1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Taman Timur, di Istana ibunya Migāra, bersama dengan banyak siswa senior terkenal – Yang Mulia Sāriputta, Yang Mulia Mahā Moggallāna, Yang Mulia Mahā Kassapa, Yang Mulia Mahā Kaccāna, Yang Mulia Mahā Koṭṭhita, Yang Mulia Mahā Kappina, Yang Mulia Mahā Cunda, [79] Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Revata, Yang Mulia Ānanda, dan para siswa senior terkenal lainnya.

2. Pada saat itu para bhikkhu senior sedang mengajar dan memberikan instruksi kepada para bhikkhu baru; beberapa bhikkhu senior sedang mengajar dan memberikan instruksi kepada sepuluh bhikkhu, beberapa bhikkhu senior sedang mengajar dan memberikan instruksi kepada dua puluh bhikkhu … tiga puluh … empat puluh bhikkhu. Dan para bhikkhu baru itu, setelah diajari dan diberikan instruksi oleh para bhikkhu senior, telah mencapai tingkat-tingkat keluhuran tinggi berturut-turut.

3. Pada saat itu – hari Uposatha tanggal lima belas, pada malam purnama dalam upacara Pavāraṇā1 - Sang Bhagavā duduk di ruang terbuka dikelilingi oleh Sangha para bhikkhu. Kemudian, sambil mengamati keheningan Sangha para bhikkhu, Beliau berkata sebagai berikut:

4. “Para bhikkhu, Aku puas dengan kemajuan ini. PikiranKu puas dengan kemajuan ini. Maka bangkitkanlah lebih banyak kegigihan lagi untuk mencapai yang belum tercapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk menembus apa yang belum ditembus. Aku akan tetap berada di sini di Sāvatthī hingga bulan purnama Komudī di bulan ke empat.”2

5. Para bhikkhu dari luar kota mendengar: “Sang Bhagavā akan tetap berada di Sāvatthī hingga bulan purnama Komudī di bulan ke empat.” Dan para bhikkhu dari luar kota datang ke Sāvatthī untuk menemui Sang Bhagavā.

6. Dan para bhikkhu senior semakin intensif mengajar dan memberikan instruksi kepada para bhikkhu baru; beberapa bhikkhu senior mengajar dan memberikan instruksi kepada sepuluh bhikkhu, beberapa bhikkhu senior mengajar dan memberikan instruksi kepada dua puluh bhikkhu … tiga puluh … empat puluh bhikkhu. Dan para bhikkhu baru itu, setelah diajari dan diberikan instruksi oleh para bhikkhu senior, [80] mencapai tingkat-tingkat keluhuran tinggi berturut-turut.

7. Pada saat itu – hari Uposatha tanggal lima belas, pada malam purnama Komudī di bulan ke empat - Sang Bhagavā duduk di ruang terbuka dikelilingi oleh Sangha para bhikkhu. Kemudian, sambil mengamati keheningan Sangha para bhikkhu, Beliau berkata sebagai berikut:

8. “Para bhikkhu, kelompok ini bebas dari obrolan, kelompok ini bebas dari para pengoceh. Murni terdiri dari hanya inti kayu. Demikianlah Sangha para bhikkhu, demikianlah kelompok ini. Kelompok yang demikian adalah layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada bandingnya di dunia ini – demikianlah Sangha para bhikkhu, demikianlah kelompok ini. Kelompok yang sedemikian sehingga pemberian kecil yang diberikan kepada kelompok itu akan menjadi besar dan pemberian besar menjadi lebih besar – demikianlah Sangha para bhikkhu, demikianlah kelompok ini. Kelompok yang sedemikian yang jarang terlihat di dunia ini – demikianlah Sangha para bhikkhu, demikianlah kelompok ini. Kelompok yang sedemikian sehingga layak menempuh perjalanan sejauh banyak liga dengan membawa tas perjalanan untuk menemuinya – demikianlah Sangha para bhikkhu, demikianlah kelompok ini.

