[469] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.

2. Pada saat itu seorang bhikkhu bernama Gulissāni, seorang penghuni hutan yang berperilaku lengah, telah datang berkunjung untuk menetap di tengah-tengah Sangha untuk suatu urusan. Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu dengan merujuk pada Bhikkhu Gulissāni sebagai berikut:

3. “Teman-teman, ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha, ia harus menghormati dan menghargai teman-temannya dalam kehidupan suci. Jika ia tidak menghormati dan tidak menghargai teman-temannya dalam kehidupan suci, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia tidak menghormati dan tidak menghargai teman-temannya dalam kehidupan suci?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha harus menghormati dan menghargai teman-temannya dalam kehidupan suci.

4. “Ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha, ia harus terampil dalam sikap yang baik sehubungan dengan tempat-tempat duduk sebagai berikut: ‘Aku akan duduk dengan cara sedemikian sehingga aku tidak mengganggu para bhikkhu senior dan tidak meniadakan tempat duduk para bhikkhu junior.’ Jika ia tidak terampil dalam sikap yang baik sehubungan dengan tempat-tempat duduk, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia bahkan tidak tahu apa yang merupakan sikap yang baik?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha harus terampil dalam sikap yang baik sehubungan dengan tempat-tempat duduk

5. “Ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha, ia tidak boleh memasuki desa terlalu awal dan kembali terlambat di siang hari. Jika ia memasuki desa terlalu awal dan kembali terlambat di siang hari, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia memasuki desa terlalu awal dan kembali terlambat di siang hari?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha tidak boleh memasuki desa terlalu awal dan kembali terlambat di siang hari.

6. “Ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha, [470] ia tidak boleh pergi sebelum makan atau setelah makan untuk mengunjungi keluarga-keluarga.1 Jika ia pergi sebelum makan atau setelah makan untuk mengunjungi keluarga-keluarga, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Yang Mulia penghuni hutan ini pasti, selagi sendirian di hutan, melakukan apa yang ia sukai, pasti terbiasa melakukan kunjungan yang tidak pada waktu yang tepat, karena ia berperilaku demikian ketika mengunjungi Sangha.’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha tidak boleh pergi sebelum makan atau setelah makan untuk mengunjungi keluarga-keluarga.

7. “Ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha, ia tidak boleh sombong dan membanggakan diri. Jika ia sombong dan membanggakan diri, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Yang Mulia penghuni hutan ini pasti, selagi sendirian di hutan, melakukan apa yang ia sukai, pasti ia biasanya sombong dan membanggakan diri, karena ia bersikap demikian ketika mengunjungi Sangha.’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha tidak boleh sombong dan membanggakan diri.

8. “Ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha, ia tidak boleh berkata kasar dan berbicara lepas. Jika ia berkata kasar dan berbicara lepas, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia berkata kasar dan berbicara lepas?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha tidak boleh berkata kasar dan berbicara lepas.

9. “Ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha, ia harus mudah dikoreksi dan harus bergaul dengan teman-teman yang baik. Jika ia sulit dikoreksi dan bergaul dengan teman-teman yang buruk, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia sulit dikoreksi dan bergaul dengan teman-teman yang buruk?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di tengah-tengah Sangha harus mudah dikoreksi dan harus bergaul dengan teman-teman yang baik.

10. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menjaga pintu-pintu indrianya. Jika ia tidak menjaga pintu-pintu indrianya, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena [471] ia tidak menjaga pintu-pintu indrianya?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menjaga pintu-pintu indrianya.

11. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus makan secukupnya. Jika ia makan berlebihan, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia makan berlebihan?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus makan secukupnya.

12. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni keawasan. Jika ia tidak menekuni keawasan, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia tidak menekuni keawasan?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni keawasan.

13. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus bersemangat. Jika ia tidak bersemangat, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia malas?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus bersemangat.

14. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus kokoh dalam perhatian. Jika ia tidak penuh perhatian, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia tidak penuh perhatian?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus kokoh dalam perhatian.

15. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus terkonsentrasi. Jika ia tidak terkonsentrasi, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia tidak terkonsentrasi?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus terkonsentrasi.

16. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus bijaksana. Jika ia tidak bijaksana, maka akan ada [472] di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia tidak bijaksana?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus bijaksana.

17. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih tinggi dan Disiplin yang lebih tinggi.2 Ada di antara mereka yang mengajukan pertanyaan kepada bhikkhu penghuni hutan tentang Dhamma yang lebih tinggi dan Disiplin yang lebih tinggi. Jika, ketika ditanya demikian, ia tidak mampu menjawab, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ketika ditanya tentang Dhamma yang lebih tinggi dan Disiplin yang lebih tinggi ia tidak mampu menjawab?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih tinggi dan Disiplin yang lebih tinggi.

18. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa materi, melampaui bentuk-bentuk.3 Ada di antara mereka yang mengajukan pertanyaan kepada bhikkhu penghuni hutan tentang kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa materi, melampaui bentuk-bentuk. Jika, ketika ditanya demikian, ia tidak mampu menjawab, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ketika ditanya tentang kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa materi, melampaui bentuk-bentuk, ia tidak mampu menjawab?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa materi, melampaui bentuk-bentuk.

19. “Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni kondisi melampaui manusia. Ada di antara mereka yang mengajukan pertanyaan kepada bhikkhu penghuni hutan tentang kondisi melampaui manusia.4 Jika, ketika ditanya demikian, ia tidak mampu menjawab, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia bahkan tidak tahu untuk tujuan apa ia meninggalkan keduniawian?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni kondisi melampaui manusia.”

20. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna bertanya kepada Yang Mulia Sāriputta: “Teman Sāriputta, apakah hal-hal ini harus dijalankan dan dipraktikkan hanya oleh seorang bhikkhu penghuni hutan atau [473] oleh seorang yang menetap di dekat desa juga?”

“Teman Moggallāna, hal-hal ini harus dijalankan dan dipraktikkan bahkan oleh seorang bhikkhu penghuni hutan, apalagi oleh seorang yang menetap di dekat desa.”


Catatan Kaki
  1. Ini dilarang dalam Pāc 46 (Vin iv.98-101). Seorang bhikkhu boleh mengunjungi keluarga-keluarga hanya pada saat-saat ia telah memberitahukan kepada bhikkhu lain dalam vihara sehubungan dengan niatnya, kecuali selama masa pembuatan dan persembahan jubah.
  2. Abhidhamma Abhivinaya. MA mengatakan bahwa ia harus tekun mempelajari teks dan komentar Abhidhamma Piṭaka dan Vinaya Piṭaka. Ini jelas tidak sesuai pada masa itu. Mengenai Abhidhamma dalam konteks sutta-sutta, baca n.362. Walaupun tidak ada batang tubuh literatur yang disebut “Abhivinaya,” sepertinya mungkin kata itu merujuk pada suatu pendekatan sistematis dan analitis untuk mempelajari Vinaya, mungkin ditambahkan dalam Suttavibhanga dari Vinaya Piṭaka.
  3. MA: Ini merujuk pada delapan pencapaian meditatif. Minimal ia harus menguasai tahap persiapan dari satu objek meditasi, misalnya kasiṇa.
  4. MA: Ini merujuk pada semua kondisi-kondisi lokuttara. Minimal ia harus menguasai satu pendekatan untuk mengembangkan pandangan terang hingga Kearahattaan.