[118] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Sakya di mana terdapat sebuah pemukiman Sakya bernama Medaḷumpa.

2. Pada saat itu Raja Pasenadi dari Kosala telah tiba di Nagaraka untuk suatu urusan. Kemudian ia berkata kepada Dīgha Kārāyaṇa:1 “Kārāyaṇa, siapkan kereta-kereta kerajaan. Mari kita pergi ke taman rekreasi untuk melihat pemandangan indah.”

“Baik, Baginda,” Dīgha Kārāyaṇa menjawab. Ketika kereta-kereta kerajaan telah siap, ia melaporkan kepada raja: “Baginda, kereta-kereta kerajaan telah siap untukmu. Silahkan engkau berangkat.”

3. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala menaiki sebuah kereta kerajaan, dan disertai dengan kereta-kereta lainnya, ia berkendara keluar dari Nagaraka dengan kemegahan kerajaan dan bergerak menuju taman. Ia berkendara sejauh jalan yang dapat dilalui kereta-kereta dan kemudian turun dari keretanya dan memasuki taman dengan berjalan kaki.

4. Ketika ia berjalan-jalan di taman untuk berolah-raga, Raja Pasenadi melihat pepohonan yang indah dan memberikan inspirasi, tenang dan tidak terganggu oleh suara-suara, dengan atmosfir keheningan, jauh dari orang-orang, cocok untuk melatih diri. Pemandangan ini mengingatkannya pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Pepohonan ini indah dan memberikan inspirasi, tenang dan tidak terganggu oleh suara-suara, dengan atmosfir keheningan, jauh dari orang-orang, cocok untuk melatih diri, seperti tempat-tempat di mana kami biasanya memberi penghormatan kepada Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna.” Kemudian ia memberitahukan apa yang telah ia pikirkan kepada Dīgha Kārāyaṇa dan bertanya: “Di manakah Beliau menetap saat ini, [119] Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna?”

5. “Ada, Baginda, sebuah pemukiman Sakya bernama Medaḷumpa. Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, saat ini menetap di sana.”

“Berapa jauhkan Nagaraka ke Medaḷumpa?”

“Tidak jauh, Baginda, tiga liga.2 Masih cukup siang untuk ke sana.”

“Kalau begitu, Kārāyaṇa, siapkan kereta-kereta kerajaan. Mari kita pergi menemui Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna.”

“Baik, Baginda,” ia menjawab. Ketika kereta-kereta kerajaan telah siap, ia melaporkan kepada raja: “Baginda, kereta-kereta kerajaan telah siap untukmu. Silahkan engkau berangkat.”

6. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala menaiki sebuah kereta kerajaan, dan disertai dengan kereta-kereta lainnya, pergi dari Nagaraka menuju pemukiman Sakya di Medaḷumpa. Ia tiba di sana ketika hari masih siang dan melanjutkan perjalanan menuju taman. Ia berkendara sejauh jalan yang dapat dilalui kereta-kereta dan kemudian turun dari keretanya dan memasuki taman dengan berjalan kaki.

7. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala mendatangi mereka dan bertanya: “Para Mulia, di manakah Beliau berada saat ini, Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna? Kami ingin menemui Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna.”

8. “Itu adalah tempat kediaman Beliau, Baginda, yang pintunya tertutup. Pergilah ke sana dengan tenang, tanpa terburu-buru, masuki berandanya, berdehemlah, dan ketuk pintunya. Sang Bhagavā akan membukakan pintunya untukmu.” Raja Pasenadi menyerahkan pedang dan turbannya kepada Dīgha Kārāyaṇa di sana pada saat itu juga. Kemudian Dīgha Kārāyaṇa berpikir: “Raja akan melakukan pertemuan pribadi sekarang! Dan aku harus menunggu di sini sendirian!”3 Tanpa terburu-buru, Raja Pasenadi dengan tenang mendatangi kediaman dengan pintu tertutup itu, memasuki beranda, berdehem, dan mengetuk pintu. Sang Bhagavā membuka pintu.

9. Kemudian Raja Pasenadi [120] memasuki tempat kediaman itu. Bersujud dengan kepala di kaki Sang Bhagavā, ia menyelimuti kaki Sang Bhagavā dengan ciuman dan mengusapnya dengan tangannya, memperkenalkan namanya: “Aku adalah Raja Pasenadi dari Kosala, Yang Mulia; aku adalah Raja Pasenadi dari Kosala, Yang Mulia.”

