1. “Bagaikan seekor burung-ujjuhāna di musim hujan, Nak, adakah manfaat bagimu di dalam hutan? Kota Verambhā menyenangkan bagimu – Keterasingan adalah untuk para meditator.”

  2. “Seperti halnya angin di Verambhā Membuyarkan awan-awan selama musim hujan, Demikian pula kota membuyarkan Persepsi-persepsiku yang berhubungan dengan keterasingan.

  3. Seluruhnya hitam dan terlahir dari telur – Gagak itu yang hidup di tanah pemakaman Membangkitkan perhatianku, Yang berdasarkan atas kebosanan pada tubuh.

  4. Tidak terlindungi oleh orang lain, Juga tidak melindungi orang lain: Bhikkhu demikian tidur dengan bahagia, Tanpa mendambakan kenikmatan indriawi.

  5. Airnya jernih dan jurangnya lebar, Monyet-monyet dan rusa di sekeliling; berhiaskan dengan lumut lembab, Tebing bebatuan ini menyenangkanku!

  6. Aku berdiam di dalam hutan, Di gua-gua dan celah-celah, Dan tempat-tempat terpencil, Yang sering didatangi binatang buas.

  7. ‘Semoga makhluk-makhluk ini terbunuh! Semoga mereka dibantai! Semoga mereka menderita!’ – Aku tidak ingat pernah memiliki Kehendak penuh kebencian dan tidak mulia demikian.

  8. Aku telah melayani Sang Guru Dan memenuhi ajaran Sang Buddha. Beban berat telah diturunkan, Aku telah melepaskan kemelekatan Untuk terlahir kembali ke dalam kehidupan apa pun juga.

  9. Aku telah mencapai tujuan Yang karenanya aku meninggalkan keduniawian Dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah – Akhir dari segala belenggu.

  10. Aku tidak mendambakan kematian; Aku tidak mendambakan kehidupan; Aku menunggu waktuku, Bagaikan seorang pekerja menunggu upahnya.

  11. Aku tidak mendambakan kematian; Aku tidak mendambakan kehidupan; Aku menunggu waktuku, Sadar dan penuh perhatian.”