[281] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Negeri Anga di pemukiman penduduk Anga bernama Assapura. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “‘Petapa, petapa,’ para bhikkhu, itu adalah bagaimana orang-orang mengenali kalian. Dan jika kalian ditanya, ‘Apakah kalian?’, maka kalian mengaku bahwa kalian adalah para petapa. Karena itu adalah sebutan bagi kalian dan apa yang kalian akui, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan melatih jalan benar selayaknya bagi seorang petapa1 sehingga sebutan kami menjadi benar dan pengakuan kami benar, dan sehingga pelayanan dari mereka yang jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatannya kami gunakan akan memberikan buah dan manfaat besar bagi mereka, dan sehingga pelepasan keduniawian kami tidak sia-sia melainkan subur dan berbuah.’

3. “Bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak melatih jalan benar selayaknya bagi seorang petapa? Selama seorang bhikkhu yang tamak belum meninggalkan ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan belum meninggalkan permusuhan, yang penuh kemarahan belum meninggalkan kemarahan, yang penuh kekesalan belum meninggalkan kekesalan, yang bersikap meremehkan belum meninggalkan sikap meremehkan, yang bersikap congkak belum meninggalkan kecongkakan, yang iri-hati belum meninggalkan keiri-hatian, yang kikir belum meninggalkan kekikiran, yang curang belum meninggalkan kecurangan, yang menipu belum meninggalkan penipuan, yang memiliki keinginan jahat belum meninggalkan keinginan jahat, yang berpandangan salah belum meninggalkan pandangan salah,2 maka selama itu ia tidak melatih jalan benar selayaknya bagi petapa, Aku katakan, karena kegagalannya dalam meninggalkan noda-noda bagi petapa ini, cacat bagi petapa ini, sampah bagi petapa ini, yang merupakan landasan bagi kelahiran kembali dalam kondisi sengsara dan yang akibat-akibatnya akan dialami di alam yang tidak berbahagia.

4. “Misalkan senjata yang disebut mataja, terasah dengan baik pada kedua sisinya, tertutup dan tersimpan dalam sarung kain. Aku katakan bahwa pelepasan keduniawian bhikkhu itu adalah seperti senjata itu.

5. “Aku tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari pemakai jubah bertambalan hanya karena mengenakan jubah bertambalan, juga bukan dari seorang petapa telanjang hanya karena ketelanjangannya, juga bukan dari seorang yang berlumuran tanah dan debu hanya karena berlumuran tanah dan debu, juga bukan dari seorang pelaku ritual mandi hanya karena melakukan ritual mandi, juga bukan dari seorang penghuni bawah pohon hanya karena [282] menetap di bawah pohon, juga bukan seorang yang menetap di ruang terbuka hanya karena menetap di ruang terbuka, juga bukan dari seorang praktisi yang berlatih terus-menerus berdiri hanya karena terus-menerus berdiri, juga bukan dari seorang yang makan dalam interval waktu yang telah ditentukan hanya karena makan dalam interval waktu yang telah ditentukan, juga bukan dari seorang pembaca mantera hanya karena membaca mantera; Aku juga tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari seorang petapa berambut kusut hanya karena berambut kusut.

6. “Para bhikkhu, jika dengan hanya mengenakan jubah bertambalan seorang pemakai jubah bertambalan yang tamak meninggalkan ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan meninggalkan permusuhan … yang berpandangan salah meninggalkan pandangan salah, maka teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan menjadikannya seorang pemakai jubah bertambalan segera setelah ia dilahirkan dan menyuruhnya menjalani praktik mengenakan jubah bertambalan sebagai berikut: ‘Marilah, sayangku, jadilah seorang pemakai jubah bertambalan agar, sebagai seorang pemakai jubah bertambalan maka, ketika engkau tamak maka engkau akan meninggalkan ketamakan, ketika engkau memiliki pikiran permusuhan maka engkau akan meninggalkan permusuhan … ketika engkau berpandangan salah maka engkau akan meninggalkan pandangan salah.’ Tetapi Aku melihat di sini seorang pemakai jubah bertambalan yang tamak, yang memiliki pikiran permusuhan … yang berpandangan salah; dan itulah sebabnya mengapa Aku tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari pemakai jubah bertambalan hanya karena mengenakan jubah bertambalan.

