1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: ‘Aku memahami: Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

3. “Kata-kata bhikkhu itu tidak perlu disetujui atau tidak disetujui. Dengan tanpa menyetujui atau tidak menyetujui, sebuah pertanyaan harus diajukan: ‘Teman, ada empat jenis pengungkapan yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Apakah empat ini? Seseorang mengatakan yang dilihat seperti apa yang dilihat; ia mengatakan yang didengar seperti apa yang didengar; ia mengatakan yang dicerap seperti apa yang dicerap; ia mengatakan yang dikenal seperti apa yang dikenal.1 [30] Ini, Teman, adalah empat jenis pengungkapan yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Bagaimanakah Yang Mulia mengetahui, bagaimanakah ia melihat, sehubungan dengan keempat jenis pengungkapan ini, sehingga melalui ketidak-melekatan pikirannya terbebaskan dari noda-noda?’

4. “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang adalah seorang dengan noda-noda dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, yang telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir, berikut ini adalah cara sewajarnya baginya untuk menjawab.

“‘Teman-teman, sehubungan dengan yang dilihat aku berdiam tanpa tertarik, tanpa menolak, tanpa bergantung, terlepas, bebas, terputus, dengan pikiran bebas dari penghalang.2 Sehubungan dengan yang didengar … sehubungan dengan yang dicerap … sehubungan dengan yang dikenal aku berdiam tanpa tertarik, tanpa menolak, tanpa bergantung, terlepas, bebas, terputus, dengan pikiran bebas dari penghalang. Adalah dengan mengetahui demikian, dengan melihat demikian, sehubungan dengan keempat jenis pengungkapan ini, maka melalui ketidak-melekatan pikiranku terbebaskan dari noda-noda.’

5. “Dengan mengatakan ‘bagus,’ seseorang merasa senang dan gembira mendengar kata-kata bhikkhu itu. Selanjutnya, pertanyaan berikutnya dapat diajukan sebagai berikut:

“‘Teman, ada kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini, yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Apakah lima ini? Yaitu kelompok unsur bentuk materi yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur persepsi yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur bentukan-bentukan yang terpengaruh oleh kemelekatan, dan kelompok unsur kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan. Ini, Teman, adalah kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh kemelekatan ini, yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Bagaimanakah Yang Mulia mengetahui, bagaimanakah ia melihat, sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini, sehingga melalui ketidak-melekatan pikirannya terbebaskan dari noda-noda?’

6. “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang adalah seorang dengan noda-noda dihancurkan … dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir, berikut ini adalah cara sewajarnya baginya untuk menjawab.

“‘Teman-teman, setelah mengetahui bentuk materi adalah rapuh, memudar, dan tidak menyenangkan, [31] dengan hancurnya, memudarnya, lenyapnya, berhentinya, dan lepasnya ketertarikan dan kemelekatan sehubungan dengan bentuk materi, perspektif batin, ketaatan, dan kecenderungan tersembunyi sehubungan dengan bentuk materi,3 maka aku telah memahami bahwa pikiranku terbebaskan.

“‘Teman-teman, setelah mengetahui perasaan … setelah mengetahui persepsi … setelah mengetahui bentukan-bentukan … setelah mengetahui kesadaran adalah rapuh, memudar, dan tidak menyenangkan, dengan hancurnya, memudarnya, lenyapnya, berhentinya, dan lepasnya ketertarikan dan kemelekatan sehubungan dengan kesadaran, perspektif batin, ketaatan, dan kecenderungan tersembunyi sehubungan dengan kesadaran, maka aku telah memahami bahwa pikiranku terbebaskan.

“‘Adalah dengan mengetahui demikian, melihat demikian, sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini, maka melalui ketidak-melekatan pikiranku terbebaskan dari noda-noda.’

7. “Dengan mengatakan ‘bagus,’ seseorang merasa senang dan gembira mendengar kata-kata bhikkhu itu. Selanjutnya, pertanyaan berikutnya dapat diajukan sebagai berikut:

“‘Teman, ada enam unsur ini yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Apakah enam ini? Yaitu unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran. Ini, Teman, adalah enam unsur yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Bagaimanakah Yang Mulia mengetahui, bagaimanakah ia melihat, sehubungan dengan keenam unsur ini, sehingga melalui ketidak-melekatan pikirannya terbebaskan dari noda-noda?’

8. “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang adalah seorang dengan noda-noda dihancurkan … dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir, berikut ini adalah cara sewajarnya baginya untuk menjawab.

