1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Gua Babi di Gunung Puncak Nasar.

2. Kemudian Pengembara Dīghanakha mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau.1 Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia berdiri di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, doktrin dan pandanganku adalah seperti ini: ‘Tidak ada yang dapat diterima olehku.’”2

“Pandanganmu, Aggivessana, ‘Tidak ada yang dapat diterima olehku.’ – bukankah setidaknya pandangan itu dapat diterima olehmu?”

“Jika pandanganku ini dapat diterima olehku, Guru Gotama, maka itu juga sama, itu juga [498] sama.”3

3. “Baiklah, Aggivessana, ada banyak di dunia ini yang mengatakan: ‘Itu juga sama, itu juga sama,’ namun mereka tidak melepaskan pandangan itu dan mereka menganut pandangan lainnya. Hanya sedikit di dunia ini yang mengatakan: ‘Itu juga sama, itu juga sama,’ dan yang melepaskan pandangan itu dan tidak menganut pandangan lainnya.4

4. “Aggivessana, ada beberapa petapa dan brahmana yang doktrin dan pandangannya adalah seperti ini: ‘Segalanya dapat diterima olehku.’ Ada beberapa petapa dan brahmana yang doktrin dan pandangannya adalah seperti ini: ‘Tidak ada yang dapat diterima olehku.’ Dan ada beberapa petapa dan brahmana yang doktrin dan pandangannya adalah seperti ini: ‘Sesuatu dapat diterima olehku, sesuatu tidak dapat diterima olehku.’5 Di antara pandangan-pandangan ini, pandangan para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan ‘Segalanya dapat diterima olehku’ adalah dekat pada nafsu, dekat pada belenggu, dekat pada kesenangan; dekat pada genggaman, dekat pada kemelekatan. Pandangan para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan ‘Tidak ada yang dapat diterima olehku’ adalah dekat pada tanpa-nafsu, dekat pada tanpa-belenggu, dekat pada tanpa-kesenangan; dekat pada tanpa-genggaman, dekat pada tanpa-kemelekatan.”

5. Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Dīghanakha berkata: “Guru Gotama memuji pandanganku, Guru Gotama merekomendasikan pandanganku.”

“Aggivessana, sehubungan dengan para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan ‘Sesuatu dapat diterima olehku, sesuatu tidak dapat diterima olehku’ – pandangan mereka sehubungan dengan apa yang dapat diterima adalah dekat pada nafsu, dekat pada belenggu, dekat pada kesenangan; dekat pada genggaman, dekat pada kemelekatan, sedangkan pandangan mereka sehubungan dengan apa yang tidak dapat diterima adalah dekat pada tanpa-nafsu, dekat pada tanpa-belenggu, dekat pada tanpa-kesenangan; dekat pada tanpa-genggaman, dekat pada tanpa-kemelekatan.

6. “Sekarang, Aggivessana, seorang bijaksana di antara para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan ‘Segalanya dapat diterima olehku’ mempertimbangkan sebagai berikut:6 ‘Jika aku dengan keras kepala melekati pandanganku “Segalanya dapat diterima olehku” dan menyatakan: “Hanya ini yang benar, yang lainnya salah,” maka aku akan berbenturan dengan kedua lainnya: dengan petapa atau brahmana yang menganut doktrin [499] dan pandangan “Tidak ada yang dapat diterima olehku” dan dengan petapa atau brahmana yang menganut doktrin dan pandangan “Sesuatu dapat diterima olehku, sesuatu tidak dapat diterima olehku.” Aku mungkin dapat berbenturan dengan kedua ini, dan jika ada benturan, maka ada perselisihan; jika ada perselisihan, maka ada pertengkaran; jika ada pertengkaran, maka ada kekesalan.’ Demikianlah, setelah meramalkan untuk dirinya sendiri benturan, perselisihan, pertengkaran, dan kekesalan, ia meninggalkan pandangan itu dan tidak menganut pandangan lainnya. Ini adalah bagaimana ditinggalkannya pandangan-pandangan ini; ini adalah bagaimana terjadinya pelepasan pandangan-pandangan ini.

7. “Seorang bijaksana di antara para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan ‘Tidak ada yang dapat diterima olehku’ mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Jika aku dengan keras kepala melekati pandanganku “Tidak ada yang dapat diterima olehku” dan menyatakan: “Hanya ini yang benar, yang lainnya salah,” maka aku akan berbenturan dengan kedua lainnya: dengan petapa atau brahmana yang menganut doktrin dan pandangan “Segalanya dapat diterima olehku” dan dengan petapa atau brahmana yang menganut doktrin dan pandangan “Sesuatu dapat diterima olehku, sesuatu tidak dapat diterima olehku.” Aku mungkin dapat berbenturan dengan kedua ini, dan jika ada benturan, maka ada perselisihan; jika ada perselisihan, maka ada pertengkaran; jika ada pertengkaran, maka ada kekesalan.’ Demikianlah, setelah meramalkan untuk dirinya sendiri benturan, perselisihan, pertengkaran, dan kekesalan, ia meninggalkan pandangan itu dan tidak menganut pandangan lainnya. Ini adalah bagaimana ditinggalkannya pandangan-pandangan ini; ini adalah bagaimana terjadinya pelepasan pandangan-pandangan ini.

