Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau para asura bergerak dalam barisan perang melawan para dewa.1 Kemudian Sakka, raja para deva, berkata kepada deva muda Suvīra, sebagai berikut: ‘Suvīra, para asura ini bergerak dalam barisan perang melawan para deva. Pergilah, Suvīra, kerahkan barisan melawan para asura.’ – ‘Baik, Baginda,’ Suvīra menjawab, namun ia lalai.2 Untuk ke dua kalinya Sakka berkata kepada Suvīra … <467> … namun untuk ke dua kalinya Suvīra lalai. Untuk ke tiga kalinya Sakka berkata kepada Suvīra … namun untuk ke tiga kalinya Suvīra lalai. [217] Kemudian, para bhikkhu, Sakka berkata kepada Suvīra dalam syair:

“’Di mana seseorang tidak bekerja keras dan berusaha Namun masih dapat mencapai kebahagiaan: Pergilah, Suvīra, Dan bawa aku bersamamu.’

[Suvīra:]

“’Bahwa seorang malas yang tidak bekerja keras Tidak melakukan kewajibannya Masih dapat memenuhi semua keinginannya: Berikan aku itu, Sakka, sebagai anugerah.’3 <468>

[Sakka:]

“’Di mana seorang malas yang tidak bekerja keras Dapat mencapai kebahagiaan tanpa akhir: Pergilah, Suvīra, Dan bawa aku bersamamu.’

[Suvīra:]

“’Kebahagiaan itu, deva tertinggi, akan kami temukan Tanpa bekerja, O Sakka, Keadaan tanpa dukacita tanpa keputus-asaan: Berikan aku itu, Sakka, sebagai anugerah.’

[Sakka:]

“’Jika terdapat tempat di mana pun Di mana tanpa bekerja seseorang tidak merosot, Itu sesungguhnya adalah jalan Nibbāna: Pergilah, Suvīra, Dan bawa aku bersamamu.’4

“Demikianlah, para bhikkhu, jika Sakka, raja para deva, hidup dari buah kebajikannya sendiri, <469> menjalankan kekuasaan dan pemerintahan tertinggi atas para deva Tāvatiṃsa, menjadi seorang yang memuji inisiatif dan usaha, maka seberapa layaknya hal ini bagi kalian,5 yang telah meninggalkan keduniawian dalam Dhamma dan Disiplin yang telah dibabarkan sedemikian baik, untuk bekerja keras, berusaha dan berupaya demi mencapai apa-yang-belum-dicapai, demi memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, demi merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan.”

(Sutta ini serupa dengan sutta sebelumnya, dengan pengecualian bahwa deva muda itu bernama Susīma. Syair 863-67 = 858-62.) [218] <470-72>

Di Sāvatthi. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”6

“Yang Mulia!” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau para deva dan para asura sedang bersiap-siap untuk suatu pertempuran. Kemudian Sakka, raja para deva berkata kepada para deva Tāvatiṃsa sebagai berikut: ‘Teman-teman, ketika para deva terlibat dalam peperangan, [219] jika ketakutan atau kegentaran atau teror muncul, pada saat itu kalian harus melihat panjiku. Karena ketika kalian melihat panjiku, maka ketakutan atau kegentaran atau teror apa pun yang kalian alami akan lenyap.7

“’Jika kalian tidak dapat melihat panjiku, maka kalian harus melihat panji raja-deva Pajāpati. Karena ketika kalian melihat panjinya, maka ketakutan atau kegentaran atau teror apa pun yang kalian alami akan lenyap.

“’Jika kalian tidak dapat melihat panji raja-deva Pajāpati, maka kalian harus melihat bendera raja-deva Varuṇa … Jika kalian tidak dapat melihat panji raja-deva Varuṇa, maka kalian harus melihat bendera raja-deva Īsāna … Karena ketika kalian melihat benderanya, maka ketakutan atau kegentaran atau teror apa pun yang kalian alami akan lenyap.’8 <473>

“Para bhikkhu, bagi mereka yang melihat panji Sakka, raja para deva; atau Pajāpati, raja-deva; atau Varuṇa, raja-deva, atau Īsāna, raja-deva, ketakutan atau kegentaran atau teror apa pun yang mereka alami akan atau tidak akan lenyap. Karena alasan apakah? Karena Sakka, raja para deva, tidak terbebas dari nafsu, tidak terbebas dari kebencian, tidak terbebas dari delusi; ia mungkin merasa tidak percaya diri, takut, gentar, cepat melarikan diri.

“Tetapi, para bhikkhu. Aku mengatakan ini: Jika kalian pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, dan ketakutan atau kegentaran atau teror muncul dalam diri kalian, pada saat itu kalian harus mengingat Aku sebagai berikut: “Sang Bhagavā adalah Arahant, Tercerahkan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, Pemimpin tanpa tandingan bagi orang-orang yang patut dijinakkan, Guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Karena ketika kalian mengingat Aku, para bhikkhu, maka ketakutan atau keraguan atau teror apa pun yang kalian alami akan lenyap. [220]

Jika kalian tidak mengingatKu, maka kalian seharusnya mengingat Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā, terlihat langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat dipraktikkan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.’ Karena ketika kalian mengingat Dhamma, para bhikkhu, maka ketakutan atau kegentaran atau teror apa pun yang kalian alami akan lenyap.

Jika kalian tidak mengingat Dhamma, maka kalian seharusnya mengingat Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, <474> mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar, mempraktikkan jalan yang semestinya; yaitu, empat pasang makhluk, delapan jenis individu – Saṅgha siswa Sang Bhagavā ini adalah layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.’ Karena ketika kalian mengingat Saṅgha, para bhikkhu, maka ketakutan atau keraguan atau teror apa pun yang kalian alami akan lenyap.

“Karena alasan apakah? Karena, para bhikkhu, Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna terbebas dari nafsu, terbebas dari kebencian, terbebas dari delusi; Beliau berani, tegas, siap berdiri di tempatNya.”

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah mengatakan hal ini, Yang Sempurna, Sang Guru, lebih jauh lagi mengatakan sebagai berikut:

“Di dalam hutan, di bawah pohon, Atau di gubuk kosong, O para bhikkhu, Kalian harus mengingat Sang Buddha: Tidak akan ada ketakutan yang muncul dalam diri kalian.

“Tetapi jika kalian tidak mengingat Sang Buddha, Yang terbaik di dunia, banteng para manusia, Maka kalian harus mengingat Dhamma, Yang membebaskan, yang telah dibabarkan dengan sempurna.

“Tetapi jika kalian tidak mengingat Dhamma, Yang membebaskan, yang telah dibabarkan dengan sempurna, Maka kalian harus mengingat Saṅgha, Lahan jasa yang tiada taranya di dunia ini. <475>

“Karena bagi mereka yang mengingat Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, para bhikkhu, Tidak ada ketakutan atau kegentaran akan muncul, Juga tidak ada teror yang mengerikan.”

Di Sāvatthī. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: [221]

Suatu ketika di masa lampau para deva dan para asura sedang bersiap-siap untuk suatu pertempuran. Kemudian Vepacitti, raja para asura, berkata kepada para asura sebagai berikut:9 ‘Teman-teman, dalam perang yang akan segera terjadi antara para deva dan para asura, <476> jika para asura menang dan para deva kalah, ikat Sakka, raja para deva, pada empat anggota tubuhnya dan lehernya dan bawa kepadaku di kota para asura.’ Dan Sakka, raja para deva, berkata kepada para deva Tāvatiṃsa sebagai berikut: ‘Teman-teman, dalam perang yang akan segera terjadi antara para deva dan para asura, jika para deva menang dan para asura kalah, ikat Vepacitti, raja para asura, pada empat anggota tubuhnya dan lehernya dan bawa kepadaku di aula pertemuan Suddhamma.’

“Dalam perang itu, para bhikkhu, para deva menang dan para asura kalah. Maka para deva Tāvatiṃsa mengikat Vepacitti pada empat anggota tubuhnya dan lehernya dan membawanya ke hadapan Sakka di aula pertemuan Suddhamma.10 Ketika Sakka sedang memasuki dan meninggalkan aula pertemuan Suddhamma, Vepacitti, yang terikat keempat anggota tubuh dan lehernya, menghina dan mencercanya dengan kata-kata kasar. Kemudian, para bhikkhu, Mātali, si kusir berkata kepada Sakka, raja para deva, dalam syair:

“‘Ketika berhadapan secara langsung dengan Vepacitti Apakah, Maghavā, karena takut atau lemah <477> Engkau menahankannya dengan begitu sabar, Mendengarkan kata-kata kasarnya?’

[Sakka:]

“‘Bukan karena takut atau lemah Aku bersabar terhadap Vepacitti. Bagaimana mungkin seorang bijaksana sepertiku Terlibat pertempuran dengan si dungu?’

[Mātali:]

“‘Si dungu akan lebih banyak lagi melepaskan kemarahannya Jika tidak ada seorang pun yang melawannya. Karena itu dengan hukuman drastis Sang bijaksana seharusnya mengendalikan si dungu.’11

[Sakka:]

“‘Ini adalah gagasanku sendiri Cara untuk melawan si dungu adalah: Ketika seseorang mengetahui bahwa musuhnya marah Maka ia harus dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaian.’

[Mātali:]

“‘Aku melihat cacat ini, O Vāsava, Dalam melatih menahan kesabaran: Jika si dungu berpikir bahwa engkau sebagai, “Ia menahan sabar karena takut,” <478> Si tolol akan lebih jauh lagi mengejarmu Seperti yang dilakukan sapi kepada seseorang yang melarikan diri.’ [222]

[Sakka:]

“‘Biarlah apa pun yang ia pikirkan atau tidak pikirkan, “Ia menahan sabar karena takut,” Di antara tujuan yang berpuncak dalam kebaikan seseorang Tidak ada ditemukan yang lebih baik daripada kesabaran.12

“‘Ketika seseorang memiliki kekuatan Dengan sabar menghadapi yang lemah, Mereka menyebutnya kesabaran tertinggi; Yang lemah harus selalu sabar.13

“‘Mereka menyebut kekuatan itu sebagai tidak ada kekuatan sama sekali - Kekuatan yang merupakan kekuatan si dungu – Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mencela seseorang Yang kuat karena dijaga oleh Dhamma.14

“‘Seseorang yang membalas kemarahan orang lain dengan kemarahan Dengan demikian membuat lebih buruk bagi dirinya sendiri. Tidak membalas kemarahan orang lain dengan kemarahan, <479> Ia memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.