9. “Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang adalah para Arahant dengan noda-noda dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan mereka, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir – para bhikkhu demikian ada dalam Sangha para bhikkhu ini.

10. “Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang, dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, akan muncul kembali secara spontan [di Alam Murni] dan di sana mencapai Nibbāna akhir, tanpa pernah kembali dari alam itu - para bhikkhu demikian ada dalam Sangha para bhikkhu ini.

11. “Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang, dengan hancurnya tiga belenggu yang lebih rendah dan dengan melemahnya nafsu, kebencian, dan delusi, telah menjadi yang-kembali-sekali, hanya kembali satu kali ke alam ini [81] untuk mengakhiri penderitaan - para bhikkhu demikian ada dalam Sangha para bhikkhu ini.

12. “Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang, dengan hancurnya tiga belenggu yang lebih rendah, adalah para pemasuk-arus, tidak mungkin lagi jatuh ke dalam kesengsaraan, pasti [mencapai kebebasan], mengarah menuju pencerahan - para bhikkhu demikian ada dalam Sangha para bhikkhu ini.

13. “Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang berdiam dengan menekuni pengembangan empat landasan perhatian - para bhikkhu demikian ada dalam Sangha para bhikkhu ini. Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang berdiam dengan menekuni empat jenis usaha benar … empat landasan kekuatan batin … lima indria … lima kekuatan … tujuh faktor pencerahan … Jalan Mulia Berunsur Delapan - para bhikkhu demikian ada dalam Sangha para bhikkhu ini.

14. “Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang berdiam dengan menekuni pengembangan cinta-kasih [82] … belas kasih … kegembiraan altruistik … keseimbangan … meditasi kejijikan … persepsi ketidak-kekalan - para bhikkhu demikian ada dalam Sangha para bhikkhu ini. Dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang berdiam dengan menekuni pengembangan perhatian pada pernafasan.

15. “Para bhikkhu, ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, maka hal itu berbuah besar dan bermanfaat besar. Ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, maka hal itu memenuhi empat landasan perhatian. Ketika empat landasan perhatian dikembangkan dan dilatih, maka hal itu memenuhi tujuh faktor pencerahan. Ketika tujuh faktor pencerahan dikembangkan dan dilatih, maka hal itu memenuhi pengetahuan sejati dan kebebasan.

16. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, sehingga berbuah besar dan bermanfaat besar?

17. “Di sini seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya, dengan penuh perhatian ia menarik nafas, penuh perhatian ia mengembuskan nafas.

18. “Menarik nafas panjang, ia memahami:3 ‘Aku menarik nafas panjang’; atau mengembuskan nafas panjang, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas panjang.’ Menarik nafas pendek, ia memahami: ‘Aku menarik nafas pendek’; atau mengembuskan nafas pendek, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas pendek.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami seluruh tubuh [nafas]’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami seluruh tubuh [nafas].’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani.’

19. “Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami sukacita; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami sukacita.’4 Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami kenikmatan’; [83] ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami kenikmatan.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami bentukan batin; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami bentukan batin.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan batin’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan batin.’5

20. “Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami pikiran’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami pikiran.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menggembirakan pikiran’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menggembirakan pikiran.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengonsentrasikan pikiran’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengonsentrasikan pikiran.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan membebaskan pikiran’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan membebaskan pikiran.’6

21. “Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan merenungkan ketidak-kekalan’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan ketidak-kekalan.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan merenungkan peluruhan’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan peluruhan.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan merenungkan lenyapnya’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan lenyapnya.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan merenungkan lepasnya’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan lepasnya.’7

22. “Para bhikkhu, itu adalah bagaimana perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, sehingga berbuah besar dan bermanfaat besar.

23. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, perhatian pada pernafasan, dikembangkan dan dilatih, sehingga memenuhi empat landasan perhatian?

