1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Saat itu sejumlah bhikkhu sedang duduk di dalam aula pertemuan, di mana mereka berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan, ketika diskusi ini muncul di antara mereka: “Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh menakjubkan, bagaimana hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, bahwa perhatian pada jasmani, ketika dikembangkan dan dilatih, adalah berbuah besar dan bermanfaat besar.”

Akan tetapi, diskusi mereka terhenti; karena Sang Bhagavā bangkit dari meditasiNya pada malam itu, memasuki aula pertemuan, dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian Beliau bertanya kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, untuk mendiskusikan apakah kalian duduk bersama di sini saat ini? Dan diskusi apakah yang terhenti?” [89]

“Di sini, Yang Mulia, kami sedang duduk di aula pertemuan, di mana kami berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan, diskusi ini muncul di antara kami: ‘Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh menakjubkan, bagaimana hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, bahwa perhatian pada jasmani, ketika dikembangkan dan dilatih, adalah berbuah besar dan bermanfaat besar.’ Ini adalah diskusi kami, Yang Mulia, yang terhenti ketika Sang Bhagavā datang.”

3. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, perhatian pada jasmani dikembangkan dan dilatih agar berbuah besar dan bermanfaat besar?

4. “Di sini seorang bhikkhu,1 pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya, dengan penuh perhatian ia menarik nafas, penuh perhatian ia mengembuskan nafas. Menarik nafas panjang, ia memahami: ‘Aku menarik nafas panjang’; atau mengembuskan nafas panjang, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas panjang.’ Menarik nafas pendek, ia memahami: ‘Aku menarik nafas pendek’; atau mengembuskan nafas pendek, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas pendek.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami seluruh tubuh’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami seluruh tubuh.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani.’ Ketika ia berdiam demikian dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga ditinggalkan; dengan ditinggalkannya hal-hal itu pikirannya menjadi kokoh secara internal, tenang, terpusat, dan terkonsentrasi. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

5. “Kemudian, para bhikkhu, ketika berjalan, seorang bhikkhu memahami: ‘aku sedang berjalan’; ketika berdiri, ia memahami: ‘aku sedang berdiri’; ketika duduk, ia memahami: ‘aku sedang duduk’; ketika berbaring, ia memahami: ‘aku sedang berbaring’; atau ia memahami bagaimanapun posisi tubuhnya. Ketika ia berdiam demikian dengan rajin, tekun, dan teguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga ditinggalkan … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani. [90]

6. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah seorang yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan maju dan mundur; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika melihat ke depan dan ke belakang; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika menekuk dan meregangkan anggota-anggota tubuhnya; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika mengenakan jubahnya dan membawa jubah luar dan mangkuknya; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika buang air besar atau buang air kecil; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri. Ketika ia berdiam demikian dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga ditinggalkan … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

7. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu memeriksa jasmani yang sama ini dari telapak kaki ke atas dan dari ujung rambut ke bawah, terbungkus oleh kulit, sebagai dipenuhi kotoran: ‘Di dalam jasmani ini terdapat rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru, usus, selaput pengikat organ dalam tubuh, isi perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, cairan sendi, dan air kencing.’ Bagaikan ada sebuah karung, yang terbuka di kedua ujungnya, penuh dengan berbagai jenis biji-bijian seperti beras-gunung, beras merah, kacang, kacang polong, milet, dan beras putih, dan seorang yang berpenglihatan baik membuka karung itu dan memeriksanya: ‘Ini adalah beras-gunung, ini adalah beras-merah, ini adalah kacang, ini adalah kacang polong, ini adalah milet, ini adalah beras putih’; demikian pula seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini … sebagai dipenuhi kotoran: ‘Di dalam jasmani ini terdapat rambut kepala … dan air kencing.’ Ketika ia berdiam demikian dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga ditinggalkan … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani. [91]

8. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu memeriksa jasmani yang sama ini, bagaimanapun posisinya, sebagai terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut: ‘Di dalam jasmani ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur udara.’ Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau muridnya, setelah menyembelih seekor sapi, duduk di persimpangan jalan dengan daging yang telah dipotong dalam beberapa bagian; demikian pula seorang bhikkhu memeriksa jasmani yang sama ini, bagaimanapun posisinya, sebagai terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut: ‘Di dalam jasmani ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur udara.’ Ketika ia berdiam demikian dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga ditinggalkan … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

9. “Kemudian, para bhikkhu, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, satu, dua atau tiga hari setelah meninggal dunia, membengkak, memucat, dengan cairan menetes, seorang bhikkhu membandingkan jasmani yang sama ini dengan mayat itu sebagai berikut: ‘Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’ Ketika ia berdiam demikian dengan rajin … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

10. “Kemudian, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, dimakan oleh burung gagak, elang, nasar, anjing, serigala, atau berbagai jenis ulat, seorang bhikkhu membandingkan jasmani ini dengan mayat itu sebagai berikut: ‘Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’ Ketika ia berdiam demikian dengan rajin … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani. [92]

11-14. “Kemudian, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, kerangka tulang dengan daging dan darah, yang terangkai oleh urat … kerangka tulang tanpa daging yang berlumuran darah, yang terangkai oleh urat … kerangka tulang tanpa daging dan darah, yang terangkai oleh urat … tulang belulang yang tercerai berai berserakan ke segala arah – di sini tulang lengan, di sana tulang kaki, di sini tulang kering, di sana tulang paha, di sini tulang pinggul, di sana tulang punggung, di sini tulang rusuk, di sana tulang dada, di sini tulang lengan, di sana tulang bahu, di sini tulang leher, di sana tulang rahang, di sini gigi, di sana tengkorak - seorang bhikkhu membandingkan jasmani ini dengan mayat itu sebagai berikut: ‘Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’ Ketika ia berdiam demikian dengan rajin … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

15-17. “Kemudian, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, tulangnya memutih, berwarna seperti kulit-kerang … tulang-belulangnya menumpuk … tulang-belulang yang lebih dari setahun, hancur dan remuk menjadi debu, seorang bhikkhu membandingkan jasmani ini dengan mayat itu sebagai berikut: ‘Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’ Ketika ia berdiam demikian dengan rajin … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

18. “Kemudian, para bhikkhu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ia membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu. Bagaikan seorang petugas pemandian atau murid petugas pemandian2 menumpuk bubuk mandi dalam baskom logam dan, secara perlahan memerciknya dengan air, meremasnya hingga kelembaban membasahi bola bubuk mandi tersebut, membasahinya, dan meliputinya di dalam dan di luar, namun bola itu sendiri tidak meneteskan air; demikian pula, seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu [93] basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu. Ketika ia berdiam demikian dengan rajin … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

19. “Kemudian, para bhikkhu, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ia membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Bagaikan sebuah danau yang airnya berasal dari mata air di dasarnya dan tidak ada aliran masuk dari timur, barat, utara, atau selatan, dan tidak ditambah dari waktu ke waktu dengan curahan hujan, kemudian mata air sejuk memenuhi danau itu dan membuat air sejuk itu membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi seluruh danau itu, sehingga tidak ada bagian danau itu yang tidak terliputi oleh air sejuk itu; demikian pula, seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ketika ia berdiam demikian dengan rajin … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

20. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Ia membuat kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu. Bagaikan, dalam sebuah kolam seroja biru atau merah atau putih, beberapa seroja tumbuh dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, [94] dan air sejuk membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi seroja-seroja itu dari pucuk hingga ke akarnya, sehingga tidak ada bagian dari seroja-seroja itu yang tidak terliputi oleh air sejuk; demikian pula, seorang bhikkhu, membuat kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu. Ketika ia berdiam demikian dengan rajin … Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

21. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ia duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; demikian pula, seorang bhikkhu duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah itu. Ketika ia berdiam demikian dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, ingatan-ingatan dan kehendak-kehendaknya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga ditinggalkan; dengan ditinggalkannya hal-hal itu pikirannya menjadi kokoh secara internal, tenang, terpusat, dan terkonsentrasi. Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