“‘Ia berlatih demi kesejahteraan kedua belah pihak, Kesejahteraannya dan orang lain, Ketika, mengetahui bahwa musuhnya marah, Ia dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaiannya.

“‘Ketika ia mencapai penyembuhan bagi keduanya - Untuk dirinya sendiri dan orang lain – Orang-orang yang menganggapnya dungu Adalah tidak terampil dalam Dhamma.’

“Demikianlah, para bhikkhu, jika Sakka, raja para deva, hidup dari buah kebajikannya sendiri, menjalankan kekuasaan dan pemerintahan tertinggi atas para deva Tāvatiṃsa, menjadi seorang yang memuji kesabaran dan kelembutan, maka seberapa layaknya hal ini bagi kalian, yang telah meninggalkan keduniawian dalam Dhamma dan Disiplin yang telah dibabarkan sedemikian baik, untuk menjadi sabar dan lembut.”

<480> Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, Suatu ketika di masa lampau para deva dan para asura sedang bersiap-siap untuk suatu pertempuran. Kemudian Vepacitti, raja para asura, berkata kepada Sakka, raja para deva: ‘Raja deva, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.’ [Dan Sakka menjawab:] ‘Vepacitti, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.’

“Kemudian, para bhikkhu, para deva dan para asura menunjuk suatu panel hakim, dan berkata: ‘Orang-orang ini akan memastikan apa yang diucapkan dengan baik dan apa yang diucapkan dengan buruk oleh kita.’

“Kemudian Vepacitti, raja para asura, berkata kepada Sakka, raja para deva: ‘Ucapkan sebuah syair, raja para deva.’ Ketika hal ini dikatakan, Sakka berkata kepada Vepacitti; ‘Engkau, Vepacitti, sebagai deva senior di sini, ucapkanlah sebuah syair.”15 [223] ketika ini dikatakan, Vepacitti, raja para asura, melantunkan syair:16

“‘Si dungu akan lebih banyak lagi melepaskan kemarahannya Jika tidak ada seorang pun yang melawannya. Karena itu dengan hukuman drastis Sang bijaksana seharusnya mengendalikan si dungu.’

“Ketika, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, mengucapkan syair ini, para asura bersorak namun para deva diam. Kemudian Vepacitti berkata kepada Sakka: ‘Ucapkan sebuah syair, raja para deva.’ Ketika ini dikatakan, Sakka, raja para deva, melantunkan syair ini:

“‘Ini adalah gagasanku sendiri <481> Cara untuk melawan si dungu adalah: Ketika seseorang mengetahui bahwa musuhnya marah Maka ia harus dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaian.’

“Ketika, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, mengucapkan syair ini, para deva bersorak namun para asura diam. Kemudian Sakka berkata kepada Vepacitti: ‘Ucapkan sebuah syair, Vepacitti.’ Ketika ini dikatakan, Vepacitti, raja para asura, melantunkan syair ini:

“‘Aku melihat cacat ini, O Vāsava, Dalam melatih menahan kesabaran: Jika si dungu berpikir bahwa engkau sebagai, “Ia menahan sabar karena takut,” Si tolol akan lebih jauh lagi mengejarmu Seperti yang dilakukan sapi kepada seseorang yang melarikan diri.’

“Ketika, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, mengucapkan syair ini, para asura bersorak namun para deva diam. Kemudian Vepacitti berkata kepada Sakka: ‘Ucapkan sebuah syair, raja para deva.’ Ketika ini dikatakan, Sakka, raja para deva, melantunkan syair ini:

“‘Biarlah apa pun yang ia pikirkan atau tidak pikirkan, … (syair – 877-82) … [224] <482> Adalah tidak terampil dalam Dhamma.’

“Ketika, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, mengucapkan syair-syair ini, para deva bersorak namun para asura diam. Kemudian panel hakim yang ditunjuk oleh para deva dan para asura berkata: ‘Syair-syair yang diucapkan oleh Vepacitti, raja para asura, adalah dalam lingkup hukuman dan kekerasan; karenanya [menyebabkan] konflik, perdebatan, dan perselisihan. Tetapi syair-syair yang diucapkan oleh Sakka, raja para deva, <483> adalah dalam lingkup bukan-hukuman dan bukan-kekerasan; karenanya [menyebabkan] kebebasan dari konflik, kebebasan dari perdebatan, dan kebebasan dari perselisihan. Sakka, raja para deva, telah menang melalui nasihat yang diucapkan dengan baik.’

“Demikianlah, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, menang melalui nasihat yang diucapkan dengan baik.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, Suatu ketika di masa lampau para deva dan para asura sedang bersiap-siap untuk suatu pertempuran. Dalam peperangan itu para asura menang dan para deva kalah. Dalam kekalahan itu para deva mundur ke utara sedangkan para asura mengejar mereka. Kemudian Sakka, raja para deva, berkata kepada kusirnya Mātali dalam syair:

“‘Hindari, O Mātali, dengan tiang keretamu Sarang-sarang burung dalam hutan-hutan pohon kapuk; Biarlah kita menyerahkan hidup kita kepada para asura <484> Daripada membuat burung-burung ini kehilangan sarang.’17

“’Baik, Baginda’, Mātali si kusir menjawab, dan ia memutar balik keretanya bersama dengan barisan seribu ekor kuda berdarah murni.

“Kemudian, para bhikkhu, para asura itu berpikir: ‘Sekarang kereta Sakka dengan barisan seribu kuda berdarah murni berbalik. [225] Para deva akan menghadapi pertempuran dengan para asura untuk ke dua kalinya.’ Diserang oleh ketakutan, mereka memasuki kota para asura. Demikianlah, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, menang hanya dengan kebajikan.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, sedang sendirian dalam keheningan, perenungan berikut ini muncul dalam pikirannya: ‘Walaupun seseorang adalah musuhku, aku tidak boleh melawannya.’

“Kemudian para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, <485> setelah dengan pikirannya mengetahui perenungan dalam pikiran Sakka, mendekati Sakka, raja para deva. Dari jauh Sakka melihat kedatangan Vepacitti dan berkata kepadanya: ‘Berhenti, Vepaciti, engkau tertangkap!’18

-‘Tuan, jangan abaikan gagasan yang baru saja muncul dalam benakmu.’19

-‘Bersumpahlah, Vepacitti, bahwa engkau tidak akan melawanku.’

[Vepacitti:]

“Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seorang pembohong, Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seorang penghina para mulia, Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seorang pengkhianat para sahabat, Kejahatan apa pun yang muncul dalam diri seseorang yang tidak tahu berterima kasih: Kejahatan yang sama akan menghampirinya Siapakah yang melawanmu, suami Sujā.”’20

Di Sāvatthī di Hutan Jeta. Pada saat itu Sang Bhagavā sedang melewatkan harinya dan sedang berada dalam keheningan. Kemudian Sakka, <486> raja para deva, dan Verocana, raja para asura, mendekati Sang Bhagavā dan masing-masing berdiri di tiang pintu. Kemudian Verocana, Raja para asura, melantunkan syair ini di hadapan Sang Bhagavā:21

“Seseorang harus berusaha Hingga tujuannya tercapai. Tujuan bersinar ketika tercapai: Ini adalah kata-kata Verocana.” [226]

[Sakka:]

“Seseorang harus berusaha Hingga tujuannya tercapai. Tujuan bersinar ketika tercapai, Tidak ditemukan yang lebih baik daripada kesabaran.”22

[Verocana:]

“Semua makhluk condong pada suatu tujuan Di sana atau di sini sesuai situasinya, Tetapi semua pergaulan makhluk-makhluk Adalah yang tertinggi di antara kenikmatan-kenikmatan. Tujuan bersinar ketika tercapai: Ini adalah kata-kata Verocana.”23 <487>

[Sakka:]

“Semua makhluk condong pada suatu tujuan Di sana atau di sini sesuai situasinya, Tetapi semua pergaulan makhluk-makhluk Adalah yang tertinggi di antara kenikmatan-kenikmatan. Tujuan bersinar ketika tercapai, Tidak ditemukan yang lebih baik daripada kesabaran.”

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau, sejumlah orang petapa yang bermoral dan berkarakter baik bertempat tinggal di gubuk-gubuk daun di sebidang tanah di dalam hutan. Kemudian Sakka, raja para deva, dan Vepacitti, raja para asura, mendatangi para petapa itu.

“Vepacitti, raja para asura, mengenakan sepatunya, mengikat erat pedangnya, dan, dengan memegang payung tinggi di atasnya, memasuki pertapaan melalui gerbang utama; kemudian, setelah menghadapkan sisi kirinya ke arah mereka,24 ia berjalan melewati para petapa itu yang bermoral dan berkarakter baik. Tetapi Sakka, raja para deva, melepaskan sepatunya, menyerahkan pedangnya kepada orang lain, <488> menurunkan payungnya, dan memasuki pertapaan melalui gerbang [biasa]; kemudian ia berdiri di tempat teduh, merangkapkan tangan sebagai penghormatan, menghormati para petapa itu yang bermoral dan berkarakter baik itu.

“Kemudian, para bhikkhu, para petapa itu berkata kepada Sakka dalam syair:

“‘Aroma para petapa terikat pada sumpah mereka, Terpancar dari tubuh mereka, terbang bersama angin. Berbaliklah dari sini, O deva bermata seribu, Karena aroma para petapa ini menjijikkan, O raja-deva.’25

[Sakka:]

“‘Biarlah aroma para petapa terikat pada sumpah mereka, Terpancar dari tubuh mereka, terbang bersama angin; Kami menyukai aroma ini, O yang mulia, Bagaikan karangan bunga di kepala. [227] Para deva tidak menganggapnya menjijikkan.”’26 <489>

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau sejumlah petapa yang bermoral dan berkarakter baik menetap di gubuk-gubuk daun di tepi samudra. Pada saat itu para deva dan para asura sedang bersiap-siap untuk suatu pertempuran. Kemudian para petapa yang bermoral dan berkarakter baik itu berpikir: ‘Para deva adalah baik, dan para asura adalah tidak baik. Mungkin terjadi bencana pada kami. Kami akan mendekati Sambara, raja para asura, dan memohon jaminan keselamatan.’27

“Kemudian, para bhikkhu, bagaikan seorang kuat yang merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, para petapa itu yang bermoral dan berkarakter baik itu lenyap dari gubuk-gubuk daun di sepanjang pantai dan muncul kembali di hadapan Sambara, raja para asura. Kemudian para petapa itu berkata kepada Sambara dalam syair:

“‘Para petapa yang telah menghadap Sambara Memohon jaminan keselamatan darinya. <490> Karena engkau dapat memberikan kepada mereka apa yang engkau inginkan, Apakah itu adalah bencana atau keselamatan.’28

[Sambara:]

“‘Aku tidak akan memberikan keselamatan kepada para petapa, Karena mereka adalah para penyembah Sakka yang dibenci; Walaupun engkau memohon keselamatan kepadaku, Aku hanya akan memberikan bencana kepadamu.’

