[200] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nādikā di Rumah Bata.1 Dan pada saat itu Sang Bhagavā sedang menjelaskan kelahiran kembali dari berbagai umat di seluruh negeri yaang telah meninggal dunia: Kāsi dan Kosala, Vajji dan Malla, Ceti dan Vaṁsa, Kuru dan Pañcāla, Maccha dan Sūrasena, dengan mengatakan: ‘Orang ini terlahir kembali di sini, dan orang itu di sana.’2 Lebih dari lima puluh umat dari Nādikā, setelah meninggalkan lima belenggu yang lebih rendah, terlahir kembali secara spontan dan akan mencapai Nibbāna tanpa kembali ke alam ini; lebih dari sembilan puluh dari mereka, setelah meninggalkan tiga belenggu dan melemahkan keserakahan, kebencian dan delusi, adalah Yang-Kembali-Sekali, yang akan kembali ke alam ini sekali lagi dan kemudian mengakhiri penderitaan; dan lebih dari lima ratus, setelah meninggalkan tiga belenggu, adalah Pemenang-Arus, tidak dapat lagi terjatuh ke alam sengsara, pasti mencapai Nibbāna. [201]

2. Berita ini sampai ke telinga para umat di Nādikā, dan mereka senang, gembira mendengar jawaban Sang Bhagavā.

3. Dan Yang Mulia Ānanda mendengar kata-kata Sang Bhagavā3 dan kegembiraan warga Nādika.

4. Dan ia berpikir: [202] ‘Ada juga warga Magadha yang telah lama menjadi pengikut Buddha yang telah meninggal. Seseorang mungkin berpikir bahwa tidak ada umat dari Magadha yang meninggal dunia di Anga dan Magadha. Namun mereka juga mengabdi kepada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, dan mereka melaksanakan peraturan disiplin dengan sempurna. Sang Bhagavā tidak menyebutkan tentang mereka. Baik sekali jika ada pernyataan mengenai hal ini: akan meningkatkan keyakinan banyak orang dan demikian dapat mencapai kelahiran kembali di alam yang baik.

‘Sekarang Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha adalah seorang raja yang jujur dan adil, sahabat para Brahmana, perumah tangga, penduduk kota dan desa, sehingga kemasyhurannya menyebar luas: “Bahwa raja kita yang jujur telah meninggal dunia4 yang memberikan kita begitu banyak kebahagiaan. Hidup menjadi lebih mudah bagi kita yang berdiam di bawah pemerintahannya yang adil.”5 Dan ia adalah pengikut Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Dan melaksanakan peraturan disiplin dengan sempurna. Beginilah orang-orang akan berkata: “Raja Bimbisara, yang memuja Sang Bhagavā pada hari kematiannya, telah meninggal dunia!” Sang Bhagavā belum menyatakan alam kelahirannya, dan adalah baik sekali jika ada pernyataan … Di samping itu, di Magadha inilah Sang Bhagavā mencapai penerangan sempurna. Karena Sang Bhagavā mencapai penerangan sempurna di Magadha, mengapa Beliau tidak menyatakan alam kelahiran kembali dari mereka yang meninggal dunia di sana? Jika Sang Bhagavā tidak memberikan pernyataan demikian, maka hal ini akan menyebabkan kekecewaan bagi para warga Magadha. [203] Oleh karena itu, mengapa Sang Bhagavā tidak memberikan pernyataan demikian?’

5. Dan setelah merenungkan demikian dalam kesunyian mewakili para umat dari Magadha, Yang Mulia Ānanda bangun di pagi hari, mendatangi Sang Bhagavā dan memberi hormat kepada Beliau. Kemudian, setelah duduk di satu sisi, ia berkata: ‘Bhagavā, aku telah mendengar apa yang telah dinyatakan sehubungan dengan para penduduk Nādikā.’ (seperti paragraf 1-2)

6. ‘Mereka semua adalah para pengikut Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, dan mereka melaksanakan peraturan disiplin dengan sempurna. Bhagavā tidak menyatakan alam kelahiran mereka … (seperti paragraf 4). [204] Mengapa Bhagavā tidak memberikan pernyataan demikian?’ Kemudian, setelah berbicara dengan Sang Bhagavā mewakili para umat dari Magadha, ia bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Beliau, berjalan dengan sisi kanan menghadap Sang Bhagavā, dan pergi.

