1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.1 Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Mithilā di Hutan Mangga Makhādeva.2

2. Kemudian di suatu tempat tertentu, Beliau tersenyum. Yang Mulia Ānanda berpikir: “Apakah alasannya, apakah sebabnya, Sang Bhagavā tersenyum? Para Tathāgata tidak tersenyum tanpa alasan.” Maka ia merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, dan merangkapkan tangan sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā, dan bertanya kepada Beliau: “Yang Mulia, apakah alasan, apakah sebab, bagi senyuman Sang Bhagavā? Para Tathāgata tidak tersenyum tanpa alasan.”

3. “Suatu ketika, Ānanda, di tempat ini hiduplah seorang raja bernama Makhādeva. Ia adalah raja yang adil yang memerintah sesuai dengan Dhamma, seorang raja besar yang kokoh dalam Dhamma.3 Ia berperilaku sesuai Dhamma di antara para brahmana, para perumah-tangga, di antara para penduduk kota dan desa, dan ia melaksanakan hari-hari Uposatha [75] di tanggal ke empat belas, ke lima belas, dan ke delapan setiap setengah bulan.4

4. “Sekarang pada akhir dari banyak tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, Raja Makhādeva berkata kepada tukang cukurnya sebagai berikut: ‘Tukang cukur yang baik, jika engkau melihat ada uban yang tumbuh di kepalaku, beritahukanlah kepadaku.’ – ‘Baik, Baginda,’ ia menjawab. Dan setelah banyak tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, si tukang cukur melihat uban yang tumbuh di kepala Raja Makhādeva.5 Ketika ia melihatnya, ia berkata kepada raja: ‘Utusan surgawi telah muncul, Baginda; uban telah terlihat tumbuh di kepala Baginda.’ – ‘Kalau begitu, tukang cukur yang baik, cabutlah uban itu dengan hati-hati dengan penjepit dan letakkan di telapak tanganku.’ – ‘Baik, Baginda,’ Ia menjawab, dan ia mencabut uban itu dengan hati-hati dengan penjepit dan meletakkannya di telapak tangan raja.

“Kemudian Raja Makhādeva menganugerahkan sebuah desa kepada tukang cukurnya, dan setelah memanggil sang pangeran, putera sulungnya, ia berkata: ‘Anakku Pangeran, utusan surgawi telah muncul,6 uban telah terlihat tumbuh di kepalaku. Aku telah menikmati kenikmatan indria manusiawi, sekarang adalah waktunya untuk mencari kenikmatan indria surgawi. Marilah, anakku Pangeran, ambil-alihlah tahta ini. Aku akan mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Dan sekarang, anakku Pangeran, ketika engkau juga melihat uban tumbuh di kepalamu, maka setelah memberikan anugerah sebuah desa kepada tukang cukurmu, dan setelah dengan saksama memberikan instruksi kepada sang pangeran, putera sulungmu, dalam ketahtaan, cukurlah rambut dan janggutmu, kenakan jubah kuning, dan tinggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Lanjutkanlah praktik yang baik yang dimulai olehku ini dan janganlah menjadi orang terakhir. Anakku Pangeran, jika ada dua orang yang hidup bersama, ia yang di bawah siapa melakukan pelanggaran atas praktik yang baik ini – ia adalah orang terakhir di antara keduanya. Oleh karena itu, anakku Pangeran, aku katakan kepadamu: Lanjutkanlah praktik yang baik yang dimulai olehku ini dan janganlah menjadi orang terakhir.’

5. “Kemudian, setelah memberikan anugerah sebuah desa kepada tukang cukurnya dan dengan saksama memberikan instruksi kepada Sang Pangeran, putera sulungnya, dalam ketahtaan, di dalam Hutan Mangga Makhādeva ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

“Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh cinta kasih, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.

“Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas kasih … dengan pikiran penuh kegembiraan altruistik … dengan pikiran penuh keseimbangan, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh keseimbangan, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.

6. “Selama delapan puluh empat ribu tahun Raja Makhādeva memainkan permainan anak-anak; selama delapan puluh empat ribu tahun ia bertindak sebagai wakil kepala daerah; selama delapan puluh empat ribu tahun ia memerintah kerajaan; selama delapan puluh empat ribu tahun ia menjalani kehidupan suci di dalam Hutan Mangga Makhādeva ini setelah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan mengembangkan keempat kediaman brahma, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam Brahma.

7-9. “Sekarang pada akhir dari banyak tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, putera Raja Makhādeva berkata kepada tukang cukurnya sebagai berikut: … (seperti di atas §§4-6, dengan menggantikan “Raja Makhādeva” menjadi “putera Raja Makhādeva” pada seluruh bagian) … [77, 78] … Dengan mengembangkan keempat kediaman brahma, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam Brahma.

10. “Keturunan putera Raja Makhādeva hingga berjumlah delapan puluh empat ribu berturut-turut, setelah mencukur rambut dan janggut mereka dan mengenakan jubah kuning, meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah di Hutan Mangga Makhādeva. Mereka berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh cinta kasih … penuh belas kasih … penuh kegembiraan altruistik … penuh keseimbangan … tanpa permusuhan.