[Para petapa:]

“‘Walaupun kami memohon keselamatan kepadamu, Engkau hanya memberikan bencana kepada kami. Kami menerima ini dari tanganmu: Semoga bencana tanpa akhir menghampirimu!

“‘Apa pun benih yang ditanam, Itulah buah yang akan dipetik: Pelaku kebaikan memetik kebaikan; Pelaku kejahatan memetik kejahatan. Olehmu, teman, benih telah ditanam; Dengan demikian engkau akan mengalami buahnya.’

“Kemudian, para bhikkhu setelah mengutuk Sambara, raja para asura, bagaikan seorang kuat yang merentangkan lengannya yang tertekuk <491> atau menekuk lengannya yang terentang, para petapa itu yang bermoral dan berkarakter baik itu lenyap dari hadapan Sambara dan muncul kembali di gubuk-gubuk daun mereka di tepi samudra. [228] Tetapi setelah dikutuk oleh para petapa yang bermoral dan berkarakter baik itu, Sambara, raja para asura, dicengkeram oleh ketakutan di sepanjang malam itu.”29 <492>

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia mengambil dan menjalankan tujuh sumpah yang dengan memenuhinya ia memperoleh status sebagai Sakka.30 Apakah tujuh sumpah itu?

(1) “‘Seumur hidupku aku akan menyokong orangtuaku.’

(2) “‘Seumur hidupku aku akan menyokong saudara-saudara tuaku.’

(3) “‘Seumur hidupku aku akan berbicara dengan lembut.’

(4) “‘Seumur hidupku aku tidak akan berbicara yang bersifat memecah-belah.’

(5) “‘Seumur hidupku aku akan berdiam di rumah dengan pikiran yang tanpa-kekikiran, bersikap dermawan, tangan-terbuka, gembira dalam pelepasan, bermurah-hati,31 gembira dalam memberi dan berbagi.’

(6) “‘Seumur hidupku aku akan membicarakan kebenaran.’

(7) “‘Seumur hidupku semoga aku terbebas dari kemarahan, dan jika kemarahan muncul dalam diriku, semoga aku dapat melenyapkannya dengan segera.’

“Di masa lampau, para bhikkhu, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia mengambil dan menjalankan ketujuh sumpah ini yang dengan memenuhinya ia memperoleh status sebagai Sakka. <493>

“Ketika seseorang menyokong orang tuanya, Dan menghormati para saudara tuanya; Ketika ucapannya lembut dan sopan, Dan ia menghindari kata-kata yang bersifat memecah-belah;

Ketika ia berusaha untuk melenyapkan kekikiran, Jujur, dan menaklukkan kemarahan, Para deva Tāvatiṃsa menyebutnya Sungguh seorang yang mulia.” [229]

Di Sāvatthī di Hutan Jeta. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia adalah seorang brahmana muda bernama Magha; oleh karena itu ia dipanggil Maghavā.32

“Para bhikkhu, di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia memberikan pemberian di kota demi kota; oleh karena itu ia disebut Purindada, si Pemberi kepada Penduduk Kota.33

“Para bhikkhu, di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia memberikan dengan penuh pertimbangan; oleh karena itu ia disebut Sakka.34

“Para bhikkhu, di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, <494> ia memberikan rumah peristirahatan; oleh karena itu ia disebut Vāsava.35

“Para bhikkhu, Sakka, raja para deva, memikirkan seribu persoalan dalam sesaat; oleh karena itu ia disebut Sahasakkha, Bermata-seribu.36

“Para bhikkhu, istri Sakka, adalah bidadari Asura bernama Sujā; oleh karena itu ia disebut Sujampati, suami Sujā.37

“Para bhikkhu, Sakka, raja para deva, menjalankan kekuasaan dan pemerintahan tertinggi atas para deva Tāvatiṃsa; oleh karena itu ia disebut raja para deva.

“Para bhikkhu, di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia mengambil dan menjalankan tujuh sumpah yang dengan memenuhinya ia memperoleh status sebagai Sakka …”

(Bagian selanjutnya dari sutta ini serupa dengan sutta sebelumnya. Syair 906-7 = 904 – 5.) [230] <495>

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesāli di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip. Kemudian Mahāli sang Licchavi mendekati Sang Bhagavā, memberi hormat kepadaNya, duduk di satu sisi, dan berkata kepadaNya:

“Yang Mulia, Pernahkah Bhagavā melihat Sakka, raja para deva?”

“Aku pernah melihatnya, Mahāli.”

“Tentu saja, Yang Mulia, pasti ada seseorang yang menyerupai Sakka, raja para deva; karena Sakka, raja para deva, sulit dilihat.”

“Aku mengetahui Sakka, Mahāli, dan Aku mengetahui kualitas-kualitas yang menjadikan Sakka, dengan menjalankan apakah Sakka memperoleh status Sakka. <496>

“Di masa lampau, Mahāli, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia adalah seorang brahmana muda bernama Magha. oleh karena itu ia dipanggil Maghavā …”

(Di sini dilanjutkan dengan nama-nama Sakka seperti pada 11:12 dan tujuh sumpah seperti pada 11:11, diikuti dengan syair 908-9 = 904-5.) [231] <497>

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau di Rājagaha yang sama ini terdapat seorang miskin, papa, melarat. Ia menjalani keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan dalam Dhamma dan Disiplin yang diajarkan oleh Sang Tathāgata. Setelah melakukan demikian, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, [232] <498> ia terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga di tengah-tengah para deva Tāvatiṃsa, di mana ia mengungguli para deva lainnya dalam hal keindahan dan keagungan.38

“Selanjutnya para deva Tāvatiṃsa menemukan cacat atas hal ini, menggerutu, dan mengeluhkannya dengan berkata: ‘Sungguh mengagumkan, tuan! Sungguh menakjubkan, tuan! Karena sebelumnya, ketika deva muda ini adalah seorang manusia, ia adalah seorang yang miskin, papa, melarat. Namun dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga di tengah-tengah para deva Tāvatiṃsa, di mana ia mengungguli para deva lainnya dalam hal keindahan dan keagungan.’

“Kemudian, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, berkata kepada para deva Tāvatiṃsa sebagai berikut: ‘Tuan-tuan, jangan mencari cacat deva muda ini. Sebelumnya, ketika deva muda ini adalah seorang manusia, ia menjalani keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan dalam Dhamma dan Disiplin yang diajarkan oleh Sang Tathāgata. Setelah melakukan demikian, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga di tengah-tengah para deva Tāvatiṃsa, di mana ia mengungguli para deva lainnya dalam hal keindahan dan keagungan.’

“Kemudian, para bhikkhu, untuk menasihati para deva Tāvatiṃsa,39 Sakka, raja para deva, pada kesempatan itu melantunkan syair-syair ini: <499>

“‘Ketika seseorang berkeyakinan pada Sang Tathāgata, Tidak tergoyahkan dan kokoh, Dan berperilaku baik yang dibangun di atas moralitas, Disayang oleh para mulia dan dipuji;40

“‘Ketika seseorang berkeyakinan di dalam Saṅgha Dan pandangannya lurus, Mereka mengatakan ia tidak miskin; Kehidupannya tidak dijalani dengan sia-sia.

“‘Oleh karena itu seorang yang cerdas, Mengingat Ajaran Sang Buddha, Harus setia pada keyakinan dan moralitas, Pada kepercayaan dan penglihatan Dhamma.’”

Di Sāvatthī di Hutan Jeta. Sakka, raja para deva, mendekati Sang Bhagavā, memberi hormat kepadanya, berdiri di satu sisi, dan berkata kepadanya: “Yang Mulia, apakah tempat yang menyenangkan?” [233]

[Sang Bhagavā:] <500>

“Altar-Altar di taman-taman dan di hutan-hutan, Kolam teratai yang dibangun dengan baik: Tidak setara dengan seperenam belas bagian Dari seorang manusia yang menyenangkan.

“Apakah di desa atau di hutan, Di lembah atau di tanah terbuka – Di mana pun para Arahant berdiam Itu sesungguhnya adalah tempat yang menyenangkan.”

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Puncak Gunung Hering. Kemudian Sakka, raja para deva, mendekati Sang Bhagavā, memberi hormat kepadaNya, dan berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di satu sisi, ia berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair:41

“Bagi orang-orang yang memberikan dana makanan, Bagi makhluk-makhluk hidup yang mencari jasa, Melakukan jasa berjenis duniawi, Di manakah pemberian menghasilkan buah yang besar?”42

[Sang Bhagavā:] <501>

“Sang empat yang mempraktikkan jalan Dan empat yang kokoh dalam buah: Ini adalah Saṅgha berperilaku lurus Memiliki kebijaksanaan dan moralitas.43

“Bagi orang-orang yang memberikan dana makanan, Bagi makhluk-makhluk hidup yang mencari jasa, Melakukan jasa berjenis duniawi, Pemberian kepada Saṅgha menghasilkan buah besar.”

