1. Ada seorang penari di jalan raya, Menari dengan iringan musik; Ia berhiaskan permata dan berpakaian menarik, Dengan kalung bunga Dan wewangian cendana.

  2. Aku masuk untuk menerima dana makanan, Dan sewaktu berjalan aku melihatnya sekilas, Berhiaskan permata dan berpakaian menarik, Bagaikan jerat kematian yang terpasang.

  3. Kemudian realisasi Muncul padaku – Bahaya menjadi jelas, Dan aku mundur dengan sigap.

  4. Kemudian pikiranku terbebaskan – Lihatlah keunggulan Dhamma! Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. Diliputi kantuk, Aku keluar dari kediamanku; Melangkah di atas jalan setapak untuk bermeditasi, Aku jatuh di atas tanah di sana.

  2. Aku menggosok lengan dan kakiku, dan sekali lagi Aku melangkah di atas jalan setapak untuk bermeditasi. Aku bermeditasi berjalan mondar-mandir di sepanjang jalan setapak, ketenteraman dalam diriku.

  3. Kemudian realisasi Muncul padaku – Bahaya menjadi jelas, Dan aku mundur dengan sigap.

  4. Kemudian pikiranku terbebaskan – Lihatlah keunggulan Dhamma! Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. Orang-orang lain tidak mengerti Bahwa di sini kita mendekati akhir Mereka yang memahami hal ini Mengakhiri pertengkaran mereka karena itu.

  2. Dan ketika mereka yang tidak mengerti Berperilaku seolah-olah mereka abadi; Mereka yang memahami Dhamma Adalah bagaikan yang sehat di tengah-tengah yang sakit.

  3. Segala tindakan lengah, Atau pelaksanaan religius yang cacat, Atau kehidupan spiritual yang mencurigakan, Tidak menghasilkan buah besar.

  4. Siapapun yang tidak menghormati Teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Adalah jauh dari Dhamma sejati Seperti langit yang jauh dari bumi.

  1. Terkutuklah tubuh-tubuh busuk ini! Mereka berpihak pada Māra, mereka meneteskan cairan; Dan tubuh-tubuh memiliki sembilan arus Yang selalu mengalir.

  2. Jangan terlalu memikirkan tubuh; Jangan menghina para Tathāgatha. Mereka bahkan tidak tergugah oleh surga, Apalagi oleh manusia

  3. Tetapi mereka orang-orang dungu itu, Dengan penasihat-penasihat buruk, terselimuti oleh delusi, Jenis Orang itu tergugah oleh tubuh-tubuh, Ketika Māra menebarkan perangkapnya.

  4. Mereka yang telah melepaskan Nafsu, kebencian, dan ketidaktahuan: Mereka telah memotong tali, mereka tidak lagi terikat – Orang-orang demikian tidak tergugah oleh tubuh-tubuh.

  1. Selama lima puluh lima tahun Aku mengenakan lumpur dan tanah; Makan satu kali sebulan, Aku mencabut rambut dan janggutku.

  2. Aku berdiri dengan satu kaki; Aku menolak tempat duduk; Aku memakan kotoran tinja kering; Aku tidak menerima makanan yang diberikan kepadaku.

  3. Setelah melakukan banyak perbuatan seperti ini, Yang mengarah menuju tujuan kelahiran yang buruk, Ketika aku tersapu oleh banjir besar, Aku mendatangi Sang Buddha untuk mencari perlindungan.

  4. Lihatlah pencarian perlindungan! Lihatlah keunggulan Dhamma! Sekarang aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. Selama festival musim semi di Gayā, Aku sangat berharap Dapat melihat Sang Buddha, Mengajarkan Dhamma tertinggi.

  2. Beliau agung, Guru sebuah komunitas, Yang telah merealisasikan yang tertinggi, seorang pemimpin, Penakluk di dunia ini dengan para dewanya; Penglihatannya tidak tertandingi.

  3. Makhluk dengan kekuatan besar, seorang pahlawan besar, Cahaya terang, tanpa kekotoran. Dengan berakhirnya segala kekotoran Sang Guru tidak memiliki ketakutan dari arah mana pun.

  4. Sayangnya, sejak lama aku telah rusak, Terbelenggu oleh ikatan pandangan salah. Sang Bhagavā itu, Senaka, Melepaskan aku dari segala ikatan.

  1. Bergegas ketika waktunya untuk melambat; Melambat ketika waktunya untuk bergegas; Orang-orang dungu itu jatuh ke dalam penderitaan Karena pengaturan yang kacau ini.

  2. Keberuntungan mereka tersia-siakan Bagaikan bulan pada paruh gelap; Mereka menjadi tercemar, Dan dijauhi oleh teman-temannya.