7. Segera setelah Ānanda pergi, Sang Bhagavā mengambil jubah dan mangkukNya dan pergi ke Nādikā untuk menerima dana makanan. Kemudian, dalam perjalanan kembali, setelah makan, Beliau pergi ke Rumah Bata dan, setelah mencuci kakiNya, Beliau masuk dan, setelah memikirkan, merenungkan, dan mencurahkan pikiranNya pada pertanyaan tentang para umat dari Magadha, Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan, dan berkata: ‘Aku akan mengetahui alam kelahiran kembali dan masa depan mereka, apapun itu.’6 Dan kemudian Beliau melihat alam kelahiran kembali dan takdir dari [205] mereka semua. Dan pada sore harinya, keluar dari kesunyian meditasi, Sang Bhagavā keluar dari Rumah Bata dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan di bawah bayangan tempat kediamanNya.

8. Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat, duduk di satu sisi dan berkata: ‘Bhagavā, wajah Bhagavā terlihat cerah dan bersinar, menunjukkan bahwa pikiran Bhagavā sedang nyaman. Apakah Bhagavā puas dengan tempat ini?’

9. ‘Ānanda setelah engkau mengatakan kepadaKu tentang para umat dari Magadha. Aku mengambil jubah dan mangkuk dan pergi ke Nādikā untuk menerima dana makanan. Setelah itu … Aku pergi ke Rumah Bata dan merenungkan pertanyaan tentang para umat dari Magadha … Dan Aku melihat alam kelahiran kembali dan takdir dari mereka semua. Kemudian suara dari satu yakkha7 yang terabaikan berteriak: “Aku adalah Janavasabha, Bhagavā! Aku adalah Janavasabha, Yang Sempurna menempuh Sang Jalan!” Ānanda, apakah engkau mengenal siapa yang sebelumnya bernama Janavasabha?’ ‘aku harus mengakui, Bhagavā, bahwa aku belum pernah mendengar nama itu, akan tetapi, saat mendengar nama “Janavasabha”8 rambutku berdiri, dan aku berpikir: “Ia [206] yang bernama Janavasabha pastilah bukan yakkha bertingkat rendah!”’

10. ‘Ānanda, segera setelah Aku mendengar suara itu, yakkha itu muncul di hadapanKu dalam wujud mulia, dan meneriakkan teriakan kedua: “Aku adalah Bimbisāra, Bhagavā! Aku adalah Bimbisāra, Yang Sempurna menempuh Sang Jalan!” Ini adalah ketujuh kalinya aku terlahir kembali sebagai pengiring Raja Vessavaṇa.9 Demikianlah setelah meninggal dunia sebagai raja di alam manusia, sekarang aku terlahir kembali di antara para dewa, raja dari makhluk bukan manusia.

Tujuh kelahiran di sini dan tujuh di sana, empat belas kelahiran, Itu adalah jumlah kehidupan yang dapat kuingat.

Sejak lama, Bhagavā, aku tahu bahwa diriku bebas dari alam sengsara,10 dan sekarang keinginan muncul dalam diriku untuk menjadi Yang-Kembali-Sekali.” Aku berkata: “Menakjubkan, mengherankan bahwa Yang Mulia Yakkha Janavasabha dapat mengatakan hal ini. Atas dasar apakah ia dapat mengetahui pencapaian mulia demikian?”

11. ‘“Tidak lain, Bhagavā, tidak lain, Yang Sempurna menempuh Sang Jalan, daripada ajaranMu! Sejak saat aku mencapai keyakinan sepenuhnya, sejak saat itu, Bhagavā, sejak lama [207] aku tahu bahwa diriku bebas dari alam sengsara, dan bahwa keinginan telah muncul dalam diriku untuk menjadi Yang-Kembali-Sekali. Dan di sini, Bhagavā, setelah diutus oleh Raja Vessavaṇa untuk suatu urusan menemui Raja Virūḷhaka,11 aku melihat Bhagavā memasuki Rumah Bata dan duduk dan merenungkan pertanyaan tentang umat dari Magadha … Dan karena aku hanya mendengar bahwa Raja Vessavaṇa mengumumkan kepada pengikutnya apa takdir makhluk-makhluk itu, tidak mengherankan bahwa aku berpikir: ‘Aku akan pergi dan menjumpai Bhagavā dan melaporkan hal ini kepada Beliau.’ Dan ini, Bhagavā, adalah dua alasan12 mengapa aku datang menjumpaiMu, Bhagavā.” (Janavasabha melanjutkan:)

