1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.1 Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Kuru di mana terdapat sebuah pemukiman Kuru bernama Kammāsadhamma. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, kenikmatan indria2 adalah tidak kekal, kosong, palsu, menipu; kenikmatan indria adalah ilusi, ocehan orang-orang dungu. Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, [262] persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah alam Māra, wilayah Māra, umpan Māra, tanah perburuan Māra. Oleh karenanya, kondisi-kondisi batin buruk yang tidak bermanfaat ini seperti ketamakan, permusuhan, dan anggapan muncul, dan merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang dalam latihan di sini.

3. “Di sana, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang … merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang dalam latihan di sini. Bagaimana jika aku berdiam dengan pikiran berlimpah dan luhur, setelah melampaui dunia dan bertekad kuat dalam pikiran.3 Ketika aku melakukan demikian, tidak akan ada kondisi-kondisi pikiran buruk yang tidak bermanfaat dalam diriku, dan dengan ditinggalkannya kondisi-kondisi pikiran buruk yang tidak bermanfaat itu maka pikiranku akan menjadi tidak terbatas, tidak terukur, dan terkembang dengan baik.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini.4 Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan.5 Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara pertama yang mengarah pada ketanpa-gangguan.

4. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut:6 ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang; apapun bentuk-bentuk materi [yang ada], segala bentuk materi adalah empat unsur utama dan bentuk materi yang diturunkan dari empat unsur utama.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke dua yang mengarah pada ketanpa-gangguan. [263]

5. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut:7 ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah tidak kekal. Apa yang tidak kekal adalah tidak layak disenangi, tidak layak disambut, tidak layak digenggam.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke tiga yang mengarah pada ketanpa-gangguan.

6. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut:8 ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, dan persepsi-persepsi ketanpa-gangguan – semuanya adalah persepsi. Di mana persepsi-persepsi ini lenyap tanpa sisa, yang damai, yang luhur, yaitu, landasan kekosongan.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke pertama yang mengarah pada landasan kekosongan.

7. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, mempertimbangkan sebagai berikut: ‘ini adalah kosong dari diri atau apa yang menjadi milik diri.’9 Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke dua yang mengarah pada landasan kekosongan.

8. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah sesuatu yang menjadi milik siapapun di manapun, [264] juga tidak ada apapun yang dimiliki olehku dalam diri siapapun di manapun.’10 Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke tiga yang mengarah pada landasan kekosongan.

6. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi-persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi-persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi ketanpa-gangguan dan persepsi landasan kekosongan – semuanya adalah persepsi. Di mana persepsi-persepsi ini lenyap tanpa sisa, yang damai, yang luhur, yaitu, landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara yang mengarah pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.”

10. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, di sini seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada, dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa yang ada, apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan.11 Yang Mulia, apakah bhikkhu itu mencapai Nibbāna?”

“Seorang bhikkhu di sini, Ānanda, mungkin mencapai Nibbāna, bhikkhu lainnya di sini mungkin tidak mencapai Nibbāna.”

“Apakah sebab dan alasannya, Yang Mulia, mengapa seorang bhikkhu di sini mungkin mencapai Nibbāna, sedangkan seorang bhikkhu lainnya di sini mungkin tidak mencapai Nibbāna?”

“Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada, dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa yang ada, [265] apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Ia bersenang di dalam keseimbangan itu, menyambutnya, dan terus-menerus menggenggamnya. Ketika ia melakukan itu, kesadarannya menjadi bergantung padanya dan melekat padanya. Seorang bhikkhu yang melekat, Ānanda, tidak mencapai Nibbāna.”12

11. “Tetapi, Yang Mulia, ketika bhikkhu itu melekat, pada apakah ia melekat?”

“Pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, Ānanda.”

“Ketika bhikkhu itu melekat, Yang Mulia, tampaknya ia melekat pada [objek] kemelekatan yang terbaik.”

“Ketika bhikkhu itu melekat, Ānanda, ia melekat pada [objek] kemelekatan yang terbaik; karena ini adalah [objek] kemelekatan yang terbaik, yaitu, landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.13

12. “Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada, dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa yang ada, apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Ia tidak bersenang di dalam keseimbangan itu, tidak menyambutnya, dan tidak terus-menerus menggenggamnya. Karena ia tidak melakukan itu, kesadarannya menjadi tidak bergantung padanya dan tidak melekat padanya. Seorang bhikkhu yang tidak melekat, Ānanda, mencapai Nibbāna.”

