1. Melihat banyak yang menginspirasi keyakinan, Secara pribadi terkembang dan terkekang dengan baik, Sang bijaksana Paṇḍarasagotta Bertanya kepada seseorang yang dikenal sebagai Phussa

  2. “Di masa depan, Keinginan dan motivasi Dan perilaku apakah yang akan dimiliki orang-orang? Sudilah menjawab pertanyaanku.”

  3. “Dengarkanlah kata-kataku O Yang Bijaksana yang dikenal sebagai Paṇḍarasa: Dan ingatlah dengan seksama, Aku akan menjelaskan masa depan.

  4. Di masa depan ada banyak yang akan Marah dan bermusuhan, Merendahkan, keras kepala, dan berkhianat, Iri-hati, dan menganut pandangan-pandangan berbeda.

  5. Menganggap bahwa mereka memahami dalamnya Dhamma, Mereka tetap berada di pantai sini. Dangkal dan tidak menghargai Dhamma, Mereka tidak saling menghormati satu sama lain.

  6. Di masa depan, Banyak bahaya yang akan muncul di dunia. Orang-orang dungu akan mengotori Dhamma yang telah dibabarkan dengan baik.

  7. Walaupun tidak memiliki kualitas-kualitas baik, Yang tidak kompeten, banyak bicara, Dan tidak terpelajar, Akan berkuasa dalam sidang-sidang Saṅgha.

  8. Walaupun memiliki kualitas-kualitas baik, Yang kompeten, teliti, Dan tidak memihak, Akan menjadi lemah dalam sidang-sidang Saṅgha.

  9. Di masa depan, orang-orang dungu akan menerima Emas dan perak, Lahan dan harta kekayaan, kambing dan domba, Dan pelayan-pelayan laki-laki dan perempuan.

  10. Orang-orang dungu yang mencari-cari kesalahan orang lain, Namun mereka sendiri tidak memiliki moralitas, Akan berkeliaran, kurang ajar, Bagaikan binatang buas yang suka melawan.

  11. Mereka angkuh, Terbungkus jubah berwarna biru; Penuh tipuan, keras kepala, suka berbicara, kasar, Mereka akan mengembara seolah-olah mereka adalah orang-orang mulia.

  12. Dengan rambut halus dengan minyak, Dengan gelisah, mata mereka dirias dengan pewarna garis mata, Mereka berkeliaran di jalan-jalan raya, Terbungkus jubah berwarna gading.

  13. Mereka akan menyukai pakaian putih, Dan mereka tidak menyukai jubah celupan berwarna jingga, Panji para arahant, Yang dikenakan tanpa merasa jijik oleh yang terbebaskan.

  14. Mereka menginginkan banyak hal, Dan malas, tidak memiliki kegigihan; Bosan dengan hutan, Mereka akan menetap di desa-desa.

  15. Karena tidak terkekang, mereka akan bergaul dengan Mereka yang memperoleh banyak hal, Dan yang selalu menikmati penghidupan salah, Mengikuti teladan mereka.

  16. Mereka tidak akan menghormati mereka Yang tidak memperoleh banyak hal, Dan mereka tidak bergaul dengan para bijaksana, Walaupun mereka sangat ramah.

  17. Meremehkan panji mereka sendiri, Yang dicelup dengan warna tembaga, Beberapa orang akan mengenakan panji putih Dari pengikut agama lain.

  18. Kemudian mereka tidak memiliki penghormatan Pada jubah jingga; Para bhikkhu tidak akan merefleksikan Sifat dari jubah jingga.

  19. Ketiadaan refleksi yang berlebihan ini Tidak terbayangkan bagi sang gajah, Yang dikuasai oleh penderitaan, Tertusuk anak panah, dan terluka.

  20. Kemudian sang gajah bergading-enam, Melihat panji para arahant berwarna gelap, Segera mengucapkan syair-syair ini Yang berhubungan dengan tujuan.

  21. Yang tidak murni Yang akan mengenakan jubah jingga Tanpa menjinakkan dan tanpa kebenaran, Adalah tidak layak mengenakan jubah jingga.

  22. Siapapun yang telah menolak ketidak-murnian, Memiliki moralitas, Memiliki kebenaran dan jinak, Mereka sesungguhnya layak mengenakan jubah jingga.

