Dīgha Nikāya, atau “Kumpulan Khotbah Panjang” (Pāḷi dīgha = “panjang”) adalah bagian pertama dari Sutta Piṭaka, dan terdiri dari tiga-puluh-empat sutta, dikelompokkan menjadi tiga vagga, atau bagian.


Para bhikkhu menyaksikan pengembara Suppiya berdebat dengan muridnya tentang kualitas-kualitas Sang Buddha, Ajaran-Nya (Dhamma) dan para bhikkhu (Sangha). Sang Buddha mengajarkan kepada mereka agar tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan terhadap ajaran, dan menyatakan bahwa ‘orang-orang awam’ akan memuji-Nya karena alasan-alasan remeh dan bukan karena inti ajaran-Nya. Beliau menguraikan enam puluh dua jenis pandangan salah, yang semuanya berdasarkan pada kontak dari enam landasan-indria dengan objeknya masing-masing. Kontak mengondisikan keinginan, yang selanjutnya mengarah pada kemelekatan, pada penjelmaan (kembali), pada kelahiran, pada usia-tua dan kematian, dan segala jenis penderitaan. Tetapi Sang Tathāgata (Sang Buddha) telah melampaui semua ini, dan seluruh enam puluh dua pandangan ini terjebak dalam jaring ini.
Raja Ajātasattu dari Magadha, yang memperoleh tahtanya dengan membunuh ayahnya, menghadap Sang Buddha dengan sebuah pertanyaan yang telah ia ajukan dengan sia-sia kepada enam ‘guru’ saingan: Apakah buah, yang terlihat di sini dan saat ini (dalam kehidupan ini) dari kehidupan tanpa rumah? Sang Buddha menjelaskan kepadanya, dan melanjutkan dengan penjelasan akan manfaat yang lebih tinggi, berbagai kondisi meditatif, dan akhirnya kebebasan sejati (bagian ini berulang pada sebelas Sutta berikutnya). Sang Raja, dengan sangat terkesan, menyatakan dirinya sebagai pengikut-awam. Sang Buddha kelak mengatakan kepada para bhikkhu bahwa jika tidak karena kejahatannya, Ajātasattu akan sudah menjadi seorang pemenang-arus dengan ‘membuka mata-Dhamma.’
Pokkharasāti, seorang guru Brāhmaṇa terkenal, mengutus muridnya, Ambaṭṭha (yang dianggap sepenuhnya terpelajar dalam pengetahuan Brāhmaṇa) untuk membuktikan bahwa ‘Petapa Gotama’ adalah seorang manusia luar biasa seperti yang diberitakan (jika Beliau memiliki ‘tiga-puluh-dua tanda seorang manusia luar biasa’). Ambaṭṭha, sombong akan kelahiran Brāhmaṇanya, berperilaku bodoh dan angkuh terhadap Sang Buddha, dan karenanya mengetahui satu dua hal mengenai leluhurnya sendiri, selain itu juga tersadar bahwa Khattiya (Kasta pejuang-mulia) adalah lebih superior daripada Brāhmaṇa. Dengan rendah hati, ia kembali ke Pokkharasāti, yang menjadi marah karena perbuatannya, dan tergesa-gesa menjumpai Sang Buddha, melihat bahwa Beliau sungguh memiliki tiga-puluh-dua tanda manusia luar biasa, dan menjadi beralih keyakinan.
Brāhmaṇa Sonadaṇḍa dari Campā mengetahui kedatangan Petapa Gotama dan pergi menghadap Beliau, menentang nasihat para Brāhmaṇa lainnya yang menganggap hal itu akan menurunkan martabatnya. Sang Buddha bertanya kepadanya mengenai kualitas-kualitas seorang Brāhmaṇa sejati. Ia menyebutkan lima, tetapi dengan perumpamaan-perumpamaan yang diberikan oleh Sang Buddha, ia mengakui bahwa ini dapat dirangkum menjadi dua: kebijaksanaan dan moralitas. Ia menjadi beralih keyakinan, namun tidak mengalami ‘terbukanya mata-Dhamma’.