12. ‘”Bhagavā, di masa lalu, telah lama yang lalu, pada hari Uposatha tanggal lima belas di awal musim hujan,13 pada malam purnama seluruh Tiga-Puluh-Tiga dewa duduk bersama di Aula Sudhamma14 - pertemuan besar para dewa, dan Empat Raja Dewa dari empat penjuru hadir di sana. Ada Raja Dewa Dhataraṭṭha15 dari timur memimpin para pengikutnya, menghadap ke barat; Raja Dewa Virūḷhaka dari selatan … menghadap ke utara; Raja Dewa Virūpakkha dari barat … menghadap ke timur; dan Raja Dewa Vessavaṇa dari utara … menghadap ke selatan. [208]

“Pada saat itu demikianlah urutan mereka duduk, dan setelah itu giliran kami duduk. Dan para dewa yang menjalani kehidupan suci di bawah Sang Bhagavā, baru-baru ini muncul di Alam Tiga-Puluh-Tiga, mengalahkan para dewa lainnya dalam hal kecemerlangan dan keagungan. Dan karena alasan itu Tiga-Puluh-Tiga dewa gembira dan bahagia, dipenuhi sukacita dan berkata: ‘alam para dewa sedang tumbuh berkembang, alam asura sedang mengalami kemunduran!’16

13. ‘Kemudian, Bhagavā, Sakka, Raja para dewa, melihat kepuasan dari Tiga-Puluh-Tiga Dewa, mengucapkan syair ini:

‘Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga bergembira, pemimpin mereka juga, Memuji Sang Tathāgata, dan kebenaran Dhamma, Melihat datangnya para dewa baru, indah dan agung Yang telah menjalani kehidupan suci, sekarang terlahir kembali dengan baik. Mengalahkan yang lainnya dalam hal kemasyhuran dan kemegahan, Murid-murid Sang Bijaksana Yang Maha Kuasa menonjol. Melihat ini, para Dewa Tiga-Puluh-Tiga bergembira, pemimpin mereka juga, Memuji Sang Tathāgata, dan kebenaran Dhamma.’ [209]

Mendengar kata-kata ini, Tiga-Puluh-Tiga Dewa lebih gembira dan bahagia lagi, dipenuhi sukacita dan berkata: ‘Alam para dewa sedang tumbuh berkembang, alam asura sedang mengalami kemunduran!’

14. ‘“Dan kemudian mereka berkonsultasi dan merenungkan bersama tentang persoalan yang menyebabkan mereka berkumpul di Aula Sudhamma, dan Empat Raja Dewa ditegur dan dinasihati mengenai persoalan ini sementara mereka berdiri di samping tempat duduk mereka masing-masing tidak bergerak.17

Raja-raja, menasihati, menekankan kata-kata yang mereka ucapkan, Berdiri diam, tenang, di samping tempat duduk mereka.

15. ‘“Dan kemudian, Bhagavā, seberkas cahaya cemerlang bersinar dari utara, dan kemegahan terlihat melebihi kemilau para dewa. Dan Sakka berkata kepada Tiga-Puluh-Tiga Dewa: ‘Tuan-tuan, ketika pertanda seperti ini terlihat, cahaya seperti ini terlihat dan kecemerlangan seperti ini memancar, maka Brahmā akan muncul.18 Kemunculan kemilau ini adalah pertanda pertama dari penampakan Brahmā.’

Ketika mereka melihat pertanda-pertanda ini, Brahmā akan segera muncul Ini adalah pertanda Brahmā, bersinar luas dan jauh.

16. ‘“Kemudian Tiga-Puluh-Tiga Dewa duduk di tempatnya masing-masing, dan berkata: ‘Mari kita tunggu apa yang muncul19 dari cahaya ini, dan setelah mengetahui kebenaran darinya, kita akan mendatanginya.’ Empat Raja Dewa duduk di tempatnya masing-masing, dan mengatakan [210] hal yang sama. Demikianlah mereka sepakat.

