1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian sebuah khotbah tentang apa yang harus dilatih dan apa yang tidak boleh dilatih. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Aku katakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

3. “Para bhikkhu,1 Perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya.2 Perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya. Perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya. Kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya. [46] Perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah satu atau yang lainnya. Perolehan pandangan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya. Perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang lainnya.”

4. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut:

5. “‘Para bhikkhu, perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perilaku jasmani yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku jasmani yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perilaku jasmani yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup; ia adalah pembunuh, bertangan darah, terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan, tanpa belas kasih pada makhluk-makhluk hidup. Ia mengambil apa yang tidak diberikan; ia mengambil harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan dengan cara mencuri. Ia melakukan perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, dan bahkan dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Perilaku-perilaku jasmani demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perilaku jasmani yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, ia menghindari pembunuhan makhluk hidup, dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, lembut dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup. Dengan meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan; ia tidak mengambil harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan dengan cara mencuri. Dengan meninggalkan perbuatan salah dalam kenikmatan indria, ia menghindari perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, atau dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Perilaku-perilaku jasmani demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya.’

6. “‘Para bhikkhu, perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perilaku ucapan yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku ucapan yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perilaku ucapan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang mengucapkan kebohongan; ketika dipanggil oleh pengadilan, atau dalam suatu pertemuan, [48] atau di depan sanak saudaranya, atau oleh perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, dan ditanya sebagai seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan, katakanlah apa yang engkau ketahui,’ tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tidak tahu’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku tidak melihat’; dengan penuh kesadaran ia mengatakan kebohongan demi keselamatan dirinya sendiri, atau demi keselamatan orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi. Ia mengucapkan fitnah; ia mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, atau ia mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia adalah seorang yang memecah-belah mereka yang rukun, seorang pembuat perpecahan, yang menikmati perselisihan, bergembira dalam perselisihan, bersenang dalam perselisihan, pengucap kata-kata yang menciptakan perselisihan. Ia berkata kasar; ia mengucapkan kata-kata yang kasar, keras, menyakiti orang lain, menghina orang lain, berbatasan dengan kemarahan, tidak menunjang konsentrasi. Ia adalah seorang penggosip; ia berbicara di waktu yang salah, mengatakan apa yang bukan fakta, mengatakan hal yang tidak berguna, mengatakan yang berlawanan dengan Dhamma dan Disiplin; pada waktu yang salah ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak masuk akal, melampaui batas, dan tidak bermanfaat. Perilaku-perilaku ucapan demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perilaku ucapan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang, dengan meninggalkan kebohongan, menghindari ucapan salah; ketika dipanggil oleh pengadilan, atau dalam suatu pertemuan, atau di depan sanak saudaranya, atau oleh perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, dan ditanya sebagai seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan, katakanlah apa yang engkau ketahui,’ tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tidak tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku tidak melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat’; [49] ia tidak dengan penuh kesadaran mengatakan kebohongan demi keselamatan dirinya sendiri, atau demi keselamatan orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi. Dengan meninggalkan fitnah, ia menghindari fitnah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga ia tidak mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia adalah seorang yang merukunkan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur persahabatan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam kerukunan, pengucap kata-kata yang menciptakan kerukunan. Dengan meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk dalam batin, sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Dengan meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, mengatakan apa yang merupakan fakta, mengatakan apa yang baik, membicarakan Dhamma dan Disiplin; pada saat yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, yang logis, selayaknya, dan bermanfaat. Perilaku-perilaku ucapan demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya.’

