1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di hutan di sebelah barat kota.

2. Pada saat itu Sunakkhatta, putra Licchavi, baru saja meninggalkan Dhamma dan Disiplin ini.1 Ia mengemukakan pernyataan di hadapan sekumpulan penduduk Vesālī: “Petapa Gotama tidak memiliki kondisi yang melampaui manusia, tidak memiliki keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia.2 Petapa Gotama mengajarkan Dhamma [hanya sekadar] menggunakan logika, mengikuti jalur pencarianNya sendiri saat muncul dalam diriNya, dan ketika Beliau mengajarkan Dhamma kepada orang lain, Dhamma itu menuntunnya, jika ia mempraktikkannya, menuju kehancuran total penderitaan.”3

3. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Sāriputta merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Kemudian ia mendengar Sunakkhatta, putra Licchavi, mengemukakan pernyataan di hadapan sekumpulan penduduk Vesālī. Ketika ia telah menerima dana makanan dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan, ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud, ia duduk di satu sisi dan memberitahu Sang Bhagavā tentang apa yang dikatakan oleh Sunakkhatta.

4. [Sang Bhagavā berkata:] “Sāriputta, orang sesat Sunakkhatta sedang marah dan kata-katanya diucapkan karena marah. Dengan berniat untuk mendiskreditkan Sang Tathāgata, sebaliknya ia malah memuji Beliau; [69] karena adalah pujian terhadap Sang Tathāgata dengan mengatakan tentang Beliau: ‘Ketika Beliau mengajarkan Dhamma kepada orang lain, Dhamma itu menuntunnya, jika ia mempraktikkannya, menuju kehancuran total penderitaan.’

5. “Sāriputta, orang sesat Sunakkhatta tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan Dhamma: ‘Bahwa Sang Bhagavā adalah sempurna, tercerahkan sepenuhnya, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal segenap alam, pemimpin yang tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’4

6. “Dan ia tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan Dhamma: ‘Bahwa Sang Bhagavā menikmati berbagai jenis kekuatan batin: dari satu Beliau menjadi banyak; dari banyak Beliau menjadi satu, Beliau muncul dan lenyap; Beliau bepergian tanpa terhalangi oleh dinding, menembus tembok, menembus gunung seolah-olah menembus ruang kosong; Beliau menyelam masuk dan keluar dari tanah seolah-olah di dalam air; Beliau berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; duduk bersila, Beliau bepergian di angkasa seperti burung; dengan tanganNya Beliau menyentuh dan menepuk bulan dan matahari begitu kuat dan perkasa; Beliau mengerahkan kekuatan jasmani, hingga sejauh alam-Brahma.’

7. “Dan ia tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan Dhamma: ‘Dengan unsur telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, Sang Bhagavā mendengar kedua jenis suara, suara surgawi dan suara manusia, yang jauh maupun dekat.’

8. “Dan ia tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan Dhamma: ‘Bahwa Sang Bhagavā melingkupi pikiran makhluk-makhluk lain, orang-orang lain dengan pikiranNya. Beliau memahami pikiran yang terpengaruh nafsu sebagai terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu sebagai tidak terpengaruh nafsu; Beliau memahami pikiran yang terpengaruh kebencian sebagai terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian sebagai tidak terpengaruh kebencian; Beliau memahami pikiran yang terpengaruh delusi sebagai terpengaruh delusi dan pikiran yang tidak terpengaruh delusi sebagai tidak terpengaruh delusi; Beliau memahami pikiran yang mengerut sebagai mengerut dan pikiran yang kacau sebagai kacau; Beliau memahami pikiran luhur sebagai luhur dan pikiran tidak luhur sebagai tidak luhur; Beliau memahami pikiran yang terbatas sebagai terbatas dan pikiran tidak terbatas sebagai tidak terbatas; Beliau memahami pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi dan pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi; Beliau memahami pikiran yang terbebaskan sebagai terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan sebagai tidak terbebaskan.’

9. “Sāriputta, Sang Tathāgata memiliki sepuluh kekuatan ini, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.5 Apakah sepuluh ini?

10. (1) “Di sini, Sang Tathāgata memahami sebagaimana adanya yang mungkin sebagai mungkin dan yang tidak mungkin sebagai tidak mungkin.6 Dan itu [70] adalah kekuatan seorang Tathāgata yang dimiliki oleh Sang Tathāgata, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.

