1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri orang-orang Anguttarāpa di mana terdapat pemukiman bernama Āpaṇa.

2. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubahNya, pergi ke Āpaṇa untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah menerima dana makanan di Āpaṇa dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau pergi ke suatu hutan untuk melewatkan hari. Setelah memasuki hutan, Beliau duduk di bawah sebatang pohon.

3. Potaliya si perumah-tangga, sewaktu berjalan-jalan untuk berolah-raga, mengenakan pakaian lengkap dengan payung dan sandal, juga pergi ke hutan itu, dan setelah memasuki hutan, ia mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia berdiri di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, perumah-tangga, duduklah jika engkau menginginkan.”

Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Potaliya berpikir: “Petapa Gotama memanggilku dengan sebutan ‘perumah-tangga,’” dan karena marah serta tidak senang, ia berdiam diri.

Untuk ke dua kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, perumah-tangga, duduklah jika engkau menginginkan.” Dan untuk ke dua kalinya tangga Potaliya berpikir: “Petapa Gotama memanggilku dengan sebutan ‘perumah-tangga,’” dan karena marah serta tidak senang, ia berdiam diri.

Untuk ke tiga kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, perumah-tangga, duduklah jika engkau menginginkan.” Dan untuk ke tiga kalinya perumah-tangga Potaliya berpikir: “Petapa Gotama memanggilku sebagai ‘perumah-tangga,’” dan dengan marah serta tidak senang, ia berkata kepada Sang Bhagavā: [360] “Guru Gotama, adalah tidak selayaknya, juga tidak tepat bahwa Engkau memanggilku dengan sebutan‘perumah-tangga.’”

“Perumah-tangga, engkau memiliki aspek-aspek, ciri-ciri, dan tanda-tanda seorang perumah tangga.”

“Walaupun demikian, Guru Gotama, aku telah meninggalkan semua pekerjaanku dan memotong semua urusanku.”

“Dengan cara bagaimanakah, perumah-tangga, engkau telah meninggalkan semua pekerjaanmu dan memotong semua urusanmu?”

“Guru Gotama, aku telah menyerahkan seluruh kekayaan, hasil panen, perak dan emas kepada anak-anakku sebagai warisan mereka. Aku tidak menasihati atau menyalahkan mereka sehubungan dengan hal-hal tersebut melainkan hanya sekadar hidup dari makanan dan pakaian. Demikianlah bagaimana aku telah meninggalkan semua pekerjaanku dan memotong semua urusanku.”

“Perumah-tangga, memotong urusan seperti yang engkau gambarkan adalah satu hal, tetapi dalam Disiplin Yang-Mulia, memotong urusan adalah berbeda.”

“Apakah memotong urusan seperti dalam Disiplin Yang-Mulia, Yang Mulia? Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan Dhamma kepadaku, menunjukkan bagaimana memotong urusan seperti dalam Disiplin Yang-Mulia.”

“Maka dengarkanlah, perumah-tangga, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Potaliya si perumah-tangga menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

4. “Perumah-tangga, terdapat delapan hal ini dalam Disiplin Yang-Mulia yang menuntun menuju terpotongnya urusan-urusan. Apakah delapan ini? Dengan dukungan perbuatan tidak membunuh makhluk-makhluk hidup, maka pembunuhan makhluk-makhluk hidup ditinggalkan. Dengan dukungan perbuatan mengambil hanya apa yang diberikan, maka perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan ditinggalkan. Dengan dukungan ucapan jujur, maka kebohongan ditinggalkan. Dengan dukungan ucapan tidak memfitnah, maka ucapan fitnah ditinggalkan. Dengan dukungan tanpa merampas dan tanpa keserakahan,1 maka merampas dan keserakahan ditinggalkan. Dengan dukungan tanpa cacian dan tanpa kedengkian, maka cacian dan kedengkian ditinggalkan. Dengan dukungan tanpa kemarahan dan tanpa kejengkelan, maka kemarahan dan kejengkelan ditinggalkan. Dengan dukungan tanpa kesombongan, maka kesombongan ditinggalkan. Ini adalah delapan hal, yang disebutkan secara ringkas tanpa dijelaskan secara terperinci, yang menuntun menuju terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia.”