“‘Teman-teman, aku telah memperlakukan unsur tanah sebagai bukan-diri, dengan tanpa diri yang berdasarkan pada unsur tanah. Dan dengan hancurnya, memudarnya, lenyapnya, berhentinya, dan lepasnya ketertarikan dan kemelekatan sehubungan dengan unsur tanah, perspektif batin, keterikatan, dan kecenderungan tersembunyi sehubungan dengan unsur tanah, maka aku telah memahami bahwa pikiranku terbebaskan.

“‘Teman-teman, aku telah memperlakukan unsur air … unsur api … unsur udara … unsur ruang … unsur kesadaran sebagai bukan-diri, dengan tanpa diri yang berdasarkan pada unsur kesadaran.4 Dan dengan hancurnya, memudarnya, lenyapnya, berhentinya, dan lepasnya ketertarikan dan kemelekatan sehubungan dengan unsur kesadaran, perspektif batin, keterikatan, dan kecenderungan tersembunyi sehubungan dengan unsur kesadaran, maka aku telah memahami bahwa pikiranku terbebaskan.

“‘Adalah dengan mengetahui demikian, melihat demikian, sehubungan dengan keenam unsur ini, maka melalui ketidak-melekatan batinku terbebaskan dari noda-noda.’

9. “Dengan mengatakan ‘bagus,’ [32] seseorang merasa senang dan gembira mendengar kata-kata bhikkhu itu. Selanjutnya, pertanyaan berikutnya dapat diajukan sebagai berikut:

“‘Tetapi, Teman, ada enam landasan internal dan eksternal ini yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Apakah enam ini? Yaitu mata dan bentuk-bentuk, telinga dan suara-suara, hidung dan bau-bauan, lidah dan rasa kecapan, badan dan objek-objek sentuhan, pikiran dan objek-objek pikiran. Ini, Teman, adalah enam landasan internal dan eksternal ini yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Bagaimanakah Yang Mulia mengetahui, bagaimanakah ia melihat, sehubungan dengan keenam landasan internal dan eksternal ini, sehingga melalui ketidak-melekatan pikirannya terbebaskan dari noda-noda?’

10. “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang adalah seorang dengan noda-noda dihancurkan … dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir, berikut ini adalah cara sewajarnya baginya untuk menjawab.

“‘Teman-teman, dengan hancurnya, memudarnya, lenyapnya, berhentinya, dan lepasnya ketertarikan dan kemelekatan, dan perspektif batin, keterikatan, dan kecenderungan tersembunyi sehubungan dengan mata, bentuk-bentuk, kesadaran-mata, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-mata, aku telah memahami bahwa pikiranku terbebaskan.5

“‘Dengan hancurnya, memudarnya, lenyapnya, berhentinya, dan lepasnya ketertarikan dan kemelekatan, dan perspektif batin, keterikatan, dan kecenderungan tersembunyi sehubungan dengan telinga, suara-suara, kesadaran-telinga, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-telinga … sehubungan dengan hidung, bau-bauan, kesadaran-hidung, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-hidung … sehubungan dengan lidah, rasa kecapan, kesadaran-lidah, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-lidah … sehubungan dengan badan, objek-objek sentuhan, kesadaran-badan, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-badan … sehubungan dengan pikiran, objek-objek pikiran, kesadaran-pikiran, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-pikiran, aku telah memahami bahwa pikiranku terbebaskan.

“‘Adalah dengan mengetahui demikian, melihat demikian, sehubungan dengan keenam landasan internal dan eksternal ini, maka melalui ketidak-melekatan pikiranku terbebaskan dari noda-noda.’

11. “Dengan mengatakan ‘bagus,’ seseorang merasa senang dan gembira mendengar kata-kata bhikkhu itu. Selanjutnya, pertanyaan berikutnya dapat diajukan sebagai berikut:

“‘Tetapi, Teman, bagaimanakah Yang Mulia mengetahui, bagaimanakah ia melihat, agar sehubungan dengan jasmani ini dengan kesadaran dan segala gambaran eksternal, maka pembentukan-aku, pembentukan-milikku, dan kecenderungan tersembunyi pada keangkuhan dilenyapkan dalam dirinya?’6 [33]

12. “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang adalah seorang dengan noda-noda dihancurkan … dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir, berikut ini adalah cara sewajarnya baginya untuk menjawab.

