[25] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Sāriputta bijaksana; Sāriputta memiliki kebijaksanaan besar; Sāriputta memiliki kebijaksanaan luas; Sāriputta memiliki kebijaksanaan menggembirakan; Sāriputta memiliki kebijaksanaan cepat; Sāriputta memiliki kebijaksanaan tajam; Sāriputta memiliki kebijaksanaan yang menembus. Selama setengah bulan, para bhikkhu, Sāriputta mencapai pandangan terang ke dalam kondisi-kondisi satu demi satu pada saat munculnya.1 Pandangan terang Sāriputta ke dalam kondisi-kondisi satu demi satu pada saat munculnya adalah sebagai berikut:

3. “Di sini, para bhikkhu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Sāriputta masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.

4. “Dan kondisi-kondisi dalam jhāna pertama – awal pikiran, kelangsungan pikiran, sukacita, kenikmatan, dan keterpusatan pikiran; kontak, perasaan, persepsi, kehendak, dan pikiran; kemauan, ketetapan, kegigihan, perhatian, keseimbangan, dan pengamatan – kondisi-kondisi ini dikenali olehnya satu demi satu pada saat munculnya;2 dikenali olehnya kondisi-kondisi itu muncul, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu berlangsung, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu lenyap. Ia memahami sebagai berikut: ‘Demikianlah sesungguhnya, kondisi-kondisi ini, dari tidak ada, menjadi ada; dari ada, menjadi lenyap.’ Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu, ia berdiam tanpa tertarik, tanpa menolak, tanpa bergantung, terlepas, bebas, terputus, dengan pikiran bebas dari penghalang.3 Ia memahami: ‘Ada jalan membebaskan diri melampaui ini,’ dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada.4

5. “Kemudian, para bhikkhu, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Sāriputta masuk dan berdiam dalam [26] jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi.

6. “Dan kondisi-kondisi dalam jhāna ke dua ini – keyakinan-diri, sukacita, kenikmatan, dan keterpusatan pikiran; kontak, perasaan, persepsi, kehendak, dan pikiran; semangat, ketetapan, kegigihan, perhatian, keseimbangan, dan pengamatan - kondisi-kondisi ini dikenali olehnya satu demi satu pada saat munculnya; dikenali olehnya kondisi-kondisi itu muncul, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu berlangsung, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu lenyap. Ia memahami sebagai berikut: … dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada.

7. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meluruhnya sukacita, Sāriputta berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’

8. “Dan kondisi-kondisi dalam jhāna ke tiga ini – keseimbangan, kenikmatan, perhatian, kewaspadaan penuh, dan keterpusatan pikiran; kontak, perasaan, persepsi, kehendak, dan pikiran; semangat, ketetapan, kegigihan, perhatian, keseimbangan, dan pengamatan - kondisi-kondisi ini dikenali olehnya satu demi satu pada saat munculnya; dikenali olehnya kondisi-kondisi itu muncul, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu berlangsung, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu lenyap. Ia memahami sebagai berikut: … dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada.

9. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya dari kegembiraan dan kesedihan, Sāriputta masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.

10. “Dan kondisi-kondisi dalam jhāna ke empat ini – keseimbangan, perasaan bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, ketidak-tertarikan pikiran karena ketenangan,5 kemurnian perhatian, dan keterpusatan pikiran; kontak, perasaan, persepsi, kehendak, dan pikiran; semangat, ketetapan, kegigihan, perhatian, keseimbangan, dan pengamatan - kondisi-kondisi ini dikenali olehnya satu demi satu pada saat munculnya; dikenali olehnya kondisi-kondisi itu muncul, [27] dikenali olehnya kondisi-kondisi itu berlangsung, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu lenyap. Ia memahami sebagai berikut: … dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada.

11. “Kemudian, para bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada keberagaman persepsi, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ Sāriputta masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas.

