1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian suatu penjelasan tentang enam landasan. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: [216]

3. “Enam landasan internal harus dipahami. Enam landasan eksternal harus dipahami. Enam kelompok kesadaran harus dipahami. Enak kelompok kontak harus dipahami. Delapan belas jenis eksplorasi pikiran harus dipahami. Tiga puluh enam posisi makhluk-makhluk harus dipahami. Di sana, dengan bergantung pada ini, tinggalkanlah itu. Ada tiga landasan perhatian yang dilatih oleh Seorang Mulia, yang dengan melatihnya Seorang Mulia itu menjadi seorang guru yang layak untuk memberikan instruksi kepada suatu kelompok. Di antara guru-guru yang memberikan latihan adalah Beliau yang disebut pemimpin yang tiada bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan. Ini adalah ringkasan dari penjelasan tentang enam landasan.

4. “‘Enam landasan internal harus dipahami.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada landasan-mata, landasan-telinga, landasan-hidung, landasan-lidah, landasan-badan, dan landasan-pikiran. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Enam landasan internal harus dipahami.’

5. “‘Enam landasan eksternal harus dipahami.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada landasan-bentuk, landasan-suara, landasan-bau, landasan-rasa kecapan, landasan-objek sentuhan, dan landasan-objek pikiran. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Enam landasan eksternal harus dipahami.’

6. “‘Enam kelompok kesadaran harus dipahami.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah, kesadaran-badan, dan kesadaran-pikiran. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Enam kelompok kesadaran harus dipahami.’

7. “‘Enam kelompok kontak harus dipahami.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, dan kontak-pikiran. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Enam kelompok kontak harus dipahami.’

8. “‘Delapan belas jenis eksplorasi pikiran harus dipahami.’1 Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, seseorang mengeksplorasi bentuk yang menghasilkan kegembiraan, ia mengeksplorasi bentuk yang menghasilkan kesedihan, ia mengeksplorasi bentuk yang menghasilkan keseimbangan.2 Ketika mendengar suatu suara dengan telinga … Ketika mencium suatu bau dengan hidung … Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … [217] Ketika menyentuh suatu objek-sentuhan dengan badan … Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran, seseorang mengeksplorasi objek-pikiran yang menghasilkan kegembiraan, ia mengeksplorasi objek-pikiran yang menghasilkan kesedihan, ia mengeksplorasi objek-pikiran yang menghasilkan keseimbangan. Demikianlah ada enam jenis eksplorasi dengan kegembiraan, enam jenis eksplorasi dengan kesedihan, dan enam jenis eksplorasi dengan keseimbangan. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Delapan belas jenis eksplorasi pikiran harus dipahami.’

9. “‘Tiga puluh enam posisi makhluk-makhluk harus dipahami.’3 Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada enam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga dan enam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.4 Ada enam jenis kesedihan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga dan enam jenis kesedihan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian. Ada enam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga dan enam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.

10. “Di sini, apakah enam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga? Ketika seseorang menganggap sebagai keuntungan atas suatu perolehan akan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, memuaskan, dan berhubungan dengan keduniawian – atau ketika ia ingat apa yang sebelumnya telah diperoleh yang telah berlalu, telah lenyap, dan telah berubah – kegembiraan muncul. Kegembiraan demikian disebut kegembiraan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga.

“Ketika seseorang menganggap sebagai keuntungan atas suatu perolehan akan suara-suara yang dikenali oleh telinga … perolehan akan bau-bauan yang dikenali oleh hidung … perolehan akan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … perolehan akan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan … perolehan akan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, memuaskan, dan berhubungan dengan keduniawian – atau ketika ia ingat apa yang sebelumnya telah diperoleh yang telah berlalu, telah lenyap, dan telah berubah – maka kegembiraan muncul. Kegembiraan demikian disebut kegembiraan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga. Ini adalah enam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga.

