1. Sewaktu aku melihat keajaiban-keajaiban Dari Gotama yang termasyhur, Aku tidak seketika bersujud pada Beliau; Aku dibutakan oleh iri-hati dan keangkuhan.

  2. Mengetahui apa yang kupikirkan, Sang Pelatih manusia mendorongku; Dan aku tersentak dengan sebuah inspirasi menakjubkan, Yang membuatku merinding.

  3. Dengan menolak pencapaian-pencapaian remehku Ketika aku dulu sebagai seorang petapa berambut-kusut, Kemudian aku meninggalkan keduniawian, Di dalam ajaran Sang Penakluk.

  4. Dulu aku puas dengan pengorbanan, Memprioritaskan alam kenikmatan indriawi, Tetapi belakangan aku mencabut keinginan, Dan kebencian, dan delusi juga.

  5. Aku mengetahui kehidupan lampauku; Mata-batinku jernih, Aku memiliki kekuatan batin, Dan aku mengetahui pikiran orang-orang lain; Aku telah merealisasikan telinga-dewa.

  6. Aku telah mencapai tujuan Yang karenanya aku meninggalkan keduniawian Dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah – Untuk mengakhiri semua belenggu.

  1. “Padi telah dipanen, Dan dikumpulkan di tanah-penumbukan – Tetapi aku tidak memperoleh dana makanan sama sekali! Bagaimana aku akan bertahan?”

  2. “Ingatlah Sang Buddha yang tak terukur! Penuh keyakinan, tubuhmu diliputi sukacita, Engkau akan selalu penuh kegembiraan.

  3. Ingatlah Dhamma yang tak terukur! Penuh keyakinan, tubuhmu diliputi sukacita, Engkau akan selalu penuh kegembiraan.

  4. Ingatlah Saṅgha yang tak terukur! Penuh keyakinan, tubuhmu diliputi sukacita, Engkau akan selalu penuh kegembiraan.

  5. “Engkau menetap di ruang terbuka, Walaupun malam-malam musim dingin ini sangat dingin. Jangan binasa, karena dikalahkan oleh dingin; Masuklah ke kediamanmu, dengan pintu tertutup rapat.”

  6. “Aku akan merealisasikan kondisi-kondisi tanpa batas, Dan berdiam dengan bahagia dengannya. Aku tidak akan binasa, karena dikalahkan oleh dingin; Aku akan berdiam tanpa terganggu.”

  1. Siapapun juga yang tidak hormat Kepada teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Akan jatuh dari Dhamma sejati, Bagaikan ikan dalam terlalu sedikit air.

  2. Siapapun juga yang tidak hormat Kepada teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Tidak akan berkembang dalam Dhamma sejati, Bagaikan benih busuk di ladang.

  3. Siapapun juga yang tidak hormat Kepada teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Adalah jauh dari nibbāna, Dalam ajaran Sang Raja Dhamma.

  4. Siapapun juga yang hormat Kepada teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Tidak akan jatuh dari Dhamma sejati, Bagaikan ikan dalam banyak air.

  5. Siapapun juga yang hormat Kepada teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Akan berkembang dalam Dhamma sejati, Bagaikan benih yang baik di ladang.

  6. Siapa pun juga yang hormat Kepada teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Adalah dekat ke nibbāna, Dalam ajaran Sang Raja Dhamma.

  1. Aku, Kulla, pergi ke tanah pekuburan Dan melihat seorang perempuan ditinggalkan di sana, Dibuang dalam suatu pemakaman, Penuh dengan belatung yang melahapnya.

  2. Lihatlah tubuh ini, Kulla – Berpenyakit, kotor, busuk, Mengeluarkan cairan dan menetes, Kesenangan si dungu.

  3. Menganggap Dhamma sebagai cermin Untuk merealisasikan pengetahuan dan penglihatan, Aku memeriksa tubuh ini, Kosong, di dalam dan di luar.

  4. Seperti halnya ini, demikian pula itu; Seperti halnya itu, demikian pula ini. Seperti halnya di bawah, demikian pula di atas; Seperti halnya di atas, demikian pula di bawah.

