[147] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Pada saat itu lima ratus brahmana dari berbagai propinsi sedang menetap di Sāvatthī untuk suatu urusan. Kemudian para brahmana itu berpikir: “Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian bagi seluruh empat kasta.1 Siapakah di sini yang mampu membantahNya atas pernyataan ini?”

3. Pada saat itu seorang murid brahmana bernama Assalāyana sedang menetap di Sāvatthī. Muda, berkepala-gundul, berusia enam belas tahun, ia adalah seorang yang menguasai Tiga Veda dengan kosa-kata, liturgi, fonologi, dan etimologi, dan sejarah-sejarah sebagai yang ke lima; mahir dalam ilmu bahasa dan tata bahasa, ia mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda manusia luar biasa. Kemudian para brahmana berpikir: “Ada seorang murid brahmana muda bernama Assalāyana yang sedang menetap di Sāvatthī. Muda … mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda manusia luar biasa. Ia akan mampu berdebat dengan Petapa Gotama mengenai pernyataan ini.”

4. Maka para brahmana itu mendatangi murid brahmana Assalāyana dan berkata kepadanya: “Guru Assalāyana, Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian bagi seluruh empat kasta. Sudilah Guru Assalāyana pergi dan berdebat dengan Petapa Gotama mengenai pernyataan ini.”

Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana menjawab: “Tuan-tuan, Petapa Gotama adalah seorang yang membicarakan Dhamma. Sekarang mereka yang membicarakan Dhamma adalah sulit untuk didebat. Aku tidak mampu mendebat Petapa Gotama mengenai pernyataan ini.”

Untuk ke dua kalinya para brahmana berkata kepadanya: “Guru Assalāyana, Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian bagi seluruh empat kasta. Sudilah Guru Assalāyana pergi dan berdebat dengan Petapa Gotama mengenai pernyataan ini. Karena latihan petapa pengembara telah diselesaikan oleh Guru Assalāyana.”2

Untuk ke dua kalinya murid brahmana Assalāyana menjawab: “Tuan-tuan, Petapa Gotama adalah seorang yang membicarakan Dhamma. Sekarang mereka yang membicarakan Dhamma adalah sulit untuk didebat. Aku tidak mampu mendebat Petapa Gotama mengenai pernyataan ini.”

Untuk ke tiga kalinya para brahmana berkata kepadanya: “Guru Assalāyana, Petapa Gotama ini menjelaskan pemurnian bagi seluruh empat kasta. Sudilah Guru Assalāyana pergi dan berdebat dengan Petapa Gotama mengenai pernyataan ini. Karena latihan petapa pengembara telah diselesaikan oleh Guru Assalāyana. Jangan sampai Guru Assalāyana kalah sebelum bertempur.”

Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana menjawab: “Tentu saja, tuan-tuan, aku belum selesai ketika aku mengatakan: ‘Petapa Gotama adalah seorang yang membicarakan Dhamma.’ Sekarang mereka yang membicarakan Dhamma adalah sulit untuk didebat. Aku tidak mampu mendebat Petapa Gotama mengenai pernyataan ini. Tetapi, tuan-tuan, atas permintaan kalian, aku akan pergi.”

5. Kemudian murid brahmana Assalāyana pergi bersama dengan sejumlah besar para brahmana mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi, para kasta lainnya adalah rendah; para brahmana adalah kasta yang paling cerah, para kasta lainnya adalah gelap; hanya para brahmana yang dimurnikan, bukan non-brahmana; hanya para brahmana yang merupakan para putera Brahmā, keturunan Brahmā, lahir dari mulutnya, lahir dari Brahmā, diciptakan oleh Brahmā, pewaris Brahmā.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal itu?”

“Sekarang, Assalāyana, para perempuan brahmana terlihat mengalami periode menstruasi, menjadi hamil, melahirkan, dan menyusui.3 Namun para brahmana itu, walaupun terlahir dari rahim, mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … hanya para brahmana yang merupakan para putera Brahmā, keturunan Brahmā, lahir dari mulutnya, lahir dari Brahmā, diciptakan oleh Brahmā, pewaris Brahmā.’” [149]

6. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’”

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Pernahkah engkau mendengar bahwa Yona dan Kamboja4 dan di negeri asing lainnya terdapat hanya dua kasta, majikan dan budak, dan bahwa para majikan menjadi budak dan budak menjadi majikan?”

“Demikianlah yang kudengar, Tuan.”

“Kalau begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’?”

7. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’”

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana?5 Misalkan seorang mulia membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan fitnah, bergosip, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah hanya ia [yang sewajarnya] muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka – dan bukan seorang brahmana? Misalkan seorang pedagang … seorang pekerja membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah hanya ia [yang sewajarnya] muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka – dan bukan seorang brahmana?”

“Tidak, Guru Gotama. Apakah ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu yang membunuh makhluk-makhluk hidup [150] … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah [sewajarnya] muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.”

“Kalau begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’?”

8. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’”

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan seorang brahmana menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah, menghindari ucapan fitnah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gosip, dan tidak tamak, memiliki pikiran tanpa permusuhan, dan menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah ia [sewajarnya] muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga – dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?”

“Tidak, Guru Gotama. Apakah ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah [sewajarnya] muncul kembali alam yang bahagia, bahkan di alam surga.”

“Kalau begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’?”

9. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, [151] tetapi para brahmana tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’”

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu mengembangkan pikiran cinta kasih terhadap wilayah ini, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?”

“Tidak, Guru Gotama. Apakah ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu mengembangkan pikiran cinta kasih terhadap wilayah ini, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.”

“Kalau begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’?”

10. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’”

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan membersihkan diri dari debu dan kotoran, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?”

“Tidak, Guru Gotama. Apakah ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan membersihkan diri dari debu dan kotoran.”

“Kalau begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’?”

11. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’”

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? [152] Misalkan seorang raja mulia yang sah mengumpulkan di sini seratus orang yang berasal dari kelahiran berbeda dan berkata kepada mereka: ‘Tuan-tuan, silakan siapapun juga di sini yang terlahir dalam keluarga mulia atau keluarga brahmana atau keluarga bangsawan mengambil sebatang kayu api kayu sāla, kayu salala, kayu cendana, atau kayu padumaka dan menyalakan api dan menghasilkan panas. Dan juga silahkan siapapun juga di sini yang terlahir dalam keluarga buangan, keluarga pemburu, keluarga pembuat keranjang, keluarga pembuat kereta, atau keluarga pemungut sampah, mengambil kayu dari tempat minum anjing, dari tempat makan babi, dari tempat sampah, atau dari kayu jarak dan menyalakan api dan menghasilkan panas.’

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok pertama, apakah api itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan apakah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api, sementara ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dari kelompok ke dua, api itu tidak memiliki kobaran, tanpa warna, dan tanpa cahaya, dan tidak mungkin menggunakannya sebagai fungsi api?”

“Tidak, Guru Gotama. Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok pertama, api itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api. Dan api yang dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok ke dua, api itu juga memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api. Karena semua api memiliki kobaran, [153] warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api.”

“Kalau begitu atas kekuatan [argumentasi] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah para brahmana dalam hal ini mengatakan sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’?”

12. “Walaupun Guru Gotama mengatakan hal ini, tetapi para brahmana tetap berpikir sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.’”

“Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan seorang pemuda mulia hidup bersama dengan seorang gadis brahmana, dan seorang anak lahir dari mereka. Apakah anak yang terlahir dari pemuda brahmana dan gadis mulia itu disebut seorang mulia mengikuti sang ayah atau seorang brahmana mengikuti sang ibu?”

“Ia dapat disebut keduanya, Guru Gotama.”

13. “Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan seorang pemuda brahmana hidup bersama dengan seorang gadis mulia, dan seorang anak lahir dari mereka. Apakah anak yang terlahir dari pemuda brahmana dan gadis mulia itu disebut seorang mulia mengikuti sang ibu atau seorang brahmana mengikuti sang ayah?”

“Ia dapat disebut keduanya, Guru Gotama.”

14. “Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan seekor kuda betina dikawinkan dengan seekor keledai jantan, dan seekor anak kuda terlahir sebagai akibatnya. Apakah anak kuda itu disebut seekor kuda mengikuti sang ibu atau seekor keledai mengikuti sang ayah?”

“Itu adalah seekor bagal, Guru Gotama, karena anak kuda itu tidak berasal dari jenis manapun. [154] Aku melihat perbedaan dalam kasus terakhir ini, tetapi aku tidak melihat perbedaan dalam kasus-kasus sebelumnya.”

15. “Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan ada dua orang murid brahmana bersaudara, terlahir dari ibu yang sama, yang satu rajin belajar dan cerdas, dan yang lainnya tidak rajin belajar dan tidak cerdas. Yang manakah yang akan diberi makanan pertama kali oleh para brahmana pada suatu upacara pemakaman, atau pada suatu upacara persembahan nasi-susu, atau pada suatu upacara pengorbanan, atau pada suatu pesta menyambut tamu?”

