[115] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.1 Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala.

2. Pada saat itu sejumlah brahmana kaya dan terkenal sedang menetap di Icchānangala, yaitu, Brahmana Cankī, Brahmana Tārukkha, Brahmana Pokkharasāti, Brahmana Jāṇussoṇi, Brahmana Todeyya, dan para brahmana kaya dan terkenal lainnya.

3. Kemudian, sewaktu murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja sedang berjalan-jalan untuk berolah-raga, diskusi berikut ini terjadi antara mereka: “Bagaimanakah seseorang disebut seorang brahmana?” Murid brahmana Bhāradvāja berkata: “Jika ia berasal dari kelahiran baik pada kedua pihak, keturunan dari ibu dan ayah yang murni hingga tujuh generasi sebelumnya, tidak dapat dibantah dan tanpa cela dalam hal kelahiran, maka ia adalah seorang brahmana.” Murid brahmana Vāseṭṭha berkata: “Jika ia bermoral dan mematuhi peraturan-peraturan, maka ia adalah seorang brahmana.”

4. Tetapi murid brahmana Bhāradvāja tidak dapat [116] meyakinkan murid brahmana Vāseṭṭha, juga murid brahmana Vāseṭṭha tidak dapat meyakinkan murid brahmana Bhāradvāja.

5. Kemudian murid brahmana Vāseṭṭha berkata kepada murid brahmana Bhāradvāja: “Tuan, Petapa Gotama, putera Sakya, yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, sedang menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala. Sekarang suatu berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’ Marilah, Bhāradvāja, kita pergi menemui Petapa Gotama dan menanyakan kepada Beliau sehubungan dengan persoalan ini. Sebagaimana Beliau menjawabnya, demikianlah kita akan mengingatnya.” – “Baik, Tuan,” murid brahmana Bhāradvāja menjawab.

6. Kemudian kedua murid brahmana itu, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, mereka duduk di satu sisi dan murid brahmana Vāseṭṭha berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair sebagai berikut:

7. Vāseṭṭha > 1. “Kami berdua diakui memiliki > Pengetahuan Tiga Veda, > Karena aku adalah murid Pokkharasāti > Dan ia adalah murid Tārukkha.

  1. Kami telah mencapai penguasaan penuh Atas segala yang diajarkan oleh para ahli Veda; Mahir dalam ilmu bahasa dan tata bahasa Kami setara dengan guru-guru kami dalam hal pembacaan. [117]

  2. Perselisihan muncul di antara kami, Gotama, Sehubungan dengan pertanyaan tentang kelahiran dan kasta: Bhāradvāja mengatakan seseorang adalah brahmana melalui kelahiran, Sedangkan aku mengatakan seseorang adalah brahmana melalui perbuatan.2 Ketahuilah hal ini, O Petapa, sebagai perdebatan kami.

  3. Karena kami tidak bisa saling meyakinkan satu sama lain, Atau membuatnya melihat sudut pandang yang lain, Kami telah mendatangiMu, Tuan, Yang termasyhur sebagai seorang Buddha.

  4. Seperti halnya orang-orang merangkapkan tangannya Menyembah bulan ketika bulan mulai mengembang, Demikian pula di dunia ini mereka memuliakan Engkau Dan menyembah Engkau, Gotama.

  5. Maka sekarang kami bertanya kepadaMu, Gotama, Pembuka mata di dunia ini: Apakah seseorang menjadi brahmana melalui kelahiran atau perbuatan? Jelaskanlah kepada kami yang tidak mengetahui Bagaimana kami seharusnya mengenali seorang brahmana.”

8. Buddha > 7. “Aku akan mengajarkan engkau secara berurutan sebagaimana adanya, > Vāseṭṭha,” Sang Bhagavā berkata, > “Pengelompokan umum makhluk-makhluk hidup; > Karena banyak jenis kelahiran.

  1. Pertama-tama ketahuilah rumput dan pepohonan: Walaupun tidak memiliki kesadaran-diri, Kelahirannya adalah tanda khususnya; Karena banyak jenis kelahiran.

  2. Berikutnya adalah ngengat dan kupu-kupu Dan seterusnya hingga semut dan rayap: Kelahirannya adalah tanda khususnya; Karena banyak jenis kelahiran.

  3. Kemudian ketahuilah jenis-jenis binatang kaki empat [dari berbagai jenisnya] baik kecil maupun besar: Kelahirannya adalah tanda khususnya; Karena banyak jenis kelahiran.

  4. Ketahuilah binatang-binatang yang perutnya adalah kakinya, Yaitu, kelompok ular berbadan panjang: Kelahirannya adalah tanda khususnya; Karena banyak jenis kelahiran.