11. (2) “Kemudian, Sang Tathāgata memahami sebagaimana adanya akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan, di masa lalu, di masa depan, dan di masa sekarang, dengan kemungkinan-kemungkinan dan penyebab-penyebabnya. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …7

12. (3) “Kemudian, Sang Tathāgata memahami sebagaimana adanya Jalan yang mengarah menuju semua alam tujuan kelahiran kembali. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …8

13. (4) “Kemudian, Sang Tathāgata memahami sebagaimana adanya dunia dengan banyak unsur yang berbeda-beda. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …9

14. (5) “Kemudian, Sang Tathāgata memahami sebagaimana adanya bagaimana makhluk-makhluk memiliki kecenderungan yang berbeda-beda. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …10

15. (6) “Kemudian, Sang Tathāgata memahami sebagaimana adanya kecondongan dari indria-indria makhluk-makhluk lain, orang-orang lain. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …11

16. (7) “Kemudian, Sang Tathāgata memahami sebagaimana adanya kekotoran, pemurnian, dan kemunculan sehubungan dengan jhāna, kebebasan, konsentrasi, dan pencapaian. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …12

17. (8) “Kemudian, Sang Tathāgata mengingat banyak kehidupan lampaunya, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran … (seperti Sutta 4, §27) … Demikianlah beserta aspek dan ciri-cirinya Beliau mengingat banyak kehidupan lampau. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …

18. (9) “Kemudian, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Sang Tathāgata melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin … (seperti Sutta 4, §29) … [71] … dan Beliau memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …

19. (10) “Kemudian, dengan menembusnya bagi diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung, Sang Tathāgata di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata yang dimiliki oleh Sang Tathāgata, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.

20. “Sang Tathāgata memiliki sepuluh kekuatan ini, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.

21. “Sāriputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun juga mengatakan tentangKu: ‘Petapa Gotama tidak memiliki kondisi yang melampaui manusia, tidak memiliki keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma [hanya sekadar] menggunakan logika, mengikuti jalur pencarianNya sendiri saat muncul dalam diriNya’ – jika ia tidak meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu dan melepaskan pandangan itu, maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di sana, ia pasti akan berakhir di neraka.13 Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan akan menikmati pengetahuan akhir di sini dan saat ini, demikian pula akan terjadi dalam kasus ini, Aku katakan, bahwa jika ia tidak meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu dan melepaskan pandangan itu, maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di sana, ia pasti akan berakhir di neraka.

22. “Sāriputta, Sang Tathāgata memiliki empat jenis keberanian ini, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā. Apakah empat ini?

23. “Di sini, Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau Brahmā atau siapapun juga di dunia ini mampu, sesuai dengan Dhamma, menuduhKu sebagai berikut: ‘Walaupun Engkau mengaku telah mencapai Pencerahan Sempurna, namun Engkau tidak tercerahkan sempurna sehubungan dengan hal-hal tertentu.’ [72] Dan melihat tidak ada dasar untuk itu, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani.

24. “Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa … atau siapapun juga dapat menuduhKu sebagai berikut: ‘Walaupun Engkau mengaku telah menghancurkan noda-noda, namun noda-noda ini belum Engkau hancurkan.’ Dan melihat tidak ada dasar untuk itu, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani.

25. “Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa … atau siapapun juga dapat menuduhKu sebagai berikut: ‘Hal-hal yang Engkau sebut sebagai rintangan tidak mampu menghalangi seseorang yang menikmatinya.’ Dan melihat tidak ada dasar untuk itu, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani.

26. “Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa … atau siapapun juga dapat menuduhKu sebagai berikut: ‘Ketika Engkau mengajarkan Dhamma kepada seseorang, Dhamma itu tidak menuntunnya pada kehancuran total penderitaan ketika ia mempraktikkannya.’ Dan melihat tidak ada dasar untuk itu, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani.

27. “Seorang Tathāgata memiliki empat jenis keberanian ini, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.

28. “Sāriputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun juga mengatakan tentangKu … ia pasti akan berakhir di neraka.

29. “Sāriputta, terdapat delapan kelompok ini. Apakah delapan ini? Kelompok para mulia, kelompok para brahmana, kelompok para perumah-tangga, kelompok para petapa, kelompok para dewa di alam surga Empat Raja Dewa, kelompok para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga, kelompok para pengikut Māra, kelompok para Brahmā. Dengan memiliki empat jenis keberanian ini, Sang Tathāgata mendekati dan memasuki delapan kelompok ini.

