1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di negeri Kāsi bersama dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu. Di sana Beliau berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku menghindari makan di malam hari. Dengan melakukan demikian, Aku bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan Aku menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Marilah, para bhikkhu, hindarilah makan di malam hari. Dengan melakukan demikian, kalian juga akan bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan kalian akan menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman.”1

“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab.

3. Kemudian, ketika Sang Bhagavā mengembara secara bertahap di negeri Kāsi, akhirnya Beliau tiba di sebuah kota Kāsi bernama Kīṭāgiri. Di sana Beliau menetap di kota Kāsi ini, Kīṭāgiri.

4. Pada saat itu para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka sedang menetap di Kīṭāgiri.2 Kemudian sejumlah bhikkhu mendatangi mereka dan memberitahukan: “Teman-teman, Sang Bhagavā dan Sangha para bhikkhu sekarang menghindari makan di malam hari. Dengan melakukan demikian, mereka bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan mereka menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Marilah, teman-teman, hindarilah makan di malam hari. Dengan melakukan demikian, kalian juga akan bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan kalian akan menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman.” [474] Ketika hal ini dikatakan, para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka memberitahu mereka: “Teman-teman, kami makan di malam hari, di pagi hari, dan di siang hari, di luar batas waktu yang selayaknya. Dengan melakukan demikian, kami bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan kami menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Mengapa kami harus meninggalkan [manfaat] yang terlihat di sini dan saat ini untuk mengejar [manfaat yang harus dicapai di] masa depan? Kami akan makan di malam hari, di pagi hari, dan di siang hari, di luar batas waktu yang selayaknya.”

5. Karena para bhikkhu itu tidak mampu meyakinkan para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka, maka mereka menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan memberitahukan semua yang telah terjadi, dan menambahkan: “Yang Mulia, karena kami tidak mampu meyakinkan para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka, maka kami melaporkan persoalan ini kepada Sang Bhagavā.”

6. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada seorang bhikkhu sebagai berikut: “Pergilah, bhikkhu, beritahu para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka atas namaKu bahwa Sang Guru memanggil mereka.”

“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab, dan ia mendatangi para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka dan memberitahu mereka: “Sang Guru memanggil kalian, teman-teman.”

“Baik, Teman,” mereka menjawab, dan mereka menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata: “Para bhikkhu, benarkah bahwa ketika sejumlah bhikkhu mendatangi kalian dan memberitahukan: ‘Teman-teman, Sang Bhagavā dan Sangha para bhikkhu sekarang menghindari makan di malam hari … Marilah, teman-teman, hindarilah makan di malam hari [475] …,’ kalian memberitahu para bhikkhu itu: ‘Teman-teman, kami makan di malam hari … Mengapa kami harus meninggalkan [manfaat] yang terlihat di sini dan saat ini untuk mengejar [manfaat yang harus dicapai di] masa depan? Kami akan makan di malam hari, di pagi hari, dan di siang hari, di luar batas waktu yang selayaknya.’?” – “Benar, Yang Mulia.”

“Para bhikkhu, pernahkan kalian mengetahui Aku mengajarkan Dhamma dengan cara sebagai berikut: ‘Perasaan apapun yang dialami orang ini, apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah’?”3 – “Tidak, Yang Mulia.”

7. “Para bhikkhu, pernahkah kalian mengetahui Aku mengajarkan Dhamma dengan cara sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan tertentu yang menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang; tetapi ketika ia merasakan jenis perasaan lainnya yang menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah.4 Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan tertentu yang menyakitkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang; tetapi ketika ia merasakan jenis perasaan lainnya yang menyakitkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah. Di sini, seseorang merasakan jenis perasaan tertentu yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang; tetapi ketika ia merasakan jenis perasaan lainnya yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah’?” – “Benar, Yang Mulia.”

8. “Bagus, para bhikkhu.5 Dan jika tidak diketahui olehKu, tidak dilihat, tidak ditemukan, tidak dicapai, tidak disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan tertentu yang menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang,’ apakah selayaknya bagiKu, dengan tidak mengetahui hal itu, mengatakan: ‘Tinggalkan perasaan yang menyenangkan itu’?” – “Tidak, Yang Mulia.”

“Tetapi karena hal ini diketahui olehKu, dilihat, ditemukan, dicapai, disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan tertentu yang menyenangkan [476], maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang,’ maka oleh karena itu Aku mengatakan: ‘Tinggalkan perasaan yang menyenangkan itu.’