“Tetapi, Baginda, atas alasan apakah yang engkau lihat sehingga memberikan penghormatan yang begitu tinggi pada tubuh ini dan memperlihatkan persahabatan demikian?”

10. “Yang Mulia, aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’ Sekarang, Yang Mulia, aku melihat beberapa petapa dan brahmana yang menjalani kehidupan suci terbatas selama sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau empat puluh tahun, dan kemudian belakangan aku melihat mereka berpenampilan rapi dan dengan hiasan indah, dengan rambut dan janggut tercukur rapi, memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria. Tetapi di sini aku melihat para bhikkhu menjalani kehidupan yang murni dan sempurna selama mereka hidup dan bernafas. Sesungguhnya, aku tidak melihat ada kehidupan suci lainnya yang semurni dan sesempurna ini. Itulah sebabnya mengapa, Yang Mulia, aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’

11. “Kemudian, Yang Mulia, para raja bertengkar dengan para raja, para mulia dengan para mulia, para brahmana dengan para brahmana, para perumah-tangga dengan para perumah-tangga, ibu bertengkar dengan puteranya, putera dengan ibunya, ayah dengan puteranya, putera dengan ayahnya, saudara laki-laki bertengkar dengan saudara laki-laki, saudara laki-laki dengan saudara perempuan, saudara perempuan dengan saudara laki-laki, teman dengan teman.4 Tetapi di sini aku melihat para bhikkhu hidup dengan rukun, dengan saling menghargai, tanpa berselisih, bercampur bagaikan susu dan air, [121] saling melihat satu sama lain dengan tatapan ramah. Aku tidak melihat adanya kelompok lain dengan kerukunan demikian. Ini juga, Yang Mulia, adalah mengapa aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’

12. “Kemudian, Yang Mulia, aku telah berjalan dan mengembara dari taman ke taman dan dari kebun ke kebun. Di sana aku melihat beberapa petapa dan brahmana yang kurus, menyedihkan, buruk rupa, kekuningan, dengan urat menonjol keluar dari bagian-bagian tubuh mereka, sehingga orang-orang tidak ingin melihat mereka lagi. Aku berpikir: ‘Pasti para mulia ini tidak puas dalam menjalani kehidupan suci, atau mereka telah melakukan perbuatan jahat dan berusaha menyembunyikannya, mereka begitu kurus dan menyedihkan … sehingga orang-orang tidak ingin melihat mereka lagi.’ Aku mendatangi mereka dan bertanya: ‘Mengapakah kalian, para mulia, begitu kurus dan menyedihkan … sehingga orang-orang tidak ingin melihat kalian lagi?’ Jawaban mereka adalah: ‘Ini adalah penyakit keluarga kami, Baginda.’ Tetapi di sini aku melihat para bhikkhu tersenyum dan ceria, gembira, bersukaria, indria-indria mereka segar, hidup dengan nyaman, tenang, hidup dari apa yang diberikan oleh orang lain, berdiam dengan pikiran [terasing] bagaikan pikiran rusa liar. Aku berpikir: ‘Pasti para mulia ini melihat kondisi-kondisi keluhuran berturut-turut dalam Pengajaran Sang Bhagavā, karena mereka berdiam dengan tersenyum dan ceria … dengan pikiran [terasing] bagaikan pikiran rusa liar demikian.’ Ini juga, Yang Mulia, adalah mengapa aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’

13. “Kemudian, Yang Mulia, sebagai seorang raja mulia yang sah, [122] aku dapat mengeksekusi mereka yang patut dieksekusi, menghukum mereka yang patut dihukum, mengusir mereka yang patut diusir. Namun ketika aku sedang duduk dalam persidangan, mereka menyelaku. Walaupun aku mengatakan: ‘Tuan-tuan, jangan menyelaku ketika aku sedang duduk dalam persidangan; tunggulah hingga pembicaraanku berakhir,’ mereka tetap menyelaku. Tetapi di sini aku melihat para bhikkhu sewaktu Sang Bhagavā sedang mengajarkan Dhamma5 kepada kelompok yang terdiri dari beberapa ratus pengikut dan di sana bahkan tidak ada suara dari siswa Sang Bhagavā yang batuk atau berdehem. Suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengajarkan Dhamma kepada kelompok beberapa ratus pengikut dan di sana seorang siswa berdehem. Kemudian salah satu temannya dalam kehidupan suci menyentuhnya dengan lututnya untuk mengisyaratkan: ‘Diamlah, Yang Mulia, jangan berisik; Sang Bhagavā, Sang Guru, sedang membabarkan Dhamma.’ Aku berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, sungguh menakjubkan bagaimana kelompok ini dapat begitu disiplin tanpa paksaan atau senjata!’ Sesungguhnya, aku tidak melihat ada kelompok lain di manapun juga yang begitu disiplin. Ini juga, Yang Mulia, adalah mengapa aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’

