1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nandikā di Rumah Bata.

2. Pada saat itu Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nandiya, dan Yang Mulia Kimbila sedang menetap di Taman Hutan pohon Sāla Gosinga.1

3. Kemudian, pada malam harinya, Sang Bhagavā bangkit dari meditasi dan pergi ke Taman Hutan pohon Sāla Gosinga. Dari jauh penjaga taman melihat kedatangan Sang Bhagavā dan berkata kepada Beliau: “Jangan memasuki taman ini, Petapa. Ada tiga anggota keluarga di sini mencari kebaikan mereka. Jangan mengganggu mereka.”

4. Yang Mulia Anuruddha mendengar penjaga taman itu berbicara dengan Sang Bhagavā dan memberitahunya: “Teman penjaga taman, jangan membiarkan Sang Bhagavā di luar. Beliau adalah Guru kami, Sang Bhagavā, yang telah datang.” Kemudian Yang Mulia Anuruddha mendatangi Yang Mulia Nandiya dan Yang Mulia Kimbila dan berkata: “Keluarlah, Yang Mulia, keluarlah! Guru kita, [206] Sang Bhagavā, telah datang.”

5. Kemudian ketiganya pergi menjumpai Sang Bhagavā. Satu orang mengambil mangkuk dan jubah luarNya, satu orang mempersiapkan tempat duduk, dan satu orang mengambil air untuk mencuci kaki. Sang Bhagavā duduk di tempat duduk yang telah disediakan dan mencuci kakiNya. Kemudian ketiga yang mulia itu bersujud pada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi. Ketika mereka telah duduk, Sang Bhagavā berkata kepada mereka: “Aku harap kalian semuanya dalam keadaan baik, Anuruddha, Aku harap kalian semuanya cukup nyaman, Aku harap kalian tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana makanan.”

“Kami dalam keadaan baik, Sang Bhagavā, kami cukup nyaman, dan kami tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana makanan.”

6. “Aku harap, Anuruddha, bahwa kalian hidup dalam kerukunan, saling menghargai, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dengan air, saling menatap dengan tatapan ramah.”

“Tentu saja, Yang Mulia, kami hidup dalam kerukunan, saling menghargai, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dengan air, saling menatap dengan tatapan ramah.”

“Tetapi, Anuruddha, bagaimanakah kalian hidup demikian?”

7. “Yang Mulia, sehubungan dengan hal itu, aku berpikir: ‘adalah suatu keuntungan bagiku, adalah keuntungan besar bagiku, bahwa aku hidup bersama dengan teman-teman demikian dalam kehidupan suci.’ Aku mempertahankan perbuatan jasmani cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi; Aku mempertahankan ucapan cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi; Aku mempertahankan pikiran cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi.2 Aku mempertimbangkan: ‘Mengapa Aku tidak [207] mengesampingkan apa yang ingin kulakukan dan melakukan apa yang para mulia ini ingin lakukan?’ Kemudian aku mengesampingkan apa yang ingin kulakukan dan melakukan apa yang para mulia ini ingin lakukan. Kami berbeda secara jasmani, Yang Mulia, tetapi kami satu dalam pikiran.”

Yang Mulia Nandiya dan Yang Mulia Kimbila masing-masing mengatakan hal yang sama, dan menambahkan: “Itu adalah bagaimana, Yang Mulia, kami hidup dalam kerukunan, saling menghargai, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dengan air, saling menatap dengan tatapan ramah.”

8. “Bagus, bagus, Anuruddha. Aku harap kalian semua berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

“Tentu saja, Yang Mulia, kami berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

“Tetapi, Anuruddha, bagaimanakah kalian berdiam demikian?”