Brāhmaṇa Kūṭadanta ingin melakukan pengorbanan besar dengan membunuh ratusan binatang. Ia memohon (tidak mungkin, seperti yang ditunjukkan oleh Rhys Davids!) Sang Buddha agar memberikan nasihat atas bagaimana hal tersebut dilakukan. Sang Buddha menceritakan kepadanya tentang kisah Raja masa lampau dan Brāhmaṇa kerajaan, yang melakukan secara simbolis, suatu pengorbanan tanpa darah. Kūṭadanta duduk terdiam, di akhir kisah tersebut, setelah menyadari bahwa Sang Buddha tidak mengatakan: ‘Aku pernah mendengar ini’, dan Sang Buddha mengonfirmasi bahwa kisah itu adalah salah satu kisah kehidupan masa lampau-Nya, dengan demikian berarti ‘Kisah-kehidupan’ (Jātaka). Sang Buddha selanjutnya menjelaskan tentang ‘pengorbanan yang lebih bermanfaat’, yaitu, yang bermanfaat lebih tinggi seperti pada Sutta DN 2. Kūṭadanta melepaskan ratusan binatang yang ia rencanakan akan dibunuh, dengan berkata: ‘Beri binatang-binatang itu rumput untuk dimakan dan berikan air dingin untuk diminum, dan biarkan angin sejuk membelai mereka.’ Ia menjadi pengikut-awam, dan ‘mata-Dhamma yang murni dan tanpa-noda’ terbuka dalam dirinya.
Oṭṭhaddha (dengan nama keluarga Mahāli) seorang Licchavi bertanya kepada Sang Buddha mengenai mengapa beberapa orang tidak dapat mendengarkan ‘suara-suara surgawi’ dan seterusnya, yang dijelaskan oleh Sang Buddha bahwa hal tersebut adalah karena latihan ‘samādhi satu sisi’ mereka. Pada bagian berikutnya, Sang Buddha menjelaskan bagaimana dua petapa, Maṇḍisa dan Jāliya, pernah bertanya kepada-Nya apakah jiwa atau prinsip kehidupan, adalah sama dengan badan, atau berbeda (Ini adalah satu dari ‘pertanyaan yang tidak terjawab’ yang disebutkan dalam DN 9). Sang Buddha mengatakan bahwa siapa pun yang telah mencapai pemahaman yang lebih tinggi tidak akan lagi terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan demikian.
Hanya mengulang bagian terakhir dari DN 6.
Khotbah Panjang Auman Singa juga disebut ‘Auman Singa kepada Kassapa’. Petapa telanjang Kassapa bertanya, benarkah bahwa Sang Buddha mencela segala bentuk praktik keras. Sang Buddha menyangkal hal ini, dan mengatakan bahwa seseorang harus membedakan. Kassapa menguraikan praktik-praktik standar (beberapa di antaranya agak menjijikkan), dan Sang Buddha mengatakan bahwa seseorang boleh saja melakukan hal ini, namun jika moralitas, hati, dan kebijaksanaannya tidak berkembang, maka ia masih jauh dari sebagai seorang petapa atau Brāhmaṇa (dalam pengertian sesungguhnya). Beliau sendiri telah mempraktikkan segala praktik keras, moralitas, dan kebijaksanaan yang mungkin dilakukan untuk mencapai kesempurnaan. Kassapa memohon penahbisan, dan segera, dengan latihan yang tekun, ia menjadi seorang Arahant.
Petapa Poṭṭhapāda memberitahu Sang Buddha bahwa ia dan teman-temannya sedang memperdebatkan tentang ‘padamnya kesadaran yang lebih tinggi’, dan mencari pemecahan atas persoalan ini. Sang Buddha mengatakan bahwa mereka yang menganggap bahwa kondisi batin muncul dan lenyap secara kebetulan adalah keliru. Beliau menguraikan berbagai tingkat jhāna, menunjukkan bagaimana persepsi dapat ‘dikendalikan’. Poṭṭhapāda mengatakan bahwa ia tidak pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya. Diskusi berkembang pada berbagai jenis diri yang mungkin, yang semuanya dibantah oleh Sang Buddha, dan pada ‘pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab’ dan alasan atas mengapa tidak terjawab. Citta, putra seorang pelatih-gajah, bergabung dalam diskusi tersebut, dan akhirnya, Citta menjadi seorang bhikkhu dan segara mencapai Kearahantaan, sedangkan Poṭṭhapāda menjadi seorang pengikut-awam. Dalam Sutta ini, pertama-tama kita menjumpai perumpamaan seorang laki-laki yang dikisahkan jatuh cinta pada seorang perempuan yang paling cantik di negeri tersebut, tanpa mengenal siapa dia dan bagaimana wajahnya.