14. “Kemudian, Yang Mulia, aku telah melihat di sini para mulia terpelajar tertentu yang cerdas, berpengetahuan tentang doktrin-doktrin sekte lain, setajam ahli menembak pembelah rambut;6 mereka mengembara, membantah pandangan-pandangan sekte lain dengan ketajaman kecerdasan mereka. Ketika mereka mendengar: ‘Petapa Gotama akan mengunjungi desa atau pemukiman itu,’ mereka menyusun pertanyaan sebagai berikut: ‘Kami akan mendatangi Petapa Gotama dan mengajukan pertanyaan kepada Beliau. Jika Beliau ditanya seperti ini, Beliau akan menjawab seperti ini, dan kemudian kami akan membantah doktrinnya seperti ini; dan jika Beliau ditanya seperti itu, Beliau akan menjawab seperti itu, dan kemudian kami akan membantah doktrinnya seperti itu.’ Mereka mendengar: ‘Petapa Gotama akan mengunjungi desa atau pemukiman itu,’ mereka mendatangi Sang Bhagavā, dan Sang Bhagavā memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, [123] dan menggembirakan mereka dengan khotbah Dhamma. Setelah mereka menerima instruksi, didorong, dibangkitkan semangatnya, dan digembirakan oleh Sang Bhagavā dengan khotbah Dhamma, mereka tidak lagi berkeinginan untuk mengajukan pertanyaan, jadi bagaimana mereka dapat membantah doktrin Beliau? Pada kenyataannya, mereka justru menjadi siswa Beliau. Ini juga, Yang Mulia, adalah mengapa aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’

15. “Kemudian, Yang Mulia, aku telah melihat di sini para brahmana terpelajar tertentu …

16. “Kemudian, Yang Mulia, aku telah melihat di sini para perumah-tangga terpelajar tertentu …

17. “Kemudian, Yang Mulia, aku telah melihat di sini para petapa terpelajar tertentu … Mereka tidak lagi berkeinginan untuk mengajukan pertanyaan, jadi bagaimana mereka dapat membantah doktrin Beliau? Pada kenyataannya, mereka justru memohon agar Sang Bhagavā memperbolehkan mereka meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan Beliau memberikan pelepasan keduniawian kepada mereka. Tidak lama setelah mereka meninggalkan keduniawian, dengan berdiam sendirian, terasing, rajin, tekun dan bersungguh-sungguh, dengan menembusnya untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung mereka di sini dan saat ini juga masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari oleh anggota-anggota keluarga yang meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Mereka mengatakan sebagai berikut: ‘Kami nyaris tersesat, kami nyaris binasa, karena sebelumnya kami mengaku bahwa kami adalah para petapa walaupun kami bukanlah para petapa yang sesungguhnya; kami mengaku bahwa kami adalah para brahmana walaupun kami bukanlah para brahmana yang sesungguhnya; kami mengaku bahwa kami adalah para Arahant walaupun kami bukanlah para Arahant yang sesungguhnya. Tetapi sekarang kami adalah para petapa, sekarang kami adalah para brahmana, sekarang kami adalah para Arahant.’ Ini juga, Yang Mulia, adalah mengapa aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’

