[230] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian suatu penjelasan. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

3. “Seseorang seharusnya tidak mengejar kenikmatan indria, yang rendah, vulgar, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat; dan seseorang seharusnya tidak mengejar penyiksaan-diri, yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat. Jalan Tengah yang ditemukan oleh Sang Tathāgata menghindari kedua ekstrim ini; memberikan penglihatan, memberikan pengetahuan, mengarah menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna.1 Seseorang seharusnya mengetahui apa yang harus dipuji dan apa yang harus dicela, dan dengan mengetahui keduanya, ia seharusnya tidak memuji dan juga tidak mencela melainkan seharusnya mengajarkan hanya Dhamma. Seseorang seharusnya mengetahui bagaimana mendefinisikan kenikmatan, dan dengan mengetahui hal itu, ia seharusnya mengejar kenikmatan di dalam dirinya sendiri. Seseorang seharusnya tidak mengucapkan kata-kata yang tersamar, dan ia seharusnya tidak mengucapkan kata-kata terus-terang yang tajam. Seseorang seharusnya berbicara dengan tidak terburu-buru, bukan dengan terburu-buru. Seseorang seharusnya tidak memaksakan bahasa setempat, dan tidak mengabaikan penggunaan umum. Ini adalah ringkasan dari penjelasan tentang tanpa-konflik.

4. “‘Seseorang seharusnya tidak mengejar kenikmatan indria, yang rendah, vulgar, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat; dan seseorang seharusnya tidak mengejar penyiksaan-diri, yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Pengejaran kesenangan dari seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria2 - yang rendah, vulgar, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat – adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang salah.3 [231] Keterlepasan dari pencarian kesenangan pada seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria - yang rendah, vulgar, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat – adalah suatu kondisi tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang benar.

“Pengejaran penyiksaan-diri – yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat - adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang salah. Keterlepasan dari pengejaran penyiksaan-diri - yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat - adalah suatu kondisi tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang benar.

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Seseorang seharusnya tidak mengejar kenikmatan indria, yang rendah, vulgar, kasar, tidak mulia, dan tidak bermanfaat; dan seseorang seharusnya tidak mengejar penyiksaan-diri, yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat.’

5. “‘Jalan Tengah yang ditemukan oleh Sang Tathāgata menghindari kedua ekstrim ini; memberikan penglihatan, memberikan pengetahuan, mengarah menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Jalan Tengah yang ditemukan oleh Sang Tathāgata menghindari kedua ekstrim ini … menuju Nibbāna.’

6. “‘Seseorang seharusnya mengetahui apa yang harus dipuji dan apa yang harus dicela, dan dengan mengetahui keduanya, ia seharusnya tidak memuji dan juga tidak mencela melainkan seharusnya mengajarkan hanya Dhamma.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

7. “Bagaimanakah Para bhikkhu, terjadinya memuji dan mencela dan kegagalan dalam mengajarkan hanya Dhamma? Ketika seseorang mengatakan: ‘Mereka semua yang melibatkan diri dalam pengejaran kesenangan pada seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria - yang rendah … dan tidak bermanfaat - diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan mereka memasuki jalan yang salah,’ dengan demikian ia mencela beberapa orang. Ketika seseorang mengatakan: ‘Mereka semua yang terlepas dari pencarian kesenangan pada seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria - yang rendah … dan tidak bermanfaat – adalah tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan mereka memasuki jalan yang benar,’ dengan demikian ia memuji beberapa orang.

“Ketika seseorang mengatakan: ‘Mereka semua yang melibatkan diri dalam pengejaran penyiksaan-diri – yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat – [232] diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan mereka memasuki jalan yang salah,’ dengan demikian ia mencela beberapa orang. Ketika seseorang mengatakan: ‘Mereka semua yang terlepas dari pengejaran penyiksaan-diri – yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat – adalah tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan mereka memasuki jalan yang benar,’ dengan demikian ia memuji beberapa orang.

“Ketika seseorang mengatakan: ‘Mereka semua yang belum meninggalkan belenggu penjelmaan4 diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan mereka memasuki jalan yang salah,’ dengan demikian ia mencela beberapa orang. Ketika seseorang mengatakan: ‘Mereka semua yang telah meninggalkan belenggu penjelmaan adalah tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan mereka memasuki jalan yang benar,’ dengan demikian ia memuji beberapa orang. Ini adalah bagaimana terjadinya memuji dan mencela dan kegagalan dalam mengajarkan hanya Dhamma.