“Jika tidak diketahui olehKu, tidak dilihat, tidak ditemukan, tidak dicapai, tidak disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan lainnya yang menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah,’ apakah selayaknya bagiKu, dengan tidak mengetahui hal itu, mengatakan: ‘Masuk dan berdiamlah dalam perasaan yang menyenangkan itu’?” – “Tidak, Yang Mulia.”

“Tetapi karena hal ini diketahui olehKu, dilihat, ditemukan, dicapai, disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan lainnya yang menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah,’ maka oleh karena itu Aku mengatakan: ‘Masuk dan berdiamlah dalam perasaan yang menyenangkan itu.’

9. “Jika tidak diketahui olehKu … Tetapi karena diketahui olehKu … disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan tertentu yang menyakitkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang,’ maka oleh karena itu Aku mengatakan: ‘Tinggalkan perasaan yang menyakitkan itu.’

“Jika tidak diketahui olehKu … Tetapi karena diketahui olehKu … disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan lainnya yang menyakitkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah,’ maka oleh karena itu Aku mengatakan: ‘Masuk dan berdiamlah dalam perasaan yang menyakitkan itu.’

10. “Jika tidak diketahui olehKu … Tetapi karena diketahui olehKu … disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan tertentu yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang,’ maka oleh karena itu Aku mengatakan: ‘Tinggalkan perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan itu.’

“Jika tidak diketahui olehKu … Tetapi karena diketahui olehKu … disentuh melalui kebijaksanaan sebagai berikut: ‘Di sini, ketika seseorang merasakan jenis perasaan lainnya yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dalam dirinya dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah,’ maka oleh karena itu Aku mengatakan: [477] ‘Masuk dan berdiamlah dalam perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan itu.’

11. “Para bhikkhu, Aku tidak mengatakan tentang semua bhikkhu bahwa mereka masih harus melakukan tugas dengan tekun; juga aku tidak mengatakan tentang semua bhikkhu bahwa mereka tidak perlu melakukan apapun lagi dengan tekun.

12. “Aku tidak mengatakan tentang para bhikkhu yang adalah para Arahant dengan noda-noda dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir, bahwa mereka masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Mereka telah melakukan tugas mereka dengan tekun; mereka tidak lagi mampu menjadi lalai.

13. “Aku mengatakan tentang para bhikkhu yang dalam latihan yang lebih tinggi, yang pikirannnya belum mencapai tujuan, dan yang masih bercita-cita untuk mencapai keamanan tertinggi dari belenggu, bahwa mereka masih harus melakukan sesuatu dengan tekun. Mengapakah? Karena ketika mereka menggunakan tempat-tempat tinggal yang selayaknya dan bergaul dengan teman-teman baik dan memelihara indria-indria spiritual mereka, maka mereka dapat, dengan menembusnya untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan melihat buah ketekunan bagi para bhikkhu ini, Aku katakan bahwa mereka masih harus melakukan tugas dengan tekun.

14. “Para bhikkhu, terdapat tujuh jenis orang di dunia ini.6 Apakah tujuh ini? Mereka adalah: seorang yang-terbebaskan-dalam-kedua-cara, seorang yang-terbebaskan-melalui-kebijaksanaan, seorang saksi-tubuh, seorang yang-mencapai-pandangan, seorang yang-terbebaskan-melalui-keyakinan, seorang pengikut-Dhamma, dan seorang pengikut-keyakinan.

15. “Orang jenis apakah yang-terbebaskan-dalam-kedua-cara? Di sini seseorang menyentuh dengan tubuhnya dan berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, dan noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan. Orang jenis ini disebut seorang yang-terbebaskan-dalam-kedua-cara.7 Aku tidak mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Ia telah melakukan tugas mereka dengan tekun; ia tidak lagi mampu menjadi lalai.

16. “Orang jenis apakah yang-terbebaskan-melalui-kebijaksanaan? Di sini seseorang tidak menyentuh dengan tubuhnya dan tidak berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, tetapi noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan. Orang jenis ini disebut seorang yang-terbebaskan-melalui-kebijaksanaan.8 [478] Aku tidak mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Ia telah melakukan tugas mereka dengan tekun; ia tidak lagi mampu menjadi lalai.

