1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Mangga milik Jīvaka Komārabhacca.1

2. Kemudian Jīvaka Komārabhacca mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

3. “Yang Mulia, aku telah mendengar ini: ‘Mereka menyembelih makhluk-makhluk hidup untuk Petapa Gotama; Petapa Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan untukNya dari binatang-binatang yang dibunuh untuk Beliau.’ Yang Mulia, apakah mereka yang mengatakan demikian mengatakan apa yang telah diucapkan oleh Sang Bhagavā; dan tidak salah memahami Beliau dengan apa yang berlawanan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai dengan Dhamma sedemikian sehingga tidak memberikan landasan bagi celaan yang dapat dengan benar disimpulkan dari pernyataan mereka?” [369]

4. “Jīvaka, mereka yang mengatakan demikian tidak mengatakan apa yang telah Kuucapkan, melainkan salah memahamiKu dengan apa yang tidak benar dan berlawanan dengan fakta.

5. “Jīvaka, Aku katakan bahwa ada tiga kasus yang mana daging seharusnya tidak dimakan; jika terlihat, terdengar, atau dicurigai [bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya]. Aku katakan bahwa daging seharusnya tidak dimakan dalam ketiga kasus ini. Aku katakan bahwa ada tiga kasus yang mana daging boleh dimakan; jika tidak terlihat, tidak terdengar, dan tidak dicurigai [bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya]. Aku katakan bahwa daging boleh dimakan dalam ketiga kasus ini.2

6. “Di sini, Jīvaka, seorang bhikkhu hidup dengan bergantung pada suatu desa atau pemukiman tertentu. Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh cinta kasih, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Kemudian seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga mendatanginya dan mengundangnya untuk makan keesokan harinya. Bhikkhu itu menerimanya, jika ia menginginkannya. Ketika malam berlalu, pada pagi harinya, ia merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi ke rumah perumah-tangga atau putera perumah-tangga itu dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian perumah-tangga atau putera perumah-tangga itu melayaninya dengan makanan-makanan yang baik. Ia tidak berpikir: ‘Betapa baiknya perumah tangga atau putera perumah tangga itu melayaniku dengan makanan-makanan yang baik. Seandainya seorang perumah tangga atau putera perumah-tangga dapat melayaniku dengan makanan-makanan yang baik di masa depan!’ Ia tidak berpikir demikian. Ia memakan makanan itu tanpa terikat pada makanan itu, tanpa tergila-gila pada makanan itu, dan tanpa menyerah pada makanan itu, melihat bahaya di dalam makanan itu dan memahami jalan membebaskan diri dari makanan itu. Bagaimana menurutmu, Jīvaka? Apakah bhikkhu itu pada kesempatan itu memilih untuk menyusahkan dirinya sendiri atau menyusahkan orang lain, atau menyusahkan keduanya?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Apakah bhikkhu itu memelihara dirinya dengan makanan tanpa cacat pada saat itu?”

7. “Ya, Yang Mulia. Aku telah mendengar ini, Yang Mulia: ‘Brahmā berdiam dalam cinta kasih.’ Yang Mulia, Sang Bhagavā adalah bukti nyata akan hal itu; karena Sang Bhagavā berdiam dalam cinta kasih.”

“Jīvaka, nafsu apapun juga, [370] kebencian apapun juga, delusi apapun juga yang karenanya permusuhan dapat muncul, telah ditinggalkan oleh Sang Tathāgata, terpotong di akarnya, dibuat seperti tunggul pohon palem, telah disingkirkan sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan.3 Jika apa yang engkau katakan adalah merujuk pada hal itu, maka Aku menyetujuinya.”

“Yang Mulia, apa yang kukatakan adalah merujuk tepat pada hal itu.”

8-10. “Di sini, Jīvaka, seorang bhikkhu hidup dengan bergantung pada suatu desa atau pemukiman tertentu. Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas kasih … dengan pikiran penuh kegembiraan altruistik … dengan pikiran penuh keseimbangan, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh keseimbangan, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Kemudian seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga mendatanginya dan mengundangnya untuk makan keesokan harinya. Bhikkhu itu menerimanya, jika ia menginginkannya … Bagaimana menurutmu, Jīvaka? Apakah bhikkhu itu pada kesempatan itu memilih untuk menyusahkan dirinya sendiri atau menyusahkan orang lain, atau menyusahkan keduanya?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Apakah bhikkhu itu memelihara dirinya dengan makanan tanpa cacat pada kesempatan itu?”