8. “Dan bagaimanakah, Para bhikkhu, terjadinya tidak memuji dan tidak mencela dan mengajarkan hanya Dhamma? Ketika seseorang tidak mengatakan: ‘Mereka semua yang melibatkan diri dalam pengejaran kesenangan pada seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria … telah memasuki jalan yang salah,’ tetapi sebaliknya mengatakan: ‘Pencarian itu adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan merupakan jalan yang salah,’ maka ia mengajarkan hanya Dhamma.5 Ketika seseorang tidak mengatakan: ‘Mereka semua yang terlepas dari pengejaran kesenangan dari seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria … telah memasuki jalan yang benar,’ tetapi sebaliknya mengatakan: ‘Terlepasnya itu adalah suatu kondisi tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan merupakan jalan yang benar,’ maka ia mengajarkan hanya Dhamma.

“Ketika seseorang tidak mengatakan: ‘Mereka semua yang melibatkan diri dalam pengejaran penyiksaan-diri … telah memasuki jalan yang salah,’ tetapi sebaliknya mengatakan: ‘Pencarian itu adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan merupakan jalan yang salah,’ maka ia mengajarkan hanya Dhamma. Ketika seseorang tidak mengatakan: ‘Mereka semua yang terlepas dari pengejaran penyiksaan-diri … telah memasuki jalan yang benar,’ tetapi sebaliknya mengatakan: ‘Terlepasnya itu adalah suatu kondisi tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan merupakan jalan yang benar,’ maka ia mengajarkan hanya Dhamma.

“Ketika seseorang tidak mengatakan: ‘Mereka semua yang belum meninggalkan belenggu penjelmaan … telah memasuki jalan yang salah,’ [233] tetapi sebaliknya mengatakan: ‘Selama belenggu penjelmaan belum ditinggalkan, maka penjelmaan juga belum ditinggalkan,’ maka ia mengajarkan hanya Dhamma. Ketika seseorang tidak mengatakan: ‘Mereka semua yang telah meninggalkan belenggu penjelmaan … telah memasuki jalan yang benar,’ tetapi sebaliknya mengatakan: ‘Ketika belenggu penjelmaan ditinggalkan, maka penjelmaan juga ditinggalkan,’ maka ia mengajarkan hanya Dhamma.

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ’Seseorang seharusnya mengetahui apa yang harus dipuji dan apa yang harus dicela, dan dengan mengetahui keduanya, ia seharusnya tidak memuji dan juga tidak mencela melainkan seharusnya mengajarkan hanya Dhamma.’

9. “‘Seseorang seharusnya mengetahui bagaimana mendefinisikan kenikmatan, dan dengan mengetahui hal itu, ia seharusnya mengejar kenikmatan di dalam dirinya sendiri.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Para bhikkhu, terdapat lima utas kenikmatan indria ini. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga … bau-bauan yang dikenali oleh hidung … rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria. Sekarang kenikmatan dan kegembiraan yang muncul dengan bergantung pada kelima utas kenikmatan indria ini disebut kenikmatan indria – suatu kenikmatan kotor, suatu kenikmatan kasar, suatu kenikmatan tidak mulia. Aku katakan jenis kenikmatan ini adalah yang seharusnya tidak dikejar, seharusnya tidak dikembangkan, seharusnya tidak dilatih, dan seharusnya ditakuti.

“Di sini, Para bhikkhu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … jhāna ke dua … jhāna ke tiga … jhāna ke empat. Ini disebut kebahagiaan pelepasan keduniawian, kebahagiaan keterasingan, kebahagiaan kedamaian, kebahagiaan pencerahan. Aku katakan jenis kenikmatan ini adalah yang seharusnya dikejar, seharusnya dikembangkan, seharusnya dilatih, dan seharusnya tidak ditakuti. [234]

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ’Seseorang seharusnya mengetahui bagaimana mendefinisikan kenikmatan, dan dengan mengetahui hal itu, ia seharusnya mengejar kenikmatan di dalam dirinya sendiri.’

10. “‘Seseorang seharusnya tidak mengucapkan kata-kata yang tersamar, dan ia seharusnya tidak mengucapkan kata-kata terus terang yang tajam.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Di sini, Para bhikkhu, ketika seseorang mengetahui kata-kata tersamar adalah tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, maka ia seharusnya tidak mengucapkannya dengan alasan apapun. Ketika ia mengetahui kata-kata tersamar adalah benar, tepat, dan tidak bermanfaat, maka ia seharusnya berusaha untuk tidak mengucapkannya. Tetapi ketika ia mengetahui kata-kata tersamar adalah benar, tepat, dan bermanfaat, maka ia boleh mengucapkannya, dengan mengetahui waktu yang tepat untuk mengucapkannya.