17. ‘“Bhagavā, ketika Brahmā Sanankumāra20 muncul di hadapan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, ia muncul dalam wujud yang lebih kasar, karena wujud alaminya tidak dapat terlihat oleh mata mereka.21 Ketika ia muncul di alam Tiga-Puluh-Tiga Dewa, ia mengalahkan para dewa lainnya dalam hal kecemerlangan dan keagungan, seperti halnya patung yang terbuat dari emas akan mengalahkan manusia. Dan, Bhagavā, ketika Brahmā Sanankumāra muncul di hadapan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, tidak ada satupun dari mereka yang memberi hormat kepadanya, atau bangkit dari duduk, atau mempersilahkan duduk. Mereka semuanya duduk diam dengan tangan dirangkapkan,22 bersila,23 berpikir bahwa ia akan duduk di tempat duduk24 dewa yang darinya ia menginginkan sesuatu. Dan dewa yang tempat duduknya ia duduki akan menjadi bergairah dan gembira bagaikan seorang Raja Khattiya saat menempati istana kerajaannya. [211]

18. ‘”Kemudian, Bhagavā, Brahmā Sanankumāra, setelah menampakkan wujud kasar, muncul di hadapan Tiga-Puluh-Tiga Dewa dalam bentuk pemuda Pañcasikha.25 Melayang di angkasa, ia terlihat melayang dalam posisi bersila, seperti halnya seorang kuat yang duduk di atas bantal atau di atas tanah. Dan melihat kegembiraan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, ia mengucapkan syair kegembiraan ini:

‘Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga bergembira, pemimpin mereka juga, Memuji Sang Tathāgata, dan kebenaran Dhamma, Melihat datangnya para dewa-baru, indah dan agung Yang telah menjalani kehidupan suci, sekarang terlahir kembali dengan baik. Mengalahkan yang lainnya dalam hal kemasyhuran dan kemegahan, Murid-murid Sang Bijaksana Yang Maha Kuasa menonjol. Melihat ini, para Dewa Tiga-Puluh-Tiga bergembira, pemimpin mereka juga, Memuji Sang Tathāgata, dan kebenaran Dhamma.

19. ‘“Sekarang sehubungan dengan apa yang diucapkan oleh Brahmā Sanankumāra, dan sehubungan dengan cara bicaranya: suaranya memiliki delapan kualitas: jelas, dapat dimengerti, merdu, menarik, padat, singkat, dalam dan bergema. Dan ketika ia berbicara dalam pertemuan itu, suaranya tidak terdengar di luar. Siapapun yang memiliki suara demikian dikatakan memiliki suara seperti Brahmā.

20. ‘“Dan Brahmā Sanankumāra, menggandakan wujudnya menjadi tiga puluh tiga, [212] duduk bersila di atas tempat duduk masing-masing dari Tiga-Puluh-Tiga Dewa, dan berkata: ‘Bagaimanakah menurut Para Tiga-Puluh-Tiga Dewa? Karena Sang Bhagavā, demi belas kasihNya kepada dunia dan demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, telah bertindak demi keuntungan para dewa dan manusia, mereka, siapapun itu, yang telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha dan telah melaksanakan peraturan-peraturan moral26 telah, saat hancurnya jasmani, muncul kembali dalam kelompok para dewa Paranimmita-Vasavatti,27 atau para dewa Nimmānaratti, atau para dewa Tusita, atau para dewa Yāma, atau dalam kelompok pengikut Tiga-Puluh-Tiga Dewa, atau Empat Raja Dewa – atau yang paling rendah dalam kelompok para gandhabba.’28

21. ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Dan setiap dewa yang kepadanya ia berbicara berpikir: ‘Ia duduk di tempat dudukku, ia berbicara hanya kepadaku.’

Semua wujud berbicara dalam satu suara, Dan setelah berbicara, semuanya seketika diam. Dan demikianlah, para Dewa Tiga-Puluh-Tiga, pemimpin mereka juga, Masing-masing berpikir: ‘Ia hanya berbicara kepadaku.’