18. “Kemudian, Yang Mulia, Isidatta dan Purāṇa,7 kedua pengawasku, memakan makanan dariku dan menggunakan keretaku; aku memberikan penghidupan dan kemasyhuran kepada mereka. Namun walaupun demikian, mereka tidak memberikan penghormatan kepadaku [124] seperti yang mereka lakukan terhadap Sang Bhagavā. Suatu ketika aku pergi dengan memimpin bala tentaraku dan menguji kedua pengawasku, Isidatta dan Purāṇa, aku ditempatkan dalam suatu tempat yang sempit. Kemudian kedua pengawas ini, Isidatta dan Purāṇa, setelah membicarakan Dhamma semalam suntuk, berbaring dengan kepala mereka menghadap ke arah di mana mereka mendengar Sang Bhagavā berada dan dengan kaki mereka menghadap ke arahku. Aku berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, sungguh menakjubkan! Kedua pengawasku ini, Isidatta dan Purāṇa, yang memakan makanan dariku dan menggunakan keretaku; aku memberikan penghidupan dan kemasyhuran kepada mereka. Namun walaupun demikian, mereka lebih menghormati Sang Bhagavā daripada aku. Pasti kedua orang baik ini melihat kondisi-kondisi keluhuran berturut-turut dalam Pengajaran Sang Bhagavā.’ Ini juga, Yang Mulia, adalah mengapa aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’

19. “Kemudian, Yang Mulia, Sang Bhagavā berasal dari kasta mulia dan aku juga berasal dari kasta mulia; Sang Bhagavā adalah orang Kosala dan aku juga adalah orang Kosala; Sang Bhagavā berusia delapan puluh tahun dan aku juga berusia delapan puluh tahun.8 Karena hal itu, aku rasa adalah selayaknya memberikan penghormatan tertinggi kepada Sang Bhagavā dan menunjukkan persahabatan.

20. “Dan sekarang, Yang Mulia, kami pergi. Kami sibuk dan banyak yang harus dilakukan.”

“Silahkan engkau pergi, Baginda.”

Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi.9

21. Kemudian segera setelah ia pergi, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, sebelum bangkit dari duduknya dan pergi, Raja Pasenadi ini telah mengucapkan monumen Dhamma.10 Pelajarilah monumen Dhamma ini, para bhikkhu, kuasailah [125] monumen Dhamma ini; ingatlah monumen Dhamma. Monumen Dhamma sangat bermanfaat, para bhikkhu, dan merupakan landasan kehidupan suci.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


  1. Dīgha Kārāyaṇa adalah jenderal pada bala tentara Raja Pasenadi. Ia adalah keponakan Bandhula, jenderal Malla dan seorang mantan-sahabat Raja Pasenadi, yang mana raja telah membunuh tiga puluh dua puteranya ketika terungkapnya pengkhianatan para menterinya yang korup. Kārāyaṇa bersekongkol dengan Pangeran Viḍūḍabha, putera Raja Pasenadi, untuk membantu Pangeran Viḍūḍabha merampas takhta ayahnya.
  2. Tiga liga (yojana) kira-kira sejauh dua puluh mil.
  3. MA mengatakan bahwa ia berpikir: “Sebelumnya, setelah berunding secara pribadi dengan Petapa Gotama, raja menangkap pamanku dan tiga puluh dua puteranya. Mungkin kali ini ia akan menangkapku.” Lambang-lambang kerajaan yang diserahkan kepada Dīgha Kārāyaṇa juga termasuk kipas, payung, dan sandal. Dīgha Kārāyaṇa bergegas kembali ke ibukota dengan lambang-lambang kerajaan dan menobatkan Viḍūḍabha menjadi raja.
  4. Pada MN 13.11 pertengkaran ini dikatakan muncul karena kenikmatan indria.
  5. Seperti pada MN 77.6.
  6. Seperti pada MN 27.4-7.
  7. Pada saat kematian mereka keduanya dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai yang-kembali-sekali. Baca AN 6:44/iii.348.
  8. Pernyataan ini menunjukkan bahwa sutta ini terjadi pada tahun terakhir kehidupan Sang Buddha.
  9. Ketika Raja Pasenadi kembali ke tempat di mana ia meninggalkan Dīgha Kārāyaṇa, ia hanya menemukan seorang pelayan perempuan yang melaporkan berita itu kepadanya. Ia kemudian bergegas ke Rājagaha untuk meminta bantuan dari keponakannya, Raja Ajātasattu. Tetapi karena ia tiba di malam hari, gerbang kota telah ditutup. Karena lelah akibat perjalanan itu, ia berbaring di sebuah aula di luar kota dan meninggal dunia pada malam itu.
  10. MA: “Monumen Dhamma” berarti kata-kata yang mengungkapkan penghormatan terhadap Dhamma. Kapanpun penghormatan ditunjukkan kepada salah satu dari Tiga Permata, itu juga ditunjukkan kepada Permata lainnya.