30. “Aku ingat pernah mendekati ratusan kelompok para mulia … ratusan kelompok para brahmana … ratusan kelompok para perumah-tangga … ratusan kelompok para petapa … ratusan kelompok para dewa di alam surga Empat Raja Dewa … ratusan kelompok para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga … ratusan kelompok para pengikut Māra … ratusan kelompok para Brahmā. Dan Aku pernah duduk bersama mereka di sana dan berbicara dengan mereka dan berbincang-bincang dengan mereka, namun Aku melihat tidak ada dasar untuk berpikir bahwa ketakutan atau rasa segan akan menghampiriKu. Dan melihat tidak adanya dasar untuk itu, Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani. [73]

31. “Sariputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun juga mengatakan tentangKu … ia pasti akan berakhir di neraka.

32. “Sāriputta, terdapat empat jenis kelahiran ini. Apakah empat ini? Kelahiran melalui telur, kelahiran melalui rahim, kelahiran melalui kelembaban, dan kelahiran secara spontan.

33. “Apakah kelahiran melalui telur? Terdapat makhluk-makhluk ini yang terlahir dengan memecahkan cangkang sebutir telur: ini disebut kelahiran melalui telur. Apakah kelahiran melalui rahim? Terdapat makhluk-makhluk ini yang terlahir dengan memecahkan selaput pembungkus janin: ini disebut kelahiran melalui rahim. Apakah kelahiran melalui kelembaban? Terdapat makhluk-makhluk ini yang terlahir di dalam ikan busuk, di dalam mayat busuk, di dalam bubur busuk, di dalam lubang kakus, atau di dalam saluran air: ini disebut kelahiran melalui kelembaban. Apakah kelahiran secara spontan? Terdapat para dewa dan para penghuni neraka dan manusia-manusia tertentu dan beberapa makhluk di alam rendah: ini disebut kelahiran secara spontan. Ini adalah empat jenis keturunan.

34. “Sariputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun juga mengatakan tentangKu … ia pasti akan berakhir di neraka.

35. “Sāriputta, terdapat lima alam tujuan kelahiran ini. Apakah lima ini? Neraka, alam binatang, alam hantu, alam manusia, dan para dewa.14

36. (1) “Aku memahami neraka, dan jalan dan cara yang mengarah menuju neraka. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam kesengsaraan, dalam neraka.

(2) “Aku memahami alam binatang, dan jalan dan cara yang mengarah menuju alam binatang. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam binatang.

(3) “Aku memahami alam hantu, dan jalan dan cara yang mengarah menuju alam hantu. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam hantu.

(4) “Aku memahami alam manusia, dan jalan dan cara yang mengarah menuju alam manusia. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di antara manusia.

(5) “Aku memahami alam dewa, dan jalan dan cara yang mengarah menuju alam dewa. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, di alam surga.

(6) “Aku memahami Nibbāna, dan jalan dan cara yang mengarah menuju NIbbāna. [74] Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda

37. (1) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam tujuan yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, di neraka.’ Dan kemudian setelah itu, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat bahwa setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam tujuan yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, di neraka, dan mengalami perasaan yang luar biasa menyakitkan, menyiksa, menusuk. Misalkan terdapat sebuah lubang membara yang lebih dalam daripada tinggi manusia yang penuh dengan bara tanpa api atau asap; dan kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju lubang membara tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga ia akan sampai ke lubang membara ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu terjatuh ke dalam lubang membara itu dan mengalami perasaan yang luar biasa menyakitkan, menyiksa, menusuk. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan yang luar biasa menusuk.

38. (2) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali di alam binatang.’ Dan kemudian setelah itu, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat bahwa setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam binatang, dan mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Misalkan terdapat sebuah lubang kakus yang lebih dalam daripada tinggi manusia yang penuh dengan kotoran; dan kemudian seseorang [75] yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju lubang kakus tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke lubang kakus ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu terjatuh ke dalam lubang kakus itu dan mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan menusuk.