22. ‘“Kemudian Brahmā Sanankumāra berubah menjadi wujud tunggal;29 kemudian duduk di [213] di tempat duduk Sakka dan berkata: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Sang Bhagavā ini, Sang Arahant Buddha yang tertinggi telah mengetahui dan melihat empat jalan menuju kekuatan,30 dan bagaimana mengembangkan, menyempurnakan dan melatihnya. Apakah empat itu? Di sini seorang bhikkhu mengembangkan konsentrasi kehendak yang disertai dengan upaya berkemauan, konsentrasi kegigihan …, konsentrasi kesadaran …, dan konsentrasi penyelidikan yang disertai dengan upaya berkemauan. Ini adalah empat jalan menuju kekuatan … Dan petapa atau Brahmana manapun yang pada masa lampau telah mencapai kekuatan-kekuatan demikian dalam cara yang berbeda-beda, mereka semuanya telah mengembangkan dan melatih dengan tekun empat cara ini, dan hal yang sama berlaku bagi mereka yang di masa depan, atau mereka yang sekarang ini mencapai kekuatan-kekuatan demikian, Apakah tuan-tuan melihat kekuatan-kekuatan itu dalam diriku?’ ‘Ya, Brahmā.’ ‘Benar, aku juga telah mengembangkan dan melatih dengan tekun [214] empat cara ini.’

23. ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Ia melanjutkan: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Ada tiga gerbang menuju kebahagiaan yang dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat. Apakah itu? Pertama, seseorang berdiam dalam keinginan-indria, dengan kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Suatu ketika ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memperhatikan dengan seksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Dengan melakukan hal itu ia kemudian menjauhi keinginan-indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat demikian. Sebagai akibat dari tindakan menjauhi ini, perasaan menyenangkan31 muncul, dan terlebih lagi, Kegembiraan.32 Seperti halnya kenikmatan akan memunculkan sukacita, demikian pula dari perasaan menyenangkan ia mengalami kegembiraan.

24. ‘“‘Ke dua, ada seseorang yang padanya kecenderungan kasar33 dari jasmani, ucapan dan pikiran belum ditenangkan. Pada suatu ketika ia mendengarkan Dhamma Ariya, … dan kecenderungan kasar dari jasmani, ucapan dan pikiran menjadi ditenangkan. Sebagai akibat dari tindakan menenangkan ini, perasaan menyenangkan muncul, dan terlebih lagi, Kegembiraan …

25. ‘“‘Ke tiga, ada seseorang yang benar-benar tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang hina dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah atau campuran dalam hal kualitas. Suatu ketika ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memperhatikan dengan seksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Sebagai akibatnya ia menjadi mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang hina dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah atau campuran dalam hal kualitas. Dalam diri seorang yang mengetahui dan melihat demikian, ketidaktahuan tersingkirkan dan muncul pengetahuan. Dengan memudarnya ketidaktahuan dan munculnya pengetahuan, perasaan menyenangkan muncul, dan terlebih lagi, kegembiraan, seperti halnya kenikmatan akan memunculkan sukacita, demikian pula dari perasaan menyenangkan ia mengalami kegembiraan. [216] Ini adalah ketiga gerbang menuju kebahagiaan yang dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat.’

26. ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Ia melanjutkan: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Seberapa baikkah Sang Buddha yang mengetahui dan melihat mengajarkan empat landasan perhatian34 demi mencapai apa yang baik! Apakah itu? Di sini seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih, penuh perhatian, dan setelah meninggalkan keserakahan dan kegelisahan terhadap dunia. Ketika ia berdiam demikian merenungkan jasmaninya sendiri sebagai jasmani, ia menjadi terkonsentrasi dengan sempurna dan tenang sempurna. Dan karena tenang dan tenteram, ia mencapai pengetahuan dan penglihatan eksternal terhadap jasmani-jasmani makhluk lain.35 Ia berdiam merenungkan perasaannya sendiri sebagai perasaan, … ia berdiam merenungkan pikirannya sendiri sebagai pikiran, … ia berdiam merenungkan objek-pikirannya sendiri sebagai objek-pikiran, tekun, sadar jernih, penuh perhatian, dan setelah meninggalkan keserakahan dan kegelisahan terhadap dunia. Ketika ia berdiam demikian merenungkan objek-pikirannya sendiri sebagai objek-pikiran, ia menjadi terkonsentrasi dengan sempurna dan tenang sempurna. Dan karena tenang dan tenteram, ia mencapai pengetahuan dan penglihatan eksternal terhadap objek-pikiran makhluk lain. Ini adalah empat landasan kesadaran yang diajarkan dengan baik oleh Sang Buddha yang mengetahui dan melihat, demi mencapai apa yang baik.’

27. ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Ia melanjutkan: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Seberapa baikkah Sang Buddha yang mengetahui dan melihat mengajarkan tujuh prasyarat konsentrasi, demi pengembangan konsentrasi sempurna dan kesempurnaan konsentrasi! Apakah itu? Yaitu, pandangan benar, pemikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar [217], usaha benar, perhatian benar.36 Keterpusatan pikiran itu yang dihasilkan tujuh faktor ini disebut konsentrasi benar Ariya dengan landasan dan prasyaratnya. Dari pandangan benar muncul pemikiran benar, dari pemikiran benar muncul ucapan benar, dari ucapan benar muncul perbuatan benar, dari perbuatan benar muncul penghidupan benar, dari penghidupan benar muncul usaha benar, dari usaha benar muncul perhatian benar, dari perhatian benar muncul konsentrasi benar, dari konsentrasi benar muncul pengetahuan benar,37 dari pengetahuan benar muncul kebebasan benar.38 Jika seseorang yang dengan jujur menyatakan: “Dhamma telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā, terlihat di sini dan saat ini, tanpa batas waktu, mengundang untuk diselidiki, mengarah menuju kemajuan, untuk dipahami oleh para bijaksana untuk dirinya sendiri”, mengatakan: “Terbukalah pintu Tanpa-Kematian!”39 maka ia pasti berbicara sesuai dengan kebenaran tertinggi. Karena sesungguhnya, tuan-tuan, Dhamma memang telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā, terlihat di sini dan saat ini, tanpa batas waktu, mengundang untuk diselidiki, mengarah menuju kemajuan, untuk dipahami oleh para bijaksana untuk dirinya sendiri, dan, juga, pintu menuju Tanpa-Kematian telah terbuka!

‘“‘Mereka yang memiliki keyakinan tidak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha, dan memiliki moralitas-moralitas yang menyenangkan bagi Para Mulia, [218] makhluk-makhluk yang telah muncul di sini karena latihan-Dhamma mereka, berjumlah lebih dari dua puluh empat ribu umat dari Magadha yang telah meninggal dunia, setelah menghancurkan tiga belenggu menjadi para Pemenang-Arus, tidak mungkin lagi terjatuh ke alam sengsara dan pasti mencapai pencerahan, dan sesungguhnya juga ada Yang-Kembali-Sekali di sini.

Tetapi sesungguhnya di antara kelompok lainnya itu Di antara mereka yang lebih mulia itu, pikiranku Tidak mampu mengenali sama sekali, Karena takut aku akan mengucapkan kebohongan.’40

28. ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Dan sehubungan dengan hal ini Raja Dewa Vessavaṇa merenungkan dalam pikirannya: ‘Sungguh menakjubkan, sungguh mengagumkan, bahwa Sang Guru Agung itu muncul, bahwa ada pernyataan Dhamma yang Agung itu, dan bahwa jalan menuju kemuliaan harus dikumandangkan!’ Kemudian Brahmā Sanankumāra, membaca pikiran Raja Vessavaṇa, berkata kepadanya: ‘Bagaimana menurutmu, Raja Vessavaṇa? Telah ada Guru Agung seperti demikian di masa lampau, dan pernyataan seperti itu, dan jalan demikian telah dikumandangkan, dan akan ada lagi di masa depan.’”’

29. Demikianlah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra yang dinyatakan kepada para Dewa tiga-Puluh-Tiga. Dan Raja Dewa Vessavaṇa, [219] setelah mendengar dan menerimanya secara pribadi, menceritakannya kepada para pengikutnya. Dan yakkha Janavasabha, setelah mendengar sendiri, menceritakannya kepada Sang Bhagavā. Dan Sang Bhagavā, setelah mendengarnya sendiri dan juga mengetahuinya melalui pengetahuan-super-Nya sendiri, menceritakannya kepada Yang Mulia Ānanda, yang selanjutnya menceritakan kepada para bhikkhu dan bhikkhunī, dan umat-umat awam laki-laki dan perempuan.