Di Sāvatthī di Hutan Jeta. Pada saat itu Sang Bhagavā sedang melewatkan hariNya dan sedang berada dalam keheningan. Kemudian Sakka, raja para deva, dan Brahmā Sahampati mendekati Sang Bhagavā dan masing-masing berdiri di satu tiang pintu. Kemudian Sakka, raja para deva melantunkan syair ini di hadapan Sang Bhagavā:

“Bangunlah, O Pahlawan, Pemenang dalam pertempuran! BebanMu telah diturunkan, yang bebas dari hutang, mengembaralah di dunia. PikiranMu terbebaskan sepenuhnya Bagaikan bulan pada tanggal lima belas malam.”44 [234]

[Brahmā Sahampati:] “Bukan demikian caranya Sang Tathāgata dihormati, raja para deva. Sang Tathāgata dihormati dengan cara seperti ini:

“Bangunlah, O Pahlawan, Pemenang dalam pertempuran! <502> O Pemimpin rombongan, yang bebas dari hutang, mengembaralah di dunia. Ajarkanlah Dhamma, O Bhagavā: Akan ada orang-orang yang mampu memahami.”45

Di Sāvatthī. Di sana Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau, Sakka, raja para deva, berkata kepada kusirnya, Mātali, sebagai berikut: “Siapkan kereta dengan rombongannya berjumlah seribu kuda berdarah murni, sahabat Mātali. Marilah kita pergi ke taman untuk melihat pemandangan indah.’ – ‘Baik, Baginda,’ Mātali sang kusir menjawab. Kemudian ia mempersiapkan kereta bersama dengan rombongan seribu kuda berdarah murni dan memberitahukan kepada Sakka, raja para deva: ‘Kereta telah siap, Baginda. Engkau dapat berangkat kapan pun engkau kehendaki.’46

“Kemudian, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, turun dari Istana Vejayanta, merangkapkan tangan sebagai penghormatan, dan menyembah segala penjuru. Kemudian Mātali sang kusir berkata kepada Sakka dalam syair:

“‘Semuanya dengan rendah hati menyembah engkau - Mereka yang ahli dalam Tiga Veda, Semua khattiya yang memerintah di bumi, Empat Raja Dewa dan Tiga puluh yang agung - <503> Siapakah, O Sakka, makhluk Yang engkau sembah?”47

[Sakka:]

“‘Semuanya dengan rendah hati menyembahku - Mereka yang ahli dalam Tiga Veda, Semua khattiya yang memerintah di bumi, Empat Raja Dewa dan Tiga puluh yang agung –

Tetapi aku menyembah mereka yang memiliki moralitas, Mereka yang sejak lama terlatih dalam konsentrasi, Mereka yang dengan benar telah meninggalkan keduniawian Dengan kehidupan suci sebagai tujuan mereka.48

“‘Aku juga menyembah, O Mātali, Para perumah tangga yang melakukan kebajikan, Umat-umat awam yang memiliki moralitas Yang dengan benar memelihara istri.’

[Mātali:]

“‘Mereka yang engkau sembah, Tuanku Sakka, Sesungguhnya adalah yang terbaik di dunia. Aku juga akan menyembah mereka – Mereka yang engkau sembah, Vāsava.’ <504>

[Sang Bhagavā:]

“Setelah memberikan penjelasan ini, Setelah menyembah segala penjuru, Maghavā, raja-deva, suami Sujā, Sang pemimpin, naik ke kereta.” [235]

(Seperti di atas hingga:)

“Kemudian, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, turun dari Istana Vejayanta, merangkapkan tangan sebagai penghormatan, dan menyembah Sang Bhagavā. Kemudian Mātali sang kusir berkata kepada Sakka dalam syair:

“‘Baik para deva maupun manusia Dengan rendah hati menyembah engkau, Vāsava. Siapakah, O Sakka, makhluk Yang engkau sembah?’

[Sakka:] <505>

“‘Yang Tercerahkan Sempurna di sini Di dunia ini bersama dengan para deva, Sang Guru dengan nama sempurna; Beliau adalah siapa yang kusembah, Mātali.49

“‘Mereka yang nafsu dan kebencian Dan ketidaktahuan telah lenyap, Para Arahant dengan noda dihancurkan: Mereka ini adalah siapa yang kusembah, Mātali.

“‘Para siswa yang gembira dalam menguraikan, Yang dengan tekun berlatih Untuk melenyapkan nafsu dan kebencian, Untuk melampaui ketidaktahuan: Mereka ini adalah siapa yang kusembah, Mātali.’50

[Màtali:]

“‘Mereka yang engkau sembah, Tuanku Sakka, Sesungguhnya adalah yang terbaik di dunia. Aku juga akan menyembah mereka – Mereka yang engkau sembah, Vāsava.’ <504>

[Sang Bhagavā:]

“Setelah memberikan penjelasan ini, Setelah menyembah segala penjuru, Maghavā, raja-deva, suami Sujā, Sang pemimpin, naik ke kereta.” <506>

(Seperti di atas hingga:) [236]

“Kemudian, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, turun dari Istana Vejayanta, merangkapkan tangan sebagai penghormatan, dan menyembah Saṅgha para bhikkhu. Kemudian Mātali sang kusir berkata kepada Sakka dalam syair:

“‘Adalah mereka yang seharusnya menyembah engkau - Manusia yang terjebak dalam jasmani yang busuk, Mereka yang terbenam di dalam bangkai, Diserang oleh lapar dan haus.51

Mengapa engkau iri pada mereka, Orang-orang ini yang berdiam tanpa rumah, Vāsava? Beritahukan kepada kami tentang perilaku petapa ini; Biarlah kami mendengarkan apa yang engkau katakan.’

[Sakka:] <507>

“‘Ini adalah mengapa aku iri pada mereka,52 Orang-orang itu yang berdiam tanpa rumah, Mātali: Desa apa pun yang mereka tinggalkan, Mereka tinggalkan tanpa beban.

“‘Mereka tidak menyimpan barang-barang mereka di gudang, Tidak di dalam kendi juga tidak di dalam peti. Mencari, apa yang telah dipersiapkan oleh orang lain, Dengan cara inilah mereka hidup, teguh dalam sumpah: Para bijaksana itu yang memberikan nasihat yang baik, Mempertahankan keheningan, bahkan dalam perjalanan.53

“‘Sementara para deva bertempur melawan para asura Dan orang-orang saling bertempur satu sama lain, Di antara mereka yang bertempur, mereka tidak bertempur; Di antara mereka yang bengis, mereka tenang; Di antara mereka yang mencengkeram, mereka tidak mencengkeram; Orang-orang inilah yang kusembah, Mātali.’

[Mātali:]

“‘Mereka yang engkau sembah, Tuanku Sakka, Sesungguhnya adalah yang terbaik di dunia. Aku juga akan menyembah mereka – Mereka yang engkau sembah, Vāsava.’ <508>

[Sang Bhagavā:]

“Setelah memberikan penjelasan ini, Setelah menyembah Bhikkhu Saṅgha, Maghavā, Raja-deva, suami Sujā, Sang pemimpin, naik ke kereta.”

[237]

Di Sāvatthī di Hutan Jeta. Sakka, raja para deva, mendekati Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, dan berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di satu sisi, Sakka, raja para deva, berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair:

“Setelah membunuh apakah seseorang tidur dengan lelap? Setelah membunuh apakah seseorang tidak bersedih? <509> Apakah satu hal ini, O Gotama, Pembunuhan yang Engkau setujui?”

[Sang Bhagavā:]

“Setelah membunuh kemarahan, seseorang tidur dengan lelap; Setelah membunuh kemarahan, seseorang tidak bersedih; Pembunuhan kemarahan, O Vāsava, Dengan akarnya yang beracun dan pucuknya yang bermadu: Adalah pembunuhan yang dipuji oleh para mulia, Karena setelah membunuhnya, seseorang tidak bersedih.”

Di Sāvatthi di Hutan Jeta. Di sana Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau satu yakkha cacat yang buruk rupa duduk di atas tempat duduk Sakka, raja para deva.54 Kemudian, para deva Tāvatiṃsa mengetahui hal ini, menggerutu, dan mengeluhkan, dengan berkata: ‘Sungguh mengagumkan, tuan! Sungguh menakjubkan, tuan! Yakkha cacat yang buruk rupa ini duduk di atas tempat duduk Sakka, raja para deva!’ <510> Tetapi semakin para deva Tāvatiṃsa itu menggerutu dan mengeluhkan hal ini, yakkha itu menjadi semakin tampan, semakin menarik, semakin terlihat agung.

“Kemudian, para bhikkhu, para deva Tāvatiṃsa itu mendatangi Sakka dan berkata kepadanya: ‘Di sini, Baginda, yakkha cacat yang buruk rupa telah menduduki tempat dudukmu … Tetapi semakin para deva menggerutu … [238] yakkha itu menjadi semakin tampan, semakin menarik, semakin terlihat agung.’ - Dia pasti yakkha pemakan kemarahan.’

“Kemudian, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, mendekati yakkha pemakan-kemarahan itu.55 Setelah mendekat, ia merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, berlutut dengan lutut kanan menyentuh tanah, dan merangkapkan tangan sebagai penghormatan kepada yakkha itu, <511> ia menyebutkan namanya tiga kali: ‘Aku, Tuan, adalah Sakka, raja para deva! Aku, Tuan, adalah Sakka, raja para deva!’ Semakin Sakka menyebutkan namanya, yakkha itu menjadi semakin buruk dan buruk dan menjadi lebih cacat hingga ia lenyap dari sana.

“Kemudian, para bhikkhu, setelah duduk di tempat duduknya sendiri, memberikan instruksi kepada para deva Tāvatiṃsa, Sakka, raja para deva, pada kesempatan itu melantunkan syair-syair ini:

“‘Aku tidak terganggu dalam pikiran, Juga tidak mudah terpengaruh oleh pusaran kemarahan. Aku tidak pernah marah dalam waktu yang lama, Juga kemarahan tidak bertahan lama dalam diriku.56

“‘Ketika aku marah aku tidak mengucapkan kata-kata kasar Dan aku tidak memuji kebajikanku. Aku menjaga diriku senantiasa terkendali baik <512> Demi kebaikanku.’”57

Di Sāvatthī. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: “Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau Vepacitti, raja para asura, sedang sakit, menderita, sakit parah.58 Kemudian Sakka, raja para deva, mendekati Vepacitti untuk menanyakan tentang penyakitnya. Dari jauh Vepacitti melihat kedatangan Sakka dan berkata kepadanya: ‘Sembuhkan aku, raja para deva.’ – [239] ‘Ajari aku, Vepacitti, kegaiban Sambari.’59 – ‘Aku tidak akan mengajarkannya, Baginda, hingga aku mendapat izin dari para asura.’

“Kemudian, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, bertanya kepada para asura: ‘Bolehkah aku mengajarkan kegaiban Sambari kepada Sakka, raja para deva?’ – ‘Jangan ajarkan kegaiban Sambari kepadanya, Tuan.’60

“Kemudian, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, berkata kepada Sakka, raja para deva, dalam syair: <513>

“Seorang penyihir – O Maghavā, Sakka, Raja para deva, suami Sujā – Pergi ke neraka yang mengerikan, Bagaikan Sambara, selama seratus tahun.’”61

Di Sāvatthī. Pada saat itu dua bhikkhu bertengkar dan satu bhikkhu telah melakukan pelanggaran terhadap yang lainnya. Kemudian bhikkhu pertama mengakui pelanggarannya kepada bhikkhu lainnya, namun bhikkhu ke dua tidak memaafkannya.62

Kemudian sejumlah bhikkhu mendekati Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan melaporkan kepada Beliau apa yang telah terjadi. <514> [Sang Bhagavā berkata:]

“Para bhikkhu, ada dua jenis orang dungu: seorang yang tidak melihat suatu pelanggaran sebagai pelanggaran; dan seorang yang, ketika orang lain mengakui pelanggaran, tidak memaafkannya sesuai dengan Dhamma. Ini adalah dua jenis orang dungu.

