1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambi di Taman Ghosita.

2. Pada saat itu para bhikkhu di Kosambī bertengkar dan bercekcok dan berselisih, saling menusuk satu sama lain dengan pedang ucapan.1

3. Kemudian seorang bhikkhu tertentu mendatangi Sang Bhagavā, [153] dan setelah bersujud kepada Beliau, ia berdiri di satu sisi dan berkata: “Yang Mulia, para bhikkhu di sini di Kosambi sedang bertengkar dan bercekcok dan berselisih, saling menusuk satu sama lain dengan pedang ucapan. Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mendatangi para bhikkhu itu demi belas kasih.” Sang Bhagavā menyetujui dengan berdiam diri.

4. Kemudian Sang Bhagavā mendatangi para bhikkhu itu dan berkata kepada mereka: “Cukup, para bhikkhu, jangan ada lagi pertengkaran, percekcokan, atau perselisihan.” Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu berkata kepada Sang Bhagavā: “Tunggu, Yang Mulia, mohon Sang Bhagavā, Raja Dhamma, hidup dengan tenang menekuni kediaman yang nyaman di sini dan saat ini. Kamilah yang bertanggung-jawab atas pertengkaran, percekcokan, dan perselisihan ini.”

Untuk ke dua kalinya … untuk ke tiga kalinya Sang Bhagavā berkata: “Cukup, para bhikkhu, jangan ada lagi pertengkaran, percekcokan, atau perselisihan.” Untuk ke tiga kalinya bhikkhu itu berkata kepada Sang Bhagavā: “Tunggu, Yang Mulia … Kamilah yang bertanggung jawab atas pertengkaran, percekcokan, dan perselisihan ini.”

5. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, memasuki Kosambi untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah menerima dana makanan di Kosambi dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau merapikan tempat tinggalNya, dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, dan sambil berdiri mengucapkan syair-syair ini: [154]

6. “Ketika banyak suara berteriak sekaligus Tidak ada yang menganggap dirinya sendiri sebagai seorang dungu; Walaupun Sangha sedang terpecah Tidak ada yang merasa dirinya bersalah.

Mereka telah melupakan ucapan bijaksana, Mereka berbicara dengan hanya dikuasai oleh kata-kata. Dengan mulut tidak terkekang, mereka berteriak sesukanya; Tidak ada yang mengetahui apa yang membuat mereka bertindak demikian.

‘Ia menghinaku, ia memukulku,2 Ia mengalahkanku, ia merampasku’ – Pada mereka yang memendam pikiran-pikiran seperti ini Kebencian tidak akan pernah sirna.

‘Ia menghinaku, ia memukulku, Ia mengalahkanku, ia merampasku’ – Pada mereka yang tidak memendam pikiran-pikiran seperti ini Kebencian telah siap untuk disingkirkan.

Karena di dunia ini kebencian tidak akan pernah Disingkirkan melalui tindakan kebencian lebih lanjut. Kebencian disingkirkan oleh ketidak-bencian: Ini adalah hukum yang pasti dan abadi.

Mereka tidak mengetahui Bahwa di sini kita harus mengendalikan diri sendiri. Tetapi mereka yang bijaksana yang menyadari ini Seketika mengakhiri segala permusuhan mereka.

Para penghancur tulang-belulang dan para pembunuh, Mereka yang mencuri ternak, kuda, dan harta kekayaan, Mereka yang menjarah seluruh negeri – Bahkan orang-orang ini dapat bertindak bersama Mengapa kalian tidak dapat melakukan demikian juga?

Jika seseorang dapat menemukan teman yang layak Seorang teman yang bermoral dan setia, Maka dengan mengatasi segala ancaman bahaya Dan berjalan bersamanya dengan puas dan penuh perhatian.

Tetapi jika seseorang tidak menemukan teman yang layak, Tidak ada teman yang bermoral dan setia, Maka bagaikan seorang raja meninggalkan kerajaan yang ditaklukkannya Berjalanlah sendirian bagaikan gajah di hutan.