17. “Orang jenis apakah yang adalah saksi-tubuh? Di sini seseorang menyentuh dengan tubuhnya dan berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, dan beberapa nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan. Orang jenis ini disebut seorang saksi-tubuh.9 Aku mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Karena ketika Yang Mulia itu menggunakan tempat-tempat tinggal yang selayaknya dan bergaul dengan teman-teman baik dan memelihara indria-indria spiritual mereka, maka ia dapat, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan melihat buah ketekunan bagi seorang bhikkhu demikian, Aku katakan bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun.

18. “Orang jenis apakah yang-mencapai-pandangan? Di sini seseorang tidak menyentuh dengan tubuhnya dan tidak berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, tetapi beberapa nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan, dan ia meninjau kembali dan memeriksa dengan kebijaksanaan ajaran-ajaran yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata. Orang jenis ini disebut seorang yang-mencapai-pandangan.10 Aku mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Karena ketika Yang Mulia itu … menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan melihat buah ketekunan bagi seorang bhikkhu demikian, Aku katakan bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun.

19. “Orang jenis apakah yang-terbebaskan-melalui-keyakinan? Di sini seseorang tidak menyentuh dengan tubuhnya dan tidak berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, tetapi beberapa nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan, dan keyakinannya tertanam, berakar, dan kokoh di dalam Sang Tathāgata. Orang jenis ini disebut seorang yang-terbebaskan-melalui-keyakinan.11 Aku mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Karena ketika Yang Mulia itu [479] … menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan melihat buah ketekunan bagi seorang bhikkhu demikian, Aku katakan bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun.

20. “Orang jenis apakah pengikut-Dhamma? Di sini seseorang tidak menyentuh dengan tubuhnya dan tidak berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, dan noda-nodanya tidak dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan, tetapi ajaran-ajaran itu yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata diterima olehnya setelah merenungkannya secukupnya dengan kebijaksanaan. Lebih jauh lagi, ia memiliki kualitas-kualitas ini: indria keyakinan, indria kegigihan, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan. Orang jenis ini disebut seorang pengikut-Dhamma.12 Aku mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Karena ketika Yang Mulia itu … menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan melihat buah ketekunan bagi seorang bhikkhu demikian, Aku katakan bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun.

21. “Orang jenis apakah pengikut-keyakinan? Di sini seseorang tidak menyentuh dengan tubuhnya dan tidak berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, dan noda-nodanya tidak dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan, namun ia memiliki keyakinan yang mencukupi di dalam Sang Tathāgata dan cinta kasih kepada Sang Tathāgata. Lebih jauh lagi, ia memiliki kualitas-kualitas ini: indria keyakinan, indria kegigihan, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan. Orang jenis ini disebut seorang pengikut-Keyakinan. Aku mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Karena ketika Yang Mulia itu menggunakan tempat-tempat tinggal yang selayaknya dan bergaul dengan teman-teman baik dan memelihara indria-indria spiritual mereka, maka ia dapat, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan melihat buah ketekunan bagi seorang bhikkhu demikian, Aku katakan bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun.

22. “Para bhikkhu, Aku tidak mengatakan bahwa pengetahuan akhir dicapai seketika. Sebaliknya, pengetahuan akhir dicapai dengan latihan secara bertahap, dengan praktik secara bertahap, dengan kemajuan secara bertahap. [480]

23. “Dan bagaimanakah pengetahuan akhir itu dicapai dengan latihan secara bertahap, dengan praktik secara bertahap, dengan kemajuan secara bertahap? Di sini seseorang yang berkeyakinan [pada seorang guru] mengunjungi gurunya; ketika ia mengunjungi sang guru, ia memberi penghormatan kepadanya, ia menyimaknya; seseorang yang menyimak mendengarkan Dhamma; setelah mendengarkan Dhamma, ia menghafalkannya; ia memeriksa makna dari ajaran-ajaran yang telah ia hafalkan; ketika ia memeriksa makna ajaran-ajaran itu, ia memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran itu; ketika ia telah memperoleh penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran itu, kemauan muncul dalam dirinya; ketika kemauan telah muncul, ia mengerahkan tekadnya; setelah mengerahkan tekadnya, ia menyelidiki; setelah menyelidiki ia berupaya; dengan berupaya dengan kokoh; dengan tubuhnya ia mencapai kebenaran tertinggi dan melihatnya dengan menembusnya dengan kebijaksanaan.13

24. “Tanpa keyakinan itu,14 para bhikkhu, dan tanpa kunjungan itu, dan tanpa penghormatan itu, dan tanpa menyimak, dan tanpa mendengarkan Dhamma, tanpa menghafalkan Dhamma, dan tanpa memeriksa makna, dan tanpa penerimaan melalui perenungan atas ajaran-ajaran, dan tanpa kemauan itu, dan tanpa pengerahan tekad, dan tanpa penyelidikan, dan tanpa upaya itu. Para bhikkhu, maka kalian telah tersesat; para bhikkhu, kalian telah mempraktikkan jalan yang salah. Berapa jauhkah, para bhikkhu, orang-orang sesat ini menyimpang dari Doktrin dan Disiplin ini?

