[47] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Rājagaha, di hutan-mangga Jīvaka Komārabhacca1, bersama dengan dua ratus lima puluh bhikkhu. Pada saat itu Raja Ajātasattu Vedehiputta2 dari Magadha, naik ke teras atas istananya, sedang duduk di sana dikelilingi oleh para menteri, pada hari Uposatha3 tanggal lima belas, bulan purnama di bulan keempat, 4 yang disebut Komudi.5 Dan Raja Ajātasattu, pada hari Uposatha itu, mengucapkan kata-kata berikut ini: ‘Sungguh indah, teman-teman, malam purnama ini! Sungguh menarik malam purnama ini! Sungguh menggembirakan malam purnama ini! Tidak dapatkah kita hari ini mengunjungi petapa atau Brahmana, mengunjungi siapa saja yang memberikan kedamaian di hati kita?’6

2. Kemudian satu menteri berkata kepada Raja Ajātasattu: ‘Baginda, ada Pūraṇa Kassapa, yang memiliki banyak pengikut, guru dari banyak orang, yang terkenal, termashyur, pendiri satu sekte, dihormati oleh banyak orang, telah lama menjadi petapa, sejak lama ia telahmeninggalkan rumah, tua dan terhormat. Sudilah Baginda mengunjungi Pūraṇa Kassapa ini. Ia akan memberikan kedamaian di hati Baginda.’ Mendengar kata-kata ini Raja Ajātasattu berdiam diri.

3. Menteri lainnya berkata: ‘Baginda, ada [48] Makkhali Gosāla, yang memiliki banyak pengikut … Ia akan memberikan kedamaian di hati Baginda.’ Mendengar kata-kata ini Raja Ajātasattu berdiam diri.

4. Menteri lainnya berkata: ‘Baginda, ada Ajita Kesakambalī …’ Mendengar kata-kata ini Raja Ajātasattu berdiam diri.

5. Menteri lainnya berkata: ‘Baginda, ada Pakudha Kaccāyana …’ Mendengar kata-kata ini Raja Ajātasattu berdiam diri.

6. Menteri lainnya berkata: ‘Baginda, ada Sañjaya Belaṭṭhaputta …’ Mendengar kata-kata ini Raja Ajātasattu berdiam diri.

7. Menteri lainnya berkata: ‘Baginda, ada [49] Nigaṇṭha Nātaputta, yang memiliki banyak pengikut, guru dari banyak orang, yang terkenal, … tua dan terhormat. Sudilah Baginda mengunjungi Nigaṇṭha Nātaputta ini. Ia akan memberikan kedamaian di hati Baginda.’ Mendengar kata-kata ini Raja Ajātasattu berdiam diri.

8. Selama itu Jīvaka Komārabaccha hanya duduk diam di dekat Raja Ajātasatttu. Raja berkata kepadanya: ‘Engkau, sahabat Jīvaka, mengapa engkau diam?’ ‘Baginda, ada Sang Bhagavā ini, Sang Arahant, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna sedang berdiam di hutan mangga milikku disertai oleh dua ratus lima puluh bhikkhu. Dan sehubungan dngan Sang Bhagavā Gotama ini, berita baik telah beredar bahwa: “Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang sempurna, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya,7 Guru para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan dan Yang Suci.” Sudilah Baginda mengunjungi Sang Bhagavā. Beliau akan memberikan kedamaian di hati Baginda.’ ‘Kalau begitu, Jīvaka, siapkan gajah tunggangan.’

9. ‘Baik, Baginda’, Jīvaka berkata, dan ia menyiapkan lima ratus gajah betina, dan gajah jantan kerajaan untuk Sang Raja. Kemudian ia melaporkan: ‘Baginda, gajah –gajah tunggangan telah siap. Sekarang saatnya kita melakukan apa yang Baginda inginkan.’ Dan Raja Ajātasattu, setelah menempatkan istri-istrinya masing-masing di satu dari lima ratus gajah betina, ia menaiki gajah jantan kerajaan dan bergerak dalam barisan, disertai barisan pembawa obor, dari Rājagaha menuju hutan mangga Jīvaka.

10. Dan ketika Raja Ajātasattu mendekati hutan mangga ia merasa takut dan ngeri, dan bulu badannya berdiri. Dan [50] karena merasa takut dan bulu badannya berdiri, Raja berkata kepada Jīvaka: ‘Sahabat Jīvaka, apakah engkau menipu aku? Apakah engkau membohongi aku? Engkau tidak membawaku kepada musuh, kan? Bagaimanakah ini, dari dua ratus lima puluh bhikkhu, tidak ada suara bersin, batuk atau teriakan yang terdengar?’

‘Jangan takut, Baginda, aku tidak menipu engkau, tidak membohongi engkau atau membawamu kepada musuh. Mendekatlah, Baginda, mendekatlah. Ada pelita yang menyala di paviliun bundar.’

11. Maka Raja Ajātasattu, menunggang gajahnya sejauh yang dimungkinkan tanah di sana, kemudian turun dari gajah dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju pintu paviliun bundar. Kemudian ia berkata: ‘Jīvaka, di manakah Sang Bhagavā?’ ‘Itu adalah Sang Bhagavā, Baginda. Itu adalah Sang Bhagavā yang sedang duduk bersandar di tiang tengah dengan para bhikkhu di hadapanNya.’

12. Kemudian Raja Ajātasattu mendatangi Sang Bhagavā dan berdiri di satu sisi; dan sambil berdiri di sana di satu sisi Sang Raja memperhatikan bagaimana para bhikkhu tetap diam bagaikan sebuah danau jernih, dan ia berseru: ‘Seandainya Pangeran Udāyabhadda memiliki ketenangan demikian seperti para bhikkhu ini!’

‘Apakah pikiranmu terarah pada putra tercintamu, Baginda?’ ‘Bhagavā, Pangeran Udàyabhadda8 sangat kusayangi. Andai saja ia memiliki ketenangan yang sama seperti para bhikkhu ini!’

13. Kemudian Raja Ajātasattu, setelah bersujud kepada Sang Bhagavā dan memberi hormat kepada para bhikkhu dengan [51] merangkapkan kedua tangannya, duduk di satu sisi dan berkata: ‘Bhagavā, aku akan menanyakan sesuatu, jika Bhagavā berkenan menjawabku.’ ‘Tanyalah, Baginda, apapun yang engkau inginkan.’

14. ‘Bhagavā, seperti halnya banyak tenaga ahli ini, seperti, penunggang-gajah, penunggang-kuda, prajurit-kereta, pemanah, pembawa bendera, ajudan, penyedia makanan, prajurit dan pejabat senior, mata-mata, pahlawan, prajurit pemberani, prajurit berbaju besi, putra-putra budak, ahli memasak, tukang cukur, petugas mandi, pembuat roti, pembuat kalung bunga, ahli mewarnai kain, penenun, pembuat-keranjang, ahli tembikar, juru hitung dan ahli pembukuan – dan keterampilan apapun yang ada; mereka menikmati di sini dan saat ini buah yang nyata dari keterampilan mereka, mereka sendiri senang dan gembira dengan keterampilan itu, seperti juga orangtua mereka, anak-anak dan rekan serta teman-teman, mereka memelihara dan menyokong para petapa dan Brahmana, dengan demikian menjamin surga bagi mereka, imbalan bahagia di alam surga. Dapatkan Engkau, Bhagavā, menjelaskan imbalan nyata apakah di sini dan saat ini sebagai buah dari kehidupan tanpa rumah?’

15. ‘Baginda, apakah engkau mengakui bahwa engkau telah mengajukan pertanyaan ini kepada petapa dan Brahmana lain?’ ‘Aku mengakuinya, Bhagavā.’

‘Apakah Baginda keberatan mengatakan bagaimana jawaban mereka? ‘Aku tidak keberatan mengatakannya kepada Sang Bhagavā, atau salah satunya yang seperti Beliau.’ [52] ‘Baiklah, Baginda, beritahukanlah kepadaKu.’