  5. Ketahui juga ikan-ikan yang berdiam di air Habitatnya adalah alam cair: Kelahirannya adalah tanda khususnya; Karena banyak jenis kelahiran.

  6. Berikutnya ketahuilah burung-burung yang mengepakkan sayapnya Ketika terbang di angkasa raya: Kelahirannya adalah tanda khususnya; Karena banyak jenis kelahiran.

9. > 14. “Sementara dalam kelahiran-kelahiran ini perbedaan-perbedaan > Kelahiran menjadi tanda khususnya, > Pada manusia tidak ada perbedaan kelahiran > Yang menjadi tanda khususnya.

  1. Tidak di rambut juga tidak di kepala Tidak di telinga juga tidak di mata Tidak di mulut juga tidak di hidung Tidak di bibir juga tidak di kening;

  2. Juga tidak di bahu atau di leher Juga tidak di perut atau di punggung Juga tidak di bokong atau di dada Juga tidak di organ kelamin atau cara berhubungan seksual

  3. Tidak di tangan juga tidak di kaki Juga tidak di jari tangan atau di kuku Tidak di lutut juga tidak di paha Juga tidak dalam warna kulit atau dalam suara Di sini kelahiran tidak memiliki tanda khusus Seperti halnya dengan jenis kelahiran lainnya. [119]

  4. Pada tubuh manusia Tidak ada tanda khusus dapat ditemukan Perbedaan di antara manusia Hanyalah sebutan verbal3

10. > 19. “Siapa yang berpenghidupan di antara manusia4 > Melalui pertanian, engkau seharusnya mengetahui > Disebut seorang petani, Vāseṭṭha; > Ia bukanlah seorang brahmana.

  1. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia Melalui berbagai keahlian, engkau seharusnya mengetahui Disebut seorang ahli, Vāseṭṭha; Ia bukanlah seorang brahmana

  2. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia Melalui barang-barang dagangan, engkau seharusnya mengetahui Disebut seorang pedagang, Vāseṭṭha; Ia bukanlah seorang brahmana

  3. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia Dengan melayani orang-orang lain, engkau seharusnya mengetahui Disebut seorang pelayan, Vāseṭṭha; Ia bukanlah seorang brahmana

  4. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia Dengan mencuri, engkau seharusnya mengetahui Disebut seorang perampok, Vāseṭṭha; Ia bukanlah seorang brahmana

  5. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia Melalui keterampilan memanah, engkau seharusnya mengetahui Disebut seorang prajurit, Vāseṭṭha; Ia bukanlah seorang brahmana

  6. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia Melalui keterampilan religius, engkau seharusnya mengetahui Disebut seorang pandita, Vāseṭṭha; Ia bukanlah seorang brahmana

  7. Siapapun juga yang memerintah di antara manusia Pemukiman dan kerajaan, engkau seharusnya mengetahui Disebut seorang penguasa, Vāseṭṭha; Ia bukanlah seorang brahmana.

11. > 27. “Aku menyebutnya bukan seorang brahmana > Karena asal-usul dan silsilahnya > Jika rintangan masih bersembunyi dalam dirinya, > Ia hanyalah seorang yang mengatakan ‘Tuan.’5 > Siapapun yang tanpa rintangan dan tidak lagi melekat: > Ia Kusebut seorang brahmana.

  1. Yang telah memotong semua belenggu Dan tidak lagi terguncang oleh kesedihan, Yang telah mengatasi segala ikatan, terlepas: Ia Kusebut seorang brahmana. [120]

  2. Yang telah memotong tali pengikat Juga tali kendali dan tali kekang, Yang palang penghalangnya telah diangkat, yang tercerahkan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  3. Yang menahankan tanpa jejak kebencian Hinaan, kekerasan, dan juga penindasan. Dengan kekuatan kesabaran tertata baik: Ia Kusebut seorang brahmana.

  4. Yang tidak terbakar oleh kemarahan, Patuh, bermoral, dan rendah-hati, Lembut, membawa jasmani terakhirnya: Ia Kusebut seorang brahmana.

  5. Siapapun juga, yang bagaikan hujan di atas daun seroja, Atau biji mostar di atas ujung jarum, Sama sekali tidak melekat pada kenikmatan indria Ia Kusebut seorang brahmana.

  6. Yang mengetahui di sini di dalam dirinya sendiri Hancurnya segala penderitaan Dengan beban diturunkan, dan terlepas: Ia Kusebut seorang brahmana.

  7. Yang dengan pemahaman mendalam, bijaksana, Dapat mengetahui sang jalan dan bukan sang jalan Dan telah mencapai tujuan tertinggi: Ia Kusebut seorang brahmana.

