[224] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengunjungi Kosala bersama lima ratus bhikkhu, dan, sampai di Sālavatikā, Beliau menetap di sana. Dan pada saat itu Brahmana Lohicca sedang menetap di Sālavatikā, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.

2. Saat itu suatu pemikiran buruk muncul dalam benak Lohicca: ‘Andaikan seorang petapa atau Brahmana menemukan suatu ajaran yang baik,1 setelah menemukannya, ia tidak harus menyatakannya kepada orang lain; karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain? Bagaikan seseorang, setelah memutuskan belenggu lama, membuat belenggu yang baru. Aku menyatakan bahwa hal demikian adalah suatu perbuatan buruk yang berakar pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?’

3. Kemudian Lohicca mendengar bahwa Petapa Gotama telah tiba di Sālavatikā, dan bahwa sehubungan dengan Sang Bhagavā suatu berita baik telah beredar … (seperti Sutta 4, paragraf 2). [225] ‘Dan sesungguhnya adalah baik sekali menemui Arahant demikian.’

4. Dan Lohicca berkata kepada Bhesika si tukang cukur: ‘Teman Bhesika, pergilah temui Petapa Gotama, tanyakan mengenai kesehatanNya atas namaku kemudian katakan: “Sudilah Yang Mulia Gotama memenuhi undangan makan besok, bersama para bhikkhu, dari Brahmana Lohicca!”’

5. ‘Baiklah, Tuan’, jawab Bhesika, dan menyampaikan pesan itu. Sang Bhagavā menerima undangan itu dengan berdiam diri.

6. Kemudian Bhesika, memahami penerimaan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya dan berjalan dengan sisi kanannya menghadap Sang Bhagavā. Ia kembali ke Lohicca dan memberitahukan kepadanya [226] mengenai penerimaan Sang Bhagavā.

7. Dan Lohicca, saat malam berakhir, mempersiapkan berbagai pilihan makanan keras dan lunak di rumahnya. Kemudian ia mengutus Bhesika untuk memberitahu Sang Bhagavā bahwa makanan sudah siap. Dan Sang Bhagavā, setelah bangun pagi dan membawa jubah dan mangkukNya, pergi bersama para bhikkhu menuju Sālavatikā.

8. Dan Bhesika si tukang cukur mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā. Dan ia berkata: ‘Bhagavā, pikiran jahat ini muncul dalam benak Brahmana Lohicca … Sungguh, Bhagavā, ini adalah apa yang pernah dipikirkan oleh Brahmana Lohicca.’ ‘Tidak apa-apa, Bhesika, tidak apa-apa.’

9. Sang Bhagavā sampai di kediaman Lohicca, dan duduk di tempat [227] yang telah disediakan. Lohicca secara pribadi melayani Sang Buddha dan para bhikkhu dengan berbagai makanan keras dan lunak hingga mereka puas dan kenyang. Ketika Sang Bhagavā telah menarik tanganNya dari mangkuk, Lohicca mengambil bangku kecil dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: ‘Lohicca, benarkah bahwa suatu pikiran jahat muncul dalam benakmu … (seperti paragraf 2)?’ ‘Benar, Yang Mulia Gotama.’

10. ‘Bagaimana menurutmu, Lohicca? Bukankah engkau menetap di Sālavatikā? ‘Benar, Yang Mulia Gotama.’ ‘Sekarang, jika seseorang mengatakan: “Brahmana Lohicca menetap di Sālavatikā, dan ia menikmati seluruh buah dan penghasilan dari Sālavatikā, tidak membaginya kepada siapapun” – bukankah orang yang mengatakan hal ini akan menjadi sumber bahaya bagi wargamu?’ ‘Ia dapat menjadi sumber bahaya, Yang Mulia Gotama.’

‘Dan dengan demikian, apakah ia memperhatikan kesejahteraan mereka atau tidak?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’

‘Dan, dengan tidak memperhatikan kesejahteraan mereka, apakah hatinya dipenuhi cinta kasih terhadap mereka, ataukah kebencian?’ ‘Kebencian, Yang Mulia Gotama.’