  23. Hampa dari moralitas, tidak cerdas, Liar, melakukan apapun yang mereka suka, Pikiran mereka berkeliaran ke segala tempat, lamban Mereka tidak layak mengenakan jubah jingga.

  24. Siapapun yang memiliki moralitas, Bebas dari nafsu, memiliki samādhi, Kehendak batin mereka murni, Mereka sungguh layak mengenakan jubah jingga.

  25. Si dungu yang sombong, angkuh, Yang tidak memiliki moralitas, Adalah layak mengenakan jubah putih – Apalah gunanya jubah jingga bagi mereka?

  26. Di masa depan, para bhikkhu dan bhikkhunī Dengan batin yang kotor, tanpa penghormatan, Akan meremehkan mereka Yang memiliki batin cinta-kasih.

  27. Walaupun dilatih dalam hal mengenakan jubah Oleh para bhikkhu senior, Orang-orang yang tidak cerdas tidak akan mendengar, Liar, melakukan apa yang mereka suka.

  28. Dengan sikap latihan seperti itu, Orang-orang dungu itu tidak saling menghormati satu sama lain, Atau memperhatikan guru-guru mereka, Bagaikan kuda liar dengan kusirnya.

  29. Demikianlah, di masa depan, Ini akan menjadi praktik Para bhikkhu dan bhikkhunī, Di kemudian hari.

  30. Sebelum masa depan yang menakutkan ini tiba, Bersikaplah mudah dinasihati, Halus dalam ucapan, Dan saling menghormati satu sama lain.

  31. Milikilah batin yang penuh cinta kasih dan belas kasihan, Dan jaga moralitasmu; Bersemangatlah, teguh, Dan selalu berusaha keras.

  32. Melihat kelengahan sebagai menakutkan, Dan ketekunan sebagai keamanan, Kembangkanlah jalan berunsur delapan, Realisasikan tanpa-kematian.”

  1. “Seorang yang penuh perhatian adalah bagaikan orang yang berperilaku baik, Atau bagaikan orang yang damai; Seorang yang tekun bagaikan orang yang memiliki niat baik, Yang mempraktikkan jhāna; Bahagia di dalam batin, memiliki samādhi, Menyendiri, puas; itu adalah apa yang mereka sebut seorang bhikkhu.

  2. Ketika memakan makanan segar atau makanan kering, Seseorang seharusnya tidak makan berlebihan. Seorang bhikkhu harus mengembara dengan penuh perhatian, Dengan perut kosong, memakan sedikit makanan.

  3. Empat atau lima suap sebelum engkau kenyang, Minumlah air; Ini cukup untuk hidup nyaman Bagi seorang bhikkhu yang teguh.

  4. Terbalut dengan jubah yang sesuai, Yang memang untuk tujuan ini; Ini cukup untuk hidup nyaman Bagi seorang bhikkhu yang teguh.

  5. Ketika duduk bersila, Hujan tidak membasahi lututnya; Ini cukup untuk hidup nyaman Bagi seorang bhikkhu yang teguh.

  6. Ketika engkau melihat kebahagiaan sebagai penderitaan, Dan penderitaan sebagai anak panah, Maka engkau tahu tidak ada perbedaan antara keduanya – Dengan apakah engkau terikat pada dunia? Akan menjadi apakah engkau?

  7. Ketika engkau berpikir, ‘Semoga aku tidak bergaul Dengan orang-orang yang berkeinginan buruk, Malas, tidak bersemangat Yang sedikit belajar, tidak sopan’ – Dengan apakah engkau terikat pada dunia? Akan menjadi apakah engkau?

  8. Seorang bijaksana yang terpelajar, Memiliki moralitas, Menekuni ketenangan batin – Biarlah mereka memimpin di depan.

  9. Siapapun yang menyukai proliferasi, Binatang liar yang bersenang dalam proliferasi, Adalah jauh dari nibbāna, Keamanan tertinggi dari kuk.

  10. Siapapun yang telah meninggalkan proliferasi, Bersenang dalam jalan yang bebas dari proliferasi, Adalah terberkahi dengan nibbāna, Keamanan tak tertandingi dari gandar.

  11. Apakah di desa atau di dalam hutan, Di daratan rendah atau tinggi, Di manapun para arahant menetap Tempat itu adalah menyenangkan.