“Jika dengan ketelanjangan seorang petapa telanjang yang tamak meninggalkan ketamakan … Jika dengan berlumuran tanah dan debu … Jika dengan melakukan ritual mandi… Jika dengan menetap di bawah pohon … Jika dengan menetap di ruang terbuka … jika dengan terus-menerus berdiri … Jika dengan makan pada interval waktu yang telah ditentukan … Jika dengan membaca mantera … Jika dengan berambut kusut … [283] … dan itulah sebabnya mengapa Aku tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari seorang petapa berambut kusut hanya karena berambut kusut.

7. “Bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu melatih jalan benar selayaknya bagi seorang petapa? Ketika seorang bhikkhu yang tamak telah meninggalkan ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan telah meninggalkan permusuhan, yang penuh kemarahan telah meninggalkan kemarahan, yang penuh kekesalan telah meninggalkan kekesalan, yang bersikap meremehkan telah meninggalkan sikap meremehkan, yang bersikap congkak telah meninggalkan kecongkakan, yang iri-hati telah meninggalkan keiri-hatian, yang kikir telah meninggalkan kekikiran, yang curang telah meninggalkan kecurangan, yang menipu telah meninggalkan penipuan, yang memiliki keinginan jahat telah meninggalkan keinginan jahat, yang berpandangan salah telah meninggalkan pandangan salah, maka ia melatih jalan benar selayaknya bagi seorang petapa, Aku katakan, adalah karena dengan meninggalkan noda-noda bagi petapa ini, cacat bagi petapa ini, sampah bagi petapa ini, yang merupakan landasan bagi kelahiran kembali dalam kondisi sengsara dan yang akibat-akibatnya akan dialami di alam yang tidak berbahagia.

8. “Ia melihat dirinya murni dari kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini, ia melihat dirinya terbebas dari kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini. Ketika ia melihat ini, kegembiraan muncul dalam dirinya. Ketika ia gembira, sukacita muncul dalam dirinya; dalam diri seorang yang bersukacita, jasmaninya menjadi tenang; seseorang yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan; dalam diri seorang yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.

9. “Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.

10-12. “Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan belas kasih … dengan pikiran yang penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran yang penuh dengan keseimbangan … berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.

13. “Misalkan terdapat sebuah kolam, dengan air yang jernih, sejuk menyenangkan, bening, dengan tepian yang landai, indah, dan dekat dengan hutan. [284] Jika seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang dari arah timur atau dari arah barat atau dari arah utara atau dari arah selatan atau dari manapun kalian inginkan, setelah mendatangi kolam itu ia akan memuaskan dahaganya dan demam cuaca-panasnya. Demikian pula, para bhikkhu, jika siapapun dari kasta para mulia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, mengembangkan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan altruistik, dan keseimbangan, dan karenanya memperoleh kedamaian internal, maka karena kedamaian internal itu ia melatih jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku katakan. Jika siapapun dari kasta brahmana meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari kasta pedagang meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari kasta pekerja meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, mengembangkan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan altruistik, dan keseimbangan, dan karenanya memperoleh kedamaian internal, maka karena kedamaian internal itu ia melatih jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku katakan.

14. “Para bhikkhu, jika siapapun dari kasta para mulia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi seorang petapa karena hancurnya noda-noda itu.3 Dan jika siapapun dari kasta brahmana meninggalkan keduniawian … Jika siapapun dari kasta pedagang meninggalkan keduniawian … Jika siapapun dari kasta pekerja meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi seorang petapa karena hancurnya noda-noda itu.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Sementara sutta sebelumnya menggunakan frasa “hal-hal yang membuat seseorang menjadi seorang petapa” (dhammā samaṇakaraṇā), di sini sutta ini mengatakan “jalan selayaknya bagi petapa” (samaṇasamīcipaṭipada).
  2. Sepuluh pertama dari dua belas “noda bagi seorang petapa” ini termasuk di antara enam belas “ketidak-sempurnaan yang mengotori batin” pada MN 7.3.
  3. MA: Karena ia telah menenangkan (samita) segala kekotoran, maka ia adalah seorang petapa dalam makna tertinggi (paramatthasamaṇa).