1. “Mereka yang kita bunuh sebelumnya, Apakah demi pengorbanan ataupun demi kekayaan, Ketakutan tanpa kecuali: Mereka gemetar dan menjerit.

  2. Tetapi engkau tidak takut; Penampilanmu menjadi lebih tenang: Mengapa engkau tidak menjerit Dalam situasi yang menakutkan demikian?”

  3. “Tidak ada penderitaan batin Pada seorang yang tanpa pengharapan, kepala desa. Semua ketakutan ditinggalkan Oleh seorang yang belenggu-belenggunya telah berakhir.

  4. Ketika kemelekatan pada kehidupan telah berakhir, Dalam kehidupan ini sebagaimana adanya, Maka tidak ada ketakutan pada kematian, Ini hanya seperti menurunkan beban.

  5. Aku telah menjalani kehidupan spiritual dengan baik, Dan mengembangkan sang jalan dengan baik pula; Aku tidak takut pada kematian Ini hanya seperti berakhirnya penyakit.

  6. Aku telah menjalani kehidupan spiritual dengan baik, Dan mengembangkan sang jalan dengan baik pula; Aku telah melihat kehidupan demi kehidupan sebagai tidak memuaskan, Bagaikan seseorang yang meminum racun, kemudian memuntahkannya.

  7. Seorang yang telah menyeberang, tanpa mencengkeram, Tugasnya selesai, tanpa kekotoran: Mereka puas di akhir kehidupan, Bagaikan seseorang yang terbebas dari eksekusi.

  8. Setelah merealisasikan Dhamma tertinggi, Tanpa membutuhkan apapun dari seluruh dunia, Seseorang tidak bersedih pada saat kematian; Itu hanya seperti menyelamatkan diri dari rumah yang terbakar.

  9. Apapun yang datang akan berlalu, Di manapun kehidupan diperoleh, Tak seorang pun yang dapat mengendalikan semua itu: Demikianlah dikatakan oleh Sang Bijaksana Agung.

  10. Siapapun yang memahami hal ini Seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha Tidak menggenggam kehidupan apapun juga, Bagaikan menggenggam bola besi panas.

  11. Aku tidak berpikir, ‘aku memiliki kehidupan lampau’; Aku juga tidak berpikir, ‘aku akan memiliki kehidupan masa depan’. Segala kondisi akan lenyap – Mengapa meratapi hal itu?

  12. Melihat sesuai dengan kenyataan Hanya sekedar munculnya fenomena, Dan hanya sekedar kelangsungan kondisi-kondisi, Tidak ada ketakutan, kepala desa.

  13. Dunia ini bagaikan rerumputan dan kayu-kayu: Jika hal ini dilihat dengan pemahaman, Tidak menganggap segala sesuatu sebagai milikku, Dengan berpikir ‘ini bukan milikku’, maka seseorang tidak bersedih.

  14. Aku lelah dengan tubuh ini; Aku tidak membutuhkan kehidupan lain. Tubuh ini akan hancur, Tidak akan ada tubuh lainnya lagi.

  15. Lakukanlah apa yang engkau inginkan Atas mayatku. Aku tidak akan marah atau melekat Karena hal itu.”

  16. Ketika mereka mendengar kata-kata ini, Begitu mengejutkan sehingga mereka merinding, Para pemuda itu meletakkan pedang-pedang mereka Dan berkata sebagai berikut:

  17. “Apakah yang engkau praktikkan, Yang Mulia? Atau siapakah gurumu? Ajaran siapakah yang harus kita ikuti Untuk memperoleh kondisi tanpa dukacita?”

  18. “Yang maha-mengetahui, yang maha-melihat, Sang penakluk adalah guruku. Beliau adalah guru dengan belas kasih yang sangat besar, Penyembuh seluruh dunia.

  19. Beliau mengajarkan Dhamma ini, Yang mengarah menuju akhir, yang tak tertandingi. Dengan mngikuti ajaran Beliau, Kalian dapat memperoleh kondisi tanpa dukacita.”

  20. Ketika para penjahat itu mendengar kata-kata baik sang bijaksana itu, Mereka meletakkan pedang dan senjata mereka. Beberapa menghindari perbuatan-perbuatan mereka, Sementara yang lainnya memilih meninggalkan keduniawian.

  21. Ketika mereka yang telah meninggalkan keduniawian Dalam ajaran Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan, Mereka mengembangkan faktor-faktor pencerahan Dan kekuatan-kekuatan spiritual, Dan karena bijaksana, dengan batin gembira, bahagia, Indria-indria spiritual mereka menjadi lengkap, Yang merealisasikan nibbāna, yang tak terkondisi.

  1. Sewaktu ia duduk sendirian Dalam keterasingan, mempraktikkan jhāna, Seorang petapa, Bhikkhu Pārāpariya Berpikir sebagai berikut:

  2. “Dengan mengikuti sistem apakah Sumpah apakah, perilaku apakah, Yang harus kulakukan untuk diriku sendiri, Tanpa mencelakai siapapun?

  3. Indria-indria manusia Dapat mengarah pada kesejahteraan ataupun celaka. Tidak terjaga maka mengarah pada celaka; Terjaga maka mengarah pada kesejahteraan.

  4. Dengan melindungi indria-indria, Dengan menjaga indria-indria, Aku dapat melakukan apa yang harus dilakukan untuk diriku sendiri Tanpa mencelakai siapapun.

  5. Jika matamu mengembara Di antara pemandangan-pemandangan tanpa dikekang, Dengan tidak melihat bahaya, Maka engkau tidak terbebas dari penderitaan.

  6. Jika telingamu mengembara Di antara suara-suara tanpa dikekang, Dengan tidak melihat bahaya, Maka engkau tidak terbebas dari penderitaan.

  7. Jika, dengan tidak melihat jalan membebaskan diri, Engkau menikmati bebauan, Maka engkau tidak terbebas dari penderitaan, Karena tergila-gila dengan bebauan.

  8. Dengan mengingat rasa asam, Dan rasa manis dan rasa pahit, Terpikat oleh ketagihan pada rasa kecapan, Maka engkau tidak memahami batin.