11. “Di sini, apakah enam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian? Ketika, dengan mengetahui ketidak-kekalan, perubahan, peluruhan, dan lenyapnya bentuk-bentuk, seseorang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa bentuk-bentuk baik yang sebelumnya maupun yang sekarang adalah tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, maka kegembiraan muncul. Kegembiraan demikian adalah kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.5

“Ketika, dengan mengetahui ketidak-kekalan, perubahan, peluruhan, dan lenyapnya suara-suara … bau-bauan … rasa kecapan … objek-objek sentuhan … [218] objek-objek pikiran, seseorang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa objek-objek pikiran baik yang sebelumnya maupun yang sekarang adalah tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, maka kegembiraan muncul. Kegembiraan demikian adalah kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.

12. “Di sini, apakah enam jenis kesedihan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga? Ketika seseorang menganggap sebagai bukan keuntungan atas suatu bukan perolehan akan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, memuaskan, dan berhubungan dengan keduniawian – atau ketika ia ingat apa yang sebelumnya tidak diperoleh yang telah berlalu, telah lenyap, dan telah berubah – maka kesedihan muncul. Kesedihan demikian disebut kesedihan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga.

“Ketika seseorang menganggap sebagai bukan keuntungan atas suatu bukan perolehan akan suara-suara yang dikenali oleh telinga … bukan perolehan akan bau-bauan yang dikenali oleh hidung … bukan perolehan akan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … bukan perolehan akan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan … bukan perolehan akan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, memuaskan, dan berhubungan dengan keduniawian – atau ketika ia ingat apa yang sebelumnya tidak diperoleh yang telah berlalu, telah lenyap, dan telah berubah – maka kesedihan muncul. Kesedihan demikian disebut kesedihan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga. Ini adalah enam jenis kesedihan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga.

13. “Di sini, apakah enam jenis kesedihan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian? Ketika, dengan mengetahui ketidak-kekalan, perubahan, peluruhan, dan lenyapnya bentuk-bentuk, seseorang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa bentuk-bentuk baik yang sebelumnya maupun yang sekarang adalah tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, ia memunculkan kerinduan akan kebebasan tertinggi sebagai berikut: ‘Kapankah aku dapat masuk dan berdiam dalam landasan yang saat ini telah dimasuki dan didiami oleh para mulia?’6 Pada seseorang yang memunculkan kerinduan akan kebebasan tertinggi demikian, muncul kesedihan dengan kerinduan itu sebagai kondisi. Kesedihan demikian disebut kesedihan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.

“Ketika, dengan mengetahui ketidak-kekalan, perubahan, peluruhan, dan lenyapnya suara-suara … bau-bauan … rasa kecapan … objek-objek sentuhan … objek-objek pikiran, seseorang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa objek-objek pikiran baik yang sebelumnya maupun yang sekarang adalah tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, [219] ia memunculkan kerinduan akan kebebasan tertinggi sebagai berikut: ‘Kapankah aku dapat masuk dan berdiam dalam landasan yang saat ini telah dimasuki dan didiami oleh para mulia?’ Pada seseorang yang memunculkan kerinduan akan kebebasan tertinggi demikian, muncul kesedihan dengan kerinduan itu sebagai kondisi. Kesedihan demikian disebut kesedihan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian. Ini adalah enam jenis kesedihan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.

14. “Di sini, apakah enam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga? Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, keseimbangan muncul pada seseorang biasa dungu yang tergila-gila, pada seorang biasa yang tidak terpelajar yang belum menaklukkan keterbatasannya dan belum menaklukkan akibat [perbuatan] dan yang buta akan bahaya. Keseimbangan seperti ini tidak melampaui bentuk; itulah sebabnya mengapa disebut keseimbangan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga.7

“Ketika mendengar suatu suara dengan telinga … Ketika mencium suatu bau dengan hidung … Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … Ketika menyentuh suatu objek-sentuhan dengan badan … Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran, keseimbangan muncul pada seseorang biasa dungu yang tergila-gila, pada seorang biasa yang tidak terpelajar yang belum menaklukkan keterbatasannya dan belum menaklukkan akibat [perbuatan] dan yang buta akan bahaya. Kesimbangan seperti ini tidak melampaui objek-pikiran; itulah sebabnya mengapa disebut keseimbangan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga. Ini adalah enam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga.

