinya.’ Kemudian para penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara itu mengumpulkan rumput, kayu, dan kotoran sapi, dan setelah menumpuknya di atas tubuh Yang Mulia Sañjiva, mereka membakarnya dan pergi.

11. “Sekarang, Yang Jahat, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Sañjiva keluar dari pencapaian itu.4 Ia mengibaskan jubahnya, karena hari telah pagi, ia merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa untuk menerima dana makanan. Para penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara melihat Yang Mulia Sañjiva berjalan menerima dana makanan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, tuan-tuan, sungguh menakjubkan! Petapa ini yang mati sambil duduk telah hidup kembali!’ [334] Itulah sebabnya Yang Mulia Sañjiva memperoleh nama ‘Sañjiva.’5

12. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan: ‘terdapat para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik ini, tetapi aku tidak mengetahui kedatangan dan kepergian mereka. Aku akan menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan digoda oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’6

13. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.’ Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga, mereka mencaci, memaki, mencela, dan mengganggu para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik sebagai berikut:7 ‘Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit gelap keturunan kaki Leluhur,8 mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru.9 Seperti halnya seekor burung hantu yang menghinggapi sebuah dahan menunggu seekor tikus, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor serigala di tepi sungai menunggu ikan, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor kucing, menunggu seekor tikus di lorong atau saluran pembuangan atau tempat sampah, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor keledai yang tanpa beban, berdiri di dekat tiang pintu atau tempat sampah atau saluran pembuangan, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, demikian pula, Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru.’ Sekarang, Yang Jahat, pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. [335]

14. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.” Ayo, para bhikkhu, berdiamlah dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh cinta kasih, demikian pula dengan arah ke dua, demikian pula dengan arah ke tiga, demikian pula dengan arah ke empat; ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri kalian sendiri, berdiamlah dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Berdiamlah dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas kasih … dengan pikiran penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran penuh dengan keseimbangan … berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’10

15. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, mereka berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih … dengan pikiran yang penuh dengan belas kasih … dengan pikiran yang penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran yang penuh dengan keseimbangan … tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.

16. “Kemudian, si Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Walaupun aku melakukan seperti apa yang sedang kulakukan, namun aku masih tidak mengetahui kedatangan dan kepergian para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik ini. Aku akan menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; [336] dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’11

17. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.’ Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga, mereka menghormati, menghargai, menyembah, dan memuliakan para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik itu. Sekarang, Yang Jahat, pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi bahagia, bahkan di alam surga.

18. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.” Ayo, para bhikkhu, berdiamlah dengan merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan dalam makanan, merasakan kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan ketidak-kekalan dalam segala bentukan.’12

19. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, mereka berdiam dengan merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan dalam makanan, merasakan kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan ketidak-kekalan dalam segala bentukan.

20. “Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, ia pergi ke desa untuk menerima dana makanan dengan Yang Mulia Vidhura sebagai pelayanNya.

21. “Kemudian Māra Dūsi menguasai seorang anak, dan dengan mengambil sebongkah batu, ia melempari Yang Mulia Vidhura di kepalanya dengan batu itu dan melukai kepalanya. Dengan darah menetes dari kepalanya yang terluka, [337] Yang Mulia Vidhura mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā Kakusandha yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berbalik dan melihatnya dengan tatapan gajah: ‘Māra Dūsi ini tidak mengenal batas.’ Dan dengan tatapan itu, si Jahat, Māra Dūsi jatuh dari tempat itu dan muncul kembali di Neraka Besar.13

22. “Sekarang, Yang Jahat, ada tiga sebutan bagi Neraka Besar: neraka enam landasan kontak, neraka tusukan tombak, dan neraka yang dirasakan untuk diri sendiri.14 Kemudian, Yang Jahat, penjaga neraka mendatangiku dan berkata: ‘Tuan, ketika tombak bertemu tombak di jantungmu, maka engkau akan tahu: “Aku sudah terpanggang di neraka selama seribu tahun.”’

