1

“Para bhikkhu, ada satu hal yang, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah hanya pada kekecewaan, pada kebosanan, pada lenyapnya, pada kedamaian, pada pengetahuan langsung, pada pencerahan, pada nibbāna.2 Apakah satu hal itu? Pengingatan pada Buddha.3Ini adalah satu hal yang, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah hanya pada kekecewaan … pada nibbāna.”

(297) “Para bhikkhu, ada satu hal yang, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah hanya pada kekecewaan, pada kebosanan, pada lenyapnya, pada kedamaian, pada pengetahuan langsung, pada pencerahan, pada nibbāna. Apakah satu hal itu? Pengingatan pada Dhamma … (298) Pengingatan pada Saṅgha … (299) Pengingatan pada perilaku bermoral … (300) Pengingatan pada kedermawanan … (301) Pengingatan pada para deva … (302) Perhatian pada pernafasan … (303) Perhatian pada kematian … (304) Perhatian yang diarahkan pada jasmani … (305) Pengingatan pada kedamaian.[^147] Ini adalah satu hal yang, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah hanya pada kekecewaan … pada nibbāna.”


Catatan Kaki
  1. Ce dan Be membagi bab ini (disebut Ekadhammapāḷi) menjadi sub bab terpisah (disebut vagga), seperti yang terlihat, sedangkan Ee memperlakukan sub bab dari Ce dan Be sebagai vagga-vagga yang berdiri sendiri.
  2. Mp: “Kekecewaan (nibbidā) adalah ketidak-puasan terhadap lingkaran [kelahiran kembali]; kebosanan (virāga) adalah meluruhnya lingkaran, atau meluruhnya kekotoran-kekotoran seperti nafsu (rāga); lenyapnya (nirodha) adalah lenyapnya nafsu, dan seterusnya, atau lenyapnya lingkaran; kedamaian (upasama) adalah tenangnya kekotoran-kekotoran; pengetahuan langsung (abhiññā) adalah secara langsung mengetahui ketiga karakteristik; pencerahan (sambodha) adalah pencerahan pada empat kebenaran; dan nibbāna adalah realisasi nibbāna yang tidak terkondisi.”
  3. Pengingatan pada Buddha (buddhānussati) adalah yang pertama dari enam pengingatan yang dijelaskan dengan lebih lengkap pada 6:10 dan dijelaskan pada Vism 197-213, Ppn 7.1-67. Di sini Mp (diringkas): “Pengingatan pada Sang Buddha memiliki dua tujuan: memberikan kegembiraan pada pikiran dan mengembangkan pandangan terang (cittasampahaṃsanatthañ c’eva vipassanatthañca). Bagaimanakah? Ketika seorang bhikkhu mengembangkan suatu subjek meditasi seperti ketidak-menarikan [jasmani], maka pikirannya mungkin terganggu, tidak puas, dan tidak gembira. Pikiran tidak menetap pada jalurnya melainkan mengembara bagaikan sapi liar. Pada saat itu, ia harus mengesampingkan subjek meditasi utamanya dan mengingat kualitas-kualitas mulia Sang Tathāgata. Ketika ia mengingat Sang Buddha, pikirannya menjadi tenang dan bebas dari rintangan. Kemudian ia dapat kembali pada subjek meditasi utamanya, mengembangkan pandangan terang, dan mencapai alam para mulia. Demikianlah pengingatan pada Buddha memberikan kegembiraan pada pikiran. Tetapi ia juga dapat menggunakan subjek meditasi ini secara langsung untuk tujuan mengembangkan pandangan terang. Setelah mengingat Sang Buddha, ia memotong tindakan pengingatan itu ke dalam kelima kelompok unsur kehidupan dan mendefinisikannya sebagai berikut: ‘Kelima kelompok unsur kehidupan ini, singkatnya, adalah kebenaran penderitaan. Ketagihan yang menghasilkannya adalah kebenaran asal-mula. Lenyapnya ketagihan adalah kebenaran lenyapnya; dan praktik yang memahami lenyapnya adalah kebenaran sang jalan.’ Demikianlah ia mendefinisikan keempat kebenaran dalam bagian pendahuluan [tahap pandangan terang] dan ia selangkah demi selangkah mencapai tahap para mulia.”
  4. Dalam Be sembilan sutta ini digabungkan menjadi satu, diberi nomor 297 dalam skema penomoran kumulatif Be. Dalam Ce dan Ee, sutta-sutta ini diberi nomor 2-10 (karena edisi-edisi ini menomori sutta pertama dalam tiap-tiap vagga sebagai “1” tanpa penomoran kumulatif). Saya mengikuti Be dalam menggunakan skema penomoran kumulatif, tetapi saya mengikuti Ce dan Ee dalam menghitung sutta-sutta ini secara terpisah. Demikianlah skema penomoran saya dari sini dan seterusnya akan melebihi Be sebanyak delapan, tetapi tanpa kecocokan dengan skema yang bersesuaian dalam Ce atau Ee. Dalam tanda kurung saya memberikan nomor sutta yang menjadi bagian dari sub bab, yang disebut vagga, tetapi hanya sekedar menomorinya tanpa judul yang sebenarnya.