5. “Yang Mulia, baik sekali jika, demi belas kasih, Bhagavā sudi menjelaskan kepadaku secara terperinci mengenai kedelapan hal ini yang menuntun menuju terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia, yang telah disebutkan secara ringkas tanpa dijelaskan secara terperinci.”

“Maka dengarkanlah, perumah-tangga, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Potaliya si perumah-tangga menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: [361]

6. “‘Dengan dukungan perbuatan tidak membunuh makhluk-makhluk hidup, maka pembunuhan makhluk-makhluk hidup ditinggalkan.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Di sini seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Aku melatih jalan untuk meninggalkan dan memotong belenggu-belenggu itu yang karenanya aku mungkin membunuh makhluk-makhluk itu. Jika aku membunuh makhluk-makhluk hidup, maka aku akan menyalahkan diri sendiri karena melakukan itu; para bijaksana, setelah menyelidiki, akan mencelaku karena melakukan hal itu; dan ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, karena membunuh makhluk-makhluk hidup maka alam tujuan yang tidak bahagia akan dapat diharapkan. Tetapi perbuatan membunuh makhluk-makhluk itu sendiri adalah belenggu dan rintangan.2 Dan sementara noda-noda, kekesalan, dan demam dapat muncul melalui perbuatan membunuh makhluk-makhluk hidup, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam bagi seseorang yang menghindari perbuatan membunuh makhluk-makhluk hidup.’ Demikianlah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ’Dengan dukungan perbuatan tidak membunuh makhluk-makhluk hidup, maka pembunuhan makhluk-makhluk hidup ditinggalkan.’

7. “‘Dengan dukungan perbuatan mengambil hanya apa yang diberikan, maka perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan ditinggalkan.’ Demikianlah dikatakan …

8. “‘Dengan dukungan ucapan jujur, maka kebohongan ditinggalkan.’ Demikianlah dikatakan … [362]

9. “‘Dengan dukungan ucapan tidak memfitnah, maka ucapan fitnah ditinggalkan.’ Demikianlah dikatakan …

10. “‘Dengan dukungan tanpa merampas dan tanpa keserakahan, maka merampas dan keserakahan ditinggalkan. Demikianlah dikatakan …

11. “‘Dengan dukungan tanpa cacian dan tanpa kedengkian, maka cacian dan kedengkian ditinggalkan.’ Demikianlah dikatakan … [363]

12. “‘Dengan dukungan tanpa kemarahan dan tanpa kejengkelan, maka kemarahan dan kejengkelan ditinggalkan.’ Demikianlah dikatakan …

13. “‘Dengan dukungan tanpa kesombongan, maka kesombongan ditinggalkan.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Di sini seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Aku melatih jalan untuk meninggalkan dan memotong belenggu-belenggu itu yang karenanya aku mungkin menjadi sombong. Jika aku menjadi sombong, maka aku akan menyalahkan diri sendiri karena melakukan itu; para bijaksana, setelah menyelidiki, akan mencelaku karena melakukan hal itu; dan ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, karena menjadi sombong maka alam tujuan yang tidak bahagia akan dapat diharapkan. Tetapi kesombongan itu sendiri adalah belenggu dan rintangan. Dan sementara noda-noda, kekesalan, dan demam dapat muncul melalui kesombongan, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam bagi seseorang yang menghindari kesombongan.’ Demikianlah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Dengan dukungan tanpa kesombongan, maka kesombongan ditinggalkan.’3 [364]

14. “Delapan hal ini yang menuntun menuju terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia telah dijelaskan secara terperinci. Tetapi terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia belum tercapai sepenuhnya dan dalam segala cara.”

“Yang Mulia, bagaimanakah terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia belum tercapai sepenuhnya dan dalam segala cara? Baik sekali, Yang Mulia, jika Bhagavā sudi mengajarkan Dhamma kepadaku, menunjukkan kepadaku bagaimana terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia tercapai sepenuhnya dan dalam segala cara.”