  8. Jauh dari para perumah-tangga Dan mereka yang menjalani kehidupan tanpa rumah, Yang mengembara tanpa rumah atau keinginan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  9. Yang telah menyingkirkan tongkat pemukul Terhadap semua makhluk lemah ataupun kuat, Yang tidak membunuh atau menyebabkan makhluk lain terbunuh: Ia Kusebut seorang brahmana.

  10. Yang tidak melawan di antara para lawannya. Damai di antara mereka yang terbiasa melakukan kekerasan, Yang tidak melekat di antara mereka yang melekat: Ia Kusebut seorang brahmana.

  11. Yang telah menjatuhkan segala nafsu dan kebencian, Menurunkan keangkuhan dan sikap meremehkan, Bagaikan biji mostar di ujung jarum: Ia Kusebut seorang brahmana. [121]

  12. Yang mengucapkan kata-kata yang bebas dari kekasaran, Penuh makna, senantiasa jujur, Yang tidak menghina siapapun: Ia Kusebut seorang brahmana.

  13. Yang di dunia ini tidak akan pernah mengambil Apa yang tidak diberikan, panjang atau pendek, Kecil atau besar atau indah atau menjijikkan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  14. Yang tidak lagi memiliki kerinduan Sehubungan dengan alam ini dan alam mendatang, Yang hidup tanpa kerinduan dan terlepas: Ia Kusebut seorang brahmana.

  15. Yang tidak lagi memiliki kegemaran Tidak ada lagi kebingungan karena ia mengetahui; Yang telah memperoleh pijakan kokoh dalam Tanpa-Kematian: Ia Kusebut seorang brahmana.

  16. Yang telah melampaui segala ikatan di sini Dari perbuatan baik dan buruk, Tanpa kesedihan, tanpa noda, dan murni: Ia Kusebut seorang brahmana.

  17. Yang, murni bagaikan bulan tanpa noda, Bersih dan jernih, dan yang padanya Kesenangan dan penjelmaan telah dihancurkan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  18. Yang telah menyeberangi rawa, Lumpur, saṁsāra, segala delusi, Yang telah menyeberang ke pantai seberang Dan bermeditasi dalam jhāna-jhāna, Tidak terganggu dan tidak bingung, Mencapai Nibbāna melalui ketidak-melekatan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  19. Yang telah meninggalkan kenikmatan-kenikmatan indria Dan mengembara di sini tanpa rumah Dengan keinginan indria dan penjelmaan dihancurkan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  20. Yang juga telah meninggalkan ketagihan, Dan mengembara di sini tanpa rumah Dengan ketagihan dan penjelmaan dihancurkan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  21. Yang meninggalkan semua belenggu manusia Dan telah melepaskan belenggu surgawi, Terlepas dari segala belenggu di manapun: Ia Kusebut seorang brahmana.

  22. Yang meninggalkan kesenangan dan ketidak-puasan, Yang sejuk dan tanpa perolehan, Pahlawan yang telah melampaui seluruh alam: Ia Kusebut seorang brahmana. [122]

  23. Yang mengetahui bagaimana makhluk-makhluk meninggal dunia Untuk muncul kembali dalam banyak cara, Ia tidak mencengkeram, mulia, sadar: Ia Kusebut seorang brahmana.

  24. Yang tujuannya tidak diketahui Oleh para dewa, hantu, dan manusia, Seorang Arahant dengan noda-noda dihancurkan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  25. Yang tanpa rintangan sama sekali, Di depan, di belakang, atau di tengah, Yang tanpa rintangan dan tidak lagi melekat: Ia Kusebut seorang brahmana.

  26. Pemimpin kelompok, pahlawan sempurna, Petapa besar yang kemenangannya telah diraih, Tanpa gangguan, dimurnikan, tercerahkan: Ia Kusebut seorang brahmana.

  27. Yang mengetahui banyak kehidupan lampaunya Dan melihat alam-alam surga dan alam sengsara, Yang telah mencapai hancurnya kelahiran: Ia Kusebut seorang brahmana.

12. > 55. “Karena nama dan kasta diberikan > Sebagai sekadar sebutan di dunia ini; > Berasal-mula dari konvensi, > Yang diberikan di sana-sini.

  1. Bagi mereka yang tidak mengetahui fakta ini, Pandangan salah telah lama bersembunyi dalam batin mereka; Tanpa mengetahui, mereka mengatakan kepada kita: ‘Ia adalah seorang brahmana melalui kelahiran.’