16. ‘Suatu ketika, Bhagavā, aku menjumpai Pūraṇa Kassapa.9 Setelah saling bertukar sapa, aku duduk di satu sisi dan berkata: ‘Kassapa yang baik, seperti halnya berbagai tenaga ahli ini, … mereka menikmati di sini dan saat ini buah yang nyata dari keterampilan mereka (seperti paragraf 14). Dapatkan engkau, Kassapa, menjelaskan imbalan nyata apakah di sini dan saat ini sebagai buah dari kehidupan tanpa rumah?’

17. ‘Atas pertanyaan ini, Bhagavā, Pūraṇa Kassapa berkata: “Baginda, oleh si pelaku atau pemberi perintah dari suatu pekerjaan, oleh seorang yang memotong atau menyebabkan terpotong, oleh seorang yang membakar atau menyebabkan terbakar, oleh seorang yang menyebabkan kesedihan dan kelelahan, oleh seorang yang kacau atau menyebabkan kekacauan, yang menyebabkan pembunuhan atau mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan pencurian, melakukan perampasan, melakukan perampokan, penyergapan, melakukan kejahatan seksual dan berbohong, tidak ada kejahatan yang dilakukan. Jika dengan sebuah pisau cukur tajam seseorang membuat di atas tanah ini tumpukan besar daging, tidak ada keburukan sebagai akibat dari perbuatan itu, tidak ada kejahatan yang terkumpul. Jika seseorang pergi ke tepi selatan Sungai Gangga membunuh, membasmi, memotong atau menyebabkan terpotong, membakar atau menyebabkan terbakar, tidak ada keburukan sebagai akibat dari perbuatan itu, tidak ada kejahatan yang terkumpul. Atau jika seseorang pergi ke tepi utara sungai Gangga memberi atau menyebabkan pemberian, mengorbankan atau menyebabkan pengorbanan, tidak ada jasa sebagai akibat dari perbuatan itu, tidak ada jasa yang terkumpul. [53] Dalam memberi, dalam pengendalian-diri, penghindaran dan mengatakan kebenaran, tidak ada jasa, dan tidak ada jasa yang terkumpul.”

18. “Demikianlah, Bhagavā, Pūraṇa Kassapa, ketika ditanya tentang buah saat ini dari kehidupan tanpa rumah, menjelaskan tentang tidak ada perbuatan kepadaku. Seperti halnya jika seseorang ditanya tentang pohon mangga dan ia menjelaskan tentang pohon sukun, atau ditanya tentang pohon sukun dan ia menjelaskan tentang pohon mangga, demikianlah Pūraṇa Kassapa, ketika ditanya tentang buah saat ini dari kehidupan tanpa rumah, ia menjelaskan tentang tidak ada perbuatan kepadaku. Dan Bhagavā, aku berpikir: “Bagaimanakah seharusnya seseorang seperti aku berpikiran buruk terhadap petapa dan Brahmana yang menetap dalam wilayahku?”10 Maka aku tanpa memuji atau menolak kata-kata Pūraṇa Kassapa namun, meskipun tidak puas, tanpa mengungkapkan ketidakpuasanku, tidak berkata apa-apa, tidak mengucapkan penolakan atau kecaman, aku bangkit dan pergi.

19. ‘Suatu ketika aku mengunjungi Makkhali Gosāla, 11 dan mengajukan pertanyaan yang sama.

20. ‘Makkhali Gosāla berkata: “Baginda, tidak ada penyebab atau kondisi12 bagi kekotoran makhluk-makhluk, mereka kotor tanpa penyebab atau kondisi. Tidak ada penyebab atau kondisi bagi pemurnian makhluk-makhluk. Mereka dimurnikan tanpa penyebab atau kondisi. Tidak ada kemampuan-diri sendiri atau kemampuan-orang lain, tidak ada kemampuan dalam diri manusia, tidak ada kekuatan atau daya, tidak ada tenaga atau upaya. Semua kehidupan, semua benda hidup, semua makhluk, semua yang hidup adalah tanpa kendali, tanpa kemampuan atau kekuatan, mereka mengalami pergerakan kesenangan dan penderitaan melalui enam jenis kelahiran kembali. Ada [54] satu juta empat ratus ribu jenis utama kelahiran kembali dan enam ribu lainnya dan juga enam ratus lagi. Ada lima ratus jenis kamma, 13 atau lima jenis,14 dan tiga jenis,15 dan setengah-kamma,16 enam puluh dua jalan, enam puluh dua kappa antara, enam kelompok manusia, delapan tingkat kemajuan manusia, empat ribu sembilan ratus pekerjaan, empat ribu sembilan ratus pengembara, empat ribu sembilan ratus alam nāga,17 dua ribu kehidupan berkesadaran, tiga ribu neraka, tiga puluh enam tempat debu, tujuh kelompok kelahiran kembali sebagai makhluk berkesadaran, tujuh sebagai makhluk tanpa kesadaran, dan tujuh sebagai makhluk ‘yang bebas dari belenggu’,18 tujuh tingkat dewa, manusia, setan, tujuh danau, tujuh gunung besar dan gunung kecil, 19 tujuh jurang besar dan tujuh jurang kecil, tujuh mimpi besar dan tujuh mimpi kecil, delapan juta empat ratus ribu kappa selama si dungu dan sang bijaksana berlarian dan berputar hingga mereka mengakhiri penderitaan.

‘“”Oleh karena itu tidak ada hal-hal seperti ucapan: ‘Dengan pengorbanan atau latihan atau praktik keras atau kehidupan suci ini aku akan membuat kamma-ku yang belum matang menjadi berbuah, atau aku akan perlahan-lahan membuat kamma yang telah matang ini menjadi lenyap.’20 Tidak ada satupun hal-hal ini yang mungkin, karena kebahagiaan dan penderitaan telah ditentukan dengan suatu ukuran yang dibatasi oleh lingkaran kelahiran-dan-kematian, dan tidak ada penambahan maupun pengurangan, tidak ada mulia atau hina, bagaikan sebuah bola benang ketika dilemparkan akan bergulir hingga seluruhnya terurai, demikian pula si dungu dan sang bijaksana berlari berputar hingga mereka mengakhiri penderitaan.”

21. ‘Demikianlah, Bhagavā, Makkhali Gosāla, ketika ditanya tentang buah dari kehidupan tanpa rumah, menjelaskan pemurnian lingkaran kelahiran-dan-kematian kepadaku … [55] Jadi aku tidak memuji atau menolak kata-kata Makkhali Gosāla tetapi … bangkit dan pergi.

22. ‘Suatu ketika aku mengunjungi Ajita Kesakambalī,21 dan mengajukan pertanyaan yang sama.

23. ‘Ajita Kesakambalī berkata: “Baginda, tidak ada yang diberikan, dianugerahkan, dipersembahkan dalam pengorbanan, tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk, tidak ada dunia ini atau dunia setelah ini, tidak ada ibu atau ayah, tidak ada makhluk yang muncul secara spontan,22 tidak ada di dunia ini petapa atau Brahmana yang telah mencapai, yang telah berlatih dengan sempurna, yang menyatakan dunia ini dan dunia setelah ini, telah mencapainya dengan pengetahuannya sendiri. Manusia ini tersusun dari empat unsur utama, dan ketika seseorang meninggal dunia, bagian tanah kembali ke tanah, bagian air kembali ke air, bagian api kembali ke api, bagian udara kembali ke udara, dan indria-indria menguap ke dalam ruang. Mereka menyertai mayat itu dengan empat pengangkut dan tandu sebagai yang kelima, langkah kaki mereka terdengar hingga sejauh tanah-pemakaman. Di sana tulang-belulang memutih, pengorbanan berakhir dalam debu. Hanyalah gagasan si dungu untuk memberi: kata-kata dari mereka yang mengajarkan ajaran kelangsungan hidup adalah kosong dan keliru. Si dungu dan sang bijaksana, saat hancurnya jasmani, akan hancur dan lenyap, tidak ada lagi setelah kematian.”