22. “Para bhikkhu, siapapun juga yang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani telah memasukkan ke dalam dirinya kondisi-kondisi bermanfaat apapun juga yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.3 Seperti halnya siapapun juga yang memperluas pikirannya menjangkau samudra raya telah memasukkan dalam pikirannya sungai-sungai apapun juga yang mengalir ke samudra; demikian pula, siapapun juga yang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani telah memasukkan ke dalam dirinya kondisi-kondisi bermanfaat apapun juga yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.

23. “Para bhikkhu, jika seseorang tidak mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya. Misalkan seseorang melemparkan sebongkah bola batu berat ke atas gundukan tanah liat yang basah. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah bola berat itu akan masuk ke dalam gundukan tanah liat basah itu?” – “Benar, Yang Mulia.” – [95] “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang tidak mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya.

24. “Misalkan terdapat sepotong kayu kering tanpa getah, dan seseorang datang membawa kayu api sebelah atas, dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan sepotong kayu kering tanpa getah itu dengan kayu api sebelah atas?” – “Dapat, Yang Mulia.” – “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang tidak mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya.

25. “Misalkan terdapat sebuah kendi air yang kosong diletakkan di atas sebuah bidang, dan seseorang datang dengan membawa persediaan air. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu menuangkan air ke dalam kendi itu?” - “Dapat, Yang Mulia.” – “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang tidak mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya.

26. “Para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra tidak memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya. Misalkan seseorang melemparkan sebuah bola benang yang ringan pada sebidang daun pintu yang terbuat dari inti kayu. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah bola benang yang ringan itu dapat masuk menembus daun pintu yang terbuat dari inti kayu itu?” – “Tidak, Yang Mulia.” - “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra tidak memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya.

27. “Misalkan terdapat sepotong kayu basah bergetah, dan seseorang datang membawa kayu api sebelah atas, dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ [96] Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkannya dengan sepotong kayu basah bergetah itu?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra tidak memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya.

28. “Misalkan, di atas sebuah bidang, terdapat sebuah kendi air yang penuh dengan air hingga ke pinggirnya, dan seseorang datang dengan membawa persediaan air. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu menuangkan air ke dalam kendi itu?” - “Tidak, Yang Mulia.” – “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, maka Māra tidak memperoleh kesempatan dan dukungan dalam dirinya.

29. “Para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, jika ia mengarahkan pikirannya pada pencapaian apapun yang dapat dicapai melalui pengetahuan langsung, maka ia mencapai kemampuan untuk melihat aspek apapun di dalamnya, jika ada landasan yang sesuai. Misalkan, di atas sebuah bidang, terdapat sebuah kendi air yang penuh dengan air hingga ke pinggirnya sehingga burung-burung gagak dapat meminum airnya. Jika seorang kuat menepuknya, apakah air itu akan memercik keluar?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani, jika ia mengarahkan pikirannya pada pencapaian apapun yang dapat dicapai melalui pengetahuan langsung, maka ia mencapai kemampuan untuk melihat aspek apapun di dalamnya, jika ada landasan yang sesuai.

30. “Misalkan terdapat sebuah kolam persegi empat di atas tanah datar, dikelilingi oleh dinding, penuh dengan air hingga ke pinggirnya sehingga burung-burung gagak dapat meminum airnya. Ketika seorang kuat melepaskan dindingnya, apakah airnya akan keluar?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani … maka ia mencapai kemampuan untuk melihat aspek apapun di dalamnya, jika ada landasan yang sesuai.