  2. Seseorang bukanlah seorang brahmana melalui kelahiran, Juga bukan melalui kelahiran seseorang menjadi bukan-brahmana Seseorang menjadi brahmana melalui perbuatan, Seseorang menjadi bukan-brahmana melalui perbuatan.

  3. Karena orang-orang menjadi petani melalui perbuatan mereka,6 Dan melalui perbuatan mereka menjadi orang-orang ahli; Dan orang-orang menjadi pedagang melalui perbuatan mereka, Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi pelayan.

  4. Dan orang-orang menjadi perampok melalui perbuatan mereka, Dan melalui perbuatan mereka menjadi prajurit; Dan orang-orang menjadi pandita melalui perbuatan mereka, Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi penguasa. [123]

13. > 60. “Maka demikianlah bagaimana yang sungguh bijaksana > Melihat perbuatan sebagaimana adanya, > Yang melihat kemunculan bergantungan, > Terampil dalam perbuatan dan akibatnya.7

  1. Perbuatan menyebabkan dunia berputar, Perbuatan menyebabkan generasi berganti. Makhluk-makhluk hidup terikat oleh perbuatan Bagaikan roda kereta terikat oleh porosnya.

  2. Pertapaan, kehidupan suci, Pengendalian-diri dan latihan batin – Dengan ini seseorang menjadi brahmana, Dalam ketinggian ini kebrahmanaan itu terletak.8

  3. Seseorang yang memiliki tiga pengetahuan, Damai, dengan segala penjelmaan dihancurkan: Kenalilah ia demikian, O Vāseṭṭha, Sebagai Brahmā dan Sakka bagi mereka yang memahami.”

14. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! … Mulai hari ini sudilah Guru Gotama mengingat kami sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


Catatan Kaki
  1. Teks dari sutta ini tidak termasuk dalam Majjhima Nikāya edisi PTS, untuk alasan yang sama seperti pada n.867. Nomor halaman dalam kurung siku merujuk pada edisi Sn dari Anderson-Smith.
  2. Di sini kata “kamma” harus dipahami sebagai perbuatan atau tindakan sekarang, dan bukan perbuatan lampau yang menghasilkan akibat sekarang.
  3. Sāmaññā. MA: Di antara binatang-binatang, keberagaman bentuk dari bagian-bagian tubuh mereka ditentukan oleh spesiesnya (*yoni*), tetapi hal itu (perbedaan spesies) tidak terdapat pada tubuh para brahmana dan kasta-kasta manusia lainnya. Oleh karena itu, perbedaan antara brahmana, khattiya, dan sebagainya, hanyalah sebutan verbal; diucapkan hanya sekadar sebagai ungkapan konvensional.
  4. MA: Hingga pada titik ini Sang Buddha telah mengkritik pernyataan Bhāradvāja bahwa kelahiran menjadikan seseorang sebagai brahmana. Sekarang Beliau akan mendukung pernyataan Vāseṭṭha bahwa perbuatan menjadikan seseorang sebagai brahmana. Karena para brahmana masa lampau dan para bijaksana lainnya di dunia ini tidak akan mengakui kebrahmanaan seseorang yang cacat dalam penghidupan, moralitas, dan perilaku.
  5. Bhavādi. Bho, “Tuan,” adalah cara menyapa yang biasanya digunakan di antara para brahmana. Mulai titik ini dan seterusnya Sang Buddha akan mengidentifikasikan brahmana sejati sebagai Arahant. Bait 27-54 di sini identik dengan Dhp 396-423, kecuali pada bait tambahan dalam Dhp 423.
  6. MA: Melalui perbuatan kehendak sekarang yang menyelesaikan pekerjaan bertani, dan sebagainya.
  7. Dengan bait ini kata “kamma” mengalami pergeseran makna yang ditandai oleh kata “kemunculan bergantungan.” “Kamma” di sini bukan lagi hanya berarti perbuatan sekarang yang menentukan status sosial seseorang, melainkan perbuatan dalam makna khusus kekuatan yang mengikat makhluk-makhluk pada lingkaran kehidupan. Pemikiran yang sama ini menjadi lebih jelas pada bait berikutnya.
  8. Bait ini dan yang berikutnya sekali lagi merujuk pada Arahant. Akan tetapi, di sini, perbedaannya tidak terletak pada perbedaan Arahant sebagai seorang yang menjadi suci melalui perbuatannya dan brahmana melalui kelahiran yang tidak layak menyandang sebutan itu, melainkan pada perbedaan antara Arahant sebagai seorang yang terbebaskan dari belenggu perbuatan dan akibat, dan semua makhluk lainnya yang masih terikat oleh perbuatan mereka pada lingkaran kelahiran dan kematian.