‘Dan dengan hati penuh kebencian, apakah ada pandangan salah ataukah pandangan benar?’ ‘Pandangan salah, Yang Mulia Gotama,’ [228]

‘Tetapi Lohicca, Aku menyatakan bahwa pandangan salah akan mengarah menuju salah satu dari dua alam tujuan kelahiran – neraka atau alam binatang.2

11. ‘Bagaimana menurutmu, Lohicca? Bukankah Raja Pasenadi dari Kosala menetap di Kāsi-Kosala? ‘Benar, Yang Mulia Gotama.’ ‘Sekarang, jika seseorang mengatakan: “Raja Pasenadi dari Kosala menetap di Kāsi-Kosala, dan ia menikmati seluruh buah dan penghasilan dari Kosala, tidak membaginya kepada siapapun” – bukankah orang yang mengatakan hal ini akan menjadi sumber bahaya bagi warganya?’ … Bukankah hatinya penuh dengan kebencian … dan bukankah itu adalah pandangan salah?’ ‘Itu adalah pandangan salah, Yang Mulia Gotama.’

12. ‘Maka tentu saja, jika seseorang mengatakan hal yang sama tentang Brahmana Lohicca … itu adalah pandangan salah.

13. ‘Demikian pula, Lohicca, jika seseorang mengatakan: “Andaikan seorang petapa atau Brahmana menemukan suatu ajaran yang baik, setelah menemukannya, ia tidak harus menyatakannya kepada orang lain, [229] karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?” ia akan menjadi sumber bahaya bagi para pemuda dari keluarga yang baik yang, mengikuti Dhamma dan disiplin yang diajarkan oleh Tathāgata, mencapai keluhuran seperti buah Memasuki-Arus, Yang-Kembali-Sekali, Yang-Tidak-Kembali, Kearahattaan – dan kepada semua yang mematangkan benih kelahiran kembali di alam dewa.3 Sebagai sumber bahaya, ia tidak berbelas kasih, dan hatinya didasarkan atas permusuhan, dan itu merupakan pandangan salah, yang mengarah menuju … neraka atau alam binatang.

14. ‘Dan jika seseorang berbicara demikian tentang Raja Pasenadi, ia akan menjadi sumber bahaya bagi warga Raja, dirimu, dan orang-orang lainnya …

15. (seperti paragraf 13) [230]

16. ‘Lohicca, tiga jenis guru di dunia ini layak dicela, dan jika siapapun mencela guru-guru demikian, celaannya adalah pantas, benar, sesuai dengan kenyataan dan tidak salah. Apakah tiga itu? Di sini, Lohicca, seorang guru yang telah meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah, tetapi belum mencapai buah pertapaan. Dan tanpa mencapai tujuan ini, ia mengajarkan muridnya suatu ajaran,4 dengan mengatakan: “Ini untuk kebaikanmu, ini untuk kebahagiaanmu.” Namun muridnya tidak ingin memperhatikan, mereka tidak mendengar, mereka tidak membangkitkan pikiran untuk mencapai pencerahan, dan nasihat si guru dicemooh. Ia harus dicela, dengan mengatakan: “Yang Mulia ini telah meninggalkan keduniawian …, nasihatnya dicemooh. Ini bagaikan seseorang laki-laki yang terus-menerus mendekati seorang perempuan yang menolaknya dan merangkulnya walaupun ia telah berpaling.” Aku menyatakan ini sebagai ajaran jahat yang berdasarkan pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?5 Ini adalah guru pertama yang layak dicela …

17. ‘Kemudian, ada seorang guru yang telah meninggalkan keduniawian … tetapi belum mencapai buah pertapaan. Dan tanpa mencapai tujuan ini, ia mengajarkan muridnya suatu ajaran, dengan mengatakan: “Ini untuk kebaikanmu, ini untuk kebahagiaanmu.” Muridnya ingin memperhatikan, mereka mendengarkan, [231] mereka membangkitkan pikiran untuk mencapai pencerahan, dan nasihat si guru tidak dicemooh. Ia harus dicela, dengan mengatakan: “Yang Mulia ini telah meninggalkan keduniawian …” Ini bagaikan, setelah meninggalkan ladangnya sendiri, ia memikirkan ladang orang lain yang perlu dikerjakan. Aku menyatakan ini sebagai ajaran jahat yang berdasarkan pada kemelekatan … Ini adalah guru ke dua yang layak dicela …

18. ‘Kemudian, ada seorang guru yang telah meninggalkan keduniawian … dan yang telah mencapai buah pertapaan. Setelah meninggalkan keduniawian, ia mengajarkan … Tetapi murid-muridnya tidak ingin memperhatikannya, … nasihatnya dicemooh. Ia juga harus dicela … Bagaikan, setelah memotong satu belenggu lama, seseorang membuat sebuah belenggu baru, Aku menyatakan ini sebagai ajaran jahat yang berdasarkan pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain? Ini adalah guru ke tiga yang layak dicela … [232] Dan ini adalah tiga jenis guru yang Kukatakan layak dicela.’