15. “Di sini, apakah enam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian? Ketika, dengan mengetahui ketidak-kekalan, perubahan, peluruhan, dan lenyapnya bentuk-bentuk, seseorang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa bentuk-bentuk baik yang sebelumnya maupun yang sekarang adalah tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, keseimbangan muncul. Keseimbangan ini melampaui bentuk; itulah sebabnya mengapa disebut keseimbangan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.8

“Ketika, dengan mengetahui ketidak-kekalan, perubahan, peluruhan, dan lenyapnya suara-suara … bau-bauan … rasa kecapan … objek-objek sentuhan … objek-objek pikiran, seseorang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa objek-objek pikiran baik yang sebelumnya maupun yang sekarang adalah tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, keseimbangan muncul. Keseimbangan ini melampaui objek pikiran; itulah sebabnya mengapa disebut keseimbangan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian. Ini adalah enam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.

Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Tiga puluh enam posisi makhluk-makhluk harus dipahami.’ [220]

16. “‘Di sana, dengan bergantung pada ini, tinggalkanlah itu.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Di sini, Para bhikkhu, dengan bergantung dan mengandalkan keenam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian, tinggalkan dan lampauilah keenam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga. Adalah demikian kegembiraan-kegembiraan itu ditinggalkan; Adalah demikian kegembiraan-kegembiraan itu dilampaui. Dengan bergantung dan mengandalkan keenam jenis kesedihan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian, tinggalkan dan lampauilah keenam jenis kesedihan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga. Adalah demikian kesedihan-kesedihan itu ditinggalkan; Adalah demikian kesedihan-kesedihan itu dilampaui. Dengan bergantung dan mengandalkan keenam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian, tinggalkan dan lampauilah keenam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga. Adalah demikian keseimbangan-keseimbangan itu ditinggalkan; Adalah demikian keseimbangan-keseimbangan itu dilampaui.

“Dengan bergantung dan mengandalkan keenam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian, tinggalkan dan lampauilah keenam jenis kesedihan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian. Adalah demikian kesedihan-kesedihan itu ditinggalkan; Adalah demikian kesedihan-kesedihan itu dilampaui. Dengan bergantung dan mengandalkan keenam jenis keseimbangan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian, tinggalkan dan lampauilah keenam jenis kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian. Adalah demikian kegembiraan-kegembiraan itu ditinggalkan; Adalah demikian kegembiraan-kegembiraan itu dilampaui.

17. “Ada, Para bhikkhu, keseimbangan yang beraneka-ragam, berdasarkan pada keberagaman; dan ada keseimbangan yang terpusat, berdasarkan pada kesatuan.9

18. “Dan apakah, para bhikkhu, keseimbangan yang beraneka-ragam, berdasarkan pada keberagaman? Ada keseimbangan sehubungan dengan bentuk-bentuk, suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan, dan objek-objek sentuhan. Ini, Para bhikkhu, adalah keseimbangan yang beraneka-ragam, berdasarkan pada keberagaman.

19. “Dan apakah, Para bhikkhu, keseimbangan yang terpusat, berdasarkan pada kesatuan? Ada keseimbangan sehubungan dengan landasan ruang tanpa batas, landasan kesadaran tanpa batas, landasan kekosongan, dan landasan bukan-persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ini, para bhikkhu, adalah keseimbangan yang terpusat, berdasarkan pada kesatuan.

20. “Di sini, Para bhikkhu, dengan bergantung dan mengandalkan keseimbangan yang terpusat, berdasarkan pada kesatuan, tinggalkan dan lampauilah keseimbangan yang beraneka-ragam, berdasarkan pada keberagaman. Demikianlah ini ditinggalkan; demikianlah ini dilampaui.10

“Para bhikkhu, dengan bergantung dan mengandalkan ketiadaan-identifikasi,11 tinggalkan dan lampauilah keseimbangan yang terpusat, berdasarkan pada kesatuan. Demikianlah ini ditinggalkan; demikianlah ini dilampaui. [221]

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Di sana, dengan bergantung pada ini, tinggalkanlah itu.’