  9. Dengan mengingat Sentuhan-sentuhan yang menyenangkan, Penuh keinginan, engkau mengalami Berbagai jenis penderitaan karena nafsu.

  10. Karena tidak mampu melindungi Pikiran dari fenomena-fenomena batin demikian, Maka penderitaan mengikutinya, Karena seluruh lima itu.

  11. Tubuh ini penuh dengan nanah dan darah, Serta banyak kotoran; Tetapi orang-orang berbakat menghiasnya Bagaikan sebuah peti berwarna indah.

  12. Engkau tidak memahami bahwa Kepuasan rasa manis ternyata pahit, Dan kemelekatan pada hal-hal yang kita sukai adalah penderitaan, Bagaikan pisau cukur yang berlumuran madu.

  13. Penuh dengan nafsu pada pandangan terhadap seorang perempuan, Pada suara dan aroma seorang perempuan, Pada sentuhan seorang perempuan, Maka engkau mengalami berbagai jenis penderitaan.

  14. Semua arus perempuan Mengalir dari lima menuju lima. Siapapun juga, yang dengan bersemangat, Mampu mengekang hal-hal ini,

  15. Dengan tujuan dan kokoh dalam Dhamma, Akan menjadi cerdas dan bijaksana; Bahkan sewaktu menikmati, Apa yang ia lakukan terhubung Dengan Dhamma dan tujuannya.

  16. Engkau harus menghindari tugas yang tanpa makna Yang mengarah menuju kemunduran. Dengan berpikir, ‘Ini tidak boleh dilakukan’, Adalah cerdas dan bijaksana.

  17. Apapun yang bermakna, Kebahagiaan yang bermanfaat, Biarlah seseorang melakukan dan mempraktikkan hal itu: Ini adalah kebahagiaan terbaik.

  18. Tamak atas kepemilikan orang lain Dengan cara apapun, apakah tinggi ataupun rendah, Seseorang membunuh, melukai, dan menyiksa, Dengan kasar merampas kepemilikan orang lain.

  19. Seperti halnya seorang kuat ketika membangun Memukul pasak dengan pasak, Demikian pula seorang yang terampil Memukul indria-indria dengan indria-indria.

  20. Dengan mengembangkan keyakinan, kegigihan, samādhi Perhatian, dan kebijaksanaan; Dengan menghancurkan lima dengan lima, Yang sempurna hidup tanpa kekhawatiran.

  21. Dengan tujuan dan kokoh dalam Dhamma, Setelah memenuhi segala aspek Ajaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha, Orang itu makmur dalam kebahagiaan.”

  1. Sejak lama, sayang sekali, Walaupun aku dengan tekun merenungkan Dhamma, Aku tidak memperoleh kedamaian batin; Maka aku bertanya kepada para petapa dan orang-orang suci:

  2. “Siapakah yang telah menyeberang di dunia ini? Pencapaian siapakah yang memuncak dalam tanpa-kematian? Ajaran siapakah yang harus kuterima, Untuk memahami tujuan tertinggi?

  3. Aku tersangkut di dalam, Bagaikan ikan yang menelan umpan; Terikat seperti raksasa Vepaciti Dalam perangkap Mahinda.

  4. Dengan menyeretnya, aku tidak terbebaskan Dari kesedihan dan ratapan. Siapakah yang akan membebaskan aku dari ikatan dalam dunia ini, Sehingga aku dapat mengetahui pencerahan?

  5. Petapa atau orang suci manakah Yang menunjukkan yang tidak dapat musnah? Ajaran siapakah yang harus kuterima Untuk menghilangkan usia tua dan kematian?

  6. Terikat dengan ketidakpastian dan keragu-raguan, Terkunci oleh kekuatan keangkuhan, Kaku bagaikan pikiran yang dikuasai oleh kemarahan; Anak panah ketamakan,

  7. Didorong oleh busur ketagihan, Tersangkut dalam dua kali lima belas rusuk – Lihatlah bagaimana itu tegak di dadaku, Memecahkan jantungku yang kuat.

  8. Pandangan-pandangan spekulatif belum ditinggalkan, Pandangan-pandangan itu dipertajam oleh ingatan dan kehendak; Dan tertusuk oleh hal ini aku gemetar, Bagaikan sehelai daun tertiup angin.

  9. Muncul di dalam diriku, Egoismeku dengan cepat tersiksa, Di mana tubuh selalu pergi Dengan enam bidang-indria dari kontak.

  10. Aku tidak melihat seorang penyembuh Yang dapat mencabut panah keragu-raguanku, Tanpa pisau bedah Atau pisau lainnya.

  11. Tanpa pisau atau luka, Siapakah yang akan mencabut panah ini, Yang tertancap dalam diriku, Tanpa melukai bagian tubuhku yang manapun?

  12. Beliau sesungguhnya adalah Sang Raja Dhamma, Yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh racun; Ketika aku terjatuh ke air yang dalam, Beliau akan mengulurkan tangannya dan membawaku ke pantai.

  13. Aku telah terjun ke dalam danau, Dan aku tidak dapat mencuci lumpur dan kotoran, Yang penuh dengan tipuan, kecemburuan, keangkuhan, Dan ketumpulan dan kantuk.

  14. Bagaikan petir kegelisahan, Bagaikan hujan belenggu; Kehendak-kehendak yang berdasarkan atas nafsu adalah angin Yang menyapu seseorang yang berpandangan buruk.

  15. Arus mengalir kemana-mana; Rerumputan tumbuh dan menetap; Siapakah yang akan membendung arus? Siapakah yang akan memotong rerumputan?”

  16. “Yang Mulia, bangunlah bendungan Untuk membendung arus; Jangan biarkan arus ciptaan pikiranmu Memotongmu secara tiba-tiba bagaikan sebatang pohon.”

  17. Itu adalah bagaimana sang guru yang senjatanya adalah kebijaksanaan, Sang bijaksana yang dikelilingi oleh Saṅgha, Adalah naunganku ketika aku dikuasai ketakutan, Berusaha mencapai pantai seberang dari pantai sini.