11. “Selama delapan puluh empat ribu tahun mereka memainkan permainan anak-anak; selama delapan puluh empat ribu tahun mereka bertindak sebagai wakil kepala daerah; selama delapan puluh empat ribu tahun mereka memerintah kerajaan; selama delapan puluh empat ribu tahun mereka menjalani kehidupan suci di dalam Hutan Mangga Makhādeva ini setelah mencukur rambut dan janggut mereka, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Dengan mengembangkan keempat alam Brahma, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, mereka terlahir kembali di alam Brahma.

12. “Nimi adalah yang terakhir dari raja-raja itu. Ia adalah raja yang adil yang memerintah sesuai dengan Dhamma, seorang raja besar yang mantap dalam Dhamma. Ia berperilaku sesuai Dhamma di antara para brahmana, para perumah-tangga, di antara para penduduk kota dan desa, dan ia melaksanakan hari-hari Uposatha di tanggal ke empat belas, ke lima belas, dan ke delapan setiap setengah bulan.

13. “Suatu ketika, Ānanda, ketika para dewa Tiga-Puluh-Tiga [79] mengadakan pertemuan di Aula Sudhamma, diskusi berikut ini muncul di antara mereka: ‘Suatu keuntungan, tuan-tuan, bagi penduduk Videha, suatu keuntungan besar bagi penduduk Videha bahwa raja mereka, Raja Nimi adalah seorang raja yang adil yang memerintah sesuai dengan Dhamma, seorang raja besar yang mantap dalam Dhamma. Ia berperilaku sesuai Dhamma di antara para brahmana, para perumah-tangga, di antara para penduduk kota dan desa, dan ia melaksanakan hari-hari Uposatha di tanggal ke empat belas, ke lima belas, dan ke delapan setiap setengah bulan.’

“Kemudian Sakka, penguasa para dewa, berkata kepada para dewa Tiga-Puluh-Tiga: ‘Tuan-tuan, apakah kalian ingin bertemu dengan Raja Nimi?’ – ‘Tuan, kami ingin bertemu dengan Raja Nimi.’

“Pada saat itu, bertepatan pada hari Uposatha tanggal lima belas, Raja Nimi setelah mencuci kepalanya dan naik ke kamar atas di istananya, di mana ia duduk untuk menjalankan Uposatha. Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Sakka, penguasa para dewa, lenyap dari antara para dewa Tiga Puluh Tiga dan muncul di hadapan Raja Nimi. Ia berkata: ‘Suatu keuntungan bagimu, Baginda, suatu keuntungan besar bagimu, Baginda. Ketika para dewa Tiga Puluh Tiga mengadakan pertemuan di Aula Sudhamma, diskusi berikut ini muncul di antara mereka: “Suatu keuntungan, tuan-tuan, bagi penduduk Videha … ke delapan setiap setengah bulan.” Baginda, para dewa ingin bertemu denganmu. Aku akan mengirimkan kereta yang ditarik oleh seribu kuda dari keturunan murni untukmu, Baginda. Baginda, naiklah ke kereta surgawi itu tanpa merasa takut.’

“Raja Nimi menerima dengan berdiam diri. Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Sakka, penguasa para dewa, lenyap dari hadapan Raja Nimi dan muncul di antara para dewa Tiga-Puluh-Tiga.

14. “Kemudian Sakka, penguasa para dewa, berkata kepada kusirnya, Mātali, sebagai berikut: ‘Pergilah, Mātali, siapkan sebuah kereta yang ditarik oleh seribu kuda dari keturunan murni, dan datangi Raja Nimi dan katakan: “Baginda, kereta ini yang ditarik oleh seribu kuda dari keturunan murni dikirim untukmu oleh Sakka, penguasa para dewa. Baginda, naiklah ke atas kereta surgawi ini [80] tanpa merasa takut.”’

“‘Baik, Yang Mulia,’ si kusir Mātali menjawab. Dan setelah mempersiapkan kereta yang ditarik oleh seribu kuda dari keturunan murni, ia mendatangi Raja Nimi dan berkata: ‘Baginda, kereta ini yang ditarik oleh seribu kuda dari keturunan murni dikirim untukmu oleh Sakka, penguasa para dewa. Baginda, naiklah ke atas kereta surgawi ini tanpa merasa takut. Tetapi, Baginda, melalui jalan manakah aku harus mengantar engkau: melalui jalan di mana para pelaku kejahatan mengalami akibat perbuatan jahat mereka, atau melalui jalan di mana para pelaku kebaikan mengalami akibat perbuatan baik mereka?’ – ‘Antarkan aku melalui kedua jalan itu, Mātali.’7

15. “Mātali mengantarkan Raja Nimi menuju Aula Sudhamma. Dari kejauhan, Sakka, penguasa para dewa, melihat kedatangan Raja Nimi dan berkata kepadanya: ‘Silahkan masuk, Baginda! Selamat datang, Baginda! Para dewa Tiga Puluh Tiga, Baginda, yang duduk di Aula Sudhamma, telah mengatakan di antara mereka sendiri sebagai berikut: “Suatu keuntungan, tuan-tuan, bagi penduduk Videha … ke delapan setiap setengah bulan.” Baginda, para Dewa Tiga Puluh Tiga ingin bertemu denganmu. Baginda, nikmatilah kekuasaan surgawi di antara para dewa.’

