[211] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nāḷandā, di kebun mangga Pāvārika. Dan perumah tangga Kevaddha1 datang menemui Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian ia berkata: ‘Bhagavā, Nāḷandā ini kaya, makmur, ramai, dan dipenuhi dengan orang yang berkeyakinan terhadap Sang Bhagavā. Baik sekali jika Sang Bhagavā mengutus beberapa bhikkhu untuk melakukan pertunjukan kesaktian dan keajaiban. Dengan demikian Nālandā akan lebih berkeyakinan terhadap Bhagavā.’

Sang Bhagavā menjawab: ‘Kevaddha, itu bukanlah cara Aku mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu, dengan mengatakan: “Pergilah, para bhikkhu, dan perlihatkanlah kesaktian dan keajaiban demi umat-awam berjubah putih!’

2. Untuk kedua kalinya Kevaddha berkata: ‘Bhagavā, aku tidak akan memaksa, namun aku tetap mengatakan: “Nālandā ini kaya, makmur, … [212] akan lebih berkeyakinan terhadap Bhagavā.”’ Dan Sang Bhagavā menjawab seperti sebelumnya.

3. ketika Kevaddha mengulangi permohonannya untuk ketiga kalinya, Sang Bhagavā berkata: ‘Kevaddha, ada tiga jenis kesaktian yang kKnyatakan, setelah mencapainya dengan pandangan terang-Ku sendiri. Apakah tiga itu? Kesaktian kekuatan batin,2 kesaktian telepati,3 kesaktian pengajaran.4

4. ‘Apakah kesaktian kekuatan batin? Di sini, Kevaddha, seorang bhikkhu memperlihatkan berbagai kesaktian dalam berbagai cara. Dari satu ia menjadi banyak, dari banyak ia menjadi satu … (seperti Sutta 2, paragraf 87) [213] dan ia dengan tubuhnya pergi hingga ke alam Brahma. Dan seseorang yang memiliki keyakinan dan percaya akan melihatnya melakukan hal-hal ini.

5. ‘Ia memberitahukan hal ini kepada orang lain yang skeptis dan tidak percaya, dengan mengatakan: “Sungguh indah, sungguh menakjubkan, kesaktian dan keterampilan dari pertapa itu …” Dan orang itu akan berkata: “Tuan, ada sesuatu yang disebut jimat Gandhāra.5 Dengan itu bhikkhu tersebut menjadi banyak …” Bagaimana menurutmu, Kevaddha, tidak mungkinkah seorang skeptis mengatakan hal itu kepada seorang yang percaya?’ ‘Mungkin saja, Bhagavā’ ‘Dan itulah sebabnya, Kevaddha, melihat bahaya dari kesaktian demikian, Aku tidak menyukai, menolak dan mencelanya.

6. ‘Dan apakah kesaktian telepati? Di sini, seorang bhikkhu membaca pikiran makhluk-makhluk lain, pikiran orang lain, membaca kondisi pikiran mereka, pemikiran dan pertimbangan mereka, dan mengatakan: “Pikiranmu seperti ini, kecenderunganmu seperti ini, hatimu seperti ini”. Dan seseorang yang berkeyakinan dan percaya akan melihatnya melakukan hal-hal ini.

7. ‘Ia memberitahukan hal ini kepada orang lain yang skeptis dan tidak percaya, dengan mengatakan: “Sungguh [214] indah, sungguh menakjubkan, kesaktian dan keterampilan dari pertapa itu …” Dan orang itu akan berkata: “Tuan, ada sesuatu yang disebut jimat Maṇika.6 Dengan itu bhikkhu tersebut dapat membaca pikiran orang lain …” Dan itulah sebabnya, Kevaddha, melihat bahaya dari kesaktian demikian, Aku … dan mencelanya.

8. ‘Dan apakah kesaktian pengajaran? Di sini, Kevaddha, seorang bhikkhu memberikan pengajaran sebagai berikut: “Perhatikan seperti ini, jangan perhatikan seperti itu, arahkan pikiranmu seperti ini, bukan seperti itu, lepaskan itu, capai ini dan pertahankan ini.” Itu, Kevaddha, disebut kesaktian pengajaran.