  12. Hutan sungguh indah! Di mana banyak orang tidak menyukainya, Mereka yang terbebas dari nafsu bersenang di sana, Karena mereka tidak mencari kenikmatan indriawi.

  13. Ketika engkau melihat seseorang yang melihat kesalahanmu, Seorang bijaksana yang menegurmu, Engkau harus mendekati orang cerdas demikian, Seolah-olah mereka sedang mengungkapkan harta tersembunyi. Dengan mendekati orang demikian. Segala sesuatu akan menjadi bertambah baik, bukan bertambah buruk.

  14. Engkau harus menasihati, engkau harus mengingatkan; Engkau harus mengekang kekasaran; Karena orang seperti itu dicintai oleh mereka yang penuh perhatian, Bukan dicintai oleh orang yang tanpa perhatian.

  15. Sang Bhagavā, Sang Buddha, Sang Bijaksana Sedang mengajar Dhamma kepada orang lain. Ketika Dhamma sedang diajarkan Aku mendengar dengan penuh perhatian, untuk memahami maknanya – Aku mendengarkannya dengan tidak sia-sia, Aku terbebaskan, tanpa kekotoran.

  16. Bukan demi pengetahuan kehidupan lampau, Juga bukan demi mata-dewa; Bukan demi kekuatan batin, Atau membaca pikiran makhluk lain, Juga bukan demi mengetahui kematian dan Kelahiran kembali makhluk-makhluk lain; Bukan demi memurnikan kekuatan telinga-dewa, Maka aku memiliki keteguhan.”

  17. “Satu-satunya naungan baginya adalah bawah pohon; Dengan rambut tercukur, terbungkus jubah luar, Bhikkhu senior itu, yang terunggul dalam kebijaksanaan, Upatissa berlatih jhāna.

  18. Memasuki keadaan meditasi tanpa pemikiran, Seorang siswa Sang Buddha Pada saat itu terberkahi Dengan keheningan mulia.

  19. Bagaikan gunung batu Yang tak tergoyahkan dan kokoh tertanam; Demikian pula ketika delusi berakhir, Seorang bhikkhu, bagaikan gunung, tidak gemetar.”

  20. “Bagi seorang yang tanpa cela Yang selalu mencari kemurnian, Bahkan kejahatan seujung rambut Tampak sebesar awan.

  21. Aku tidak mendambakan kematian; Aku tidak mendambakan kehidupan; Aku akan membaringkan tubuh ini, Sadar dan penuh perhatian.”

  22. Aku tidak mendambakan kematian; Aku tidak mendambakan kehidupan; Aku menunggu waktuku, Bagaikan seorang pekerja menunggu upahnya.

  23. “Baik sebelum mau pun sesudah Adalah kematian, bukan tanpa-kematian, Berlatihlah, jangan binasa – Jangan biarkan waktu melampauimu.

  24. Seperti halnya sebuah kota perbatasan, Yang dijaga di dalam dan di luar, Demikian pula engkau harus menjaga dirimu – Jangan biarkan waktu melampauimu. Mereka yang membuang-buang waktu Bersedih ketika mereka berakhir di neraka.”

  25. “Tenang dan hening, Bijaksana dalam memberi nasihat, tidak gelisah; Ia mengguncang kualitas-kualitas buruk Bagaikan angin mengguncang dedaunan di pohon.

  26. “Tenang dan hening, Bijaksana dalam memberi nasihat, tidak gelisah; Ia mencabut kualitas-kualitas buruk Bagaikan angin mencabut dedaunan dari pohon.

  27. Tenang dan tanpa berduka, Jernih dan tidak terganggu, Bermoral baik dan cerdas: Engkau harus mengakhiri penderitaan.”

  28. “Beberapa perumah tangga, Dan bahkan beberapa dari mereka yang meninggalkan keduniawian Adalah tidak dapat dipercaya. Bahkan beberapa yang baik kelak menjadi jahat; Sedangkan beberapa yang jahat menjadi baik.

  29. Keinginan indriawi, niat-buruk Ketumpulan dan kantuk, Kegelisahan, dan keragu-raguan: Ini adalah lima noda batin bagi seorang bhikkhu.

  30. Siapapun yang samādhi-nya tidak goyah, Tidak peduli apakah mereka Dihormati atau tidak, Adalah seorang yang hidup dengan tekun.