8. “Seorang bijaksana di antara para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan ‘Sesuatu dapat diterima olehku, sesuatu tidak dapat diterima olehku.’ mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Jika aku dengan keras kepala melekati pandanganku “Sesuatu dapat diterima olehku, sesuatu tidak dapat diterima olehku” dan menyatakan: “Hanya ini yang benar, yang lainnya salah,” maka aku akan berbenturan dengan kedua lainnya: dengan petapa atau brahmana yang menganut doktrin dan pandangan “Segalanya dapat diterima olehku” dan dengan petapa atau brahmana yang menganut doktrin dan pandangan “Tidak ada yang dapat diterima olehku.” Aku mungkin dapat berbenturan dengan kedua ini, dan jika ada benturan, maka ada perselisihan; jika ada perselisihan, maka ada pertengkaran; jika ada pertengkaran, maka ada kekesalan.’ Demikianlah, setelah meramalkan untuk dirinya sendiri benturan, perselisihan, pertengkaran, dan kekesalan, ia meninggalkan pandangan itu dan tidak menganut pandangan lainnya. Ini adalah bagaimana ditinggalkannya pandangan-pandangan ini; ini adalah bagaimana terjadinya pelepasan pandangan-pandangan ini. [500]

9. “Sekarang, Aggivessana,7 jasmani ini terbuat dari bentuk materi, terdiri dari empat unsur utama, dihasilkan oleh ibu dan ayah, dan dibangun dari nasi dan bubur, tunduk pada ketidak-kekalan, menjadi usang dan lapuk, tunduk pada kemusnahan dan kehancuran. Ini harus dianggap sebagai tidak kekal, sebagai penderitaan, sebagai penyakit, sebagai tumor, sebagai anak panah, sebagai bencana, sebagai kesusahan, sebagai makhluk asing, sebagai kehancuran, sebagai hampa, sebagai bukan diri. Ketika seseorang menganggap jasmani ini seperti demikian, maka ia meninggalkan keinginan terhadap jasmani, kasih sayang pada jasmani, ketundukan pada jasmani.

10. “Terdapat, Aggivessana, tiga jenis perasaan: perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, dan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. Pada saat seseorang merasakan perasaan menyenangkan, ia tidak merasakan perasaan menyakitkan atau perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan; pada saat itu ia hanya merasakan perasaan menyenangkan. Pada saat seseorang merasakan perasaan menyakitkan, ia tidak merasakan perasaan menyenangkan atau perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan; pada saat itu ia hanya merasakan perasaan menyakitkan. Pada saat seseorang merasakan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia tidak merasakan perasaan menyenangkan atau perasaan menyakitkan; pada saat itu ia hanya merasakan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.

11. “Perasaan menyenangkan, Aggivessana, adalah tidak kekal, terkondisi, muncul dengan bergantung, tunduk pada kehancuran, lenyap, meluruh, dan berhenti. Perasaan menyakitkan juga adalah tidak kekal, terkondisi, muncul dengan bergantung, tunduk pada kehancuran, kelenyapan, peluruhan, dan penghentian. Perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan juga adalah tidak kekal, terkondisi, muncul dengan bergantung, tunduk pada kehancuran, kelenyapan, peluruhan, dan penghentian.

12. “Dengan melihat demikian, seorang siswa mulia yang terpelajar menjadi kecewa dengan perasaan menyenangkan, kecewa dengan perasaan menyakitkan, kecewa dengan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. Karena kecewa, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan [pikirannya] terbebaskan. Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

13. “Seorang bhikkhu yang batinnya terbebas demikian, Aggivessana, tidak memihak siapapun dan tidak berselisih dengan siapapun; ia mengucapkan bahasa yang digunakan di dunia pada masa itu tanpa melekatinya.”8

14. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta sedang berdiri di belakang Sang Bhagavā, [501] mengipasi Beliau. Kemudian ia berpikir: “Sesungguhnya Sang Bhagavā, membabarkan kepada kami tentang meninggalkan hal-hal ini melalui pengetahuan langsung; sesungguhnya Yang Sempurna, membabarkan kepada kami tentang meninggalkan hal-hal ini melalui pengetahuan langsung.” Ketika Yang Mulia Sāriputta merenungkan demikian, pikirannya terbebaskan dari noda-noda melalui ketidak-melekatan.9

15. Tetapi pada Pengembara Dīghanakha, penglihatan Dhamma yang murni tanpa noda muncul dalam dirinya: “Segala sesuatu yang tunduk pada kemunculan, juga tunduk pada kelenyapan.” Pengembara Dīghanakha melihat Dhamma, mencapai Dhamma, memahami Dhamma, mengukur Dhamma; ia menyeberang melampaui keragu-raguan, menyingkirkan kebingungan, memperoleh keberanian, dan menjadi tidak bergantung pada orang lain dalam Pengajaran Sang Guru.10

16. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


Catatan Kaki
  1. Dīghanakha adalah keponakan YM. Sāriputta. Pada saat ia mendatangi Sang Buddha, Sariputta baru menjadi bhikkhu selama dua minggu dan masih menjadi seorang pemasuk-arus.
  2. MA berpendapat bahwa Dīghanakha adalah seorang penganut pemusnahan (ucchedavādin) dan menjelaskan penegasan ini sebagai berarti: “Tidak ada [cara] kelahiran kembali yang dapat diterima olehku.” Akan tetapi, teks tidak memberikan bukti nyata yang mendukung interpretasi ini. Sepertinya lebih mungkin bahwa pernyataan Dīghanakha, “Tidak ada yang dapat diterima olehku” (sabbaṁ me na khamati), dimaksudkan untuk secara khusus ditujukan kepada pandangan-pandangan filosofis lainnya, dan dengan demikian Dīghanakha sebagai seorang skeptis radikal dari kelompok yang dikarakteristikkan secara sindiran dalam MN 76.30 sebagai “geliat-belut.” Penegasannya serupa dengan penolakan umum atas semua pandangan filosofis.
  3. Jawaban ini, seperti diinterpretasikan oleh MA dan MṬ, harus dipahami sebagai berikut: Dengan pertanyaan ini Sang Buddha menyiratkan bahwa pernyataan Dīghanakha mengandung suatu kontradiksi. Karena ia tidak dapat menolak segala sesuatu tanpa menolak pandangannya sendiri, dan ini menuntut suatu posisi yang berlawanan, yaitu, bahwa sesuatu dapat diterima olehnya. Akan tetapi, walaupun Dīghanakha menyadari implikasi dari pertanyaan Sang Buddha, namun ia mempertahankan pandangannya bahwa tidak ada yang dapat diterima olehnya.
  4. MA mengatakan bahwa kalimat pertama merujuk pada mereka yang awalnya menganut pandangan eternalis atau pemusnahan dasar dan kemudian mengadopsi variasi sekunder atas pandangan itu; kalimat ke dua merujuk pada mereka yang meninggalkan pandangan dasar mereka tanpa mengadopsi pandangan alternatif. Tetapi jika, yang sepertinya masuk akal, Dīghanakha adalah seorang skeptis radikal, maka pernyataan Sang Buddha dapat dipahami sebagai menunjukkan suatu ketidak-puasan yang terdapat dalam posisi skeptis: adalah secara psikologis tidak nyaman untuk terus-menerus berada dalam kegelapan. Demikianlah kebanyakan para skeptis, sambil mengakui penolakan atas semua pandangan, diam-diam mengadopsi beberapa pandangan pasti, sementara sebagian kecil dari mereka meninggalkan keraguan mereka untuk mencari jalan menuju pengetahuan pribadi.
  5. MA mengidentifikasikan ketiga pandangan di sini sebagai eternalisme, pemusnahan, dan eternalisme sebagian. Pandangan eternalis adalah dekat pada nafsu (sārāgāya santike), dan seterusnya, karena menegaskan dan bergembira dalam kehidupan dalam bentuk yang bagaimanapun halusnya; pemusnahan adalah dekat pada tanpa-nafsu, dan seterusnya, karena, walaupun melibatkan konsepsi keliru sehubungan dengan diri, namun mengarah menuju kekecewaan terhadap kehidupan. Jika pandangan ke dua dipahami sebagai dekat pada tanpa-nafsu dalam hal bahwa pandangan itu mengungkapkan kekecewaan dengan usaha untuk menopang kemelekatan pada kehidupan dengan landasan teoritis dan dengan demikian menyajikan suatu langkah yang bersifat sementara, walaupun keliru, ke arah kebosanan.
  6. MA: Ajaran ini dibabarkan untuk menunjukkan kepada Dīghanakha akan bahaya dalam pandangannya dan karenanya mendorongnya untuk melepaskannya.
  7. MA: Pada titik ini Dīghanakha telah melepaskan pandangan pemusnahannya. Demikianlah Sang Buddha sekarang mengajarkan meditasi pandangan terang kepadanya, pertama-tama melalui ketidak-kekalan jasmani dan kemudian melalui ketidak-kekalan faktor-faktor batin dalam kelompok perasaan.
  8. MA mengutip suatu syair yang mengatakan bahwa seorang Arahant mungkin menggunakan kata “aku” dan “milikku” tanpa membangkitkan keangkuhan atau konsepsi salah sebagai merujuk pada diri atau ego (SN 1:5/i.14). Baca DN 9.53/i.202, di mana Sang Buddha mengatakan ungkapan-ungkapan yang menggunakan kata “diri”: “Ini hanyalah nama-nama, ungkapan-ungkapan, gaya bahasa, sebutan-sebutan dalam penggunaan umum di dunia, yang mana Sang Tathāgata menggunakannya tanpa salah memahaminya.”
  9. MA: Setelah merenungkan khotbah yang dibabarkan kepada keponakannya, YM. Sariputta mengembangkan pandangan terang dan mencapai Kearahattaan. Dīghanakha mencapai buah memasuki-arus.
  10. Baca nn.588-89.