“‘Cukup, Tuan. Mohon sang kusir mengantarkan aku kembali ke Mithilā. Di sana aku akan berperilaku sesuai Dhamma di antara para brahmana dan perumah-tangga, di antara para penduduk kota dan desa; di sana aku akan menjalankan hari-hari Uposatha pada tanggal empat belas, lima belas, dan delapan setiap setengah bulan.’

16. “Kemudian Sakka, penguasa para dewa, menyuruh si kusir Mātali: ‘Pergilah, Mātali, siapkan kereta yang ditarik oleh seribu kuda berketurunan murni dan antarkan Raja Nimi kembali ke Mithilā.’

“‘Baik, Yang Mulia,’ si kusir Mātali menjawab. Dan setelah mempersiapkan kereta yang ditarik oleh seribu kuda berketurunan murni, ia mengantarkan Raja Nimi kembali ke Mithilā. Dan di sana, sungguh, Raja Nimi berperilaku sesuai Dhamma di antara para brahmana dan perumah-tangga, di antara para penduduk kota dan desa; di sana [81] ia menjalankan hari-hari Uposatha tanggal empat belas, lima belas, dan delapan setiap setengah bulan.

17.19. “Sekarang pada akhir dari banyak tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, putera Raja Nimi berkata kepada tukang cukurnya sebagai berikut: … (seperti di atas §§4-6, dengan menggantikan “Raja Makhādeva” menjadi “Raja Nimi” pada seluruh bagian) … [82] … Dengan mengembangkan keempat kediaman brahma, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam Brahma.

20. “Sekarang Raja Nimi memiliki seorang putera bernama Kaḷārajanaka. Ia tidak meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia memutuskan praktik yang baik itu. Ia adalah orang terakhir di antara mereka.

21. “Sekarang, Ānanda, engkau mungkin berpikir sebagai berikut: ‘Pasti, seorang lain adalah Raja Makhādeva pada saat itu yang memulai praktik yang baik itu.’ Tetapi jangan engkau beranggapan begitu. Aku adalah Raja Makhādeva pada saat itu. Aku memulai praktik yang baik itu dan generasi-generasi berikutnya melanjutkan praktik yang baik yang dimulai olehKu itu. Tetapi jenis praktik baik demikian tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna, melainkan hanya kemunculan kembali di alam-Brahma. Tetapi ada jenis praktik baik yang dimulai olehKu saat ini, yang menuntun menuju kekecewaan sepenuhnya, menuju kebosanan sepenuhnya, menuju lenyapnya sepenuhnya, menuju kedamaian sepenuhnya, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan sempurna, menuju Nibbāna. Dan apakah praktik baik itu? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, [83] usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Ini adalah praktik baik yang dimulai olehKu saat ini, yang menuntun menuju kekecewaan sepenuhnya, menuju kebosanan sepenuhnya, menuju lenyapnya sepenuhnya, menuju kedamaian sepenuhnya, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan sempurna, menuju Nibbāna.

“Ānanda, Aku katakan kepadamu: lanjutkanlah praktik baik yang dimulai olehKu ini dan jangan menjadi orang terakhir. Ānanda, jika ada dua orang yang hidup bersama, ia yang di bawah siapa melakukan pelanggaran atas praktik yang baik ini – ia adalah orang terakhir di antara keduanya. Oleh karena itu, Ānanda, aku katakan kepadamu: Lanjutkanlah praktik yang baik yang dimulai olehku ini dan janganlah menjadi orang terakhir.”8

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Baca Makhādeva Jātaka (No. 9) dan Nimi Jataka (No.541). Raja Makhādeva dan Raja Nimi adalah kelahiran-kelahiran lampau Buddha Gotama.
  2. Hutan itu awalnya ditanam oleh Makhādeva dan kemudian diberi nama sesuai dengan namanya.
  3. MA: ia mantap dalam sepuluh perbuatan bermanfaat.
  4. Uposatha adalah hari pelaksanaan religius di India Kuno, juga diserap apa adanya dalam Buddhisme, baca n.59.
  5. Menurut Kosmologi Buddhis, umur kehidupan manusia berfluktuasi antara minimum 10 tahun dan maksimum hingga ribuan tahun. Makhādeva hidup pada masa umur kehidupan pada batas maksimum rentang tersebut.
  6. Mengenai “utusan surgawi” – pertanda usia tua, penyakit, dan kematian – baca MN 130.
  7. MA: Mātali membawanya pertama-tama melalui neraka-neraka, kemudian kembali dan membawanya melalui alam surga.
  8. MA: Praktik baik ini sedang diputuskan oleh seorang bhikkhu yang baik jika berpikir, “Aku tidak dapat mencapai Kearahattaan” dan tidak mengerahkan kegigihan. Telah terputuskan oleh bhikkhu jahat. Praktik baik ini sedang dilanjutkan oleh tujuh sekha. Telah terlanjutkan oleh Arahant.