9-66. ‘Dan lagi, Kevaddha, seorang Tathāgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahant, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang sempurna, telah sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan dan Yang Suci. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuanNya sendiri, menyatakan dunia ini dengan para dewa, māra dan Brahmā, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya. Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas (Sutta 2, paragraf 41-63). Ia menjaga pintu-pintu indrianya dan mencapai empat jhàna (Sutta 2, paragraf 64-82); ia mencapai berbagai pandangan terang (Sutta 2, paragraf 83-84); ia menembus Empat Kebenaran Mulia, sang jalan dan lenyapnya kekotoran-kekotoran (Sutta 2, paragraf 85-97),7 dan ia mengetahui: “ … Tidak ada lagi yang lebih jauh di sini.” Itu, Kevaddha, disebut kesaktian pengajaran.

67. ‘Dan Aku, Kevaddha, telah mengalami ketiga kesaktian ini dengan pengetahuan-super-Ku sendiri. Suatu ketika, Kevaddha, dalam kumpulan para bhikkhu ini, suatu pikiran melintas dalam benak seorang bhikkhu: “Aku ingin tahu di manakah empat unsur utama – unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur angin – lenyap tanpa sisa.” Dan bhikkhu itu mencapai konsentrasi pikiran hingga mampu memunculkan jalan menuju alam dewa di hadapannya.

68. ‘Kemudian, setelah sampai di alam dewa Empat Raja Dewa,8 ia bertanya kepada para dewa di sana: “Teman-teman, di manakah empat unsur utama – tanah, air, api, angin lenyap tanpa sisa?” Mendengar pertanyaan ini, para dewa dari alam Empat Raja Dewa [216] berkata kepadanya: “Bhikkhu, kami tidak mengetahui di mana empat unsur utama itu lenyap tanpa sisa. Tetapi Empat Raja Dewa lebih mulia dan lebih bijaksana daripada kami. Mungkin mereka tahu di mana empat unsur utama lenyap …”

69. ‘Maka bhikkhu itu mendatangi Empat Raja Dewa dan mengajukan pertanyaan yang sama, tetapi mereka menjawab: “Kami tidak tahu, tetapi Tiga Puluh Tiga Dewa mungkin mengetahui …”

70. ‘Maka bhikkhu itu mendatangi Tiga Puluh Tiga Dewa yang menjawab: “Kami tidak tahu, tetapi Sakka, raja para dewa, mungkin mengetahui …” [217]

71. ‘Sakka, raja para dewa, berkata: “Dewa Yāma mungkin mengetahui …”

72. ‘Dewa Yāma berkata: “Suyāma, putera para dewa,9 mungkin mengetahui …”

73. ‘Suyāma berkata: “Para dewa Tusita [218] mungkin mengetahui …”

74. ‘Para dewa Tusita berkata: “Santusita, putra para dewa, mungkin mengetahui …”

75. ‘Santusita berkata: “Para dewa Nimmānarati mungkin mengetahui …”

76. [219] ‘Para dewa Nimmānarati berkata: “Sunimmita, putra para dewa, mungkin mengetahui …”

77. ‘Sunimmita berkata: “Para dewa Paranimmita-Vasavatti mungkin mengetahui …”

78. ‘para dewa Paranimmita-Vasavatti berkata: “Vasavatti, putra para dewa, mungkin mengetahui …”

79. [220] ‘Vasavatti berkata: “Para dewa pengikut Brahmā mungkin mengetahui …”

80. ‘Kemudian bhikkhu itu, dengan mengerahkan konsentrasinya, memunculkan jalan menuju ke alam Brahmā di hadapannya. Ia pergi ke alam dewa para pengikut Brahmā dan bertanya kepada mereka. Mereka berkata: “Kami tidak tahu. Tapi ada Brahmā, Brahmā Agung, Sang Penakluk, yang Tidak Tertaklukkan, Maha Melihat, Maha Sakti, Raja, Sang Pencipta, Penguasa, Pengambil Keputusan dan Pemberi Perintah, Ayah dari Semua Yang Ada dan Yang Akan Ada. Ia lebih mulia dan lebih bijaksana daripada kami. Ia pasti mengetahui di mana empat unsur utama lenyap tanpa sisa.” “Dan di manakah, teman, Brahmā Agung itu berada sekarang?” “Bhikkhu, kami tidak tahu kapan, bagaimana dan di mana Brahmā akan muncul. Tetapi ketika tandanya terlihat – ketika cahaya muncul dan sinarnya memancar – maka Brahmā akan muncul. Tanda demikian menandakan bahwa ia akan muncul.”