9. “Yang Mulia, sehubungan dengan hal itu, siapapun dari kami yang kembali pertama kali dari desa dengan membawa dana makanan akan menyiapkan tempat duduk, menyediakan air minum dan air untuk mencuci, dan meletakkan tempat sampah di tempatnya. Siapapun dari kami yang kembali terakhir kali akan memakan makanan apapun yang tersisa, jika ia menginginkan; kalau tidak ia akan membuangnya di tempat di mana tidak ada tanaman atau membuangnya ke air yang mana tidak terdapat kehidupan. Ia menyingkirkan tempat duduk dan air minum dan air untuk mencuci. Ia menyimpan tempat sampah setelah mencucinya, dan ia menyapu ruang makan. Siapapun yang melihat kendi air minum, air untuk mencuci, atau kakus sudah hampir habis atau sudah habis maka ia akan melakukan apa yang harus ia lakukan. Jika terlalu berat baginya, maka ia akan memanggil seorang lainnya dengan isyarat tangan dan mereka bersama-sama memindahkannya, tetapi hal ini tidak membuat kami terlibat dalam percakapan. Tetapi setiap lima hari kami duduk bersama sepanjang malam mendiskusikan Dhamma. Itu adalah bagaimana kami berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

10. “Bagus, bagus, Anuruddha. Tetapi ketika kalian berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh demikian, apakah kalian telah mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, suatu kediaman yang menyenangkan?”

“Mengapa tidak, Yang Mulia? Di sini, Yang Mulia, kapanpun kami menghendaki, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat, kami masuk dan berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Yang Mulia, ini adalah kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, kediaman yang menyenangkan, yang kami capai ketika berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

11-13. “Bagus, bagus, Anuruddha. Tetapi adakah kondisi lainnya yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, kediaman yang menyenangkan, yang kalian capai dengan melampaui kediaman itu, [208] dengan meredakan kediaman itu?”

“Mengapa tidak, Yang Mulia? Di sini, Yang Mulia, kapanpun kami menghendaki, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, kami masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Dengan meluruhnya sukcita … kami masuk dan berdiam dalam jhāṅa ke tiga … Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan … kami masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat … Yang Mulia, ini adalah kondisi lain yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, yang kami capai dengan melampaui kediaman sebelumnya, dengan meredakan kediaman itu.”

14. “Bagus, bagus, Anuruddha. Tetapi adakah kondisi lainnya yang melampaui manusia … yang kalian capai dengan melampaui kediaman itu, dengan meredakan kediaman itu?”

“Mengapa tidak, Yang Mulia? Di sini, Yang Mulia, kapanpun kami menghendaki, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ [209] kami masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Yang Mulia, ini adalah kondisi lain yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, yang kami capai dengan melampaui kediaman sebelumnya, dengan meredakan kediaman itu.”

15-17. “Bagus, bagus, Anuruddha. Tetapi adakah kondisi lainnya yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, kediaman yang menyenangkan, yang kalian capai dengan melampaui kediaman itu, dengan meredakan kediaman itu?”

“Mengapa tidak, Yang Mulia? Di sini, Yang Mulia, kapanpun kami menghendaki, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ kami masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas … Dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ kami masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan … Dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, kami masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Yang Mulia, ini adalah kondisi lain yang melampaui manusia … yang kami capai dengan melampaui kediaman sebelumnya, dengan meredakan kediaman itu.”

18. “Bagus, bagus, Anuruddha. Tetapi adakah kondisi lainnya yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, kediaman yang menyenangkan, yang kalian capai dengan melampaui kediaman itu, dengan meredakan kediaman itu?”

“Mengapa tidak, Yang Mulia? Di sini, Yang Mulia, kapanpun kami menghendaki, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, kami masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. Dan noda-noda kami dihancurkan melalui penglihatan kami dengan kebijaksanaan. Yang Mulia, ini adalah kondisi lain yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, yang kami capai dengan melampaui kediaman sebelumnya, dengan meredakan kediaman itu. Dan, Yang Mulia, kami tidak melihat ada kediaman lain yang lebih menyenangkan atau lebih mulia daripada yang itu.”

“Bagus, bagus, Anuruddha. Tidak ada kediaman lain yang lebih menyenangkan atau lebih mulia daripada yang itu.”

19. Kemudian, ketika Sang Bhagavā telah memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nandiya, dan Yang Mulia Kimbila dengan khotbah Dhamma, Beliau bangkit dari duduknya dan pergi.

20. Setelah mereka menyertai Sang Bhagavā, hingga jarak tertentu dan kembali lagi, Yang Mulia [210] Nandiya dan Yang Mulia Kimbila bertanya kepada Yang Mulia Anuruddha: “Pernahkah kami melaporkan kepada Yang Mulia Anuruddha bahwa kami telah mencapai kediaman dan pencapaian itu yang oleh Yang Mulia Anuruddha, di hadapan Sang Bhagavā, katakan berkenaan dengan kami hingga pada hancurnya noda-noda?”

