1. Engkau seharusnya tidak hidup demi sanjungan seorang pengikut; Hal itu mengalihkan pikiranmu, dan menyebabkan samādhi sulit ditemukan. Melihat bahwa popularitas adalah penderitaan, Engkau seharusnya tidak menerima pengikut.

  2. Seorang bijaksana seharusnya tidak mengunjungi keluarga-keluarga terhormat Hal itu mengalihkan pikiranmu, dan menyebabkan samādhi sulit ditemukan. Seorang yang terlalu menyukai dan serakah terhadap rasa kecapan, Melewatkan tujuan yang membawa kebahagiaan.

  3. Mereka mengetahui bahwa ini adalah lumpur, Penghormatan dan pemujaan ini Di antara keluarga-keluarga terhormat. Kehormatan adalah anak panah yang halus, sulit dicabut, Dan sulit bagi seorang jahat untuk melepaskannya.

  4. Aku keluar dari tempat kediamanku Dan memasuki kota untuk menerima dana makanan. Dengan sopan aku berdiri Sementara seorang penderita kusta sedang makan.

  5. Dengan tangannya yang kotor Ia mempersembahkan sesuap kepadaku. Meletakkan sesuap itu ke dalam mangkukku, Jarinya terlepas patah di sana.

  6. Dengan bersandar pada tembok, Aku memakan sesuap itu. Sewaktu makan, dan sesudah makan, Aku tidak merasa jijik.

  7. Siapapun yang memanfaatkan Sisa-sisa makanan sebagai makanan, Air kencing yang kotor sebagai obat, Bawah pohon sebagai tempat tinggal, Dan kain kotor dari tumpukan sampah sebagai jubah, Ia berada di rumah di segala penjuru.

  8. Di mana beberapa orang binasa Sewaktu mendaki gunung, Di sana Kassapa naik; Seorang pewaris Sang Buddha, Sadar dan penuh perhatian, Mengandalkan kekuatan batinnya.

  9. Kembali dari perjalanan menerima dana makanan, Kassapa naik ke gunung, Dan berlatih jhāna tanpa mencengkeram, Dengan ketakutan dan kegentaran ditinggalkan

  10. Kembali dari perjalanan menerima dana makanan, Kassapa naik ke gunung, Dan berlatih jhāna tanpa mencengkeram, Padam di antara mereka yang terbakar.

  11. Kembali dari perjalanan menerima dana makanan, Kassapa naik ke gunung, Dan berlatih jhāna tanpa mencengkeram, Tugasnya selesai, tanpa kekotoran.

  12. Dengan hamparan bunga mawar, Wilayah ini sungguh menyenangkan. Indah, menggemakan suara gajah-gajah: Tebing bebatuan ini menyenangkan aku!

  13. Tampak seperti awan badai hitam kebiruan, berkilauan, Sejuk dengan air dari sungai yang mengalir jernih, Dan tertutup oleh kumbang-kumbang: Tebing bebatuan ini menyenangkan aku!

  14. Tampak seperti awan badai hitam kebiruan, Atau seperti rumah beratap lancip yang baik, Indah, menggemakan suara gajah-gajah: Tebing bebatuan ini menyenangkan aku!

  15. Hujan turun membasahi dataran indah, Di gunung yang sering dikunjungi oleh para bijaksana. Menggemakan kicauan merak, Tebing bebatuan ini menyenangkan aku!

  16. Ini cukup bagiku, Yang ingin berlatih jhāṅa, teguh dan penuh perhatian. Ini cukup bagiku, Seorang bhikkhu yang teguh, yang ingin mencapai tujuan.

  17. Ini cukup bagiku, Seorang bhikkhu yang teguh, yang menginginkan kenyamanan, Ini cukup bagiku, Yang ingin berlatih, teguh dan seimbang.

  18. Tertutup dengan bunga-bunga rami, Bagaikan langit tertutup dengan awan, Penuh dengan kumpulan berbagai jenis burung, Tebing bebatuan ini menyenangkan aku!

  19. Kosong dari para perumah tangga Sering didatangi gerombolan rusa, Penuh dengan kumpulan berbagai jenis burung, Tebing bebatuan ini menyenangkan aku!

  20. Airnya jernih dan jurangnya lebar, Monyet-monyet dan rusa di sekeliling; Berhiaskan dengan lumut lembab, Tebing bebatuan ini menyenangkanku!