  5. Seperti halnya siang, demikian pula malam; Seperti halnya malam, demikian pula siang. Seperti halnya sebelumnya, demikian pula sesudahnya; Seperti halnya sesudahnya, demikian pula sebelumnya.

  6. Bahkan musik yang dimainkan dengan lima-instrumen, Tidak dapat memberikan kenikmatan demikian Seperti pada seseorang yang dengan pikiran terpusat, Melihat Dhamma dengan benar.

  1. Bagi seseorang yang hidup lengah, Ketagihan tumbuh bagaikan tanaman parasit yang merambat. Yang melompat dari sini ke sana, bagaikan seekor monyet Yang menginginkan buah di hutan.

  2. Siapapun yang dikuasai oleh ketagihan celaka ini, Kemelekatan pada dunia ini, Dukacita mereka tumbuh, Bagaikan rumput di musim hujan.

  3. Tetapi siapapun yang menguasai ketagihan celaka ini, Kemelekatan pada dunia ini, Dukacita mereka akan runtuh, Bagaikan tetesan air yang jatuh dari teratai.

  4. Aku mengatakan ini kepada kalian, para mulia, Semuanya yang berkumpul di sini: Galilah akar ketagihan, Bagaikan seseorang yang mencari akar-akar Akan menggali rerumputan. Jangan biarkan Māra menghancurkan kalian lagi dan lagi, Bagaikan arus sungai yang menghancurkan buluh.

  5. Bertindaklah sesuai kata-kata Sang Buddha, Jangan biarkan kesempatan itu melewatimu. Mereka yang melewatkan kesempatan itu Akan bersedih ketika mereka berakhir di neraka.

  6. Kelengahan adalah selalu ketidakmurnian, Ketidakmurnian muncul dari kelengahan. Dengan ketekunan dan pengetahuan, Cabutlah anak panahmu sendiri.

  1. Dalam dua puluh lima tahun Sejak aku meninggalkan keduniawian, Aku tidak menemukan kedamaian batin, Bahkan selama sejentikan jari.

  2. Karena aku tidak dapat memusatkan pikiran, Aku tersiksa oleh keinginan seksual. Meratap, dengan tangan terentang, Aku berlari keluar dari kediamanku.

  3. Haruskah aku … atau haruskah aku menggunakan pisau? Apa gunanya hidup? Dengan menolak latihan, Bagaimanakah orang sepertiku dapat berakhir?

  4. Maka aku mengambil pisau cukur; Dan duduk di atas bangku; Pisau cukur telah siap – Memotong urat nadiku.

  5. Kemudian realisasi Muncul padaku – Bahaya menjadi jelas, Dan aku mundur dengan sigap.

  6. Kemudian pikiranku terbebaskan – Lihatlah keunggulan Dhamma! Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. Bangunlah, Kātiyāna, dan duduk! Jangan terlalu banyak tidur, bangunlah. Jangan malas, dan membiarkan kerabat kelengahan, Raja kematian, menangkapmu dalam perangkapnya.

  2. Bagaikan ombak di samudra raya, Kelahiran dan usia tua menerpamu. Buatlah pulau yang aman bagi dirimu sendiri. Karena engkau tidak memiliki naungan lainnya.

  3. Sang Guru telah menguasai jalan ini, Yang melampaui ikatan, Dan ketakutan pada kelahiran dan usia tua. Tekunlah sepanjang waktu, Dan abdikan dirimu pada praktik yang tekun.

  4. Lepaskan ikatan-ikatanmu yang sebelumnya! Dengan mengenakan jubah luar, Dengan kepala tercukur, memakan makanan yang dipersembahkan, Jangan bersenang dalam bermain atau tidur, Tekunilah jhāna, Kātiyāna.

  5. Latihlah jhāna dan taklukkan, Kātiyāna, Engkau terampil dalam sang jalan menuju keamanan dari gandar. Dengan mencapai kemurnian yang tak tertandingi, Engkau akan padam, bagaikan api yang padam oleh air.

  6. Sebuah lampu dengan api yang lemah Digerakkan oleh angin, bagaikan tanaman merambat; Demikian pula, kerabat Indra, Engkau mengguncang Māra, tanpa mencengkeram. Bebas dari nafsu pada perasaan, Menunggu waktumu di sini, sejuk.