25. “Para bhikkhu, terdapat pernyataan berfrasa empat, dan jika diucapkan maka seorang bijaksana akan dengan cepat memahaminya.15 Aku akan mengucapkannya untuk kalian, para bhikkhu, cobalah untuk memahaminya.”

“Yang Mulia, siapakah kami yang mampu memahami Dhamma itu?”

26. “Para bhikkhu, bahkan dengan seorang guru yang mengutamakan benda-benda materi, seorang pewaris dalam benda-benda materi, terikat pada benda-benda materi, tawar-menawar seperti ini [oleh para siswanya] adalah tidak selayaknya: ‘Jika kami mendapatkan ini, maka kami akan melakukannya; jika kami tidak mendapatkan ini, maka kami tidak akan melakukannya’; apalagi [jika sang guru adalah] Sang Tathāgata, yang sepenuhnya terlepas dari benda-benda materi?

27. “Para bhikkhu, bagi seorang siswa yang berkeyakinan yang sungguh-sungguh mempelajari Ajaran Sang Guru, adalah sewajarnya ia bersikap sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah Guru, aku adalah seorang siswa; Sang Bhagavā mengetahui, aku tidak mengetahui.’ Bagi seorang siswa yang berkeyakinan yang sungguh-sungguh mempelajari Ajaran Sang Guru, Ajaran Sang Guru adalah memelihara dan menyegarkan. Bagi seorang siswa yang berkeyakinan yang sungguh-sungguh mempelajari Ajaran Sang Guru, adalah sewajarnya ia bersikap sebagai berikut: ‘Aku rela, biarpun hanya kulit, urat, dan tulang-belulangku yang tersisa, dan biarpun daging dan darahku mengering, namun kegigihanku tidak akan mengendur selama aku belum mencapai apa yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia, tenaga manusia, dan kegigihan manusia.’16 Bagi seorang siswa yang berkeyakinan yang sungguh-sungguh mempelajari Ajaran Sang Guru, satu dari dua buah ini dapat diharapkan: pengetahuan akhir di sini dan saat ini atau, jika masih ada jejak kemelekatan yang tersisa, menjadi yang-tidak-kembali.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Baca n.671. Selaras dengan MN 66.6, MA menjelaskan bahwa Sang Buddha pertama-tama melarang makan sore dan kemudian, belakangan melarang makan malam. Beliau melakukan hal ini karena peduli dengan para bhikkhu yang lemah dalam Sangha, karena mereka akan menjadi terlalu cepat lelah jika kedua waktu makan ini dilarang pada saat bersamaan.
  2. Dalam Vinaya Piṭaka, para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka digambarkan sebagai para bhikkhu yang “ceroboh dan tidak bermoral” dan ditampilkan melakukan berbagai perbuatan buruk yang merusak umat awam. Di Kīṭāgiri suatu tindakan pengucilan dinyatakan terhadap mereka, dan penolakan mereka untuk patuh melatar-belakangi penetapan Sanghādisesa 13 (Vin iii.179-84).
  3. MA: Pernyataan ini dibuat dengan merujuk pada kenikmatan yang dialami dalam makan malam, yang tidak mendukung praktik tugas-tugas seorang bhikkhu.
  4. MA: Jenis pertama perasaan yang menyenangkan adalah kegembiraan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga, dan jenis berikutnya adalah kegembiraan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian. Demikian pula, kedua kalimat berikutnya yang merujuk pada kesakitan dan kenetralan berdasarkan, berturut-turut, pada kehidupan rumah tangga dan berdasarkan pada pelepasan keduniawian. Baca MN 137.9-15.
  5. §§8-10 berfungsi untuk memberikan, berdasarkan pada pemahaman sempurna Sang Buddha, landasan bagi perintah untuk meninggalkan segala perasaan yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga dan mengembangkan perasaan yang berdasarkan pada pelepasan keduniawian.