“Maka dengarkanlah, perumah-tangga, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Potaliya si perumah-tangga menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

15. “Perumah-tangga, misalkan seekor anjing, yang dikuasai oleh rasa lapar dan lemah, sedang menunggu di dekat sebuah toko daging.4 Kemudian seorang tukang daging terampil atau muridnya akan melemparkan tulang-belulang tanpa daging yang berlumuran darah yang dipotong dengan baik dan bersih. Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Akankah anjing itu terpuaskan lapar dan lemahnya dengan menggerogoti tulang-belulang tanpa daging yang berlumuran darah yang dipotong dengan baik dan bersih itu?”

“Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena itu adalah tulang-belulang tanpa daging yang berlumuran darah yang dipotong dengan baik dan bersih. Akhirnya anjing itu akan menemui keletihan dan kekecewaan.”

“Demikian pula, perumah-tangga, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria telah diumpamakan sebagai tulang-belulang oleh Sang Bhagavā; kenikmatan indria memberikan banyak penderitaan dan banyak keputus-asaan, sementara bahaya di dalamnya sangat besar.’ Setelah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menghindari keseimbangan yang membeda-bedakan, berdasarkan pada keberagaman, dan mengembangkan keseimbangan yang menyatu, berdasarkan pada kesatuan,5 di mana kemelekatan pada benda-benda materi duniawi lenyap sepenuhnya tanpa sisa.

16. “Perumah-tangga, misalkan seekor burung nasar, seekor burung bangau, seekor burung elang menyambar sepotong daging dan terbang, dan kemudian sekumpulan burung nasar, sekumpulan burung bangau dan sekumpulan burung elang mengejarnya dan mematuk dan mencakarnya. Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Jika burung nasar, burung bangau, atau burung elang itu tidak segera melepaskan sepotong daging itu, apakah ia tidak mengalami kematian atau penderitaan mematikan karena daging itu?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Demikian pula, perumah-tangga, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria telah diumpamakan sebagai sepotong daging oleh Sang Bhagavā; kenikmatan indria memberikan banyak penderitaan dan banyak keputus-asaan, sementara bahaya di dalamnya sangat besar.’ [365] Setelah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar … kemelekatan pada benda-benda materi duniawi lenyap sepenuhnya tanpa sisa.

17. “Perumah-tangga, misalkan seseorang membawa obor rumput menyala dan pergi melawan arah angin. Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Jika orang itu tidak segera melepaskan obor rumput menyala itu, apakah ia tidak terbakar di tangannya atau di lengannya atau bagian tubuh lainnya, sehingga ia dapat mengalami kematian atau penderitaan mematikan karena obor rumput menyala itu?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Demikian pula, perumah-tangga, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria telah diumpamakan sebagai obor rumput oleh Sang Bhagavā; kenikmatan indria memberikan banyak penderitaan dan banyak keputus-asaan, sementara bahaya di dalamnya sangat besar.’ Setelah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar … kemelekatan pada benda-benda materi duniawi lenyap sepenuhnya tanpa sisa.

18. “Perumah-tangga, misalkan terdapat sebuah lubang bara api sedalam tinggi seorang manusia penuh dengan bara api menyala tanpa api atau asap. Kemudian seseorang datang menginginkan kehidupan tidak menginginkan kematian, yang menginginkan kenikmatan dan menghindari kesakitan, dan dua orang kuat menangkapnya pada kedua lengannya dan menariknya ke arah lubang bara api tersebut. Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Apakah orang itu akan menggeliatkan tubuhnya ke sana-sini?”

“Ya, Yang Mulia. Mengapakah? Karena orang itu mengetahui bahwa jika ia jatuh ke dalam lubang bara api itu, maka ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan karenanya.”

“Demikian pula, perumah-tangga, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria telah diumpamakan sebagai lubang bara api oleh Sang Bhagavā; kenikmatan indria memberikan banyak penderitaan dan banyak keputus-asaan, sementara bahaya di dalamnya sangat besar.’ Setelah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar … kemelekatan pada benda-benda materi duniawi lenyap sepenuhnya tanpa sisa.

19. “Perumah-tangga, misalkan seseorang bermimpi tentang taman-taman yang indah, hutan-hutan yang indah, padang rumput yang indah, dan danau yang indah, dan ketika terjaga ia tidak melihat apa-apa. Demikian pula, perumah-tangga, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria telah diumpamakan sebagai mimpi oleh Sang Bhagavā; kenikmatan indria memberikan banyak penderitaan dan banyak keputus-asaan, sementara bahaya di dalamnya sangat besar.’ Setelah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar … kemelekatan pada benda-benda materi duniawi lenyap sepenuhnya tanpa sisa.