Lebih baik berjalan sendirian, Tidak berteman dengan orang-orang dungu. Berjalan sendirian dan tidak melakukan kejahatan, Santai bagaikan gajah di hutan.”

7. Kemudian, setelah mengucapkan syair-syair ini sambil berdiri, Sang Bhagavā pergi menuju desa Bālakaloṇakāra. Pada saat itu [155] Yang Mulia Bhagu sedang menetap di desa Bālakaloṇakāra. Ketika dari kejauhan Yang Mulia Bhagu melihat kedatangan Sang Bhagavā, ia mempersiapkan tempat duduk dan air untuk mencuci kaki. Sang Bhagavā duduk di tempat yang telah dipersiapkan dan mencuci kakiNya. Yang Mulia Bhagu bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi, Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Kuharap engkau dalam keadaan baik, Bhikkhu, Kuharap engkau cukup nyaman, Kuharap engkau tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh dana makanan.”

“Aku dalam keadaan baik, Sang Bhagavā, aku cukup nyaman, aku tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh dana makanan.”

Kemudian Sang Bhagavā memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan Yang Mulia Bhagu dengan khotbah Dhamma, setelah itu Beliau bangkit dari dudukNya dan pergi menuju Hutan Bambu Timur.

8. Pada saat itu Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nandiya, dan Yang Mulia Kimbila sedang menetap di Hutan Bambu Timur.3 Dari jauh penjaga taman melihat kedatangan Sang Bhagavā dan berkata kepada Beliau: “Jangan memasuki taman ini, Petapa. Ada tiga anggota keluarga di sini mencari kebaikan mereka. Jangan mengganggu mereka.”

9. Yang Mulia Anuruddha mendengar penjaga taman itu berbicara dengan Sang Bhagavā dan memberitahunya: “Teman penjaga taman, jangan membiarkan Sang Bhagavā di luar. Beliau adalah Guru kami, Sang Bhagavā, yang telah datang.” Kemudian Yang Mulia Anuruddha mendatangi Yang Mulia Nandiya dan Yang Mulia Kimbila dan berkata: “Keluarlah, Yang Mulia, keluarlah! Guru kita, Sang Bhagavā, telah datang.”

10. Kemudian ketiganya pergi menjumpai Sang Bhagavā. Satu orang mengambil mangkuk dan jubah luarNya, satu orang mempersiapkan tempat duduk, dan satu orang mengambil air untuk mencuci kaki. Sang Bhagavā duduk di tempat duduk yang telah disediakan dan mencuci kakiNya. Kemudian ketiga yang mulia itu bersujud pada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi. Ketika mereka telah duduk, Sang Bhagavā berkata kepada mereka: “Aku harap kalian semuanya dalam keadaan baik, Anuruddha, Aku harap kalian semuanya nyaman, Aku harap kalian tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana makanan.” [156]

“Kami baik-baik, Sang Bhagavā, kami nyaman, dan kami tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana makanan.”

11. “Aku harap, Anuruddha, bahwa kalian hidup dalam kerukunan, saling menghargai, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dengan air, saling menatap dengan tatapan ramah.”

“Tentu saja, Yang Mulia, kami hidup dalam kerukunan, saling menghargai, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dengan air, saling menatap dengan tatapan ramah.”

“Tetapi, Anuruddha, bagaimanakah kalian hidup demikian?”

12. “Yang Mulia, sehubungan dengan hal itu, aku berpikir: ‘adalah suatu keuntungan bagiku, adalah keuntungan besar bagiku, bahwa aku hidup bersama dengan teman-teman demikian dalam kehidupan suci.’ Aku mempertahankan perbuatan jasmani cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi; Aku mempertahankan ucapan cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi; Aku mempertahankan pikiran cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi. Aku mempertimbangkan: ‘Mengapa Aku tidak mengesampingkan apa yang ingin kulakukan dan melakukan apa yang para mulia ini ingin lakukan?’ Kemudian aku mengesampingkan apa yang ingin kulakukan dan melakukan apa yang para mulia ini ingin lakukan. Kami berbeda secara jasmani, Yang Mulia, tetapi kami satu pikiran.”