12. “Dan kondisi-kondisi dalam landasan ruang tanpa batas ini – persepsi landasan ruang tanpa batas dan keterpusatan pikiran; kontak, perasaan, persepsi, kehendak, dan pikiran; semangat, ketetapan, kegigihan, perhatian, keseimbangan, dan pengamatan - kondisi-kondisi ini dikenali olehnya satu demi satu pada saat munculnya; dikenali olehnya kondisi-kondisi itu muncul, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu berlangsung, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu lenyap. Ia memahami sebagai berikut: … dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada.

13. “Kemudian, para bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ Sāriputta masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas.

14. “Dan kondisi-kondisi dalam landasan kesadaran tanpa batas ini – persepsi landasan kesadaran tanpa batas dan keterpusatan pikiran; kontak, perasaan, persepsi, kehendak, dan pikiran; semangat, ketetapan, kegigihan, perhatian, keseimbangan, dan pengamatan - kondisi-kondisi ini dikenali olehnya satu demi satu pada saat munculnya; dikenali olehnya kondisi-kondisi itu muncul, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu berlangsung, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu lenyap. Ia memahami sebagai berikut: … dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada. [28]

15. “Kemudian, para bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ Sāriputta masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan.

16. “Dan kondisi-kondisi dalam landasan kekosongan ini – persepsi landasan kekosongan dan keterpusatan pikiran; kontak, perasaan, persepsi, kehendak, dan pikiran; semangat, ketetapan, kegigihan, perhatian, keseimbangan, dan pengamatan - kondisi-kondisi ini dikenali olehnya satu demi satu pada saat munculnya; dikenali olehnya kondisi-kondisi itu muncul, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu berlangsung, dikenali olehnya kondisi-kondisi itu lenyap. Ia memahami sebagai berikut: … dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada.

17. “Kemudian, para bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, Sāriputta masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.

18. “Ia keluar dengan penuh perhatian dari pencapaian itu. Setelah itu, ia merenungkan kondisi-kondisi yang telah berlalu, lenyap, dan berubah, sebagai berikut: ‘Demikianlah sesungguhnya, kondisi-kondisi ini, dari tidak ada, menjadi ada; dari ada, menjadi lenyap.’6 Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu, ia berdiam tanpa tertarik, tanpa menolak, tanpa bergantung, terlepas, bebas, terputus, dengan pikiran bebas dari penghalang. Ia memahami: ‘Ada jalan membebaskan diri melampaui ini,’ dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu ada.

19. “Kemudian, para bhikkhu, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, Sāriputta masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. Dan noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan.7

20. “Ia keluar dengan penuh perhatian dari pencapaian itu. Setelah itu, ia mengingat kembali kondisi-kondisi yang telah berlalu, lenyap, dan berubah, sebagai berikut: ‘Demikianlah sesungguhnya, kondisi-kondisi ini, dari tidak ada, menjadi ada; dari ada, menjadi lenyap.’8 Sehubungan dengan kondisi-kondisi itu, ia berdiam tanpa tertarik, tanpa menolak, tanpa bergantung, terlepas, bebas, terputus, dengan pikiran bebas dari penghalang. Ia memahami: ‘Tidak ada jalan membebaskan diri melampaui ini,’ dan dengan pengembangan [pencapaian] itu, ia menegaskan bahwa itu tidak ada.9

21. “Para bhikkhu, sesungguhnya, jika mengatakan dengan benar mengenai siapapun: ‘Ia telah mencapai kemahiran dan kesempurnaan10 dalam moralitas mulia, [29] mencapai kemahiran dan kesempurnaan dalam konsentrasi mulia, mencapai kemahiran dan kesempurnaan dalam kebijaksanaan mulia, mencapai kemahiran dan kesempurnaan dalam kebebasan mulia,’ adalah sehubungan dengan Sāriputta sesungguhnya kata-kata benar itu diucapkan.