24. ‘Demikianlah, Bhagavā, Ajita Kesakambalī, ketika ditanya tentang buah dari kehidupan tanpa rumah, menjelaskan ajaran pemusnahan kepadaku … [56] … Aku bangkit dan pergi.

25. ‘Suatu ketika aku mengunjungi Pakudha Kaccāyana,23 dan mengajukan pertanyaan yang sama.

26. ‘Pakudha Kaccāyana berkata: “Baginda, tujuh hal ini tidak dibuat atau suatu jenis untuk dibuat, tidak diciptakan, tidak produktif, mandul, salah, stabil bagai pilar. Semua ini tidak goyah, tidak berubah, saling menghalangi satu sama lain, juga tidak mampu menyebabkan satu sama lain menjadi bahagia, menderita, atau keduanya. Apakah tujuh ini? Tubuh-tanah, tubuh-air, tubuh-api, tubuh-udara, kebahagiaan dan penderitaan dan prinsip-kehidupan. Tujuh ini tidak dibuat … karena itu tidak ada pembunuhan dan tidak ada pembunuh, juga tidak ada yang mendengar dan yang menyatakan, tidak ada yang mengetahui dan yang menyebabkan mengetahui. Dan siapapun yang memotong kepala seseorang dengan pedang yang tajam tidak akan menghilangkan kehidupan seseorang, ia hanya menyelipkan pedang ke dalam ruang di antara ketujuh tubuh ini.” [57]

27. ‘Demikianlah, Bhagavā, Pakudha Kaccāyana, ketika ditanya tentang buah dari kehidupan tanpa rumah, menjawab dengan sesuatu yang sangat berbeda … Aku bangkit dan pergi.

28. ‘Aku mengunjungi Nigaṇṭha Nātaputta, 24 dan mengajukan pertanyaan yang sama.

29. ‘Nigaṇṭha Nātaputta berkata: “Baginda, di sini seorang Nigaṇṭha melekat pada empat pengendalian. Apakah empat itu? Ia terkekang oleh semua kekang, dikelilingi oleh semua kekang, bersih oleh semua kekang, dan dituntut oleh semua pengendalian.25 Dan selama seorang Nigaṇṭha melekat pada empat pengendalian ini, maka Nigaṇṭha ini disebut sempurna oleh diri sendiri, terkendali oleh diri sendiri, tegak oleh diri sendiri.”

[58] 30. ‘Demikianlah, Bhagavā, Nigaṇṭha Nātaputta, ketika ditanya tentang buah dari kehidupan tanpa rumah, menjawab dengan empat pengendalian kepadaku … Aku bangkit dan pergi.

31. ‘Suatu ketika aku mengunjungi Sañjaya Belaṭṭhaputta, dan mengajukan pertanyaan yang sama.

32. ‘Sañjaya Belaṭṭhaputta berkata: “Jika engkau bertanya kepadaku: ‘Apakah ada dunia lain?’ Jika aku berpikir demikian, aku akan berkata demikian. Tetapi aku tidak berpikir demikian. Aku tidak berkata demikian, dan aku tidak mengatakan sebaliknya. Aku bukan mengatakan tidak, dan aku bukan tidak mengatakan tidak. Jika engkau bertanya: ‘Apakah tidak ada dunia lain?’ … ‘Keduanya?’ … ‘Bukan keduanya?’ ‘Apakah ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk?’ ‘Apakah tidak ada?’ … ‘Keduanya?’ … ‘Bukan keduanya?’ … ‘Apakah Sang Tathāgata [59] ada setelah kematian?’ ‘Apakah Sang Thatāgata tidak ada?’ … ‘Keduanya?’ … ‘Bukan keduanya?’ … Aku bukan tidak mengatakan tidak.”

33. ‘Demikianlah, Bhagavā, Sañjaya Belaṭṭhaputta, ketika ditanya tentang buah kehidupan tanpa rumah, menjawab dengan menghindar. Bagaikan jika seseorang ditanya tentang pohon mangga dan ia menjelaskan tentang pohon sukun … dan aku berpikir: “Dari semua petapa dan Brahmana, Sañjaya Belaṭṭhaputta adalah yang paling bodoh dan membingungkan.” Maka aku tidak memuji atau menolak kata-katanya, tetapi bangkit dan pergi.

34. ‘Dan demikianlah, Bhagavā, sekarang aku bertanya kepada Bhagavā: Seperti hanya berbagai tenaga ahli ini, … yang menikmati di sini dan saat ini buah nyata dari keterampilan mereka, … menjamin mereka akan kebahagiaan surgawi, imbalan bahagia … [60] Dapatkah Engkau, Bhagavā, menjelaskan imbalan, yang nyata di sini dan saat ini, sebagai buah dari kehidupan tanpa rumah?’

‘Aku dapat menjelaskannya, Baginda. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan dan engkau, Baginda, boleh menjawab apapun yang engkau anggap sesuai.

35. ‘Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan ada seorang laki-laki, budak, pekerja, yang bangun tidur sebelum engkau dan pergi tidur sesudah engkau, rajin mengerjakan apa yang harus dikerjakan, bersikap baik, sopan, bekerja untukmu. Dan ia mungkin berpikir: “Aneh, sungguh menakjubkan, takdir dan buah dari kebajikan! 26 Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha ini adalah seorang laki-laki, dan aku juga seorang laki-laki. Raja menyukai dan menikmati lima kenikmatan-indria, bagaikan dewa, sedangkan aku seorang budak … bekerja untuknya. Aku harus melakukan kebajikan. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah!” Dan tidak lama kemudian ia melakukannya. Dan ia, setelah meninggalkan kehidupan rumah tangga akan berdiam dengan mengendalikan jasmani, ucapan dan pikiran, puas dengan sedikit makanan dan minuman, bahagia, dalam kesendirian. Dan kemudian jika orang-orang mengatakan kepadamu: “Baginda, ingatkah engkau akan budak yang bekerja untukmu, dan yang mencukur rambut dan janggutnya dan pergi menjalani kehidupan tanpa rumah? Ia hidup dengan mengendalikan jasmani, ucapan dan pikiran, … dalam kesendirian” – akankah engkau berkata: “Orang itu harus kembali menjadi seorang budak dan bekerja untukku seperti sebelumnya”?’

36. ‘Tentu tidak, Bhagavā. Karena kami seharusnya menghormatinya, [61] kami seharusnya bangkit dan mengundangnya dan mendesaknya agar menerima dari kami jubah, makanan, tempat tinggal, obat-obatan dan kebutuhan-kebutuhan, dan melakukan pengaturan demi perlindungan selayaknya baginya.’

‘Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah itu adalah buah nyata di sini dan saat ini dari kehidupan tanpa rumah?’ ‘Tentu saja, Bhagavā.’ ‘Maka, Baginda, itu adalah buah pertama dari kehidupan tanpa rumah.’

37. ‘Tetapi, Bhagavā, dapatkah Engkau menjelaskan imbalan lainnya, yang nyata di sini dan saat ini, sebagai buah dari kehidupan tanpa rumah?’

‘Aku dapat menjelaskannya, Baginda. Aku akan mengajukan pertanyaan dan engkau, boleh menjawab apapun yang engkau anggap sesuai. Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan ada seorang laki-laki, seorang petani, perumah tangga, yang melayanimu, pengurus dari suatu perkebunan. Ia akan berpikir: “Aneh, sungguh menakjubkan, takdir dan buah dari kebajikan! Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha ini adalah seorang laki-laki, dan aku juga seorang laki-laki. Raja menyukai dan menikmati lima kenikmatan-indria, bagaikan dewa, sedangkan aku seorang petani, … pengawas perkebunan. Aku harus melakukan kebajikan. Bagaimana jika aku … pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah!” Dan tidak lama kemudian ia melakukannya. Dan ia, setelah meninggalkan kehidupan rumah tangga akan berdiam … dalam kesendirian. Dan kemudian jika orang-orang mengatakan kepadamu … [62] akankah engkau berkata: “Orang itu harus kembali menjadi pengawas perkebunan seperti sebelumnya”?’