“Pada kesempatan itu, para brahmana akan memberi makan pertama kali kepada seorang yang rajin belajar dan cerdas, Guru Gotama; karena bagaimana mungkin apa yang diberikan kepada seorang yang tidak rajin belajar dan tidak cerdas dapat menghasilkan buah besar?”

16. “Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan ada dua orang murid brahmana bersaudara, terlahir dari ibu yang sama, yang satu rajin belajar dan cerdas tetapi tidak bermoral dan berkarakter buruk, dan yang lainnya tidak rajin belajar dan tidak cerdas, tetapi bermoral dan berkarakter baik. Yang manakah yang akan diberi makanan pertama kali oleh para brahmana pada suatu upacara pemakaman, atau pada suatu upacara persembahan nasi-susu, atau pada suatu upacara pengorbanan, atau pada suatu pesta menyambut tamu?”

“Pada kesempatan itu, para brahmana akan memberi makan pertama kali kepada seorang yang tidak rajin belajar dan tidak cerdas, tetapi bermoral dan berkarakter baik, Guru Gotama; karena bagaimana mungkin apa yang diberikan kepada seorang yang tidak bermoral dan berkarakter buruk dapat menghasilkan buah besar?”

17. “Pertama-tama, Assalāyana, engkau berpegang pada kelahiran, dan setelah itu engkau berpegang pada pembelajaran kitab-kitab, dan setelah itu engkau akhirnya berpegang pada landasan pemurnian bagi keseluruhan empat kasta, seperti yang Kujelaskan.”

Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana duduk diam dan cemas, dengan bahu terkulai dan kepala menunduk, muram, dan tidak mampu menjawab. Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā berkata kepadanya:

18, “Suatu ketika, Assalāyana, ketika tujuh petapa brahmana sedang berdiskusi di dalam sebuah gubuk daun di dalam hutan, pandangan sesat ini muncul pada mereka: ‘Para Brahmana adalah kasta tertinggi … [155] … pewaris Brahmā.’ Petapa Devala si Gelap mendengar hal ini.6 Kemudian ia merapikan rambut dan janggutnya, mengenakan pakaian berwarna kuning, memakai sandal besar, dan memegang tongkat emas, ia muncul di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana itu. Kemudian, selagi berjalan mondar-mandir di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana itu, Petapa Devala si Gelap berkata sebagai berikut: ‘Ke manakah para petapa brahmana mulia itu pergi? Ke manakah para petapa brahmana mulia itu pergi?’ Kemudian ketujuh petapa brahmana itu berpikir: ‘Siapakah yang berjalan mondar-mandir di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana seperti orang dusun dan mengatakan: “Ke manakah para petapa brahmana mulia itu pergi? Ke manakah para petapa brahmana mulia itu pergi?” Mari kita mengutuknya!’ Kemudian ketujuh petapa brahmana itu mengutuk petapa Devala si Gelap sebagai berikut: ‘Jadilah abu, orang busuk! Jadilah abu, orang busuk!’ Tetapi semakin ketujuh petapa brahmana itu mengutuknya, Petapa Devala si Gelap itu menjadi semakin menarik dan tampan. Kemudian ketujuh petapa brahmana itu berpikir: ‘Pertapaan kami sia-sia, kehidupan suci kami tidak berbuah; karena sebelumnya jika kami mengutuk seseorang sebagai berikut: “Jadilah abu, orang busuk! Jadilah abu, orang busuk!” maka ia pasti menjadi abu; tetapi semakin kami mengutuk orang ini, ia menjadi semakin menarik dan tampan.’

“‘Pertapaan kalian tidak sia-sia, tuan-tuan, kehidupan suci kalian bukan tidak berbuah. Tetapi, Tuan-tuan, singkirkanlah kebencian kalian terhadapku.’ [156]

“‘Kami telah menyingkirkan kebencian kami terhadapmu, Tuan. Siapakah engkau?’

“‘Pernahkah kalian mendengar tentang Petapa Devala si Gelap, Tuan-tuan?’ – ‘Pernah, Tuan.’ – ‘Akulah Petapa si gelap itu, Tuan-tuan.’