39. (3) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali di alam hantu.’ Dan kemudian setelah itu … Aku melihat bahwa … ia muncul kembali di alam hantu, dan mengalami perasaan yang sangat menyakitkan. Misalkan terdapat sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah yang tidak datar dengan sedikit dedauan yang menghasilkan bayangan yang tidak penuh; dan kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju pohon tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke pohon ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu duduk atau berbaring dalam bayangan pohon itu dan mengalami perasaan yang sangat menyakitkan. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan yang sangat menyakitkan.

40. (4) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali di antara manusia.’ Dan kemudian setelah itu … Aku melihat bahwa … ia muncul kembali di antara manusia, dan mengalami perasaan yang sangat menyenangkan. Misalkan terdapat sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah datar dengan dedauan yang lebat menghasilkan bayangan yang penuh; dan kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju pohon tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke pohon ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu duduk atau berbaring dalam bayangan pohon itu dan mengalami perasaan yang sangat menyenangkan. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan yang sangat menyenangkan. [76]

41. (5) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali di alam tujuan yang bahagia, di alam surga.’ Dan kemudian setelah itu … Aku melihat bahwa … ia muncul kembali di alam tujuan yang bahagia, di alam surga, dan mengalami perasaan yang luar biasa menyenangkan. Misalkan terdapat sebuah istana, dan istana itu memiliki kamar atas yang di-plester bagian luar dan dalamnya, terkunci, diperkokoh dengan teralis, dengan jendela tertutup, dan di dalamnya terdapat sebuah dipan berlapiskan permadani, selimut dan alas dipan, dengan penutup dipan dari kulit rusa, lengkap dengan kanopi serta bantal merah di kedua ujungnya [kepala dan kaki]; dan kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju istana tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke istana ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu duduk atau berbaring di dalam kamar atas di dalam istana itu mengalami perasaan yang luar biasa menyenangkan. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan yang luar biasa menyenangkan.

42. (6) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, ia di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda.’ Dan kemudian setelah itu Aku melihat bahwa dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, ia di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, dan mengalami perasaan yang luar biasa menyenangkan.15 Misalkan terdapat sebuah kolam, dengan air yang jernih, sejuk menyenangkan, bening, dengan tepian yang landai, indah, dan dekat dengan hutan; dan kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju kolam tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke kolam ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu telah masuk ke dalam kolam, mandi, minum, dan melepaskan segala kepenatan, kelelahan, dan telah keluar lagi dan sedang duduk atau berbaring di dalam hutan [77] mengalami perasaan yang sangat menyenangkan. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan yang luar biasa menyenangkan. Ini adalah lima alam tujuan kelahiran.

43. “Sāriputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun juga mengatakan tentangKu: ‘Petapa Gotama tidak memiliki kondisi yang melampaui manusia, tidak memiliki keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma [hanya sekadar] menggunakan logika, mengikuti jalur pencarianNya sendiri saat muncul dalam diriNya’ – jika ia tidak meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu dan melepaskan pandangan itu, maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di sana, ia pasti akan berakhir di neraka. Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan akan menikmati pengetahuan akhir di sini dan saat ini, demikian pula akan terjadi dalam kasus ini, Aku katakan, bahwa jika ia tidak meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu dan melepaskan pandangan itu, maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di sana, ia pasti akan berakhir di neraka.

44. “Sāriputta, Aku ingat telah menjalani kehidupan suci yang memiliki empat faktor. Aku telah mempraktikkan pertapaan – pertapaan sangat keras; Aku telah mempraktikkan kekasaran – sangat kasar; Aku telah mempraktikkan kehati-hatian – sangat hati-hati; Aku telah mempraktikkan keterasingan – sangat terasing.16

45. “Beginilah pertapaanKu, Sāriputta, bahwa Aku bepergian dengan telanjang, menolak kebiasaan-kebiasaan, menjilat tanganKu, tidak datang ketika dipanggil, tidak berhenti ketika diminta; Aku tidak menerima makanan yang dibawa atau makanan yang secara khusus dipersiapkan atau suatu undangan makan; Aku tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, melintasi tongkat kayu, melintasi alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang berada di tengah-tengah para laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; Aku tidak menerima ikan atau daging, Aku tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi. Aku mendatangi satu rumah, satu suap; aku mendatangi dua [78] rumah, dua suap; … Aku mendatangi tujuh rumah, tujuh suap. Aku makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari; Aku makan sekali dalam sehari, sekali dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari, demikianlah bahkan hingga sekali setiap dua minggu; aku berdiam menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan. Aku adalah pemakan sayur-sayuran atau jawawut atau beras liar atau kupasan kulit atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi. Aku hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan; Aku memakan buah-buahan yang jatuh. Aku mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami bercampur kain, dari kain pembungkus mayat, dari selimut yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu. Aku adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut. Aku adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk. Aku adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok. Aku adalah seorang yang menggunakan alas tidur paku; Aku menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurKu. Aku berdiam dengan menjalani praktik mandi tiga kali sehari termasuk malam hari. Demikianlah dalam berbagai cara Aku berdiam dengan menjalani praktik menyiksa dan menghukum diri. Demikianlah pertapaanKu.