81. ‘Dan tidak lama kemudian, Sang Brahma Agung [221] muncul. Dan bhikkhu itu mendatanginya dan berkata: “Teman, di manakah empat unsur utama – tanah, air, api, angin - lenyap tanpa sisa?” Brahmā Agung menjawab: “Bhikkhu, aku adalah Brahmā, Brahmā Agung, Sang Penakluk, yang Tidak Tertaklukkan, Maha Melihat, Maha Sakti, Raja, Sang Pencipta, Penguasa, Pengambil Keputusan dan Pemberi Perintah, Ayah dari Semua Yang Ada dan Yang Akan ada.”

82. ‘Untuk kedua kalinya bhikkhu itu berkata: “Teman, aku tidak menanyakan apakah engkau Brahmā, Brahmā Agung … Aku menanyakan kepadamu di manakah empat unsur utama lenyap tanpa sisa.” Dan untuk kedua kalinya sang Brahmā Agung menjawab seperti sebelumnya.

83. ‘Dan untuk ketiga kalinya bhikkhu itu berkata: “Teman, aku tidak menanyakan itu kepadamu, aku menanyakan di manakah empat unsur utama - tanah, air, api, angin - lenyap tanpa sisa?” Kemudian, Kevaddha, sang Brahmā Agung mengangkat bhikkhu tersebut, dan membawanya ke pinggir dan [222] berkata: “Bhikkhu, para dewa ini percaya bahwa tidak ada apapun yang tidak terlihat oleh Brahmā, tidak ada yang tidak diketahui olehnya, tidak ada yang tidak disadarinya. Itulah sebabnya aku tidak berbicara di depan mereka. Tetapi, bhikkhu, aku tidak tahu di mana empat unsur utama itu lenyap tanpa sisa. Dan karena itu, bhikkhu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak dengan melampaui Sang Bhagavā dan pergi mencari jawaban atas pertanyaan ini di tempat lain. Sekarang, bhikkhu, pergilah kepada Sang Bhagavā dan ajukan pertanyaanmu kepada Beliau, dan apapun jawaban yang Beliau berikan, terimalah.”

84. ‘Maka bhikkhu itu, secepat seorang kuat merentangkan atau melipat tangannya, lenyap dari alam Brahmā dan muncul di hadapanKu. Ia bersujud di hadapanKu, kemudian duduk di satu sisi dan berkata: “Bhagavā, di manakah empat unsur utama – unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur angin – lenyap tanpa sisa?”

85. ‘Aku menjawab: “Bhikkhu, suatu ketika para pedagang yang melakukan perjalanan laut, ketika mereka berlayar di lautan, membawa di kapal mereka seekor burung yang dapat melihat daratan. Ketika mereka tidak dapat melihat daratan, mereka akan melepaskan burung itu. Burung itu terbang ke timur, ke selatan, ke barat, ke utara, ia terbang ke atas dan ke arah-arah antara dua arah di kompas. Jika burung itu melihat daratan di arah manapun, ia akan terbang ke sana. Tetapi jika ia tidak melihat daratan, ia akan kembali ke kapal. Demikianlah, bhikkhu, engkau telah [223] pergi hingga ke alam Brahmā untuk mencari jawaban atas pertanyaanmu dan tidak menemukannya, dan sekarang engkau kembali kepadaKu. Tetapi, bhikkhu, engkau seharusnya tidak bertanya dengan cara ini: ‘Di manakah empat unsur utama – unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur angin – lenyap tanpa sisa?’ Melainkan, beginilah seharusnya pertanyaan itu di ajukan:

‘Di manakah tanah, air, api dan angin tidak menemukan landasannya? Di manakah yang panjang dan pendek, kecil dan besar, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk – Di manakah ‘“”nama-dan-bentuk” dihancurkan seluruhnya?’10

Dan jawabannya adalah:

‘Di mana kesadaran adalah tanpa gambaran,11 tidak terbatas, maha- cemerlang,12 Di sanalah tanah, air, api dan angin tidak menemukan landasan, Di sanalah yang panjang dan pendek, kecil dan besar, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk - Di sana “nama-dan-bentuk” dihancurkan seluruhnya. Dengan lenyapnya kesadaran, semua ini dihancurkan.’”’13

Demikianlah Sang Bhagavā berkata, dan perumah tangga Kevaddha, senang dan gembira mendengar kata-kata Beliau.


