[252] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip.

2. Pada saat itu sejumlah bhikkhu telah menyatakan pengetahuan akhir di hadapan Sang Bhagavā sebagai berikut: “Kami memahami: Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.”

3. Sunakkhatta, putera Licchavi,1 mendengar: “Sepertinya sejumlah bhikkhu telah menyatakan pengetahuan akhir di hadapan Sang Bhagavā sebagai berikut: ‘Kami memahami: Kelahiran telah dihancurkan … tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’” Kemudian Sunakkhatta, putera Licchavi, menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

4. “Aku telah mendengar, Yang Mulia, bahwa sejumlah bhikkhu telah menyatakan pengetahuan akhir di hadapan Sang Bhagavā. Apakah mereka benar-benar telah mencapainya atau adakah beberapa bhikkhu di sini yang menyatakan pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi?”

5. “Ketika para bhikkhu itu, Sunakkhatta, menyatakan pengetahuan akhir di hadapanKu, ada beberapa bhikkhu yang benar-benar telah mencapai pengetahuan akhir dan ada beberapa yang menyatakan telah mencapai pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi.2 Di sana, ketika para bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir karena benar-benar telah mencapainya, maka pernyataan mereka adalah benar. Tetapi ketika para bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi, Sang Tathāgata berpikir: ‘Aku harus mengajarkan Dhamma kepada mereka.’3 Demikianlah dalam hal ini, Sunakkhatta, Sang Tathāgata berpikir: ‘Aku harus mengajarkan Dhamma kepada mereka.’ Tetapi beberapa orang sesat di sini menyusun pertanyaan, menghadap Sang Tathāgata, dan mengajukannya. Dalam hal ini, Sunakkhatta, [253] walaupun Sang Tathāgata telah berpikir: ‘Aku harus mengajarkan Dhamma kepada mereka,’ namun Beliau berubah pikiran.”4

6. “Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā, sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna, bagi Sang Bhagavā untuk mengajarkan Dhamma. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka dengarkanlah, Sunakkhatta, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Sunakkhatta, putera Licchavi, menjawab Sang Bhagavā. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

7. “Ada, Sunakkhatta, lima utas kenikmatan indria ini. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga … bau-bauan yang dikenali oleh hidung … rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.

8. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada hal-hal materi duniawi.5 Ketika seseorang condong pada hal-hal materi duniawi, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. tetapi ketika pembicaraan mengenai ketanpa-gangguan sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

9. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang telah lama meninggalkan desa atau kota asalnya, dan ia bertemu dengan orang lain yang baru saja meninggalkan desa atau kota itu. Ia akan menanyakan kepada orang itu apakah para penduduk desa atau kota itu selamat, makmur, dan sehat, dan orang itu akan memberitahukan kepadanya apakah para penduduk desa atau kota itu selamat, makmur, [254] dan sehat. Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta? Apakah orang pertama akan mendengarkannya, dan mengarahkan pikirannya untuk memahami?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Sunakkhatta, adalah mungkin bahwa seseorang di sini mungkin condong pada hal-hal materi duniawi. Ketika seseorang condong pada hal-hal materi duniawi … dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu. Ia harus dipahami sebagai seorang yang condong pada hal-hal materi duniawi.

10. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada ketanpa-gangguan.6 Ketika seseorang condong pada ketanpa-gangguan, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. Tetapi ketika pembicaraan mengenai hal-hal materi duniawi sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

11. “Bagaikan sehelai daun yang telah menguning yang gugur dari tangkainya tidak mampu menjadi hijau kembali, demikian pula, Sunakkhatta, ketika seseorang condong pada ketanpa-gangguan ia telah menghalau belenggu hal-hal materi duniawi. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu hal-hal materi duniawi yang condong pada ketanpa-gangguan.

12. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada landasan kekosongan. Ketika seseorang condong pada landasan kekosongan, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. [255] Tetapi ketika pembicaraan mengenai ketanpa-gangguan sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

13. “Bagaikan sebutir batu besar yang pecah menjadi dua tidak dapat digabungkan kembali menjadi satu, demikian pula, Sunakkhatta, ketika seseorang condong pada landasan kekosongan maka belenggu ketanpa-gangguan telah dipecahkan. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu ketanpa-gangguan yang condong pada landasan kekosongan

14. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ketika seseorang condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. Tetapi ketika pembicaraan mengenai landasan kekosongan sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

15. “Misalkan seseorang telah memakan makanan lezat dan memuntahkannya. Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta? Apakah orang itu berkeinginan untuk memakannya lagi?”

“Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena makanan itu dianggap menjijikkan.”

“Demikian pula, Sunakkhatta, ketika seseorang condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, belenggu landasan kekosongan telah ditolak. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu landasan kekosongan dan yang condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.

16. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada Nibbāna. Ketika seseorang condong pada Nibbāna, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. Tetapi ketika pembicaraan mengenai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sedang berlangsung, [256] ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

17. “Bagaikan sebatang pohon palem yang pucuknya dipotong menjadi tidak mampu tumbuh lagi, demikian pula, ketika seseorang sepenuhnya condong pada Nibbāna, belenggu landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi telah dipotong – terpotong di akarnya, dibuat menjadi tunggul pohon, dihancurkan sehingga tidak lagi muncul di masa depan. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.

18. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seorang bhikkhu di sini mungkin berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa;7 cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Karena ia menganggap dirinya demikian, walaupun berlawanan dengan fakta,8 ia mungkin mengikuti hal-hal itu yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna. Ia mungkin dengan matanya mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya, ia mungkin dengan telinganya mengikuti suara-suara yang tidak selayaknya, dengan hidungnya mengikuti bau-bauan yang tidak selayaknya, dengan lidahnya mengikuti rasa kecapan yang tidak selayaknya, dengan badannya mengikuti objek-objek sentuhan yang tidak selayaknya, atau dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya. Ketika ia dengan mata mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya … dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya, maka nafsu akan menyerbu pikirannya. Dengan pikirannya diserbu oleh nafsu, maka ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

19. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang terluka oleh anak panah beracun, dan teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, membawa seorang ahli bedah. Ahli bedah itu membedah luka itu dengan pisau, memeriksa anak panah itu dengan alat periksa, [257] kemudian ia mencabut anak panah itu dan mengeluarkan cairan beracun dengan meninggalkan sisa-sisa racun itu. Karena berpikir bahwa tidak ada sisa-sisa racun yang tertinggal,9 ia berkata: ‘Tuan, anak panah telah dicabut dari tubuhmu; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaimu. Makanlah hanya makanan-makanan yang layak; jangan memakan makanan yang tidak layak agar luka itu tidak bernanah. Dari waktu ke waktu cucilah luka itu dan dari waktu ke waktu olesi luka itu dengan salep agar nanah dan darah tidak menutupi luka itu. Jangan berjalan terpapar oleh angin dan matahari agar debu dan tanah tidak menginfeksi luka itu. Rawatlah luka itu, Tuan, dan uruslah luka itu hingga sembuh.’

20. “Orang itu akan berpikir: ‘Anak panah telah dicabut dari tubuhku; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaiku.’ Ia memakan makanan yang tidak layak, dan luka itu bernanah. Dari waktu ke waktu ia tidak mencuci lukanya dan dari waktu ke waktu ia tidak mengolesi lukanya dengan salep, dan nanah dan darah menutupi lukanya. Ia berjalan dengan terpapar oleh angin dan matahari, dan debu dan tanah menginfeksi luka itu. Ia tidak merawat luka itu dan mengurusnya hingga sembuh. Kemudian, karena ia melakukan yang tidak selayaknya dan karena sisa cairan beracun yang tertinggal, luka itu membengkak, dan dengan pembengkakan itu ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

21. “Demikian pula, Sunakkhatta, adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa; cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; [258] cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Karena ia menganggap dirinya demikian, walaupun berlawanan dengan fakta, ia mungkin mengikuti hal-hal itu yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna … (seperti di atas) … maka nafsu akan menyerbu pikirannya, ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

22. “Karena adalah kematian dalam Disiplin Para Mulia, Sunakkhatta, ketika seseorang meninggalkan latihan dan kembali ke kehidupan rendah; dan adalah penderitaan mematikan ketika seseorang Yang melakukan pelanggaran yang mengotori.10

23. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seorang bhikkhu di sini mungkin berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa; cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Sebagai seorang yang sungguh-sungguh sepenuhnya condong pada Nibbāna, ia tidak mengikuti hal-hal yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna. Ia tidak dengan matanya mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya, ia tidak dengan telinganya mengikuti suara-suara yang tidak selayaknya, tidak dengan hidungnya mengikuti bau-bauan yang tidak selayaknya, tidak dengan lidahnya mengikuti rasa kecapan yang tidak selayaknya, tidak dengan badannya mengikuti objek-objek sentuhan yang tidak selayaknya, dan tidak dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya. Karena ia tidak dengan mata mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya … tidak dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya, maka nafsu tidak menyerbu pikirannya. [259] Karena nafsu tidak menyerbu pikirannya, maka ia tidak mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

24. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang terluka oleh anak panah beracun, dan teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, membawa seorang ahli bedah. Ahli bedah itu membedah luka itu dengan pisau, memeriksa anak panah itu dengan alat periksa, kemudian ia mencabut anak panah itu dan mengeluarkan cairan beracun tanpa meninggalkan sisa-sisa racun itu. Mengetahui bahwa tidak ada sisa-sisa racun yang tertinggal, ia berkata: ‘Tuan, anak panah telah dicabut dari tubuhmu; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaimu. Makanlah hanya makanan-makanan yang layak; jangan memakan makanan yang tidak layak agar luka itu tidak bernanah. Dari waktu ke waktu cucilah luka itu dan dari waktu ke waktu oleskan luka itu dengan salep, sehingga nanah dan darah tidak menutupi luka itu. Jangan berjalan terpapar oleh angin dan matahari agar debu dan tanah tidak menginfeksi luka itu. Rawatlah luka itu, Tuan, dan uruslah luka itu hingga sembuh.’

25. “Orang itu akan berpikir: ‘Anak panah telah dicabut dari tubuhku; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaiku.’ Ia memakan hanya makanan yang layak, dan luka itu tidak bernanah. Dari waktu ke waktu ia mencuci lukanya dan dari waktu ke waktu ia mengolesi lukanya dengan salep, dan nanah dan darah tidak menutupi lukanya. Ia tidak berjalan dengan terpapar oleh angin dan matahari, dan debu dan tanah tidak menginfeksi luka itu. Ia merawat luka itu dan mengurusnya hingga sembuh. Kemudian, karena ia melakukan yang selayaknya dan karena tidak ada sisa cairan beracun yang tertinggal, luka itu sembuh, dan dengan kesembuhan itu dan tertutup kulit, ia tidak akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

26. “Demikian pula, Sunakkhatta, adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa; [260] cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Sebagai seorang yang sungguh-sungguh sepenuhnya condong pada Nibbāna, ia tidak mengikuti hal-hal yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna … (seperti di atas) … Karena nafsu tidak menyerbu pikirannya, maka ia tidak mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

27. “Sunakkhatta, Aku memberikan perumpamaan ini untuk menyampaikan maknanya. Maknanya adalah sebagai berikut: ‘Luka’ adalah sebutan bagi enam landasan indria internal. ‘Cairan beracun’ adalah sebutan bagi ketidak-tahuan. ‘Anak panah’ adalah sebutan bagi ketagihan. ‘Alat periksa’ adalah sebutan bagi perhatian. ‘Pisau’ adalah sebutan bagi kebijaksanaan mulia. ‘Ahli bedah’ adalah sebutan bagi Sang Tathāgata, Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna.

28. “Bhikkhu itu, Sunakkhatta, adalah seorang yang mempraktikkan pengendalian dalam enam landasan kontak. Setelah memahami bahwa perolehan adalah akar penderitaan,11 karena tanpa perolehan, terbebaskan dalam hancurnya perolehan, adalah tidak mungkin bahwa ia akan mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikiran ke arah perolehan apapun juga.

29. “Misalkan, Sunakkhatta, terdapat sebuah cangkir perunggu berisi minuman yang berwarna indah, berbau harum, dan rasa lezat, tetapi telah dicampur dengan racun, dan seseorang datang yang menginginkan kehidupan, bukan kematian, yang menginginkan kenikmatan dan menghindari kesakitan.12 Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta, apakah orang itu akan meminum secangkir minuman itu, dengan mengetahui: ‘Jika aku meminum ini maka aku akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan’?” – “Tidak, Yang Mulia.” [261] – “Demikian pula, bhikkhu itu adalah seorang yang mempraktikkan pengendalian dalam enam landasan kontak. Setelah memahami bahwa perolehan adalah akar penderitaan, karena tanpa perolehan, terbebaskan dalam hancurnya perolehan, adalah tidak mungkin bahwa ia akan mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikiran ke arah perolehan apapun juga.