  18. Ketika aku tersapu, Beliau memberikan tangga sederhana yang kuat, Yang terbuat dari inti Dhamma, Dan Beliau berkata kepadaku: “Jangan takut.”

  19. Aku memanjat menara Penegakan perhatian Dan melihat ke bawah, Pada orang-orang yang bersenang dalam identitas, Yang di masa lalu aku juga dikuasai.

  20. Ketika aku melihat sang jalan, Sewaktu aku menaiki kapal, Tanpa terpusat pada diri, Aku melihat tempat mendarat terbaik.

  21. Anak panah yang muncul dalam diri seseorang, Dan yang disebabkan Oleh kemelekatan pada kehidupan masa depan; Beliau mengajarkan jalan terbaik Untuk menghentikan hal ini.

  22. Sejak lama telah ada padaku; Sejak lama terpasang padaku: Sang Buddha melepaskan simpul, Menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh racun.

  1. Lihatlah boneka khayal ini, Tumpukan luka, susunan tubuh, Berpenyakit, terobsesi, Tidak memiliki kestabilan.

  2. Lihatlah bentuk khayal ini, Dengan permata dan anting-anting; Tulang-belulangnya terbungkus kulit, Diperindah oleh pakaiannya.

  3. Kaki kemerahan Dan wajah berbedak Adalah cukup untuk memperdaya seorang dungu, Tetapi tidak untuk seorang pencari pantai seberang.

  4. Rambut dikepang delapan Dan pewarna garis mata, Adalah cukup untuk memperdaya seorang dungu, Tetapi tidak untuk seorang pencari pantai seberang.

  5. Bagaikan kotak rias yang dihias, Tubuh menjijikkan ini dihias Adalah cukup untuk memperdaya seorang dungu, Tetapi tidak untuk seorang pencari pantai seberang.

  6. Pemburu memasang perangkapnya, Tetapi rusa tidak terperangkap; Setelah memakan umpan kita pergi, Meninggalkan penangkap rusa meratap.

  7. Perangkap pemburu telah rusak, Dan rusa tidak terperangkap; Setelah memakan umpan kita pergi, Meninggalkan penangkap rusa meratap.

  8. Aku melihat orang-orang kaya di dunia ini, Yang, karena delusi, Tidak memberikan kekayaan yang telah mereka peroleh. Dengan serakah, mereka menimbun kekayaan mereka, Mendambakan lebih banyak kenikmatan indriawi lagi.

  9. Seorang raja yang menaklukkan bumi ini dengan paksa, Memerintah negeri dari samudra ke samudra, Tidak puas dengan pantai sini dari samudra, Masih mendambakan pantai seberang.

  10. Raja dan kebanyakan orang Mati selagi masih belum terbebas dari ketagihan. Seolah-olah masih kekurangan, mereka meninggalkan tubuh ini; Karena kenikmatan indriawi tidak memberikan Kepuasan di dunia ini.

  11. Sanak saudara meratap, rambut mereka terurai, Dengan berakta “Ah! Aduh! Mereka tidak abadi!” Mereka menggotong mayat yang terbungkus kain pembungkus mayat, Menumpuk kayu bakar, dan membakarnya.

  12. Dicongkel dengan kayu panjang ketika sedang dibakar, Mengenakan sehelai kain, segala kekayaan ditinggalkan. Tidak ada kerabat juga tidak ada sahabat juga tidak ada teman Yang dapat membantumu ketika engkau sekarat.

  13. Pewaris mengambil harta, Tetapi makhluk-makhluk mengembara sesuai perbuatan mereka. Kekayaan tidak mengikutimu ketika engkau mati; Tidak juga anak-anak, istri, harta kekayaan, juga tidak kerajaan.

  14. Usia panjang tidak diperoleh melalui kekayaan, Juga kekayaan tidak menghalau usia tua; Karena para bijaksana telah mengatakan bahwa hidup ini singkat, Tidak abadi, memiliki kodrat menjadi usang.

  15. Yang kaya dan yang miskin merasakan sentuhannya; Si dungu dan sang bijaksana merasakannya juga; Tetapi si dungu terbaring seolah-olah terpukul oleh kebodohannya sendiri, Sedangkan sang bijaksana sama sekali tidak gemetar pada sentuhan itu.

  16. Oleh karena itu kebijaksanaan pasti lebih baik daripada kekayaan, Karena dengan kebijaksanaan Engkau dapat mencapai kesempurnaan dalam kehidupan ini; Tetapi jika engkau tetap tidak sempurna, Maka karena delusi, Engkau akan melakukan perbuatan jahat dalam kehidupan demi kehidupan.

  17. Satu orang memasuki rahim dan dunia mendatang, Bertransmigrasi dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya; Sedangkan seseorang dengan sedikit kebijaksanaan, berkeyakinan pada itu, Juga memasuki rahim dan dunia mendatang.

  18. Seperti halnya seorang penjahat yang tertangkap di pintu rumah Dihukum atas perbuatan jahatnya; Demikian pula setelah meninggal dunia, di dunia mendatang Orang-orang dihukum atas perbuatan jahat mereka sendiri.

  19. Kenikmatan-kenikmatan indriawi ada bermacam-macam, manis, menyenangkan Tetapi keberagaman bentuk-bentuk menyusahkan batin; Melihat bahaya dalam berbagai jenis kenikmatan indriawi ini, Aku meninggalkan keduniawian, O Raja.

  20. Seperti halnya buah yang jatuh dari pohon, demikian pula orang-orang jatuh, Muda dan tua, ketika tubuh ini hancur. Melihat ini juga, aku meninggalkan keduniawian, O Raja; Tanpa ragu, kehidupan pertapaan adalah lebih baik.

  21. Dengan memiliki keyakinan, aku meninggalkan keduniawian, Memasuki ajaran Sang Penakluk. Pelepasan keduniawianku tidaklah sia-sia; Aku memakan makanan yang terbebas dari utang.