  6. Di sini diikuti dengan tujuh pengelompokan individu mulia yang mengelompokkan mereka bukan hanya berdasarkan pada jalan dan buah pencapaian mereka – tetapi menurut indria yang lebih unggul. Definisi alternatif dari ketujuh ini diberikan oleh Pug 1:30-36/14-15.
  7. Ubhatobhāgavimutta. MA: Ia adalah “yang-terbebaskan-dalam-kedua-cara” karena ia terbebaskan dari tubuh fisik melalui pencapaian tanpa materi dan dari tubuh batin melalui jalan (Kearahattaan). Definisi Pug menuliskan: “Ia menyentuh dengan tubuhnya dan berdiam dalam delapan kebebasan, dan noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatan dengan kebijaksanaan.” MA mengatakan bahwa ubhatobhāgavimutta termasuk mereka yang mencapai Kearahattaan setelah keluar dari salah satu dari empat pencapaian tanpa materi dan ia yang mencapainya setelah keluar dari pencapaian lenyapnya.
  8. Paññāvimutta. MA: Ini termasuk mereka yang mencapai Kearahattaan apakah sebagai meditator pandangan terang tanpa jhāna (sukkha-vipassaka) atau setelah keluar dari salah satu jhāna. Definisi Pug sekedar menggantikan ‘kebebasan-kebebasan itu … melampaui bentuk-bentuk’ menjadi delapan kebebasan.
  9. Kāyasakkhim. MA: jenis ini memasukkan enam jenis individu – dari seorang yang mencapai buah memasuki-arus hingga seorang yang berada dalam jalan Kearahattaan – yang pertama menyentuh jhāna-jhāna (tanpa materi) dan selanjutnya mencapai Nibbāna. MṬ menekankan bahwa salah satu pencapaian jhāna tanpa materi terrmasuk pencapaian lenyapnya diperlukan untuk memenuhi syarat sebagai kāyasakkhin. Defenisi Pug hanya sekedar menggantikan delapan kebebasan.
  10. Diṭṭhipatta: MA mengatakan bahwa jenis ini juga memasukkan enam individu yang sama yang termasuk dalam kāyasakkhin – dari seorang pemasuk-arus hingga seorang yang berada dalam jalan Kearahattaan – tetapi tidak memiliki pencapaian-pencapaian tanpa materi. Pug mendefinisikannya sebagai seorang yang telah memahami Empat Kebenaran Mulia dan yang telah meninjau dan memeriksa dengan kebijaksanaan ajaran-ajaran yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata.
  11. Saddhāvimutta. MA mengatakan bahwa jenis ini juga memasukkan enam yang sama. Pug mendefinisikannya dengan cara yang sama dengan definisi diṭṭhipatta, tetapi menambahkan bahwa ia belum meninjau dan memeriksa ajaran-ajaran dengan kebijaksanaan dalam jangkauan yang sama dengan diṭṭhipatta.
  12. MA mengatakan bahwa jenis ini, dhammānusārin, dan yang berikutnya, saddhānusārin, adalah individu-individu yang berada dalam jalan memasuki-arus, yang pertama lebih unggul dalam kebijaksanaan, dan yang ke dua lebih unggul dalam keyakinan. Untuk kedua jenis ini, baca n.273.
  13. MA: Dengan tubuh batin ia mencapai Nibbāna, kebenaran tertinggi, dan ia menembusnya dengan kebijaksanaan yang berhubungan dengan jalan lokuttara.
  14. Yaitu, para bhikkhu ini belum memperoleh keyakinan yang diperlukan untuk menjalani latihan yang ditetapkan untuk mereka oleh Sang Buddha.
  15. MA mengatakan bahwa “pernyataan berfrasa empat” (catuppadaṁ veyyākaraṇaṁ) adalah ajaran Empat Kebenaran Mulia. Akan tetapi, di sini tidak disebutkan tentang empat kebenaran. Mungkin “pernyataan berfrasa empat” adalah tekad pada upaya yang terdapat persis di bawah, dengan masing-masing klausa dihitung sebagai satu frasa (klausa kondisional dianggap sebagai dua frasa).
  16. MA: Dengan ini Sang Buddha menunjukkan bahwa siswa ideal mempraktikkan dengan membangkitkan kegigihannya dan bertekad: “Aku tidak akan bangkit selama aku belum mencapai Kearahattaan.”