Catatan Kaki
  1. Atau Kevaṭṭa (‘Nelayan’) seperti yang tertulis dalam beberapa naskah. RD mengakui bahwa ‘ini terbukti lebih baik di antara dua itu’.
  2. Iddhi-pāṭihāriya: ‘kesaktian *iddhi*’ (baca n.128).
  3. Ādesanā-pāṭihāriya. Ini adalah telepati yang sebenarnya, tidak sama dengan manesika ‘pencarian-pikiran’ atau menebak pikiran makhluk lain seperti yang sebutkan dalam DN 1.1.14.
  4. Anusāsani-pāṭihāriya. Ajaran Buddha dapat disebut penuh keajaiban karena mengarah kepada hasil yang sangat menakjubkan.
  5. Jimat yang membuat seseorang tidak terlihat.
  6. Atau cintāmaṇī vijjā (DA), jimat ‘permata pikiran’ yang memungkinkan seseorang untuk mengetahui pikiran orang lain. Yang skeptis tentu saja, tidak memiliki cara yang meyakinkan untuk menjelaskan hal-hal semacam ini.
  7. Mengabaikan DN 2.85-96, yang membahas tentang kesaktian-kesaktian yang dicela yang disebutkan dalam paragraf 4ff.
  8. Untuk semua alam dan para penghuninya (paragraf 68-81) baca Pendahuluan, p.38f.
  9. Devaputta di sini menunjukkan penguasa dari sekelompok dewa tertentu. Dalam konteks lain, ini sekedar menunjukkan ‘dewa laki-laki’.
  10. Batin dan jasmani, yaitu, ‘subjek dan objek’ (Neumann dikutip oleh RD).
  11. Anidassanaṁ: atau ‘tidak terlihat’. Ñāṇananda menerjemahkan ‘tidak-berwujud’.
  12. Kata ini (pabhaṁ atau pahaṁ) telah diterjemahkan dalam berbagai cara. DA mengartikannya dalam pengertian sebuah penyeberangan, atau sebuah tempat untuk masuk ke air ‘yang dapat dicapai dari segala sisi’, yang dengannya seseorang dapat mencapai Nibbāna. Ada saran yang tidak mungkin bahwa artinya adalah ‘menolak’, dan Mrs Bennet menerjemahkan kalimat ini: ‘Di mana kesadaran yang membuat perbandingan tanpa akhir ditinggalkan seluruhnya’, yang sepertinya melibatkan kesalah-pahaman atas anidassanaṁ. (Tetapi baca catatan selanjutnya). Urutan yang sama juga muncul dalam MN 49.11, terjemahan I.B.Horner (MLS I, 392): ‘Kesadaran diskriminatif (=viññāṇaṁ) yang tidak dapat dikarakteristikkan (=anidassanaṁ), yang tanpa akhir, jelas dalam segala hal (=sabbato pabhaṁ).’ Kedua kalimat ini harus dipelajari secara gabungan. Cf. juga AN 1.6: ‘Pikiran ini (citta) adalah cemerlang, tetapi dikotori oleh kekotoran dari luar.’ Baca diskusi penting oleh Ñāṇananda, 57-63.
  13. G.C.Pande (Studies in the Origin of Buddhism, 92, n.21) mengatakan: ‘Buddha mengatakan bahwa pertanyaan sebaiknya tidak diajukan dengan cara seperti prosa di atas, tetapi – seperti syair-syair yang berikunyat. Seseorang mungkin bertanya: “Mengapa? Apa salahnya dengan formulasi prosa itu?” jawaban yang mungkin adalah: “Tidak ada salahnya. Namun syair tetap harus dimasukkan!”.

    Ñāṇananda (concept and Reality, 59) menjelaskan: ‘Baris terakhir dari syair menekankan pada kenyataan bahwa empat unsur utama tidak memiliki landasan – dan bahwa ‘Nama-dan-Bentuk’ (dengan memahaminya) dapat dipotong seluruhnya – dalam hal ‘anidassana-viññāṇa’ itu (kesadaran yang ‘tidak berwujud’) dari Arahant tersebut, dengan lenyapnya kesadaran normalnya yang terletak pada data pengalaman-indria. Ini adalah koreksi atas gagasan bhikkhu tersebut bahwa empat unsur utama dapat lenyap bersama-sama di suatu tempat – suatu gagasan yang berakar pada konsep populer bahwa unsur materi yang muncul dengan sendirinya. Formula Sang Buddha atas pertanyaan aslinya dan baris penutup ini dimaksudkan untuk membantah gagasan salah tersebut.’