1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu, dan akhirnya sampai di sebuah desa Kosala bernama Nagaravinda.

2. Para brahmana perumah-tangga dari Nagaravinda mendengar: “Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah mengembara di Negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu [291] dan telah sampai di Nagaravinda. Sekarang berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna … (seperti Sutta 41, §2) … Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.’ Sekarang adalah baik sekali jika dapat menemui para Arahant demikian.”

3. Kemudian para brahmana perumah-tangga dari Nagaravinda pergi menemui Sang Bhagavā. Beberapa bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya saling bertukar sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah ini berakhir, duduk di satu sisi; beberapa lainnya merangkapkan tangan sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya menyebutkan nama dan suku mereka di hadapan Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya hanya berdiam diri dan duduk di satu sisi.

4. “Para perumah-tangga, jika para mengembara sekte lain menanyakan kepada kalian sebagai berikut: ‘Para perumah-tangga, petapa dan brahmana seperti apakah yang seharusnya tidak dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan?’ maka kalian harus menjawab: ‘Para petapa dan brahmana yang belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang tidak damai dalam batin, dan yang perilakunya dalam jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk – petapa dan brahmana demikian seharusnya tidak dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Mengapakah? Karena kami sendiri belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, kami tidak damai dalam batin, dan perilaku kami dalam jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk. Karena kami tidak melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak para petapa dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya tidak dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.

“‘Para petapa dan brahmana yang belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga … sehubungan dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung … sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan … sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang tidak damai dalam batin, dan yang perilakunya dalam jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk … seharusnya tidak dihormati … [292] … Karena kami tidak melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak para petapa dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya tidak dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.’ Jika ditanya demikian, para perumah-tangga, maka kalian harus menjawab para pengembara sekte lain itu dengan cara seperti ini.

5. “Tetapi, Para perumah-tangga, jika para mengembara sekte lain menanyakan kepada kalian sebagai berikut: ‘Para perumah-tangga, petapa dan brahmana seperti apakah yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan?’ maka kalian harus menjawab: ‘Para petapa dan brahmana yang terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang damai dalam batin, dan yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran – petapa dan brahmana demikian seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Mengapakah? Karena kami sendiri belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, kami tidak damai dalam batin, dan perilaku kami dalam jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk. Karena kami melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak para petapa dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.

“‘Para petapa dan brahmana yang terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga … sehubungan dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung … sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan … sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang damai dalam batin, dan yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran … seharusnya dihormati … Karena kami melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak para petapa dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.’ Jika ditanya demikian, para perumah-tangga, maka kalian harus menjawab para pengembara sekte lain itu dengan cara seperti ini.

6. “Para perumah-tangga, jika para pengembara sekte lain menanyakan kepada kalian sebagai berikut: ‘Tetapi apakah alasan kalian dan apakah bukti kalian sehubungan dengan para mulia itu yang karenanya kalian mengatakan tentang mereka: “Pasti para mulia ini [293] telah terbebas dari nafsu atau sedang berlatih untuk melenyapkan nafsu; mereka telah terbebas dari kebencian atau sedang berlatih untuk melenyapkan kebencian; mereka telah terbebas dari delusi atau sedang berlatih untuk melenyapkan delusi”?’ – jika ditanya demikian, kalian harus menjawab para pengembara itu sebagai berikut: ‘Adalah karena para mulia itu bertempat tinggal di hutan-hutan belantara yang terpencil. Karena tidak ada bentuk-bentuk yang dapat dikenali oleh mata dari jenis yang dapat mereka senangi yang dapat mereka lihat. Karena tidak ada suara-suara yang dapat dikenali oleh telinga dari jenis yang dapat mereka senangi yang dapat mereka dengar. Karena tidak ada bau-bauan yang dapat dikenali oleh hidung dari jenis yang dapat mereka senangi yang dapat mereka cium. Karena tidak ada rasa kecapan yang dapat dikenali oleh lidah dari jenis yang dapat mereka senangi yang dapat mereka kecap. Karena tidak ada objek-objek sentuhan yang dapat dikenali oleh badan dari jenis yang dapat mereka senangi yang dapat mereka sentuh. Ini adalah alasan kami, Sahabat-sahabat, ini adalah bukti kami yang karenanya kami mengatakan tentang para mulia itu: “Pasti para mulia ini telah terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi atau sedang berlatih untuk melenyapkannya.”’ Jika ditanya demikian, Para perumah-tangga, maka kalian harus menjawab para pengembara sekte lain itu dengan cara seperti ini.”

7. Ketika hal ini dikatakan, para brahmana perumah-tangga dari Nagaravinda berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Kami berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama menerima kami sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”