  22. Aku melihat kenikmatan indriawi sebagai membakar, Emas sebagai pisau pemotong, Konsepsi ke dalam rahim sebagai penderitaan Dan neraka sebagai sangat menakutkan.

  23. Mengetahui bahaya ini, Aku terkejut. Aku tertusuk, dan kemudian aku menjadi damai; Aku telah mencapai akhir kekotoran.

  24. Aku telah melayani Sang Guru Dan memenuhi ajaran Sang Buddha. Beban berat telah diturunkan, Aku telah melepaskan kemelekatan untuk terlahir kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  25. Aku telah mencapai tujuan Yang karenanya aku meninggalkan keduniawian Dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah – Akhir segala belenggu.

  1. Ketika melihat suatu pemandangan, Perhatian menjadi bingung, Jika perhatian diarahkan pada aspek yang menyenangkan. Mengalaminya dengan pikiran yang penuh keinginan, Seseorang akan tetap melekatinya.

  2. Banyak perasaan yang tumbuh Muncul dari penglihatan Pikiran menjadi rusak Karena ketamakan dan kekejaman. Menimbun penderitaan seperti ini, Dikatakan sebagai jauh dari nibbāna.

  3. Ketika mendengar suatu suara, Perhatian menjadi bingung, Jika perhatian diarahkan pada aspek yang menyenangkan. Mengalaminya dengan pikiran yang penuh keinginan, Seseorang akan tetap melekatinya.

  4. Banyak perasaan yang tumbuh Muncul dari suara Pikiran menjadi rusak Karena ketamakan dan kekejaman. Menimbun penderitaan seperti ini, Dikatakan sebagai jauh dari nibbāna.

  5. Ketika mencium suatu aroma, Perhatian menjadi bingung, Jika perhatian diarahkan pada aspek yang menyenangkan. Mengalaminya dengan pikiran yang penuh keinginan, Seseorang akan tetap melekatinya.

  6. Banyak perasaan yang tumbuh Muncul dari aroma Pikiran menjadi rusak Karena ketamakan dan kekejaman. Menimbun penderitaan seperti ini, Dikatakan sebagai jauh dari nibbāna.

  7. Ketika melahap suatu rasa kecapan, Perhatian menjadi bingung, Jika perhatian diarahkan pada aspek yang menyenangkan. Mengalaminya dengan pikiran yang penuh keinginan, Seseorang akan tetap melekatinya.

  8. Banyak perasaan yang tumbuh Muncul dari rasa kecapan Pikiran menjadi rusak Karena ketamakan dan kekejaman. Menimbun penderitaan seperti ini, Dikatakan sebagai jauh dari nibbāna.

  9. Ketika menyentuh suatu objek sentuhan, Perhatian menjadi bingung, Jika perhatian diarahkan pada aspek yang menyenangkan. Mengalaminya dengan pikiran yang penuh keinginan, Seseorang akan tetap melekatinya.

  10. Banyak perasaan yang tumbuh Muncul dari objek sentuhan Pikiran menjadi rusak Karena ketamakan dan kekejaman. Menimbun penderitaan seperti ini, Dikatakan sebagai jauh dari nibbāna.

  11. Ketika mengetahui suatu fenomena pikiran, Perhatian menjadi bingung, Jika perhatian diarahkan pada aspek yang menyenangkan. Mengalaminya dengan pikiran yang penuh keinginan, Seseorang akan tetap melekatinya.

  12. Banyak perasaan yang tumbuh Muncul dari fenomena pikiran Pikiran menjadi rusak Karena ketamakan dan kekejaman. Menimbun penderitaan seperti ini, Dikatakan sebagai jauh dari nibbāna.

  13. Melihat suatu pemandangan dengan perhatian, Tidak ada keinginan pada pemandangan. Mengalaminya dengan pikiran yang bebas dari keinginan Seseorang tidak melekatinya.

  14. Karena ini adalah untuk seseorang yang hidup dengan penuh perhatian, Ketika berulang-ulang melihat suatu pemandangan, Perasaan berakhir, bukan bertambah, Mengurangi penderitaan seperti ini Dikatakan sebagai berada di hadapan nibbāna.

  15. Mendengar suatu suara dengan perhatian, Tidak ada keinginan pada suara. Mengalaminya dengan pikiran yang bebas dari keinginan Seseorang tidak melekatinya.

  16. Karena ini adalah untuk seseorang yang hidup dengan penuh perhatian, Ketika berulang-ulang mendengar suatu suara, Perasaan berakhir, bukan bertambah, Mengurangi penderitaan seperti ini Dikatakan sebagai berada di hadapan nibbāna.

  17. Mencium suatu aroma dengan perhatian, Tidak ada keinginan pada aroma. Mengalaminya dengan pikiran yang bebas dari keinginan Seseorang tidak melekatinya.

  18. Karena ini adalah untuk seseorang yang hidup dengan penuh perhatian, Ketika berulang-ulang mencium suatu aroma, Perasaan berakhir, bukan bertambah, Mengurangi penderitaan seperti ini Dikatakan sebagai berada di hadapan nibbāna.

  19. Melahap suatu rasa kecapan dengan perhatian, Tidak ada keinginan pada rasa kecapan. Mengalaminya dengan pikiran yang bebas dari keinginan Seseorang tidak melekatinya.

  20. Karena ini adalah untuk seseorang yang hidup dengan penuh perhatian, Ketika berulang-ulang melahap suatu rasa kecapan, Perasaan berakhir, bukan bertambah, Mengurangi penderitaan seperti ini Dikatakan sebagai berada di hadapan nibbāna.

  21. Menyentuh suatu objek sentuhan dengan perhatian, Tidak ada keinginan pada objek sentuhan. Mengalaminya dengan pikiran yang bebas dari keinginan Seseorang tidak melekatinya.

  22. Karena ini adalah untuk seseorang yang hidup dengan penuh perhatian, Ketika berulang-ulang menyentuh suatu objek sentuhan, Perasaan berakhir, bukan bertambah, Mengurangi penderitaan seperti ini Dikatakan sebagai berada di hadapan nibbāna.