“‘Teman-teman, sebelumnya ketika aku masih menjalani kehidupan rumah tangga aku bodoh. Kemudian Sang Tathāgata atau siswaNya mengajarkan Dhamma kepadaku. Setelah mendengarkan Dhamma aku memperoleh keyakinan pada Sang Tathāgata. Dengan memiliki keyakinan itu, aku mempertimbangkan sebagai berikut: “Kehidupan rumah tangga ramai dan berdebu; kehidupan lepas dari keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi hidup dalam sebuah keluarga, juga menjalani kehidupan suci yang murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.” Kemudian pada kesempatan lain, dengan meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang banyak atau sedikit, aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

13-17. “‘Setelah meninggalkan keduniawian demikian dan memiliki latihan dan gaya hidup kebhikkhuan, … (seperti Sutta 51, §§14-19) [34, 35] … aku memurnikan pikiranku dari keragu-raguan. [36]

18. “‘Setelah meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-murnian pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Dengan meluruhnya sukacita … aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga … Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan … aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.

19. “‘Ketika pikiranku yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda.7 Aku mengetahui secara langsung sebagaimana adanya: “Ini adalah penderitaan” … “Ini adalah asal-mula penderitaan” … “Ini adalah lenyapnya penderitaan” … “Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.” Aku mengetahui secara langsung sebagaimana adanya “Ini adalah noda-noda” … “Ini adalah asal-mula noda-noda” … “Ini adalah lenyapnya noda-noda” … “Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.”

20. “‘Ketika aku mengetahui dan melihat demikian, pikiranku terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: “Terbebaskan.” Aku secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.”

“‘Adalah dengan mengetahui demikian, melihat demikian, sehubungan dengan jasmani ini dengan kesadaran dan segala gambaran eksternal, maka pembentukan-aku, pembentukan-milikku, dan kecenderungan tersembunyi pada keangkuhan dilenyapkan dalam diriku.’

21. “Dengan mengatakan ‘bagus,’ seseorang merasa senang dan gembira mendengar kata-kata bhikkhu itu. Selanjutnya, ia harus mengatakan kepadanya: ‘Suatu keuntungan bagi kami, Teman, [37] suatu keuntungan besar bagi kami, Teman, bahwa kami bertemu seorang teman dalam kehidupan suci seperti Yang Mulia.’”8

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Baca n.17.
  2. Seperti pada MN 111.4, tetapi di sini kata-kata ini dimaksudkan untuk mengungkapkan lenyapnya kekotoran sepenuhnya melalui jalan Kearahattaan.
  3. MA: Semua kata-kata ini menyiratkan ketagihan dan pandangan-pandangan.
  4. MA: frasa pertama menegaskan pertimbangan unsur tanah sebagai diri, yang ke dua menegaskan pertimbangan faktor-faktor jasmani dan batin selain unsur tanah sebagai diri. Metode yang sama berlaku untuk unsur-unsur lainnya.
  5. Teks tampaknya berlebihan dalam menyebutkan bentuk-bentuk (rūpa) dan hal-hal yang dikenali (oleh pikiran) melalui kesadaran-mata (*cakkhuviññāṇa-viññātabbā dhammā*). MA menyebutkan dua pendapat yang diusulkan untuk memecahkan persoalan ini: yang pertama menganggap bahwa “bentuk-bentuk” merujuk pada benda-benda terlihat yang memasuki jangkauan pengenalan, “hal-hal yang dikenali …” merujuk pada benda-benda terlihat yang lenyap tanpa dikenali. Pendapat ke dua menganggap bahwa kata pertama menyiratkan semua bentuk tanpa perbedaan, kata berikutnya menyiratkan ketiga kelompok unsur batin yang berfungsi bersama-sama dengan kesadaran-mata.
  6. MA menjelaskan “pembentukan-aku” (ahankāra) sebagai keangkuhan dan “pembentukan-milikku” (mamankāra) sebagai ketagihan. “Semua gambaran eksternal” (nimitta) adalah objek-objek eksternal.
  7. MA: Mengingat kehidupan lampau dan pengetahuan kematian dan kemunculan kembali makhluk-makhluk (yang biasanya ada dalam jenis pembabaran seperti ini) di sini tidak termasuk karena pertanyaan pada §11 hanya berhubungan dengan pencapaian Kearahattaan, bukan pencapaian lokiya.
  8. MA mengatakan bahwa sutta ini juga disebut Ekavissajjita Sutta (Khotbah Jawaban Tunggal). MA kesulitan menjelaskan mengenai “enam” yang disebutkan dalam judul aslinya, karena hanya lima pertanyaan dan jawaban yang terdapat dalam khotbah ini. MA mengusulkan untuk membagi pertanyaan terakhir menjadi dua – jasmani diri sendiri dengan kesadarannya dan tubuh kesadaran orang lain – dan juga menyebutkan pendapat lain bahwa empat makanan seharusnya ditanyakan sebagai pertanyaan ke enam. Akan tetapi, tidak satupun dari usul-usul ini yang meyakinkan, dan tampaknya bahwa bagian teks itu telah hilang.