11. “Ya, Yang Mulia. Aku telah mendengar ini, Yang Mulia: ‘Brahmā berdiam dalam keseimbangan.’ Yang Mulia, Sang Bhagavā adalah bukti nyata akan hal itu; karena Sang Bhagavā berdiam dalam keseimbangan.”

“Jīvaka, nafsu apapun juga, kebencian apapun juga, delusi apapun juga yang karenanya permusuhan dapat muncul telah ditinggalkan oleh Sang Tathāgata, terpotong di akarnya, dibuat seperti tunggul pohon palem, telah disingkirkan sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan.4 Jika apa yang engkau katakan adalah merujuk pada hal itu, maka Aku menyetujuinya.” [371]

“Yang Mulia, apa yang kukatakan adalah merujuk tepat pada hal itu.”

12. “Jika siapapun juga menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan tangkap makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus pertama yang mana ia menimbun banyak keburukan. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditarik dengan leher tercekik, ini adalah kasus ke dua yang mana ia menimbun banyak keburukan. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan sembelihlah makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus ke tiga yang mana ia menimbun banyak keburukan. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih, ini adalah kasus ke empat yang mana ia menimbun banyak keburukan. Ketika ia mempersembahkan makanan yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya, ini adalah kasus ke lima yang mana ia menimbun banyak keburukan. Siapapun juga yang menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus ini.”

13. Ketika hal ini dikatakan, Jīvaka Komārabhacca berkata kepada Sang Bhagavā: ”Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Para bhikkhu memelihara diri mereka dengan makanan-makanan yang diperbolehkan. Para bhikkhu memelihara diri mereka dengan makanan-makanan yang tanpa cacat. Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh mengagumkankan, Yang Mulia! … sejak hari ini sudilah Sang Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”5


Catatan Kaki
  1. Jīvaka adalah anak seorang pelacur, yang ditelantarkan. Ditemukan dan dibesarkan oleh Pangeran Abhaya, ia mempelajari ilmu pengobatan di Takkasilā dan belakangan ditunjuk sebagai tabib pribadi Sang Buddha, ia menjadi seorang pemasuk-arus setelah mendengarkan Sang Buddha mengajarkan Dhamma.
  2. Paragraf ini menyebutkan dengan jelas dan secara eksplisit aturan-aturan sehubungan dengan memakan daging yang ditetapkan oleh Sang Buddha kepada Sangha. Perhatikan bahwa Sang Buddha tidak menuntut agar para bhikkhu menjalankan pola makan vegetarian, melainkan memperbolehkan mereka memakan daging jika mereka yakin bahwa binatang itu tidak disembelih secara khusus untuk mereka makan. Daging seperti itu disebut tikoṭiparisuddha, “murni dalam tiga aspek,” karena tidak terlihat, tidak terdengar, atau tidak dicurigai berasal dari binatang yang disembelih khusus untuk bhikkhu tersebut. Peraturan untuk umat awam Buddhis menghindari pembunuhan juga melarangnya membunuh demi makanan. Tetapi tidak melarang membeli daging yang berasal dari binatang yang telah mati. Untuk lebih jelas mengenai hal ini baca Vin Mv Kh 6/i.237-38, dan I.B. Horner, Early Buddhism and the Taking of Life, pp. 20-26.
  3. Di sini Sang Buddha menunjukkan bahwa ia tidak sekedar berdiam dalam cinta kasih dengan menekan permusuhan melalui jhāna yang berdasarkan pada cinta kasih, seperti yang dilakukan oleh dewa Brahmā, melainkan telah melenyapkan akar permusuhan melalui pencapaian Kearahattaan.
  4. Kekejaman, ketidak-puasan, dan penolakan (vihesā, arati, paṭigha) adalah berturut-turut lawan dari belas kasih, kegembiraan altruistik, dan keseimbangan.
  5. Sangat mengherankan bahwa Jīvaka di sini menyatakan dirinya sebagai umat awam seolah-olah untuk pertama kalinya padahal ia telah mencapai tingkat memasuki-arus. Mungkin formula ini digunakan sebagai cara untuk menegaskan pengabdian seseorang pada Tiga Permata dan bukan terbatas pada pernyataan berlindung pertama kali.