  21. Musik yang dimainkan oleh lima instrumen Tidak dapat membuatmu bahagia, Seperti ketika dengan pikiran terpusat, Engkau dengan benar melihat Dhamma.

  22. Jangan terlibat dalam banyak pekerjaan, Hindari orang-orang, dan jangan berusaha untuk mendapatkan lebih banyak benda kebutuhan. Jika engkau berhasrat dan serakah atas rasa kecapan, Engkau akan kehilangan tujuan yang menghasilkan kebahagiaan itu.

  23. Jangan terlibat dalam banyak pekerjaan, Hindari apa yang tidak mengarah menuju tujuan. Tubuh ini menjadi usang dan letih, Dan ketika engkau menderita, maka engkau tidak akan menemukan ketenangan.

  24. Engkau tidak akan melihat dirimu sendiri Hanya dengan melafalkan kata-kata, Mengembara dengan leher kaku Dan berpikir, “Aku lebih baik.”

  25. Orang dungu tidak lebih baik, Namun mereka berpikir demikian. Orang-orang bijaksana tidak memuji Orang-orang berpikiran-kaku.

  26. Siapa pun yang tidak terpengaruh Oleh cara-cara keangkuhan – “aku lebih baik”, “aku tidak lebih baik”, “aku lebih buruk”, atau “aku setara” –

  27. Seimbang, dengan pemahaman demikian, Memiliki moralitas, Dan menekuni ketenangan pikiran: Itu adalah orang yang dipuji oleh para bijaksana.

  28. Siapapun yang tidak menghormati Teman-teman mereka dalam kehidupan spiritual Adalah jauh dari Dhamma sejati Bagaikan langit yang jauh dari bumi.

  29. Mereka yang nurani dan rasa malunya Selalu ditegakkan dengan baik, Tumbuh dalam kehidupan spiritual, Bagi mereka, tidak ada kelahiran kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  30. Jika seorang bhikkhu yang angkuh dan berubah-ubah, Mengenakan kain kotor dari tumpukan sampah, Bagaikan monyet dengan kulit singa, Itu tidak membuatnya menjadi mengesankan.

  31. Tetapi jika mereka rendah hati dan seimbang, Terkendali, dengan indria-indria terkekang, Kemudian mengenakan kain kotor Dari tumpukan sampah adalah mengesankan, Bagaikan singa di dalam gua di gunung.

  32. Para dewa termasyhur ini Yang memiliki kekuatan batin, Seluruh 10.000 di antara mereka Adalah para pengikut Brahmā.

  33. Mereka berdiri dengan tangan dalam sikap añjalī, Menghormati Sāriputta, Sang Jenderal Dhamma, Sang Pahlawan, Meditator agung yang memiliki samādhi.

  34. “Hormat kepadamu, yang berdarah murni di antara manusia! Hormat kepadamu, yang terbaik di antara manusia! Kami bahkan tidak memahami Landasan jhānamu.

  35. Wilayah mendalam para Buddha Sungguh menakjubkan. Kami tidak memahaminya, Walaupun kami berkumpul di sini memperdebatkannya.”

  36. Ketika ia melihat kumpulan para dewa itu Memberi hormat kepada Sāriputta – Yang sungguh layak menerima penghormatan – Kappina tersenyum.

  37. Sejauh wilayah-Buddha ini membentang Aku adalah yang terunggul dalam praktik pertapaan. Aku tidak tertandingi, Selain oleh Sang Bijaksana Agung sendiri.

  38. Aku telah melayani Sang Guru Dan memenuhi ajaran Sang Buddha. Beban berat telah diturunkan, Aku telah melepaskan kemelekatan Untuk terlahir kembali Ke dalam kehidupan apapun juga.

  39. Bagaikan bunga teratai yang tidak ternoda oleh air, Gotama yang tak terukur adalah tak ternoda Oleh jubah, tempat tinggal, atau makanan. Beliau condong pada pelepasan keduniawian, Dan telah terbebas dari kelahiran kembali Di tiga alam kehidupan.

  40. Leher Sang Bijaksana Agung ini Adalah penegakan perhatian; Keyakinan adalah tangannya, dan kebijaksanaan adalah kepalanya. Dengan memiliki pengetahuan luas, Beliau selalu mengembara, padam.