1. Seseorang harus berlatih dengan baik dalam hal moralitas, Karena di dunia ini, ketika moralitas Dikembangkan dan dilatih dengan baik, Maka itu akan memberikan segala keberhasilan.

  2. Menginginkan tiga jenis kebahagiaan- Pujian, kemakmuran, Dan kebahagiaan di surga setelah meninggal dunia – Para bijaksana harus menjaga moralitas.

  3. Yang berperilaku baik memiliki banyak teman, Karena pengendalian diri mereka. Tetapi seseorang yang tanpa moralitas, berperilaku buruk, Menyingkirkan teman-temannya.

  4. Seseorang yang berperilaku buruk memiliki Reputasi buruk dan nama buruk. Seseorang yang bermoral selalu memiliki Reputasi baik, kemasyhuran, dan pujian.

  5. Moralitas adalah titik awal dan landasan; Ibu di depan Segala kualitas baik: Oleh karena itu kalian harus memurnikan moralitas.

  6. Moralitas adalah batasan dan pengekangan, Kenikmatan bagi batin; Tempat di mana semua Buddha menyeberang: Oleh karena itu engkau harus memurnikan moralitas.

  7. Moralitas adalah kekuatan tanpa tandingan; Moralitas adalah senjata terbaik; Moralitas adalah hiasan terindah; Moralitas adalah jubah tempur yang menakjubkan.

  8. Moralitas adalah jembatan yang kuat; Moralitas adalah aroma tanpa tandingan; Moralitas adalah wewangian terbaik, Yang menguar ke segala penjuru.

  9. Moralitas adalah perlengkapan terbaik; Moralitas adalah perbekalan tak tertandingi dalam perjalanan; Moralitas adalah kendaraan terbaik, Yang membawamu ke segala arah.

  10. Dalam kehidupan ini mereka dikritik; Setelah meninggal dunia mereka tidak berbahagia di alam rendah; Si dungu tidak berbahagia di mana pun, Karena mereka tidak memiliki moralitas.

  11. Dalam kehidupan ini mereka termasyhur; Setelah meninggal dunia mereka berbahagia di surga; Seseorang yang memiliki pemahaman berbahagia di manapun, Karena mereka memiliki moralitas.

  12. Moralitas adalah yang terbaik dalam hidup ini, Tetapi seseorang yang memiliki pemahaman adalah yang tertinggi Di antara manusia dan para dewa, Menaklukkan dengan moralitas dan pemahaman.

  1. Aku terlahir dalam keluarga rendah, Miskin, dan sedikit makanan. Pekerjaanku rendah – Aku membuang bunga-bunga layu.

  2. Dijauhi orang-orang, Aku tidak dihiraukan dan diperlakukan dengan jijik. Aku rendah hati, Dan menghormat banyak orang.

  3. Kemudian aku bertemu Sang Buddha, Yang dihormati oleh Saṅgha para bhikkhu, Pahlawan besar itu Memasuki ibukota Magadhā.

  4. Aku menurunkan galah pemikulku Dan mendekat untuk memberi hormat. Demi belas kasih padaku, Manusia tertinggi itu berdiri diam.

  5. Ketika aku telah bersujud di kaki Sang Guru, Aku berdiri di satu sisi, Dan memohon kepada Yang Termulia di antara semua makhluk Untuk memperoleh pelepasan keduniawian.

  6. Kemudian Sang Guru, karena bersimpati, Dan memiliki belas kasihan terhadap seluruh dunia, Berkata kepadaku, “Marilah, bhikkhu!” Itu adalah penahbisan penuh bagiku.

  7. Menetap sendirian di dalam hutan, Tanpa malas, Aku melakukan apa yang dikatakan oleh Sang Guru, Ketika Sang Penakluk menasihatiku.

  8. Pada jaga pertama malam itu, Aku mengingat kehidupan-kehidupan lampauku. Pada jaga pertengahan malam itu, Aku memurnikan mata-batinku. Pada jaga terakhir malam itu, Aku mencabik-cabik kumpulan kegelapan.

  9. Pada akhir malam itu, Menjelang matahari terbit, Indra dan Brahmā datang Dan bersujud kepadaku dengan tangan dalam sikap añjalī.

  10. “Hormat kepadamu, yang berdarah murni di antara manusia! Hormat kepadamu, yang tertinggi di antara manusia! Kekotoran-kekotoranmu telah berakhir – Engkau, Tuan, layak menerima persembahan.”

  11. Ketika Beliau melihatku dihormati Oleh kumpulan para dewa, Sang Guru tersenyum, Dan berkata sebagai berikut:

  12. “Melalui praktik keras dan melalui kehidupan suci, Melalui pengekangan dan dengan menjinakkan: Dengan ini seseorang menjadi suci, Ini adalah kesucian tertinggi.”