13. “Mengagumkan, Yang Mulia, menakjubkan! Sang Bhagavā, sungguh, telah menjelaskan kepada kami cara menyeberangi banjir dengan bergantung pada dukungan seseorang atau orang lainnya.14 Tetapi, Yang Mulia, apakah pembebasan mulia?”15

“Di sini, Ānanda, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi-persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi-persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi ketanpa-gangguan, persepsi landasan kekosongan, dan persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi – ini adalah identitas sejauh jangkauan identitas.16 Ini adalah Tanpa-Kematian, yaitu, kebebasan pikiran melalui ketidak-melekatan.’17

14. “Demikianlah, Ānanda, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada ketanpa-gangguan, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada landasan kekosongan, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, Aku telah mengajarkan menyeberangi banjir dengan bergantung pada dukungan seseorang atau orang lainnya, Aku telah mengajarkan pembebasan mulia.

15. “Apa yang seharusnya dilakukan bagi para siswanya demi belas kasih oleh seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan dan memiliki belas kasih terhadap mereka, [266] telah Aku lakukan untukmu, Ānanda. Ada bawah pepohonan ini, gubuk-gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Ānanda, jangan menunda, agar engkau tidak menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi Kami kepadamu.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Baca n.1000. Di sini juga, kata “ketanpa-gangguan” tampaknya hanya merujuk pada jhāna ke empat dan dua pencapaian tanpa materi yang lebih rendah.
  2. MA mengatakan yang dimaksudkan adalah objek kenikmatan indria dan objek kekotoran indria.
  3. MA mengemas: “setelah melampaui alam-indria dan setelah bertekad dalam pikiran dengan jhāna sebagai objeknya.”
  4. MA menjelaskan frasa “pikirannya memperoleh keyakinan dalam landasan ini” berarti bahwa ia mencapai pandangan terang yang ditujukan pada pencapaian Kearahattaan atau akses pada jhāna ke empat. Jika ia mencapai akses pada jhāna ke empat, ini menjadi landasannya untuk mencapai “ketanpa-gangguan,” yaitu, jhāna ke empat itu sendiri. Tetapi jika ia memperoleh pandangan terang, maka “ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan” dengan memperdalam pandangan terang untuk mencapai Kearahattaan. Ungkapan “tekad dengan kebijaksanaan” dapat menjelaskan mengapa ada begitu banyak bagian-bagian berikutnya dari sutta ini, walaupun yang memuncak pada pencapaian sepanjang skala konsentrasi, diungkapkan dalam frasa yang sesuai bagi pengembangan pandangan terang.
  5. MA menjelaskan bahwa paragraf ini menjelaskan proses kelahiran kembali dari seseorang yang tidak mampu mencapai Kearahattaan setelah mencapai jhāna ke empat. “Kesadaran yang berkembang” (saṁvattanikaṁ viññāṇaṁ) adalah kesadaran hasil yang dengannya seseorang terlahir kembali, dan ini memiliki sifat ketanpa-gangguan yang sama dengan kesadaran formatif secara kamma yang dicapai pada jhāna ke empat. Karena kesadaran jhāna ke empat yang menentukan kelahiran kembali, orang ini akan terlahir kembali dalam satu alam luhur yang bersesuaian dengan jhāna ke empat.
  6. MA mengatakan bahwa ini adalah perenungan dari seseorang yang telah mencapai jhāna ke empat. Karena ia memasukkan bentuk materi di antara hal-hal yang harus dilampaui, jika ia mencapai ketanpa-gangguan maka ia mencapai landasan ruang tanpa batas, dan jika ia tidak mencapai Kearahattaan maka ia terlahir kembali di alam ruang tanpa batas.
  7. MA mengatakan bahwa ini adalah perenungan dari seseorang yang telah mencapai landasan ruang tanpa batas. Jika ia mencapai ketanpa-gangguan, maka ia mencapai landasan kesadaran tanpa batas dan ia terlahir kembali di alam itu jika ia tidak mencapai Kearahattaan.
  8. Ini adalah perenungan dari seseorang yang telah mencapai landasan kesadaran tanpa batas dan bertujuan untuk mencapai landasan kekosongan.
  9. MA menyebutkan ini sebagai kekosongan dua sisi – ketiadaan “aku” dan “milikku” – dan mengatakan bahwa ajaran landasan kekosongan ini dijelaskan lebih melalui pendangan terang daripada konsentrasi, pendekatan ini digunakan pada bagian sebelumnya. Pada MN 43.33, perenungan ini dikatakan mengarah menuju kebebasan pikiran melalui kehampaan.
  10. MA menyebut ini sebagai kehampaan empat sisi dan menjelaskan sebagai berikut: (i) ia tidak melihat dirinya di manapun; (ii) ia tidak melihat dirinya sendiri yang dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat dimiliki oleh orang lain, misalnya, saudara, teman, pelayan, dan sebagainya; (iii) ia tidak melihat diri orang lain; (iv) ia tidak melihat diri orang lain yang dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang dimilikinya. Terdapat catatan dalam Ms oleh Ñm: “Ungkapan-ungkapan ini [dalam paragraf ini dan paragraf berikutnya] sepertinya adalah slogan atau penggambaran stereotip dari pencapaian kekosongan dan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, terutama bagi non-Buddhis, dan kadang-kadang digunakan sebagai landasan bagi pandangan jasmani-yang-ada [=identitas].” Baca catatan 19 pada Vsm XXI, 53 oleh Ñm untuk pembahasan lebih lanjut dan referensi lainnya.
  11. MA mengemas: “Jika lingkaran kamma belum terakumulasi olehku, maka sekarang tidak ada bagiku lingkaran akibat; jika lingkaran kamma tidak terakumulasi olehku sekarang, maka di masa depan tidak akan ada lingkaran akibat.” “Apa yang ada, apa yang telah terjadi” adalah kelima kelompok unsur kehidupan. Bagian pertama dari formula ini sekali lagi tampaknya adalah formulasi singkat dari pandangan yang dianut oleh non-Buddhis. Beberapa sutta mengidentifikasikan ini sebagai suatu ungkapan bagi pandangan pemusnahan, yang diadaptasi oleh Sang Buddha dengan memberikan makna baru. Untuk kemunculan formula ini di tempat lainnya, baca SN iii.55-56, 99, 183, 206; AN iv.69-72, v.63.