23. “Selama bertahun-tahun, Yang Jahat, selama berabad-abad, selama ribuan tahun, aku terpanggang di Neraka Besar. Selama sepuluh milenium aku terpanggang di Neraka Besar tambahan, mengalami perasaan yang disebut neraka yang muncul dari kematangan.15 Tubuhku berbentuk sama dengan tubuh manusia, Yang Jahat, tetapi kepalaku menyerupai kepala ikan.

24. “Bagaimanakah neraka dapat diperbandingkan Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang Vidhura Sang Siswa Dan Sang Brahmana Kakusandha?16 Tombak-tombak baja, bahkan berjumlah seratus, Masing-masing diderita secara terpisah; Dengan inilah neraka itu dapat diperbandingkan Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang Vidhura Sang Siswa Dan Sang Brahmana Kakusandha.

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian, Seorang siswa dari Yang Tercerahkan Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

25. “Di tengah samudra Terdapat istana-istana yang bertahan selama satu kappa, Bersinar safir, memancarkan api Dengan kilauan jernih yang tembus pandang, Di mana bidadari laut warna-warni menari Dalam irama yang rumit dan sulit diikuti

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita … Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

26. “Aku adalah seorang yang, ketika dinasihati Oleh Yang Tercerahkan secara pribadi, Mengguncang Istana Ibunya Migāra Dengan jari kaki, dengan disaksikan oleh Sangha.17

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita … Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

27. “Aku adalah seorang yang, secara kokoh mengerahkan Kekuatan batin, Mengguncang seluruh Istana Vejayanta Dengan jari kaki untuk mendorong para dewa:18 [338]

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita … Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

28. “Aku adalah seorang yang, di Istana itu Mengajukan pertanyaan ini kepada Sakka: ‘Tahukah engkau, teman, kebebasan Dalam hancurnya ketagihan sepenuhnya? ’Yang mana Sakka menjawab dengan benar Sesuai dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya:19

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita … Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

29. “Aku adalah seorang yang, terpikir untuk mengajukan Pertanyaan ini kepada Brahmā Di Aula Suddhama di surga: ‘Masih adakah padamu, teman, Pandangan salah yang pernah engkau terima? Apakah engkau melihat cahaya Yang melampaui cahaya alam Brahmā?’ Kemudian Brahmā menjawab pertanyaanku Dengan jujur dan sesuai urutan: ‘Tidak ada lagi padaku, Tuan, pandangan salah yang pernah kugenggam; Sungguh aku melihat cahaya Yang melampaui cahaya alam Brahmā. Sekarang bagaimana mungkin aku mempertahankan Bahwa aku adalah kekal dan abadi?’:20

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita … Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

30. “Aku adalah seorang yang, dengan kebebasan, Telah menyentuh puncak Gunung Sineru, Mengunjungi hutan Pubbavidehi Dan manusia manapun yang mendiami bumi.21

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian, Seorang siswa dari Yang Tercerahkan Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

31. “Tidak pernah ada api Yang berniat, ‘aku akan membakar si dungu,’ Tetapi si dungu yang menyerang api Membakar dirinya dengan perbuatannya sendiri Demikian pula engkau, O Māra: Dengan menyerang Sang Tathāgata, Bagaikan si dungu yang bermain api Engkau hanya akan membakar dirimu sendiri. Dengan menyerang Sang Tathāgata, Engkau menghasilkan banyak keburukan. Yang Jahat, apakah engkau membayangkan Bahwa kejahatanmu tidak akan matang? Dengan melakukan demikian, engkau menimbun kejahatan

Yang akan bertahan lama, O Pembuat-Akhir! Māra, menjauhlah dari Yang Tercerahkan, Jangan lagi memainkan tipuanmu pada para bhikkhu.”