19. ‘Kemudian Lohicca berkata: ‘Yang Mulia Gotama, adakah guru di dunia ini yang tidak layak dicela?’

20-55. ‘Di sini, Lohicca, seorang Tathāgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahant, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang sempurna, telah sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan dan Yang Suci. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuanNya sendiri, menyatakan dunia ini dengan para dewa, māra dan Brahmā, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya. Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas, menjaga pintu-pintu indrianya, mencapai jhāna pertama (Sutta 2, paragraf 41-76). [233] Dan jika seorang murid dari seorang guru mencapai keluhuran demikian, guru itu adalah yang di dunia ini tidak boleh dicela. Dan jika seseorang mencela guru itu, celaannya tidak pantas, tidak benar, dan tidak sesuai dengan kenyataan, dan salah.

56-62.Ia mencapai tiga jhāna lainnya (seperti Sutta 2, paragraf 77-82) dan berbagai pandangan terang (Sutta 2, paragraf 83-84). jika seorang murid dari seorang guru mencapai keluhuran demikian, guru itu adalah yang di dunia ini tidak boleh dicela …

63-77.Ia menembus Empat Kebenaran Mulia, sang jalan, dan lenyapnya kekotoran … (seperti Sutta 2, paragraf 85-97).

Jika seorang murid dari seorang guru mencapai keluhuran demikian, guru itu adalah yang [234] di dunia ini tidak boleh dicela. Dan jika seseorang mencela guru itu, maka celaannya tidak pantas, tidak benar, dan tidak sesuai dengan kenyataan, dan salah.’

78. Mendengar kata-kata ini Brahmana Lohicca berkata kepada Sang Bhagavā: ‘Yang Mulia Gotama, ini bagaikan menarik rambut seseorang yang terpeleset dan jatuh ke dalam lubang,6 dan meletakkannya di atas tanah yang kokoh – demikian pula, aku, yang sedang terjatuh ke dalam lubang, telah diselamatkan oleh Yang Mulia Gotama! ‘Sungguh indah, Yang Mulia Gotama, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terbalik, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara.’

‘Aku berlindung kepada Sang Bhagavā Gotama, Dhamma dan Sangha. Sudilah Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai seorang siswa awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga akhir hidupku!’


Catatan Kaki
  1. Kusalaṁ dhammaṁ
  2. Nirayaṁ vā tiracchāna-yoniṁ vā. Pernyataan yang menyatakan bahwa mereka yang berpandangan salah akan terlahir kembali di alam neraka atau alam binatang cukup mengganggu bagi para pembaca masa kini. Diragukan bahwa kedua istilah ini awalnya dimaksudkan seperti yang dimengerti saat ini. Baca Pendahuluan, p.40f. ‘Kelahiran kembali yang menyakitkan atau menjadi binatang’ akan mengungkapkan makna lebih baik. Ini harus dipahami, juga, bahwa ‘pandangan salah’ yang dimaksud berarti yang tidak ada imbalan atau hukuman atas perbuatan baik atau jahat – karena tidak bekerjanya hukum moral. Jenis pandangan ini selalu dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai patut dicela. Cf n.801.
  3. Mereka yang karena perbuatan baiknya (puñña) akan menyebabkan kelahiran kembali di alam dewa, kehidupan yang sangat menyenangkan, tetapi tentu saja, tidak kekal. Kejahatan dari pandangan jahat Lohicca pasti akan merintangi pencapaian keluhuran demikian.
  4. Dhammaṁ: Tetapi belum tentu Dhamma Buddhis.
  5. Sang Buddha mengulangi kata-kata Lohicca.
  6. Naraka: sinonim dari niraya, neraka (n.244).