20. “Perumah-tangga, misalkan seseorang meminjam barang-barang [366] – sebuah kereta indah dan anting-anting permata yang bagus – dan dengan barang-barang pinjaman itu ia pergi ke pasar. Kemudian orang-orang, ketika melihatnya, akan berkata: ‘Tuan-tuan, itu ada orang kaya! Itu adalah bagaimana orang kaya menikmati kekayaannya!’ Kemudian pemilik barang-barang itu, ketika melihatnya, akan mengambil kembali barang-barang itu. Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Cukupkah hal itu untuk membuat orang itu bersedih?”

“Ya, Yang Mulia. Mengapakah? Karena pemilik barang-barang itu mengambil kembali barang-barang miliknya.”

“Demikian pula, perumah-tangga, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria telah diumpamakan sebagai barang-barang pinjaman oleh Sang Bhagavā; kenikmatan indria memberikan banyak penderitaan dan banyak keputus-asaan, sementara bahaya di dalamnya sangat besar.’ Setelah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar … kemelekatan pada benda-benda materi duniawi lenyap sepenuhnya tanpa sisa.

21. “Perumah-tangga, misalkan terdapat sebuah hutan lebat tidak jauh dari sebuah desa atau pemukiman, di dalamnya terdapat sebatang pohon yang penuh buah-buahan tetapi tidak ada buah yang jatuh ke tanah. Kemudian seseorang datang memerlukan buah, mencari buah, mengembara mencari buah, dan ia memasuki hutan dan melihat pohon itu yang penuh buah-buahan. Kemudian ia berpikir: ‘Pohon ini penuh dengan buah tetapi tidak ada buah yang jatuh ke tanah. Aku tahu cara memanjat pohon, aku akan memanjat pohon ini, memakan buah sebanyak yang kuinginkan, dan memenuhi tasku.’ Dan ia melakukan hal itu. Kemudian seorang lainnya datang memerlukan buah, mencari buah, mengembara mencari buah, dan dengan membawa kapak tajam ia memasuki hutan dan melihat pohon itu yang penuh buah-buahan. Kemudian ia berpikir: ‘Pohon ini penuh dengan buah tetapi tidak ada buah yang jatuh ke tanah. Aku tidak tahu cara memanjat pohon, aku akan menebang pohon ini di akarnya, memakan buah sebanyak yang kuinginkan, dan memenuhi tasku.’ Dan ia melakukan hal itu. Bagaimana menurutmu, perumah-tangga, jika orang pertama yang telah memanjat pohon itu tidak segera turun ketika pohon itu tumbang, apakah tangan atau kaki atau bagian tubuh lainnya akan patah, [367] sehingga ia dapat mengalami kematian atau penderitaan mematikan?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Demikian pula, perumah-tangga, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria telah diumpamakan sebagai buah-buahan di atas pohon oleh Sang Bhagavā; kenikmatan indria memberikan banyak penderitaan dan banyak keputus-asaan, sementara bahaya di dalamnya sangat besar.’ Setelah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menghindari keseimbangan yang membeda-bedakan, berdasarkan pada keberagaman, dan mengembangkan keseimbangan yang menyatu, berdasarkan pada kesatuan, di mana kemelekatan pada benda-benda materi duniawi lenyap sepenuhnya tanpa sisa.

22. “Berdasarkan pada perhatian tertinggi yang sama itu, yang murni karena keseimbangan, siswa mulia ini mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran … (*seperti Sutta 51, §24) *… Demikianlah dengan aspek-aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampau.

23. “Berdasarkan pada perhatian tertinggi yang sama itu, yang murni karena keseimbangan, dengan mata dewa yang murni dan melampaui manusia, siswa mulia ini melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin … (*seperti Sutta 51, §25) *… Demikianlah ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai perbuatan mereka.

24. “Berdasarkan pada perhatian tertinggi yang sama itu, yang murni karena keseimbangan, dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, siswa mulia ini di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda melalui hancurnya noda-noda.