  23. Mengetahui suatu fenomena pikiran dengan perhatian, Tidak ada keinginan pada fenomena pikiran. Mengalaminya dengan pikiran yang bebas dari keinginan Seseorang tidak melekatinya.

  24. Karena ini adalah untuk seseorang yang hidup dengan penuh perhatian, Ketika berulang-ulang mengetahui suatu fenomena pikiran, Perasaan berakhir, bukan bertambah, Mengurangi penderitaan seperti ini Dikatakan sebagai berada di hadapan nibbāna.

  1. “Tubuhmu sempurna, Engkau bersinar, Tampan, indah dilihat, Bhagavā, Engkau berkulit keemasan, Gigimu putih murni, Engkau penuh semangat.

  2. Karakteristik-karakteristik Seorang tampan, Tanda-tanda manusia luar biasa, Semuanya ada pada tubuhmu.

  3. MataMu jernih, WajahMu tampan, Engkau besar, tegak, dan agung. Di tengah-tengah Saṅgha para petapa, Engkau bersinar bagaikan matahari.

  4. Engkau adalah seorang bhikkhu yang menarik, Dengan kulit bagaikan emas; Dengan penampilan yang begitu baik, Apa yang engkau harapkan dari kehidupan pertapaan?

  5. Engkau layak menjadi seorang raja, Seorang raja pemutar-roda, seekor banteng di tengah-tengah para pahlawan, Pemenang di empat penjuru, Raja seluruh India.

  6. Para prajurit, raja-raja kecil, dan raja-raja besar Adalah para pengikutmu Engkau adalah raja di atas para raja dan raja umat manusia – Tuntutlah kerajaanmu, Gotama!”

  7. “Sela, Aku adalah seorang raja, Sang Bhagavā berkata kepada Sela, “Raja Dhamma yang tiada bandingnya. Dengan Dhamma aku memutar roda, Roda yang tidak dapat dibalikkan.”

  8. “Engkau mengaku tercerahkan,” Sela sang brahmana berkata, “Raja Dhamma yang tiada bandingnya. ‘Dengan Dhamma aku memutar roda,’ Itu adalah apa yang Engkau katakan, Gotama.

  9. Siapakah jenderal Sang Bhagavā, Siswa yang mengikuti Sang Guru? Siapakah yang menjaga berputarnya Roda Dhamma yang Engkau putar?”

  10. “Aku memutar Roda,” Sang Bhagavā berkata kepada Sela, “Roda Dhamma yang tiada bandingnya. Sāriputta, yang mengikuti teladan Sang Tathāgata Menjaganya tetap berputar.

  11. Apa yang harus diketahui telah diketahui; Apa yang harus dikembangkan telah dikembangkan; Aku telah meninggalkan apa yang harus ditinggalkan; Oleh karena itu, Brahmana, Aku adalah seorang Buddha.

  12. Usirlah keragu-raguanmu terhadapKu; Tetapkan pikiranmu, Brahmana! Adalah sulit untuk dapat Melihat para Buddha.

  13. Aku adalah seorang yang kemunculannya Sulit ditemukan di dunia ini; Aku adalah seorang Buddha, Brahmana, Pencabut anak panah yang tiada bandingnya.

  14. Suci, tak tertandingi, Penggilas bala tentara Māra; Setelah menaklukkan semua musuh, Aku bergembira, tidak takut terhadap apapun di segala penjuru.”

  15. “Dengarlah, Tuan-tuan, pada apa, Yang dikatakan oleh Sang Bijaksana. Pencabut anak panah, pahlawan besar, Mengaum bagaikan seekor singa di hutan.

  16. Suci, tak tertandingi, Penggilas bala tentara Māra; Siapakah yang dapat melihatnya dan tidak berkeyakinan, Bahkan seseorang yang kodratnya gelap?

  17. Mereka yang menginginkan boleh mengikuti aku; Mereka yang tidak menginginkan boleh pergi. Di sini juga, aku akan meninggalkan keduniawian, Di hadapan Sang Bijaksana Agung.”

  18. “Jika, Tuan, engkau menerima Ajaran Sang Buddha, Maka kami juga akan meninggalkan keduniawian Di hadapan Sang Bijaksana Agung.”

  19. Tiga ratus brahmana ini Dengan tangan dirangkapkan dalam añjalī, bertanya: “Bolehkah kami menjalani kehidupan suci Di hadapanmu, Bhagavā?”

  20. “Kehidupan suci telah dibabarkan dengan baik,” Sang Buddha berkata kepada Sela, “Terlihat jelas dalam kehidupan ini, tanpa menunda, Di dalamnya pelepasan keduniawian tidaklah sia-sia, Bagi seorang yang tekun dalam latihan.”

  21. “Ini adalah hari ke delapan, O Yang Bijaksana, Sejak kami mendatangiMu untuk mendapatkan perlindungan. Dalam tujuh hari, Bhagavā, Kami telah dijinakkan di dalam ajaranMu.

  22. Engkau adalah Sang Buddha, Engkau adalah Sang Guru Engkau adalah Sang Bijaksana yang telah menaklukkan Māra; Engkau telah memotong kecenderungan-kecenderungan tersembunyi, Dan setelah Engkau menyeberang, Engkau membawa orang-orang menyeberang.

  23. Engkau telah melampaui kemelekatan-kemelekatan, KekotoranMu telah tercabik-cabik; Tanpa mencengkeram, bagaikan seekor singa, Engkau telah meninggalkan ketakutan dan kegentaran.

  24. Tiga ratus bhikkhu ini Berdiri dengan tangan bersikap añjalī: Ulurkan kakiMu, Pahlawan besar, Biarkan makhluk-makhluk perkasa ini menghormati Sang Guru.”

  1. Aku menunggangi leher seekor gajah, Mengenakan pakaian yang halus, Aku memakan bubur beras Dengan kuah daging murni.

  2. Hari ini aku beruntung, dengan gigih, Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  3. Mengenakan kain buruk, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  4. Hidup dari dana makanan, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa menggenggam.