38. ‘Tentu tidak, Bhagavā. Karena kami seharusnya menghormatinya, kami seharusnya bangkit dan mengundangnya dan mendesaknya agar menerima dari kami jubah, makanan, tempat tinggal, obat-obatan dan kebutuhan-kebutuhan, dan melakukan pengaturan demi perlindungan selayaknya baginya.’

‘Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah itu adalah buah nyata di sini dan saat ini dari kehidupan tanpa rumah?’ ‘Tentu saja, Bhagavā.’ ‘Maka, Baginda, itu adalah buah kedua dari kehidupan tanpa rumah.’

39. ‘Tetapi, Bhagavā, dapatkah Engkau menjelaskan imbalan lainnya, yang nyata di sini dan saat ini, sebagai buah dari kehidupan tanpa rumah yang lebih mulia dan sempurna daripada yang ini?’

‘Aku dapat menjelaskannya, Baginda. Dengarkanlah, Baginda. Perhatikanlah dengan baik, dan Aku akan berbicara.’ ‘Baik, Bhagavā’, Raja Ajātasattu menjawab, dan Sang Bhagavā melanjutkan:

40. ‘Baginda, seorang Tathāgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahant, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang sempurna, sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan dan Yang Suci. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuanNya sendiri, menyatakan dunia ini dengan para dewa, māra27 dan para Brahma, para raja28 dan manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang murni dan sempurna.

41. ‘Dhamma ini didengar oleh seorang perumah tangga atau putra perumah tangga, atau seorang yang terlahir dalam suatu keluarga atau lainnya. Setelah mendengar Dhamma ini, [63] ia mendapatkan keyakinan dalam Sang Tathāgata. Setelah mendapatkan keyakinan, ia merenungkan: “Kehidupan rumah tangga adalah tertutup dan kotor, kehidupan tanpa rumah adalah bebas bagaikan udara. Tidaklah mudah, sambil menjalani kehidupan rumah tangga, untuk menjalani kehidupan suci yang sempurna, murni dan mengkilap bagaikan kulit kerang. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan pergi dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah!” Dan setelah beberapa lama, ia meninggalkan hartanya, kecil atau besar, meninggalkan sanak saudaranya, kecil atau besar, mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning dan pergi menjalani kehidupan tanpa rumah.

42. ‘Dan setelah pergi, ia berdiam terkendali oleh pengendalian aturan-aturan, mempertahankan perilaku benar, melihat bahaya dalam kesalahan yang terkecil, melaksanakan komitmen yang telah ia ambil sehubungan dengan jasmani, ucapan dan pikiran, menekuni kehidupan murni dan terampil, sempurna dalam moralitas, dengan pintu-pintu indria terjaga, terampil dalam kesadaran penuh perhatian dan merasa puas.

43-62. ‘Dan bagaimanakah, Baginda, apakah seorang bhikkhu sempurna dalam moralitas? Dengan meninggalkan pembunuhan, ia berdiam menjauhi pembunuhan, tanpa tongkat atau pedang, berhati-hati, berbelas kasihan, tergerak demi kesejahteraan semua makhluk hidup. Demikianlah ia sempurna dalam moralitas. Menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, … menghindari ketidak-sucian, … (dan seterusnya untuk seluruh tiga bagian moralitas seperti pada Sutta 1, paragraf 1.8-27). Seorang bhikkhu menghindari keterampilan rendah dan penghidupan salah demikian. Demikianlah ia sempurna dalam moralitas. [64-69].

63. ‘Dan kemudian, Baginda, bhikkhu itu yang sempurna dalam moralitas melihat tidak ada bahaya dari sisi manapun juga karena ia terkendali oleh moralitas. Bagaikan seorang raja Khattiya yang dilantik dengan sah, setelah menaklukkan [70] musuh-musuhnya, dengan kenyataan tersebut melihat tidak ada bahaya dari sisi manapun, demikian pula bhikkhu tersebut, karena moralitasnya, melihat tidak ada bahaya dimanapun juga. Ia mengalami dalam dirinya kebahagiaan tanpa cacat yang muncul dari menjaga moralitas Ariya ini. Dengan cara inilah, Baginda, ia sempurna dalam moralitas.

64. ‘Dan bagaimanakah, Baginda, apakah ia menjaga pintu-pintu indria? Di sini seorang bhikkhu, ketika melihat objek terlihat dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran utama atau karakteristik sekundernya. Karena keserakahan dan kesedihan, kondisi-kondisi buruk yang tidak terampil, akan menguasainya jika ia berdiam dengan indria-mata tidak terjaga, maka ia berlatih untuk menjaganya, ia melindungi indria-mata, mengembangkan pengendalian pada indria-mata. Ketika mendengar suara dengan telinga, … ketika mencium bau-bauan dengan hidung, … ketika mengecap rasa dengan lidah, … ketika menyentuh objek sentuhan dengan badan, … ketika memikirkan suatu bentuk-pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran utama atau karakteristik sekundernya … ia mengembangkan pengendalian pada indria-pikiran. Ia mengalami dalam dirinya kebahagiaan tanpa cacat yang muncul dari menjaga moralitas Ariya ini. Dengan cara inilah, Baginda, ia sempurna dalam moralitas.

65. ‘Dan bagaimanakah, Baginda, apakah seorang bhikkhu sempurna dalam perhatian dan kesadaran jernih? Di sini, seorang bhikkhu bertindak dengan kesadaran jernih ketika berjalan maju dan kembali, ketika memandang ke depan dan ke belakangnya, ketika membungkuk dan menegakkan badan, ketika mengenakan jubah luar dan jubah dalamnya dan membawa mangkuknya, ketika makan, minum, mengunyah dan menelan, ketika menjawab panggilan alam, ketika berjalan, berdiri, duduk, berbaring, ketika terjaga, ketika berbicara dan ketika berdiam diri ia bertindak dengan kesadaran jernih. Dengan cara inilah, [71] seorang bhikkhu sempurna dalam perhatian dan kesadaran murni.

66. ‘Dan bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas? Di sini, seorang bhikkhu puas dengan satu jubah untuk melindungi tubuhnya, dengan makanan untuk memuaskan perutnya, dan setelah menerima secukupnya, ia melanjutkan perjalanannya. Bagaikan seekor burung dengan sayapnya terbang kesana kemari, tanpa dibebani apapun kecuali sayapnya, demikianlah ia merasa puas … dengan cara inilah, Baginda, seorang bhikkhu puas.

67. ‘Kemudian ia, dilengkapi dengan moralitas Ariya-nya, dengan pengendalian Ariya atas indria-indrianya, dengan kepuasan Ariya-nya, mencari tempat yang sepi, di bawah pohon di hutan, di dalam gua-gua digunung atau jurang, di tanah pekuburan, di hutan belantara, atau di ruang terbuka di atas tumpukan jerami. Kemudian, sehabis makan setelah ia kembali dari menerima dana makanan, ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan berkonsentrasi menjaga perhatiannya kokoh di depannya.29

68. ‘Dengan meninggalkan keinginan duniawi, ia berdiam dengan pikiran bebas dari keinginan duniawi, dan pikirannya dimurnikan dari keinginan duniawi. Meninggalkan permusuhan dan kebencian … dan dengan belas kasihan demi kesejahteraan semua makhluk hidup, pikirannya dimurnikan dari permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan-dan-ketumpulan, … dengan mempersepsikan cahaya,30 penuh perhatian dan dengan kesadaran jernih, pikirannya dimurnikan dari kelambanan-dan-ketumpulan. Dengan Meninggalkan kekhawatiran-dan-kebingungan … dan dengan ketenangan pikiran batinnya dimurnikan dari kekhawatiran-dan-kebingungan. Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam dengan keragu-raguan ditinggalkan, tanpa keraguan akan hal-hal yang bermanfaat, pikirannya bebas dari keraguan.