24. “Para bhikkhu, kapanpun seorang bhikkhu, dengan menarik nafas panjang, memahami: ‘Aku menarik nafas panjang,’ atau dengan mengembuskan nafas panjang, memahami: ‘Aku mengembuskan nafas panjang’; dengan menarik nafas pendek, memahami: ‘Aku menarik nafas pendek,’ atau dengan mengembuskan nafas pendek, memahami: ‘Aku mengembuskan nafas pendek’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami seluruh tubuh [nafas]; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami seluruh tubuh [nafas]’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’ – pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Aku katakan bahwa ini adalah suatu tubuh tertentu di antara tubuh-tubuh, yaitu nafas-masuk dan nafas-keluar.8 Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.

25. “Para bhikkhu, kapanpun [84] seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami sukacita’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami sukacita’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami kenikmatan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami kenikmatan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami bentukan batin’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami bentukan batin’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan batin’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan batin’ – pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Aku katakan bahwa ini adalah suatu perasaan tertentu di antara perasaan-perasaan, yaitu mengamati dengan saksama pada nafas-masuk dan nafas-keluar.9 Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.

26. “Para bhikkhu, kapanpun seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas panjang dengan mengalami pikiran’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami pikiran’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menggembirakan pikiran’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menggembirakan pikiran’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengonsentrasikan pikiran’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengonsentrasikan pikiran’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan membebaskan pikiran’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan membebaskan pikiran’ – pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Aku tidak mengatakan bahwa ada pengembangan perhatian pada pernafasan pada seseorang yang lengah, yang tidak penuh kewaspadaan. Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.10

27. “Para bhikkhu, kapanpun seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas panjang dengan merenungkan ketidak-kekalan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan ketidak-kekalan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan merenungkan peluruhan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan peluruhan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan merenungkan lenyapnya’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan lenyapnya’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan merenungkan lepasnya’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan merenungkan lepasnya’ – pada saat itu ia berdiam dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Setelah melihat dengan kebijaksanaan pada ditinggalkannya ketamakan dan kesedihan, [85] ia mengamati secara saksama dengan keseimbangan.11 Itulah sebabnya maka pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.

28. “Para bhikkhu, itu adalah bagaimana perhatian pada pernafasan, yang dikembangkan dan dilatih, memenuhi empat landasan perhatian.

29. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, empat landasan perhatian, dikembangkan dan dilatih, memenuhi tujuh faktor pencerahan?

30. “Para bhikkhu, kapanpun seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia - pada saat itu perhatian yang tanpa mengendur ditegakkan dalam dirinya. Kapanpun perhatian yang tanpa mengendur ditegakkan dalam diri seorang bhikkhu – pada saat itu faktor pencerahan perhatian muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

31. “Dengan berdiam penuh perhatian demikian, ia menyelidiki dan memeriksa kondisi itu dengan kebijaksanaan dan memulai penyelidikan penuh ke dalamnya. Kapanpun, dengan berdiam penuh perhatian demikian, ia menyelidiki dan memeriksa kondisi itu dengan kebijaksanaan dan memulai penyelidikan penuh ke dalamnya - pada saat itu faktor pencerahan penyelidikan kondisi-kondisi muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

32. “Dalam diri seseorang yang menyelidiki dan memeriksa kondisi itu dengan kebijaksanaan dan memulai penyelidikan penuh ke dalamnya, maka kegigihan tanpa lelah dibangkitkan. Kapanpun kegigihan tanpa lelah dibangkitkan dalam diri seorang bhikkhu yang menyelidiki dan memeriksa kondisi itu dengan kebijaksanaan dan memulai penyelidikan penuh ke dalamnya - pada saat itu faktor pencerahan kegigihan muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

33. “Dalam diri seseorang yang memiliki kegigihan yang terbangkitkan, sukacita yang bukan duniawi muncul. Kapanpun sukacita yang bukan duniawi muncul dalam diri seorang bhikkhu yang telah membangkitkan kegigihan – [86] pada saat itu faktor pencerahan sukacita muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