Dan demikianlah kehidupan suci berkembang dan makmur dan menyebar luas karena di nyatakan kepada umat manusia.


Catatan Kaki
  1. Cf. DN 16.2.5ff dan n.373.
  2. Cf. DN 16.2.7. RD menganggap, mungkin benar, bahwa kalimat dalam DN 16 adalah yang lebih tua. Tidak disebutkan mengenai para umat dari Magadha, dan salah satu tujuan dari Sutta ini adalah untuk memperbaiki penghilangan itu.
  3. Pernyataan yang mengherankan, karena Ānanda memang sudah berada di depan Sang Buddha untuk mendengarkan kata-kata Sang Buddha.
  4. Dibunuh, tentu saja, oleh putranya Ajātasattu.
  5. Ini adalah sindiran kepada Raja Ajātasattu.
  6. Sang Buddha tentu saja tidak mengaku mengetahui jenis langsung (atau sesungguhnya jenis apapun juga) dari Kemahatahuan, seperti guru-guru lainnya. Tetapi dalam pandangan atas jawaban langsung dalam DN 16.2.7, Beliau sepertinya membuat ‘cuaca buruk’ mengenai hal ini.
  7. Yakkha biasanya dianggap makhluk yang menakutkan seperti siluman atau raksasa. Sebenaranya mereka adalah makhluk ambivalen (seperti yang diusulkan oleh Mrs Rhys Davids dengan istilah ‘peri’). Persoalan ini dijelaskan secara lengkap oleh Raja Vessavaṇa, yang (seperti yang kita ketahui dalam Sutta ini juga) adalah raja mereka, dalam DN 32.2. Baca juga DN 23.23 dan artikel Yakkha dalam DPPN.
  8. Secara harfiah ‘Banteng (yaitu, pahlawan) bagi Manusia’.
  9. ‘Raja Dewa’ dari Utara.
  10. Pemenang-Arus. Tujuh kelahiran sebagai manusia adalah jumlah maksimum kelahiran kembali yang dapat dialami oleh seorang Pemenang-Arus. Karena itu muncul ‘keinginan’ dalam dirinya untuk pergi ke tahap berikutnya. Tetapi mengapa Sang Buddha begitu terkejut mendengar ‘pencapaian spesifik’ demikian? Jawabannya sepertinya terletak pada uji ‘Cermin Dhamma’ yang disebutkan Sang Buddha dalam DN 16.2.8.
  11. ‘Raja Dewa’ dari Selatan. Sangat mengherankan bahwa seorang raja diutus sebagai utusan dengan cara ini.
  12. Dua alasan, seperti yang ditunjukkan oleh RD, adalah (1) fakta bahwa Vessavaṇa telah membuat pernyataan mengenai masalah ini, dan (2) bahwa ia menyadari bahwa Sang Buddha (yang pikiranNya dapat ia baca!) Sedang merenungkan masalah yang sama. Ini juga mengkonfirmasi pernyataan Sang Buddha di berbagai tempat (misalnya, DN 14.1.15) bahwa Beliau mengetahui hal-hal tertentu melalui pengetahuanNya sendiri dan karena para dewa memberitahukan kepadaNya.
  13. Vassa: latihan rutin yang dilakukan selama tiga bulan setiap tahun pada musim hujan.
  14. ‘Aula untuk menyelenggarakan rapat atau pertemuan’ (RD).
  15. Untuk penjelasan lengkap mengenai Raja Dewa ini dan para ‘Raja Dewa’ lainnya (yang sesungguhnya berdiam di alam surga terendah, hanya setingkat di atas alam manusia), baca DN 32.
  16. Para Asura mengalami kemunduran di India, dibandingkan dengan ahura Persia. Mereka berperang melawan para dewa, dan kadang-kadang oleh para terpelajar Barat disebut ‘*titan*’. Karena manusia dapat terlahir kembali di alam kedua pihak (baca DN 24.1.7 untuk contoh seorang yang terlahir kembali di alam asura), adalah wajar bahwa dewa bergembira saat bertambahnya jumlah mereka karena para siswa Sang Buddha.