  5. Memiliki hanya tiga jubah, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  6. Berjalan menerima dana makanan dari rumah ke rumah Tanpa kecuali, dengan gigih, Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  7. Duduk sendirian, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  8. Memakan hanya apa yang dimasukkan ke dalam mangkuk, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  9. Tidak pernah terlambat makan, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  10. Menetap di dalam hutan, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  11. Menetap di bawah pohon, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  12. Menetap di ruang terbuka, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  13. Menetap di tanah pemakaman, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  14. Menerima tempat duduk apapun yang diberikan, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  15. Tanpa tidur berbaring, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  16. Memiliki sedikit keinginan, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  17. Puas, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  18. Terasing, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  19. Tidak bersosialisasi, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  20. Bersemangat, dengan gigih Bahagia dengan sisa makanan di mangkukku; Bhaddiya, putra Godhā, Berlatih jhāna tanpa mencengkeram.

  21. Menolak mangkuk perunggu yang mahal, Dan mangkuk emas yang berharga juga, Aku mengambil mangkuk tanah: Ini adalah penahbisanku yang ke dua.

  22. Sebelumnya aku menetap di dalam benteng Dikelilingi tembok-tembok tinggi, Dengan menara dan gerbang yang kokoh, Dan dijaga oleh para prajurit berpedang – Dan aku gemetar ketakutan.

  23. Hari ini aku beruntung, tidak gemetar, Dengan ketakutan dan kegentaran ditinggalkan Bhaddiya, putra Godhā, Telah memsuki hutan dan berlatih jhāna.

  24. Tegak dalam segala latihan moralitas, Mengembangkan perhatian dan pemahaman, Secara bertahap aku mencapai Akhir segala belenggu.

  1. “Petapa, Engkau sedang berjalan, Namun engkau berkata ‘Aku berdiri diam’; Dan aku berdiri diam, namun engkau mengatakan tidak. Aku bertanya kepadaMu, Petapa: Mengapa Engkau berdiri diam dan aku tidak?”

  2. “Aṅgulimāla, Aku selalu berdiri diam – Aku telah menghentikan kekejaman terhadap semua makhluk hidup. Tetapi engkau tidak memiliki pengekangan terhadap makhluk-makhluk hidup; Itulah sebabnya mengapa Aku berdiri diam dan engkau tidak.”

  3. “Telah lama sejak seorang petapa, Seorang bijaksana agung yang kuhormati, Memasuki hutan besar ini. Sekarang setelah aku mendengar syair DhammaMu, Aku akan melepaskan seribu kejahatan.”

  4. Dengan kata-kata ini, Penjahat itu melemparkan pedang dan senjatanya Ke dalam lubang, celah, jurang. Di sana, ia bersujud di kaki Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan, Dan memohon pelepasan keduniawian kepada Sang Buddha.

  5. Kemudian Sang Buddha, Sang Bijaksana yang penuh belas kasih, Sang Guru dunia bersama dengan para dewa, Berkata kepadanya,”Marilah, bhikkhu!” Ini cukup baginya untuk menjadi seorang bhikkhu.

  6. “Siapapun yang lengah sebelumnya, Dan setelah itu tidak lagi, Menerangi dunia ini, Bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

  7. Seorang yang perbuatan-perbuatan buruknya Terhalang oleh perbuatan terampil, Menerangi dunia ini, Bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

  8. Bhikkhu muda ini Yang menekuni ajaran Sang Buddha, Menerangi dunia ini, Bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

  9. Semoga musuh-musuhku mendengarkan khotbah Dhamma! Semoga musuh-musuhku Menekuni ajaran Buddha! Semoga musuh-musuhku bergaul semampu mereka, Dengan mereka yang tegak dalam Dhamma!

  10. Semoga musuh-musuhku mendengar Dhamma pada saat yang sesuai, Dari mereka yang berbicara tentang penerimaan, Memuji kerukunan; Dan semoga mereka berlatih sesuai itu!

  11. Mereka pasti tidak akan mencelakai Aku atau orang lain; Melainkan akan mencapai kedamaian tertinggi, Menjaga makhluk-makhluk yang kuat maupun yang lemah.

  12. Ahli pengairan mengalirkan air, Pembuat anak panah membentuk anak panah, Tukang kayu membentuk kayu; Mereka yang disiplin menjinakkan diri mereka sendiri.

  13. Beberapa orang menjinakkan dengan tongkat, Dengan galah berkait atau cemeti; Tetapi Yang Seimbang menjinakkan aku Tanpa tongkat atau pedang.

  14. Namaku adalah ‘Tak Berbahaya’, Walaupun aku dulu berbahaya. Hari ini namaku sudah benar, Karena aku tidak mencelakai siapapun.

  15. Aku dulu adalah seorang penjahat Aṅgulimala yang terkenal jahat. Tersapu dalam banjir besar, Aku mendatangi Buddha sebagai perlindungan.

  16. Aku terbiasa bertangan darah, Aṅgulimāla yang terkenal jahat. Lihatlah pencarian perlindunganku – Aku telah melepaskan kemelekatan untuk terlahir kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  17. Aku telah melakukan banyak perbuatan Yang mengarah menuju tujuan kelahiran yang buruk. Aku telah mengalami akibat perbuatanku, Oleh karena itu aku memakan makananku bebas dari utang.

  18. Orang-orang dungu dan kurang cerdas Menekuni kelengahan. Tetapi orang-orang cerdas melindungi ketekunan Sebagai harta terbaik mereka.

  19. Jangan menekuni kelengahan, Juga jangan bersenang dalam hubungan seksual. Jika engkau tekun dan berlatih jhāna Engkau akan mencapai kebahagiaan tertinggi.

  20. Disambut, bukan tidak disambut, Nasihat yang kuperoleh adalah baik. Di antara segala sesuatu yang dibagikan, Aku menemukan yang terbaik.

  21. Disambut, bukan tidak disambut, Nasihat yang kuperoleh adalah baik. Aku telah mencapai tiga pengetahuan, Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  22. Di dalam hutan, di bawah pohon, Di gunung, atau di dalam gua; Pada masa itu, di manapun aku berdiri, Pikiranku gelisah.