“Ada, para bhikkhu, dua jenis orang bijaksana: seorang yang melihat suatu pelanggaran sebagai pelanggaran; dan seorang yang, ketika orang lain mengakui pelanggaran, memaafkannya sesuai dengan Dhamma. Ini adalah dua jenis orang bijaksana.

“Suatu ketika di masa lampau, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, menasihati para deva Tāvatiṃsa di aula pertemuan Sudhamma, pada kesempatan itu ia melantunkan syair ini: [240]

“‘Bawalah kemarahan ke bawah kendalimu; Jangan biarkan persahabatanmu rusak. Jangan menyalahkan seorang yang tidak bersalah; Jangan mengucapkan kata-kata yang bersifat memecah-belah. Bagaikan gunung salju yang longsor Kemarahan menggilas orang-orang jahat.’”63

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau, Sakka, raja para deva, menasihati para deva Tāvatiṃsa di aula pertemuan Sudhamma, pada kesempatan itu ia melantunkan syair ini: <515>

“‘Jangan biarkan kemarahan menguasaimu; Jangan marah pada mereka yang marah. Tanpa-kemarahan dan tidak-membahayakan selalu berdiam Dalam [hati] para mulia. Bagaikan gunung salju yang longsor Kemarahan menggilas orang-orang jahat.’”64

<516>


Catatan Kaki
  1. Teks biasanya menggambarkan para deva Tāvatiṃsa dan para asura selalu terlibat dalam perselisihan berkepanjangan, para deva mewakili kekuatan terang, kedamaian, dan keharmonisan, dan para asura atau para “raksasa iri-hati” mewakili kekuatan kekejaman, konflik, dan pertikaian; baca juga 35:248.

    Spk menjelaskan bahwa para deva dilindungi oleh lima baris pertahanan: nāga, supaṇṇa (n.397), kumbhaṇḍa (sejenis peri), yakkha, dan Empat Raja Dewa, para dewa penghuni surga alam-indria terendah. Ketika para asura menembus lima barisan ini, Empat Raja Dewa memberitahu Sakka, yang menaiki keretanya dan kemudian pergi sendiri ke peperangan atau mengutus salah satu dari putra-putranya untuk memimpin para deva dalam pertempuran. Pada kesempatan ini ia ingin mengutus putranya yang bernama Suvira.

  2. Spk: disertai para pengikutnya, para bidadari, ia memasuki jalan raya emas enam puluh yojana lebarnya dan berjalan di dalam Hutan Nandana bermain (permainan) Perbintangan.
  3. Spk: Dalam pāda a, alasassa (dalam Se dan Ee1; alasvassa dalam Be & Ee2) seharusnya dipecah: alaso assa; dalam pāda c, sabbakāmasamiddhasssa seharusnya dipecah: sabbakāmehi samiddho assa. Dalam pāda d, saya bersama dengan Be, Se, dan Ee2 membaca disā ti bukannya disan ti seperti dalam Ee1.

    Spk menuliskan pāda d sebagai berikut: “O Sakka, deva tertinggi, perlihatkanlah padaku negeri (atau) wilayah yang terberkahi, yang tertinggi, tunjukkan kepadaku, gambarkanlah” (sakka devaseṭṭha tam me varaṃ uttamaṃ thānaṃ okāsaṃ disa ācikkha kathehi). VĀT mengusulkan bahwa karena pāda d tidak memasukkan kata benda untuk kata sifat varaṃ untuk menilainya, adalah lebih baik menganggap varaṃ itu sendiri sebagai kata benda yang berarti “anugerah” dan disa berarti “memberikan, menganugerahkan”. Arti ini ditegaskan dalam PED, s.v. disati, tetapi tanpa referensi. Saya mengikuti usul VĀT, walaupun saya tidak dapat menyebutkan di mana varaṃ digunakan sehubungan dengan disāti, seperti pada Vin I 278, 23.

  4. Syair ini tidak jelas. Spk dan Spk-pṭ memberikan sedikit lebih daripada kemasan, dan penerjemah dapat melakukan sedikit lebih baik daripada menembak dalam kegelapan. Dalam pāda a, saya menganggap koci sama dengan kvaci (baca n.175). Saya dan Ee1 & 2 membaca kata kerja dalam pāda b sebagai jiyati, bukannya jivati dalam Be dan Se; yang terakhir mungkin membaca teks melalui kesalah-pahaman atas kemasan komentar.

    Spk: “Tempat hidup tanpa bekerja adalah Jalan Nibbāna (kammaṃ akatvā jivitaṭṭhānaṃ nāma nibbānassa maggo).” Spk-pṭ: “‘Jalan Nibbāna’ adalah jalan yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai Nibbāna.” Ini membingungkan: karena “bekerja” (kamma) dalam makna usaha tentu saja diperlukan untuk mencapai Nibbāna, intinya mungkin bahwa dengan tercapainya Nibbāna maka tidak ada lagi pekerjaan yang harus dilakukan. Syair ini juga dapat diartikan atas dua makna kamma, menyarankan bahwa seorang yang mencapai Nibbāna tidak membuat kamma, perbuatan kehendak yang matang dalam kelahiran kembali.

  5. Kata kerja sobhetha, dalam ungkapan umum ini, terbukti menyulitkan bagi para penerjemah sebelumnya. C.Rh.D menerjemahkannya “apakah kalian memperbaiki kata-katanya” (pada KS 1:281); Horner, berdasarkan PED, sebagai “semoga cahayamu bersinar” (dalam BD 4:249, 4:498, 5:227 = Vin I 187,23, I 349,7, II 162,15). Tidak satu pun terjemahan ini menangkap maksud yang sebenarnya. Kata kerja – suara penengah, bentuk kata berharap dari orang ke tiga tunggal – selalu muncul dalam konteks di mana Sang Buddha membicarakan jenis perilaku umat awam yang para bhikkhu, sebagai yang telah meninggalkan keduniawian, harus mampu melampaui. Karena itu kata kerja ini menunjukkan bagaimana seseorang harus bertindak untuk membuat dirinya bersinar, yaitu, perilaku yang sesuai dengan stasiunnya.
  6. Sutta ini adalah paritta atau khotbah perlindungan yang terkenal, termasuk dalam Maha Pirit Pota. Tradisi Buddhis Utara telah melestarikan versi-versi Tibet dan China, yang diterjemahkan dari Skt, dan penggalan Skt juga telah ditemukan. Berbagai versi dibahas secara terperinci oleh Skilling, Mahā Sūtras II, pp.441-67.
  7. Spk tidak mengemas kata majemuk dhajagga, tetapi muncul dalam AN III 89,17 foll. dan dijelaskan pada Mp III 267,18 sebagai “panji yang dikibarkan dari punggung gajah, kuda, dan seterusnya, atau dari kereta.” Skilling mendiskusikan kata Skt dhvaja dan dhvajāgra secara lengkap dan menyimpulkan bahwa “dalam bentuk terdahulu dhvaja adalah sebatang galah yang terpasang lambang di ujungnya, dibawa sebagai simbol militer atau kerajaan.” (Mahā Sūtras II, p.457). Lambang adalah dhvajāgra, “bendera,” walaupun sepertinya dengan berlalunya waktu kedua istilah ini nyaris dapat saling dipertukarkan. Karena pada tiang bendera biasanya terdapat bendera, kata dhvaja akhirnya beralih menjadi bendera; pengertian istilah ini sepertinya secara implisit terdapat dalam pernyataan Spk (di bawah ini). Dhaja muncul pada v.226a.

    Spk: “Panji Sakka dikibarkan dari keretanya setinggi 250 yojana, dan ketika tertiup angin, bendera itu mengeluarkan suara orkestra dengan lima alat musik. Ketika para deva melihat ke atas, mereka berpikir, ‘Raja kita telah datang dan berdiri bersama pasukannya bagaikan tiang yang tertanam dalam. Kepada siapakah kita harus takut? Demikianlah mereka tidak ketakutan.”

  8. Dari ketiga dewa ini, Spk mengatakan bahwa hanya Pajāpati yang berpenampilan dan memiliki umur kehidupan yang sama dengan Sakka dan menempati posisi ke dua, sedangkan Varuṇa dan Īsāna menempati posisi ke tiga dan ke empat. Menurut MW, Prajāpati awalnya adalah “raja para makhluk, pencipta, … dewa tertinggi di atas para dewa Veda.” Varuṇa “adalah salah satu dewa Veda yang tertua … sering dianggap sebagai dewa tertinggi.” Īsāna adalah “salah satu nama dari Siva-Rudra.”
  9. Baca n.157. Di sini Spk mengatakan bahwa ia adalah yang tertua di antara para asura.
  10. Peristiwa serupa dikisahkan pada 35:248 (IV 201,18 – 202,4).
  11. Dalam pāda a, Be, Se, dan Ee2 membaca pabbhijeyyuṃ, Ee1 pakujheyyuṃ. Yang terakhir dikenali Spk sebagai variasi tulisan dialog merupakan kontes antara dua pemimpin politik yang saling berlawanan, dengan Mātali mendukung pemerintahan lalim, Sakka menganut prinsip kebajikan. Filosofi politis lalim sepertinya sesuai dengan karakter para asura, dan sesungguhnya dalam Sutta berikut ini Vepacitti sendiri menyatakan bahwa syair-syair ini berasal dari Mātali.
  12. Saya menerjemahkan pāda cd dengan tuntunan dari tulisan Spk: “Di antara tujuan-tujuan (atau kebaikan-kebaikan) yang memuncak pada kesejahteraan seseorang, tidak ditemukan tujuan (atau kebaikan) yang lebih baik daripada kesabaran” (tesu saka-atthaparamesu atthesu khantito uttaritaro añño na vijjati). Karena perbedaan antara bentuk jamak sadatthaparamā atthā dalam pāda c dan kata kerja tunggal vijjati dalam pāda d, sepertinya perlu membaca klausa nominatif dalam pāda c sebagai melakukan fungsi lokatif atau genitif, seperti yang disarankan Spk, dengan subjek tunggal implisit. Alternatif satu-satunya mungkin adalah dengan memperbaiki pāda c menjadi bentuk tunggal sadatthaparamo attho, tetapi tidak ada teks dengan tulisan seperti ini. Cp v.854d di atas dan v.895d di bawah. Ñāṇamoli secara sintaksis memecah dua pāda tersebut dan menerjemahkan: “Kesejahteraan seseorang adalah yang terbaik, dan tidak ada yang melampaui kesabaran” (The Guide, p.227), tetapi ini sepertinya terjemahan yang terlalu bebas.