34. “Dalam diri seseorang yang bersukacita, jasmani dan pikiran menjadi tenang. Kapanpun jasmani dan pikiran menjadi tenang dalam diri seorang bhikkhu yang bersukacita - pada saat itu faktor pencerahan ketenangan muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

35. “Dalam diri seseorang yang jasmaninya tenang dan yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi. Kapanpun pikiran terkonsentrasi dalam diri seorang bhikkhu yang jasmaninya tenang dan yang merasakan kenikmatan - pada saat itu faktor pencerahan konsentrasi muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

36. “Ia secara saksama memperhatikan dengan keseimbangan pada pikiran yang terkonsentrasi demikian. Kapanpun seorang bhikkhu secara saksama memperhatikan dengan keseimbangan pada pikiran yang terkonsentrasi demikian - pada saat itu faktor pencerahan keseimbangan muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

37. “Para bhikkhu, kapanpun seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia … (ulangi seperti pada §§30-36) … faktor pencerahan keseimbangan muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

38. “Para bhikkhu, kapanpun seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia … (ulangi seperti pada §§30-36) … faktor pencerahan keseimbangan muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

39. “Para bhikkhu, kapanpun seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia … (ulangi seperti pada §§30-36) … [87] … faktor pencerahan keseimbangan muncul dalam dirinya, dan ia mengembangkannya, dan melalui pengembangan, menjadi terpenuhi dalam dirinya.

40. “Para bhikkhu, itu adalah bagaimana empat landasan perhatian, yang dikembangkan dan dilatih, memenuhi tujuh faktor pencerahan.12 [88]

41. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, tujuh faktor pencerahan, yang dikembangkan dan dilatih, memenuhi pengetahuan sejati dan kebebasan?

42. “Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengembangkan faktor pencerahan perhatian, yang didukung oleh keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, dan matang dalam pelepasan.13 Ia mengembangkan faktor pencerahan penyelidikan kondisi-kondisi … faktor pencerahan kegigihan … faktor pencerahan sukacita … faktor pencerahan ketenangan … faktor pencerahan konsentrasi … faktor pencerahan keseimbangan, yang didukung oleh keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, dan matang dalam pelepasan.

43. “Para bhikkhu, itu adalah bagaimana tujuh faktor pencerahan, yang dikembangkan dan dilatih, memenuhi pengetahuan sejati dan kebebasan.”14