  31. Mereka secara rutin berlatih jhāna, Dengan pandangan terang halus ke dalam pandangan-pandangan; Bersenang dalam akhir cengkeraman, Mereka dikatakan sebagai orang yang baik.

  32. Samudra, bumi, Gunung-gunung, angin – Hal-hal ini tidak sebanding Dengan kebebasan menakjubkan Sang Guru.

  33. Ia adalah bhikkhu senior yang menjaga Roda Dhamma tetap berputar, Memiliki pengetahuan luas dan samādhi. Bagaikan tanah, bagaikan air, bagaikan api, Ia tidak tertarik juga tidak menolak.

  34. Ia telah mencapai kesempurnaan kebijaksanaan, Ia memiliki kecerdasan tinggi dan kearifan tinggi; Ia tidak bodoh, namun tampak bodoh; Ia selalu mengembara, padam.

  35. Aku telah melayani Sang Guru Dan memenuhi ajaran Sang Buddha. Beban berat telah diturunkan, Aku telah melepaskan kemelekatan Untuk terlahir kembali ke dalam kehidupan apapun juga.

  36. Berusahalah dengan tekun: Ini adalah nasihatku. Mari, sekarang aku akan merealisasikan nibbāna, Aku terbebaskan dalam segala cara.”

  1. “Seorang bijaksana tidak berteman Dengan orang yang memfitnah dan bermusuhan, Dengan orang yang kikir, atau orang yang bersenang Dalam kesusahan orang lain; Pergaulan dengan orang jahat adalah berbahaya.

  2. Orang bijaksana harus berteman Dengan orang yang berkeyakinan, yang menyenangkan, Mereka yang memiliki pemahaman, yang terpelajar; Pergaulan dengan orang baik adalah berkah.

  3. Lihatlah boneka khayal ini, Tumpukan luka, susunan tubuh, Berpenyakit, terobsesi, Tidak memiliki kestabilan.

  4. Lihatlah bentuk khayal ini, Dengan permata dan anting-anting; Tulang-belulangnya terbungkus kulit, Diperindah oleh pakaiannya.

  5. Kaki kemerahan Dan wajah berbedak Adalah cukup untuk memperdaya seorang dungu, Tetapi tidak untuk seorang pencari pantai seberang.

  6. Rambut dikepang delapan Dan pewarna garis mata Adalah cukup untuk memperdaya seorang dungu, Tetapi tidak untuk seorang pencari pantai seberang.

  7. Bagaikan kotak rias yang dihias, Tubuh menjijikkan ini yang dihias Adalah cukup untuk memperdaya seorang dungu, Tetapi tidak untuk seorang pencari pantai seberang.

  8. Gotama adalah terpelajar, seorang pembabar yang cemerlang, Pelayan Sang Buddha itu. Tidak terbelenggu, dengan beban dikesampingkan, Ia berbaring untuk tidur.

  9. Tidak terbelenggu, kekotoran-kekotorannya telah berakhir, Ia telah melampaui kemelekatan, Dan telah mencapai nibbāna. Ia membawa tubuh terakhirnya, Melampaui kelahiran dan kematian.

  10. Gotama, yang padanya ajaran Sang Buddha, Kerabat Matahari, ditegakkan, Berdiri di atas sang jalan Yang mengarah menuju nibbāna.

  11. Aku mempelajari 82.000 dari Sang Buddha, Dan 2.000 dari para bhikkhu; 84.000 ini Adalah ajaran-ajaran yang telah kuhapalkan.

  12. Seorang yang sedikit belajar Menua bagaikan seekor sapi – Dagingnya tumbuh, Tetapi kebijaksanaannya tidak.

  13. Seorang terpelajar yang, karena pembelajarannya, Memandang rendah pada orang yang sedikit belajar, Bagiku tampak seperti Seorang buta yang memegang pelita.

  14. Engkau harus mengikuti seorang yang terpelajar – Jangan kehilangan apa yang telah engkau pelajari. Itu adalah akar kehidupan spiritual, Maka engkau harus menghapalkan Dhamma.

  15. Mengetahui urutan Dan makna dari ajaran, Terampil dalam interpretasi istilah-istilah, Ia menghapalkannya dengan baik, Dan kemudian memeriksa maknanya.

  16. Dengan menerima ajaran-ajaran, ia menjadi bersemangat; Dengan berusaha, ia menyelidiki Dhamma; Dengan berusaha pada waktu yang tepat, Ia tenang dalam batinnya.

