1. Aku, seorang bhikkhu, pergi ke tanah pemakaman Dan melihat seorang perempuan ditinggalkan di sana, Dibuang dalam suatu pemakaman, Penuh dengan belatung yang melahapnya.

  2. Beberapa laki-laki menjadi jijik, Melihatnya mati dan membusuk; Tetapi keinginan seksual muncul padaku, Aku seolah-olah buta atas tubuhnya yang menetes.

  3. Lebih cepat daripada menanak nasi Aku meninggalkan tempat itu, Penuh perhatian dan sadar, Aku duduk di satu sisi.

  4. Kemudian realisasi Muncul padaku – Bahaya menjadi jelas, Dan aku mundur dengan sigap.

  5. Kemudian pikiranku terbebaskan – Lihatlah keunggulan Dhamma! Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. Jika sesorang, menginginkan hasil tertentu, Mengerahkan usaha yang keliru Dan mereka tidak mencapai tujuan dari praktik itu, Mereka mengatakan: “Itu adalah pertanda dari ketidakberuntunganku.”

  2. Ketika kemalangan Telah dicabut dan ditaklukkan Melepaskannya sebagian adalah bagaikan Lemparan dadu yang kalah; Tetapi melepaskan segalanya Bagaikan seorang buta, Yang tidak melihat yang rata dan yang tidak rata.

  3. Engkau harus mengatakan hanya apa yang akan engkau lakukan; Engkau seharusnya tidak mengatakan apa yang tidak akan engkau lakukan. Para bijaksana akan mengenali Orang yang berbicara tanpa melakukan.

  4. Bagaikan sekuntum bunga yang indah Penuh warna namun tidak harum; Demikian pula ucapan-ucapan yang diucapkan dengan baik adalah tidak berguna Jika seseorang tidak melakukan sesuai ucapan itu

  5. Bagaikan sekuntum bunga yang indah Penuh warna serta harum; Demikian pula ucapan-ucapan yang diucapkan dengan baik adalah berguna Jika seseorang melakukan sesuai ucapan itu

  1. Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin, Aku berdiam di sana dengan damai Maka hujanlah, langit, sesukamu.

  2. Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin, Aku berdiam di sana, dengan pikiran damai Maka hujanlah, langit, sesukamu.

  3. Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin, Aku berdiam di sana, bebas dari nafsu: Maka hujanlah, langit, sesukamu.

  4. Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin, Aku berdiam di sana, bebas dari kebencian: Maka hujanlah, langit, sesukamu.

  5. Langit menurunkan hujan, bagaikan lagu merdu, Gubuk kecilku beratap dan menyenangkan, Ternaungi dari angin, Aku berdiam di sana, bebas dari delusi: Maka hujanlah, langit, sesukamu.

  1. Guruku membantuku belajar, Berharap aku akan melatih ajaran-ajaran itu; Beraspirasi pada tanpa-kematian, Aku telah melakukan apa yang harus dilakukan.

  2. Aku telah sampai pada Dhamma, Dan menyaksikannya untuk diriku sendiri, bukan dari kabar angin. Dengan pengetahuan murni, bebas dari keragu-raguan, Aku menyatakannya di hadapanMu.

  3. Aku mengetahui kehidupan lampauku; Mata-batinku jernih; Aku telah mencapai tujuan sejatiku, Ajaran Sang Buddha telah terpenuhi.

  4. Dengan tekun dalam latihan, Aku telah mempelajari ajaranMu dengan baik. Segala kekotoranku telah berakhir; Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  5. Engkau menasihatiku dalam cara-cara mulia; Berbelas kasihan, Engkau membantu mengajari aku; AjaranMu tidaklah sia-sia – Aku, siswaMu, telah sepenuhnya terlatih.

  1. Baik sekali, bagaimana ibuku Mendorongku maju. Ketika aku mendengar kata-katanya, Dinasihati oleh ibuku, Aku menjadi bersemangat, teguh – Aku merealisasikan pencerahan tertinggi.

  2. Aku adalah seorang Arahant, layak menerima persembahan, Dengan tiga pengetahuan Dan penglihatan pada tanpa-kematian; Aku menaklukkan bala tentara Namuci, Dan sekarang aku hidup tanpa kekotoran.