46. “Beginilah kekasaranKu, Sāriputta, bagaikan batang pohon Tindukā, yang menumpuk sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun, menempel dan mengelupas, demikian pula, debu dan daki, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel di tubuhKu dan mengelupas. Tidak pernah terpikir olehKu: ‘Oh, Aku akan menggosok debu dan daki ini dengan tanganKu, atau membiarkan orang lain menggosok debu dan daki ini dengan tangannya’ – tidak pernah terpikirkan olehKu demikian. Demikianlah kekasaranKu.

47. “Beginilah kehati-hatianKu, Sāriputta, bahwa Aku senantiasa penuh perhatian dalam melangkah maju dan melangkah mundur. Aku selalu berbelas kasih bahkan sehubungan dengan setetes air sebagai berikut: ‘Semoga Aku tidak menyakiti makhluk-makhluk kecil dalam celah tanah ini.’17 Demikianlah kehati-hatianKu.

48. “Beginilah keterasinganKu, Sāriputta, bahwa [79] Aku akan memasuki hutan dan berdiam di sana. Dan ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba atau seseorang yang sedang mengumpulkan rumput atau kayu, atau seorang pekerja hutan, Aku akan pergi dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit. Mengapakah? Agar mereka tidak melihatKu atau agar Aku tidak melihat mereka. Bagaikan seekor rusa yang lahir di dalam hutan, ketika melihat manusia, akan lari dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, demikian pula, ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba … Demikianlah keterasinganKu.

49. “Aku akan bepergian dengan keempat tangan dan kakiKu menuju kandang sapi ketika sapi-sapi telah pergi dan si penggembala meninggalkannya, dan Aku akan memakan kotoran sapi-sapi muda. Selama kotoran dan air kencingKu masih ada, Aku akan memakan kotoran dan air kencingKu sendiri. Demikianlah praktik kerasKu dalam hal memakan kotoran.

50. “Aku akan pergi ke hutan-hutan yang menakutkan dan berdiam di sana – hutan yang begitu menakutkan sehingga umumnya akan membuat seseorang merinding jika ia tidak terbebas dari nafsu. Pada malam-malam musim dingin selama ‘delapan hari musim salju,’ Aku akan berdiam di ruang terbuka pada malam hari dan di dalam hutan pada siang hari.18 Dalam bulan terakhir musim panas Aku akan berdiam di ruang terbuka pada siang hari dan di dalam hutan pada malam hari. Dan di sana secara spontan muncul padaKu syair ini yang belum pernah terdengar sebelumnya:

‘Kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari,Sendirian di dalam hutan yang menakutkan,Telanjang, tidak ada api untuk duduk di dekatnya,Namun Sang Petapa tetap melanjutkan pencariannya.’

51. “Aku membuat tempat tidur di tanah pekuburan dengan tulang-belulang orang mati sebagai bantal. Dan anak-anak penggembala datang dan meludahiKu, mengencingiKu, melemparkan tanah kepadaKu, dan menusukkan kayu ke dalam telingaKu. Namun Aku tidak ingat bahwa Aku pernah membangkitkan pikiran jahat [kebencian] terhadap mereka. Demikianlah kediamanKu dalam keseimbangan. [80]

52. “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’19 Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan buah kola,’ dan mereka memakan buah kola, mereka memakan tepung kola, mereka meminum air buah kola, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan buah kola. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu buah kola sehari. Sāriputta, engkau mungkin berpikir bahwa buah kola pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; buah kola pada masa itu berukuran sama seperti sekarang. Karena memakan satu buah kola sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhKu menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu. Karena makan begitu sedikit punggungKu menjadi seperti kuku unta. Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungKu menonjol bagaikan untaian tasbih. Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap. Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam. Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari. Karena makan begitu sedikit kulit perutKu menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu. Karena makan begitu sedikit, jika Aku ingin buang air besar atau buang air kecil, maka Aku terjatuh dengan wajahku di atas kotoran di sana. Karena makan begitu sedikit, jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu, maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.