    MA mengatakan bahwa ia memperoleh keseimbangan pandangan terang, tetapi dari §11 sepertinya bahwa yang dimaksudkan adalah juga keseimbangan dari landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.

  12. Terdapat permainan kata di sini yang tidak dapat dengan sempurna dipadankan dalam terjemahan. Kata kerja parinibbāyati, diterjemahkan “mencapai Nibbāna,” juga berlaku pada padamnya api. Dengan demikian pencapaian Nibbāna adalah “padamnya” api nafsu, kebencian, dan delusi. Upādāna, “kemelekatan,” juga disebut sebagai bahan bakar yang dibutuhkan oleh api itu. Demikianlah kesadaran berlanjut dalam lingkaran kelahiran kembali selama disokong oleh bahan bakar kemelekatan. Ketika kekotoran-kekotoran padam, maka tidak ada lagi bahan bakar bagi kesadaran yang dapat dibakar, dan dengan demikian bhikkhu yang tanpa kemelekatan “padam” oleh pencapaian Nibbāna. Demikianlah bahan bakar paling halus, yaitu objek kemelekatan yang paling halus (seperti yang diperlihatkan dalam percakapan berikutnya), adalah landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.
  13. MA: Ini dikatakan dengan merujuk pada kelahiran kembali dari seseorang yang mencapai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Artinya adalah bahwa ia terlahir kembali dalam alam kehidupan yang terbaik, tertinggi.
  14. Nissāya nissāya oghassa nittharaṇā. MA: Sang Buddha telah menjelaskan menyeberangi banjir bagi seorang bhikkhu yang menggunakan segala pencapaian dari jhāna ke tiga hingga pencapaian tanpa materi ke empat sebagai landasan (untuk mencapai Kearahattaan).
  15. MA: Pertanyaan Ānanda dimaksudkan untuk mendapatkan penjelasan dari Sang Buddha tentang praktik dari meditator pandangan terang tanpa jhāna (sukkhavipassaka), yang mencapai Kearahattaan tanpa bergantung pada pencapaian jhāna.
  16. Esa sakkāyo yāvatā sakkāyo. MA: ini adalah identitas pribadi secara keseluruhan – lingkaran tiga alam kehidupan; tidak ada identitas pribadi di luar ini.
  17. MA mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah Kearahattaan dari meditator pendangan terang tanpa jhāna. MṬ menambahkan bahwa Kearahattaan disebut “Tanpa-Kematian” karena memiliki rasa Tanpa-Kematian, karena dicapai dengan berlandaskan Nibbāna Tanpa-Kematian.