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Pavāraṇā adalah upacara yang menutup masa vassa, yang mana masing-masing bhikkhu mengundang semua bhikkhu lainnya untuk menegurnya atas pelanggaran-pelanggarannya.
  2. Komudī adalah hari purnama di bulan Kattika, bulan ke empat musim hujan; disebut dengan nama ini karena bunga lily (kumuda) dikatakan mekar pada masa itu.
  3. Catatan penjelasan untuk tetrad pertama terdapat pada nn.140-142. MN 10.4 berbeda dengan paragraf ini hanya dalam hal penambahan perumpamaan. Karena Ācariya Buddhaghosa telah memberikan komentar atas empat tetrad tentang perhatian pada pernafasan ini dalam Visuddhimagga, dalam MA ia hanya sekadar merujuk para pembaca kepada Visuddhimagga untuk penjelasan itu. Catatan-catatan 1118-21 ditarik dari Vsm VIII, 226-37, juga dimasukkan oleh Ñm dalam Mindfulness of Breathing.
  4. Seseorang mengalami sukacita dalam dua cara: dengan mencapai salah satu dari dua jhāna yang lebih rendah yang mana terdapat sukacita, ia mengalami sukacita dalam modus ketenangan; dengan keluar dari jhāna itu dan merenungkan bahwa sukacita itu tunduk pada kehancuran, ia mengalami sukacita dalam modus pandangan terang.
  5. Metode penjelasan yang sama seperti dalam n.1118 berlaku pada klausa ke dua dan ke tiga, kecuali bahwa pada yang ke dua terdiri dari ketiga jhāna yang lebih rendah, dan yang ke tiga terdiri dari seluruh empat jhāna. Bentukan batin adalah persepsi dan perasaan (baca MN 44.14), yang ditenangkan melalui pengembangan tingkat-tingkat ketenangan dan pandangan terang yang lebih tinggi secara berturut-turut.
  6. “Mengalami pikiran” harus dipahami melalui empat jhāna. “Menggembirakan pikiran” dijelaskan sebagai pencapaian dua jhāna yang mana terdapat sukacita atau sebagai penembusan jhāna-jhāna itu dengan pandangan terang sebagai tunduk pada kehancuran, dan seterusnya. “Mengonsentrasikan pikiran” merujuk pada konsentrasi yang berhubungan dengan jhāna atau pada konsentrasi saat-ke-saat yang muncul bersama dengan pandangan terang. “Membebaskan pikiran” berarti membebaskannya dari rintangan-rintangan dan faktor-faktor jhāna yang lebih kasar melalui tingkat-tingkat konsentrasi yang lebih tinggi secara berturut-turut, dan dari distorsi kognitif melalui pengetahuan pandangan terang.
  7. Tetrad ini seluruhnya membicarakan tentang pandangan terang, tidak seperti tiga sebelumnya, yang membicarakan baik tentang ketenangan maupun pandangan terang. “Merenungkan peluruhan” dan “merenungkan lenyapnya” dapat dipahami baik sebagai pandangan terang ke dalam ketidak-kekalan bentukan-bentukan maupun sebagai jalan lokuttara yang mencapai Nibbāna, yang disebut meluruhnya nafsu (yaitu, kebosanan, virāga) dan lenyapnya penderitaan. “Merenungkan lepasnya” adalah melepaskan kekotoran melalui pandangan terang dan memasuki Nibbāna melalui pencapaian sang jalan.
  8. MA: Nafas masuk-dan-keluar termasuk dalam unsur udara di antara empat unsur yang membentuk jasmani. Juga termasuk dalam landasan sentuhan di antara fenomena jasmani (karena objek perhatian adalah sensasi sentuhan nafas masuk dan keluar dari lubang hidung).
  9. MA menjelaskan bahwa pengamatan seksama (sādhuka manasikāra) bukanlah perasaan, tetapi dikatakan demikian hanya sebagai kiasan. Dalam tetrad ke dua perasaan yang sebenarnya adalah kenikmatan yang disebutkan pada klausa ke dua dan juga perasaan yang terdapat dalam ungkapan “bentukan batin” dalam klausa ke tiga dan ke empat.
  10. MA: Walaupun bhikkhu yang bermeditasi mengambil gambaran nafas masuk-dan-keluar sebagai objeknya, ia dikatakan sebagai “merenungkan pikiran sebagai pikiran” karena ia mempertahankan pikirannya pada objek dengan membangkitkan perhatian dan kewaspadaan penuh, dua faktor pikiran.
  11. MA: Ketamakan dan kesedihan menyiratkan kedua rintangan pertama, keinginan indria dan permusuhan, dan dengan demikian mewakili perenungan objek-objek pikiran, yang dimulai dengan lima rintangan. Bhikkhu itu melihat ditinggalkannya rintangan-rintangan yang dipengaruhi oleh perenungan ketidak-kekalan, peluruhan, lenyapnya, dan lepasnya, dan demikianlah kemudian mengamati objek dengan keseimbangan.
  12. MA mengatakan bahwa paragraf di atas menunjukkan faktor-faktor pencerahan yang muncul bersamaan dalam tiap-tiap momen-pikiran dalam praktik meditasi pandangan terang.
  13. Baca n.48.
  14. MA: Perhatian yang memahami nafas adalah lokiya; perhatian lokiya pada pernafasan menyempurnakan landasan perhatian lokiya; landasan perhatian lokiya menyempurnakan faktor-faktor pencerahan lokuttara; dan faktor-faktor pencerahan lokuttara menyempurnakan (atau memenuhi) pengetahuan sejati dan kebebasan, yaitu, buah dan Nibbāna.