  23. Tetapi sekarang aku berbaring dengan bahagia dan berdiri dengan bahagia, Aku menjalani kehidupanku dengan bahagia, Di luar jangkauan Māra; Sang Guru berbelas kasihan padaku.

  24. Aku dulu berasal dari kasta brahmana, Terlahir tinggi dari kedua belah pihak, Sekarang aku adalah putra dari Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan, Sang Guru, Sang Raja Dhamma.

  25. Aku bebas dari ketagihan, tanpa cengkeraman, Pintu-pintu indriaku terjaga dan terkekang dengan baik. Aku telah menghancurkan akar kesengsaraan, Dan mencapai akhir kekotoran.

  26. Aku telah melayani Sang Guru Dan memenuhi ajaran Sang Buddha. Beban berat telah diturunkan, Aku telah melepaskan kemelekatan Untuk terlahir kembali ke dalam kehidupan apapun juga.”

  1. Dengan meninggalkan ibu dan ayahku, Serta saudari, kerabat, dan saudara; Dengan meninggalkan kelima jenis kenikmatan indria, Anuruddha mempraktikkan jhāna.

  2. Dikelilingi oleh lagu dan tarian, Dibangunkan oleh canang dan gong, Ia tidak menemukan kemurnian, Sewaktu bersenang dalam kekuasaan Māra.

  3. Tetapi ia telah melampaui semua itu, Dan bersenang dalam ajaran Sang Buddha. Setelah menyeberangi seluruh banjir, Anuruddha mempraktikkan jhāna.

  4. Pemandangan, suara, rasa kecapan, bebauan; Sentuhan yang menyenangkan pikiran. Setelah menyeberangi semua ini, Anuruddha mempraktikkan jhāna

  5. Sang bijaksana kembali dari perjalanan menerima dana makanan, Sendirian, tanpa teman. Mencari kain-kain kotor di tumpukan sampah, Anuruddha adalah tanpa kekotoran.

  6. Sang bijaksana, Memilih potongan-potongan kain kotor dari tumpukan sampah; Ia memungutnya, mencuci, mencelup, dan mengenakannya; Anuruddha adalah tanpa kekotoran.

  7. Prinsip-prinsip seseorang Yang memiliki banyak keinginan dan tidak puas, Yang bersosialisasi dan angkuh, Adalah jahat dan rusak.

  8. Tetapi seseorang yang penuh perhatian, dan memiliki sedikit keinginan, Puas dan tidak gelisah, Bersenang dalam keterasingan, gembira, Selalu teguh dan bersemangat;

  9. Prinsip-prinsip mereka adalah terampil, Mengarah menuju pencerahan; Mereka adalah tanpa kekotoran – Demikianlah dikatakan oleh Sang Bijaksana Agung.

  10. Mengetahui pikiranku, Guru yang tiada bandingnya di dunia Mendatangiku dalam jasmani-ciptaan-pikiranNya, Menggunakan kekuatan-batinNya.

  11. Ketika aku berpikir demikian Beliau mengajariku lebih banyak lagi Sang Buddha, Bersenang dalam kebebasan dari proliferasi, Mengajarkan hal itu kepadaku.

  12. Dengan memahami Dhamma, Aku hidup bahagia di dalam ajaran. Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  13. Selama lima puluh lima tahun terakhir Aku tidak tidur berbaring; Dua puluh lima tahun telah berlalu Sejak kantuk tercabut.

  14. Yang seimbang, dengan batin yang kokoh, Tidak bernapas; Tidak terganggu, berkomitmen pada kedamaian, Sang Petapa telah merealisasikan nibbāna.

  15. Dengan pikiran positif Ia menahankan perasaan-perasaan yang menyakitkan; Kebebasan batinnya Bagaikan padamnya lampu.

  16. Sekarang sentuhan-sentuhan ini dan empat lainnya Adalah yang terakhir yang dialami oleh Sang Bijaksana; Juga tidak akan ada fenomena pikiran lainnya Karena Sang Buddha telah merealisasikan nibbāna.

  17. Penenun jaring, sekarang tidak ada lagi kehidupan masa depan Di tengah-tengah para dewa. Transmigrasi melalui kelahiran demi kelahiran telah usai, Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  18. Siapapun yang dalam sekejap mengetahui seribu dunia, Bersama dengan alam Brahmā; Bhikkhu itu, seorang ahli kekuatan batin, Mengetahui kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk, Bahkan melihat para dewa pada saat itu.

  19. Di masa lalu aku adalah Annabhāra, Seorang miskin pembawa pakan ternak. Aku memberikan persembahan Kepada petapa termasyhur, Upariṭṭha.

  20. Kemudian aku terlahir dalam suku Sakya, Di mana aku dikenal sebagai “Anuruddha”. Dikelilingi oleh lagu dan tarian, Aku terbangun oleh canang dan gong.

  21. Kemudian aku melihat Sang Buddha Sang Guru, yang tanpa ketakutan dari arah manapun; Memenuhi pikiranku dengan keyakinan pada Beliau, Aku meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah.

  22. Aku mengetahui kehidupan lampauku, Di mana aku dulu menetap – Aku terlahir sebagai Sakka, Dan berdiam di antara para dewa Tāvatiṃsa.

  23. Tujuh kali aku menjadi raja manusia Memerintah sebuah kerajaan, Pemenang di empat penjuru, Raja seluruh India. Tanpa kekejaman atau pedang, Aku memerintah dengan kebaikan.

  24. Tujuh di sini, tujuh di sana, Selama empat belas transmigrasi Aku mengingat kehidupan lampauku; Pada masa itu aku berdiam di alam para dewa.

  25. Aku telah memperoleh ketenangan sepenuhnya Dalam samādhi berfaktor lima; Damai, tenang, Mata-batinku murni.

  26. Kokoh dalam jhāna berfaktor lima, Aku mengetahui kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk, Kedatangan dan kepergian mreka, Kehidupan mereka dalam kondisi ini dan itu.