22. “Para bhikkhu, sesungguhnya, jika mengatakan dengan benar, mengenai siapapun: ‘Ia adalah putera Sang Bhagavā, terlahir dari dada Beliau, terlahir dari mulut Beliau, terlahir dari Dhamma, tercipta oleh Dhamma, seorang pewaris Dhamma, bukan seorang pewaris dalam benda-benda materi,’ adalah sehubungan dengan Sāriputta sesungguhnya kata-kata benar itu diucapkan.

23. “Para bhikkhu, Roda Dhamma yang tiada taranya yang telah diputar oleh Sang Tathāgata terus diputar dengan benar oleh Sāriputta.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Anupadadhammavipassanā. MA menjelaskan bahwa ia mengembangkan pandangan terang ke dalam kondisi-kondisi secara berurutan melalui pencapaian-pencapaian meditatif dan faktor-faktor jhāna, seperti akan dijelaskan. Masa dua minggu merujuk pada hari penahbisan YM. Sāriputta di bawah Sang Buddha hingga pada pencapaian Kearahattaan ketika mendengarkan penjelasan Sang Buddha tentang pemahaman perasaan kepada Dīghanaka (baca MN 74.14).
  2. Kelima kondisi pertama adalah urutan faktor-faktor jhāna dari jhāna pertama; kondisi-kondisi berikutnya adalah komponen tambahan yang masing-masing melakukan fungsinya masing-masing di dalam jhāna. Analisis kondisi-kondisi batin secara terperinci ke dalam komponen-komponennya mengantisipasi metodologi Abhidhamma, dan oleh karena itu bukan kebetulan bahwa nama Sāriputta berhubungan erat dengan munculnya literatur Abhidhamma.
  3. Semua kata ini menyiratkan ditekannya kekotoran secara sementara oleh kekuatan jhāna, bukan kebebasan sepenuhnya dari kekotoran melalui pelenyapan oleh jalan tertinggi, yang belum dicapai oleh YM. Sāriputta.
  4. “Jalan membebaskan diri melampaui ini” (uttariṁ nissaraṇaṁ) di sini adalah pencapaian yang lebih tinggi berikutnya, jhāna ke dua.
  5. Membaca sama seperti edisi BBS passaddhattā cetaso anābhogo. MA menjelaskan bahwa ketertarikan pikiran pada kenikmatan, yang ada dalam jhāna ke tiga, sekarang dianggap kasar, dan ketika lenyap di sana ada “ketidak-tertarikan pikiran karena ketenangan.” Edisi PTS menuliskan passi vedanā, tidak dapat dimengerti dan jelas suatu kesalahan.
  6. Metode introspeksi tidak langsung ini digunakan untuk merenungkan pencapaian tanpa materi ke empat karena pencapaian ini, karena sangat halus, maka tidak termasuk dalam wilayah penyelidikan langsung bagi para siswa. Hanya para Buddha yang tercerahkan sempurna yang mampu merenungkannya secara langsung.
  7. MA memberikan penjelasan atas paragraf ini, yang disampaikan oleh “para sesepuh dari India”: “Bhikkhu Sāriputta melatih ketenangan dan pandangan terang secara berpasangan dan mencapai buah yang-tidak-kembali. Kemudian ia memasuki pencapaian lenyapnya, dan setelah keluar dari sana ia mencapai Kearahattaan.”
  8. Karena tidak ada faktor-faktor batin dalam pencapaian lenyapnya, MA mengatakan “kondisi-kondisi ini” di sini pasti merujuk pada kondisi-kondisi bentuk materi yang terjadi selama ia mencapai lenyapnya, atau merujuk pada faktor-faktor batin dari pencapaian tanpa materi ke empat yang dicapai sebelumnya.
  9. Perhatikan pencapaian bahwa “tidak ada jalan membebaskan diri melampaui” pencapaian Kearahattaan.
  10. Vasippatto pāramipatto. Baca n.763.