21. “‘Ada tiga landasan perhatian yang dilatih oleh Seorang Mulia, yang dengan melatihnya Seorang Mulia itu menjadi seorang guru yang layak untuk memberikan instruksi kepada suatu kelompok.’12 Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

22. “Di sini, Para bhikkhu, dengan berbelas kasih dan mengusahakan kesejahteraan mereka, Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para siswa demi belas kasih: ‘Ini adalah demi kesejahteraan kalian; ini adalah demi kebahagiaan kalian.’ Beberapa dari para siswaNya tidak mau mendengarkan atau mengerahkan pikiran untuk memahami; mereka tersesat dan berbelok dari Pengajaran Sang Guru. Karena itu Sang Tathāgata tidak puas dan merasakan ketidak-puasan; namun Beliau tidak-tergerak, penuh perhatian, dan penuh kewaspadaan. Ini, para bhikkhu, disebut landasan perhatian pertama yang dilatih oleh Seorang Mulia, yang dengan melatihnya Yang Mulia itu adalah guru yang layak untuk memberikan instruksi kepada suatu kelompok.

23. “Lebih lanjut, Para bhikkhu, dengan berbelas kasih dan mengusahakan kesejahteraan mereka, Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para siswa demi belas kasih: ‘Ini adalah demi kesejahteraan kalian; ini adalah demi kebahagiaan kalian.’ Beberapa dari para siswaNya tidak mau mendengarkan atau mengerahkan pikiran untuk memahami; mereka tersesat dan berbelok dari Pengajaran Sang Guru. Beberapa dari para siswaNya mau mendengarkan dan mengerahkan pikiran untuk memahami; mereka tidak tersesat dan tidak berbelok dari Pengajaran Sang Guru. Karena itu Sang Tathāgata tidak puas dan tidak merasakan kepuasan, dan Beliau tidak kecewa dan tidak merasakan kekecewaan; dengan senantiasa bebas dari kepuasan dan kekecewaan, Beliau berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian, dan penuh kewaspadaan. Ini, para bhikkhu, disebut landasan perhatian ke dua yang dilatih oleh Seorang Mulia, yang dengan melatihnya Yang Mulia itu adalah guru yang layak untuk memberikan instruksi kepada suatu kelompok.

24. “Lebih lanjut, Para bhikkhu, dengan berbelas kasih dan mengusahakan kesejahteraan mereka, Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para siswa demi belas kasih: ‘Ini adalah demi kesejahteraan kalian; ini adalah demi kebahagiaan kalian.’ Para siswaNya mendengarkan dan mengerahkan pikiran untuk memahami; mereka tidak tersesat dan tidak berbelok dari Pengajaran Sang Guru. Dengan itu Sang Tathāgata puas dan merasakan kepuasan; namun Beliau tidak-tergerak, penuh perhatian, dan penuh kewaspadaan. Ini, para bhikkhu, disebut landasan perhatian ke tiga yang dilatih oleh Seorang Mulia, yang dengan melatihnya Yang Mulia itu adalah guru yang layak untuk memberikan instruksi kepada suatu kelompok. [222]

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Ada tiga landasan perhatian yang dilatih oleh Seorang Mulia, yang dengan melatihnya Seorang Mulia itu menjadi seorang guru yang layak untuk memberikan instruksi kepada suatu kelompok.’

25. “‘Di antara guru-guru yang memberikan latihan adalah Beliau yang disebut pemimpin yang tiada bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan.’13 Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Dengan dituntun oleh penjinak gajah, Para bhikkhu, gajah yang akan dijinakkan berjalan ke satu arah – timur, barat, utara, atau selatan. Dengan dituntun oleh penjinak kuda, Para bhikkhu, kuda yang akan dijinakkan berjalan ke satu arah – timur, barat, utara, atau selatan. Dengan dituntun oleh penjinak sapi, Para bhikkhu, sapi yang akan dijinakkan berjalan ke satu arah – timur, barat, utara, atau selatan.

