1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.

2. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta, Yang Mulia Mahā Cunda, Yang Mulia Channa sedang menetap di Gunung Puncak Nasar.

3. Pada saat itu Yang Mulia Channa jatuh sakit, menderita, dan sakit parah. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Sāriputta bangkit dari duduknya, mendatangi Yang Mulia Mahā Cunda, dan berkata kepadanya: “Teman Cunda, marilah kita mendatangi Yang Mulia Channa dan menanyakan tentang penyakitnya.” – “Baik, Teman,” Yang Mulia Mahā Cunda menjawab.

4. Kemudian Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Cunda mendatangi Yang Mulia Channa dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika [264] ramah tamah ini berakhir, mereka duduk di satu sisi dan Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang Mulia Channa: “Aku harap engkau bertambah baik, Teman Channa, aku harap engkau cukup nyaman. Aku harap perasaan sakitmu mereda dan tidak bertambah, dan bahwa meredanya, bukan bertambahnya, menjadi nyata.”

5. “Teman Sāriputta, aku tidak bertambah baik, aku tidak nyaman. Perasaan sakitku bertambah, bukan mereda; … (seperti Sutta 143, §4) bertambahnya dan bukan meredanya menjadi nyata. Aku akan menggunakan pisau,1 Teman Sāriputta; aku tidak memiliki keinginan untuk hidup.”

6. “Mohon Yang Mulia Channa tidak menggunakan pisau. Mohon Yang Mulia Channa tetap hidup. Kami ingin Yang Mulia Channa tetap hidup. Jika ia tidak memiliki makanan yang sesuai, maka aku akan pergi mencarikan makanan yang sesuai untuknya. Jika ia tidak memiliki obat yang sesuai, aku akan pergi mencarikan obat yang sesuai untuknya. Jika ia tidak memiliki pelayan yang baik, aku akan melayaninya. Mohon Yang Mulia Channa tidak menggunakan pisau. Mohon Yang Mulia Channa tetap hidup.”

7. “Teman Sāriputta, bukan karena aku tidak memiliki makanan yang sesuai; aku memiliki makanan yang sesuai. Bukan karena aku tidak memiliki obat-obatan yang sesuai; aku memiliki obat-obatan yang sesuai. Bukan karena aku tidak memiliki pelayan yang baik; aku memiliki pelayan yang baik. Terlebih lagi, Teman, sejak lama Sang Guru telah dilayani olehku dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang tidak baik; karena adalah selayaknya seorang siswa melayani Sang Guru dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang tidak baik. Ingatlah ini, Teman Sāriputta: Bhikkhu Channa akan menggunakan pisau dengan tanpa noda.”2

8. “Kami akan bertanya kepada Yang Mulia Channa mengenai hal tertentu, jika ia sudi menjawab pertanyaan kami.”

“Tanyalah, Teman Sāriputta. Ketika mendengarnya aku akan mengetahui.”

9. “Teman Channa, apakah engkau menganggap mata, kesadaran-mata, dan bentuk-bentuk yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-mata sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, [265] ini diriku’? Apakah engkau menganggap telinga … hidung … lidah … badan … pikiran, kesadaran-pikiran, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-pikiran sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?”

“Teman Sāriputta, aku menganggap mata, kesadaran-mata, bentuk-bentuk yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-mata sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Aku menganggap telinga … hidung … lidah … badan … pikiran, kesadaran-pikiran, dan hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-pikiran sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’”

10. “Teman Channa, apakah yang telah engkau lihat dan ketahui secara langsung dalam mata, dalam kesadaran-mata, dan dalam bentuk-bentuk yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-mata, yang engkau anggap sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku’? Apakah yang telah engkau lihat dan ketahui secara langsung dalam telinga … dalam hidung … dalam lidah … dalam badan … dalam pikiran, dalam kesadaran-pikiran, dan dalam hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-pikiran, yang engkau anggap sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku’?”

“Teman Sāriputta, adalah dengan melihat dan secara langsung mengetahui pelenyapan di dalam mata, di dalam kesadaran-mata, dan di dalam bentuk-bentuk yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-mata, maka aku menganggapnya sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Karena aku telah melihat dan secara langsung mengetahui pelenyapan di dalam telinga … di dalam hidung … di dalam lidah … di dalam badan … di dalam pikiran, di dalam kesadaran-pikiran, dan di dalam hal-hal yang dikenali [oleh pikiran] melalui kesadaran-pikiran, [266] maka aku menganggapnya sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’”

11. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Cunda berkata kepada Yang Mulia Channa:3 “Oleh karena itu, Teman Channa, ajaran Sang Bhagavā ini harus terus-menerus diperhatikan: ‘Ada keraguan bagi seseorang yang tergantung, tidak ada keraguan bagi seseorang yang tidak tergantung. Ketika tidak ada keraguan, maka ada ketenangan; ketika ada ketenangan, maka tidak ada prasangka; ketika tidak ada prasangka, maka tidak ada datang dan pergi; ketika tidak ada datang dan pergi, maka tidak ada meninggal dunia dan terlahir kembali; ketika tidak ada meninggal dunia dan terlahir kembali, maka tidak ada di sini juga tidak ada di sana juga tidak ada di antara keduanya. Inilah akhir penderitaan.’”4

12. Kemudian, setelah Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Cunda memberikan nasihat kepada Yang Mulia Channa, mereka bangkit dari duduk dan pergi. Kemudian, tidak lama setelah mereka pergi, Yang Mulia Channa menggunakan pisau.5

13. Kemudian Yang Mulia Sāriputta mendekati Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, Yang Mulia Channa telah menggunakan pisau. Ke manakah alam tujuannya, di manakah ia dilahirkan kembali?”