“Di sini, Para bhikkhu, ketika seseorang mengetahui kata-kata terus terang yang tajam adalah tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, maka ia seharusnya tidak mengucapkannya dengan alasan apapun. Ketika ia mengetahui kata-kata terus terang yang tajam adalah benar, tepat, dan tidak bermanfaat, maka ia seharusnya berusaha untuk tidak mengucapkannya. Tetapi ketika ia mengetahui kata-kata terus terang yang tajam adalah benar, tepat, dan bermanfaat, maka ia boleh mengucapkannya, dengan mengetahui waktu yang tepat untuk mengucapkannya.

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Seseorang seharusnya tidak mengucapkan kata-kata yang tersamar, dan ia seharusnya tidak mengucapkan kata-kata terus terang yang tajam.’

11. “‘Seseorang seharusnya berbicara dengan tidak terburu-buru, bukan dengan terburu-buru.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Di sini, Para bhikkhu, ketika seseorang berbicara dengan terburu-buru, tubuhnya menjadi lelah dan pikirannya menjadi bergairah, suaranya menjadi tegang dan tenggorokannya menjadi serak, dan ucapan dari seorang yang berbicara dengan terburu-buru adalah tidak jelas dan sulit dimengerti.

“Di sini, Para bhikkhu, ketika seseorang berbicara dengan tidak terburu-buru, tubuhnya tidak menjadi lelah dan pikirannya tidak menjadi bergairah, suaranya tidak menjadi tegang dan tenggorokannya tidak menjadi serak, dan ucapan dari seorang yang berbicara dengan tidak terburu-buru adalah jelas dan mudah dimengerti.

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘Seseorang seharusnya berbicara dengan tidak terburu-buru, bukan dengan terburu-buru.’

12. “‘Seseorang seharusnya tidak memaksakan bahasa setempat, dan tidak mengabaikan penggunaan umum.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Dan bagaimanakah, Para bhikkhu, terjadi pemaksaan bahasa setempat dan mengabaikan penggunaan umum? Di sini, Para bhikkhu, di tempat berbeda mereka menyebut benda yang sama sebagai sebuah ‘piring’ [pāti], [235] sebuah ‘mangkuk’ [patta]**, sebuah ‘wadah’ [vittha], sebuah ‘cawan’ [serāva], sebuah ‘panci’ [dhāropa], sebuah ‘kendi’ [poṇa], atau sebuah ‘baskom’ [pisīla]. Jadi bagaimanapun mereka menyebutnya dalam bahasa setempat, ia mengucapkannya sesuai itu, dengan kokoh melekati [ungkapan itu] dan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar; yang lainnya adalah salah.’ Ini adalah bagaimana terjadinya pemaksaan bahasa setempat dan mengabaikan penggunaan umum.6

“Dan bagaimanakah, Para bhikkhu, terjadinya tanpa pemaksaan atas bahasa setempat dan tanpa mengabaikan penggunaan umum? Di sini, Para bhikkhu, di tempat berbeda mereka menyebut benda yang sama sebuah ‘piring’ … atau sebuah ‘baskom’. Jadi bagaimanapun mereka menyebutnya dalam bahasa setempat, tidak dengan kokoh melekati [ungkapan itu] ia mengucapkannya sesuai itu, dan berpikir: ‘Para mulia ini, tampaknya, sedang berbicara sehubungan dengan ini.’ Ini adalah bagaimana terjadinya tanpa pemaksaan atas bahasa setempat dan tanpa mengabaikan penggunaan umum.

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ’Seseorang seharusnya tidak memaksakan bahasa setempat, dan tidak mengabaikan penggunaan umum.’