  3. Kekotoran yang dulu kumiliki, Baik secara internal mau pun secara eksternal. Sekarang telah terpotong semuanya tanpa sisa; Tidak akan muncul kembali.

  4. Saudariku yang terampil Berkata kepadaku sebagai berikut: ‘Sekarang engkau dan aku Tidak lagi memiliki kekusutan apapun.”

  5. Penderitaan telah berakhir; Ini adalah jasmani terakhir Untuk bertransmigrasi melalui kelahiran dan kematian: Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  1. Sungguh adalah demi kebaikanku Maka Sang Buddha datang ke sungai Nerañjara; Ketika aku mendengar ajarannya, Aku menolak pandangan salah.

  2. Sebelumnya, aku melakukan pengorbanan yang lebih tinggi Dan yang lebih rendah; Aku memuja api suci, Dengan berpikir, “Ini adalah kemurnian.” Aku buta, seorang yang tidak tercerahkan.

  3. Terperangkap di dalam belantara pandangan salah, Terdelusi dengan kesalahpahaman; Menganggap ketidakmurnian sebagai kemurnian, Aku buta dan bodoh.

  4. Aku telah meninggalkan pandangan salah, Kelahiran kembali dalam kehidupan apapun telah tercabik, Aku memuja apa yang sungguh-sungguh layak menerima persembahan Aku bersujud kepada Sang Tathāgata.

  5. Aku telah meninggalkan segala delusi Kelahiran kembali dalam kehidupan apapun telah tercabik, Transmigrasi melalui kelahiran telah usai, Sekarang tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  1. Tiga kali sehari – Pagi, siang, dan malam – Aku masuk ke air di Gayā, Untuk festival musim semi Gayā.

  2. “keburukan apapun juga yang telah kulakukan Dalam kehidupan lampau, Sekarang aku akan mencucinya di sini” – Ini adalah pandangan yang kuanut sebelumnya.

  3. Setelah mendengar kata-kata yang diucapkan dengan baik Sehubungan dengan Dhamma dan tujuan, Aku merefleksikan dengan bijaksana Pada tujuan yang sesungguhnya, yang penting.

  4. Aku telah mencuci semua keburukan Aku tanpa noda, bersih, murni; Pewaris murni dari yang murni, Putra sejati dari Sang Buddha.

  5. Ketika aku terjun ke dalam arus berfaktor delapan, Segala keburukanku tercuci. Aku telah mencapai tiga pengetahuan, Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. “Diserang oleh masuk angin, Sewaktu menetap di hutan; Engkau pergi ke tempat yang sulit untuk mengumpulkan dana makanan: Bagaimanakah engkau bertahan, bhikkhu?”

  2. “Dengan meliputi tubuhku Dengan banyak sukacita dan kebahagiaan, Dengan menahankan apa yang sulit, Aku akan berdiam di hutan.

  3. Dengan mengembangkan penegakan perhatian, Indria-indria dan kekuatan-kekuatan, Dengan mengembangkan faktor-faktor pencerahan, Aku akan berdiam di hutan.

  4. Setelah melihat mereka yang bersemangat, teguh, Selalu kuat dalam usaha, Rukun dan damai, Aku akan berdiam di hutan.

  5. Dengan mengingat Sang Buddha, Yang tertinggi, yang jinak, yang memiliki samādhi; Tidak malas siang dan malam, Aku akan berdiam di hutan.”

  1. Aku akan mengurungmu, pikiran, Bagaikan seekor gajah di dalam benteng. Terlahir dari daging, jaring kenikmatan indriawi itu, Aku tidak akan mendorongmu untuk melakukan hal buruk.

  2. Terkurung, engkau tidak akan lepas, Bagaikan seekor gajah yang tidak dapat menemukan gerbang terbuka. Pikiran-setan, engkau tidak akan mengembara lagi dan lagi, Mengganggu, dan suka melakukan hal buruk.

