1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Udena sedang menetap di Benares di Hutan Mangga Khemiya.

2. Pada saat itu Brahmana Ghoṭamukha telah tiba di Benares untuk suatu urusan. Sewaktu ia sedang [158] berjalan-jalan untuk berolah-raga, ia sampai di Hutan Mangga Khemiya. Pada saat itu Yang Mulia Udena sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Kemudian Brahmana Ghoṭamukha mendatangi Yang Mulia Udena dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, sambil berjalan mondar-mandir bersama Yang Mulia Udena, ia berkata: “Petapa Mulia, tidak ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku, dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau [karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.”

3. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udena melangkah turun dari jalan setapak dan masuk ke kediamannya, di mana ia duduk di tempat yang telah tersedia.1 Dan Ghoṭamukha juga melangkah turun dari jalan setapak dan masuk ke kediaman, di mana ia berdiri di satu sisi. Kemudian Yang Mulia Udena berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, Brahmana, silahkan duduk jika engkau menginginkan.”

“Kami tidak duduk karena kami sedang menunggu Guru Udena [berbicara]. Karena bagaimana mungkin seseorang seperti diriku berani duduk di tempat duduk tanpa sebelumnya diundang untuk duduk?”

4. Kemudian Brahmana Ghoṭamukha mengambil bangku rendah, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Yang Mulia Udena: “Petapa Mulia, tidak ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku, dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau [karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.”

“Brahmana, jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diterima, maka terimalah; jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diperdebatkan, maka perdebatkanlah, tanyakanlah untuk mengklarifikasinya dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru Udena? Apakah makna dari pernyataan ini?’ Dengan cara ini kita dapat mendiskusikan persoalan ini.”

“Guru Udena, jika aku merasa bahwa apapun pernyataan Guru Udena harus diterima, maka aku akan menerimanya; jika aku merasa bahwa apapun pernyataannya harus diperdebatkan, maka aku akan memperdebatkannya; dan jika aku [159] tidak memahami makna dari pernyataan Guru Udena, maka aku akan menanyakan kepada Guru Udena untuk mengklarifikasinya dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru Udena? Apakah makna dari pernyataan ini?’ Dengan cara ini marilah kita mendiskusikan persoalan ini.”

5-6. “Brahmana, terdapat empat jenis orang di dunia ini. Apakah empat ini?” … (seperti Sutta 51, §§5-6) [160]

“Tetapi, Guru Udena, jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya dan yang tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci – ia tidak menyiksa dan melukai dirinya maupun makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan. Itulah sebabnya jenis orang ini memuaskan pikiranku.”

7. “Brahmana, ada dua jenis kelompok. Apakah dua ini? Di sini kelompok tertentu bernafsu pada perhiasan dan anting-anting dan mencari istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak. Tetapi di sini kelompok tertentu tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah meninggalkan istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak, meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Sekarang ada jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya dan yang tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang kain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Dalam kelompok manakah dari kedua jenis kelompok ini engkau biasanya melihat orang jenis ini, Brahmana – dalam kelompok yang bernafsu pada perhiasan dan anting-anting dan mencari istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak; atau dalam kelompok yang tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah meninggalkan istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak, meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?”

[161] “Aku biasanya melihat orang jenis ini, Guru Udena, dalam kelompok yang tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah meninggalkan istri dan anak-anak … meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”

8. “Tetapi baru saja, Brahmana, kami mendengar engkau mengatakan: ‘Petapa Mulia, tidak ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku, dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau [karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.’”

“Tentu saja, Guru Udena, adalah dengan tujuan untuk belajar maka aku mengatakan kata-kata itu. Ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma; demikianlah sepertinya bagiku, dan sudilah Guru Udena mengingatku [telah berkata] demikian. Baik sekali jika, demi belas kasih, Guru Udena sudi menjelaskan kepadaku secara terperinci mengenai keempat jenis orang yang telah disebutkan secara singkat.”

9. “Maka, Brahmana, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan kukatakan,” – “Baik, Tuan,” Brahmana Ghoṭamukha menjawab. Yang Mulia Udena berkata sebagai berikut:

10-30. “Brahmana, orang-orang jenis apakah yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri? Di sini seseorang tertentu bepergian dengan telanjang … (seperti Sutta 51, §§8-28) [162] … dan berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci.”

31. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Ghoṭamukha berkata kepada Yang Mulia Udena: “Mengagumkan, Guru Udena! Mengagumkan, Guru Udena! Guru Udena telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Udena dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Udena mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

32. “Jangan berlindung padaku, Brahmana. Berlindunglah pada Sang Bhagavā yang kepadaNya juga aku berlindung.”

“Di manakah Beliau menetap sekarang, Guru Gotama itu, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, Guru Udena?”

“Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna itu telah mencapai Nibbāna akhir, Brahmana.”

11. “Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama berada sepuluh liga jauhnya, maka kami akan pergi sejauh sepuluh liga untuk menemui Guru Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama berada dua puluh liga … tiga puluh liga … empat puluh liga … lima puluh liga … seratus liga, [163] maka kami akan pergi sejauh seratus liga untuk menemui Guru Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Tetapi karena Guru Gotama telah mencapai Nibbāna akhir, maka kami berlindung pada Guru Gotama itu, dan kepada Dhamma, dan kepada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Udena mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.

33. “Sekarang, Guru Udena, Raja Anga memberikan persembahan harian kepadaku. Dari persembahan itu izinkan aku memberikan persembahan rutin kepada Guru Udena.”

“Persembahan rutin apakah yang diberikan oleh Raja Anga kepadamu, Brahmana?”

“Lima ratus kahāpaṇa, Guru Udena.”2

“Kami tidak diperbolehkan menerima emas dan perak, Brahmana.”

“Jika tidak diperbolehkan bagi Guru Udena, maka aku akan membangun sebuah vihara untuk Guru Udena.”

“Jika engkau ingin membangun sebuah vihara untukku, Brahmana, bangunlah sebuah aula untuk Sangha di Pāṭaliputta.”3

“Aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih senang dengan usul Guru Udena untuk memberikan persembahan kepada Sangha. Maka dengan persembahan rutin ini dan persembahan rutin lainnya, aku akan membangun sebuah aula untuk Sangha di Pāṭaliputta.”

Kemudian dengan persembahan rutin [yang ia persembahkan kepada Guru Udena] dan persembahan rutin lainnya [yang ditambahkan], Brahmana Ghoṭamukha membangun sebuah aula untuk Sangha di Pāṭaliputta. Dan sekarang dikenal sebagai Ghoṭamukhi.


Catatan Kaki
  1. MA: Ia melakukan hal ini setelah menyadari bahwa suatu diskusi yang panjang akan dilakukan.
  2. Kahāpaṇa adalah unit mata uang pada masa itu.
  3. Pada masa hari-hari terakhir Sang Buddha, kota ini hanyalah sebuah pemukiman kecil yang dikenal sebagai Pāṭaligāma. Pada DN 16.1.28/iii.87, Sang Buddha meramalkan perkembangannya di masa depan. Kota ini akhirnya menjadi ibukota Magadha. Pada masa sekarang ini dikenal sebagai kota Patna, ibukota Negara bagian Bihar.