“Sāriputta, bukankah Bhikkhu Channa menyatakan ketanpa-nodaannya kepadamu?”6

“Yang Mulia, ada desa Vajji bernama Pubbajira. Di sana Yang Mulia Channa memiliki keluarga yang bersahabat, keluarga yang akrab, keluarga yang dapat didekati [sebagai penyokongnya].”7

“Sesungguhnya Bhikkhu Channa memang memiliki keluarga yang bersahabat, keluarga yang akrab, keluarga yang dapat didekati [sebagai penyokongnya]; tetapi Aku tidak mengatakan sehubungan dengan hal ini bahwa ia menjadi tercela. Sāriputta, ketika seseorang melepaskan tubuh ini dan mengambil tubuh lainnya, maka Aku katakan bahwa ia tercela. Ini tidak terjadi dalam kasus Bhikkhu Channa. Bhikkhu Channa menggunakan pisau dengan tanpa noda. Demikianlah, Sāriputta, engkau harus mengingatnya.”8

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Sāriputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Ini adalah suatu ungkapan untuk melakukan bunuh diri
  2. Dengan mengucapkan pernyataan ini ia secara tidak langsung mengaku bahwa ia adalah seorang Arahant, seperti akan dijelaskan pada §13. Apakah pengakuannya pada titik ini benar atau tidak, hal ini tidak dapat dipastikan, komentar menganggapnya sebagai suatu kasus menilai diri sendiri terlalu tinggi.
  3. MA mengatakan bahwa YM. Mahā Cunda memberikan instruksi ini kepadanya dengan berpikir bahwa ia masih seorang biasa, karena ia tidak mampu menahankan kesakitan yang mematikan itu dan ingin melakukan bunuh diri.
  4. Makna dari instruksi dapat dijelaskan dengan bantuan MA sebagai berikut: Seseorang menjadi bergantung karena ketagihan dan pandangan dan menjadi tidak bergantung dengan meninggalkannya melalui tercapainya Kearahattaan. Anggapan (nati, lit. kecenderungan) terjadi melalui ketagihan, dan ketiadaannya berarti tidak ada kecenderungan atau keinginan pada kehidupan. Tidak ada datang dan pergi dicapai melalui berakhirnya kelahiran kembali dan kematian, tidak ada di sini juga tidak ada di sana juga tidak ada di antara keduanya dicapai melalui dilampauinya dunia ini, dunia berikutnya, dan jalan antara dunia ini dan dunia berikutnya. Ini adalah akhir penderitaan kekotoran dan penderitaan lingkaran.
  5. MA: Ia memotong lehernya, dan persis pada saat itu ketakutan akan kematian mendatanginya dan gambaran kelahiran kembali di masa depan muncul. Menyadari bahwa ia masih seorang awam, ia tergerak dan mengembangkan pandangan terang. Dengan memahami bentukan-bentukan, ia mencapai Kearahattaan persis sebelum meninggal dunia.
  6. MA: Walaupun pernyataan (ketanpa-nodaan) ini diungkapkan sewaktu Channa masih menjadi seorang kaum duniawi, karena pencapaian Nibbāna akhir terjadi segera setelah itu, maka Sang Buddha menjawab dengan merujuk pernyataan itu.

    Harus dipahami bahwa interpretasi komentar diberikan pada teks dari luar, seperti biasanya. Jika seseorang berpegang pada kata-kata dari teks tampaknya Channa telah menjadi Arahant ketika ia memberikan pernyataan itu, suatu pukulan dramatis yang disampaikan melalui kegagalan kedua bhikkhu bersaudara itu dalam mengenali hal ini. Implikasinya, tentu saja, adalah bahwa kesakitan luar biasa dapat mendorong bahkan seorang Arahant untuk bunuh diri – bukan karena penolakan melainkan hanya sekadar agar terbebas dari kesakitan yang tidak tertahankan.

  7. Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan keluarga-keluarga awam yang menyokong Yang Mulia Channa - mittakulāni suhajjakulāni upavajjakulāni – jelas saling bersinonim. Istilah ke tiga memberikan kesempatan bagi suatu permainan kata. MA mengemasnya sebagai upasankamitabbakulāni, “keluarga-keluarga yang harus didekati” (yaitu, untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhannya). Menurut CPD, upavaja di sini mewakili Skt upavrajya; kata dalam makna ini tidak terdapat dalam PED, walaupun ini mungkin satu-satunya kemunculan kata ini yang bermakna demikian. Kata ini ber-homonim dengan kata lain yang bermakna “tercela,” mewakili Skt upavadya, dengan demikian berhubungan dengan pengakuan Channa sebelumnya bahwa ia akan bunuh diri dengan tanpa noda (*anupavajja*). Baca catatan berikut.
  8. Pernyataan ini tampaknya menyiratkan bahwa Channa adalah seorang Arahant pada saat ia melakukan tindakan bunuh diri, walaupun komentar menjelaskan sebaliknya.

    Ketika Sang Buddha mengatakan tentang kondisi-kondisi di mana seseorang adalah tercela (sa-upavajja), upavajja mewakili upavadya. Walaupun sebelumnya MA menjelaskan makna yang benar atas upavajjakulāni, di sini komentator tampaknya melupakan permainan kata dan berkomentar seolah-olah Channa memang memiliki cacat karena bergaul terlalu dekat dengan umat-umat awam: “Bhikkhu Sāriputta, menunjukkan cacat keakraban dengan keluarga-keluarga (kulasaṁsaggadosa) dalam tahap awal praktik, dengan menanyakan: ‘Ketika bhikkhu itu memiliki para penyokong demikian, dapatkah ia telah mencapai Nibbāna akhir?’ Sang Bhagavā menjawab dengan menunjukkan bahwa ia tidak akrab dengan keluarga-keluarga.”