  17. Mereka sepertinya, menurut catatan RD (untuk kalimat terakhir, DN 19.14) menjadi pencatat dalam pertemuan para Dewa Tiga-Puluh-Tiga yang sedang berlangsung. Mereka harus mengingat apa yang telah diputuskan. RD menarik kesimpulan bahwa hal ini juga dilakukan dalam pertemuan sesungguhnya di India pada masa itu.
  18. Cf. DN 11.80.
  19. Vipāka: tidak di sini, seperti biasanya, dalam istilah teknis ‘akibat kamma’, tetapi (yang jarang digunakan) ‘hasil secara umum’.
  20. ‘Tetap perawan’ (atau ‘tetap muda’). Satu dari lima putera Brahmā menurut legenda.
  21. Cara tidak langsung dalam memuji Sang Buddha: Brahmā adalah jauh lebih tinggi daripada Tiga-Puluh-Tiga Dewa, namun masih lebih rendah daripada Buddha, dan ia memahaminya.
  22. Isyarat añjali sebagai salam penghormatan, masih digunakan di India dan negara-negara Buddhis – sering secara keliru diartikan oleh Barat sebagai isyarat berdoa (yang tidak tepat, setidaknya bagi Buddhisme Theravāda,).
  23. Pallankena: dari pallanka ‘dalam posisi duduk bersila’.
  24. Pallanka juga adalah bantal tempat seseorang duduk bersila.
  25. Cf. DN 21.2 (dan DN 19.1). DA mengatakan Brahmā mengambil wujud ini karena semua dewa menyukai Pañcasikha.
  26. Frasa yang dihilangkan oleh RD – walaupun ini adalah kualifikasi yang penting!
  27. Untuk penjelasan atas kelompok-kelompok ini, baca Pendahuluan, p.38f.
  28. Musisi surgawi (cf. n.26). Sebagai pelayan di Alam Empat Raja Dewa, mereka adalah makhluk tingkat terendah di alam surga. Seorang bhikkhu yang terlahir kembali di antara mereka adalah memalukan: Cf. DN 21.11ff. Harus diperhatikan bahwa gandhabba yang disebutkan hadir pada saat memasuki rahim tidaklah sama. Istilah di sana berarti ‘seseorang yang akan terlahir’: baca catatan I.B. Horner, MLS i, p.321, n.6.
  29. RD keliru mengartikan: ‘pergi ke satu sudut [dari aula]’.
  30. Di definisikan dalam Sutta 26.28. Untuk keterangan lebih lanjut baca BDic.
  31. Sukha: ‘perasaan menyenangkan (jasmani atau batin)’.
  32. Somanassa: ‘perasaan batin yang menyenangkan’. Di sini, tingkatan sukha yang lebih tinggi, jangan disamakan dengan pīti (baca n.81).
  33. Sankhāra: istilah bermakna banyak (baca n.293), baca artikel menarik dalam BDic. Dalam catatannya atas kalimat ini, RD bergulat dengan maknanya, dan menciptakan yang tidak tepat ‘Pakaian’, yang lebih disayangkan lagi, terjemahan itu belakangan dipakai oleh Suzuki, yang biasanya menjadi ayahnya.
  34. Baca DN 22 untuk ini.
  35. Atau ‘bentuk fisik di luar diri sendiri’ (RD).
  36. Sebuah formulasi yang jarang atas faktor-faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan (baca DN 33.2.3 (3)). Di tempat lain, penjelasan progresif demikian dibantah: ini merujuk pada formulasi belakangan. Baca BDic tentang Magga, dan EB tentang Aṭṭhaṅgika-magga.
  37. Sammā-ñāṇaṁ
  38. Sammā-vimutti. Dua langkah tambahan ini adalah bagian dari jalan adi-duniawi (MN 117).
  39. DN 14.3.7.
  40. Ini adalah Yang-Tidak-Kembali, yang dianggap lebih tinggi daripada Brahmā Sanankumāra yang tidak dapat ia katakan dengan pengetahuannya!