“Kemudian ketujuh petapa brahmana itu mendatangi Petapa Devala si Gelap dan bersujud padanya. Kemudian ia berkata kepada mereka: ‘Tuan-tuan, aku mendengar ketika ketujuh petapa brahmana sedang berdiam di dalam gubuk daun di dalam hutan, pandangan sesat ini muncul pada mereka: “Para Brahmana adalah kasta tertinggi … pewaris Brahmā.”’ – ‘Demikianlah, Tuan.’

“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ibu yang melahirkan kalian hanya menikah dengan seorang brahmana dan tidak pernah dengan seorang bukan brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’

“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ibu dari ibu kalian sampai tujuh generasi sebelumnya hanya menikah dengan seorang brahmana dan tidak pernah dengan seorang bukan brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’

“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ayah yang menurunkan kalian hanya menikah dengan seorang perempuan brahmana dan tidak pernah dengan seorang perempuan bukan brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’

“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bahwa ayah dari ayah kalian sampai tujuh generasi sebelumnya hanya menikah dengan seorang perempuan brahmana dan tidak pernah dengan seorang perempuan bukan brahmana?’ – ‘Tidak, Tuan.’

“‘Tetapi, Tuan-tuan, tahukah kalian bagaimana munculnya janin terjadi?’

“‘Tuan, kami mengetahui bagaimana munculnya janin terjadi. [157] Di sini, ada penyatuan ibu dan ayah, dan ibu sedang dalam masa subur, dan gandhabba hadir. Demikianlah munculnya janin terjadi melalui perpaduan ketiga hal ini.’7

“‘Kalau begitu, Tuan-tuan, apakah kalian mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?’

“‘Tuan, kami tidak mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja.’

“‘Kalau begitu, Tuan-tuan, jadi siapakah kalian?’

“‘Kalau begitu, Tuan, kami tidak mengetahui siapa kami ini.’

“Sekarang, Assalāyana, bahkan ketujuh petapa brahmana itu, ketika ditekan dan dipertanyakan dan didebat oleh Petapa Devala si Gelap tentang pernyataan mereka sendiri sehubungan dengan kelahiran, tidak mampu mempertahankannya. Tetapi bagaimana mungkin engkau, ketika ditekan dan dipertanyakan dan didebat olehKu tentang pernyataanmu sehubungan dengan kelahiran, mampu mempertahankannya? Engkau, yang mengandalkan doktrin-doktrin gurumu, [bahkan] tidak [sebanding dengan] Puṇṇa pemegang sendok mereka.”8

19. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! … (seperti Sutta 91, §37) … Mulai hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


Catatan Kaki
  1. Argumen yang digunakan dalam tesis ini dijelaskan pada MN 90.10-12.
  2. MA: Mereka mengatakan demikian dengan maksud untuk mengatakan: “Setelah mempelajari Tiga Veda, engkau telah terlatih dalam mantra-mantra yang dengannya mereka yang meninggalkan keduniawian menjalankan pelepasan keduniawian mereka dan mantra-mantra yang mereka lestarikan setelah mereka meninggalkan keduniawian. Engkau telah mempraktikkan cara mereka berperilaku. Oleh karena itu, engkau tidak akan kalah. Kemenangan akan menjadi milikmu.”
  3. Pernyataan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa para brahmana terlahir dari para perempuan, sama seperti manusia lainnya, dan dengan demikian tidak selayaknya mereka mengaku bahwa mereka terlahir dari mulut Brahmā.
  4. Yona adalah kata Pali untuk Ionia. Kamboja adalah suatu wilayah barat laut “Negeri Tengah” India.
  5. Argumen pada §§7-8 di sini pada dasarnya identik dengan argumen pada MN 84.
  6. MA mengidentifikasi Devala si Gelap, Asita Devala, sebagai Sang Buddha dalam kehidupan lampau. Sang Buddha membabarkan ajaran ini untuk menunjukkan: “Di masa lampau, ketika engkau berkelahiran tinggi dan Aku berkelahiran rendah, engkau tidak dapat menjawab pertanyaan yang Kuajukan tentang pernyataan sehubungan dengan kelahiran. Jadi bagaimana mungkin engkau dapat melakukannya sekarang, ketika engkau adalah seorang rendah dan Aku telah menjadi seorang Buddha?”
  7. Seperti pada MN 38.26. baca n.411. Perhatikan bahwa dialog persis di bawah menegaskan makna gandhabba sebagai makhluk yang telah meninggal dunia menjelang kelahiran kembali.
  8. MA: Puṇṇa adalah nama pelayan ketujuh petapa brahmana itu; ia mengambilkan sendok, memasak dedaunan, dan melayani mereka.