Tidak lama setelah Sang Buddha meninggal dunia, Ānanda menjelaskan tentang moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan Ariya (seperti pada DN 2) kepada Brāhmaṇa muda Subha, yang menjadi seorang pengikut-awam.
Kevaddha mendesak Sang Buddha agar memperlihatkan kesaktian untuk memperkuat keyakinan orang-orang. Sang Buddha menolak, dengan mengatakan bahwa satu-satunya kesaktian yang Beliau benarkan adalah ‘kesaktian nasihat’. Beliau menceritakan kisah seorang bhikkhu yang ingin mengetahui ‘di mana empat unsur utama lenyap tanpa sisa’. Dengan kekuatan psikis, ia naik ke alam surga, namun tidak ada yang mampu menjawabnya -- bahkan Maha Brahmā, yang menyarankan agar ia kembali dan bertanya kepada Sang Buddha.
Lohicca memiliki suatu pandangan buruk bahwa jika seseorang menemukan suatu ajaran baru, ia harus menyimpannya sendiri. Sang Buddha meluruskannya dan menjelaskan perbedaan antara guru yang baik dan yang buruk.
Dua Brāhmaṇa muda bingung karena guru-guru yang berbeda-beda mengajarkan cara yang berbeda-beda untuk mencapai alam (atau bergabung dengan) Brahmā, yang bagi mereka adalah tujuan tertinggi. Sang Buddha membuat mereka mengakui bahwa tidak satu pun dari guru-guru mereka, atau bahkan mereka yang menjadi asal-mula ajaran mereka, pernah melihat Brahmā secara langsung, kemudian mengajarkan Bramavihāra kepada mereka, yang mengarah pada tujuan tersebut -- yang tentu saja bukan, tujuan dari Ajaran Buddha.
Khotbah Panjang tentang Silsilah. Ini merujuk pada tujuh Buddha, kembali ke ‘sembilan puluh satu kappa’ yang lalu. Kehidupan Buddha Vipassī jauh di masa lampau diceritakan dalam kisah-kisah yang mirip dengan versi kehidupan Gotama. Semua Buddha menjalani pengalaman yang serupa dalam kehidupan terakhir mereka di bumi. Pencapaian Kebuddhaan yang sama dengan pemahaman akan kemunculan bergantungan (baca Sutta berikutnya).
Ānanda ditegur karena mengatakan bahwa hukum kemunculan bergantungan telah terlihat ‘sejelas-jelasnya’ olehnya. Sang Buddha menjelaskannya pertama-tama dalam urutan mundur, namun kembali hanya sampai batin-dan-jasmani dan kesadaran (yaitu, faktor 4 dan 3 dari 12 urutan biasa), dan juga melompati bagian enam landasan-indria (No. 5). Penjelasan berakhir dengan rujukan pada tujuh bidang kesadaran dan dua alam.
Wafat Agung (Hari-hari terakhir Sang Buddha). Sutta terpanjang dari seluruh sutta, menceritakan tentang (tanpa mengabaikan beberapa sulaman legendaris) kisah hari-hari terakhir Sang Buddha. Raja Ajātasattu, ingin menyerang suku Vajji, mengirim utusan untuk menghadap Sang Buddha untuk mengetahui bagaimana hasilnya. Sang Buddha menjawab secara tidak langsung, menunjukkan keunggulan sistem Republik suku Vajji, dan selanjutnya menasihati para bhikkhu agar menjalankan peraturan-peraturan serupa di dalam Sangha. Bersama Ānanda, Beliau mengunjungi serangkaian tempat dan membabarkan khotbah-khotbah kepada para bhikkhu dan umat- awam. Di Pāṭaligāma, Beliau meramalkan kemakmuran di masa depan dari tempat itu (kelak menjadi ibu kota kerajaan Asoka bernama Pāṭaliputra). Di Vesāli, si pelacur Ambapāli mengundang Beliau untuk makan, dan mempersembahkan hutan mangganya kepada Sangha. Beliau memberitahu Ānanda bahwa, Beliau akan meninggal dunia dalam tiga bulan. Di Pāvā, Cunda si pandai besi mempersembahkan makanan yang mengandung ‘kesukaan babi’ (daging babi, jamur? -- ada berbagai pendapat berbeda) yang hanya dapat dimakan oleh Sang Buddha. Kemudian Beliau sakit keras, namun dengan hati-hati membebaskan Cunda dari kesalahan. Di Kusināra, Sang Buddha beristirahat di antara pohon sāl-kembar. Ānanda memohon agar Beliau tidak meninggal dunia di tempat yang sangat tidak penting itu, namun Beliau berkata bahwa, tempat itu pernah menjadi sebuah ibu kota terkenal (baca DN 17). Setelah memberikan nasihat-nasihat terakhir kepada Sangha (dan menolak menunjuk seorang penerus), Beliau mengucapkan nasihat terakhir ‘berjuanglah dengan tanpa mengenal lelah’ -- appamādena sampādetha -- dan meninggal dunia. Sutta ditutup dengan kisah pemakaman dan pembagian abu jenazah dalam delapan bagian.