Yang Mulia Nandiya dan Yang Mulia Kimbila masing-masing mengatakan hal yang sama, dan menambahkan: “Itu adalah bagaimana, Yang Mulia, kami hidup dalam kerukunan, saling menghargai, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dengan air, saling menatap dengan tatapan ramah.”

13. “Bagus, bagus, Anuruddha. Aku harap kalian semua berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.” [157]

“Tentu saja, Yang Mulia, kami berdiam dengan rajin, tekun, dan teguh.”

“Tetapi, Anuruddha, bagaimanakah kalian berdiam demikian?”

14. “Yang Mulia, sehubungan dengan hal itu, siapapun dari kami yang kembali pertama kali dari desa dengan membawa dana makanan akan menyiapkan tempat duduk, menyediakan air minum dan air untuk mencuci, dan meletakkan tempat sampah di tempatnya. Siapapun dari kami yang kembali terakhir kali akan memakan makanan apapun yang tersisa, jika ia menginginkan; kalau tidak ia akan membuangnya di tempat di mana tidak ada tanaman atau membuangnya ke air yang mana tidak terdapat kehidupan. Ia menyimpan tempat duduk dan air minum dan air untuk mencuci. Ia menyimpan tempat sampah setelah mencucinya, dan ia menyapu ruang makan. Siapapun yang melihat kendi air minum, air untuk mencuci, atau kakus sudah hampir habis atau sudah habis maka ia akan melakukan apa yang harus ia lakukan. Jika terlalu berat baginya, maka ia akan memanggil seseorang lain dengan isyarat tangan dan mereka bersama-sama memindahkannya, tetapi hal ini tidak membuat kami terlibat dalam percakapan. Tetapi setiap lima hari kami duduk bersama sepanjang malam mendiskusikan Dhamma. Itu adalah bagaimana kami berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

15. “Bagus, bagus, Anuruddha. Tetapi ketika kalian berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh demikian, apakah kalian telah mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, suatu kediaman yang menyenangkan?”

“Yang Mulia, ketika kami berdiam di sini rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, kami melihat cahaya dan penampakan bentuk-bentuk.4 Segera setelah itu cahaya dan penampakan bentuk-bentuk itu lenyap, tetapi kami belum mengetahui penyebab dari hal itu.”

16. “Kalian seharusnya menemukan penyebab dari hal itu,5 Anuruddha. Sebelum pencerahanKu, sewaktu Aku masih menjadi seorang Bodhisatta yang belum tercerahkan, Aku juga melihat cahaya dan penampakan bentuk-bentuk. Segera setelah itu cahaya [158] dan penampakan bentuk-bentuk itu lenyap. Aku berpikir: ‘Apakah sebab dan kondisi mengapa cahaya dan penampakan bentuk-bentuk ini lenyap?’ Kemudian Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Keragu-raguan muncul dalam diriKu, dan karena keragu-raguan maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

17. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Aku melihat cahaya dan penampakan bentuk-bentuk. Segera setelah itu cahaya dan penampakan bentuk-bentuk itu lenyap. Aku berpikir: ‘Apakah sebab dan kondisi mengapa cahaya dan penampakan bentuk-bentuk ini lenyap?’ Kemudian Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kelengahan muncul dalam diriKu, dan karena kelengahan itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

18. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kelambanan dan ketumpulan muncul dalam diriKu, dan karena kelambanan dan ketumpulan itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan dan kelambanan dan ketumpulan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

19. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Ketakutan muncul dalam diriKu, dan karena ketakutan itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap.’ Misalkan seseorang melakukan perjalanan dan para pembunuh melompat keluar dari kedua sisinya; kemudian ketakutan akan muncul dalam dirinya. Demikian pula, ketakutan muncul dalam diriKu … cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. [Aku mempertimbangkan sebagai berikut:] ‘Aku harus mengusahakan [159] agar keragu-raguan dan kelengahan dan kelambanan dan ketumpulan dan ketakutan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

20. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kegirangan muncul dalam diriKu, dan karena kegirangan itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap.’ Misalkan seseorang mencari pintu masuk menuju harta karun tersembunyi dan seketika sampai pada lima pintu masuk menuju harta karun tersembunyi itu;6 maka kegirangan muncul dalam dirinya karena hal itu. Demikian pula, kegirangan muncul dalam diriKu … cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. [Aku mempertimbangkan sebagai berikut:] ‘Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan … dan ketakutan dan kegirangan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

21. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kelembaman muncul dalam diriKu, dan karena kelembaman itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan … dan kegirangan dan kelembaman tidak muncul dalam diriKu lagi.’

22. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kegigihan yang berlebihan muncul dalam diriKu, dan karena kegigihan yang berlebihan itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap.’ Misalkan seseorang mencengkeram seekor burung puyuh erat-erat dengan kedua tangannya; burung puyuh itu akan mati di tempat itu dan pada saat itu juga. Demikian pula, kegigihan berlebihan muncul dalam diriKu … cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. [Aku mempertimbangkan sebagai berikut:] ‘Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan … dan kelembaman dan kegigihan yang berlebihan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

23. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kurangnya kegigihan muncul dalam diriKu, [160] dan karena kurangnya kegigihan itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap.’ Misalkan seseorang mencengkeram seekor burung puyuh dengan longgar; burung puyuh itu akan terbang keluar dari tangan orang itu. Demikian pula, kurangnya kegigihan muncul dalam diriKu … cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. [Aku mempertimbangkan sebagai berikut:] ‘Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan … dan kegigihan yang berlebihan dan kurangnya kegigihan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

24. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kerinduan muncul dalam diriKu, dan karena kerinduan itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan … dan kurangnya kegigihan dan kerinduan tidak muncul dalam diriKu lagi.’

25. “Ketika, Anuruddha, Aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Persepsi keberagaman muncul dalam diriKu,7 dan karena persepsi keberagaman itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan … dan kerinduan dan persepsi keberagaman tidak muncul dalam diriKu lagi.’

26. “Ketika, Anuruddha, aku sedang berdiam dengan rajin … Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Meditasi berlebihan pada bentuk-bentuk muncul dalam diriKu,8 dan karena meditasi berlebihan pada bentuk-bentuk itu maka konsentrasiKu jatuh; ketika konsentrasiKu jatuh, maka cahaya dan penampakan bentuk-bentuk menjadi lenyap. Aku harus mengusahakan agar keragu-raguan dan kelengahan … dan persepsi keberagaman dan meditasi berlebihan pada bentuk-bentuk tidak muncul dalam diriKu lagi.’

27. “Ketika, Anuruddha, Aku memahami bahwa keragu-raguan adalah suatu ketidak-sempurnaan pikiran,9 aku meninggalkan keragu-raguan, suatu ketidak-sempurnaan pikiran. Ketika Aku memahami bahwa kelengahan … kelambanan dan ketumpulan … ketakutan … kegirangan … kelembaman … kegigihan yang berlebihan … kurangnya kegigihan … kerinduan … persepsi keberagaman … meditasi berlebihan pada bentuk-bentuk [161] adalah suatu ketidak-sempurnaan pikiran, aku meninggalkan meditasi berlebihan pada bentuk-bentuk, suatu ketidak-sempurnaan pikiran.