  27. Aku telah melayani Sang Guru Dan memenuhi ajaran Sang Buddha. Beban berat telah diturunkan, Aku telah melepaskan kemelekatan untuk terlahir kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  28. Di desa Vajji di Veḷuva, Di pengujung hidupku, Di bawah kerimbunan pepohonan bambu, Aku akan merealisasikan nibbāna tanpa kekotoran.

  1. Sewaktu sang petapa mempraktikkan jhāna, Duduk dalam keterasingan, terpusat, Di hutan yang penuh dengan bunga, Pemikiran ini muncul padanya:

  2. “Perilaku para bhikkhu Masa kini tampaknya berbeda Dengan ketika Sang Raja Dunia, Yang terbaik di antara manusia, masih ada.

  3. Jubah mereka hanya untuk menutupi bagian pribadi, Dan untuk melindungi dari dingin dan angin; Mereka makan secukupnya, Puas dengan apapun yang diberikan.

  4. Apakah halus atau kasar, Sedikit atau banyak, Mereka makan hanya sekedar untuk bertahan hidup, Tanpa serakah atau rakus.

  5. Mereka tidak sangat menginginkan Benda-benda kebutuhan hidup, Seperti tonik dan kebutuhan lainnya, Seperti mereka menginginkan akhir kekotoran.

  6. Di dalam hutan, di bawah pepohonan, Di dalam gua kecil dan besar, Berkomitmen pada keterasingan, Mereka hidup dengan itu sebagai tujuan akhir.

  7. Mereka terbiasa dengan hal-hal sederhana, Dan mudah dilayani, Lembut, batin mereka tidak membandel, Tak tercela, tak banyak bicara, Batin mereka terarah pada tujuan.

  8. Dengan cara inilah mereka menginspirasi keyakinan, Dalam gerakan, cara makan, dan praktik mereka; Tata-laku mereka halus Bagaikan aliran minyak.

  9. Dengan berakhirnya segala kekotoran, Para bhikkhu senior itu sekarang telah merealisasikan nibbāna; Mereka adalah para meditator besar dan penolong besar – Sedikit yang seperti mereka pada masa kini.

  10. Dengan berakhirnya Prinsip-prinsip kebaikan dan pemahaman yang baik, Ajaran Sang Penakluk, Yang penuh dengan kualitas-kuliatas baik, telah hancur berantakan.

  11. Sekarang adalah musim Bagi Prinsip-prinsip buruk dan kekotoran. Mereka yang siap untuk keterasingan Adalah apa yang tersisa dari Dhamma sejati.

  12. Ketika mereka tumbuh, kekotoran-kekotoran Menguasai banyak orang; Mereka bermain-main dengan orang-orang dungu, aku percaya, Bagaikan setan bermain-main dengan orang-orang gila.

  13. Dikuasai oleh kekotoran-kekotoran, Mereka berlarian kesana-kemari Di antara penyebab-penyebab kekotoran, Seolah-olah mereka menyatakan perang dengan diri mereka sendiri.

  14. Setelah meninggalkan Dhamma sejati, Mereka saling berdebat; Mengikuti pandangan-pandangan salah Mereka berpikir, ‘Ini lebih baik.’

  15. Mereka meninggalkan harta kekayaan, Anak-anak, dan istri untuk meninggalkan keduniawian; Tetapi kemudian mereka melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan, Demi sesendok kecil dana makanan.

  16. Mereka makan hingga perut mereka penuh, Dan kemudian mereka berbaring telentang untuk tidur. Ketika mereka terjaga kembali, mereka terus berbicara, Jenis pembicaraan yang dicela Sang Guru.

  17. Menghargai segala seni dan keterampilan, Mereka berlatih di dalamnya; Tidak tenang dalam batin, Mereka berpikir, ‘Ini adalah tujuan dari kehidupan pertapaan’.

  18. Mereka memberikan tanah, minyak, dan bedak, Air, tempat tinggal, dan makanan Untuk para perumah tangga, Mengharapkan lebih dari itu sebagai imbalan.

  19. Serta tusuk-gigi, buah kawista, Bunga-bunga, makanan, Dana makanan yang telah dimasak, Buah mangga dan kemloko.

  20. Dalam hal pengobatan mereka seperti dokter, Dalam hal bisnis seperti perumah tangga, Dalam hal riasan seperti pelacur, Dalam hal kekuasaan seperti raja

  21. Kecurangan, tipuan, Saksi palsu, kelicikan: Mengunakan banyak rencana, Mereka menikmati benda-benda materi.

  22. Berpura-pura, memikirkan cara, dan merencanakan, Dengan cara ini Mereka menimbun banyak harta kekayaan Demi penghidupan mereka.

  23. Mereka mengumpulkan komunitas Demi bisnis daripada demi Dhamma. Mereka mengajarkan Dhamma kepada orang lain Demi perolehan, bukan demi tujuan.

  24. Mereka yang di luar Saṅgha Bertengkar demi harta Saṅgha. Mereka tidak tahu malu, dan tidak peduli Bahwa mereka hidup dari harta orang lain.

  25. Beberapa orang yang mencukur rambut Dan mengenakan jubah luar, Tidak menekuni praktik, Melainkan hanya ingin dihormati, Tergila-gila dengan harta dan penghormatan.

  26. Ketika sudah terjadi seperti ini, Tidaklah mudah pada masa kini Untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan, Atau mempertahankan apa yang telah direalisasikan.

  27. Seseorang yang dengan perhatian ditegakkan Dapat berjalan tanpa sepatu Bahkan di tanah berduri; Itu adalah bagaimana seorang bijaksana berjalan di desa.

  28. Dengan mengingat para meditator masa lalu, Dan mengingat perilaku mereka; Bahkan di kemudian hari, Adalah masih mungkin untuk merealisasikan tanpa-kematian.”

  29. Itu adalah apa yang Sang Petapa, yang indria-indriaNya Terkembang sempurna, katakan di hutan pepohonan sāla. Orang suci itu, Sang Bijaksana, telah merealisasikan nibbāna: Mengakhiri kelahiran kembali ke dalam kehidupan apapun juga.