1. “Pepohonan sekarang berwarna jingga, Yang Mulia, Dedaunannya berguguran, dan siap untuk berbuah. Sungguh indah, seolah-olah terbakar; Pahlawan besar, masa ini penuh dengan rasa.

  2. Pepohonan yang bermekaran sungguh indah, Menguarkan aromanya ke sekeliling, di segala arah, Dedaunannya berguguran dan ingin berbuah, Pahlawan, sekarang waktunya untuk pergi dari sini.

  3. Tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, Yang Mulia, sekarang adalah musim yang menyenangkan untuk melakukan perjalanan. Biarlah para Sākiya dan Koḷiya menemuiMu, Menghadap ke Barat sewaktu menyeberangi sungai Rohiṇī.

  4. Dengan penuh harap, sawah dibajak; Benih ditanam dengan penuh harap; Dengan penuh harap, para pedagang melakukan perjalanan di lautan, Membawa banyak barang dagangan. Harapan yang karenanya aku berdiri di sini: Semoga terpenuhi!

  5. Lagi dan lagi, mereka menanam benih; Lagi dan lagi, raja para dewa menurunkan hujan; Lagi dan lagi, para petani membajak sawah; Lagi dan lagi, panen dihasilkan untuk negeri.

  6. Lagi dan lagi, para pengemis mengembara, Lagi dan lagi, para penyumbang memberi, Lagi dan lagi, ketika para penyumbang telah memberi, Lagi dan lagi, mereka pergi ke tempat mereka di surga.

  7. Seorang pahlawan dengan kebijaksanaan luas memurnikan tujuh generasi Keluarga dari mana mereka dilahirkan. Sakya, aku percaya engkau adalah raja di antara dari para raja, Karena engkau menjadi ayah dari seorang yang sungguh disebut seorang bijaksana.

  8. Ayah dari sang bijaksana besar itu bernama Suddhodana; Tetapi ibu Sang Buddha bernama Māyā. Setelah mengandung Sang Bodhisatta di rahimnya, Ia bergembira di surga Tiga Puluh Tiga.

  9. Ketika ia meninggal dunia dari sini, Ia diberkahi dengan kenikmatan indria surgawi; Bergembira dalam lima jenis kenikmatan indriawi, Gotamī dikelilingi oleh para dewa.”

  10. Aku adalah putra Sang Buddha, Aṅgīrasa yang tak tertandingi, yang seimbang – Aku menahankan yang tak tertahankan. Engkau, Sakya, adalah ayah dari ayahku; Gotama, Engkau adalah kakekku dalam Dhamma.”

  1. Jika tidak ada seorang pun Di depan atau pun di belakang, Adalah sangat menyenangkan, Berdiam sendirian di hutan.

  2. Marilah, aku akan pergi sendirian Ke hutan yang dipuji oleh Sang Buddha. Sungguh menyenangkan bagi seorang bhikkhu Berdiam sendirian dan teguh.

  3. Sendirian dan disiplin, Aku dengan cepat memasuki hutan yang indah itu, Yang memberikan kegembiraan bagi para meditator, Dan sering dikunjungi oleh gajah yang sedang berahi.

  4. Di Sītavana, yang penuh dengan bunga, Di dalam gua gunung yang sejuk, Aku membersihkan tubuhku Dan bermeditasi berjalan sendirian.

  5. Kapankah aku akan berdiam sendirian, Tanpa teman Di dalam hutan, yang indah, Tugasku selesai, bebas dari kekotoran?

  6. Ini adalah apa yang ingin kulakukan: Semoga keinginanku terpenuhi! Aku akan mewujudkannya sendiri: Tak seorang pun yang dapat melakukan tugas orang lain.

  7. Dengan mengencangkan jubah tempurku, Aku akan memasuki hutan. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini Hingga aku mencapai akhir kekotoran.

  8. Ketika angin sejuk bertiup, Dengan aroma harum, Aku akan memecahkan ketidaktahuan, Sambil duduk di puncak gunung.

  9. Di hutan yang diselimuti bunga-bunga, Di dalam gua yang sangat sejuk, Aku bersenang di Giribbaja, Bahagia dengan kebahagiaan kebebasan.