26. “Para bhikkhu, dengan dituntun oleh Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, orang yang akan dijinakkan berjalan ke delapan arah.14

“Dengan memiliki bentuk materi, ia melihat bentuk-bentuk: ini adalah arah pertama. Tanpa melihat bentuk-bentuk secara internal, ia melihat bentuk-bentuk secara eksternal: ini adalah arah ke dua. Ia bertekad hanya pada yang indah: ini adalah arah ke tiga. Dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas: ini adalah arah ke empat. Dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas: ini adalah arah ke lima. Dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan: ini adalah arah ke enam. Dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, ia masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi: ini adalah arah ke tujuh. Dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan: ini adalah arah ke delapan.

“Para bhikkhu, dengan dituntun oleh Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, orang yang akan dijinakkan berjalan ke delapan arah.

28. “Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Di antara guru-guru yang memberikan latihan adalah Beliau yang disebut pemimpin yang tiada bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan.’”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


  1. MA: Eksplorasi pikiran (manopavicāra) adalah awal pikiran dan kelangsungan pikiran. Seseorang mengeksplorasi (atau memeriksa, upavicarati) objek melalui munculnya kelangsungan pikiran (vicāra), dan awal pikiran berhubungan dengan kelangsungan pikiran.
  2. MA: Setelah melihat suatu bentuk dengan kesadaran-mata, seseorang mengeksplorasi suatu bentuk yang, sebagai suatu objek, adalah penyebab bagi kegembiraan (kesedihan, keseimbangan).
  3. MA: Ini adalah posisi-posisi (pada) bagi makhluk-makhluk yang condong pada lingkaran kehidupan dan bagi mereka yang condong pada lenyapnya lingkaran.
  4. MA: “Berdasarkan pada kehidupan rumah tangga” berarti berhubungan dengan utas-utas kenikmatan indria; “berdasarkan pada pelepasan keduniawian” berarti berhubungan dengan pandangan terang.
  5. MA: Ini adalah kegembiraan yang muncul ketika seseorang telah menegakkan pandangan terang dan sedang duduk mengamati hancurnya bentukan-bentukan dengan arus pengetahuan pandangan terang yang tajam dan cerah yang terpusat pada bentukan-bentukan.
  6. MA menjelaskan “kebebasan tertinggi” dan “landasan itu” sebagai Kearahattaan. Baca 44.28.
  7. MA: Ini adalah keseimbangan karena tidak mengetahui yang muncul dalam diri seseorang yang belum menaklukkan keterbatasan yang diakibatkan oleh kekotoran atau akibat (perbuatan) masa depan. Ini “tidak melampaui bentuk” karena terjerat, terpaku pada objek bagaikan lalat pada segumpal gula.
  8. MA: Ini adalah keseimbangan yang berhubungan dengan pengetahuan pandangan terang. Keseimbangan ini tidak menjadi bernafsu pada objek-objek menyenangkan yang masuk dalam jangkauan indria-indria, juga tidak menjadi marah karena objek-objek tidak menyenangkan.
  9. MA mengatakan bahwa sebelumnya yang dibahas adalah keseimbangan duniawi, tetapi di sini perbedaannya adalah antara keseimbangan dalam membeda-bedakan pengalaman indria dan keseimbangan pencapaian meditatif.
  10. MA menuliskan: “Melalui keseimbangan pencapaian tanpa materi, tinggalkanlah keseimbangan pencapaian materi halus; melalui pandangan terang ke dalam alam tanpa materi, tinggalkanlah pandangan terang ke dalam alam materi-halus.”
  11. MA mengatakan bahwa ketiadaan-identifikasi (atammayatā – baca n.1066) di sini merujuk pada “pandangan terang yang menuntun menuju kemunculan,” yaitu, pandangan terang persis sebelum munculnya jalan lokuttara; karena ini berdampak pada ditinggalkannya keseimbangan pencapaian tanpa materi dan keseimbangan pandangan terang.
  12. Satipaṭṭhāna di sini jelas memiliki makna berbeda dari biasanya, seperti akan jelas pada bagian selanjutnya. “Seorang Mulia” adalah Sang Buddha.
  13. Ini adalah salah satu dari Sembilan gelar Sang Buddha dalam penggambaran umum kualitas-kualitas Sang Buddha.
  14. “Delapan arah ini” adalah delapan kebebasan, tentang ini baca n.764.