7. “‘Perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perilaku pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku pikiran yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perilaku pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang bersifat tamak; ia tamak pada kekayaan dan kemakmuran orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang menjadi milik orang lain menjadi milikku!’ Atau ia memiliki pikiran permusuhan dan niat membenci [50] sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini dibunuh dan disembelih, semoga mereka dipotong, musnah, atau dibasmi!’ Perilaku-perilaku pikiran demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perilaku pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tidak tamak; ia tidak tamak terhadap kekayaan dan kemakmuran orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang menjadi milik orang lain menjadi milikku!’ Pikirannya tanpa permusuhan dan ia memiliki kehendak yang bebas dari kebencian sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini bebas dari pertentangan, penderitaan, dan ketakutan! Semoga mereka hidup berbahagia!’ Perilaku-perilaku pikiran demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’3

8. “‘Kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, kecenderungan pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat [51] dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi kecenderungan pikiran yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan kecenderungan pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tamak dan berdiam dengan pikiran penuh ketamakan; ia memiliki permusuhan dan berdiam dengan pikiran penuh permusuhan; ia kejam dan berdiam dengan pikiran penuh kekejaman.4 Kecenderungan pikiran demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan kecenderungan pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tidak tamak dan berdiam dengan pikiran terlepas dari ketamakan; ia tidak memiliki permusuhan dan berdiam dengan pikiran terlepas dari permusuhan; ia tidak kejam dan berdiam dengan pikiran terlepas dari kekejaman. Kecenderungan pikiran demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’

9. “‘Perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perolehan persepsi yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan persepsi yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perolehan persepsi yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tamak dan berdiam dengan persepsi penuh ketamakan; ia memiliki permusuhan dan berdiam dengan persepsi penuh permusuhan; ia kejam dan berdiam dengan persepsi penuh kekejaman. Perolehan persepsi demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perolehan persepsi yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tidak tamak dan berdiam dengan persepsi terlepas dari ketamakan; ia tidak memiliki permusuhan dan berdiam dengan persepsi terlepas dari permusuhan; ia tidak kejam dan berdiam dengan persepsi terlepas dari kekejaman. Perolehan persepsi demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah satu atau yang lainnya.’ [52]

10. “‘Perolehan pandangan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perolehan pandangan yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan pandangan yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perolehan pandangan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang menganut pandangan sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan, tidak ada yang dipersembahkan, tidak ada yang dikorbankan; tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain; tidak ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; tidak ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Perolehan pandangan demikian adalah penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perolehan pandangan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang menganut pandangan sebagai berikut: ‘Ada yang diberikan, ada yang dipersembahkan, ada yang dikorbankan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; ada dunia ini dan ada dunia lain; ada ibu dan ada ayah; ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Perolehan pandangan demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan pandangan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya.’

11. “‘Perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan:5 yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, [53] perolehan kepribadian yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan kepribadian yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perolehan kepribadian yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Ketika seseorang membentuk suatu perolehan kepribadian yang tunduk pada penderitaan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang dalam dirinya, menghalanginya dari pencapaian kesempurnaan.6

“Dan perolehan kepribadian yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Ketika seseorang membentuk suatu perolehan kepribadian yang bebas dari penderitaan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah dalam dirinya, memungkinkannya pencapaian kemuliaan.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang lainnya.’

12. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, seperti demikian.”

13. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut.

14-20. 54,55

21. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, harus dipahami demikian.

22. “Sariputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis, Aku katakan: [56] yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.7 Suara-suara yang dikenali oleh telinga ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Bau-bauan yang dikenali oleh hidung ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Objek sentuhan yang dikenali oleh badan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.”

23. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terprinci, sebagai berikut:

24. “‘Sāriputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis, Aku katakan: [56] yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Sāriputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

25. “‘Suara-suara yang dikenali oleh telinga ada dua jenis, Aku katakan’ …

26. “‘Bau-bauan yang dikenali oleh hidung ada dua jenis, Aku katakan’ … [57]

27. “‘Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ada dua jenis, Aku katakan’ …

28. “‘Objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan ada dua jenis, Aku katakan’ …

29. “‘Objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

30. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, seperti demikian.”

31. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut.

32-37. (Dalam paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari §§24-29, dengan penggantian kata seperlunya.)

38. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, harus dipahami demikian.