  10. Keinginanku terpenuhi Bagaikan bulan pada tanggal lima belas. Dengan sepenuhnya mengakhiri segala kekotoran, Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  1. Jika engkau mempersiapkan masa depan, Baik atau buruk, Maka mereka yang mencari kelemahanmu, Apakah musuh atau yang mengharapkan kebaikanmu, tidak akan menemukannya

  2. Seseorang yang telah memenuhi, mengembangkan, Dan secara bertahap memperkuat Perhatian pada Pernapasan Seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha: Mereka menerangi dunia, Bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

  3. Ya, batinku bersih, Tak terukur, dan terkembang dengan baik; Ditembus dan gembira – Memancar ke segala arah.

  4. Orang bijaksana bertahan hidup Bahkan setelah kehilangan kekayaan; Tetapi tanpa memperoleh kebijakanaan Bahkan seorang kaya tidak benar-benar hidup.

  5. Memahami pertanyaan-pertanyaan atas apa yang dipelajari; Memahami kemasyhuran dan reputasi yang tumbuh; Seseorang yang memiliki pemahaman Menemukan kebahagiaan bahkan di antara penderitaan-penderitaan.

  6. Ini bukanlah sesuatu yang hanya untuk hari ini; Ini tidaklah luar biasa atau mengherankan. Ketika engkau dilahirkan, engkau mati – Apakah yang luar biasa dengan hal itu?

  7. Karena siapapun yang dilahirkan, Kematian selalu mengikuti setelah hidup. Siapapun yang dilahirkan di sini mati di sini; Demikianlah kodrat makhluk-makhluk hidup.

  8. Hal-hal yang berguna bagi yang hidup Adalah tidak berguna bagi yang mati – Tidak kemayhuran, tidak ketenaran, Tidak pujian oleh para petapa dan brahmana; Bagi yang mati, hanya ada ratapan.

  9. Dan ratapan merusak mata dan tubuh; Wajah, kesehatan dan kecerdasan menurun. Musuh-musuhmu gembira; Dan mereka yang menginginkan kesejahteraanmu tidak bahagia.

  10. Maka engkau seharusnya mengharapkan Agar mereka yang menetap dalam keluargamu Memiliki pemahaman dan pembelajaran, Dan melakukan tugas mereka Melalui kekuatan pemahaman, Seperti halnya engkau menyeberangi sungai dengan perahu.

  1. Kemajuanku lambat, Aku diremehkan di masa lalu; Saudaraku menolakku, Dengan berkata, “Pulanglah sekarang”.

  2. Berbalik di gerbang Vihara Saṅgha, Aku berdiri di sana dengan sedih, Mendambakan ajaran.

  3. Kemudian Sang Bhagavā datang Dan menyentuh kepalaku. Menuntun lenganku, Beliau membawaku ke dalam Vihara Saṅgha.

  4. Sang Guru, demi belas kasihan, Memberiku kain penggosok kaki, dengan berkata: “Pusatkan kesadaranmu Hanya pada kain bersih ini.”

  5. Setelah mendengarkan kata-kata Beliau, Aku berdiam dengan gembira dalam ajaranNya, Berlatih samādhi Demi pencapaian tujuan tertinggi.

  6. Aku mengetahui kehidupan lampauku; Mata-batinku jernih; Aku telah mencapai tiga pengetahuan, Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  7. Aku, Panthaka, menciptakan seribu Gambaran diriku, Dan duduk di hutan mangga yang indah Hingga waktu diumumkannya persembahan makanan.

  8. Kemudian Sang Guru mengirim Seorang utusan untuk mengumumkan waktunya. Ketika waktunya diumumkan, Aku terbang melalui angkasa.

  9. Aku bersujud di kaki Sang Guru, Dan duduk di satu sisi. Ketika Beliau mengetahui bahwa aku telah duduk, Sang Guru menerima persembahan.

  10. Penerima pemberian dari seluruh dunia, Penerima pengorbanan, Ladang jasa bagi manusia, Beliau menerima persembahan.

  1. Dipenuhi dengan berbagai jenis kotoran, Penghasil besar kotoran-tinja, Bagaikan kakus yang tidak bergerak, Bisul besar, luka besar,

  2. Penuh dengan nanah dan darah, Tenggelam dalam lubang kakus, Meneteskan cairan: Tubuh busuk ini selalu meneteskan cairan.

  3. Terikat oleh enam puluh otot, Terbungkus dengan lapisan daging, Berpakaian jaket kulit, Tubuh busuk ini tidak berharga.

  4. Disatukan oleh tulang-belulang Dan diikat oleh urat; Mengambil postur-postur Karena susunan banyak bagian.

  5. Kita berjalan dalam kematian yang pasti Di hadapan raja kematian; Dan setelah meninggalkan tubuh di sini, Seseorang pergi ke mana pun yang ia sukai.

  6. Terbungkus oleh ketidaktahuan, Terikat oleh empat ikatan, Tubuh ini tenggelam dalam banjir, Terperangkap dalam jaring kecenderungan tersembunyi.