    Perhatikan bahwa Sakka berbicara dari sudut pandang nilai-nilai etis duniawi daripada sudut pandang Dhamma yang melampaui. Dari sudut pandang tersebut sadattha diidentifikasikan dengan Kearahattaan, yang tidak mungkin dicapai hanya dengan kesabaran.

  13. C.Rh.D menganggap niccaṃ khamati dubbalo berarti bahwa orang yang lemah harus selalu dihadapi dengan sabar (baca KS 1:285), tetapi dubbalo, sebagai bentuk nominatif, jelas adalah subjek dari khamati, bukan objeknya. Terjemahan saya sesuai dengan terjemahan Ñāṇamoli (dalam Minor Readings and Illustrator, p.162), tetapi dibuat secara terpisah. Catatan Ñāṇamoli juga cocok dengan interpretasi saya: “Terjemahan di sini … berusaha untuk mengungkapkan bahwa kesabaran lebih diperlukan daripada moralitas dalam diri seorang yang lemah, tetapi terlihat sebagai moralitas dalam kesabaran dalam diri seorang yang kuat. Syair ini adalah syair yang sulit.”
  14. Spk: Dhammaguttassa: bagi seseorang yang dilindungi oleh Dhamma atau bagi seseorang yang melindungi Dhamma (dhammena rakkhitassa dhammaṃ vā rakkhantassa).
  15. Tumhe khvettha vepacitti pubbadevā. Spk menulis: “Sebagai pemimpin senior yang telah lama berdiam di alam deva, katakanlah apa yang telah disampaikan kepadamu.” Spk-pṭ: Karena ia telah muncul di alam ini lebih dulu daripada Sakka dan pengikutnya para deva, ia dipuji sebagai “deva senior” (pubbadevā, secara literal “deva generasi pertama”). Ia berkata kepada Vepacitti dalam bentuk jamak sebagai isyarat hormat.

    Baik Spk (atas 11:1) dan Dhp-a I 272-73 menceritakan bagaimana Sakka mengusir para deva generasi tua dan menyingkirkan mereka ke alam asura; baca BL 1:319.

  16. Syair-syair Vepacitti identik dengan syair-syair Mātali dalam sutta sebelumnya, dan syair-syair Sakka di sini identik dengan syair-syairnya di atas.
  17. Peristiwa yang sama, terjadi dalam konteks berbeda, dikisahkan dalam Dhp-a I 279 (baca BL 1:323-24) dan dalam Ja No.31(I 202-3). Ja I 203 mengemas kulāvaka sebagai supaṇṇapotakā, bayi burung-burung supaṇṇa, tetapi pada v.37b kata itu jelas berarti sarang dan bukan penghuninya.

    Spk: Sewaktu mereka bergerak ke arah hutan kapas-sutra, suara-suara kereta, kuda, dan bendera-bendera bagaikan halilintar di segala sisi. Burung supaṇṇa di dalam hutan melarikan diri, tetapi yang tua, sakit dan terlalu muda untuk terbang menjadi ketakutan dan mengeluarkan pekikan keras. Sakka bertanya, “Suara apakah itu?” dan Mātali memberitahunya. Hati Sakka terguncang oleh belas kasihan dan mengucapkan syair itu.

  18. Spk: Segera setelah Sakka mengatakan ini, Vepacitti menjadi seolah-olah terbelenggu di empat bagian tubuh dan lehernya.
  19. Saya bersama dengan Be membaca: tadeva tvaṃ mā pajahāsi. Ee1 membaca pahāsi, yang bermakna sama, tetapi Se dan Ee2 membaca mārisa pahāsi, yang berarti sebaliknya.
  20. Spk: Syair ini merujuk pada empat kejahatan besar (mahāpāpāni) dalam kappa sekarang: (i) “kejahatan yang mendatangi seorang pembohong”: kejahatan Raja Ceti, pembohong pertama dalam kappa sekarang ini (baca Cetiya Jātaka, Ja No. 422); (ii) “pencela para mulia” kejahatan seperti yang dilakukan oleh Kokālika (baca 6:10); (iii) “kepada pengkhianat para sahabat”: kejahatan seperti yang dilakukan pengkhianat Makhluk Agung dalam Mahākapi Jātaka (Ja No. 516); (iv) “seseorang yang tidak tahu berterima kasih”: kejahatan seperti Devadatta yang tidak tahu berterima kasih.

    Dalam pāda e, saya bersama dengan Se dan Ee1 & 2 membaca phusati, bukannya phusatu dalam Be. “Suami Sujā” (Sujampati) adalah nama bagi Sakka; baca 11:12 dan n.641.

  21. Baik Spk maupun Spk-pṭ tidak membantu dalam mengidentifikasikan Verocana. Pada DN II 259,11 disebutkan “seratus putra-putra (asura) Bali, semuanya bernama Veroca” (satañ ca baliputtānam sabbe Verocanāmakā), yang mana Sv II 689,26-27 mengomentari: “Mereka semuanya menyandang nama paman mereka Rāhu.” Ini menyiratkan bahwa Verocana dan Rāhu adalah sama, namun tidak ada bukti tambahan untuk ini.
  22. Baik C.Rh.D maupun Geiger menerjemahkan pāda cd seolah-olah dua kalimat yang terpisah: “Tujuan bersinar ketika disempurnakan./Tidak ada yang melampaui kesabaran.” Saya mengikuti tulisan dalam Spk, yang memperlakukannya sebagai satu kalimat: “Di antara tujuan-tujuan (baik) yang bersinar ketika dicapai, tidak ada tujuan yang lebih baik daripada kesabaran.” Saya bersama dengan Se dan Ee2 membaca pāda c di sini (dan dalam v.894 di atas) sebagai bentuk jamak: nipphannasobhino atthā, bukannya bentuk tunggal nipphannasobhano attho seperti dalam Be dan Ee1. Pāda d di sini identik dengan v.865d dan v.877d. Baca n.616.
  23. Dalam pāda a, sabbe sattā atthajāta juga telah diterjemahkan, “Semua makhluk diserang oleh kebutuhan-kebutuhan.” Spk menjelaskan: “Condong pada suatu tujuan berarti melakukan suatu tugas (atthajāta ti kiccajātā); karena tidak ada makhluk, termasuk anjing dan serigala, yang tidak melakukan suatu tugas. Bahkan berjalan mondar-mandir dapat disebut suatu tugas.

    Pāda cd tertulis: Saṃyogaparamā tveva/Sambhogā sabbapāṇinaṃ. Arti dan hubungan pastinya tidak jelas. Spk menginterpretasikan baris ini dengan contoh – makanan lunak dapat dibuat lezat jika digabungkan dengan berbagai bumbu – yang menafsirkan saṃyoga sebagai makna penggabungan atau persiapan. Ini bagi saya sepertinya tidak mungkin. Pada Ja IV 127,14-15 bait ini muncul dalam konteks yang menyiratkan makna ini berhubungan dengan orang lain; baca juga AN IV 57-58, di mana saṃyoga menunjukkan kontak atau pergaulan antara laki-laki dan perempuan (secara seksual, tapi tidak harus berarti melakukan hubungan seksual). Saya memahami secara sintaksis sama dengan yang terdapat pada Dhp 203-4, yaitu, “kenikmatan memiliki pergaulan sebagai yang tertinggi”, daripada “melalui pergaulan kenikmatan menjadi tertinggi,” makna yang diusulkan oleh Spk.

  24. Apabyāmato karitvā (atau apavyāmato karitvā, dalam Ee1). CPD mengatakan apavyāma adalah suatu variasi tulisan bagi apasavya. Pada Ud 50,18 ungkapan apasabyāmato karitvā muncul, yang Ud-a 292,4 menjelaskan sebagai berbalik dengan sisi kiri menghadap seorang suci adalah tanda ketidak-hormatan.
  25. Spk mengemas ciradikkhitānaṃ dalam pāda a sebagai cirasamādiṇṇavatānaṃ, “yang menjalankan sumpah sejak lama.” Mengenai “seribu-mata” (sahassanetta) sebagai julukan Sakka, baca 11:12; walaupun di sana kata Pāli yang digunakan adalah sahassakkha, namun bermakna sama. Para petapa mengatakan ini karena mereka menganut kepercayaan umum bahwa para deva merasakan bau tubuh manusia adalah menjijikkan – khususnya para petapa yang jarang mandi (baca argumen Mātali pada v.932). Jawaban Sakka menyampaikan hal yang sama seperti Dhp 54-56: aroma moralitas adalah yang paling harum di antara segala aroma dan meliputi hingga ke alam deva.
  26. Spk menuliskan: “Para deva tidak merasakan apa pun yang menjijikkan dari bau para mulia, mereka merasakannya nikmat, harum, menyenangkan.”
  27. Spk: Pada umumnya, dikatakan, pertempuran antara para deva dan para asura terjadi di balik samudra raya. Sering kali para asura kalah, dan ketika mereka melarikan diri dari para deva, ketika mereka melewati pertapaan para petapa, mereka menghancurkan bangunan dan jalanan, dan sebagainya; karena mereka percaya bahwa para petapa itu memihak Sakka dan memberikan nasihat yang menyebabkan kekalahan mereka. Karena para petapa hanya dapat memperbaiki segala kerusakan itu setelah bersusah-payah, maka ketika mereka mendengar bahwa pertempuran akan segera terjadi, mereka menyadari bahwa mereka memerlukan jaminan keselamatan.

    Identitas Sambara agak menyulitkan. Spk mengidentifikasikannya sebagai Vepacitti (baca n.633), tetapi C.Rh.D menunjukkan (pada KS 1:305, n.4) bahwa 11:23 menyarankan dua perbedaan, Sambara sebagai pendahulu Vepacitti sebagai raja para asura. MW menyebutkan bahwa Sambara adalah siluman yang sering disebut dalam Rgveda; ia terbunuh oleh Indra. Untuk diskusi lebih lanjut, baca n.665 berikut.