Sebagian besar kisah terdapat dalam Jātaka 95. Raja Mahāsudassana hidup dalam kemegahan bagaikan dalam dongeng dan memiliki tujuh pusaka, tetapi akhirnya mengundurkan diri ke dalam istana Dhamma (yang dibangun oleh para dewa) untuk menjalani kehidupan bermeditasi.
Sesosok yakkha (dari jenis yang baik) muncul di hadapan Sang Buddha menyatakan bahwa, ia sekarang dipanggil Janavasabha, namun ketika di alam manusia, ia adalah Raja Bimbisāra dari Magadha, seorang penyokong besar Sang Buddha, yang dibunuh oleh putranya, Ajātasattu. Ia mengatakan bahwa pada pertemuan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, di sana Brahmā menyatakan bagaimana, sejak misi Sang Buddha di alam manusia, peringkat para dewa meningkat dan peringkat musuh mereka, para asura, menurun.
Gandabbha Pañcasikha muncul di hadapan Sang Buddha dan melaporkan, mirip dengan DN 18, dalam suatu pertemuan para dewa. Kemudian berlanjut dengan kisah pelayan mulia yang melaksanakan tugas-tugas dari tujuh raja dan kemudian mengundurkan diri untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, membawa banyak orang ke alam-Brahmā yang merupakan tujuan tertinggi yang dapat dicapai oleh orang-orang pada masa ketika tidak ada Buddha. Di akhir cerita, Sang Buddha memberitahu Pañcasikha bahwa Beliau adalah sang pelayan itu, tetapi jalan yang sekarang Beliau ajarkan, sebagai seorang Buddha, jauh melampaui apa yang Beliau ajarkan masa itu.
Sebuah Sutta yang praktis terdiri dari syair-syair yang berisikan pengetahuan mitologis.
Sakka, raja dari Tiga-Puluh-Tiga Dewa, mendekati Sang Buddha dengan bantuan Pañcasikha, yang menyanyikan lagu-cinta (!) untuk Beliau untuk menarik perhatian Beliau. Sakka mengajukan berbagai pertanyaan tentang hidup suci kepada Sang Buddha. Kita juga membaca kisah bhikkhuni Gopikā yang menjadi seorang laki-laki, dan mencela tiga orang bhikkhu yang terlahir kembali di alam surga terendah, mendesak mereka agar berusaha lebih keras dan mencapai lebih tinggi, yang mana dua di antaranya berhasil melakukannya. Sakka sendiri berhasil menjalani jalan yang benar dan menghadiahkan Pañcasikha (yang tidak begitu maju) gadis gandhabba yang ia cintai.
Khotbah Panjang Landasan-landasan Perhatian. Sangat berbeda dalam hal karakteristik dibandingkan dengan Sutta-Sutta sebelumnya, ini dianggap oleh banyak orang sebagai Sutta paling penting dalam Tipiṭaka. Kata demi kata dalam Sutta ini diulang lagi dalam Sutta No. 10 dari Majjhima Nikāya dengan pengecualian paragraf 18-21. ‘Satu Jalan’ untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi kesedihan dan tekanan, untuk mencapai Nibbāna adalah Empat Landasan Perhatian: Perhatian pada jasmani, perasaan, pikiran, dan objek-objek pikiran. Instruksi terperinci atas kesadaran penuh perhatian pada pernafasan, dan seterusnya, diberikan dalam Sutta ini. Demikianlah, pada bagian objek-objek pikiran, misalnya, kita membaca: ‘jika keinginan indria muncul dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui kemunculannya. Jika keinginan indria tidak ada dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui ketiadaannya. Dan ia mengetahui bagaimana keinginan indria yang belum muncul menjadi muncul, dan ia mengetahui bagaimana pelenyapan keinginan indria yang telah muncul terjadi, dan ia mengetahui bagaimana ketidakmunculan di masa depan dari keinginan-indria yang telah dilenyapkan itu terjadi.’ (‘Bhikkhu’ di sini, menurut Komentar, berarti siapa saja yang melakukan praktik ini). Sutta ini diakhiri dengan penjelasan Empat Kebenaran Mulia.