69. ‘Bagaikan seseorang yang menerima pinjaman untuk mengembangkan usahanya, dan setelah usahanya maju, harus melunasi hutangnya, dan dengan apa yang tersisa dapat menyokong istrinya, akan berpikir: “Sebelumnya, aku mengembangkan usahaku dengan meminjam, [72] tetapi sekarang usahaku telah maju … “, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.

70. ‘Bagaikan seseorang yang sakit, menderita, sangat sakit, tidak bernafsu makan dan lemah badannya, setelah beberapa lama menjadi sembuh, dan nafsu makan serta tenaganya pulih, dan ia akan berpikir: “Sebelumnya aku sakit …”, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.

71. ‘Bagaikan seseorang yang terkurung dalam penjara, dan setelah beberapa lama ia dibebaskan tanpa kehilangan, tidak ada pengurangan dari hartanya. Ia akan berpikir: “Sebelumnya aku berada dalam penjara …”, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.

72. ‘Bagaikan seseorang yang menjadi budak, bukan majikan dari dirinya sendiri, bergantung pada orang lain, tidak mampu pergi ke manapun yang ia sukai, dan setelah beberapa lama ia dibebaskan dari perbudakan, dapat pergi kemanapun yang ia sukai, ia akan berpikir: “Sebelumnya aku adalah seorang budak …”. [73] Dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.

73. ‘Bagaikan seseorang, yang dibebani oleh barang-barang dan harta kekayaan, melakukan perjalanan panjang melalui gurun pasir di mana makanan sulit diperoleh dan penuh bahaya, dan setelah beberapa lama, akhirnya ia berhasil melewati gurun pasir tersebut dan tiba dengan selamat di perbatasan sebuah desa, ia akan berpikir: “Sebelumnya aku berada dalam bahaya, sekarang aku selamat di perbatasan desa”, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.

74. ‘Selama, Baginda, seorang bhikkhu tidak merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya,31 ia merasa seolah-olah berhutang, sakit, terbelenggu, menjadi budak, melakukan perjalanan melalui gurun pasir. Tetapi ketika ia merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya, seolah-olah ia bebas dari hutang, dari penyakit, dari belenggu, dari pembudakan, dari bahaya gurun pasir.

75. ‘Dan ketika ia mengetahui bahwa lima rintangan ini telah meninggalkannya, kebahagiaan muncul dalam dirinya, dari kebahagiaan muncul kegembiraan, dari kegembiraan dalam pikirannya, jasmaninya menjadi tenang, dengan jasmani yang tenang ia merasakan kenikmatan, dan dengan kenikmatan pikirannya terkonsentrasi. Dengan keterlepasan demikian dari kenikmatan-indria, terlepas dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yaitu pemikiran dan pertimbangan, yang muncul dari keterlepasan, dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Dan dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang muncul dari keterlepasan, ia meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan memenuhi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak tersentuh oleh kegembiraan dan kebahagiaan yang muncul dari keterlepasan itu. [74]

76. ‘Bagaikan seorang petugas pemandian yang terampil atau pembantunya, mengadon bubuk-sabun yang telah dibasahi dengan air, membentuknya dalam sebuah piringan logam, menjadi bongkahan lunak, sehingga bola bubuk-sabun itu menjadi satu bongkahan berminyak, terekat oleh minyak sehingga tidak ada yang berserakan – demikian pula bhikkhu ini meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan memenuhi tubuhnya sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak tersentuh. Ini, Baginda, adalah buah dari kehidupan tanpa rumah, nyata di sini dan saat ini, yang lebih mulia dan sempurna daripada yang sebelumnya.32

77. ‘Kemudian, seorang bhikkhu, dengan melenyapkan pemikiran dan pertimbangan, dengan memperoleh ketenangan dan keterpusatan pikiran, masuk dan berdiam dalam jhāna kedua, yang tanpa pemikiran dan pertimbangan, muncul dari konsentrasi, dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Dan dengan kegembiraan dan kebahagiaan ini yang muncul dari konsentrasi ia meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh.

78. ‘Bagaikan sebuah danau yang bersumber dari sebuah mata air, tidak ada air yang mengalir dari timur, barat, utara atau selatan, di mana dewa-hujan mengirimkan hujan dari waktu ke waktu, air mengalir dari dasarnya, bercampur dengan air dingin, akan meliputi, mengisi dan memenuhi air dingin tersebut, sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh – demikian pula dengan kegembiraan dan kebahagiaan ini yang muncul dari konsentrasi ia meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh. [75] Ini, Baginda, adalah buah yang lebih mulia dan sempurna dari yang sebelumnya.

79. ‘Kemudian, seorang bhikkhu dengan meluruhnya kegembiraan tetap tidak terganggu, penuh perhatian dan berkesadaran jernih, dan mengalami dalam dirinya kebahagiaan yang oleh Para Mulia dikatakan: “Sungguh bahagia ia yang berdiam dalam keseimbangan dan perhatian”, dan ia masuk dan berdiam dalam jhāna ketiga. Dan dengan kebahagiaan ini yang hampa dari kegembiraan ia meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh.

80. ‘Bagaikan, dalam sebuah kolam yang terdapat bunga seroja biru, merah atau putih33 yang bunga-bunganya, muncul dari dalam air, tumbuh dari dalam air, tidak keluar dari air, mendapatkan nutrisi dari kedalaman air, bunga-bunga seroja biru, merah atau putih itu akan diliputi … dengan air dingin – demikian pula dengan kebahagiaan yang hampa dari kegembiraan bhikkhu tersebut meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh. Ini adalah buah kehidupan tanpa rumah, lebih mulia dan sempurna dari yang sebelumnya.

81. ‘Kemudian, seorang bhikkhu, setelah meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan lenyapnya kegembiraan dan kesedihan sebelumnya, masuk dan berdiam dalam jhāna keempat yang melampaui kenikmatan dan kesakitan, dan dimurnikan oleh keseimbangan dan perhatian. Dan ia duduk meliputi seluruh tubuhnya dengan kemurnian pikiran dan kejernihan [76] sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh.

82. ‘Bagaikan seorang yang duduk dibungkus dari kepala hingga kakinya dengan kain putih, sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh oleh kain putih itu – demikian pula tubuhnya diliputi … Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah, lebih mulia dan sempurna daripada yang sebelumnya.

83. ‘Dan demikianlah, dengan pikiran terkonsentrasi, murni dan bersih, tidak ternoda, bebas dari kekotoran,34 lentur, mudah dibentuk, kokoh, dan setelah mendapatkan kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkan dan mencondongkan pikirannya ke arah mengetahui dan melihat, dan ia mengetahui: “Jasmaniku ini adalah materi, tersusun dari empat unsur utama, lahir dari ibu dan ayah, mendapatkan makanan berupa nasi dan bubur, tidak kekal, dapat mengalami luka dan keusangan, rusak dan hancur, dan ini adalah kesadaranku yang melekat padanya dan bergantung padanya.”35

84. ‘Bagaikan sebuah permata, sebutir beryl,36 murni, indah, dipotong dengan baik dalam delapan sisi, jernih, cemerlang, tanpa cacat, sempurna dalam segala sudut, diikat dengan tali biru, kuning, putih atau jingga. Seseorang yang berpandangan baik, memegangnya dengan tangannya dan memeriksanya, akan mampu menjelaskannya demikian. Demikian pula, Baginda, seorang bhikkhu dengan pikiran terkonsentrasi, murni dan bersih, … mengarahkan pikirannya ke arah mengetahui dan melihat. Dan ia mengetahui: “Jasmaniku ini adalah materi, tersusun dari empat unsur utama, … [77] dan ini adalah kesadaranku yang melekat padanya dan bergantung padanya.” Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah, lebih mulia dan sempurna daripada yang sebelumnya.

85. ‘Dan ia, dengan pikiran terkonsentrasi, … setelah mendapatkan kondisi tanpa-gangguan, mengerahkan dan mengarahkan pikirannya untuk menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran. Dan dari tubuhnya ia menghasilkan tubuh yang lain, berbentuk,37 ciptaan-pikiran, lengkap dengan semua bagian tubuh dan indrianya.