25. “Pada titik ini, perumah-tangga, terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia telah tercapai sepenuhnya dan dalam segala cara. Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Apakah engkau melihat dalam dirimu ada terpotongnya urusan-urusan seperti terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia yang telah tercapai sepenuhnya dan dalam segala cara?”

“Yang Mulia, siapakah aku yang memiliki terpotongnya urusan-urusan sepenuhnya dan dalam segala cara seperti dalam Disiplin Yang-Mulia? Aku sungguh masih jauh, Yang Mulia, dari terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang-Mulia yang tercapai sepenuhnya dan dalam segala cara itu. Karena, Yang Mulia, walaupun para pengembara dari sekte lain bukan keturunan murni, namun kami membayangkan bahwa mereka adalah keturunan murni;6 walaupun mereka bukan keturunan murni, namun kami memberi mereka makanan keturunan murni; walaupun mereka bukan keturunan murni, namun kami menempatkan mereka pada tempat keturunan murni. Tetapi walaupun para bhikkhu adalah keturunan murni, namun kami membayangkan bahwa mereka adalah bukan keturunan murni; walaupun mereka keturunan murni, namun kami memberi mereka makanan bukan keturunan murni; walaupun mereka keturunan murni, namun kami menempatkan mereka pada tempat bukan keturunan murni. Tetapi sekarang, Yang Mulia, [368] karena para pengembara dari sekte lain adalah bukan keturunan murni, maka kami harus memahami bahwa mereka bukan keturunan murni; karena mereka bukan keturunan murni, maka kami seharusnya memberi mereka makanan bukan keturunan murni; karena mereka bukan keturunan murni, maka kami seharusnya menempatkan mereka pada tempat bukan keturunan murni. Tetapi karena para bhikkhu adalah keturunan murni, maka kami harus memahami bahwa mereka adalah keturunan murni; karena mereka keturunan murni, maka kami seharusnya memberi mereka makanan keturunan murni; karena mereka keturunan murni, maka kami seharusnya menempatkan mereka pada tempat keturunan murni. Yang Mulia, Sang Bhagavā telah menginspirasi diriku akan cinta-kasih kepada para petapa, keyakinan di dalam para petapa, penghormatan kepada para petapa.

26. “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


Catatan Kaki
  1. Masing-masing dari kedua kata ini yang dihubungkan dalam kata sambung majemuk ini, dan dalam kedua berikutnya secara kasar adalah bersinonim.
  2. MA: Walaupun pembunuhan makhluk-makhluk hidup tidak termasuk dalam sepuluh belenggu dan lima rintangan, namun dapat disebut belenggu dalam makna mengikat seseorang pada lingkaran kelahiran kembali dan rintangan dalam makna merintangi kesejahteraan sejati seseorang.
  3. MA: Membunuh dan mengambil apa yang tidak diberikan harus ditinggalkan melalui moralitas jasmani; berbohong dan fitnah, melalui moralitas ucapan; keserakahan suka merampas, keputus-asaan dengan kemarahan, dan kesombongan, melalui moralitas pikiran. Cacian dengki (yang dapat termasuk pembalasan dendam yang ganas) harus ditinggalkan melalui moralitas jasmani dan ucapan.
  4. Perumpamaan bagi bahaya dalam kenikmatan indria ini merujuk pada MN 22.3, walaupun sutta ini tidak menjelaskan ketiga perumpamaan terakhir yang disebutkan di sana.
  5. Menurut MA, “keseimbangan yang berdasarkan pada keberagaman” adalah keseimbangan (yaitu, ketidak-pedulian, tidak membeda-bedakan) yang berhubungan dengan kelima utas kenikmatan indria; “keseimbangan yang berdasarkan pada keterpusatan” adalah keseimbangan jhāna ke empat.
  6. Dalam Ms, Ñm telah mengikuti kemasan MA dalam menerjemahkan ājānīya sebagai “mereka yang mengetahui” (menganggap kata itu sebagai turunan dari ājānāti); akan tetapi, jauh lebih disukai, untuk memahami kata ini di sini sebagai “keturunan murni.” Baca MN 65.32 untuk kata assājāniya, “kuda muda jantan berketurunan murni,” dan untuk kata purisājāniya, “manusia berketurunan murni” (yaitu, seorang Arahant), baca AN 9:10/v,324.