31. “Misalkan terdapat sebuah kereta di atas tanah datar di persimpangan jalan, ditarik oleh kuda dari keturunan murni, menunggu dengan tongkat kendali siap digunakan, sehingga seorang pelatih terampil, seorang kusir kuda-kuda yang harus dijinakkan, dapat menaikinya, dan memegang tali kekang di tangan kirinya dan tongkat kendali di tangan kanannya, mengendarainya ke sana-sini melalui jalan-jalan yang ia pilih. Demikian pula, para bhikkhu, jika seseorang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani … maka ia mencapai kemampuan untuk melihat aspek apapun di dalamnya, jika ada landasan yang sesuai.

32. “Para bhikkhu, ketika perhatian pada jasmani telah berulang-ulang dipraktikkan, dikembangkan, dilatih, digunakan sebagai kendaraan, digunakan sebagai landasan, ditegakkan, digabungkan, dan dijalankan dengan baik, maka sepuluh manfaat ini dapat diharapkan. Apakah sepuluh ini?

33. (i) “Seseorang menjadi penakluk ketidak-puasan dan kesenangan, dan ketidak-puasan tidak menaklukkan dirinya; ia berdiam setelah mengatasi ketidak-puasan pada saat munculnya.

34. (ii) “Seseorang menjadi penakluk ketakutan dan kekhawatiran, dan ketakutan dan kekhawatiran tidak menaklukkan dirinya; ia berdiam setelah mengatasi ketakutan dan kekhawatiran pada saat munculnya.

35. (iii) “Seseorang menahankan dingin dan panas, lapar dan haus, dan kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia menahankan ucapan-kasar, kata-kata yang tidak menyenangkan dan perasaan jasmani yang telah muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, tidak menyenangkan, menyusahkan, dan mengancam kehidupan.

36. (iv) “Seseorang sesuai kehendaknya dan tanpa kesulitan atau kesusahan memperoleh empat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan [98] memberikan kediaman yang nyaman di sini dan saat ini.

37. (v) “Seseorang mengerahkan berbagai jenis kekuatan batin … (seperti Sutta 108, §18) … ia mengerahkan kekuatan jasmani bahkan hingga sejauh alam Brahma.

38. (vi) “Dengan unsur telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia mendengarkan kedua jenis suara, surgawi dan manusia, suara-suara yang jauh maupun dekat.

39. (vii) “Seseorang memahami pikiran makhluk-makhluk lain, orang-orang lain, setelah melingkupi pikiran mereka dengan pikirannya sendiri. Ia memahami pikiran yang terpengaruh nafsu sebagai terpengaruh nafsu … (seperti Sutta 108, §20) … pikiran tidak terbebaskan sebagai tidak terbebaskan.

40. (viii) “Seseorang mengingat banyak kehidupan lampaunya, yaitu, [99] satu kelahiran, dua kelahiran … (seperti Sutta 51, §24) … Demikianlah dengan aspek-aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampaunya.

41. (ix) “Dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk-rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai perbuatan mereka.

42. (x) “Dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, ia di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda.

43. “Para bhikkhu, ketika perhatian pada jasmani telah berulang-ulang dipraktikkan, dikembangkan, dilatih, digunakan sebagai kendaraan, digunakan sebagai landasan, ditegakkan, digabungkan, dan dijalankan dengan baik, maka sepuluh manfaat ini dapat diharapkan.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para Bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. §§4-17 dari sutta ini identik dengan MN 10.4-30, kecuali bahwa di sini pengulangan pada pandangan terang digantikan dengan pengulangan yang dimulai dengan “Ketika ia berdiam demikian dengan rajin.” Perubahan ini menunjukkan pergeseran dalam penekanan dari pandangan terang dalam MN 10 menjadi konsentrasi dalam sutta yang sekarang ini. Pergeseran ini muncul kembali dalam paragraf tentang jhāna pada §§18-21 dan dalam paragraf tentang pengetahuan langsung pada §§37-41, yang keduanya membedakan sutta ini dengan MN 10.
  2. Perumpamaan untuk jhāna-jhāna ini juga terdapat pada MN 39.15-18 dan MN 77.25-28.
  3. Vijjābhāgiya dhammā. MA menjelaskan kondisi-kondisi ini sebagai delapan jenis pengetahuan yang dibabarkan pada MN 77.29-36.