53-55. “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan kacang,’ … ‘Ayo kita hidup dari memakan wijen,’ … ‘Ayo kita hidup dari memakan nasi,’ dan mereka memakan nasi, mereka memakan tepung beras, [81] mereka meminum air beras, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan beras. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu butir nasi sehari. Sāriputta, engkau mungkin berpikir bahwa butiran nasi pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; butiran nasi pada masa itu berukuran sama seperti sekarang. Karena memakan satu butir nasi sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit … maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.

56. “Akan tetapi, Sāriputta, dengan melakukan demikian, dengan praktik demikian, dengan melakukan pertapaan keras demikian, Aku tidak mencapai kondisi yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Mengapakah? Karena Aku belum mencapai kebijaksanaan mulia yang ketika tercapai maka menjadi mulia dan membebaskan dan menuntun seseorang yang mempraktikkannya menuju kehancuran total penderitaan.

57. “Sāriputta, Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui lingkaran kelahiran kembali.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan alam dalam lingkaran ini di mana Aku belum pernah [82] melaluinya dalam perjalanan yang panjang ini, kecuali sebagai para dewa di Alam Murni; dan jika Aku terlahir kembali sebagai dewa di Alam Murni, maka Aku tidak akan kembali ke dunia ini.20

58. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui [beberapa jenis] kelahiran tertentu.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan jenis kelahiran kembali yang mana Aku belum pernah terlahirkan kembali dalam perjalanan yang panjang ini, kecuali sebagai para dewa di Alam Murni …

59. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui [beberapa jenis] alam kehidupan tertentu.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan jenis alam di mana Aku belum pernah berdiam di dalamnya … kecuali sebagai para dewa di alam murni …

60. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui pengorbanan.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan jenis pengorbanan yang belum pernah Kupersembahkan dalam perjalanan yang panjang ini, ketika aku menjadi seorang raja mulia atau seorang brahmana yang makmur.

61. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui pemujaan api.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan jenis api yang belum pernah Kusembah dalam perjalanan yang panjang ini, ketika aku menjadi seorang raja mulia atau seorang brahmana yang makmur.

62. “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Selama orang baik ini masih muda, seorang pemuda berambut hitam dengan berkah kemudaannya, dalam tahap utama kehidupannya, maka selama itu ia sempurna dalam kebijaksanaan cerahnya. Tetapi ketika orang baik ini tua, berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, jompo, dan sampai pada tahap akhir, berumur delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, maka kecemerlangan kebijaksanaannya hilang.’ Tetapi jangan beranggapan demikian. Aku sekarang sudah tua, berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, jompo, dan sampai pada tahap akhir: umurku sudah delapan puluh tahun. Misalkan Aku memiliki empat siswa dengan umur kehidupan seratus tahun, sempurna dalam perhatian, daya ingat, ingatan, dan kebijaksanaan cemerlang.21 Bagaikan seorang pemanah terampil, terpelajar, terlatih, dan teruji, mampu dengan mudah menembakkan anak panah menembus bayangan sebatang pohon palem, misalkan mereka sempurna dalam perhatian, memiliki daya ingat yang kuat, [83] dan kebijaksanaan cemerlang. Misalkan mereka terus-menerus menanyakan kepadaKu tentang Empat Landasan Perhatian dan Aku menjawab mereka ketika ditanya dan bahwa mereka mengingat semua jawabanKu dan tidak pernah mengajukan pertanyaan lanjutan atau berhenti bertanya kecuali untuk makan, minum, mengunyah, mengecap, buang air, dan beristirahat untuk menghilangkan kantuk dan keletihan. Namun pembabaran Dhamma oleh Sang Tathāgata, penjelasanNya tentang faktor-faktor Dhamma, dan jawabanNya atas pertanyaan-pertanyaan itu masih belum berakhir, tetapi sementara itu keempat siswaKu yang memiliki umur kehidupan seratus tahun akan meninggal dunia di akhir seratus tahun itu. Sāriputta, bahkan jika engkau harus membawaku pergi ke mana-mana di atas tempat tidur, namun tidak akan ada perubahan dalam kecerahan kebijaksanaan Sang Tathāgata.

