1. Ia berhiaskan permata dan berpakaian menarik, Dengan kalung bunga Dan wewangian cendana, Kakinya merah cerah: Seorang perempuan penghibur yang mengenakan sandal.

  2. Ia melepaskan sandalnya di depanku, Tangannya dalam sikap añjalī, Dan dengan merdu dan lembut Ia berkata kepadaku, sambil tersenyum:

  3. “Engkau terlalu muda untuk meninggalkan keduniawian; Mari, ikutilah ajaranku! Nikmatilah kenikmatan-kenikmatan indriawi manusia, Aku akan memberimu kekayaan. Aku berjanji bahwa ini adalah kebenaran – Aku bersumpah demi Api Suci.

  4. Dan ketika kita bersama menjadi tua, bertopang pada tongkat, Kita berdua akan meninggalkan keduniawian, Maka kita akan memperoleh keduanya.”

  5. Ketika aku melihat perempuan penghibur itu merayuku, Tangannya dalam sikap añjālī, Berhiaskan permata dan berpakaian menarik, Bagaikan perangkap kematian yang ditebarkan.

  6. Kemudian realisasi Muncul padaku – Bahaya menjadi jelas, Dan aku mundur dengan sigap.

  7. Kemudian pikiranku terbebaskan – Lihatlah keunggulan Dhamma! Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. Bhaddiya telah mencabut ketagihan, akar dan segalanya, Dan di dalam hutan Di seberang taman Ambāṭaka, Ia berlatih jhāna; ia sungguh menarik.

  2. Beberapa orang menyukai genderang, Beberapa menyukai kecapi, dan yang lainnya menyukai canang; Tetapi di sini, di bawah sebatang pohon, Aku menyukai ajaran Sang Buddha.

  3. Jika Sang Buddha memberikan anugerah kepadaku satu permintaan, Dan aku akan memperoleh apa yang kuinginkan, Aku memilih agar seluruh dunia Senantiasa penuh perhatian pada jasmani.

  4. Mereka yang menilai aku melalui penampilanku, Dan mereka yang mengikutiku karena suaraku, Mereka berada di bawah pengaruh keinginan dan nafsu; Mereka tidak mengenal aku.

  5. Tanpa mengetahui apa yang ada di dalam, Tanpa melihat apa yang ada di luar; Si dungu, terhalang di sekeliling, Terhanyutkan oleh suaraku.

  6. Tanpa mengetahui apa yang ada di dalam, Tetapi melihat apa yang ada di luar; Mereka juga, dengan melihat hanya buah eksternal dari praktik, Terhanyutkan oleh suaraku.

  7. Memahami apa yang ada di dalam, Dan melihat apa yang ada di luar; Mereka, dengan melihat tanpa halangan, Tidak terhanyutkan oleh suaraku.

  1. Aku adalah anak tunggal, Dicintai oleh ibu dan ayahku. Mereka melahirkan aku melalui Banyak doa dan upacara.

  2. Demi belas kasihan, Menginginkan kebaikanku dan mengusahakan kesejahteraanku, Ayah dan ibuku Membawaku menghadap Sang Buddha.

  3. “Kami memiliki anak ini dengan penuh kesulitanl Ia halus, dan tumbuh dalam kenyamanan. Kami mempersembahkannya kepadamu, Bhagavā, Untuk melayani Sang Penakluk.”

  4. Sang Guru, setelah menerimaku, Berkata kepada Ānanda: “Cepat berikan kepadanya pelepasan keduniawian – Anak ini akan menjadi seorang berdarah murni.”

  5. Setelah Beliau, Sang Guru, memberiku pelepasan keduniawian, Sang Penakluk memasuki kediamannya, Sebelum matahari terbenam, Batinku terbebaskan.

  6. Sang Guru tidak mengabaikan aku; Ketika Beliau keluar dari keterasingan, Beliau berkata: “Kemarilah Bhadda!” Itu adalah penahbisan penuh bagiku.

  7. Pada usia tujuh tahun Aku menerima penahbisan penuh. Aku telah mencapai tiga pengetahuan; Oh, Unggulnya Dhamma!

  1. Aku melihat orang terunggul, Bermeditasi berjalan di bahwa keteduhan teras, Maka aku mendekat, Dan bersujud kepada orang terunggul.

  2. Merapikan jubahku di satu bahuku, Dan merangkapkan kedua tanganku, Aku bermeditasi berjalan berdampingan dengan yang tanpa noda, Yang terunggul di antara semua makhluk.

  3. Yang bijaksana, terampil dalam pertanyaan-pertanyaan, Bertanya kepadaku. Dengan berani dan tanpa takut, Aku menjawab Sang Guru.

  4. Ketika semua pertanyaan telah dijawab, Sang Tathāgata memujiku. Melihat ke sekeliling kepada Saṅgha monastik, Beliau berkata sebagai berikut:

  5. “Adalah sebuah berkah kepada penduduk Aṅga dan Magadha Bahwa orang ini menikmati dari mereka Jubah dan makanan, Benda-benda kebutuhan dan tempat tinggal, Penghormatan dan pelayanan mereka – Adalah berkah bagi mereka,” Beliau berkata.

  6. “Sopāka, mulai hari ini dan seterusnya Silakan engkau datang menemuiku. Dan Sopāka, biarlah ini Menjadi penahbisan penuh bagimu.”

  7. Pada usia tujuh tahun Aku menerima penahbisan penuh Aku membawa jasmani terakhirku – Oh, unggulnya Dhamma!

  1. Aku mematahkan bambu dengan tanganku, Membuat sebuah gubuk, dan menetap di sana. Oleh karena itu aku dikenal sebagai “pematah-bambu”.

  2. Tetapi sekarang adalah tidak tepat Bagiku untuk mematahkan bambu dengan tanganku. Aturan latihan telah ditetapkan bagi kami Oleh Gotama Sang Termasyhur.

  3. Sebelumnya, aku, Sarabhaṅga, Tidak melihat penyakit itu secara keseluruhan. Tetapi sekarang aku telah melihat penyakit itu, Karena aku melatih apa yang diajarkan Oleh seorang yang melampaui para dewa.

  4. Gotama berjalan di jalan yang lurus; Jalan yang sama yang dilalui oleh Vipassī, Jalan yang sama yang dialui Sikhī, Vessabhū, Kakusandha, Koṇāgamana, dan Kassapa.

  5. Oleh ketujuh Buddha ini, Yang meloncat ke akhir, Bebas dari ketagihan, tanpa mencengkeram, Setelah menjadi Dhamma, seimbang, Dhamma ini diajarkan,

  6. Demi belas kasihan kepada makhluk-makhluk hidup – Penderitaan, asal-mula, Sang Jalan, Dan lenyapnya, akhir penderitaan. Dalam Empat Kebenaran Mulia ini,

  7. Penderitaan berhenti, Transmigrasi tanpa akhir ini. Ketika hancurnya tubuh, Dan kehidupan berakhir, Tidak ada lagi kelahiran kembali ke dalam kehidupan apapun juga Aku terbebaskan dengan baik dalam segala cara.