“Para Mulia tidak pernah melaporkan kepadaku bahwa mereka telah mencapai kediaman dan pencapaian itu. Namun dengan melingkupi pikiran para mulia dengan pikiranku, Aku mengetahui bahwa mereka telah mencapai kediaman dan pencapaian itu. Dan dewa juga telah melaporkan kepadaku: ‘Para mulia ini telah mencapai kediaman dan pencapaian itu.’ Maka aku mengatakannya ketika secara langsung ditanya oleh Sang Bhagavā.”

21. Kemudian Yakkha Dīgha Parajana3 mendatangi Sang Bhagavā. Setelah memberi hormat kepada Sang Bhagavā, ia berdiri di satu sisi dan berkata: “Adalah suatu keuntungan bagi penduduk Vajji, Yang Mulia, keuntungan besar bagi penduduk Vajji bahwa Sang Tathāgata, Yang Sempurna, dan Tercerahkan Sempurna, berdiam bersama mereka dan ketiga orang ini, Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nandiya, Yang Mulia Kimbila!” Mendengar seruan Yakkha Dīgha Parajana, para dewa bumi berseru: “Adalah suatu keuntungan bagi penduduk Vajji, Yang Mulia, keuntungan besar bagi penduduk Vajji bahwa Sang Tathāgata, Yang Sempurna, dan Tercerahkan Sempurna, berdiam bersama mereka dan ketiga orang ini, Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nandiya, Yang Mulia Kimbila!” Mendengar seruan para dewa bumi, para dewa dari alam surga Empat Raja Dewa … para dewa dari alam surga Tiga Puluh Tiga … para dewa Yāma … para dewa dari alam surga Tusita … para dewa yang bergembira dalam penciptaan … para dewa yang menguasai ciptaan para dewa lain … para dewa pengikut Brahmā berseru: “Adalah suatu keuntungan bagi penduduk Vajji, Yang Mulia, keuntungan besar bagi penduduk Vajji bahwa Sang Tathāgata, Yang Sempurna, dan Tercerahkan Sempurna, berdiam bersama mereka dan ketiga orang ini, Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nandiya, Yang Mulia Kimbila!” Demikianlah dalam sekejap, pada saat itu, para mulia itu dikenal hingga ke alam Brahmā.

22. [Sang Bhagavā berkata:] “Demikianlah, Dīgha, demikianlah! Dan jika suku dari mana ketiga orang itu meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah mengingat mereka dengan penuh keyakinan, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan suku itu untuk waktu yang lama. Dan jika para pengikut suku dari mana ketiga orang itu meninggalkan keduniawian [211] … desa dari mana mereka meninggalkan keduniawian … pemukiman dari mana mereka meninggalkan keduniawian … kota dari mana mereka meninggalkan keduniawian … negeri dari mana mereka meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah mengingat mereka dengan penuh keyakinan, maka hal itu akan mengarah pada menuju kesejahteraan dan kebahagiaan negeri itu untuk waktu yang lama. Jika semua para mulia mengingat ketiga orang ini dengan penuh keyakinan, maka hal itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan para mulia itu untuk waktu yang lama. Jika semua brahmana … semua pedagang … semua pekerja mengingat mereka dengan penuh keyakinan, maka hal itu akan mengarah menuju kesejahteraan dan kebahagiaan para pekerja itu untuk waktu yang lama. Jika dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā dan orang-orangnya, generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, mengingat mereka dengan penuh keyakinan, maka hal itu akan mengarah pada menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dunia untuk waktu yang lama. Lihatlah, Dīgha, bagaimana ketiga orang ini berlatih demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang, demi belas kasih pada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa dan manusia.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yakkha Dīgha Parajana merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


  1. YM. Anuruddha adalah saudara sepupu Sang Buddha; YM. Nandiya dan Kimbila adalah sahabat Anuruddha.
  2. Ini adalah tiga dari “enam prinsip kerukunan” yang dijelaskan dalam MN 48.6.
  3. MA mengidentifikasikan yakkha ini sebagai raja surgawi (devarāja) yang termasuk di antara dua puluh delapan pemimpin yakkha yang disebutkan pada DN 32.10/iii.205.