86. ‘Ini bagaikan seseorang menarik sebatang buluh dari pelepahnya. Ia berpikir: “Ini adalah buluh, ini adalah pelepahnya, buluh dan pelepahnya adalah berbeda. Sekarang buluh ini telah ditarik dari pelepahnya.” Atau bagaikan seseorang menarik pedang dari sarungnya. Ia berpikir: “Ini adalah pedang, ini adalah sarungnya, pedang dan sarungnya adalah berbeda. Sekarang pedang ini telah ditarik dari sarungnya.” Atau bagaikan seseorang menarik seekor ular dari kulit [tua]nya. Ia berpikir: “Ini adalah ular, ini adalah kulitnya, ular dan kulitnya adalah berbeda. Sekarang ular ini telah ditarik dari kulitnya.” Demikianlah seorang bhikkhu dengan pikiran terkonsentrasi … mengarahkan pikirannya untuk menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran. Ia menarik dari tubuhnya sebuah tubuh yang lain, berbentuk, ciptaan-pikiran, lengkap dengan semua bagian tubuh dan indrianya. Ini adalah buah kehidupan tanpa rumah, lebih mulia dan sempurna dari yang sebelumnya.

87. ‘Dan ia, dengan pikiran terkonsentrasi, … mengerahkan dan mengarahkan pikirannya [78] pada berbagai kekuatan supernormal.38 Ia kemudian menikmati berbagai kekuatan: dari satu, ia menjadi banyak – dari banyak, ia menjadi satu; ia muncul dan lenyap; ia menembus tembok, dinding dan gunung-gunung tanpa rintangan seolah-olah di ruang terbuka; ia masuk ke dalam tanah dan keluar dari tanah seolah-olah di air; ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; duduk bersila ia terbang di angkasa bagaikan burung dengan sayapnya; ia bahkan menyentuh dan menepuk matahari dan bulan dengan tangannya, kuat dan sakti;39 dan ia berjalan dengan tubuhnya hingga ke alam Brahmā.

88. ‘Bagaikan seorang ahli tembikar atau pembantunya dapat membuat dari lumpur yang dipersiapkan dengan baik menjadi berbagai jenis mangkuk yang ia inginkan, atau bagaikan seorang pengukir gading ahli atau pembantunya dapat membuat berbagai jenis kerajinan gading yang ia inginkan, atau bagaikan seorang pandai emas atau pembantunya dapat membuat benda-benda emas yang ia inginkan – demikian pula seorang bhikkhu dengan pikiran terkonsentrasi … menikmati berbagai kekuatan supernormal … [79] Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah …

89. ‘Dan ia, dengan pikiran terkonsentrasi, … mengerahkan dan mengarahkan pikirannya pada telinga dewa.40 Dengan telinga dewa, yang murni dan melampaui telinga manusia, ia mendengar suara-suara dari alam dewa dan manusia, jauh maupun dekat.

90. ‘Bagaikan seseorang yang melakukan perjalanan jauh akan mendengar suara genderang besar, genderang kecil, terompet kulit kerang, simbal, atau genderang berirama, dan ia berpikir: “Ini adalah genderang besar, … genderang berirama”, demikian pula bhikkhu tersebut dengan pikiran terkonsentrasi … mendengar suara-suara, dewa atau manusia, jauh ataupun dekat. Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah, lebih mulia dan sempurna daripada yang sebelumnya.

91. ‘Dan ia, dengan pikiran terkonsentrasi, mengerahkan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan pikiran makhluk-makhluk lain. Dengan pikirannya ia mengetahui dan membedakan pikiran makhluk-makhluk lain atau orang-orang lain. Ia mengetahui pikiran nafsu sebagai pikiran nafsu; ia mengetahui pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu.41 [80] Ia mengetahui pikiran dengan kebencian sebagai pikiran kebencian; ia mengetahui pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian. Ia mengetahui pikiran terdelusi sebagai pikiran terdelusi; ia mengetahui pikiran tanpa delusi sebagai pikiran tanpa delusi. Ia mengetahui pikiran sempit sebagai pikirn sempit; ia mengetahui pikiran luas sebagai pikiran luas. Ia mengetahui pikiran yang meluas sebagai pikiran meluas; ia mengetahui pikiran yang tidak meluas sebagai pikiran yang tidak meluas. Ia mengetahui pikiran yang terlampaui sebagai pikiran terlampaui; ia mengetahui pikiran yang tidak terlampaui sebagai pikiran yang tidak terlampaui. Ia mengetahui pikiran yang terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi; ia mengetahui pikiran yang tidak terkonsentrasi sebagai pikiran tidak terkonsentrasi. Ia mengetahui pikiran yang terbebaskan sebagai pikiran terbebaskan; ia mengetahui pikiran yang tidak terbebaskan sebagai pikiran tidak terbebaskan.

92. ‘Bagaikan seorang perempuan, atau laki-laki atau anak kecil, yang gemar memperhatikan penampilannya, akan memeriksa wajahnya di depan cermin yang mengkilap atau dalam air, dan dengan memeriksa ia akan mengetahui apakah ada noda di sana atau tidak ada, demikian pula bhikkhu tersebut, dengan pikiran terkonsentrasi, mengarahkan pikirannya pada pengetahuan atas pikiran makhluk-makhluk lain … (seperti paragraf 91). [81] Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah …

93. ‘Dan ia, dengan pikiran terkonsentrasi, … mengerahkan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan kehidupan lampau: satu kelahiran, dua, tiga, empat, lima kelahiran, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh kelahiran, seratus, seribu, seratus ribu kelahiran, beberapa periode penyusutan, pengembangan, penyusutan dan pengembangan. “Di sana namaku adalah ini, sukuku adalah ini, kastaku adalah ini, makananku adalah ini, aku mengalami kondisi menyenangkan dan menyakitkan ini, aku hidup selama ini. Setelah meninggal dunia dari sana, aku muncul di tempat lain. Di sana namaku adalah itu … dan setelah meninggal dunia dari sana, aku muncul di sini.” Demikianlah ia mengingat berbagai kehidupan, kondisi dan rinciannya.

94. ‘Ini bagaikan seseorang yang pergi dari desanya ke desa lain, dari sana ke desa lain lagi, dan kemudian kembali ke desa asalnya. Ia berpikir: “Aku datang dari desaku ke desa lain dimana aku berdiri, duduk, berbicara atau berdiam diri seperti ini, dan dari sana aku ke desa lain lagi, dimana aku berdiri, duduk, berbicara atau berdiam diri seperti ini, dan dari sana [82] aku kembali ke desa asalku.”42 Demikian pula bhikkhu tersebut dengan pikiran terkonsentrasi … mengingat kelahiran-kelahiran lampaunya … Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah …

95. ‘Dan ia, dengan pikiran terkonsentrasi, … mengerahkan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan lenyapnya dan munculnya makhluk-makhluk. Dengan mata dewa, 43 yang murni dan melampaui mata manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali: hina dan mulia, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk, bahagia dan menderita sesuai kamma yang mengarahkan mereka, dan ia mengetahui: “Makhluk-makhluk ini, karena perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan atau pikiran, atau mencela Para Mulia, memiliki pandangan salah dan akan menderita takdir kamma pandangan salah. Saat hancurnya jasmani setelah kematian, mereka akan terlahir kembali di alam rendah, alam yang buruk, dengan kondisi menderita, neraka. Tetapi makhluk-makhluk ini, karena perbuatan baik melalui jasmani, ucapan atau pikiran, memuji Para Mulia, memiliki pandangan benar dan akan menerima akibat kamma pandangan benar. Saat hancurnya jasmani setelah kematian, mereka akan terlahir kembali di alam yang baik, alam surga.” Demikianlah dengan mata dewa … [83] ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali …

96. ‘Ini bagaikan sebuah gedung tinggi di persimpangan jalan, dan seseorang dengan pandangan mata yang baik yang berdiri di sana dapat melihat orang-orang masuk dan keluar dari suatu rumah, berjalan di jalan, atau duduk di tengah-tengah persimpangan jalan. Dan ia berpikir: “Orang-orang ini memasuki rumah … “ Demikian pula, dengan mata dewa, … ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali … Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah.