  28. Pāda c seharusnya dibagi seperti dalam Be dan Ee2: Kāmankaro hi te dātuṃ. Spk mengemas kāmaṅkaro menjadi icchitakaro dan menuliskan: “Jika engkau mau memberikan keselamatan, engkau mampu memberikan keselamatan; jika engkau mau memberikan bahaya, engkau mampu memberikan bahaya.”
  29. Spk: Segera setelah ia jatuh tertidur, ia terbangun sambil menangis seolah-olah ia telah diserang dari segala penjuru oleh seratus tombak. Para asura lainnya datang untuk menanyakan kesehatannya dan masih menghiburnya ketika fajar menyingsing. Sejak saat itu pikirannya menjadi sakit dan berguncang (cittaṃ vepati); karena itu muncullah nama lainnya, “Vepacitti”. Vepati tidak tercantum dalam PED, tetapi baca MW, s.v. vip > vepate. Spk mengemas vepati menjadi kampati pavedhati.
  30. Spk mengemas samattāni menjadi paripuṇṇāni dan samādinnāni dengan gahitāni. Jelas Spk beranggapan bahwa samatta di sini adalah sama dengan Skt samāpta. Tetapi kata kerja samatta dapat mewakili Skt samāpta atau samātta, dan dari peletakannya sebelum samādinnāni dalam kalimat ini, saya menganggap samattāni dalam makna ke dua. Baik samatta maupun samādinna adalah alternatif bentuk kata kerja pasif dari sam + ā +dā. PED tidak menyebutkan turunan ini, tetapi hanya bahwa dari Skt samāpta (dan dari Skt samasta, yang tidak relevan di sini). Untuk turunan dari samātta, baca Nidd I 289,16-18; untuk turunan dari samāpta, baca Nidd I 65,9-11.
  31. Walaupun bentuk yācayoga berlaku dalam tradisi tekstual Pāli, kemungkinan besar bahwa kata majemuk asalnya adalah yājayoga, dikenali seperti variasi tulisan pada Vism 224, 11-12 (Ppn 7:112). Saya menerjemahkan berdasarkan pada tulisan ini, yang secara literal berarti “mengabdi untuk pengorbanan,” sebuah gagasan brahmanis yang diinterpretasikan ulang oleh Sang Buddha menjadi berarti pengorbanan-diri melalui praktik kedermawanan (baca vv.395-96). Karena kedermawanan (yāja) diarahkan kepada pemohon (yācaka), variasi yācayoga dapat muncul melalui substitusi objek tindakan; baca GD, p.241, n. atas p.87,2.
  32. Spk (atas 11:13) secara singkat menceritakan bagaimana Sakka, dalam kehidupannya sebagai brahmana muda Magha, bepergian melakukan kebajikan sebagai pemimpin dari kelompok tiga-puluh-tiga sahabat. Setelah memenuhi tujuh sumpahnya, ia terlahir kembali setelah kematiannya di alam surga Tāvatiṃsa bersama dengan sahabat-sahabatnya. Demikianlah asal mula nama Tāvatiṃsa, “(surga) tiga-puluh-tiga.” Baca Dhp-a I 265-72; BL 1:315-19. Ja No. 31 menceritakan kisah yang sama dengan Sang Bodhisatta – calon Buddha Gotama – dalam perjalanan Magha dan terlahir kembali sebagai Sakka.
  33. Saya bersama dengan Se dan Ee1 & 2 membaca pure pure dānaṃ adāsi tasmā Purindado ti viccati. Be menulis pure hanya satu kali. MW (s.v. pur > puraṃ) mengatakan puraṃda dan puraṃdara sebagai nama dari Indra; keduanya berarti “penghancur benteng.” Penjelasan ini, dan tiga berikutnya, bergantung pada permainan kata yang hampir tidak mungkin diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.
  34. Sakkaccaṃ dānaṃ adāsi tasmṃ Sakko ti vuccati.
  35. Kisah rumah peristirahatan (āvasatha) terdapat pada Dhp-a I 269-70; BL 1:317-18.
  36. Sahassam pi atthānaṃ muhuttena cinteti tasmā sahassakho ti vuccati. Spk: Berdiri di atas satu kata yang dikemukakan sehubungan dengan seribu orang atau seribu pernyataan, ia memutuskan, “orang ini memerlukan ini, orang itu memerlukan itu.” Spk-pṭ: Ia memiliki seribu mata-kebijaksanaan.
  37. Kisah bagaimana Sakka menikahi Sujā, putri Vepacitti, diceritakan dalam Dhp-a I 278-79 (baca BL 1:323), dan Ja I 206.
  38. Spk mengatakan bahwa orang miskin ini adalah penderita kusta Suppabuddha yang kisahnya diceritakan dalam Ud 48-50 dan, lebih lengkap dengan beberapa variasi, dalam Spk. Menurut versi Spk, dalam kehidupan lampaunya ia adalah Raja Bāranasi yang dengan penuh kebencian mencaci seorang Paccekabuddha tua. Sebagai akibat kamma ia terlahir kembali di alam neraka dan kemudian, sebagai sisa dari kamma buruknya, terlahir sebagai seorang penderita kusta miskin di Rājagaha. Suatu hari, ketika sedang mengemis, ia mendengar Sang Buddha berkhotbah dan mencapai tingkat Memasuki-Arus. Tidak lama kemudian ia terbunuh oleh seekor sapi liar dan terlahir kembali di alam surga Tāvatiṃsa.
  39. Deve tāvatiṃse anunayamāno. Spk tidak mengemas anunayamāno, tetapi ungkapan yang sama terdapat pada AN I 143,30, di mana anunayamāno dikemas oleh MP II 123,19 (Be; tulisan pada Ee dan Se cacat) dengan anubodhayamāno, “membuat mengerti,” Bentuk kata kerja ini juga muncul dalam bentuk anunenti pada Thī 514, di mana ini dikemas oleh Thī-a 267,8-9 menjadi *saññāpenti, “*meyakinkan.”
  40. Spk menjelaskan keyakinan sebagai keyakinan yang datang melalui Sang Jalan (maggen’ āgatasaddhā). Perilaku baik yang dibangun di atas moralitas (silaṃ kalyāṇaṃ) adalah “moralitas yang disukai oleh para mulia” milik para siswa mulia (ariyakantasīla), satu dari empat faktor Memasuki-Arus (55:1), yang tidak ditinggalkan oleh Pemasuk-Arus bahkan dalam kelahiran berikut.
  41. Spk: Setiap tahun para penduduk Aṅga dan Magadha biasanya berkumpul dan mempersembahkan persembahan terbaik ghee, madu, sirop, dan sebagainya, kepada Mahābrahmā. Berkat belas kasihnya Sakka muncul di hadapan mereka dalam samaran Mahābrahmā, menuntun mereka ke hadapan Sang Buddha, dan mengajukan pertanyaan mengenai jenis pengorbanan yang berbuah paling besar.
  42. Dalam pāda c, opadhikaṃ puññaṃ, yang saya terjemahkan secara bebas sebagai “jasa berjenis duniawi,” dijelaskan oleh Spk sebagai jasa yang masak dalam perolehan (upadhivipākaṃ puññaṃ), yaitu, kamma baik yang mengarah menuju kelahiran kembali. Baca ungkapan puññabhāgiyā upadhivepakkā pada MN III 72,6 foll.
  43. Empat cara mempraktikkan adalah mereka yang berada pada empat jalan – Memasuki-Arus, Yang-Kembali-Sekali, Yang-Tidak-Kembali, dan Kearahattaan. Empat yang mencapai buah adalah mereka yang, dengan mengembangkan jalan masing-masing, telah mencapai buah masing-masing. Bentuk kata kerja lampau samàhito dalam pāda d dapat dipahami sebagai “memiliki” atau “terkonsentrasi,” yang ke dua mewakili kelompok samàdhi dari Sang Jalan. Saya mengambil makna pertama, mengikuti v.265a, di mana sãlasamàhita dikemas oleh Spk: sãlena samàhita samupetà.
  44. Spk: Bebanmu telah diturunkan (punnabhāro): Ia telah menurunkan beban kelompok-kelompok unsur kehidupan, kekotoran, dan bentukan-bentukan kehendak. Tanggal lima belas bulan terang adalah malam bulan purnama.
  45. Syair ini identik dengan permohonannya pada v.560. Spk dan Spk-pṭ tidak menjelaskan mengapa Brahmā Sahampati mengoreksi Sakka. Alasannya mungkin bahwa Sakka hanya memuji kualitas-kualitas Buddha yang juga dimiliki oleh para Arahant, sedangkan Brahmā berbicara kepadaNya dalam kapasitasnya sebagai satthā, Guru dari pengajaran ini. Pertukaran syair yang sama, antara Ṥakra dan Mahābrahmā, tercatat pada Mvu III 315-16, tetapi terjadi di Pohon Banyan Penggembala persis setelah Sang Buddha mencapai penerangan sempurna; baca Jones, 3:304-5.
  46. Yassa dāni kālaṃ maññasi. Baca Manne, “On a Departure Formula and its Translation.” Ungkapan ini juga muncul pada 35:88 (IV 62,31), 35:243 (IV 183,15,30), 44:1 (IV 379,29), 54:9 (V 321,16-17), dan 55:6 (V 348,27); saya sedikit mengubah terjemahan ini untuk menyesuaikan dengan konteksnya.
  47. Mereka yang ahli dalam Tiga Veda adalah para brahmana, Empat Raja Dewa adalah empat dewa penguasa di alam surga indria paling rendah; Tiga puluh yang agung adalah para deva penghuni alam surga Tāvatiṃsa. Kata yang diterjemahkan sebagai “makhluk” adalah yakkha, digunakan dalam makna luas tanpa rujukan khusus kepada makhluk jahat tertentu.
  48. Brahmacariyaparāyaṇe. Spk tidak menjelaskan makna yang pasti, tetapi saya menginterpretasikannya sebagai cara yang singkat untuk mengatakan “mereka yang menjalani kehidupan suci dengan Nibbāna sebagai tujuannya.” Baca 48:42 (V 218,21): brahmacariyaṃ vussati nibbānaparayaṇaṃ.
  49. Spk menjelaskan nama sempurna (anomanāmaṃ) dalam pāda c sebagai berikut: “Beliau bernama sempurna sehubungan dengan nama-nama yang menunjukkan semua kualitas baiknya, karena Beliau tidak kekurangan dalam kualitas baik apa pun juga.” Baca v.148a dan n.99.
  50. Syair ini memiliki lima pāda. Pāda ab tertulis: ye rāgadosavinayā avijjāsamatikkamā, yang Spk menuliskan: “dengan melampaui ketidaktahuan, akar lingkaran, yang menyelubungi empat kebenaran” (catusaccapaṭicchādikāya vaṭṭamūlaka avijjāya samatikkamena). Baris yang sama muncul pada v.764ab, di mana, karena merujuk pada seorang Arahant, maka dengan semestinya diterjemahkan dengan memaksakan bentuk ablatif. Akan tetapi, terlepas dari tulisan Spk, ini tidak sesuai untuk pelajar (sekha), yang belum sepenuhnya melenyapkan nafsu pada penjelmaan atau melampaui semua ketidaktahuan. Oleh karena itu saya menerjemahkannya dalam bentuk datif terpotong.

