1

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada pandangan salah. Bagi seorang yang berpandangan salah, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada pandangan benar. [31] Bagi seorang yang berpandangan benar, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain daripada pandangan salah.2 Bagi seorang yang berpandangan salah, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain daripada pandangan benar.3 Bagi seorang yang berpandangan benar, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya pandangan salah yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan salah yang telah muncul menjadi bertambah selain daripada pengamatan tidak seksama. Bagi seorang yang memiliki pengamatan tidak seksama, maka pandangan salah yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan salah yang telah muncul menjadi bertambah.”4

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya pandangan benar yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan benar yang telah muncul menjadi bertambah selain daripada pengamatan seksama. Bagi seorang yang memiliki pengamatan seksama, maka pandangan benar yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan benar yang telah muncul menjadi bertambah.”5

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka, selain daripada pandangan salah. Dengan memiliki pandangan salah, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun [32] yang karenanya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga, selain daripada pandangan benar. Dengan memiliki pandangan benar, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.”

6

“Para bhikkhu, bagi seorang yang berpandangan salah, kamma jasmani, kamma ucapan, dan kamma pikiran apa pun yang ia timbulkan dan ia lakukan sesuai dengan pandangan itu, dan apa pun kehendaknya, kerinduannya, kecenderungannya, dan aktivitas-aktivitas kehendaknya, semuanya mengarah pada apa yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, dan tidak menyenangkan, pada bahaya dan penderitaan. Karena alasan apakah? Karena pandangannya buruk.

“Misalkan, para bhikkhu, sebutir benih nimba, pare, atau labu pahit7 ditanam di tanah yang lembab. Apa pun nutrisi yang diperoleh benih itu dari tanah dan dari air semuanya akan mengarah pada rasa pahit, getir, dan tidak menyenangkan. Karena alasan apakah? Karena benih itu adalah benih yang buruk. Demikian pula, bagi seorang yang berpandangan salah … semuanya mengarah pada apa yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, dan tidak menyenangkan, pada bahaya dan penderitaan. Karena alasan apakah? Karena pandangannya buruk.”

“Para bhikkhu, bagi seorang yang berpandangan benar, kamma jasmani, kamma ucapan, dan kamma pikiran apa pun yang ia timbulkan dan ia lakukan sesuai dengan pandangan itu, dan apa pun kehendaknya, kerinduannya, kecenderungannya, dan aktivitas-aktivitas kehendaknya, semuanya mengarah pada apa yang diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan, pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena alasan apakah? Karena pandangannya baik.

“Misalkan, para bhikkhu, sebutir benih tebu, beras gunung, atau anggur ditanam di tanah yang lembab. Apa pun nutrisi yang diperoleh benih itu dari tanah dan dari air semuanya akan mengarah pada rasa manis, menyenangkan, dan lezat.8 Karena alasan apakah? Karena benih itu adalah benih yang baik. Demikian pula, bagi seorang yang berpandangan benar … semuanya mengarah pada apa yang diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan, pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena alasan apakah? Karena pandangannya baik.” [33]


Catatan Kaki
  1. Dalam Ee disebut vagga XVII dan dinamai “Benih” (Bīja).
  2. Mp: “Ini adalah sebuah sebutan untuk enam puluh dua pandangan salah”; baca DN 1.1.29-3.31, I 12-39. Walaupun tampaknya bahwa kata micchādiṭṭhi digunakan dalam Nikāya-Nikāya hanya sehubungan dengan tiga pandangan; nihilistik moral, doktrin tidak berbuat, dan doktrin tanpa penyebab (natthikavāda, akiriyavāda, ahetukavāda).
  3. Mp: “Ini adalah sebuah sebutan untuk lima jenis pandangan benar.” Mp-ṭ: “[Pandangan-pandangan] kepemilikan kamma, jhāna, pandangan terang, sang jalan, dan buah. Pengetahuan yang termasuk dalam kesadaran jhāna adalah pandangan benar jhāna, sedangkan pengetahuan pandangan terang adalah pandangan benar pandangan terang.”
  4. Baca 2:125, 10:93.
  5. Baca 2:126, MN 43.13, I 294, 1-4.
  6. Ce menganggap sutta ini dan sutta berikutnya masing-masing terdiri dari tujuh sutta: masing-masing satu untuk kamma jasmani, ucapan, dan pikiran, dan untuk kehendak, kerinduan, aspirasi, dan aktivitas-aktivitas kehendak. Demikianlah Ce menghitung dua puluh dua sutta pada bagian ini, bukan sepuluh seperti pada Be dan Ee.
  7. Nimbabījaṃ vā kosātakibījaṃ vā tittakalābubījaṃ vā.
  8. Asecanakatta. Lit., “tidak menyebabkan kejenuhan.”