97. ‘Dan ia dengan pikiran terkonsentrasi, murni dan bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lentur, mudah diarahkan, kokoh dan setelah mendapatkan kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkan pikirannya kepada pengetahuan hancurnya kekotoran.44 Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah penderitaan”, [84] ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah asal-mula penderitaan”, ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah lenyapnya penderitaan”, ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan”. Dan ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah kekotoran”, “Ini adalah asal-mula kekotoran”, “Ini adalah lenyapnya kekotoran”, “Ini adalah jalan menuju lenyapnya kekotoran.” Dan melalui pengetahuannya dan penglihatannya pikirannya bebas dari kekotoran keinginan-indria, dari kekotoran penjelmaan, dari kekotoran ketidak-tahuan, dan pengetahuan muncul dalam dirinya: “Ini adalah kebebasan!”, dan ia mengetahui: “Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang lebih jauh lagi di sini.”45

98. ‘Bagaikan, Baginda, di tengah-tengah pegunungan terdapat sebuah kolam, jernih bagaikan cermin yang mengkilap, dimana seseorang dengan pandangan mata yang baik berdiri di tepi dapat melihat kerang-kerang, kerikil-kerikil dan kawanan ikan yang bergerak atau diam. Dan ia berpikir: “Kolam ini jernih, … ada kerang …”, demikian pula, dengan pikiran terkonsentrasi, … ia mengetahui: “Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang lebih jauh lagi di sini.” [85] Ini, Baginda, adalah buah kehidupan tanpa rumah, yang nyata di sini dan saat ini, yang lebih mulia dan sempurna daripada buah-buah sebelumnya. Dan, Baginda, tidak ada buah kehidupan tanpa rumah, yang nyata di sini dan saat ini, yang lebih mulia dan sempurna daripada yang ini.’46

99. Kemudian Raja Ajātasattu berseru: ‘Sungguh indah, Bhagavā, sungguh indah! Ini bagaikan seseorang menegakkan apa yang telah terbalik, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam kegelapan, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat. Demikian pula, Sang Bhagavā telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Dan aku, Bhagavā, berlindung kepada Sang Bhagavā, kepada Dhamma, dan kepada Sangha. Sudilah Bhagavā menerimaku sejak hari ini sebagai seorang siswa-awam hingga hidupku berakhir! Pelanggaran47 menguasaiku, Bhagavā, bodoh, salah dan jahatnya aku, demi mendapatkan takhta, aku membunuh ayahku, orang yang baik dan raja yang adil. Sudilah Bhagavā menerima pengakuan kejahatanku agar aku dapat mengendalikan diriku di masa depan! 48

100. ‘Memang, Baginda, pelanggaran menguasai engkau ketika engkau membunuh ayahmu, seorang yang baik dan raja yang adil. Tetapi karena engkau telah menyadari pelanggaran itu dan mengakuinya dengan semestinya, maka kami menerimanya. Karena ia yang menyadari pelanggarannya dan mengakuinya dengan semestinya demi perbaikan di masa depan, akan tumbuh dalam disiplin Ariya.’

101. Kemudian Raja Ajātasattu berkata: “Bhagavā, ijinkan aku mohon diri sekarang. Aku sibuk dan banyak hal yang harus dilakukan. ‘Lakukanlah, Baginda, apa yang engkau anggap baik.’

Kemudian Raja Ajātasattu, senang dan gembira atas kata-kata ini, bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan pergi dengan sisi kanannya menghadap Sang Bhagavā.

102. Segera setelah Raja pergi, [86] Sang Bhagavā berkata: ‘Sang Raja telah hancur, takdirnya telah tertutup, para bhikkhu! 49 Tetapi jika Sang Raja tidak membunuh ayahnya, seorang yang baik dan seorang raja yang adil, maka sewaktu ia duduk di sana, Mata-Dhamma50 yang murni tanpa noda pasti telah muncul dalam dirinya.’

Demikianlah Sang Bhagavā berkata, dan para bhikkhu, senang dan gembira mendengar kata-kataNya.