    Menguraikan (apacaya) berarti tidak melakukan proses yang mempertahankan lingkaran kehidupan. Pada 22:79 (III 89, 22-24) dikatakan bahwa siswa mulia dalam latihan menguraikan lima kelompok unsur kehidupan, sementara Arahant (III 90,11) berdiam setelah menguraikannya (apacinitvā ṭhito). Baca juga MN III 288,30.

  51. Terjebak dalam jasmani yang busuk (pūtidehasayā). Spk: Ini dikatakan karena mereka menetap dalam jasmani busuk ibu (selama masa janin) atau karena mereka terjebak dalam jasmani mereka sendiri.

    Mereka yang terbenam di dalam bangkai. Saya membaca baris ini seperti dalam Be (baik dalam teks maupun lema dari Spk) sebagai nimuggā kuṇapamhete, dengan objek tidak langsung berbentuk tunggal lokatif. Se membaca kuṇapasmete, menggunakan bentuk alternatif dari bentuk tunggal lokatif. Akan tetapi, Ee1 & 2, dan Spk (Se) dalam lema membaca baris ini sebagai bentuk jamak lokatif kuṇapesv ete. Spk menjelaskan: “Terbenam selama sepuluh bulan dalam mayat, yaitu, rahim ibu.” Terlepas dari komentar ini, besar kemungkinan bahwa referensi ini adalah merujuk pada jasmani diri sendiri.

  52. Vv. 934-35 bersesuaian dengan Thī 282-83. Saya menganggap vv.935-36 sebagai dua syair yang masing-masing terdiri dari enam pāda (seperti pada Se dan Ee2) daripada tiga syair yang masing-masing terdiri dari empat pāda (seperti pada Be).
  53. Saya membaca pāda a berbeda dengan empat edisi lain, na te saṃ koṭṭhe osenti (tulisan pada Thī 283; Ee2 dengan baik memisahkan te dan saṃ namun dengan openti). Spk menjelaskan: na te saṃ santakaṃ dhaññaṃ koṭṭhe pakkhipanti; “mereka tidak menyimpan barang-barang, harta, hasil panen mereka di gudang penyimpanan.” Dengan demikian saṃ memiliki makna “benda-benda pribadi”; baca EV I, n. atas 743 dan EV II, n. atas 283. Kemasan pada kata kerja, pakkhipanti, menegaskan bahwa kita harus membaca osenti daripada openti, tulisan yang lazim. Thī-a 208,21-22 mengemas: na openti na paṭisāmetvā ṭhapenti tādisassa pariggahassa abhāvato; “mereka tidak menabung, tidak menyusun dan menyimpan, karena tidak adanya benda kepemilikan demikian.” Kata kerja yang bersesuaian pada Mvu III 453 adalah osaranti, yang disarankan oleh Jones agar diubah menjadi osārenti. Jones juga menyadari bentuk Pāli osāpenti. Baca juga nn.223 dan 542 di atas.

    Dalam pāda c, Thī 283 membaca pariniṭṭhitam sebagaimana teks dan lema dalam Thī-a. Norman lebih menyukai yang terakhir setelah membandingkan dengan syair serupa dalam naskah Jain (baca EV II, n. atas 283), tetapi penjelasan baik dalam Thī-a maupun Spk mendukung paraniṭṭhitam, tulisan dalam semua edisi SN. Spk: Mencari apa yang telah dipersiapkan oleh orang lain (paraniṭṭhitam esānā): mencari, dengan praktik berkeliling menerima dana makanan, makanan yang dipersiapkan oleh orang lain, di masak di rumah orang lain (paresaṃ niṭṭhitaṃ paraghare pakkaṃ bhikkhācāravattena esamānā gavesamānā; saya menggunakan bentuk genitif paresaṃ di sini dalam makna instrumental, yang disiratkan dalam konteks).

    Spk menjelaskan pāda e: Yang memberikan nasihat yang baik (sumantamantino): Mereka mengucapkan kata-kata yang baik, dengan mengatakan “Kita akan menghafalkan Dhamma, menjalankan praktik pertapaan, menikmati Tanpa-kematian, melakukan tugas-tugas seorang petapa.” Memelihara keheningan, bahkan ketika bepergian (tuṇhībhūtā samañcarā): Bahkan walaupun mereka membicarakan Dhamma dengan suara sekeras halilintar sepanjang tiga jaga pada malam hari, mereka tetap dikatakan “memelihara keheningan, bahkan ketika bepergian.” Mengapa demikian? Karena mereka menghindari percakapan yang tidak berguna.

  54. Spk: Ia adalah kurcaci berkulit tunggul terbakar dan berperut kendi. Ia duduk di atas Singgasana Batu-kuning Sakka (paṇḍukambalasilā; baca Dhp-a I 273, 9-12; BL 1:320). Dikatakan bahwa ia sebenarnya adalah brahma dari alam berbentuk. Mendengar tentang kesabaran Sakka, ia datang untuk mengujinya; karena mustahil bagi makhluk jahat (avaruddhaka-yakkha) dapat memasuki suatu tempat yang dijaga ketat.
  55. Spk: Sakka mendengar dari para deva: “adalah tidak mungkin bahwa yakkha itu pergi dengan cara kasar, namun jika seseorang menggunakan cara halus dan teguh dalam kesabaran, maka ia dapat mengusirnya.” Demikianlah ia menggunakan strategi itu.
  56. Spk menyebutkan bahwa su, dalam pāda a, adalah sekedar ketidak-munduran (nipātamattaṃ), dan dengan demikian kami mengartikan kata majemuk: su upahatacitto ‘mhi. Spk-pṭ: Sakka mengatakan sifatnya sendiri sebagai berikut, “Karena dalam diriku terdapat kesabaran, cinta, dan simpati, aku tidak menderita dalam batin karena orang lain.”

    Pāda b tertulis dalam be dan Se sebagai nāvattena suvānayo (Ee1: navāṭṭena suvānayo; Ee2: n’ āvaṭṭe na suvānayo). Spk: Ia berkata: “Aku tidak mudah terseret oleh pusaran kemarahan; aku tidak mudah dikuasai oleh kemarahan.” Pāda cd menyinggung hingga sumpah ke tujuh Sakka (baca 11:11). Spk menjelaskan bahwa vo dalam pāda c adalah sesuatu yang tidak dapat berubah maknanya. Suvānayo juga terdapat pada v.507b, di mana nafsu (rāga) dan bukannya kemarahan yang membujuk.

  57. Saya bersama dengan Be dan Ee1 & 2 membaca pāda ab: Kuddhāhaṃ na pharusaṃ brūmi/Na ca dhamāni kittaye. Se menghilangkan na dalam pāda a, jelas karena alasan irama, tetapi irama dapat dipertahankan dengan na jika kita memanfaatkan suku kata ke empat. Spk maupun Spk-pṭ tidak membantu dalam hal maknanya. VĀT mengusulkan, “Dan saya tidak mengatakan sehubungan dengan hal Dhamma,” tetapi pada Ja V 172,23 dan 221,27 kita menemukan satañ ca dhammāni sukittitāni, “kualitas-kualitas baik yang telah diungkapkan dengan baik,” yang menyarankan bahwa di sini juga kata netral jamak yang jarang dhammāni merujuk pada moralitas pribadi, bukan pada ajaran spiritual.
  58. Spk: Ia menderita penyakit yang muncul pada saat ia dikutuk oleh sekelompok petapa; baca vv.902-3.
  59. Sambarimāyā. MW memiliki dua daftar yang berhubungan: śambaramāyā = sihir, ilmu gaib; dan śambari = ilmu sulap, ilmu gaib, ilusi (seperti yang dipraktikkan oleh Asura Ṥambara).
  60. Penjelasan Spk: “Bahkan tanpa sihir Sambari, Sakka sudah menekan kita, tetapi jika ia mempelajarinya, kita hancur. Jangan hancurkan kita demi kesejahteraanmu sendiri.”
  61. Seperti yang ditunjukkan oleh C.Rh.D (pada KS 1:305, n. 4), dalam syair ini Vepacitti membedakan antara Sambara dan dirinya sendiri. Walaupun Spk mengidentifikasi keduanya, komentator sepertinya tidak memedulikan perbedaan ini namun mengartikan syair ini: “Bagaikan Sambara, raja para asura, penyihir yang mempraktikkan sihir, tersiksa di neraka selama seratus tahun, demikian pula seseorang yang menggunakan sihirnya akan disiksa.” Spk-pṭ memberikan bantuan lebih jauh sehubungan dengan Sambara: “Sambara adalah pemimpin para asura sebelumnya, pencipta (ādipurisa) sihir asura.”

    Spk melanjutkan: “Apakah Sakka mampu menyembuhkannya dari kemarahannya? Ya, ia mampu. Bagaimana? Pada saat itu, dikatakan, kelompok petapa itu masih hidup. Oleh karena itu Sakka membawanya menghadap mereka dan membuatnya meminta maaf, dan ia kemudian menjadi sembuh. Tetapi karena sifatnya yang jahat (vañcitattā) ia tidak menurut namun pergi begitu saja.”

  62. Menurut disiplin monastik (Vin I 54), jika seorang bhikkhu melakukan pelanggaran terhadap bhikkhu lain maka bhikkhu itu harus meminta maaf dan bhikkhu lain itu harus memaafkan.
  63. Spk memberikan penjelasan alternatif atas pāda b: mā ca mittehi vo jarā. “Di sini, hi hanyalah sekedar yang tidak menurun, dan maknanya adalah: ‘Jangan biarkan persahabatanmu rusak (tumhākaṃ mittadhamme jāra nāma mā nibbatti). Atau mungkin mittehi adalah alat yang digunakan dengan makna lokatif, yaitu: ‘Jangan biarkan kerusakan terjadi di antara sahabat-sahabatmu (mittesu vo jarā mā nibbatti). Artinya adalah: ‘Jangan biarkan kemerosotan terjadi dalam persahabatanmu.” Kemungkinan besar bahwa mittehi di sini adalah bentuk timur yang sudah luntur dari bentuk lokatif jamak; baca Geiger, Pali Grammar, §80.3.
  64. Spk: Ketidak-marahan (akkodha) adalah cinta kasih (metta) dan tahap persiapan dari cinta kasih; ketidak-bahayaan (avihiṃsā) adalah belas kasihan (karuṇā) dan tahap persiapan dari belas kasihan.