  7. Terpasung dengan kelima rintangan, Tersiksa oleh pemikiran, Disertai oleh akar ketagihan, Tersembunyi oleh delusi.

  8. Demikianlah tubuh ini berlanjut, Didorong oleh mekanisme perbuatan-perbuatan. Tetapi keberadaan berakhir dalam kemusnahan; Tercerai-berai, tubuh ini musnah.

  9. Mereka yang buta, orang-orang yang tidak tercerahkan Yang menganggap tubuh ini sebagai milik mereka, Menambah kengerian di tanah pemakaman, Dan terlahir kembali lagi dalam suatu kehidupan.

  10. Mereka yang menghindari tubuh ini, Bagaikan ular yang berlumuran kotoran tinja, Mereka menghalau akar kelahiran kembali, Dan merealisasikan nibbāna, tanpa kekotoran.

  1. Untuk memasuki keterasingan, Seorang bhikkhu harus menetap dalam tempat tinggal Yang terpencil dan hening, Yang sering didatangi binatang buas.

  2. Setelah mengumpulkan potongan-potongan kain di tumpukan sampah, Di pemakaman dan jalan-jalan raya, Dan membuat jubah luar dari potongan-potongan kain itu, Ia harus mengenakan jubah kasar itu.

  3. Dengan merendahkan hatinya Seorang bhikkhu harus berjalan untuk menerima dana makanan Dari keluarga ke keluarga tanpa kecuali, Dengan pintu-pintu indria terjaga, terkekang dengan baik.

  4. Ia harus puas dengan makanan kasar, Tanpa mengharapkan banyak rasa. Pikiran yang serakah terhadap rasa Tidak bersenang dalam jhāna.

  5. Dengan sedikit keinginan, puas, Seorang petapa harus hidup terasing. Tidak bersosialisasi dengan Para perumah tangga juga tidak dengan mereka yang tanpa rumah.

  6. Ia harus tampak Bodoh atau dungu; Seorang bijaksana seharusnya tidak banyak berbicara Di tengah-tengah Saṅgha.

  7. Ia tidak boleh menghina siapapun, Dan harus menghindari mencelakai. Terkekang sesuai dengan Pātimokkha, Ia harus makan secukupnya.

  8. Terampil dalam munculnya pemikiran, Ia harus menangkap dengan baik karakter pikiran. Ia harus tekun berlatih Ketenangan dan pandangan terang pada waktu yang tepat.

  9. Walaupun memiliki kegigihan dan ketabahan, Dan selalu menekuni meditasi, Seorang bijaksana tidak boleh terlalu yakin pada dirinya sendiri, Hingga mereka mencapai akhir penderitaan.

  10. Bagi seorang bhikkhu yang berdiam seperti ini, Mendambakan pemurnian, Segala kekotorannya menjadi layu, Dan ia mencapai nibbāna.

  1. Engkau harus memahami tujuanmu sendiri, Dan mempertimbangkan ajaran-ajaran secara seksama, Serta apa yang layak, Bagi seorang yang telah memasuki kehidupan pertapaan.

  2. Pertemanan yag baik dalam komunitas, Menjalani banyak latihan, Mendengarkan sang guru dengan baik – Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  3. Hormat kepada Sang Buddha, Menghormati Dhamma sebagaimana adanya, Menjunjung tinggi Saṅgha – Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  4. Menekuni perilaku dan tempat kunjungan yang baik, Penghidupan yang murni dan tanpa cela, Dan menenangkan pikiran- Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  5. Cara yang menyenangkan dalam hal-hal yang harus dilakukan, Dan hal-hal yang harus dihindari; Menekuni pikiran yang lebih tinggi – Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  6. Tempat-tempat tinggal di hutan Terpencil, dengan sedikit suara; Cocok untuk digunakan oleh seorang petapa – Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  7. Etika, pembelajaran, Penyelidikan Dhamma sebagaimana adanya, Dan penembusan kebenaran-kebenaran – Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  8. Mengembangkan persepsi-persepsi Ketidak-kekalan, tanpa-diri, dan ketidak-menarikan, Dan ketidak-senangan pada seluruh dunia – Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  9. Mengembangkan faktor-faktor pencerahan, Landasan-landasan kekuatan batin, Indria-indria dan kekuatan-kekuatan spiritual, Dan Jalan Mulia Berunsur Delapan – Ini adalah layak bagi seorang petapa.

  10. Seorang petapa harus meninggalkan ketagihan, Dengan kekotoran dipecahkan, akar dan segalanya, Mereka harus hidup terbebaskan – Ini adalah layak bagi seorang petapa.