  3. Melambat ketika waktunya untuk melambat; Bergegas ketika waktunya untuk bergegas; Orang-orang bijaksana itu mendatangi kebahagiaan Karena pengaturan yang benar itu.

  4. Keberuntungan mereka bertambah Bagaikan bulan pada paruh terang; Mereka menjadi termasyhur dan terhormat, Dan tidak dijauhi oleh teman-temannya.

  1. Aku dikenal sebagai “Rāhula yang Beruntung”, Karena aku memiliki dua anugerah ini: Aku adalah putra Sang Buddha, Dan aku memiliki penglihatan pada Dhamma

  2. Sejak kekotoran-kekotoranku berakhir, Sejak tidak ada lagi kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga – Aku adalah seorang Arahant, layak menerima persembahan, Dengan Tiga Pengetahuan Dan penglihatan pada tanpa-kematian.

  3. Dibutakan oleh kenikmatan-kenikmatan indriawi, terperangkap dalam jaring, Mereka tercekik oleh ketagihan, Terikat oleh Kerabat Kelengahan, Bagaikan ikan yang terjebak dalam perangkap bubu.

  4. Setelah membuang kenikmatan-kenikmatan indriawi itu, Setelah memotong ikatan Māra, Setelah mencabut ketagihan, akar dan segalanya: Aku menjadi sejuk, dan merealisasikan nibbāna.

  1. Dengan terbalut emas, Dikelilingi oleh para pelayannya, Dengan putraku dalam gendongannya, Istriku mendatangiku.

  2. Aku melihatnya datang, Ibu dari putraku, Berhiaskan permata dan berpakaian menarik, Bagaikan perangkap kematian yang ditebarkan.

  3. Kemudian realisasi Muncul padaku – Bahaya menjadi jelas, Dan aku mundur dengan sigap.

  4. Kemudian pikiranku terbebaskan – Lihatlah keunggulan Dhamma! Aku telah mencapai tiga pengetahuan Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.

  1. “Dhamma benar-benar melindugimu jika engkau mempraktikkan Dhamma; Dhamma yang dipraktikkan dengan baik akan membawa kebahagiaan. Jika engkau mempraktikkan Dhamma, ini adalah manfaatnya – Engkau tidak akan pergi menuju kelahiran yang buruk.

  2. Dhamma dan apa yang bukan Dhamma Keduanya tidak mengarah pada hasil yang sama. Apa yang bukan Dhamma mengarah menuju neraka, Sedangkan Dhamma membawamu menuju kelahiran yang baik.

  3. Maka engkau harus bersemangat Untuk melakukan perbuatan Dhamma, Bergembira dalam Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan, yang seimbang. Para siswa dari Para Sempurna Terbaik Dan kokoh dalam Dhamma; Mereka para bijaksana dituntun, Menuju perlindungan terbaik.”

  4. “Bisul itu telah pecah dari akarnya, Jaring ketagihan telah dilepaskan. Ia telah mengakhiri transmigrasi, ia tidak memiliki apa-apa, Bagaikan bulan purnama di langit malam yang bersih.”

  1. Ketika bangau dengan sayap-sayapnya yang indah, Dikagetkan oleh ketakutan terhadap awan petir yang gelap Melarikan diri, mencari naungan – Maka Sungai Ajakaraṇī menyenangkan aku.

  2. Ketika bangau itu, begitu putih dan bersih, Dikagetkan oleh ketakutan terhadap awan petir yang gelap Mencari sebuah gua untuk bernaung, tetapi tidak menemukan- Maka Sungai Ajakaraṇī menyenangkan aku.

  3. Siapakah yang tidak akan senang Karena pepohonan jambu ini Yang menghiasi kedua tepi sungai di sana, Di balik guaku?

  4. Terlepas dari ular-ular, kawanan kematian itu, Kodok-kodok malas itu menguak: “Hari ini bukanlah waktunya untuk menjauhi sungai-sungai gunung; Ajakaraṇī aman, menyenangkan, dan menggembirakan.”

  1. Aku meninggalkan keduniwian untuk menyelamatkan hidupku; Tetapi aku memperoleh keyakinan Setelah menerima penahbisan penuh; Dan aku berjuang, kuat dalam usaha.

  2. Dengan senang, biarlah tubuh ini hancur! Biarlah daging-dagingku melebur! Biarlah kedua kakiku berguguran Dari lutut!

  3. Aku tidak akan makan; aku tidak akan minum; Aku tidak akan meninggalkan tempat kediamanku; Aku juga tidak akan berbaring – Hingga panah ketagihan tercabut.

  4. Sewaktu aku berdiam seperti ini, Lihatlah kegigihan dan usahaku! Aku telah mencapai tiga pengetahuan, Dan memenuhi ajaran Sang Buddha.