1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Kemudian, pada suatu malam, Yang Mulia Sāriputta bangkit dari meditasinya dan menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: [294]

2. “Sāriputta, indria-indriamu jernih. Warna kulitmu bersih dan cerah. Kediaman apakah yang sering engkau diami sekarang, Sāriputta?”

“Sekarang, Yang Mulia, aku sering berdiam dalam kekosongan.”1

“Bagus, bagus, Sāriputta! Sekarang, sesungguhnya, engkau sering berdiam dalam kediaman seorang manusia besar. Karena ini adalah kediaman seorang manusia besar, yaitu, kekosongan.2

3. “Maka, Sāriputta, jika seorang bhikkhu berkehendak: ‘Semoga sekarang aku sering berdiam dalam kekosongan,’ ia harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, adakah keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata?’3 Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, tidak ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

4-8. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan, atau di tempat-tempat di mana aku berkeliling menerima dana makanan, atau di jalan di mana aku kembali dari perjalanan menerima dana makanan, adakah keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga? … sehubungan dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung? … sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah? … sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan? … sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran?’ [295] Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan … ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Di jalan di mana aku mendatangi suatu desa untuk menerima dana makanan … tidak ada keinginan, nafsu, kebencian, delusi, atau penolakan dalam pikiranku sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

9. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah kelima utas kenikmatan indria telah ditinggalkan dari dalam diriku?’4 Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima utas kenikmatan indria belum ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kelima utas kenikmatan indria itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima utas kenikmatan indria telah ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

10. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah kelima rintangan telah ditinggalkan dari dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima rintangan belum ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kelima rintangan itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima rintangan telah ditinggalkan dari dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

11. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan telah sepenuhnya dipahami olehku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan belum sepenuhnya dipahami olehku,’ maka ia harus berusaha untuk sepenuhnya memahami kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, [296] ia mengetahui sebagai berikut: ‘Kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan telah sepenuhnya dipahami olehku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

12. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah keempat landasan perhatian telah terkembang dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Keempat landasan perhatian belum terkembang dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk mengembangkan keempat landasan perhatian itu. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Keempat landasan perhatian telah terkembang dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

13-19. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah keempat jenis usaha benar telah terkembang dalam diriku? … Apakah keempat landasan kekuatan batin telah terkembang dalam diriku? … Apakah kelima indria telah terkembang dalam diriku? … Apakah kelima kekuatan telah terkembang dalam diriku? … Apakah ketujuh faktor pencerahan telah terkembang dalam diriku? … Apakah Jalan Mulia Berunsur Delapan telah terkembang dalam diriku? [297] … Apakah ketenangan dan pandangan terang telah terkembang dalam diriku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Ketenangan dan pandangan terang belum terkembang dalam diriku,’ maka ia harus berusaha untuk mengembangkannya. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘Ketenangan dan pandangan terang telah terkembang dalam diriku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

20. “Kemudian, Sāriputta, seorang bhikkhu harus mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Apakah pengetahuan sejati dan kebebasan telah ditembus olehku?’ Jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘pengetahuan sejati dan kebebasan belum ditembus olehku,’ maka ia harus berusaha untuk menembus pengetahuan sejati dan kebebasan. Tetapi jika, dengan melakukan peninjauan demikian, ia mengetahui sebagai berikut: ‘pengetahuan sejati dan kebebasan telah ditembus olehku,’ maka ia dapat berdiam dengan gembira dan bahagia, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.5

21. “Sāriputta, petapa dan brahmana manapun di masa lampau yang telah memurnikan dana makanan mereka semuanya telah melakukan hal itu dengan berulang-ulang merenungkan demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa depan yang akan memurnikan dana makanan mereka semuanya akan melakukan hal itu dengan berulang-ulang merenungkan demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa sekarang yang memurnikan dana makanan mereka semuanya melakukan hal itu dengan berulang-ulang merenungkan demikian.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Sāriputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. MA: Pencapaian kekosongan dari buah Kearahattaan. Baca n.458 dan n.1144.
  2. MA. Ini adalah kediaman dari manusia-manusia besar (mahāpurisa) seperti para Buddha, para paccekabuddha, dan para siswa besar Sang Tathāgata.
  3. Di antara kelima sebutan ini, keinginan dan nafsu adalah bersinonim seperti halnya kebencian dan penolakan.
  4. Dimulai dari bagian ini dapat terlihat urutan pengembangan. Ditinggalkannya kelima utas kenikmatan indria adalah langkah awal untuk mengembangkan jhāna-jhāna, dan ditinggalkannya kelima rintangan (§10) adalah langkah persis sebelum tercapainya jhāna pertama. Pemahaman sepenuhnya pada kelima kelompok unsur kehidupan (§11) menunjukkan kebijaksanaan pandangan terang yang diperlukan untuk mencapai jalan memasuki-arus, dan bagian tentang tiga puluh tujuh bantuan menuju pencerahan (§12-18) adalah pelatihan faktor-faktor yang diperlukan untuk sampai pada tingkatan-tingkatan kesucian menengah. Bagian tentang ketenangan dan pandangan terang (§19), walaupun berlaku pada semua tingkatan, namun dapat dilihat sebagai sepenuhnya dilaksanakan oleh yang-tidak-kembali yang berusaha untuk mencapai Kearahattaan. Akhirnya, bagian pengetahuan sejati dan kebebasan menyiratkan pencapaian jalan dan buah Kearahattaan.
  5. Walaupun Arahant, yang sepenuhnya telah menembus pengetahuan sejati dan kebebasan, tidak lagi memerlukan latihan lebih lanjut, namun ia terus-menerus melatih ketenangan dan pandangan terang untuk memasuki kebahagiaan jhāna-jhāna, buah pencapaian Kearahattaan, dan lenyapnya persepsi dan perasaan.