39. “Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Makanan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Tempat tinggal ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Desa ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Pemukiman ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Kota ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Wilayah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.” [59]

40. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut:

41. “‘Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: [56] yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, jubah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi jubah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

42. “‘Makanan ada dua jenis, Aku katakan’ …

43. “‘Tempat tinggal ada dua jenis, Aku katakan’ …

44. “‘Desa ada dua jenis, Aku katakan’ …

45. “‘Pemukiman ada dua jenis, Aku katakan’ …

46. “‘Kota ada dua jenis, Aku katakan’ …

47. “‘Wilayah ada dua jenis, Aku katakan’ …

48. “‘Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, [pergaulan dengan] orang-orang yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi [pergaulan dengan] orang-orang yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

49. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, seperti demikian.”

50. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut.

51-58. (Dalam paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari §§41-48, dengan penggantian kata seperlunya.) [60]

59. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, harus dipahami demikian.

60. “Sariputta, jika seluruh para mulia memahami makna secara terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama.8 Jika seluruh para brahmana … seluruh para pedagang … seluruh para pekerja memahami makna secara terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, memahami makna secara terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dunia ini untuk waktu yang lama.” [61]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Sāriputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Paragraf pertama ini sekadar memberikan “daftar isi” yang akan dijelaskan dalam batang tubuh sutta ini.
  2. Aññamaññaṁ. MA: kedua ini bersifat saling eksklusif, dan tidak ada cara untuk menganggapnya sebagai yang lain.
  3. Walaupun pandangan salah dan pandangan benar biasanya termasuk dalam perilaku pikiran, dalam sutta ini diperlihatkan secara terpisah dalam §10 sebagai “perolehan pandangan.”
  4. Sementara ketamakan dan permusuhan pada §7 memiliki kekuatan dari keseluruhan perbuatan (kammapatha), dalam bagian ini tentang kecenderungan pikiran (cittuppāda) diperlihatkan dalam tahap awal sebagai sekadar watak yang masih belum berkembang menjadi kehendak yang berkuasa.
  5. “Perolehan kepribadian” (attabhāvapaṭilābha) di sini merujuk pada cara kelahiran kembali.
  6. Apariniṭṭhitabhāvāya. Ungkapan ini mungkin khas pada sutta ini. MA mengemasnya menjadi bhavānaṁ apariniṭṭhitabhāvāya dan menjelaskan: ada empat cara keberadaan individu “yang tunduk pada penderitaan” (*sabyābajjhattabhāvā*). Yang pertama adalah kaum duniawi yang tidak mampu mencapai kesempurnaan kehidupan dalam kehidupan itu; baginya, sejak saat terlahir kembali, kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat bertambah dan kondisi-kondisi yang bermanfaat berkurang, dan ia menghasilkan suatu kepribadian yang disertai oleh penderitaan. Demikian pula pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, dan yang-tidak-kembali. Bahkan para yang-tidak-kembali masih belum meninggalkan ketagihan pada penjelmaan, dan dengan demikian masih belum mencapai kesempurnaan. Individu-individu [yang disebutkan di bawah dalam teks ini] yang memperoleh kehidupan pribadi “yang bebas dari penderitaan” (abyābajjhattabhāvā) adalah empat yang sama ketika mereka memasuki kehidupan terakhir di mana mereka mencapai Kearahattaan. Bahkan kaum duniawi dalam kehidupan terakhirnya mampu menyempurnakan kehidupannya, seperti halnya pembunuh berantai Angulimāla. Kehidupan mereka dikatakan bebas dari penderitaan, dan mereka dikatakan mencapai kesempurnaan.
  7. MA menunjukkan bahwa klausa “Bentuk-bentuk adalah salah satu atau yang lainnya” tidak digunakan di sini karena perbedaannya bukan terletak dalam objeknya melainkan dalam pendekatannya pada objek itu. Bagi seseorang nafsu dan kekotoran muncul terhadap suatu bentuk tertentu, tetapi orang lain mengembangkan kebosanan dan ketidak-terikatan sehubungan dengan bentuk yang sama.
  8. MA mengatakan bahwa mereka yang mempelajari teks dan komentar atas sutta ini tanpa berlatih sesuai sutta ini tidak dapat dikatakan “memahami makna terperinci.” Hanya mereka yang melatihnya yang dapat dikatakan demikian.