Pangeran Pāyāsi tidak meyakini kehidupan setelah kematian, atau dalam hal imbalan dan hukuman dari perbuatan baik dan buruk. Yang Mulia Kumāra-Kassapa meyakinkannya akan pandangannya yang keliru dengan membabarkan serangkaian perumpamaan-perumpamaan cerdas. Akhirnya, Pāyāsi beralih keyakinan, mengadakan persembahan kepada para petapa dan orang-orang miskin, namun melakukannya dengan enggan. Akibatnya, ia terlahir kembali di alam surga terendah.
Tentang Pāṭikaputta (Sang Pembual). Sang Buddha memiliki seorang siswa yang sangat bodoh bernama Sunakkhatta, yang akhirnya meninggalkan Beliau. Sunakkhatta sangat terkesan dengan beberapa ‘orang suci’ meragukan yang ia anggap sebagai Arahant. Petapa telanjang pembual, Pāṭikaputta menantang Sang Buddha untuk melakukan adu kesaktian. Sang Buddha menunggu kedatangannya, namun -- seperti yang diramalkan oleh Sang Buddha -- ia bahkan tidak dapat bangkit dari duduknya untuk menjumpai Sang Buddha. Sutta ini bukannya tidak lucu, tetapi jelas merupakan materi yang tidak memenuhi standar. Bagian terakhir pada ‘Asal-mula ajaran’ sepertinya ditambahkan.
Auman Singa Kepada Kaum Udumbarika. Pengembara Nigrodha, berdiam di perkemahan Udumbarika, membual bahwa ia mampu ‘menjatuhkan Petapa Gotama’ dengan satu pertanyaan. Tentu saja, ia yang ditaklukkan, dan Sang Buddha menunjukkan jalan yang melampaui penyiksaan-diri -- ‘untuk mencapai puncak’.
Auman Singa tentang Pemutaran Roda. Di awal dan akhir khotbah ini, Sang Buddha menasihati para bhikkhu agar ‘memelihara lahan mereka masing-masing’ dengan mempraktikkan perhatian. Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah ‘raja pemutar roda’ (penguasa bijaksana) yang memiliki pusaka-Roda, yang harus dijaga dengan hati-hati. Ia diikuti oleh barisan raja-raja bijaksana, namun akhirnya mereka merosot dan masyarakat berubah dari buruk menjadi lebih buruk, sementara itu, umur kehidupan manusia merosot hingga sepuluh tahun dan segala jenis moralitas lenyap. Setelah masa ‘interval-pedang’ yang singkat namun menakutkan, hal-hal mulai membaik, dan akhirnya Buddha lainnya, Metteya (Sanskrit Maitreya) akan muncul.
Tentang Pengetahuan Asal-usul. Perumpamaan yang serupa, kali ini disampaikan kepada para Brāhmaṇa, yang pengakuannya dibantah oleh Sang Buddha. Tidak ada perbedaan antara para Brāhmaṇa dengan orang lain jika mereka berperilaku buruk. Kisah asal-usul kasta yang agak fantastis.
Sāriputta menjelaskan alasan-alasannya tentang keyakinan penuhnya terhadap Sang Buddha.
Sebuah khotbah tentang guru-guru yang baik dan buruk, dan mengapa Sang Buddha tidak memperlihatkan hal-hal tertentu.
Syair-syair tentang ‘tiga-puluh-dua tanda manusia luar biasa’ yang aneh yang disukai oleh para Brāhmaṇa. Disajikan dalam berbagai irama dalam naskah aslinya.
(dikenal juga sebagai Sigalovada Sutta). Nasihat kepada pemuda-awam Sigāḷaka tentang moralitas, sehubungan dengan empat penjuru, atas dan bawah yang, dalam mengenang ayahnya, yang ia sembah.
Syair-syair Perlindungan Āṭānāṭā.
Bersama-sama Mengulangi Khotbah-khotbah. (Menguraikan istilah-istilah untuk pembacaan).
Materi yang sama dengan DN 33, yang ditata dalam kelompok sepuluh.