Demikianlah bhikkhu itu menyadarkan Māra Dalam belantara Bhesakaḷā Kemudian makhluk gelap itu Lenyap di sana pada saat itu juga


Catatan Kaki
  1. Nama ini berarti “Penjahat” atau “Yang Jahat.” Dalam konsep semesta Buddhis, posisi Māra, seperti halnya Mahā Brahmā, adalah posisi yang tetap yang dipegang oleh individu-individu berbeda sesuai dengan kamma mereka.
  2. Kakusandha adalah Buddha pertama yang muncul dalam siklus kosmis yang sekarang ini yang disebut “masa keberuntungan.” Beliau diikuti oleh Buddha Konagamaṇa dan Kassapa, dan setelahnya adalah kemunculan Buddha Gotama yang sekarang ini.
  3. Nama ini berarti “Yang tanpa banding.”
  4. Seorang yang telah mencapai lenyapnya, sepertinya, tidak akan mengalami luka atau kematian di dalam pencapaian itu sendiri. Pada Vsm XXIII, 37 dikatakan bahwa pencapaian itu melindungi bahkan benda-benda miliknya seperti jubah dan tempat duduknya dari kehancuran.
  5. Nama ini berarti “Yang selamat.”
  6. Yaitu, dengan memunculkan kekotoran dalam pikiran mereka, maka ia akan mencegah mereka membebaskan diri dari saṁsāra.
  7. MA bersusah payah menunjukkan bahwa Māra tidak mengerahkan kekuatan untuk mengendalikan perbuatan mereka, yang mana jika demikian maka ia sendiri yang akan bertanggung jawab dan para brahmana tidak menghasilkan kamma buruk karena perbuatan itu. Sebaliknya, Māra membuat para brahmana membayangkan gambaran para bhikkhu yang terlibat dalam perilaku yang tidak selayaknya, dan ini membangkitkan kebencian mereka dan memicu mereka untuk menggoda para bhikkhu itu. Niat Māra dalam melakukan hal itu adalah untuk membangkitkan kemarahan dan kekesalan para bhikkhu.
  8. “Leluhur” (bandhu) adalah Brahmā, yang disebut demikian oleh para brahmana karena mereka menganggapnya sebagai leluhur pertama. MA menjelaskan bahwa adalah kepercayaan di antara para brahmana bahwa mereka adalah keturunan mulut Brahmā, khattiya adalah keturunan dada Brahmā, vessa dari perut, sudda dari kaki, dan samaṇa dari telapak kaki.
  9. Jhāyanti pajjhāyanti nijjhāyanti apajjhāyanti. Walaupun kata kerja ini secara berdiri sendiri tidak memiliki makna negatif, rangkaian ini jelas dimaksudkan sebagai penurunan. Pada MN 108.26 empat kata kerja ini digunakan untuk menggambarkan meditasi seseorang yang pikirannya dikuasai oleh lima rintangan.
  10. Empat brahmavihāra adalah penawar yang tepat bagi permusuhan pada orang lain, serta bagi kecenderungan pada kemarahan dan kekesalan dalam pikiran seseorang.
  11. Kali ini Māra berniat untuk menjatuhkan para bhikkhu dalam kesombongan, kepuasan, dan kelengahan.
  12. MA mengutip sebuah sutta (AN 7:46/iv.46-53) menyebutkan bahwa empat meditasi ini adalah penawar, berturut-turut, bagi keinginan indria, ketagihan pada rasa kecapan, ketertarikan pada dunia, dan ketergila-gilaan pada perolehan, kehormatan, dan pujian.
  13. MA: Tatapan gajah (nāgapalokita) berarti bahwa tanpa menggerakkan leher, ia memutar seluruh tubuhnya untuk menatap. Māra Dūsi bukan mati karena tatapan gajah Sang Buddha melainkan karena kamma buruk yang ia hasilkan dalam menyerang seorang siswa utama yang memotong kehidupannya pada saat itu juga.
  14. Neraka Besar, juga disebut Avīci, dijelaskan secara lengkap dalam MN 130.16-19.
  15. MA: perasaan ini, yang dialami dalam tambahan (ussada) dari Neraka Besar, dikatakan lebih menyakitkan daripada perasaan yang dialami dalam Neraka Besar itu sendiri.
  16. Buddha Kakusandha disebut Brahmana dalam makna seperti pada MN 39.24.
  17. Referensinya adalah pada SN 51:14/v.269-70.
  18. Baca MN 37.11.
  19. Baca MN 37.12.
  20. Referensinya adalah pada SN 6:5/i.145.
  21. Syair ini merujuk pada kemampuan YM. Moggallāna dalam mengerahkan kekuatan batin terbang di angkasa seperti burung.