[198] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Kemudian Brahmana Pingalakoccha mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Guru Gotama, ada para petapa dan brahmana, masing-masing adalah pemimpin suatu aliran, pemimpin kelompok, guru kelompok, pendiri yang terkenal dan termasyhur dari suatu sekte yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci – seperti, Pūraṇa Kassapa, Makkhali Gosāla, Ajita Kesakambalin, Pakudha Kaccāyana, Sañjaya Belaṭṭhiputta, dan Nigaṇṭha Nātaputta.1 Apakah mereka semuanya telah memiliki pengetahuan langsung seperti pengakuan mereka, atau tidak seorangpun di antara mereka yang memiliki pengetahuan langsung, atau apakah sebagian dari mereka memiliki pengetahuan langsung dan sebagian tidak memiliki?”

“Cukup, Brahmana! Biarlah demikian! – ‘Apakah mereka semuanya telah memiliki pengetahuan langsung seperti pengakuan mereka, atau tidak seorangpun di antara mereka yang memiliki pengetahuan langsung, atau apakah sebagian dari mereka memiliki pengetahuan langsung dan sebagian tidak memiliki?’ Aku akan mengajarkan Dhamma kepadamu, Brahmana. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”2

“Baik, Yang Mulia,” Brahmana Pingalakoccha menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

3. “Misalkan, Brahmana, seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, kayu lunak, kulit dalam, kulit luar, atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, ia sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

4. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya [199] dan kulit dalamnya, ia memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu … ia memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

5. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya dan kayu lunaknya, ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu … ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

6. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya ia memotong kayu lunaknya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu … ia memotong kayu lunaknya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

7. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan hanya memotong inti kayunya, ia akan membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini mengenali inti kayu, kayu lunak, kulit dalam, kulit luar, atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, ia sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan hanya memotong inti kayunya, [200] ia membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya akan terlaksana.’

8. “Demikian pula, Brahmana, di sini seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya terpenuhi. Dan karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku memiliki keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran, tetapi para bhikkhu lain ini tidak terkenal, tidak berharga.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran; ia enggan untuk maju dan mengendur.3 Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

9. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal-hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu dan tujuannya tercapai. Dan karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku adalah orang yang bermoral, berkarakter baik, tetapi para bhikkhu lain ini tidak bermoral, berkarakter buruk.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian moralitas; [201] ia enggan untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya dan kulit dalamnya ia memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

10. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi. Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian moralitas; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu dan tujuannya terpenuhi. Karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku terkonsentrasi, pikiranku terpusat, tetapi para bhikkhu lain ini tidak terkonsentrasi dan pikiran mereka mengembara.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian konsentrasi; ia enggan untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya dan kayu lunaknya, ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

11. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, [202] korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian konsentrasi; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian pengetahuan dan penglihatan dan tujuannya terpenuhi. Karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku hidup dengan mengetahui dan melihat, tetapi para bhikkhu lain ini tidak mengetahui dan tidak melihat.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan; ia enggan untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya, ia memotong kayu lunaknya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

12. “Di sini, para bhikkhu, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, [203] ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia mencapai pengetahuan dan penglihatan. Ia senang akan pengetahuan dan penglihatan itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur.

“Tetapi apakah, Brahmana, kondisi-kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan?

13. “Di sini, Brahmana, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ini adalah suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.4

14. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

15. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan waspada penuh, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Ini adalah [204] juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

16. “Kemudian dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu memasuki dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan juga bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

17. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

18. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

19. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

20. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

21. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. Dan noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatan melihat dengan kebijaksanaan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

22. “Aku katakan bahwa orang ini, Brahmana, adalah seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, yang sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan memotong inti kayunya, ia membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya akan terlaksana.

23. “Demikian pula kehidupan suci ini, Brahmana, bukan memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran sebagai manfaatnya, atau pencapaian moralitas sebagai manfaatnya, atau pencapaian konsentrasi sebagai manfaatnya, atau pengetahuan dan penglihatan sebagai manfaatnya. Melainkan [205] kebebasan pikiran yang tak tergoyahkan yang merupakan tujuan kehidupan suci, inilah inti kayunya, dan inilah akhirnya.”

24. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Pingalakoccha berkata kepada Sang Bhagavā: “Menakjubkan, Guru Gotama! Menakjubkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah menerima perlindungan dari Beliau seumur hidupku.”


  1. Keenam guru tersebut, yang sezaman dengan Sang Buddha, semuanya berada di luar Brahmanisme Ortodoks, dan doktrin-doktrin mereka menunjukkan keberanian spekulatif pada masa Sang Buddha. Enam orang ini sering disebutkan secara bersama dalam Kanon. Ajaran-ajaran mereka, seperti dipahami dalam komunitas Buddhis, terdapat dalam DN 2.17-32/ii.52-59.
  2. Pertanyaan yang persis sama dengan yang diajukan kepada Sang Buddha menjelang Parinibbāna oleh pengembara Subhadda pada DN 16.5.26-27/ii.150-52.
  3. Adalah kalimat ini, yang digunakan pada kalimat yang diawali dengan “Ia menjadi mabuk …,” yang membedakan paragraf-paragraf dari sutta ini dengan paragraf-paragraf yang bersesuaian dari sutta sebelumnya.
  4. Walaupun jhāna-jhāna juga termasuk dalam pencapaian konsentrasi yang dijelaskan pada §10, dan pengetahuan dan penglihatan digambarkan sebagai lebih tinggi daripada pencapaian konsentrasi, namun jhāna-jhāna sekarang menjadi lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan karena jhāna-jhāna diperlakukan sebagai landasan bagi pencapaian lenyapnya dan hancurnya noda-noda. (pada §21).