28. “Ketika, Anuruddha, aku sedang berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Aku melihat cahaya tetapi Aku tidak melihat bentuk-bentuk; Aku melihat bentuk-bentuk tetapi Aku tidak melihat cahaya, bahkan selama sehari penuh atau semalam penuh atau sehari semalam. Aku berpikir: ‘Apakah sebab dan kondisi untuk hal ini?’ Kemudian Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Pada saat Aku tidak memperhatikan gambaran bentuk-bentuk tetapi memperhatikan gambaran cahaya, maka Aku melihat cahaya tetapi tidak melihat bentuk-bentuk. Pada saat Aku tidak memperhatikan gambaran cahaya tetapi memperhatikan gambaran bentuk-bentuk, maka Aku melihat bentuk-bentuk tetapi tidak melihat cahaya, bahkan selama sehari penuh atau semalam penuh atau sehari semalam.’

29. “Ketika, Anuruddha, aku sedang berdiam dengan rajin, tekun, dan teguh, Aku melihat cahaya terbatas dan melihat bentuk-bentuk terbatas; Aku melihat cahaya tanpa batas dan melihat bentuk-bentuk tanpa batas, bahkan selama sehari penuh atau semalam penuh atau sehari semalam. Aku berpikir: ‘Apakah sebab dan kondisi untuk hal ini?’ Kemudian Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Pada saat konsentrasi terbatas, maka penglihatan juga terbatas, dan dengan penglihatan terbatas Aku melihat cahaya terbatas dan bentuk-bentuk terbatas. Tetapi pada saat konsentrasi adalah tanpa batas, maka penglihatan juga tanpa batas, dan dengan penglihatan tanpa batas Aku melihat cahaya tanpa batas dan bentuk-bentuk tanpa batas, bahkan selama sehari penuh atau semalam penuh atau sehari semalam.’

30. “Ketika, [162] Anuruddha, Aku memahami bahwa keragu-raguan adalah suatu ketidak-sempurnaan pikiran dan telah meninggalkan keragu-raguan, suatu ketidak-sempurnaan pikiran; ketika Aku memahami bahwa kelengahan adalah suatu ketidak-sempurnaan pikiran dan telah meninggalkan kelengahan … meninggalkan kelambanan dan ketumpulan … meninggalkan ketakutan … meninggalkan kegirangan … meninggalkan kelembaman … meninggalkan kegigihan yang berlebihan … meninggalkan kurangnya kegigihan … meninggalkan kerinduan … meninggalkan persepsi keberagaman … meninggalkan meditasi berlebihan pada bentuk-bentuk, suatu ketidak-sempurnaan pikiran; kemudian aku berpikir: ‘Aku telah meninggalkan ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan pikiran itu. Sekarang Aku akan mengembangkan konsentrasi dalam tiga cara.’10

31. “Selanjutnya, Anuruddha, Aku mengembangkan konsentrasi dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran; Aku mengembangkan konsentrasi tanpa awal pikiran tetapi hanya dengan kelangsungan pikiran saja; Aku mengembangkan konsentrasi tanpa awal pikiran dan tanpa kelangsungan pikiran; Aku mengembangkan konsentrasi dengan sukacita; Aku mengembangkan konsentrasi tanpa sukacita; Aku mengembangkan konsentrasi yang disertai dengan kenikmatan; Aku mengembangkan konsentrasi yang disertai dengan keseimbangan.11

32. “Ketika Anuruddha, Aku telah mengembangkan konsentrasi dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran … ketika Aku telah mengembangkan konsentrasi yang disertai dengan keseimbangan, pengetahuan dan penglihatan muncul dalam diriKu: ‘KebebasanKu adalah tidak tergoyahkan; ini adalah kelahiranKu yang terakhir; tidak ada lagi penjelmaan menjadi makhluk yang baru.’”12

