[258] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Pada saat itu perumah-tangga Anāthapiṇḍika jatuh sakit, menderita, sakit parah. Kemudian ia menyuruh seseorang: “Pergilah, temui Sang Bhagavā, bersujudlah atas namaku dengan kepalamu di kaki Beliau, dan katakan: ‘Yang Mulia, Perumah-tangga Anāthapiṇḍika jatuh sakit, menderita, dan sakit parah; ia bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā.’ Kemudian pergilah menemui Yang Mulia Sāriputta, bersujudlah atas namaku dengan kepalamu di kakinya, dan katakan: ‘Yang Mulia, Perumah-tangga Anāthapiṇḍika jatuh sakit, menderita, dan sakit parah; ia bersujud dengan kepalanya di kaki Yang Mulia Sāriputta.’ Kemudian katakan sebagai berikut: ‘Baik sekali, Yang Mulia, jika Yang Mulia Sāriputta sudi datang ke rumah Perumah-tangga Anāthapiṇḍika, demi belas kasih.’”

“Baik, Tuan,” orang itu menjawab, dan ia mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi dan menyampaikan pesannya. Kemudian ia mendatangi Yang Mulia Sāriputta dan setelah bersujud kepada Yang Mulia Sāriputta, ia menyampaikan pesannya, dan berkata: “Baik sekali, Yang Mulia, jika Yang Mulia Sāriputta sudi datang ke rumah Perumah-tangga Anāthapiṇḍika, demi belas kasih.” Yang Mulia Sāriputta menyanggupi dengan berdiam diri.

3. Kemudian Yang Mulia Sāriputta merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia mendatangi kediaman Perumah-tangga Anāthapiṇḍika bersama dengan Yang Mulia Ānanda sebagai pelayannya. Setelah sampai di sana, [259] ia duduk di tempat yang telah dipersiapkan, dan berkata kepada Perumah-tangga Anāthapiṇḍika: “Aku harap engkau bertambah baik, Perumah-tangga, aku harap engkau cukup nyaman. Aku harap perasaan sakitmu mereda dan tidak bertambah, dan bahwa meredanya, bukan bertambahnya, menjadi nyata.”

4. “Guru Sāriputta, aku tidak bertambah baik, aku tidak nyaman. Perasaan sakitku bertambah, bukan mereda; bertambahnya dan bukan meredanya menjadi nyata. Seolah-olah seorang kuat membelah kepalaku dengan pedang tajam, demikian pula, angin kencang menembus kepalaku. Aku tidak bertambah baik … Seolah-olah seorang kuat mengikat kepalaku dengan tali kulit yang kuat, demikian pula, ada kesakitan hebat di kepalaku. Aku tidak bertambah baik … Seolah-olah seorang penjagal terampil atau muridnya membelah perut sapi dengan pisau daging yang tajam, demikian pula, angin kencang membelah perutku. Aku tidak bertambah baik … Seolah-olah dua orang kuat mencengkeram seorang yang lemah pada kedua lengannya dan memanggangnya di atas celah bara api panas menyala, demikian pula, ada kebakaran hebat dalam tubuhku. Aku tidak bertambah baik, aku tidak nyaman. Perasaan sakitku bertambah, bukan mereda; bertambahnya dan bukan meredanya menjadi nyata.”

5. “Maka, Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada mata, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada mata.’1 Demikianlah engkau harus berlatih. Engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada telinga … Aku tidak akan melekat pada hidung … Aku tidak akan melekat pada lidah … Aku tidak akan melekat pada badan … Aku tidak akan melekat pada pikiran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih.

6. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada bentuk-bentuk, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada bentuk-bentuk.’ Demikianlah engkau harus berlatih. Engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada suara-suara … Aku tidak akan melekat pada bau-bauan … Aku tidak akan melekat pada rasa kecapan … Aku tidak akan melekat pada objek-objek sentuhan … Aku tidak akan melekat pada objek-objek pikiran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada objek-objek pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih.

7. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada kesadaran-mata … Aku tidak akan melekat pada kesadaran-telinga … Aku tidak akan melekat pada kesadaran-hidung … Aku tidak akan melekat pada kesadaran-lidah … Aku tidak akan melekat pada kesadaran-badan … Aku tidak akan melekat pada kesadaran-pikiran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada kesadaran-pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih.

8. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada kontak-mata … [260] Aku tidak akan melekat pada kontak-telinga … Aku tidak akan melekat pada kontak-hidung … Aku tidak akan melekat pada kontak-lidah … Aku tidak akan melekat pada kontak-badan … Aku tidak akan melekat pada kontak-pikiran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada kontak-pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih.

9. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada perasaan yang timbul dari kontak-mata … Aku tidak akan melekat pada perasaan yang timbul dari kontak-telinga … Aku tidak akan melekat pada perasaan yang timbul dari kontak-hidung … Aku tidak akan melekat pada perasaan yang timbul dari kontak-lidah … Aku tidak akan melekat pada perasaan yang timbul dari kontak-badan … Aku tidak akan melekat pada perasaan yang timbul dari kontak-pikiran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada perasaan yang timbul dari kontak-pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih.

10. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada unsur tanah … Aku tidak akan melekat pada unsur air … Aku tidak akan melekat pada unsur api … Aku tidak akan melekat pada unsur udara … Aku tidak akan melekat pada unsur ruang … Aku tidak akan melekat pada unsur kesadaran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada unsur kesadaran. Demikianlah engkau harus berlatih.

11. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada bentuk materi … Aku tidak akan melekat pada perasaan … Aku tidak akan melekat pada persepsi … Aku tidak akan melekat pada bentukan-bentukan … Aku tidak akan melekat pada kesadaran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada kesadaran.’ Demikianlah engkau harus berlatih.

12. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada landasan ruang tanpa batas … Aku tidak akan melekat pada landasan kesadaran tanpa batas … Aku tidak akan melekat pada landasan kekosongan … [261] … Aku tidak akan melekat pada landasan bukan-persepsi juga bukan bukan-persepsi, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada landasan bukan-persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Demikianlah engkau harus berlatih.

13. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada dunia ini, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada dunia ini. Aku tidak akan melekat pada dunia lain, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada dunia lain.‘ Demikianlah engkau harus berlatih.

14. “Perumah-tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada apa yang dilihat, didengar, dicerap, dikenali, diperoleh, dicari, dan diperiksa oleh pikiran, dan kesadaranku tidak akan bergantung pada itu.’ Demikianlah engkau harus berlatih.”

15. Ketika hal ini dikatakan, Perumah-tangga Anāthapiṇḍika menangis dan meneteskan air mata. Kemudian Yang Mulia Ānanda bertanya kepadanya: “Apakah engkau terjatuh, Perumah-tangga, apakah engkau merosot?”

“Aku tidak terjatuh, Yang Mulia Ānanda, aku tidak merosot. Tetapi walaupun aku telah lama melayani Sang Guru dan para bhikkhu yang layak dihormati, tidak pernah sebelumnya aku mendengarkan khotbah Dhamma seperti ini.”

“Khotbah Dhamma demikian, perumah-tangga, tidak dibabarkan kepada umat-umat awam berpakaian putih. Khotbah Dhamma demikian dibabarkan kepada mereka yang telah meninggalkan keduniawian.”2

“Baiklah, Yang Mulia Sāriputta, mohon agar khotbah Dhamma demikian dibabarkan kepada umat-umat awam berpakaian putih. Ada anggota-anggota keluarga dengan sedikit debu di mata mereka yang akan tersia-sia karena tidak mendengarkan [khotbah] Dhamma ini. Akan ada di antara mereka yang akan memahami Dhamma ini.”

16. Kemudian, setelah memberikan nasihat ini kepada Perumah-tangga Anāthapiṇḍika, Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Ānanda bangkit dari duduk dan pergi. Segera setelah mereka pergi, [262] Perumah-tangga Anāthapiṇḍika meninggal dunia dan muncul kembali di alam surga Tusita.

17. Kemudian, ketika malam telah larut, Anāthapiṇḍika, sekarang adalah dewa muda berpenampilan indah, mendatangi Sang Bhagavā, dengan menerangi seluruh Hutan Jeta. Setelah memberi hormat kepada Sang Bhagavā, ia berdiri di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair:

“Oh Hutan Jeta ini sungguh terberkahi, Didiami oleh Sangha yang bijaksana Di mana berdiam Sang Raja Dhamma, Sumber seluruh kebahagiaanku.

Dengan perbuatan, pengetahuan dan Dhamma, Dengan moralitas dan gaya hidup mulia – Dengan hal-hal ini makhluk-makhluk dimurnikan, Bukan dengan silsilah atau kekayaan.

Oleh karena itu seorang bijaksana yang melihat Apa yang sesungguhnya menuntunnya menuju kebaikannya, Seharusnya menyelidiki Dhamma Dan memurnikan dirinya sendiri di dalamnya.

Sāriputta telah mencapai puncak Dalam hal moralitas, kedamaian, dan cara-cara bijaksana; Bhikkhu manapun yang telah menyeberang Paling jauh hanya dapat menyamainya.”

18. Itu adalah apa yang dikatakan oleh dewa muda Anāthapiṇḍika, dan Sang Guru menyetujuinya. Kemudian dewa muda Anāthapiṇḍika, dengan berpikir: “Sang Guru telah menyetujuiku,” memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan dengan Beliau di sisi kanannya, ia lenyap seketika.

19. Ketika malam telah berlalu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, tadi malam ketika malam telah larut, muncul satu dewa muda berpenampilan indah yang menerangi seluruh Hutan Jeta. Setelah memberi hormat kepadaKu, ia berdiri di satu sisi dan berkata kepadaKu dalam syair sebagai berikut:

‘Oh Hutan Jeta ini sungguh terberkahi … Paling jauh hanya dapat menyamainya.’ [263]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh dewa muda itu. Kemudian dewa muda itu, dengan berpikir: ‘Sang Guru telah menyetujuiku,’ memberi hormat kepadaKu, dan dengan Aku di sisi kanannya, ia lenyap seketika.”

20. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Tentu saja, Yang Mulia, dewa muda itu pasti adalah Anāthapiṇḍika. Karena Perumah-tangga Anāthapiṇḍika memiliki keyakinan sempurna pada Yang Mulia Sāriputta.”

“Bagus, bagus, Ānanda! Sejauh menarik kesimpulan engkau telah menarik kesimpulan dengan benar. Dewa muda itu memang adalah Anāthapiṇḍika, bukan yang lain.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. MA mengatakan bahwa kemelekatan pada mata terjadi melalui keinginan dan nafsu; kesadaran bergantung pada mata melalui ketagihan dan pandangan. Akan tetapi, karena Anāthapiṇḍika adalah seorang pemasuk-arus, ketergantungan baginya hanya melibatkan ketagihan, karena pandangan telah dilenyapkan melalui jalan memasuki-arus.
  2. Pernyataan ini tidak menyiratkan bahwa ada ke-eksklusif-an atau pembeda-bedaan dalam cara Sang Buddha membabarkan ajaranNya. Tetapi karena mereka yang masih menjalani kehidupan awam harus memelihara keluarga, harta, dan pekerjaannya, khotbah demikian yang mengarah pada ketidak-melekatan sepenuhnya adalah tidak sesuai bagi mereka.