  1. Aku diajarkan dengan baik oleh Beliau yang melihat, Sang Buddha, Kerabat Matahari, Yang telah melampaui semua belenggu, Dan menghancurkan semua yang berputar.

  2. Mengarah menuju kebebasan, menyeberang, Mengeringkan akar ketagihan, Memotong akar racun, rumah-jagal, Dan mengarah menuju nibbāna.

  3. Dengan menghancurkan akar ketidaktahuan, Menghancurkan mekanisme perbuatan, Dan melepaskan kilat pengetahuan Ketika munculnya kesadaran.

  4. Memberitahu kita tentang perasaan-perasaan kita, Membebaskan kita dari cengkeraman, Dengan bijaksana merenungkan segala penjelmaan Bagaikan lubang arang membara.

  5. Sangat manis, sangat mendalam, Mencegah kelahiran dan kematian, Mengarah menuju ditenangkannya penderitaan, kebahagiaan – Ini adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan.

  6. Mengetahui perbuatan sebagai perbuatan, Dan akibat sebagai akibat; Melihat fenomena yang muncul secara bergantungan Seolah-olah dalam cahaya terang; Mengarah menuju keamanan tertinggi, kedamaian, Adalah keunggulan pada akhirnya.

  1. Aku dimabukkan oleh keangkuhan karena kelahiran, Dan kekayaan dan kekuasaan, Aku hidup dalam kemabukan Dengan keindahan dan bentuk tubuhku.

  2. Tak seorangpun yang menyamai atau lebih baik dariku – Atau demikianlah menurutku. Aku adalah seorang dungu yang sombong, Berdiri, melambaikan panjiku.

  3. Aku tidak menghormat siapapun: Tidak kepada ibuku atau ayahku, Tak ada orang lain yang kuanggap terhormat. Aku kaku karena keangkuhan, dan tidak sopan.

  4. Ketika aku melihat sang pemimpin tertinggi, Yang terbaik di antara para kusir, Bersinar bagaikan matahari, Dan dihormati oleh Saṅgha monastik,

  5. Aku meninggalkan keangkuhan dan kemabukanku, Dan, dengan batin jernih dan penuh keyakinan, Aku bersujud dengan kepalaku Kepada yang tertinggi di antara semua makhluk.

  6. Keangkuhan lebih unggul Dan kangkuhan lebih hina Telah ditinggalkan dan dicabut Keangkuhan “aku adalah” telah dilenyapkan, Dan segala keangkuhan telah dihancurkan.

  1. Aku baru saja meninggalkan keduniawian, Aku berusia tujuh tahun, Ketika aku mengatasi sang raja naga, yang begitu perkasa Dengan kekuatan batinku.

  2. Dan aku membawakan air untuk guruku Dari danau besar Anotatta, Ketika Beliau melihatku, Guruku berkata sebagai berikut:

  3. “Sāriputta, lihatlah Anak muda ini datang, Membawa sekendi air, Dengan kedamaian dalam dirinya.

  4. Perilakunya menginspirasi keyakinan, Tingkah lakunya menyenangkan: Ia adalah sāmaṇera dari Anuruddha, Yang unggul dalam kekuatan batin.

  5. Seekor kuda berdarah murni dihasilkan dari kuda berdarah murni, Orang baik dihasilkan dari orang baik, Diajari dan dilatih oleh Anuruddha, Yang telah menyelesaikan tugasnya.

  6. Setelah mencapai kedamaian tertinggi Dan menyaksikan yang tak tergoyahkan, Sāmaṇera Sumana itu Tidak ingin orang lain mengenalnya.”

  1. “Diserang oleh masuk angin, Sewaktu menetap di hutan; Engkau pergi ke tempat yang sulit untuk mengumpulkan dana makanan: Bagaimanakah engkau bertahan, bhikkhu?”

  2. “Dengan meliputi tubuhku Dengan banyak sukacita dan kebahagiaan, Dengan menahankan apa yang sulit, Aku akan berdiam di hutan.

  3. Dengan mengembangkan tujuh faktor pencerahan, Indria-indria dan kekuatan-kekuatan, Memiliki jhāna-jhāna yang halus, Aku akan berdiam tanpa kekotoran.