Catatan Kaki
  1. Tabib kerajaan. MN 55 (tentang memakan-daging) dibabarkan kepadanya. Baca n.417.
  2. Berkuasa pada 491-459 B.C. Ia telah membunuh ayahnya, Bimbisara yang mulia, demi mendapatkan takhta. Baca lebih lanjut n.365.
  3. Uposatha (Skt. Upavasatha): Di sini menunjukkan hari puasa seorang Brahmana. Belakangan, dalam Buddhisme, adalah hari pengakuan para bhikkhu yang dilakukan dua minggu sekali.
  4. Kattika: pertengahan Oktober hingga pertengahan November.
  5. Berasal dari bunga teratai putih (kumuda) yang mekar saat itu.
  6. ‘Hati kita’ adalah bentuk jamak kerajaan. Raja Ajātasattu gelisah akibat kejahatan yang ia lakukan; baca paragraf 99.
  7. Seseorang yang menjinakkan orang lain (yang dapat dijinakkan) seperti seorang kusir melatih kudanya.
  8. Putra yang akhirnya membunuhnya, hanya untuk dibunuh oleh anaknya pada gilirannya. Terbukti berlaku dalam keluarga (baca DPPN).
  9. Petapa telanjang (DA). Pendangan demikian, termasuk menyangkal adanya imbalan atau hukuman atas perbuatan baik dan buruk, dianggap sangat jahat.
  10. Mungkin karena sifat buruknya. Tetapi kata-katanya juga menyiratkan penghormatan besar (dan tidak selalu layak) kepada para guru-guru petapa itu.
  11. ‘Makkhali dari Kandang Sapi’, pemimpin aliran Ājīvaka. Baca n.66.
  12. Hetu berarti ‘akar’ (yaitu, keserakahan, kebencian atau delusi); paccaya berarti ‘kondisi’
  13. Kamma: Tetapi tidak seperti dalam pengertian Buddhis yang berarti ‘Perbuatan dengan kehendak ’
  14. Menurut lima jenis indria luar (cf. n.87).
  15. Dari pikiran, ucapan dan perbuatan.
  16. ‘Setengah-perbuatan’, hanya dalam pikiran
  17. Pada dasarnya, dewa naga. Baca Pendahuluan, p.45.
  18. Nigaṇṭhi-gabbhā: ‘kelahiran kembali sebagai *Nigaṇṭha*’. Baca n.114.
  19. Kedua bentuk (paṭuvā, pavuṭā?) dan makna dari kata ini membingungkan.
  20. Pandangan Buddhis atas kamma dibantah.
  21. ‘Ajita Berjubah Rambut’ (ia mengenakan jubah yang terbuat dari rambut manusia): seorang materialis.
  22. Cf. Catatan 49,63.
  23. Penganut teori atom.
  24. Nama yang diberikan dalam Kanon Pali kepada Vardhamāna Mahāvīra (ca. 540-568 B.C.?), pemimpin Jainisme. Ia beberapa kali dirujuk (secara tidak baik) dalam Kanon, misalnya di MN 56 Nigaṇṭha berarti ‘bebas dari belenggu’. Baca catatan berikutnya dan n.900.
  25. Sabba-vāri-vārito, sabba-vāri-yuto, sabba-vāri-dhuto, sabba-vāri-phuṭṭo (dengan berbagai variasi kata). Tidak mewakili ajaran Jain yang asli namun sepertinya adalah bentuk parodi kata-kata dari ajaran Jain. Jainisme memang memiliki aturan pengendalian terhadap air, dan vāri dapat berarti ‘air’, ‘kekang’, atau mungkin ‘dosa’, dan beberapa bentuk kata kerja yang membingungkan. Rujukan pada ‘bebas dari belenggu’ namun masih terbelenggu oleh kekang ini (apapun itu) adalah suatu paradoks. Saya sangat berterima kasih kepada KR. Norman atas komentarnya yang sangat membantu. Akhirnya saya yakin atas variasi kecil dari terjemahan Y.M Ñāṇamoli atas kalimat yang sama dalam MN 56.
  26. Perbuatan baik (puñña) tidak membawa menuju pencerahan, tetapi menuju kebahagiaan masa depan (sementara) di dunia ini atau di dunia lain. Ini adalah tujuan umum dalam Buddhisme ‘populer’.
  27. Māra, personifikasi penggoda seperti Setan dalam Injil (ia muncul secara pribadi dalam DN 16). Baik Māra maupun Brahmā masih mengalami kelahiran kembali, dan ‘jabatan’ mereka di ambil alih oleh makhluk lain sesuai kamma mereka.
  28. Deva lagi, kali ini dalam pengertian ‘dewa secara konvensi’, misalnya, raja-raja.
  29. Parimukhaṁ satiṁ upaṭṭhapetvā: mungkin berarti ‘memiliki perhatian yang kokoh’. Baca n.637.
  30. Melatih persepsi cahaya diberikan sebagai cara untuk mengatasi rintangan kelambanan-dan-ketumpulan (thīna-midha). Baca VM 1.140.
  31. Lima rintangan disingkirkan untuk sementara oleh kondisi-kondisi jhāna.
  32. Ini menyimpulkan jawaban Sang Buddha atas bagian pertama dari pertanyaan yang diajukan dalam paragraf 39.
  33. Uppala (Skt. utpala), paduma (Skt. padma), puṇḍarīka adalah beberapa jenis berbeda dari seroja, biasanya dari warna yang disebutkan.
  34. Upakilesa: berbeda dengan kilesa ‘kekotoran’. Mungkin yang dimaksudkan adalah 10 ‘ketidak-sempurnaan pandangan terang’ yang terdapat dalam VM 20.105ff. Sebagian besar bukanlah kekotoran, namun merupakan rintangan potensial pada tingkat tertentu dari meditasi pandangan terang.
  35. RD menunjukkan bahwa ini dan kalimat lainnya membantah gagasan bahwa kesadaran (viññāna) berpindah. Karena menganut kepercayaan ini, Sāti, dicela oleh Sang Buddha (MN 38). Suatu kesadaran lanjutan yang baru (paṭisandhi) muncul pada saat berada dalam kandungan, bergantung pada yang sebelumnya (baca VM 17.64ff).
  36. Veḷuriya: Dari bentuk metatesis veruliya muncullah beryllos Yunani ‘beryl’, dari Jerman ada Brille ‘kacamata’ (aslinya adalah beryl).
  37. Persis sama dengan tubuh fisik: cf. n.49. Tubuh ciptaan ini adalah apa yang secara keliru dianggap jiwa atau diri.
  38. Iddhi (Skt. rddhi, bukan siddhi seperti yang sering disebutkan): diterjemahkan oleh RD sebagai ‘bakat kegaiban’ dan dikemas sebagai ‘kesejahteraan, kemakmuran’. Dengan diakuinya ESP, tidaklah perlu membantah kekuatan-kekuatan ini. Tetapi meskipun disebutkan di sini, Sang Buddha tidak menyetujui praktik ini (baca DN 11.5)
  39. DA tidak memberikan komentar yang berguna di sini, dan para komentator modern juga diam akan hal ini, tetapi ‘menyentuh matahari dan bulan’ mungkin merujuk pada pengalaman psikis. Bagaimanapun juga, jangan diartikan secara harfiah.
  40. Dibba-sota: pendengaran-sakti (cf n.72).
  41. Daftar berikut dari kondisi batin adalah tidak diragukan dikutip dari DN 22.12, yang lebih tepat. Untuk catatan, baca di sana.
  42. Tiga desa adalah tiga alam yaitu Kenikmatan-indria, Bentuk, dan Tanpa Bentuk (DA).
  43. Dibba-cakkhu: penglihatan-sakti, jangan disalah-artikan sebagai mata-Dhamma (paragraf 102). Baca n.140.
  44. Āsavā: dari ā-savati ‘mengalir kearah’ (yaitu, ‘ke dalam’ atau ‘ke luar’ ke arah si pengamat). Sering kali diterjemahkan ‘kecenderungan’, ‘memabukkan’, ‘aliran’, ‘kekotoran’ atau ‘Noda Mematikan’ (RD). kekotoran yang lebih jauh lagi, yaitu pandangan salah (diṭṭhāsava) kadang-kadang ditambahkan juga. Penghancuran āsava ini sama dengan kesucian Kearahattaan.
  45. Nāparaṁ itthatāya: lit. ‘tidak ada lagi “keadaan demikian”’. Baca DN 15.22.
  46. Semua ‘buah’ yang sebelumnya akhirnya sampai di sini, yang merupakan, seperti yang ditunjukkan oleh RD, adalah eksklusif pada Buddhisme. Ada 13 hal atau kelompok, dan daftar ini secara keseluruhan atau dengan beberapa penghilangan, muncul dalam setiap Sutta Kelompok 1. Rangkumannya yaitu: 1. Penghormatan yang diperlihatkan kepada kelompok keagamaan (paragraf 35-38); 2. Latihan moralitas seperti dalam DN 1 (paragraf 43-62); 3. Keyakinan yang dirasakan sebagai akibat dari perbuatan benar (paragraf 63); 4. Kebiasaan menjaga pintu-pintu indria (paragraf 64); 5. Menghasilkan perhatian dan kesadaran jernih (paragraf 65); 6. Puas dengan sedikit (paragraf 66); 7. Kebebasan dari lima rintangan (paragraf 68-74); 8. Menghasilkan kegembiraan dan kedamaian (paragraf 75); 9. Empat jhāna (paragraf 75-82); 10. Pengetahuan yang muncul dari pandangan terang (paragraf 83-84); 11. Menghasilkan gambaran batin (paragraf 85-86); 12. Lima bentuk duniawi dari ‘pengetahuan yang lebih tinggi’ (abhiññā) (paragraf 87-96); 13. Realisasi Empat Kebenaran Mulia, penghancuran kekotoran (= keenam, abhiññā adi-duniawi), dan pencapaian kesucian Kearahattaan (paragraf 97-98).
  47. Accayo: sering diterjemahkan (seperti oleh RD) ‘dosa’ (bukan dosa dalam pengertian Buddhis), tetapi istilah ini dengan konotasi ketuhanan lebih baik dihindari saat menterjemahkan naskah-naskah Buddhis.
  48. Ini adalah formula yang digunakan oleh para bhikkhu dalam mengakui pelanggaran.
  49. Khatāyaṁ bhikkhave rājā, upahatāyaṁ bhikkhave rājā. RD bingung dengan terjemahan ini: ‘Raja ini, saudara-saudara, sangat menderita, ia tersentuh hatinya.’ Secara harfiah ‘tercabut dan hancur’, ungkapan ini menunjukkan bahwa Ajātasattu dihalangi oleh kamma-nya dari mendapatkan akibatnya yang seharusnya ia dapatkan, karena membunuh ayah adalah salah satu perbuatan jahat ‘dengan hasil segera’ (di alam berikutnya) yang tidak dapat dihindari. Menurut DA, ia tidak dapat tidur hingga ia mengunjungi Sang Buddha.
  50. Membukanya Mata-Dhamma (dhamma-cakkhu) adalah suatu istilah untuk ‘Memasuki-Arus’ dan dengan demikian telah berada dalam Sang Jalan tanpa bisa terjatuh. Seperti yang dijelaskan oleh RD, ini lebih unggul daripada Mata-Dewa (dibba-cakkhu: paragraf 95 dan n.133), yang merupakan jenis tinggi dari penglihatan sakti. Dan masih di bawah Mata-Kebijaksanaan (pañña-cakkhu) yang merupakan kebijaksanaan Arahant.