30. “Misalkan, Sunakkhatta, ada seekor ular berbisa yang mematikan, dan seseorang datang yang menginginkan kehidupan, bukan kematian, yang menginginkan kenikmatan dan menghindari kesakitan. Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta, apakah orang itu akan mengulurkan tangannya atau jari tangannya, dengan mengetahui: ‘Jika aku digigit oleh ular itu maka aku akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan’?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Demikian pula, ketika seorang bhikkhu mempraktikkan pengendalian dalam enam landasan kontak, dan setelah memahami bahwa kemelekatan adalah akar penderitaan, maka ia menjadi tanpa kemelekatan, terbebaskan dalam hancurnya kemelekatan, adalah tidak mungkin bahwa ia akan mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikiran ke arah objek kemelekatan apapun juga.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Sunakkhatta, putera Licchavi, merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


  1. Baca MN 12 dan n.177.
  2. Adhimānena. MA: mereka menyatakan ini karena keangkuhan, menganggap mereka telah mencapai apa yang belum mereka capai.
  3. MA: Untuk menyatakan tingkat pencapaian mereka.
  4. MA: Karena mereka termotivasi oleh keinginan, pikiran Sang Tathāgata untuk mengajarkan Dhamma, yang muncul terhadap para praktisi sejati, menjadi berubah (yaitu, memudar).
  5. Lokāmisa. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.
  6. Āneñja (BBS); ānañja (PTS). Ini adalah istilah teknis untuk pencapaian-pencapaian meditatif dari jhāna ke empat melalui empat pencapaian tanpa materi. Tetapi karena dua pencapaian tanpa materi yang tertinggi dibahas secara terpisah, sepertinya bahwa dalam sutta ini hanya jhāna ke empat dan dua pencapaian tanpa materi yang lebih rendah yang dimaksudkan sebagai “ketanpa-gangguan.”
  7. Sang Buddha.
  8. Membaca sama seperti BBS, evaṁmāni assa atathaṁ samānaṁ. CPD menyarankan atathaṁ samānaṁ mungkin berbentuk akusatif absolut. Paragraf ini merujuk kembali kepada persoalan terlalu tinggi menilai diri sendiri yang dengannya khotbah dimulai.
  9. Saya mengikuti PTS di sini, yang tulisannya sepertinya didukung oleh semua versi sebelum BBS. Karena ahli bedah melambangkan Sang Tathāgata, dan teks tidak dapat menganggap bahwa Sang Buddha melakukan kesalahan penilaian, BBS mempertahankan penerapan keras atas perumpamaan ini dan telah “mengoreksi” teks dengan tulisan sa-upādiseso ti jānamāno. Saya mengikuti tulisan ini dalam edisi pertama, tetapi sekarang yakin bahwa itu adalah kesalahan pada BBS dalam mengubah teks yang diterima; penulisan secara paralel keras dalam penerapan perumpamaan adalah tidak seharusnya. SBJ mengikuti BBS dalam menuliskan sa-upādiseso tapi mempertahankan maññamāno yang menyebabkan ketidak-sesuaian. Seluruh edisi menuliskan janamāno sebagai kata kerja dalam versi berlawanan dari perumpamaan di bawah. Di mana PTS menuliskan alañ di bawah, kita harus membaca analañ sama seperti BBS dan SBJ, yang juga didukung oleh kemasan dalam MA.
  10. Pelanggaran apapun dalam dua kelompok, pārājika dan sanghādisesa; baca n.987. Analogi ini sulit diterapkan dengan tepat, karena jika ketagihan dan ketidak-tahuan telah benar-benar dilenyapkan dalam dirinya dengan hanya sisa-sisa yang tertinggal, maka bhikkhu itu adalah seorang sekha; namun tidak mungkin bahwa seorang sekha dapat meninggalkan latihan atau melakukan pelanggaran yang mengotori. Sepertinya dalam kasus ini analogi ini harus diterapkan secara longgar, dan bhikkhu itu harus dipahami sebagai seorang yang secara keliru membayangkan bahwa ketagihan dan ketidak-tahuan telah dilenyapkan dalam dirinya.
  11. Baca MN 66.17. MA: Arahant, terbebaskan dalam Nibbāna, hancurnya ketagihan [dengan menggunakannya] sebagai objek, tidak akan pernah mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikirannya untuk melibatkan diri dalam kelima utas kenikmatan indria.
  12. Seperti pada MN 46.19. Saya mengikuti BBS dan SBJ, yang memasukkan rasasampanno, yang tidak terdapat dalam PTS.