  17. Jika engkau ingin memahami Dhamma, Maka engkau harus bergaul dengan jenis orang Yang terpelajar, dan telah menghapalkan Dhamma, Seorang siswa bijaksana dari Sang Buddha.

  18. Seorang bhikkhu yang terpelajar, dan telah menghapalkan Dhamma, Penjaga harta karun Sang Bijaksana Agung, Adalah seorang visioner bagi seluruh dunia. Patut dimuliakan, dan terpelajar

  19. Bersenang dalam Dhamma, menikmati Dhamma, Merefleksikan Dhamma, Mengingat Dhamma, Ia tidak mundur dalam Dhamma sejati.

  20. Ketika tubuhmu manja dan berat, Sementara sisa waktumu hampir habis; Serakah terhadap kenikmatan fisik, Bagaimana engkau dapat menemukan kebahagiaan sebagai seorang petapa?

  21. Semua arah tidak jelas! Dhamma tidak muncul padaku! Dengan meninggalnya sahabat baik kita, Semuanya tampak gelap.

  22. Jika sahabatmu telah meninggal dunia, Dan gurumu telah wafat dan berlalu, Maka tidak ada sahabat selain Perhatian pada jasmani.

  23. Yang lama telah meninggal dunia, Dan aku tidak mendapatkan yang baru. Hari ini aku bermeditasi sendirian Bagaikan burung berdiam nyaman dalam sangkarnya.”

  24. “Banyak tamu dari berbagai negeri Datang untuk bertemu denganku. Jangan halangi mereka, Biarkan kumpulan itu menemuiku.”

  25. “Banyak tamu dari berbagai negeri Datang untuk bertemu denganku. Sang Guru memberikan kesempatan bagi mereka, Sang Bijaksana tidak mencegah mereka.

  26. Selama 25 tahun Sejak aku menjadi yang masih berlatih, Tidak ada persepsi indriawi yang muncul padaku: Lihatlah keunggulan Dhamma!

  27. Selama 25 tahun Sejak aku menjadi yang masih berlatih, Tidak ada persepsi jahat yang muncul padaku: Lihatlah keunggulan Dhamma!

  28. Selama 25 tahun Aku melayani Sang Bhagavā Dengan perbuatan-perbuatan penuh cinta-kasih, Bagaikan bayangan yang tidak pernah pergi.

  29. Selama 25 tahun Aku melayani Sang Bhagavā Dengan ucapan-ucapan penuh cinta-kasih, Bagaikan bayangan yang tidak pernah pergi.

  30. Selama 25 tahun Aku melayani Sang Bhagavā Dengan pemikiran-pemikiran penuh cinta-kasih, Bagaikan bayangan yang tidak pernah pergi.

  31. Sewaktu Sang Buddha sedang bermeditasi berjalan, Aku bermeditasi berjalan di belakang Beliau. Ketika Beliau mengajarkan Dhamma, Pengetahuan muncul padaku.

  32. Aku adalah seorang yang masih berlatih, masih ada yang harus dilakukan! Batinku masih belum sempurna! Namun Sang Guru, yang begitu berbelas kasih padaku, Telah meninggal dunia menuju nibbāna.

  33. Kemudian terjadi kegemparan! Kemudian mereka merinding! Ketika Sang Buddha, yang memiliki segala kualitas, Meninggal dunia menuju nibbāna.”

  34. “Ānanda, yang terpelajar, Dan telah menghapalkan Dhamma, Penjaga harta karun Sang Bijaksana Agung, Seorang visioner bagi seluruh dunia, Telah meninggal dunia menuju nibbāna.

  35. Ia terpelajar, Dan telah menghapalkan Dhamma, Penjaga harta karun Sang Bijaksana Agung, Seorang visioner bagi seluruh dunia, Ketika segalanya hitam, ia menghalau kegelapan.

  36. Ia adalah sang bijaksana yang mengingat ajaran-ajaran, Dan menguasai urutannya, memegangnya erat-erat. Bhikkhu senior yang menghapalkan Dhamma, Ānanda adalah tambang permata.”

  37. “Aku telah melayani Sang Guru Dan memenuhi ajaran Sang Buddha. Beban berat telah diturunkan, Aku telah melepaskan kemelekatan untuk terlahir kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.”