13. “Di sini, Para bhikkhu, pengejaran kesenangan pada seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria – yang rendah … dan tidak bermanfaat – adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang salah. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, keterlepasan dari pengejaran kesenangan pada seseorang yang kenikmatannya terhubung pada keinginan indria – yang rendah … dan tidak bermanfaat – adalah suatu kondisi tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang benar. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, pengejaran penyiksaan - diri – yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat - adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang salah. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, keterlepasan dari pengejaran penyiksaan-diri - yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat - adalah suatu kondisi tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam, dan ini adalah jalan yang benar. [236] Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, Jalan Tengah yang ditemukan oleh Sang Tathāgata menghindari kedua ekstrim ini; memberikan penglihatan, memberikan pengetahuan, mengarah menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna. Ini adalah suatu kondisi tanpa penderitaan … dan adalah jalan yang benar. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, memuji dan mencela dan kegagalan dalam mengajarkan hanya Dhamma adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan … dan adalah jalan yang salah. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, tidak memuji dan tidak mencela dan mengajarkan hanya Dhamma adalah suatu kondisi tanpa penderitaan … dan adalah jalan yang benar. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kenikmatan indria – suatu kenikmatan kotor, suatu kenikmatan kasar, suatu kenikmatan tidak mulia – adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan … dan adalah jalan yang salah. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kebahagiaan pelepasan keduniawian, kebahagiaan keterasingan, kebahagiaan kedamaian, kebahagiaan pencerahan, adalah suatu kondisi tanpa penderitaan … dan adalah jalan yang benar. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata tersamar yang tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata tersamar yang benar, tepat, dan tidak bermanfaat adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata tersamar yang benar, tepat, dan bermanfaat adalah suatu kondisi tanpa penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata terus terang yang tajam yang tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata terus terang yang tajam yang benar, tepat, dan tidak bermanfaat adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata terus terang yang tajam [237] yang benar, tepat, dan bermanfaat adalah suatu kondisi tanpa penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata seseorang yang berbicara dengan terburu-buru adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, kata-kata seseorang berbicara dengan tidak terburu-buru adalah suatu kondisi tanpa penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, pemaksaan bahasa setempat dan mengabaikan penggunaan umum adalah suatu kondisi yang diserang oleh penderitaan … Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi dengan konflik.

“Di sini, Para bhikkhu, tanpa-pemaksaan bahasa setempat dan tanpa-mengabaikan penggunaan umum adalah suatu kondisi tanpa penderitaan, kesulitan, keputus-asaan, dan demam. Oleh karena itu ini adalah suatu kondisi tanpa konflik.

14. “Oleh karena itu, Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami harus mengetahui kondisi dengan konflik dan kami harus mengetahui kondisi tanpa konflik, dan dengan mengetahui hal-hal ini, kami akan memasuki jalan tanpa konflik.’ Sekarang, Para bhikkhu, Subhūti adalah seorang anggota keluarga yang telah memasuki jalan tanpa konflik.”7

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


Catatan Kaki
  1. Ini secara intinya identik dengan pernyataan yang dengannya Sang Buddha yang baru tercerahkan memulai khotbah pertamanya kepada Lima Bhikkhu, sebelum mengajarkan Empat Kebenaran Mulia kepada mereka.
  2. Ini adalah sebuah ungkapan yang rumit untuk pengejaran kenikmatan indria.
  3. MA: “Diserang oleh penderitaan, kesulitan,” dan seterusnya, melalui penderitaan, kesulitan, dan seterusnya dari akibat yang ditimbulkan dan penderitaan dan kesulitan, dan seterusnya, dari kekotoran-kekotoran yang menyertainya.
  4. Ini adalah ketagihan pada penjelmaan. Persis di bawah kita harus membaca sekali lagi sebagai bhavasaṁyojanaṁ (seperti pada BBS dan SBJ) bukan seperti PTS vibhavasaṁyojanaṁ.
  5. Yaitu, memuji dan mencela terjadi ketika seseorang membingkai pernyataan seseorang dalam hal orang-orangnya, beberapa dipuji dan yang lainnya dicela. Seseorang mengajarkan “hanya Dhamma” ketika ia membingkai pernyataan seseorang dalam hal kondisi (dhamma) – modus praktik – tanpa secara eksplisit menghubungkannya dengan orang-orang.
  6. Persoalan “pemaksaan bahasa setempat” ini pasti sangat akut dalam Sangha, ketika para bhikkhu menjalani kehidupan yang terus-menerus mengembara dan melewati banyak daerah dengan bahasa atau dialek yang berbeda-beda.
  7. YM. Subhūti adalah adik dari Anāthapiṇḍika dan menjadi bhikkhu pada hari Hutan Jeta dipersembahkan kepada Sangha. Sang Buddha menunjuknya sebagai siswa terunggul dalam dua kategori – yang hidup tanpa konflik dan yang layak menerima pemberian.