  3. Bagaikan seorang pelatih kuat dengan tongkat pengait, Mengendalikan seekor gajah liar yang baru ditangkap Dan menjinakkannya melawan keiinginannya, Demikian pula aku akan menjinakkanmu.

  4. Bagaikan seorang kusir yang baik, Yang Terampil dalam menjinakkan kuda-kuda baik, Menjinakan seekor kuda berdarah murni, Demikian pula, dengan kokoh dalam lima kekuatan, Aku akan menjinakkanmu.

  5. Aku akan mengikatmu dengan perhatian, Aku berkewajiban untuk menjinakkanmu; terkekang dengan usaha gigih, Pikiran, engkau tidak akan pergi jauh dari sini.

  1. Dengan pikiran mencari-kesalahan, si dungu Mendengarkan ajaran Sang Penakluk. Mereka jauh dari Dhamma sejati, Bagaikan bumi yang jauh dari langit.

  2. Dengan pikiran mencari-kesalahan, si dungu Mendengarkan ajaran Sang Penakluk. Mereka merosot dalam Dhamma sejati, Bagaikan bulan pada paruh gelap.

  3. Dengan pikiran mencari-kesalahan, si dungu Mendengarkan ajaran Sang Penakluk. Mereka layu dalam Dhamma sejati, Bagaikan ikan dalam terlalu sedikit air.

  4. Dengan pikiran mencari-kesalahan, si dungu Mendengarkan ajaran Sang Penakluk. Mereka tidak berkembang dalam Dhamma sejati, Bagaikan benih busuk di ladang.

  5. Tetapi seorang dengan pikiran gembira Yang mendengarkan ajaran Sang Penakluk – Setelah mengakhiri segala kekotoran, Setelah melihat yang tidak tergoyahkan, Setelah sampai pada kedamaian tertinggi – Mereka merealisasikan nibbāna tanpa kekotoran.

  1. Aku telah menerima penahbisan penuh Aku telah terbebaskan, tanpa kekotoran, Aku telah bertemu Sang Bhagavā sendiri, Dan bahkan menetap bersama dengan Beliau.

  2. Sang Bhagavā, Sang Guru. Menghabiskan malam demi malam di ruang terbuka; Kemudian Beliau, yang begitu terampil dalam hal keberdiaman dalam meditasi, Memasuki kediamannya

  3. Membentangkan jubah luarnya, Gotama membuat alas tidurnya; Bagaikan singa di dalam gua batu, Dengan ketakutan dan kegentaran ditinggalkan.

  4. Kemudian, dengan pengucapan yang indah Soṇa, seorang siswa Sang Buddha, Melafalkan Dhamma sejati Di hadapan yang terbaik di antara para Buddha.

  5. Ketika ia telah sepenuhnya memahami kelima kelompok unsur kehidupan Telah mengembangkan jalan yang lurus, Dan telah sampai pada kedamaian tertinggi, Ia akan merealisasikan nibbāna tanpa kekotoran.

  1. Orang bijaksana mana pun, Dengan memahami kata-kata guru mereka, Menetap bersama mereka, maka kasih sayang mereka tumbuh; Orang bijaksana itu sungguh berdedikasi – Dengan mengetahui Dhamma, mereka istimewa.

  2. Ketika kesusahan muncul, Siapapun yang tidak gemetar, melainkan merefleksikan, Orang bijaksana itu sungguh kuat – Dengan mengetahui Dhamma, mereka istimewa.

  3. Kokoh bagaikan samudra, tidak terganggu Kebijaksanaan mereka mendalam, dan mereka melihat tujuan yang samar; Orang bijaksana itu sungguh tidak tergerak – Dengan mengetahui Dhamma, mereka istimewa.

  4. Mereka sangat terpelajar, dan telah menghapalkan Dhamma, Mempraktikkan Dhamma sesuai Dhamma; Orang bijaksana itu sungguh memang demikian – Dengan mengetahui Dhamma, mereka istimewa.

  5. Mereka mengetahui makna dari apa yang dikatakan, Dan setelah mengetahuinya, mereka bertindak sesuai itu; Orang bijaksana itu sungguh memang Seorang yang telah menguasai makna – Dengan mengetahui Dhamma, mereka istimewa.