63. “Sebenarnya, jika dikatakan tentang seseorang: ‘Suatu makhluk yang tidak tunduk pada delusi telah muncul di dunia ini demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, dan demi kebahagiaan para dewa dan manusia,’ adalah kepadaKu ucapan benar itu seharusnya ditujukan.”

64. Pada saat itu Yang Mulia Nāgasamāla sedang berdiri di belakang Sang Bhagavā mengipasi Beliau.22 Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Sewaktu aku mendengarkan khotbah Dhamma ini, bulu badanku berdiri. Yang Mulia, apakah nama dari khotbah Dhamma ini?”

“Sehubungan dengan hal ini, engkau boleh mengingat khotbah Dhamma ini sebagai: ‘Khotbah yang Menegakkan Bulu Badan.’”23

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Nāgasamāla merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Sunakkhatta Sutta (MN 105) telah dibabarkan kepadanya oleh Sang Buddha, jelas sebelum ia bergabung dalam Sangha; kisah mengenai peralihannya dijelaskan dalam Pāṭika Sutta (DN 24). Ia menjadi tidak puas dan meninggalkan Sangha karena Sang Buddha tidak memperlihatkan kesaktian apapun padanya atau menjelaskan kepadanya tentang awal dari segala sesuatu.
  2. Kondisi-kondisi melampaui manusia (uttari manussadhammā) adalah kondisi-kondisi, moralitas, atau pencapaian yang lebih tinggi daripada manusia biasa yang terdiri dari sepuluh perbuatan baik (baca MN 9.6); termasuk jhāna-jhāna, jenis-jenis pengetahuan langsung, dan jalan dan buah. “Keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia” (alamariyañāṇadassanavisesa), ungkapan yang sering muncul dalam sutta-sutta, menyiratkan semua tingkatan pengetahuan meditatif yang lebih tinggi yang menjadi karakteristik individu mulia. Di sini, menurut MA, ini secara khusus berarti jalan lokuttara, yang disangkal oleh Sunakkhatta pada Sang Buddha.
  3. Inti dari kritikannya adalah bahwa Sang Buddha mengajarkan suatu doktrin yang Beliau capai sendiri dalam pikiranNya bukan seorang yang telah mencapainya melalui kebijaksanaan transenden. Jelas ia percaya bahwa dengan dituntun menuju kehancuran total penderitaan adalah, sebagai suatu tujuan, lebih rendah daripada mencapai kekuatan gaib.
  4. Semua bagian berikutnya disampaikan sebagai bantahan terhadap kritikan Sunakkhatta pada Sang Buddha. §§6-8 mencakup tiga pertama dari enam pengetahuan langsung (abhiññā), tiga terakhir adalah yang terakhir dari sepuluh kekuatan Sang Tathāgata. Sepuluh kekuatan Sang Tathāgata, menurut MA, dipahami sebagai kekuatan pengetahuan (ñāṇabala) yang dicapai oleh semua Buddha sebagai buah akumulasi jasa mereka. Vibhanga (§§809-31/440-51) dari Abhidhamma Piṭaka menguraikan analisanya.
  5. Tentang Sang Buddha mengaumkan auman singaNya, baca SN 22:78/iii.84-86. Roda Brahmā adalah yang tertinggi, terbaik, roda yang terunggul, Roda Dhamma (dhammacakka) dalam dua maknanya: pengetahuan menembus kebenaran dan pengetahuan bagaimana membabarkan ajaran (MA).
  6. Vbh §809 menjelaskan pengetahuan ini dengan mengutip MN 115.12-17. Akan tetapi, MA, menjelaskan secara berbeda sebagai pengetahuan atas hubungan antara sebab dan akibatnya.
  7. Pengetahuan ini dapat ditunjukkan oleh analisis kamma menurut Sang Buddha dalam MN 57, MN 135 dan MN 136. MA menjelaskan kemungkinan (ṭhāna) seperti alam, situasi, waktu, dan usaha – faktor-faktor yang dapat menghalangi atau mendorong akibatnya; penyebabnya (hetu) adalah kamma itu sendiri.
  8. Pengetahuan ini akan dijelaskan dalam §§35-42 di bawah.
  9. Pemahaman Sang Tathāgata atas banyak unsur yang menyusun dunia terdapat dalam MN 115.4-9.