  4. Terbebas dari noda-noda, Pikiranku murni dan tidak terganggu; Dengan sering-sering memeriksa ini, Aku akan berdiam tanpa kekotoran

  5. Kekotoran-kekotoran itu yang ada padaku, Secara internal mau pun eksternal, Semuanya terpotong tanpa sisa, Dan tidak akan muncul kembali.

  6. Lima kelompok unsur kehidupan telah dipahami sepenuhnya; Hal-hal itu menetap dengan atap roboh. Aku telah mencapai akhir penderitaan, Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  1. Bagi seorang yang tanpa kemarahan, jinak, hidup tenang, Terbebaskan melalui pengetahuan benar, Damai, seimbang: Dari manakah kemarahan dapat mucul?

  2. Seseorang yang marah pada orang marah Hanya membuat keadaan lebih buruk. Seorang yang tidak marah pada orang marah Memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.

  3. Ketika engkau tahu orang lain marah, Engkau bertindak demi kebaikan keduanya Dirimu sendiri dan orang itu, Jika engkau penuh perhatian, dan tetap tenang.

  4. Mereka yang tidak terampil dalam Dhamma Menganggap seorang yang menyembuhkan keduanya Dirinya dan orang itu Sebagai seorang dungu.

  5. Jik kemarahan muncul padamu, Refleksikanlah perumpamaan gergaji; Jika ketagihan pada rasa kecapan muncul padamu, Ingatlah perumpamaan daging anak.

  6. Jika pikiranmu berlarian Di antara kenikmatan-kenikmatan indria Dan kelahiran kembali dalam berbagai jenis kehidupan, Cepatlah mengekangnya dengan perhatian, Seperti seseorang yang mengekang seekor sapi rakus yang sedang memakan jagung.

  1. Hujan memenuhi benda-benda yang tertutup; Hujan tidak memenuhi benda-benda yang terbuka. Oleh karena itu engkau harus membuka benda-benda yang tertutup, Agar hujan tidak memenuhinya.

  2. Dunia ini digilas oleh kematian, Dikepung oleh usia tua, Diserang oleh anak panah ketagihan, Dan disamarkan oleh keinginan.

  3. Dunia ini digilas oleh kematian, Dikurung oleh usia tua, Terus-menerus dipukul, tanpa henti, Bagaikan seorang pencuri yang dicambuk.

  4. Tiga hal datang, bagaikan dinding api: Kematian, penyakit, dan usia tua. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat menahannya, Dan tidak mungkin melarikan diri darinya.

  5. Jangan sia-siakan harimu, Sedikit atau banyak. Setiap malam yang berlalu Memperpendek kehidupanmu sebanyak itu.

  6. Berjalan atau berdiri, Duduk atau berbaring: Malam terakhirmu semakin dekat. Engkau tidak memiliki waktu untuk lengah.

  1. Walaupun tubuh dengan dua kaki ini kotor dan bau, Penuh dengan berbagai kebusukan, Dan mengeluarkan cairan di berbagai tempat, Tetapi tetap disenangi.

  2. Bagaikan tipuan menjebak rusa yang bersembunyi. Bagaikan kail menjebak ikan, Bagaikan perekat menjebak monyet – Tubuh-tubuh itu menjebak seorang yang tidak tercerahkan.

  3. Pemandangan, suara, rasa kecapan, bau-bauan, Dan sentuhan, semuanya menyenangkan pikiran. Kelima jenis kenikmatan indria ini Terlihat dalam tubuh seorang perempuan.

  4. Mereka yang tidak tercerahkan, pikiran-pikiran mereka penuh nafsu, Yang mengejar perempuan-perempuan itu; Mereka menambah kengerian di tanah pekuburan, Menimbun lebih banyak kelahiran kembali Ke dalam berbagai jenis kehidupan.

  5. Seorang yang menghindarinya, Bagaikan kaki menghindari kepala ular, Penuh perhatian, ia melampaui Kemelekatan pada dunia.

  6. Melihat bahaya dalam kenikmatan-kenikmatan indria, Dan mengenali pelepasan keduniawian sebagai keamanan, Aku telah membebaskan diri dari segala kenikmatan indria, Dan mencapai akhir kekotoran.