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Anuruddha merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Bagian pembukaan dari sutta ini sama dengan pembukaan dari MN 48.
  2. Bait ini dan tiga berikutnya juga terdapat pada Dhp 3-6. Tiga bait terakhir terdapat pada Dhp 328-30.
  3. Paragraf pada §§8-15 nyaris identik dengan MN 31.3-10. Akan tetapi, dari kelanjutannya, jelas bahwa sutta sekarang ini terjadi pada waktu yang lebih dulu, karena dalam MN 31 seluruh tiga bhikkhu itu telah mencapai Kearahattaan sedangkan di sini mereka masih berusaha untuk mencapai tujuan.
  4. Di sinilah sutta yang sekarang ini berlanjut secara berbeda dengan MN 31. MA menjelaskan cahaya (obhāsa) sebagai cahaya awal, yang dikemas oleh MṬ sebagai cahaya yang dihasilkan oleh akses pada jhāna. MṬ menambahkan bahwa seseorang yang mencapai jhāna ke empat mengembangkan kasiṇa-cahaya sebagai persiapan untuk membangkitkan mata-dewa. “Penampakan bentuk-bentuk” (dassanaṁ rūpānaṁ) adalah penglihatan pada bentuk-bentuk dengan mata dewa. YM. Anuruddha kelak dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai yang paling unggul dalam pengerahan mata-dewa.
  5. Nimittaṁ paṭivijjhitabbaṁ. Lit. “Engkau harus menembus gambaran itu.”
  6. Baca MN 52.15.
  7. MA menuliskan: “Sewaktu Aku sedang memperhatikan sejenis bentuk tunggal, kerinduan muncul. Dengan berpikir ‘Aku akan memperhatikan jenis-jenis bentuk berbeda,’ kadang-kadang Aku mengarahkan perhatianKu pada alam surga, kadang-kadang pada alam manusia. Sewaktu Aku memperhatikan jenis-jenis bentuk berbeda, persepsi keberagaman muncul dalam diriKu.”
  8. Atinijjhāyittaṁ rūpānaṁ. MA: “Ketika persepsi keberagaman muncul, Aku pikir Aku dapat memperhatikan satu jenis bentuk, apakah menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sewaktu Aku melakukan demikian, meditasi berlebihan pada bentuk-bentuk muncul dalam diriKu.”
  9. Cittassa upakkileso. Kata yang sama digunakan pada MN 7.3, walaupun di sini berarti ketidak-sempurnaan dalam pengembangan konsentrasi. Oleh karenanya ungkapan ini telah diterjemahkan dengan sedikit berbeda dalam kedua kasus ini.
  10. “Tiga cara” tampaknya adalah ketiga jenis pertama dari konsentrasi yang disebutkan dalam paragraf berikutnya, juga disampaikan sebagai sebuah triad pada DN 33.1.10/iii.219. Dari ketiga ini, yang pertama adalah jhāna pertama dan yang ke tiga mencakup ketiga jhāna yang lebih tinggi dari skema empat jhāna umumnya. Konsentrasi jenis ke dua tidak mendapat tempat pada skema empat, tetapi muncul sebagai jhāna ke dua dalam pengelompokan lima jhāna yang dijelaskan dalam Abhidhamma Piṭaka. Jhāna ke dua dari skema lima ini dicapai oleh mereka yang tidak dapat mengatasi awal pikiran dan kelangsungan pikiran secara bersamaan melainkan harus menyingkirkannya secara berturut-turut.
  11. MA: Konsentrasi dengan sukacita adalah dua jhāna yang lebih rendah; konsentrasi tanpa sukacita adalah dua jhāna yang lebih tinggi; konsentrasi yang disertai dengan kenikmatan (sāta), adalah tiga jhāna yang lebih rendah; konsentrasi yang disertai dengan keseimbangan adalah jhāna ke empat. PTS menghilangkan sātasahagato pi samādhi bhāvito ahosi, yang terdapat dalam edisi-edisi lain.
  12. MA mengatakan bahwa Sang Buddha mengembangkan konsentrasi-konsentrasi ini pada jaga terakhir malam hari pada malam pencerahanNya sambil duduk di bawah pohon Bodhi.