  10. Vbh §813 menjelaskan bahwa Sang Tathāgata memahami makhluk-makhluk berkecenderungan rendah dan berkecenderungan mulia, dan bahwa mereka condong kepada mereka yang memiliki kecenderungan sama.
  11. Vbh §814-27 memberikan analisa terperinci. MA menyebutkan maknanya secara lebih ringkas sebagai pengetahuan Sang Tathāgata terhadap indria keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan makhluk-makhluk yang rendah maupun mulia.
  12. Vbh §828: “kekotoran” (sankilesa) adalah suatu kondisi yang menyebabkan kemunduran, “pemurnian” (vodāna) adalah suatu kondisi yang menyebabkan kemajuan, “timbulnya” (vuṭṭhāna) adalah pemurnian dan kemunculan dari pencapaian. Delapan kebebasan (vimokkhā) diuraikan dalam MN 77.22 dan MN 137.26; sembilan pencapaian (samāpatti) adalah empat jhāna, empat pencapaian tanpa materi, dan lenyapnya persepsi dan perasaan seperti pada MN 25.12-20.
  13. Idiom yathābhataṁ nikkhitto evaṁ niraye agak rumit; terjemahan di sini mengikuti komentar: “Ia akan ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa dan diletakkan di sana oleh penjaga neraka.”
  14. Dalam tradisi Buddhis belakangan, asura, raksasa atau “lawan-para dewa,” ditambahkan sebagai alam terpisah menjadikan enam alam tujuan kehidupan.
  15. MA: walaupun penggambarannya sama dengan kebahagiaan alam surga, namun maknanya berbeda. Sebab kebahagiaan alam surga tidaklah sungguh-sungguh sangat menyenangkan karena demam nafsu, dan sebagainya, masih ada di sana. Tetapi kebahagiaan Nibbāna sungguh sangat menyenangkan dalam segala hal karena lenyapnya segala demam.
  16. Pada titik ini, MA memberitahukan kita, Sang Buddha menceritakan kisah praktik pertapaan masa lampauNya karena Sunakkhatta adalah seorang pemuja pertapaan keras (seperti yang ditunjukkan dalam Paṭika Sutta) dan Sang Buddha ingin memberitahukan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyamaiNya dalam hal praktik pertapaan keras. Paragraf-paragraf berikutnya harus digabungkan dengan MN 4.20 dan MN 36.20-30 untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang percobaan Sang Bodhisatta dalam penyiksaan diri ekstrim.
  17. Gagasan ini sepertinya bahwa belas kasihnya terarah, bukan pada kuman dalam setetes air (seperti yang disiratkan dalam terjemahan edisi pertama), melainkan pada makhluk-makhluk yang mungkin terluka atau terbunuh karena tidak berhati-hati dalam membuang air.
  18. MA mengatakan bahwa “Delapan hari musim salju” (antaraṭṭhaka himapātasamaya) terjadi pada empat hari terakhir bulan Magha dan empat hari pertama bulan Phagguna (yaitu, akhir Februari). Akan tetapi, musim dingin di Asia Selatan biasanya jatuh pada akhir Desember atau awal Januari.
  19. Yaitu, mereka menganut pandangan bahwa makhluk-makhluk dimurnikan dengan cara mengurangi makanan.
  20. Kelahiran kembali di Alam Murni (suddhāvāsa) hanya mungkin bagi para yang-tidak-kembali.
  21. Kata Pali untuk empat istilah ini adalah sati, gati, dhiti, paññāveyyattiya. MA menjelaskan sati sebagai kemampuan untuk menangkap dalam pikiran seratus atau seribu frasa sewaktu diucapkan; gati sebagai kemampuan untuk mengingat dan mempertahankannya dalam pikiran; dithi sebagai kemampuan untuk mengucapkan kembali apa yang telah ditangkap dan diingat; dan paññāveyyattiya sebagai kemampuan untuk melihat makna dan logika dari frasa-frasa tersebut.
  22. YM. Nāgasamāla menjadi pelayan pribadi Sang Buddha selama dua puluh tahun pertama pengajaranNya.
  23. Lomahaṁsanapariyāya. Sutta ini dirujuk dengan nama itu pada Miln 398 dan dalam Komentar Dīgha Nikāya.